IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum
Provinsi Riau terdiri dari daerah daratan dan perairan. Di daerah perairan terdapat 3.214 pulau besar dan kecil. Sebanyak 743 pulau telah memiliki nama dan sisanya belum. Mayoritas pulau-pulau kecil yang tersebar di perairan laut Cina Selatan belum berpenghuni dengan luas sekitar 329.867,61 km2, sebesar 71,33 % merupakan daerah perairan/lautan. Keberadaannya membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut Cina Selatan, terletak antara 1°15 Lintang Selatan sampai 4°45 Lintang Utara.
Daerah Riau beriklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan berkisar antara 2000-3000 mm/tahun yang dipengaruhi oleh musim kemarau serta musim hujan. Rata-rata hujan pertahun sekitar 160 hari.
Provinsi Riau memiliki 11 kabupaten/kota yaitu : (1) Kuantan Singingi, (2) Indragiri Hulu, (3) Indragiri Hilir, (4) Pelelawan, (5) Kampar, (6) Siak, (7) Rokan Hulu, (8) Bengkalis, (9) Rokan Hilir, (10) Pekanbaru, dan (11) Dumai. dengan ibukota Provinsi di Pekanbaru.
4.1.1. Keadaan Geografis dan Demografis
Secara administratif, wilayah Provinsi Riau terdiri dari 9 kabupaten dan 2 kota, dengan luas wilayah +108 ribu km2. Pada tahun 2005 jumlah penduduk mencapai 4.614.532 jiwa, dan rata-rata kepadatan penduduknya 42 jiwa per km2. Jumlah penduduk terbanyak pada kelompok usia 15-64 tahun (67,89 persen), disusul kelompok usia 0-14 tahun (30,27 persen), dan di atas 65 tahun (1,84 persen). Sebagian besar kawasan dataran rendah di Riau berupa rawa dan tanah bergambut tebal, yang dialiri empat sungai besar yaitu Rokan, Siak, Kampar, dan Kuantan-Indragiri. Secara geografis, wilayah Provinsi Riau berbatasan dengan Malaysia, dan berada pada jalur lalu lintas laut internasional terpadat.
4.1.2. Struktur Ekonomi
Provinsi Riau merupakan penghasil devisa utama minyak bumi bagi Indonesia, dengan produksi lebih dari 600.000 barrel per hari (sekitar 60 persen dari total produksi minyak dan gas nasional). Selain migas, Riau juga kaya akan potensi sumber daya alam berupa hasil hutan, pertanian, perkebunan, aneka tambang dan mineral, dan hasil laut (perikanan). Semenjak pemekaran wilayah dan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (pada pertengahan 2004), terjadi pergeseran komoditi unggulan ekspor Provinsi Riau. Pada umumnya produk-produk itu dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan modal asing (PMA) di Pulau Batam dan Bintan. Pada saat ini komoditi ekspor unggulan Provinsi Riau ialah produk-produk primer berupa bahan baku dan setengah jadi, seperti minyak mentah sawit (CPO),pulp dan kertas, karet (crumb rubber), kayu lapis (triplex), kayu olahan, produk kelapa, ikan dan udang segar, batu bara, dan lain-lain.
Dalam struktur ekonomi Riau, terdapat tiga sektor yang memberikan kontribusi tertinggi yaitu : pertanian, industri, dan perdagangan. Sumbangan ketiga sektor itu pada pertumbuhan ekonomi Riau mencapai 80,93 persen (2005), diperkirakan meningkat mencapai 81,41 persen (2006), dan akan naik lagi menjadi sekitar 81,62 (2007). Pertumbuhan ekonomi Riau tanpa migas tahun 2005, berdasarkan harga konstan tahun 2000, sebesar 8 persen. Nilai ekspor non migas tahun 2005 sekitar US $ 6.5 milyar, naik 6,5 persen dari tahun 2004 (US $ 6.1 milyar). Pada tahun 2005, APBD Riau sebesar Rp 2,489 triliun (bandingkan dengan APBD Kaltim pada tahun yang sama sejumlah Rp 2,233 triliun).
Berpijak pada visi pembangunan Riau 2020, yaitu : Terwujudnya Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis, sejahtera lahir dan batin di Asia Tenggara tahun 2020 (Perda No.1/ 2004 tentang Renstra Provinsi Riau 2004-2008 dan Master Plan Riau 2020), Riau tengah gencar melancarkan gerakan penanggulangan K2I (kemiskinan, kebodohan, dan infrastruktur). Gerakan K2I dijalankan, antara lain, dengan membangun berbagai kawasan industri (Pelintung, Lubuk Gaung, Buton, Kuala Enok, dan Tenayan), dan menjadikan Kota Dumai sebagai kawasan free trade zone (FTZ). Kota Dumai dirancang menjadi sebuah kota multifungsi menggantikan peran dan fungsi Batam.
4.1.3. Kondisi Sosial Budaya
Dari segi sosial budaya, Riau termasuk daerah dengan tingkat heterogenitas etnis yang tinggi. Selain penduduk asli (orang Melayu Riau), maka suku bangsa lain yang cukup dominan di Riau ialah Minangkabau, Jawa, Batak, dan Cina. Pada tahun 2003, migrasi penduduk yang masuk ke wilayah Provinsi Riau tercatat sejumlah 240.729 orang (5,45 persen). Hal ini menyebabkan tingginya laju pertumbuhan penduduk Riau yaitu 3,65 persen (2000-2004). Meski tingkat migrasi penduduk cukup tinggi, namun soliditas masyarakat tampak kuat. Ada dua faktor yang mengikat masyarakat Riau menjadi relatif solid, yaitu kesamaan agama dan kekompakan diantara tokoh-tokoh masyarakat. Pernyataan visi Riau sebagai Pusat Kebudayaan Melayu dapat dibaca sebagai : Riau adalah wilayah dengan penduduk yang hampir seluruhnya beragama Islam . Kesamaan agama ini merupakan faktor pengikat utama masyarakat secara sosial budaya. Faktor kedua adalah adanya kesamaan pandangan di antara tokoh-tokoh Masyarakat Riau (3 pilar) dalam merespon aktivitas pemerintahan sehari-hari. Ketiga pilar tokoh Masyarakat Riau itu ialah tokoh adat (lembaga adat), tokoh agama (MUI), dan tokoh cendekiawan (antara lain yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau). Secara umum gambaran jumlah penduduk Provinsi Riau tahun 2000 berdasarkan perbedaan gendernya terlihat pada Tabel 8. Untuk peningkatan jumlah penduduk dari tahun 2000-2004 per kabupaten/kota digambarkan pada Tabel 9. Sedangkan Tabel 10 gambaran kepadatan penduduk/km2pada Tahun 2004 dan berdasarkan kelompok umur pada Tabel 11.
Tabel 8. Jumlah penduduk Provinsi Riau tahun 2000 berdasarkan sensus penduduk
No Kabupaten/kota Laki-laki Perempuan Jumlah
1. Kuantan Singingi 110.057 106.675 216.732 2. Indragiri Hulu 126.178 121.128 247.306 3. Indragiri Hilir 286.559 269.142 555.701 4. Pelelawan 80.530 72.419 152.949 5. Siak 125.094 113.692 238.786 6. Kampar 229.228 217.929 447.157 7. Rokan Hulu 138.082 127.604 265.686 8. Bengkalis 268.059 252.182 520.241 9. Rokan Hilir 182.195 170.104 352.299 10. Pekanbaru 298.464 286.976 585.440 11. Dumai 89.953 83.235 173.188 J u m l a h 1.934.399 1.821.086 3.755.485
Tabel 9. Jumlah penduduk masing-masing kabupaten/kota dari tahun 2000 2004 No. Kabupaten/kota 2000 2001 2002 2003 2004 1. Kuantan Singingi 21.732 220.248 235.611 240.582 241.766 2. Indragiri Hulu 247.306 250.314 263.227 282.569 284.302 3. Indragiri Hilir 555.701 563.178 589.784 626.229 628.500 4. Pelelawan 152.949 157.676 170.277 208.013 215.281 5. Siak 238.786 250.373 272.986 273.278 279.457 6. Kampar 447.157 460.894 499.291 527.736 530.931 7. Rokan Hulu 265.686 269.892 286.993 327.917 328.306 8. Bengkalis 520.241 529.569 562.193 632.637 649.805 9. Rokan Hilir 352.299 359.558 394.647 421.281 425.204 10. Pekanbaru 585.440 599.612 660.229 666.902 693.912 11. Dumai 173.188 179.666 190.057 206.288 213.929 J u m l a h 3.755.485 3.841.070 4.125.295 4.413.432 4.491.393
Tabel 10. Kepadatan penduduk Provinsi Riau menurut kabupaten/kota tahun 2004
No. Kabupaten/kota Luas (km2) Jumlah Penduduk Kepadatan per/km2 1. Kuantan Singingi 7.656,03 241.766 31,58 2. Indragiri Hulu 8.198,26 284.302 34,68 3. Indragiri Hilir 11.605,97 628.500 54,15 4. Pelelawan 11.987,90 215.281 17,96 5. Siak 8.423,08 279.457 33,18 6. Kampar 9.756,74 530.931 54,42 7. Rokan Hulu 6.163,68 328.306 53,26 8. Bengkalis 11.614,78 649.805 55,95 9. Rokan Hilir 8.881,59 425.204 47,87 10. Pekanbaru 446,5 693.912 1.554,11 11. Dumai 1.727,38 213.929 123,85 J U M L A H 86.461,91 4.491.939 51,95
Tabel 11. Jumlah penduduk kabupaten/kota berdasarkan kelompok umur Kelompok Umur No. Kabupaten/Kota < 2 2 - 4 5 - 9 10-14 15 - 49 50 - 64 65 + 1. Kuantan Singingi 3.231 14.244 30.103 25.648 137.632 23.255 6.469 2. Indragiri Hulu 4.949 14.222 34.391 38.047 162.850 23.510 4.600 3. Indragiri Hilir 15.330 41.762 83.526 72.965 344.318 56.262 12.066 4. Pelelawan 8.567 15.775 28.062 23.713 116.794 12.914 2.188 5. Siak 11.998 20.118 35.273 25.548 157.237 16.947 6.157 6. Kampar 18.675 33.631 66.698 63.081 288.818 42.401 14.432 7. Rokan Hulu 12.025 24.208 41.244 35.771 181.080 27.900 5.599 8. Bengkalis 18.563 45.216 69.834 70.965 356.823 50.431 20.805 9. Rokan Hilir 12.279 40.698 51.268 53.219 233.070 22.865 7.882 10. Pekanbaru 22.563 44.537 77.671 66.392 394.987 47.002 13.750 11. Dumai 6.054 13.249 24.173 22.022 120.774 15.943 4.073 J u m l a h 134.234 307.660 542.243 497.371 2.494.383 339.430 98.021 4.2. Kabupaten Kampar 4.2.1.Informasi Umum
Kabupaten Kampar terletak diantara 10°25 Lintang Utara 00°20 Lintang Selatan, 100o 42 103o 28 Bujur Timur, dengan batas-batas sebagai berikut :
Sebelah selatan dengan Kabupaten Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi. Sebelah barat dengan Propinsi Sumatera Barat.
Sebelah timur dengan Kabupaten Pelelawan dan Kota Pekanbaru.
Kabupaten Kampar dengan populasi 415.344 orang, dibagi dalam 13 kecamatan yang meliputi area seluas 11.707,64 km2, hampir seluruh daerah merupakan dataran rendah, terkecuali beberapa daerah yang dilalui oleh Bukit Barisan dengan ketinggian 200 300 m diatas permukaan laut. Iklim di Kabupaten Kampar adalah tropis dengan suhu rata-rata 220 C 310 C. Musim kemarau berlangsung antara bulan Maret Agustus, sementara musim hujan berlangsung antara bulan September Februari. Di Kabupaten ini terdapat tiga Sungai besar, yaitu Siak, Rokan, dan Kampar yang salah satunya bermuara di Selat Malaka. Sungai Kampar sepanjang 413,5 km dengan kedalaman rata rata 7,7 m dan lebar 143 m. Sungai Siak sepanjang 90 km dengan kedalaman rata rata 8 12 m. Disamping itu terdapat lebih kurang seratus sungai yang dapat menghubungkan satu desa ke desa lainnya.
Saat ini (tahun 2006), Kabupaten Kampar memiliki 19 kecamatan, sebagai hasil pemekaran dari 12 kecamatan sebelumnya. Kesembilan belas kecamatan tersebut (beserta ibu kota kecamatan) adalah:
1. Bangkinang (Ibu Kota Bangkinang) 2. Bangkinang Barat (Ibu Kota Kuok)
3. Bangkinang Seberang (Ibu Kota Muara Uwai) 4. Gunung Sahilan (Ibu Kota Gunung Sahilan) 5. Kampar (Ibu Kota Air Tiris)
6. Kampar Kiri (Ibu Kota Sungai Pagar) 7. Kampar Kiri Hilir (Ibu Kota Gema) 8. Kampar Kiri Hulu (Ibu Kota Lipat Kain) 9. Kampar Timur (Ibu Kota Kampar) 10. Kampar Utara (Ibu Kota Desa Sawah) 11. Perhentian Raja (Ibu Kota Pantai Raja) 12. Rumbio Jaya (Ibu Kota Rumbio) 13. Salo (Ibu Kota Salo)
14. Siak Hulu (Ibu Kota Pandau) 15. Tambang (Ibu Kota Tambang) 16. Tapung (Ibu Kota Petapahan)
17. Tapung Hilir (Ibu Kota Pantai Cermin) 18. Tapung Hulu (Ibu Kota Sinama Nenek) 19. XIII Koto Kampar (Ibu Kota Muara Mahat)
4.3.2.Fasilitas dan Infrastruktur Transportasi
Transportasi secara umum dapat diperlancar dengan menggunakan jalan yang sudah ada sepanjang 1.836,48 km yang terdiri dari 459,33 km jalan aspal, 849,85 km jalan kerikil, dan 527,30 km jalan tanah. Namun, transportasi sungai tetap memegang peranan penting untuk menghubungkan desa-desa. Transportasi udara untuk Masyarakat Kampar biasanya melalui Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, yang berjarak 60 km dari Bangkinang.
Listrik
Suplai kebutuhan listrik di Kabupaten Kampar disediakan oleh PLN cabang Bangkinang dengan 4 mesin diesel dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Koto Panjang dengan kapasitas 114,240 Kwh pada tahun 2001.
Telekomunikasi
Layanan telekomunikasi di Kampar disediakan oleh PT Telkom yang disediakan untuk sambungan lokal dan interlokal, serta telepon selular.
Air Bersih
Suplai air bersih didistribusi oleh PDAM Tirta Kampar. Layanan PDAM ini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri, perkantoran, sekolah, dan pertokoan. Kapasitas air yang disediakan oleh PDAM tersebut tercatat sebanyak 971.818 m3.
Fasilitas Pendukung Lainnya
Terdapat beberapa bank komersial yang beroperasi di Bangkinang dan beberapa kota lainnya, yaitu BRI, BNI, Bank Riau, dan BPR. Disamping itu terdapat Rumah Sakit Umum dan Swasta di Bangkinang.
4.2.3. Beberapa Potensi Daerah Hasil Pertanian
Lahan yang tersedia untuk pertanian seluas 17.553 ha yang terdiri dari sawah dan ladang. Ada 3 daerah yang merupakan penghasil beras terbesar, yaitu Kecamatan Kampar 18.670,54 ton, Kecamatan Bangkinang Barat 6.925,21 ton, dan Kecamatan XIII Koto Kampar 6.857,97 ton beras. Beberapa daerah perladangan terdiri dari jagung 2692 ha, singkong 997 ha, kentang manis 293 ha, kacang 567 ha, kacang kedele 472 ha, dan buncis 232 ha.
Perkebunan
Terdapat beberapa komoditas perkebunan di Kabupaten Kampar, antara lain minyak sawit, kelapa, karet, kopi, dan lain-lain. Lahan yang ditanami seluas 304.564 ha pada tahun 2001, 70,43% untuk kebun kelapa sawit, dan 26,90% untuk karet. Pada area ini, 218.000 ha lahan sudah menghasilkan. 74.45% untuk sawit dan 22.97% untuk karet.
Peternakan
Kampar adalah salah satu daerah yang memproduksi hewan ternak dalam jumlah yang besar di Propinsi Riau, terutama untuk sapi dan kerbau, dan sampai saat ini masih mensuplai hewan ternak untuk daerah lain di Riau.
Perikanan
Perikanan sangat potensial diadakan di daerah Kampar. Dari hasil perikanan, diperkirakan dapat memperoleh keuntungan sebesar Rp 18,77 milyar.
Kehutanan
Hutan di Kampar meliputi area seluas 894.283 ha dan menurut fungsinya terbagi atas hutan konversi (55,97%), hutan produksi (27,53%), hutan lindung (4,86%) dan hutan margasatwa (7,44%).
Pertambangan
Batu gamping : Batu gamping ini ditemukan di Desa Gema, di belakang Bukit Biaro dengan ketebalan 15 m dan tersebar di area seluas 15 ha. Batu gamping dapat diproduksi untuk berbagai tujuan, seperti cat, kalsinat, pengatur keasaman di perindustrian, menambah keasaman tanah di pertanian, untuk keramik, atap, asbak, dan kerajinan tangan.
Kaolin : Kandungan kaolin dapat ditemukan di Sungai Sibayang, Desa Gema dengan kedalaman 2,5 m dan menutupi tanah sepanjang 2 m. Kaolin dapat digunakan untuk bahan baku keramik, penghambat listrik, campuran semen, sebagai pengisi dalam proses pembuatan kertas.
Bentonit : Bentonit dapat ditemukan di 2/4 perjalanan jalan beraspal dari Pekanbaru ke Lipat Kain, dengan ketebalan 5 7 m , dengan mineral yang tersebar seluas 15 ha.
Industri
Terdapat 11 buah industri berskala besar, 60 industri menengah, dan 720 industri kecil di Kampar pada tahun 1998. Industri kecil selalu menyerap tenaga kerja di daerah ini terutama untuk sektor pertanian dan hutan. Selain itu industri metal, mesin, dan kimia menyerap 10,62% tenaga kerja dan industri lainnya 3,57%.
4.3.Kabupaten Pelelawan 4.3.1.Informasi Umum
Kabupaten Pelelawan terletak di bagian timur Riau Daratan. Daerah ini tersebar di sepanjang hilir Sungai Kampar. Pelelawan adalah salah satu Kabupaten yang besar dan memiliki posisi strategis karena dekat dengan jalur pelayaran internasional.
Secara geografis, Kabupaten Pelelawan terletak antara 250 0020 Lintang Selatan dan 1000 42 1030 28 Bujur Barat, dengan batas sebagai berikut:
Sebelah selatan dengan Kabupaten Indragiri Hulu, Hilir, dan Kuantan Singingi.
Sebelah barat dengan Pekanbaru dan Kabupaten Kampar. Sebelah timur dengan Kabupaten Karimun dan Kepulauan Riau.
Kabupaten Pelelawan berada di daerah seluas 12.490,42 km2, terdiri dari 10 kecamatan, ibukota kabupaten ini adalah Pangkalan Kerinci, selain itu juga terdapat beberapa kota penting, yaitu Pangkalan Kuras, Ukui, Sorek, Langgam, Teluk Meranti. Jumlah populasi adalah 213.399 jiwa, dan di Pangkalan Kerinci berjumlah 47.709 jiwa.
Secara topografi, Pelelawan memiliki lokasi yang berbukit dan bergelombang. Sungai terbesar, yaitu sungai Kampar langsung bermuara ke Selat Malaka. Sungai Kampar juga berfungsi sebagai media transportasi, air minum, dan irigasi. Kabupaten ini beriklim tropis dan bertemperatur antara 220 320C. Jalan nasional yang menghubungkan Pekanbaru - Jambi dan Pekanbaru Kuala Enok, melalui Pangkalan Kerinci. Sementara jalan yang menghubungkan kecamatan masih berupa jalan tanah yang keras.
Kabupaten Pelelawan mencakup daerah daratan dan sebagai lautan dengan keadaan topografi datar, bergelombang dan berbukit dengan jenis tanah pada umumnya podzolik merah kuning, dengan bahan induk batuan endapan dan beku dan sebagian lainnya dengan jenis tanah organosol dan gleihumus dengan bahan induk aluvial.
Di Kabupaten Pelelawan melintas sebuah sungai besar yaitu Sungai Kampar yang berhulu di Provinsi Sumatera Barat dengan panjangnya mencapai 413, 5 kilometer dengan kedalaman rata-rata 7,7 meter dan lebar rata-rata 143 meter. Di wilayah Kabupaten Pelelawan sungai ini dapat dilayari dengan kapal bermotor kecil.
Sesuai dengan UU RI No. 53 Tahun 1999, Kabupaten Pelelawan terdiri atas empat kecamatan, namun setelah terbit Surat Dirjen PUOD No.138/1775/PUOD tanggal 21 Juni 1999 tentang pembentukan sembilan Kecamatan Pembantu di Provinsi Riau, maka Kabupaten Pelelawan dimekarkan menjadi sembilan, yakni terdiri atas 4 kecamatan induk dan 5 kecamatan
pembantu. Tetapi berdasarkan SK Gubernur Provinsi Riau No. 136/TP/1443, Kabupaten Pelelawan dimekarkan kembali menjadi 10 (sepuluh) kecamatan. Namun setelah terbitnya Peraturan Daerah Kabupaten Pelelawan Nomor 06 Tahun 2005, maka sekarang ini Kabupaten Pelelawan terdiri dari 12 kecamatan (Tabel 12)
Tabel 12. Nama kecamatan, luas wilayah, jumlah kelurahan dan desa di Kabupaten Pelelawan tahun 2003
Jumlah
No Kecamatan Ibukota Luas Wilayah
(Km2) Kelurahan Desa Jumlah
1 Langgam Langgam 1.324,13 1 6 7
2 Pangkalan Kerinci Pangkalan Kerinci 2.08,88 6 6
3 Pangkalan Kuras Sorek Satu 1.250,72 1 15 16
4 Ukui Ukui Satu 1.315,70 11 11
5 Pangkalan Lesung Pangkalan Lesung 472,74 8 8
6 Bunut Pangkalan Bunut 705,45 1 13 14
7 Pelelawan Pelelawan 1.565,14 10 10
8 Kuala Kampar Teluk Dalam 1.007,34 1 7 8
9 Kerumutan Kerumutan 1.174,39 8 8
10 Teluk Meranti Teluk Meranti 3.465,94 9 9
Jumlah 12.490,42 4 93 97
4.3.2. Fasilitas dan Infrastruktur Transportasi
Jalan sepanjang 1700 km dapat menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya. Sementara untuk yang lainnya adalah jalan tanah yang dipadatkan. Kabupaten Pelelawan diseberangi oleh Sungai Kampar. Untuk melalui sungai ini, maka dapat digunakan media transportasi berupa speedboat atau sampan motor.
Untuk transportasi udara terdapat Bandar Udara di Pangkalan Kerinci, yang dibangun oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP), yang bernama Bandara Sultan Syarif Haroen Setia Negara, dengan landasan selebar 23 m, dan panjang 1300 m di area seluas 89 ha. Namun begitu, untuk hubungan ke kota kota yang lebih jauh, penduduk Pelelawan juga menggunakan Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru yang berjarak 70 km dari Kabupaten Pelelawan. Untuk waktu yang akan datang, sedang dibangun Bandar udara di Desa Pangkalan Kabung, yang berjarak 4 km dari Pangkalan Kerinci.
Listrik
Jumlah keseluruhan energi listrik yang tersedia di Kabupaten Pelelawan pada tahun 2000 adalah 350,54 MW, yang melayani perindustrian dan kebutuhan rumah tangga.
Telekomunikasi
Jaringan telepon sudah dapat dilayani di berbagai kecamatan di Pelelawan. Sementara itu faksimili dan telepon selular baru dapat dilayani di Pangkalan Kerinci, Pangkalan Kuras, dan Bunut. Pada tahun 2002, jaringan telepon mencapai 2451 sambungan yang tersebar di Pangkalan Kerinci, Pangkalan Kuras, dan Ukui. Layanan pos sudah mencapai ke seluruh daerah di Pelelawan.
Air Bersih
Air bersih disalurkan melalui sistem pemipaan dan tanpa pipa. Layanan air bersih ini ditangani oleh Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kampar (PDAM), yang terdiri dari 4 unit produksi dengan kecepatan 5-10 liter/detik, dan terbatas sebagian kecilnya untuk kebutuhan rumah tangga.
Fasilitas Pendukung Lainnya
Terdapat 3 Bank komersial yang telah beroperasi di Kabupaten Pelelawan, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Pangkalan Kerinci dan Sorek, Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan Bank Negara Indonesia (BNI) di Pangkalan Kerinci. Untuk layanan kesehatan terdapat Rumah Sakit Umum dan Puskesmas sebanyak 207 bangunan dan 114 tenaga medis.
4.3.3.Beberapa Potensi Daerah Pertanian
Di sektor agrikultur ada beberapa komoditas seperti sayur-sayuran, pisang, rambutan, durian, nanas, jagung, dan lainnya yang memiliki pangsa pasar lokal dan luar negeri.
Perikanan
Sektor perikanan yang dapat dikembangkan di Kabupaten Pelelawan adalah tambak udang, ikan dalam kolam, tambak ikan, dan penangkapan ikan dari laut dan sungai.
Perkebunan
Dari sektor perkebunan, komoditas seperti minyak sawit, kelapa, dan karet memiliki prospek yang bagus untuk dikembangkan dan dijual dipasaran domestik serta lokal.
Hutan
Kabupaten Pelelawan memiliki potensi untuk mengembangkan kayu tebang dan kemudian diolah menjadi bubur kayu dan kertas. Industri ini ditangani oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper.
Pertambangan
Pertambangan di Kabupaten Pelelawan tidak dieksploitasi secara optimal. Beberapa mineral cukup potensial di Pelelawan yaitu bahan tambang kelas C (bentonite, pasir kuarsa, dan kaolin), gas alam, batu bara, air bawah tanah, air Sungai Kampar.
Industri dan Perdagangan
Sampai tahun 2001, terdapat 97 industri skala kecil dan menengah yang mempekerjakan 897 tenaga kerja. Beberapa perusahaan dagang yang dikategorikan sebagai perusahaan besar, menengah dan kecil yaitu 11,71, dan 96 perusahaan atau total 178 perusahaan. Di sebelah barat dari kota lama Pangkalan Kerinci terdapat kawasan industri PT RIAU ANDALAN PULP AND PAPER (RAPP) yang merupakan industri penghasil bubur kertas dan produk kertas, yang bahan bakunya diantaranya dipasok dari hutan tanaman industri (HTI) dengan jenis kayu akasia.