PERATURAN OLAHRAGA
KENDARAAN BERMOTOR
IKATAN MOTOR INDONESIA
EDISI : 2014
DAFTAR ISI
BAB I UMUM
Pasal 1 HAK-HAK IMI ... 3
Pasal 2 PERATURAN NASIONAL ... 3
Pasal 3 PELAKSANAAN PERATURAN-PERATURAN ... 3
Pasal 4 WEWENANG IMI ... 3
Pasal 5 BADAN-BADAN INTERNASIONAL ... 4
BAB II PERLOMBAAN DAN PERATURAN Pasal 6 PERLOMBAAN DI INDONESIA ... 5
Pasal 7 JENIS ... 5
Pasal 8 STATUS ... 5
Pasal 9 PERLOMBAAN INTERNASIONAL ... 5
Pasal 10 KEJUARAAN NASIONAL ... 6
Pasal 11 KEJUARAAN REGIONAL ... 6
Pasal 12 KEJUARAAN DAERAH ... 6
Pasal 13 KEJUARAAN KLUB ... 6
Pasal 14 SIFAT KEJUARAAN ... 6
Pasal 15 PIALA ... 7
Pasal 16 PERATURAN PERLOMBAAN ... 7
Pasal 17 PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN ... 7
Pasal 18 KETENTUAN PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN ... 7
Pasal 19 INSTRUKSI KHUSUS ... 7
Pasal 20 PELAKSANAAN PERATURAN ... 8
BAB III PENYELENGGARAAN Pasal 21 KETENTUAN PENYELENGGARAAN KEJURNAS ... 8
Pasal 22 JADWAL KEGIATAN OLAHRAGA NASIONAL ... 9
Pasal 23 ORGANISASI PENYELENGGARA ... 9
Pasal 24 PROMOTOR ... 10
Pasal 25 PENGAMAT PERLOMBAAN ... 10
Pasal 26 PENGAWAS PERLOMBAAN/JURI ... 10
Pasal 27 KEWAJIBAN PENGAWAS PERLOMBAAN/JURI ... 10
Pasal 28 WEWENANG PENGAWAS PERLOMBAAN/JURI ... 11
Pasal 29 KEWAJIBAN PANITIA PENYELENGARA ... 13
Pasal 30 PANITIA PELAKSANA TEKNIS PERLOMBAAN ... 13
Pasal 31 PIMPINAN PERLOMBAAN ... 13
Pasal 32 WEWENANG DAN TUGAS PIMPINAN PERLOMBAAN ... 13
Pasal 34 PETUGAS PENCATAT WAKTU ... 14
Pasal 35 KEWAJIBAN PETUGAS PENCATAT WAKTU ... 14
Pasal 36 TUGAS & WEWENANG PETUGAS PENCATAT WAKTU ... 15
Pasal 37 PARKIR TERTUTUP ... 15
Pasal 38 PESERTA ... 15
Pasal 39 PERSYARATAN PESERTA ... 15
Pasal 40 DAFTAR PESERTA ... 16
BAB IV IJIN-IJIN Pasal 41 KARTU IJIN START ... 16
Pasal 42 IJIN PENYELENGGARAAN ... 16
Pasal 43 PERMOHONAN PENYELENGGARAAN ... 17
Pasal 44 ASURANSI ... 17
Pasal 45 PENDAFTARAN ... 18
Pasal 46 KARTU IJIN START INTERNASIONAL ... 18
Pasal 47 MASA BERLAKU ... 18
BAB V PROTES DAN BANDING Pasal 48 PROTES ... 19
Pasal 49 PROSEDUR PROTES ... 19
Pasal 50 PROSES PROTES ... 20
Pasal 51 BANDING ... 20
Pasal 52 PROSEDUR BANDING ... 20
Pasal 53 NAIK BANDING ... 21
Pasal 54 NAIK BANDING INTERNASIONAL ... 21
BAB VI PENUTUP Pasal 55 PENUTUP ... 21
PERATURAN NASIONAL
OLAHRAGA KENDARAAN BERMOTOR
BAB I UMUM
Pasal 1 HAK-HAK IMI
IKATAN MOTOR INDONESIA merupakan satu-satunya organisasi olahraga kendaraan bermotor yang telah diakui oleh FIA, FIM dan CIK (induk Organisasi Olahraga Kendaraan Bermotor Dunia) serta KONI (Induk Organisasi OIah Raga Indonesia), yang berhak dan berwenang untuk mengawasi dan memimpin seluruh kegiatan perlombaan-perlombaan kendaraan bermotor di Indonesia.
Pasal 2 PERATURAN NASIONAL
IMI menetapkan Peraturan Nasional Olahraga Kendaraan Bermotor untuk mengatur seluruh segi hukum yang berkaitan dengan kegiatan olahraga kendaraan bermotor sesuai dengan peraturan Internasional yang dikeluarkan oleh FIA, FIM & CIK dan memberlakukannya bagi semua perlombaan di Indonesia.
Berdasarkan Peraturan Nasional ini IMI menetapkan Peraturan Perlombaan untuk masing-masing jenis/cabangnya disertai Peraturan Pelengkap Perlombaan pada tiap-tiap penyelenggaraan.
Pasal 3 PELAKSANAAN PERATURAN-PERATURAN
IMI bertanggung jawab atas pelaksanaan peraturan dan juga atas semua keputusan-keputusan dan FIA, FIM & CIK
Pasal 4 WEWENANG IMI
4.1 Mengawasi pelaksanaan peraturan-peraturan Internasional FIA, FIM dan CIK, serta peraturan Nasional dan juga sanksi-sanksinya.
4.2 Menetapkan Peraturan Perlombaan untuk setiap macam olahraga kendaraan bermotor di Indonesia sesuai dengan peraturan Internasional.
4.3 Mengawasi atau menyelenggarakan seluruh kegiatan perlombaan di Indonesia, dan menetapkan/menunjuk penyelenggara event.
4.4 Menolak atau menyetujui peraturan-peraturan pelengkap yang dikeluarkan oleh panitia lomba, demikian juga untuk kelas-kelas dalam perlombaannya serta instruksi-instruksi khusus yang dikeluarkan panitia lomba.
4.5 Menyusun dan mengumumkan jadwal kegiatan perlombaan setiap tahunnya, juga dengan perubahan-perubahan jadwal yang mungkin terjadi.
4.7 Melarang perlombaan yang melanggar peraturan Internasional, Nasional maupun yang berbahaya serta dapat menimbulkan masalah-masaIah berat. 4.8 Memberikan persetujuan terhadap lintasan atau route perlombaan termasuk
Iingkungannya.
4.9 Memutuskan semua persoalan yang mencakup pelaksanaan maupun Interprestasi peraturan-peraturan Internasional dan peraturan Nasional. 4.10 Mengambil keputusan-keputusan atas protes atau banding yang diajukan
kepada IMI sebagai organisasi olahraga kendaraan bemotor yang tertinggi di Indonesia.
4.11 Menentukan persyaratan bagi pemilihan penentuan peringkat Nasional maupun kejuaraan berseri tingkat Nasional.
4.12 Mengatur pembagian tingkat kategori perlombaan Internasional, Nasional terbuka/terbatas, daerah maupun Klub.
4.13 Menjatuhkan sanksi kepada atlit, team dan penyelenggara yang melanggar peraturan.
Pasal 5 BADAN-BADAN INTERNASIONAL
Badan-badan Internasional yang merupakan induk organisasi olahraga kendaraan bermotor di dunia termasuk induk organisasi dan IMI adalah:
FIA : Federation International del’Automobile, induk organisasi dunia untuk olahraga mobil.
FIM : Federation International of Motorcycle, induk organisasi dunia untuk olahraga motor.
ASN/FMN : Autorites Sportives Nationales (ASN), organisasi olahraga mobil yang diakui oleh FIA di suatu negara, untuk di Indonesia adalah IMI. Federations Motocyclistes Nationalies (FMN), organisasi olahraga motor yang diakui oleh FIM di suatu negara.untuk di Indonesia adalah IMI.
FIM Asia : Adalah continental union dari FIM untuk Asia. CIK : Commission du Karting.
BAB II PERLOMBAAN DAN PERATURAN
Pasal 6 PERLOMBAAN Dl INDONESIA
Setiap olahraga kendaraan bermotor darat yang berupa balapan, rally, test, usaha membuat rekor atau peristiwa lain dimana kendaraan bermotor tersebut turut ambil bagian dan mempunyai unsur persaingan atau diberi unsur persaingan dengan tujuan untuk mengadakan kompetisi kecepatan dan keterampilan. Pada setiap perlombaan yang mendapat Izin dari IMI diwajibkan mencantumkan Logo IMI.
Perlombaan di Indonesia hanya boleh diselenggarakan oleh: 1. IMI
2. Klub-klub bermotor yang telah terdaftar di IMI
Pasal 7 JENIS
Olahraga kompetisi kendaraan bermotor di Indonesia dibedakan atas sembilan jenis perlombaan, yaitu:
1. Motocross & Grass Track 2. Balap Motor & Drag Bike 3. Balap Mobil 4. Drag Race 5. Karting 6. Rally 7. Offroad 8. Time Rally 9. Slalom
IMI membentuk Komisi Olahraga untuk masing-masing jenis olahraga kendaraan bermotor tersebut diatas.
Pasal 8 STATUS
Tingkatan/status perlombaan di Indonesia dibagi atas lima tingkatan, yaitu: 1. Internasional
2. Kejuaraan Nasional 3. Kejuaraan Regional 4. Kejuaraan Daerah 5. Kejuaraan Klub
Sifat dan kejuaraan diatas dapat terdiri dari: a. Terbuka
b. Tertutup
Pasal 9 PERLOMBAAN INTERNASIONAL
Setiap perlombaan yang bertaraf Internasional di Indonesia harus mendapat izin penyelenggaraan dari IMI. Adapun perlombaan Internasional tersebut hanya dapat diikuti oleh peserta-peserta dan berbagai bangsa yang sudah menjadi anggota FIA atau FIM serta mendapat ijin (visa) serta Surat Ijin Start Internasional yang dikeluarkan oleh ASN/FMN-nya masing-masing , sedangkan peserta dalam negeri diperbolehkan memakai Kartu Ijin Start IMI pada perlombaan Internasional di Indonesia apabila diperbolehkan oleh peraturan International atas lomba tersebut. Peraturan yang dipergunakan adalah Peraturan Internasional yang dikeluarkan oleh FIA, FIM atau CIK.
Pasal 10 KEJUARAAN NASIONAL DAN TINGKAT NASIONAL
10.1 KEJUARAAN NASIONAL
Suatu perlombaan yang bersifat Nasional dapat diselenggarakan baik oleh IMI atau IMI Provinsi, maupun Klub yang mendapat wewenang/ijin dari IMI. Dimana para pesertanya dapat terdiri dari peserta dalam maupun luar negeri, tergantung dari sifatnya, yang memiliki Kartu Ijin Start Internasional maupun Kartu Ijin Start IMI Provinsi serta perlombaan dapat memakai Peraturan Internasional maupun Peraturan Nasional. Khusus untuk perlombaan yang memakai judul putaran Kejuaraan Nasional (National Championship) harus mendapat Izin tertulis dari PP IMI.
10.2 KEJUARAAN TINGKAT NASIONAL
Suatu perlombaan yang bersifat Nasional dapat diselenggarakan baik oleh IMI atau IMI Provinsi, maupun Klub yang mendapat wewenang/ijin dari IMI. Dimana para pesertanya dapat terdiri dari peserta dalam maupun luar negeri, tergantung dari sifatnya, yang memiliki Kartu Ijin Start Internasional maupun Kartu Ijin Start IMI serta perlombaan dapat memakai Peraturan Internasional maupun Peraturan Nasional. Khusus untuk perlombaan ini harus mendapat Izin tertulis dari PP IMI.
Pasal 11 KEJUARAAN REGIONAL
Perlombaan yang bertaraf Regional adalah perlombaan yang diselenggarakan oleh IMI Provinsi atau Klub yang diberi wewenang ijin oleh IMI. Perlombaan ini merupakan kejuaraan dalam satu pulau yang terdiri dan beberapa propinsi atau kejuaraan diantara beberapa propinsi tertentu yang berdekatan. Peserta lomba tersebut harus mempunyai Kartu ijin Start IMI dan KTP di dalam Regionalnya. Perlombaan Regional ini harus menggunakan Peraturan Nasional.
Pasal 12 KEJUARAAN DAERAH
Perlombaan ini adalah perlombaan yang diselenggarakan oleh IMI Provinsi atau KIub yang diberi wewenang oleh IMI Provinsi. Perlombaan ini merupakan kejuaraan dalam satu propinsi. Peserta lomba tersebut harus mempunyai Kartu Ijin Start IMI. Perlombaan ini harus menggunakan Peraturan Nasional.
Pasal 13 KEJUARAAN KLUB
Kejuaraan KIub adalah perlombaan dimana pesertanya hanya terbatas diantara anggota-anggota suatu Klub atau diantara beberapa klub dengan sifat penggemar kendaraan yang sejenis dan harus mempunyai Kartu Ijin Start IMI dan memakai Peraturan Nasional.
Pasal 14 SIFAT PENYELENGGARAAN/ KEJUARAAN
Penyelenggaraan/Kejuaraan dapat bersifat :
1. Tertutup
Penyelengaraan/Kejuaraan ini dilaksanakan terbatas dengan peserta sesuai dengan daerah statusnya, tidak ada peserta dari luar daerah sesuai status kejuaraan tersebut.
2. Terbuka
Penyelenggaraan/Kejuaraan ini dapat diikuti oleh peserta dari luar daerah status kejuaraannya.
Penyelenggaraan/Kejuaraan yang dapat bersifat terbuka hanya terbatas untuk Kejuaraan Nasional. Kejuaraan Regional den Kejuaraan Provinsi.
Kejuaraan tersebut diatas dapat bersifat campuran terbuka dan tertutup, yaitu: terbuka untuk menarik peserta, namun dengan memberikan point kejuaraan terbatas sesuai dengan sifat tertutup.
Pasal 15 PIALA
Untuk event yang berstatus Regional dan Daerah, bisa diperebutkan Piala Gubernur atau Pejabat Daerah Tingkat I lainnya.
Untuk event yang bersifat Nasional, bisa diperebutkan Piala Menteri, Pejabat, KONI Pusat, Kapolri.
Untuk event yang bersifat Internasional, bisa diperebutkan Piala Presiden, Menteri dan seterusnya.
Pasal 16 PERATURAN PERLOMBAAN
Peraturan Perlombaan dibuat oleh masing-masing komisi untuk tiap-tiap olahraga kendaraan bermotor, berdasarkan peraturan Internasional yang dikeluarkan oleh FIA, FIM atau CIK, yang disesuaikan dengan keadaan Indonesia, dan ditetapkan oleh IMI sebagai peraturan yang berlaku di Indonesia.
Peraturan Perlombaan berisi aturan menurut masing-masing jenis perlombaan, Ketentuan-ketentuan Kejuaraan Nasional dan format Peraturan Pelengkap Perlombaan. Peraturan Perlombaan ini merupakan Peraturan (yang bersifat) Nasional dan harus digunakan dalam tiap perlombaan di Indonesia
Pasal 17 PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN
Peraturan-peraturan yang disusun oleh Panitia Penyelenggara Perlombaan memuat hal-hal detail perlombaan serta petunjuk-petunjuk khusus. Untuk itu peraturan pelengkap ini harus disetujui dahulu oleh IMI. Pada semua peraturan-peraturan pelengkap, program maupun formulir pendaftaran harus sesuai dengan jelas
dicantumkan pernyataan bahwa diselenggarakan sesuai dengan peraturan-peraturan Internasional, FIA, FIM & CIK serta sesuai dengan Peraturan Nasional IMI.
Pasal 18 KETENTUAN PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN
18.1 Untuk setiap perlombaan, Panitia Penyelenggara harus menyusun suatu peraturan pelengkap untuk disahkan oleh IMI sebelum ijin perlornbaan dikeluarkan.
18.2 Setiap ketentuan yang tertera didalam peraturan pelengkap yang mungkin bertentangan dengan peraturan Internasional maupun peraturan Nasional dianggap sama sekali tidak berlaku.
Pasal 19 INSTRUKSI KHUSUS
Panitia Penyelenggara dapat pula mengeluarkan Instruksi Khusus, terutama pada saat briefing atau pada saat-saat tertentu baik secara tertulis maupun secara lisan dan harus disampaikan kepada para peserta dengan tanda terima (bukti) tertulis bahwa semua/tiap peserta telah menerima Instruksi Khusus tersebut. Dan instruksi Khusus ini harus disetujui oleh Pengawas Perlombaan dan secepatnya dilaporkan kepada IMI.
Pasal 20 PELAKSANAAN PERATURAN
Setiap penyelenggara, pelaksana, dan peserta yang terlibat Iangsung dalam suatu kegiatan perlombaan, harus:
20.1 Tunduk sepenuhnya pada peraturan Internasional FIA, FIM & CIK serta peraturan Nasional IMI dan menerima sernua konsekuensi yang timbul karena peraturan-peraturan tersebut.
20.2 Dianggap sudah mengetahui dan memahami peraturan-peraturan Internasional dan Nasional tersebut.
20.3 Menolak setiap badan di luar IMI untuk turut campur dalam hal-hal penjurian dan tidak menanggapi setiap polemik media massa tentang peraturan-peraturan yang berlaku.
BAB III PENYELENGGARAAN
Pasal 21 KETENTUAN PENYELENGGARAAN KEJURNAS
Suatu Kejurnas hanya dapat diselenggarakan oleh IMI Provinsi yang bekerja sama dengan Klub-klub yang berada dibawah naungan IMI Provinsi tersebut.
Peserta pada suatu Kejurnas wajib memiliki Kartu Ijin Start yang masih berlaku untuk cabang olahraga yang diikuti dan Kartu Ijin Start tersebut hanya dapat dikeluarkan oleh IMI Provinsi, dimana peserta dan klubnya berdomisili, dan berlaku di seluruh Pengprov di Indonesia, dimana Kejurnas tersebut diselenggarakan.
Setiap penyelenggara Kejurnas olahraga mobil/motor harus terdiri dari 2 orang Pengawas Perlombaan (Steward/Jury) yang ditunjuk oleh IMI dan seorang Pengawas Perlombaan dari Pengprov Penyelenggara serta 1(satu) orang dari Pengamat (bila dipandang perlu) dari IMI, Pengawas maupun Pengamat lomba yang akan ditunjuk oleh IMI adalah yang diusulkan oleh komisinya.
Setiap penyelenggara diwajibkan untuk melaporkan nama Ketua Organizing Committee dan nama-nama Racing Committee (Clerk of the Course, Scrutineers, Time Keepers), berikut latar belakang pengalaman (c.v.) masing-masing dibidangnya.
Penyelenggara Kejurnas tidak dapat membatalkan suatu event yang telah dinominasi oleh Pengprov yang bersangkutan, kecuali karena force majeur, dan harus mendapat ijin tertulis dan IMI.
Adapun sanksi yang akan diterapkan jika terjadi pembatalan ialah:
Bahwa Pengprov tersebut di tahun berikutnya tidak diperkenankan menyeleng-garakan event Nasional yang batal selama 1 (satu) tahun.
Suatu Kejurnas dapat dimundurkan atau ditukar tanggal penyelenggarannya dengan syarat :
Bahwa Pengprov yang akan mengundur/menukar tanggal eventnya mengajukan permohonan kepada IMl 3 (tiga) bulan sebelum jadwal yang telah ditentukan semula dan hanya IMl yang kemudian menetapkan jadwal baru setelah Pengprov tersebut membayar denda sebesar 10 (sepuluh) juta per event yang dimaksud. Pihak penyelenggara Kejurnas seperti yang tersebut dalam alinea diatas selayaknya juga meminta konfirmasi dari IMI mengenai personil yang akan ditunjuk oleh IMI sebagai Pengamat dan Pengawas Perlombaan/Juri. Adapun demi kelancaran mekanisme tersebut diatas, agar surat pengajuan juga ditembuskan kepada Komisi yang bersangkutan.
Pasal 22 JADWAL KEGIATAN OLAHRAGA NASIONAL (KALENDER OLAHRAGA IMI)
Pada setiap akhir tahun Ml akan menyusun suatu Jadwal Kegiatan Olahraga Nasional, berisi jadwal kegiatan olahraga kendaraan bermotor yang berstatus Nasional dan Internasional di Indonesia berdasarkan permohonan yang masuk serta seleksi terhadap penyelenggarannya.
Pasal 23 ORGANISASI PENYELENGGARA
Organisasi penyelenggara suatu perlombaan terdiri dari beberapa bagian/ suborganisasi dengan masing-rnasing kewajiban dan wewenangnya, yaitu:
1. Panitia Penyelenggara (Organizing Committee) 2. Pengamat dan Pengawas Perlombaan/Juri Perlombaan 3. Panitia Pelaksana (Rally/Racing Committee)
1. Pengamat Perlombaan (bila diperlukan)
2. Pengawas Perlombaan/Juri (Steward of the Meeting) 3. Panitia Pelaksana (Rally/Racing Committee), yang terdiri dari:
a. Pimpinan Perlombaan (Clerk of the Course) b. Sekretaris Perlombaan (Secretary of the Meeting) c. Pemeriksa Teknis (Scrutineers)
d. Pencatat Waktu (Time Keepers)
Mereka boleh dibantu oleh beberapa asisten guna menjamin penyelenggaraan yang sempurna dan dapat pula menambah jabatan-jabatan petugas, antara lain:
a. Course Marshall (Petugas Lintasan) b. Grid Marshall
c. Paddock Marshall d. Pit Marshall e. Timing System f. Starter & Finisher
g. Petugas kesehatan, dan lain sebagainya.
Pasal 24 PROMOTOR
Promotor adalah suatu Badan Hukum atau Klub yang hendak menjalin kerja sama penyelenggaraan dalam suatu lomba.
Perlombaan hanya dapat diselenggarakan oleh a. IMI
b. KIub-klub yang sudah diakui dan terdaftar pada IMI.
Sedangkan Promotor harus menjalin kerjasama dengan IMI/IMI Provinsi ataupun Klub yang ada.
Pasal 25 PENGAMAT PERLOMBAAN
IMI dapat menunjuk seorang Pengamat yang bertugas mengamati dan menilai penyelenggaraan suatu perlombaan, pengamat perlombaan harus mempunyai lisensi IMI untuk Steward/Jury sesuai dengan jenis olahraganya yang masih berlaku, baik mengenai penyelenggaraan secara umum, maupun secara teknis perlombaan.
Hasil pengamatan dilaporkan kepada IMI yang akan merupakan dasar penilaian bagi IMI untuk pertimbangan apakah IMI Provinsi yang bersangkutan dengan penyelenggaraan tersebut dapat ditunjuk kembali sebagai penyelenggara pada tahun berikutnya.
Pasal 26 PENGAWAS PERLOMBAAN (STEWARD OF THE MEETING)/ JURI
Pengawas Perlombaan/Juri terdiri dan petugas yang berkualitas baik yang diangkat dan ditunjuk oleh IMl bertugas mengawasi pelaksanaan, pengawas perlombaan harus mempunyai lisensi IMI untuk Steward/Jury sesuai dengan jenis olahraganya yang
masih berlaku, peraturan perlombaan yang ada serta memutuskan persoalan-persoalan yang timbul dalam suatu perlombaan.
Pengawas Perlombaan adalah istilah untuk olahraga mobil dan Juri istilah untuk olahraga motor.
Hanya mereka yang diangkat dan diakui oleh IMI dapat ditunjuk sebagai Pengawas Perlombaan/Juri.
Pengawas Perlombaan/Juri mempunyai wewenang dan kekuasaan tertinggi dalam suatu perlombaan untuk melaksanakan semua peraturan-peraturan Internasional, Nasional maupun peraturan Pelengkap Perlombaan.
Mereka harus sepenuhnya tanpa batas tunduk pada Peraturan FIA, FIM dan CIK.
Pasal 27 KEWAJIBAN PENGAWAS PERLOMBAAN/JURI
27.1 Pengawas Perlombaan/Juri harus terlibat langsung pada setiap perlombaan sejak dimulainya scrutineering sampai akhir perlombaan (jangka waktu protes berakhir).
27.2 Juga harus sepenuhnya menguasai segala sesuatunya yang berhubungan dengan perlombaan tersebut.
27.3 Sebelum Pertandingan
Wajib memeriksa hal-hal sebagai berikut: 1. ljin dari penguasa setempat
2. Ijin FIA, FIM, CIK atau lMI 3. Peraturan-peraturan Pelengkap 4. Daftar unggulan peserta
5. Acara, (khusus untuk Rally dan Offroad) buku route, kartu kontrol dan lain sebagainya
6. Ijin Start peserta 7. Asuransi
27.4 Memeriksa dan Meneliti
1. Faktor keamanan dan jalur-jalur kompetisi (special stages, track atau lintasan balap) termasuk perlengkapan kesehatan, dokter, ambulans, pemadam kebakaran, jalan darurat dan lain sebagainya.
2. Ada tidaknya Pengawas/Juri yang lain (kalau tidak, harus secepatnya ditetapkan penggantinya).
3. Apakah alat pencatat waktu bekerja baik dan akurat.
4. Apakah route special stages atau lintasan kompetisi dapat dilalui tanpa rintangan yang berarti.
27.5 Selama Perlombaan
1. Mengecek agar langkah-langkah pengamanan tidak menurun/ mengendur. Daerah perlombaan harus tertutup bagi lalu lintas dan umum.
2. Menghentikan atau mengambil tindak lanjut dari suatu perlombaan akibat force majeur atau membatalkan suatu perlombaan setelah diadakan pertimbangan yang matang serta pemeriksaan yang seksama.
3. Dalam hal terjadi kecelakaan fatal, segera harus diadakan pemeriksaan terhadap sebab-sebab kecelakaan tersebut dan haruslah dibuat laporan terperinci dengan disertai pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh para saksi, polisi, dokter dan petugas lomba yang bersangkutan.
4. Bilamana terjadi perselisihan antara sesama peserta atau antara peserta dengan petugas maka Pengawas/Juri harus jadi penengah.
5. Setelah perlombaan berakhir, Pengawas/Juri dengan bantuan Pimpinan Perlombaan harus secepatnya membuat dan mengirimkan laporan kepada lMl mengenai hasil pengawasannya juga hukuman maupun rekomendasi seperlunya.
Pasal 28 WEWENANG PENGAWAS PERLOMBAAN/JURI
28.1 Dalam setiap perlombaan yang diselenggarakan haruslah diawasi sekurang-kurangnya oleh seorang Pengawas/Juri dari IMI atau seorang Pengawas/Juri yang ditunjuk oleh IMI.
28.2 Pengawas/Juri adalah kedudukan kehormatan dan mereka tidak bertanggung jawab mengenai pengorganisasi dari suatu perlombaan dalam hal hubungan ini juga tidak mempunyai tugas-tugas sebagai pelaksana, hal mana berarti dalam menjalankan tugasnya mereka tidak bertanggung jawab kepada siapapun kecuali pada IMI.
28.3 Pengawas/Juri dapat mengambil tindakan-tindakan sebagai berikut:
a. Merubah dan mengganti peraturan-peraturan pelengkap perlombaan yang disebabkan oleh faktor keamanan, antara lain: menetralisir bagian-bagian tertentu dan lintasan kompetisi dan pos-pos petugas serta merubah jadwal-jadwal yang ada.
b. Menunda, memberhentikan perlombaan sehubungan dengan force majeur dan keamanan/ketentraman.
c. Menolak memberikan ijin berlomba kepada para peserta atau kendaraannya bila:
1. Peserta membahayakan jalannya pertandingan.
2. Kendaraan yang tidak memenuhi syarat serta berbahaya. 3. Menurut peraturan mereka tidak berhak untuk ikut berlomba. 4. Tindakan peserta yang curang dan melanggar peraturan.
d. Mengesahkan dan memutuskan dalam kasus-kasus yang timbul, baik sengketa maupun kesalahan-kesalahan yang terjadi.
e. Menentukan pemenang dalam hal ex equo (sesuai peraturan yang ada). f. Dapat merubah hasil-hasil perlombaan apabila terjadi kesalahan. g. Menentukan hukuman dan pinalti terhadap pelanggar peraturan.
h. Menentukan apakah peserta yang diskor atau didiskualifikasi oleh panitia lomba dapat diberikan kesempatan untuk mengikuti babak perlombaan berikutnya.
I. Bila Pengawas/Juri mengetahui ada terjadi pelanggaran terhadap kejujuran, sportifitas dan lain sebagainya, Pengawas/Juri berhak menjatuhkan hukuman-hukuman dengan segala peraturan yang ada padanya tanpa ada protes yang masuk sekalipun.
j. Penalti/hukuman-hukuman dapat dijatuhkan kepada panitia penyelenggara, panitia pelaksana, dan seluruh petugas lomba yang ada sesuai dengan peraturan yang berlaku.
k. Hukuman dan penalti dapat berupa : 1. Teguran/peringatan
2. Denda
3. Skorsing untuk selama waktu tertentu
4. DISKUALIFIKASI (dari satu babak perlombaan saja).
Hukuman-hukuman tersebut dapat dijatuhkan setelah diadakan pemeriksaan yang seksama dan untuk hukuman skorsing yang bersangkutan harus dipanggil terlebih dahulu untuk didengar kesaksiannya guna kesempatan membela dirinya.
Pasal 29 KEWAJIBAN PANITIA PENYELENGGARA (ORGANIZING
COMMITTEE)
Panitia Penyelenggara adalah sebuah badan yang terdiri sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang yang disetujui oleh IMI dan diberi kuasa serta wewenang menyelenggarakan suatu perlombaan dan melaksanakan peraturan yang berlaku serta peraturan-peraturan tambahannya
Kewajiban Panitia Penyelenggara adalah sebagai berikut:
a. Menyelenggarakan serta membagi tugas kepada para anggota dan petugas. b. Mendaftarkan jadwal Iombanya kepada IMI.
c. Mengajukan permohonan ijin penyelenggaraan kepada pihak yang berwajib. d. Menyusun peraturan-peraturan pelengkap, jadwal dan program perlombaan
bersama-sama dengan Pimpinan Perlombaan.
e. Menjamin penyelenggaraan dan bertanggung jawab atas setiap perlombaan baik terhadap bidang administrasi, teknis, keuangan, keabsahannya, dan lain sebagainya.
f. Mengatur keamanan dan keselamatan umum, peserta dan petugas dengan berkoordinasi dengan Pimpinan Perlombaan & Pengawas Perlombaan/Juri. g. Panitia Penyelenggara bertanggung jawab terhadap pihak ketiga atas kerugian
yang timbul selama acara perlombaan berlangsung.
h. Mengumumkan dan melaporkan hasil-hasil resmi perlombaan kepada IMI diketahui oleh Pengawas Perlombaan.
Pasal 30 PANITIA PELAKSANA TEKNIS PERLOMBAAN (RALLY/RACING COMMITEE)
Panitia Pelaksana lomba ini mendapat wewenang dan Panitia Penyelenggara untuk mengatur dan memimpin jalannya perlombaan pada hari perlombaan berdasarkan peraturan-peraturan serta penunjukan Pimpinan perlombaannya yang disetujui oleh IMI.
Pasal 31 PIMPINAN PERLOMBAAN (CLERK OF THE COURSE)
Pimpinan Perlombaan harus mempunyai lisensi IMI untuk Clerk of the Course (Pimpinan Perlombaan) dengan jenis olahraganya yang masih berlaku, dengan dibantu oleh asisten-asistennya dan bertanggungjawab untuk melaksanakan teknis perlombaan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pasal 32 WEWENANG DAN TUGAS PIMPINAN PELOMBAAN
a. Memelihara ketertiban dengan mengadakan kerjasama dengan pihak polisi maupun militer yang diserahkan tugas menjaga keamanan perlombaan yang juga bertanggung-jawab atas keselamatan umum.
b. Memastikan apakah semua petugas-petugas sudah berada di posnya masing-masing dan melapor kepada Pengawas/Juri apabila ada yang absen.
c. Memastikan bahwa semua petugas sudah menerima dan mengerti segala informasi yang dibutuhkan guna menjalankan tugasnya masing-masing.
d. Mengawasi peserta-peserta dan kendaraan-kendaraannya dan mengambil tindakan-tindakan terhadap peserta dan kendaraan yang tidak memenuhi syarat. e. Memastikan bahwa setiap peserta dan kendaraan sudah mempunyai tanda-tanda
identifikasi yang diharuskan.
f. Pada perlombaan kecepatan dia harus yakin sebelum perlombaan dimulai bahwa jalur kompetisi sudah aman dan tertutup untuk umum.
g. Memberitahu Pengawas/Juri mengenai usul merubah program atau melaporkan tindakan-tindakan pelanggaran peraturan yang dilakukan oleh peserta.
h. Mengatur kendaraan-kendaraan tersebut menurut urutan yang sesuai serta memberikan aba-aba keberangkatan.
I. Menerima protes-protes dan peserta dan meneruskannya kepada Pengawas/Juri untuk diproses dan diputuskan.
j. Harus mengumpulkan catatan-catatan atau data dari petugas-petugas pencatat waktu dan petugas tehnik, demikian pula keterangan-keterangan dan petugas-petugas Iainnya.
k. Harus dapat memastikan bahwa tidak ada suatu protes yang belum diselesaikan sebelum pembagian hadiah.
I. Harus membuat laporan Iengkap jalannya perlombaan kepada IMI antara lain: jumlah peserta, protes-protes, sanksi-sanksi yang dijatuhkan, hasil-hasil kejuaraan dan lain sebagainya yang dianggap perlu dan harus dikirimkan
selambat-lambatnya 6 (enam) hari setelah perlombaan tersebut berakhir dan diketahui oleh Pengawas/Juri.
Pasal 33 KEWAJIBAN SEKRETARIS PERLOMBAAN (SECRETARY OF
MEETING)
Sekretaris perlombaan bertanggung-jawab atas administrasi serta komunikasi perlombaan yang berhubungan dengan itu, juga mengatur bahan-bahan serta pengumuman yang menyangkut berita/instruksi yang berhubungan dengan perubahan yang ada.
Sekretaris perlombaan harus yakin bahwa petugas-petugas lomba sudah diperlengkapi dengan peralatan-peralatan yang diperlukan dan mengerti akan kewajiban-kewajibannya.
Pasal 34 PETUGAS PENCATAT WAKTU (TIME KEEPERS)
Para petugas pencatatan waktu berada langsung dibawah Pimpinan Perlombaan dan diangkat atas persetujuan IMI.
Pasal 35 KEWAJIBAN PETUGAS PENCATAT WAKTU
a. Mengatur pencatatan waktu selama perlombaan berlangsung dengan memakai alat-alat pencatat waktu yang akurat.
b. Mencatat waktu berangkat dan waktu tiba setiap peserta.
c. Memberitahukan hasil-hasil catatan waktu hanya kepada Pimpinan Perlombaan dan Stewart dengan memberikan time sheets yang asli.
d. Hanya time sheets yang asli yang dianggap syah dan harus ditandatangani oleh petugas pencatat waktu.
Pasal 36 TUGAS DAN WEWENANG PETUGAS PEMERIKSA TEKNIK
(SCRUTEENERS)
a. Petugas pemeriksa teknik bertanggung jawab untuk memeriksa keadaan mekanis dan kendaraan-kendaraan lomba, apakah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, maupun kepentingan untuk hal keselamatannya.
b. Juga bertugas untuk memeriksa semua perlengkapan peserta antara lain: helmet, pakaian balap, kaca mata dan sebagainya serta dokumen-dokumen yang diperlukan antara lain SIM, STNK, Surat Ijin Start, Visa dan FMN dan lain sebagainya.
c. Pemeriksaan-pemeriksaan dilakukan pada saat sebelum perlombaan dan setelah perlombaan berlangsung.
d. Mengadakan pengecekan-pengecekan kendaraan di daerah parkir tertutup atas spesifikasi yang berlaku terhadap kendaraan tersebut dan bertanggung jawab atas ketertiban parkir tertutup tersebut.
e. Berwenang untuk menolak kendaraan peserta untuk turut berlomba atau meneruskan perlombaan apabila kendaraan tersebut sudah tidak memenuhi syarat lagi.
Pasal 37 PARKIR TERTUTUP (PARC FERME)
Daerah lapangan parkir tertutup ini untuk menampung semua kendaraan peserta sebagai daerah terlarang untuk disentuh oleh peserta, maupun mekanik-mekaniknya, kecuali oleh petugas scruttineer guna pemeriksaan kendaraan-kendaraan selama jangka waktu yang telah ditentukan.
Larangan parkir tertutup tersebut hanya dapat dibuka/dibebaskan oleh Pimpinan Perlombaan, sebelum itu tidak satu kendaraanpun yang boleh keluar atau direparasi oleh seseorang.
Pasal 38 PESERTA
Peserta adalah orang yang pendaftarannya sudah diterima dan memenuhi syarat untuk suatu perlombaan atau orang yang ikut berlomba dan sudah memiliki Kartu Ijin Start yang berlaku.
Pasal 39 PERSYARATAN PESERTA
Untuk dapat memenuhi syarat sebagai peserta perlombaan, maka kepada setiap calon peserta diharuskan mempunyai Kartu Ijin Start yang dikeluarkan oleh IMI Ijin-ijin Start tersebut dapat berupa Ijin Start Internasional maupun Nasional/Regional dan untuk pengeluaran Ijin Start tersebut maka IMI dapat mengenakan biaya administrasinya.
Pasal 40 DAFTAR PESERTA
Panitia Penyelenggara harus membuat daftar peserta resmi sebelum perlombaan dimulai dan dibagikan kepada petugas, peserta dan ditempelkan pada papan pengumuman resmi.
BAB IV IJIN-IJIN
Pasal 41 KARTU IJIN START
Setiap peserta perlombaan olahraga kendaraan bermotor yang diselenggarakan di Indonesia wajib memiliki Kartu ijin Start sesuai dengan jenis perlombaan yang diikuti. Ijin Start hanya dikeluarkan oleh IMI Provinsi dengan ketentuan ketentuan sebagai berikut:
a. Permintaan Ijin Start dapat diajukan kepada IMI Provinsi dengan mengisi formulir resmi dan melengkapi persyaratan-persyaratan yang diminta, yaitu:
1. Kartu Tanda Anggota (KTA) yang masih berlaku. 2. Surat Ijin Mengemudi yang masih berlaku
3. Surat Keterangan dari dokter yang ditunjuk, untuk membuktikan bahwa yang bersangkutan mempunyai kondisi fisik yang baik.
4. Surat keterangan orang tua untuk pembalap (dibawah 15 tahun) yang belum memiliki Surat Ijin Mengemudi
b. Ijin Start hanya dapat diberikan oleh IMI Provinsi untuk pemohon dengan KTA dan surat rekomendasi dari klub yang berada di daerahnya, kecuali pemohon dari daerah lain dengan surat pengantar dari IMI Provinsinya.
c. Ijin Start Nasional dikeluarkan oleh PP IMI, setelah yang bersangkutan memiliki Ijin start yang dikeluarkan oleh IMI Provinsi. Yang diperuntukan mengikuti event:
1. Internasional event di Indonesia 2. Non Internasional event di luar negeri d. Ijin Start dapat diberikan kepada:
1. Penduduk Indonesia sesuai dengan persyaratan diatas.
2. Penduduk dan negara lain yang telah mendapat ijin dari ASN/FMNnegaranya. e. IMI berhak untuk menolak suatu pemberian ijin start tanpa mengemukakan suatu
alasan apapun.
Pasal 42 IJIN PENYELENGGARAAN
Suatu perlombaan dapat dilaksanakan di jalan-jalan umum atau di lintasan balap tertutup atau di kedua-duanya, tetapi selain ijin lomba yang dikeluarkan oleh IMI harus pula diperoleh ijin-ijin dari pihak-pihak yang berwajib.
Tak satupun perlombaan baik yang bersifat Internasional, Nasional, Terbuka, Regional maupun Klub dapat diselenggarakan tanpa ijin/persetujuan dan IMI. Untuk itu IMI akan memberikan sanksi berupa DISKUALIFIKASI sementara dan DISKUALIFIKASI kepada pihak-pihak yang terlibat (baik promotor, official maupun peserta) dalam suatu penyelenggaraan yang tidak syah.
Pasal 43 PERMOHONAN PENYELENGGARAAN
Setiap permohonan ijin penyelenggaraan ditujukan kepada IMI untuk perlombaan-perlombaan yang bersifat Internasional maupun Nasional terbuka/Nasional dan kepada IMI Provinsi untuk perlombaan yang bersifat Regional dan KIub dengan disertai keterangan-keterangan sebagai berikut:
a. Tanggal, tempat, jenis tingkat perlombaan. b. Nama dan alamat pemohon.
c. Daftar nama dan pengalaman orang-orang yang duduk dalam Panitia Penyelenggara (OC), Panitia Pelaksana (RC), Pengawas/Juri dan surat pernyataan kesediaan dan bertanggung-jawab bagi yang bersangkutan.
d. Rencana peraturan lengkap. e. Alamat sekretariat.
f. Rencana persiapan pengamanan/keselamatan untuk penonton, peserta dan petugas.
g. Gambar route/lintasan dan keterangan-keterangan detailnya.
Permohonan ujin penyelenggaraan harus diajukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Untuk suatu perlombaan bertaraf Internasional, pemohon harus sudah
mengajukan rencana tanggal penyelenggaraan lomba, selambat-lambatnya pada tanggal 30 September pada tahun berjalan guna dimasukkan pada jadwal kegiatan Olahraga IMI untuk tahun berikutnya. Perlombaan Internasional mendapat prioritas dari semua jadwal perlombaan yang diajukan.
Sedangkan permohonan ijin penyelenggaraannya dan semua persyaratannya harus sudah diajukan selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sebelum tanggal dimulainya.
b. Demikian juga untuk Panitia Perlombaan yang bersifat Nasional terbuka maupun Nasional harus sudah memasukkan jadwal perlombaannya selambat-lambatnya pada tanggal 30 Oktober tahun berjalan untuk dapat dimasukkan sebagai Jadwal Kegiatan Olahraga IMl tahun berikutnya sedangkan permohonan ijin penyelenggaraannya harus sudah selesai dan diajukan selambat lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum tanggal dimulainya perlombaan.
c. Untuk perlombaan Regional dari Klub tidak akan dicantumkan dalam Jadwal Kegiatan Olahraga IMl dan pada prinsipnya perlombaan-perlombaan tersebut tidak boleh bertepatan dengan perlombaan-perlombaan yang bersifat Internasional maupun Nasional yang sejenis, yang diselenggarakan di Indonesia, sedangkan untuk permohonan ijinnya cukup diajukan ke IMI Deerah setempat dengan melaporkan kepada IMI.
Pasal 44 ASURANSI
Penyelenggara diharuskan menutup asuransi yang meliputi tanggung jawab mereka dan tanggung jawab peserta terhadap pihak ketiga selama acara perlombaan berlangsung.
Pasal 45 PENDAFTARAN
a. Pendaftaran yang sah harus tercatat pada formulir pendaftaran: 1. Nama dan alamat Sekretariat Perlombaan.
2. Alamat dan nama Iengkap pendaftar. 3. Identitas penyelenggara.
4. Tanda tangan peserta. 5. Spesifikasi kendaraan.
6. Pernyataan orang tua/wali untuk pendaftar dibawah usia 16 tahun.
7. Pernyataan yang ditandatangani peserta bahwa penyelenggara dibebaskan dari segala tanggung jawab akibat dari perlombaan ini.
8. Pernyataan bahwa perlombaan akan diadakan berlandaskan dan sesuai dengan peraturan Internasional maupun Nasional.
b. Pendaftaran dari luar negeri harus mendapat ijin tertulis/stempel dan persetujuan dan ASN/FMN pada formulir pendaftaran, demikian juga apabila ada peserta Indonesia yang akan berlomba ke luar negeri harus dengan persetujuan IMI. c. Penolakan pendaftaran dapat ditentukan oleh Panitia Penyelenggara dalam
peraturan pelengkap yang dibuatnya.
Pasal 46 KARTU IJIN START INTERNASIONAL
IMl hanya mengelurkan Surat Ijin Start Internasional kepada para anggota IMl dengan pertimbangan IMI:
46.1 Pemohon sedikitnya sudah 3 (tiga) kali berhasil menduduki Kejuaraan Umum 10 terbaik dalam perlombaan sejenis dan bertaraf Nasional dalam 2 tahun terakhir di Indonesia, atau
46.2 Sedikitnya 1 kali pernah menduduki kejuaraan umum 10 terbaik dalam salah satu perlombaan tingkat Internasional dalam 2 tahun terakhir yang diselenggarakan di Indonesia atau pemohon yang sudah pernah mengikuti perlombaan di Luar Negeri.
Untuk memperoleh ijin Start harus memenuhi pertimbangan IMI dan IMI berhak untuk menolak permohonan tersebut tanpa alasan.
46.3 Permohonan harus diajukan oleh Pengprov IMI yang mengeluarkan KIS pada pembalap yang hendak memperoleh Surat Ijin Start (Start Permission) dari IMI
Pasal 47 MASA BERLAKU
Setiap Ijin Start berlaku sampai tanggal 31 Desember setiap tahunnya dengan pengecualian sewaktu-waktu dapat dicabut berlakunya apabila:
1 Si pemegang ijin telah melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan etika yang diberlakukan sesuai dengan Code Sportif Internasional.
2. Pemegang Ijin berada dalam keadaan tidak sehat jasmani sesuai dengan pengamatan petugas kesehatan.
3. Pemegang Ijin tidak memenuhi syarat lagi, akibat terkena sanksi-sanksi skorsing maupun DISKUALIFIKASI.
BAB V PROTES DAN BANDING
Pasal 48 PROTES
Hak protes hanya ada pada peserta, sekalipun demikian seorang petugas juga dapat mengajukan protes dalam kedudukannya yang resmi apabila dianggap benar dan untuk itu Ia tidak dibebani uang jaminan.
Pasal 49 PROSEDUR PROTES
49.1. Setiap protes harus dialamatkan secara tertulis dengan jelas kepada Pengawas Pertombaan/Juri dan disampaikan melalui Pimpinan Perlombaan disertai biaya yang telah ditentukan. Biaya ini akan dikembalikan apabila protesnya benar dan diterima.
49.2 Protes sudah harus sampai dan terbayar lunas selambat-Iambatnya dalam waktu 30 menit setelah hasil perlombaan diumumkan.
49.3. Protes mengenai hasil-hasil kejuaraan juga harus diajukan selambat-Iambatnya 30 menit setelah pengumuman hasil kejuaraan sementara diumumkan.
49.4 Setiap protes yang masuk bersifat untuk pembongkaran kendaraan harus disertai pula dengan uang jaminan pembongkaran yang akan ditentukan oleh panitia, apabila protes ditolak maka uang bongkar akan diberikan kepada petugas tehnik yang membongkar kendaraan tersebut dan apabila protes diterima uang tersebut kembali kepada penggugat dan pemilik kendaraan diwajibkan untuk membayar ganti rugi pembongkarannya.
49.5 Alasan protes harus jelas dan ditujukan kepada siapa serta yang mengajukan harus dapat membuktikan bahwa ia adalah pendaftar dan peserta yang sah. 49.6 Protes tidak diterima apabila diajukan bukan oleh yang berhak, atau jangka
waktu memasukkan protes terlewat, atau tidak disertai uang yang ditentukan, atau protes kolektif ataupun protes Iebih dari satu masalah.
49.7 Dalam surat protes harus dicantumkan saat penerimaan notes oleh panitia dengan tertera jam dan menit penyerahan serta tanda tangan penerima surat protes.
49.8 Bagaimanapun juga suatu protes tidak bisa mengakibatkan pengulangan perlombaan.
49.9 Apabila ada pasal yang membahas hal sama antara Peraturan Nasional Olahraga Kendaran Bermotor dengan peraturan tiap cabang olahraga maka yang digunakan adalah peraturan yang tercantum disetiap cabang olahraga.
Pasal 50 PROSES PROTES
50.1. Hanya Pengawas/Juri yang dapat membahas dan mengambil keputusan atas protes yang masuk.
50.2 Apabila diperlukan pihak yang protes ataupun yang memprotes dapat dipanggil untuk memberikan keterangan dan alasannya termasuk para saksi yang bersangkutan.
50.3 Protes sudah harus diputuskan selambat-Iambatnya 24 jam setelah protes tersebut masuk.
50.4. Sementara protes belum diputuskan panitia tidak berhak untuk mengumumkan hasil perlombaan atau membagikan hadiah-hadiahnya apabila protes tersebut ada hubungannya dengan hasil sementara.
50.5 Setelah keputusan ditentukan maka Pengawas Perlombaan/Juri akan mengumumkan keputusannya melalui pengumuman panitia atau melalui pos kepada pihak-pihak yang bersangkutan dengan protes tersebut dengan biaya ditanggung oleh panitia penyelenggara.
Pasal 51 BANDING
Setiap peserta dan panitia pelaksana mempunyai hak untuk naik banding kepada IMI atas hukuman atau keputusan yang dijatuhkan oleh Pengawas Perlombaan/ Juri kepadanya.
Pasal 52 PROSEDUR BANDING
52.1 Hak mengajukan banding kepada IMI akan berakhir setelah 48 jam setelah keputusan Pengawas Perlombaan/Juri diumumkan.
52.2 Pernyataan naik banding kepada IMI harus diajukan secara tertulis dengan alasan-alasan yang jelas disertai uang jaminan dan harus disetor tunai ke Kas IMI.
52.3 Apabila banding diterima maka uang jaminan dikembalikan kepada pihak naik banding dan beban/ongkos-ongkos protes banding dibebankan kepada pihak yang kalah banding sesuai dengan pengeluaran- pengeluaran yang terjadi selama proses banding tersebut tapi tidak lebih dari uang jaminan tersebut.
52.4 Hanya Kategori Kejuaraan Nasional banding diajukan ke PP IMI sedangkan kategori Kejuaraan Provinsi, Klub, diajukan Kepada Pengprov IMI penyelenggara.
Pasal 53 WEWENANG BANDING
53.1 IMI adalah badan tertinggi yang berhak memberikan keputusan akhir dan suatu protes ataupun banding yang diterimanya dan juga berhak untuk membatalkan keputusan-keputusan yang tidak disetujuinya, memberatkan atau mengurangi hukuman-hukuman yang telah diputuskan ataupun juga merehabilisasi pihak-pihak yang dirugikan.
53.2 IMI selambat-Iambatnya 15 hari sudah harus memutuskan suatu perkara naik banding sejak diterimanya surat banding tersebut oleh Sekretariat IMl Pusat.
53.3 Team pemeriksa banding bebas menentukan kehadiran seseorang atau beberapa orang yang ahli dan netral agar dapat diperoleh penjelasan-penjelasan, termasuk menghadirkan pihak-pihak yang bersangkutan untuk didengar keterangannya.
53.4 IMI harus mengumumkan hasil-hasil keputusan tersebut keseluruh IMI Provinsi untuk diketahui beserta hukuman-hukuman yang dijatuhkan.
Pasal 54 NAIK BANDING INTERNASIONAL
Hanya berdasarkan perlombaan yang bersifat Internasional/terbuka yang memakai peraturan Indonesia yang diadakan di Indonesia dapat seseorang atau badan naik banding ke tingkat Internasional baik FIA, FIM maupun CIK, dimana cara dan prosedurnya sudah ditentukan dalam peraturan Internasional yang berlaku.
BAB VI PENUTUP
Pasal 55 PENUTUP
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Nasional Olahraga Kendaraan Bermotor IMI ini akan diatur Iebih lanjut dalam Peraturan yang ditetapkan oleh IMI.
PERATURAN KEJUARAAN NASIONAL
BALAP MOBIL
IKATAN MOTOR INDONESIA
Edisi : 2014
DAFTAR ISI
Pasal 1 STATUS KEJUARAAN 4
Pasal 2 JUDUL KEJUARAAN 4
Pasal 3 NEGARA PEMBALAP 4
Pasal 4 PANITIA PENYELENGGARA (OC) 4
Pasal 5 PANITIA PELAKSANA TEKNIS PERLOMBAAN (RC) 5
Pasal 6 JUMLAH KENDARAAN YANG DIIJINKAN START 5
Pasal 7 PERATURAN DAN JADWAL PERLOMBAAN 5
Pasal 8 PERSYARATAN PEMBALAP 6
Pasal 9 TANGGUNG JAWAB PENDAFTAR DAN PEMBALAP 7
Pasal 10 PERSYARATAN KENDARAAN 8
Pasal 11 JARAK LINTASAN LOMBA 9
Pasal 12 ASURANSI 9
Pasal 13 BRIEFING PEMBALAP 9
Pasal 14 PEMERIKSAAN ADMINISTRASI 10
Pasal 15 PEMERIKSAAN TEKNIS 10
Pasal 16 PIT LANE 12
Pasal 17 KETENTUAN UMUM KESELAMATAN 14
Pasal 18 LATIHAN DAN KUALIFIKASI 16
Pasal 19 GRID 19
Pasal 20 PROSEDUR START 20
Pasal 21 DRIVE THRU PENALTY 25
Pasal 22 LOMBA / RACE 25
Pasal 23 NETRALISASI DAN PENGHENTIAN LOMBA 26
Pasal 24 FINISH 28
Pasal 25 PARKIR TERTUTUP / PARC FERME 29
Pasal 26 SYARAT – SYARAT KLASIFIKASI 30
Pasal 27 PODIUM CEREMONY DAN JUMPA PERS 30
Pasal 28 PEMBERIAN POINT 30
Pasal 29 DEAD HEAT 31
Pasal 30 KODE ETIK 32
Pasal 31 TANDA – TANDA BENDERA 34
Pasal 32 TATA CARA BERKENDARA DI AREA BENDERA KUNING 36
Pasal 33 PERATURAN 37
Pasal 34 INSTRUKSI DAN PEMBERITAHUAN KEPADA PEMBALAP 37
Pasal 35 INTERPRETASI DAN PEMBERLAKUAN PERATURAN 37
Pasal 36 YURIDIKSI 38
Pasal 37 HUKUMAN DAN PEMECATAN 38
Pasal 38 PROTES DAN NAIK BANDING 39
PERATURAN TEKNIK KESELAMATAN PERLOMBAAN BALAP MOBIL 41
JENIS KEJUARAAN PERLOMBAAN BALAP MOBIL 2014 71
PERATURAN TEKNIK PERLOMBAAN BALAP MOBIL 74
LAMPIRAN 1 86
Peraturan Kejuaraan “Super Touring“ championship 2014
LAMPIRAN 2 87
PERATURAN NASIONAL
PERLOMBAAN BALAP MOBIL
TAHUN 2014
PERATURAN UMUM
Pasal 1.
STATUS KEJUARAAN.
Peraturan ini mencakup perlombaan dengan status kejuaraan sebagai berikut: 1.1. Kejuaraan Nasional.
1.2. Kejuaraan Non Kejurnas. 1.3. Kejuaraan Terbuka.
1.4. Kejuaraan Terbuka (terbatas).
Pasal 2.
JUDUL KEJUARAAN.
Setiap perlombaan wajib mencantumkan status kejuaraan yang diadakannya
didalam judul perlombaan (Pasal 1). Khusus untuk Kejuaraan Nasional
Penye-enggara wajib mencantumkan Logo Kejuaraan Nasional (Lampiran A).
Pasal 3
.NEGARA PEMBALAP.
3.1. Kejuaraan Nasional.
Indonesia dan pemegang Kartu Ijin Start (KIS) IMI.
3.2. Kejuaraan Non Kerjurnas
Indonesia dan pemegang Kartu Ijin Start (KIS) IMI.
3.3. Kejuaraan Terbuka.
Seluruh negara yang menjadi anggota FIA. 3.4. Kejuaraan terbuka (terbatas).
Negara-negara China (FASC), Hong Kong (HKAA), India (FMSCI), Philippine (PMP), Singapore (SMSC), Taiwan (CTAA), Malaysia (AAM), Thailand (RAA) dan Indonesia (IMI).
Pasal 4.
Dilaksanakan oleh badan hukum atau klub yang diakui oleh IMI dan diberikan kuasa serta wewenang untuk menyelenggarakan perlombaan dan melaksana-kan peraturan yang berlaku serta peraturan-peraturan tambahan nya.
Pasal 5.
PANITIA PELAKSANAAN TEKNIS PERLOMBAAN (RC).
Panitia Pelaksana Perlombaan adalah yang diberikan wewenang dari Panitia Penyelenggara untuk mengatur dan memimpin jalannya perlombaan sesuai dengan peraturan yang berlaku serta peraturan-peraturan tambahannya. Pimpinan Perlombaan wajib disetujui oleh PP IMI.
Pasal 6.
JUMLAH KENDARAAN YANG DIIJINKAN START.
Jumlah kendaraan yang diijinkan untuk Start pada lintasan untuk setiap lomba adaah sesuai dengan FIA Safety Criteria (Appendix O, Supplement 2.B) dan sesuai dengan waktu kualifikasi dan Pasal 10, 15 dan 18.
Jumlah max Stater Pembalap harus dicantumkan pada PERATURAN PELENGKAP PERLOMBAAN.
Pasal 7.
PERATURAN DAN JADWAL PERLOMBAAN.
1. Peraturan Lomba yang menjadi acuan perlombaann.
2. Peraturan Nasional Olahraga Kendaraan Bermotor 2014 (IMI). 3. Peraturan Nasional Perlombaan Balap Mobil Tahun 2014 IMI). 4. Peraturan Pelengkap Perlombaan (Penyelenggara dan disetujui IMI) 5. Peraturan FIA untuk acuan. (FIA).
6. Bulletin yang disahkan oleh Pengawas Perlombaan.
Panitia perlombaan wajib mengeluarkan Peraturan Pelengkap Perlombaan dan Jadwal Perlombaan (Supplementary Regulation dan Program) yang berisikan antara lain:
- Nama organisasi atau Promotor Penyelenggara - Nama atau Judul acara
- Penyataan tentang pedoman peraturan yang menjadi pedoman lomba, misalnya Peraturan Nasional atau International.
- Susunan anggota RC
- Waktu dan Tempat penyelenggaraan.
- Penjelasan terinci mengenai perlombaan, Panjang, arah lintasan, Kelas dan kategori kendaraan jumlah maximum Pembalap dll.
- Informasi penting mengenai asuransi. - Detail mengenai penghargaan dan hadiah.
- Nama Pengawas Perlombaan dan Pimpinan Lomba. PERUBAHAN PADA PERATURAN PERLOMBAAN.
Peraturan Pelengkap Perlombaan tidak boleh diubah setelah jadwal pendaftar-an dibuka, kecuali mendapat persetujupendaftar-an dari Pengawas perlombapendaftar-an dengpendaftar-an alasan keamanan atau force majeure.
Selain jadwal acara (Program) Panitia juga wajib mengeluarkan daftar Pemba-lap beserta nomor startnya.
Pasal 8
.PERSYARATAN PEMBALAP. 8.1 PENDAFTAR.
Setiap badan hukum yang diberi ijin atau perorangan yang memiliki ijin sebagai pendaftar (Entrant License) dikeluarkan oleh negara-negara yang termasuk didalam Pasal 3.
8.2 Perlombaan dengan status Regional dan Nasional, pengemudi wajib
me-miliki Kartu Ijin Start (KIS) yang dikeluarkan oleh IMI. Jika WNA yang berdomisili di luar negeri ingin ikut serta dalam perlombaan balap
mobil di Indonesia, maka yang bersangkutan harus dapat
memperlihatkan racing license yang masih berlaku dari ASN di tempat tinggalnya, dan memberikan salinan surat rekomendasi yang diterbitkan ASN tersebut untuknya terkait dengan perlombaan yang akan diikuti yang bersang-kutan. Namun demikian, Pembalap yang bersangkutan tidak berhak me-nerima poin kejuaraan.
8.2.1. Nama Pembalap yang tertera di formulir pendaftaran dan yang tertempel di kaca pintu belakang kanan-kiri dan kaca depan, ha-rus sama dengan nama yang tertulis di Kartu Izin Start (KIS). (sanksi tidak dapat mengikutiqtt/start).
8.2.2. Perlombaan dengan status Nasional Terbuka dan Terbatas penge-mudi wajib memiliki FIA International “C” Licences yang dikeluarkan oleh negara-negara yang tercantum didalam Pasal 3. 8.3 PENJENJANGAN
8.3.1 NON-SEEDED adalah Pembalap yang tidak termasuk Seeded A
8.3.2 Seeded B adalah Pembalap yang sudah turun balap Kejurnas di Indonesia dan meraih minimal 3 kali podium dalam satu musim dikelasnya
8.3.3 SEEDEDA adalah Pembalap SEEDEDB yang 3 kali mendapatkan
juara 1 dalam 1 musim balap, peringkatnya naik menjadi
SEEDEDA pada tahun berikutnya.
Ranking Nasional 1 & 2 Seeded B, peringkatnya naik menjadi
SEEDEDA pada tahun berikutnya.
8.3.4 Apabila seorang Pembalap seeded A sama sekali vakum dari segala bentuk perlombaan balap mobil dimanapun selama lebih dari 5 tahun, maka status seedednya diturunkan menjadiseeded
B. Jika namanya masih tercantum didalam daftar pembalap
seededIMI, maka yang berlaku adalah ayat ini.
8.3.5 Untuk Pembalap seeded B tidak dapat turun keNon Seeded. 8.3.6 Kenaikan jenjang kategori Pembalap akan dilakukan setelah
Pembalap mengikuti 6 balapan atau maksimal telah mengikuti seluruh seri dalam 1 (satu) tahun.
8.3.7 Atas masukan dari Pengawas Perlombaan, Pimpinan Perlombaan berhak menentukan jenjang seorang tanpa mengacu kepada pro-ses perjenjangan seperti yang tertera dalam pasal ini, meski
se-bagai akibatnya berarti yang bersangkutan harus pindah
kelas. Keputusan Pimpinan Perlombaan tentang hal ini harus diberitahu-kan kepada yang bersangkutan atau timnya sebelum hari per-lombaan.
8.3.8 PP IMI berhak merubah dan menentukan status dengan mem-pertimbangkan data data yang ada.
8.3.9 Pembalap yang memiliki status Seeded di cabang Speed Rally,
Sprint Rally, Karting, maka statusseedednya berlaku sama. 8.3.10 Pembalap yang memiliki International License kategori balap
mobil/formula, dianggap sebagaiSeededA. 8.4 Biaya Pendaftaran
Biaya pendaftaran untuk lomba akan ditentukan oleh Panitia Penye-lenggara.
Pasal 9.
TANGGUNG JAWAB PENDAFTAR DAN PEMBALAP.
9.1. Pendaftar bertanggung jawab dan menjamin bahwa seluruh nama-nama yang didftarkan akan mentaati hukum dan peraturan yang ada. Jika pendaftar berhalangan hadir baik secara perorangan maupun
badan hu-kum, maka pendaftar wajib menunjuk wakilnya secara tertulis dengan disertai seluruh kekuasaan dari pendaftar.
9.2. Pendaftar harus menjamin bahwa seluruhnya sesuai dengan kondisi dan keabsahan serta keselamatan selama latihan dan perlombaan. Dengan menghadirkan kendaraan untuk Pemeriksaan Teknis adalah merupakan pernyataan bahwa yang disampaikannya sesuai dengan kebenaran.
9.3. Selama perlombaan Pembalap atau orang lainnya yang membantu ken-daraan yang terdaftar tidak terlepas dari tanggung jawab atas keta-atannya terhadap peraturan yang juga merupakan bagian dari tanggung jawab pendaftar atau wakil yang ditunjuk.
9.4. Pendaftar, Mekanik atau Tamu harus setiap saat wajib mengenakan tan-da pengenal yang dikeluarkan Panitia untuk yang bersangkutan. Tanda pengenal ini hanya berlaku untuk yang namanya tertera.
9.5. Pembalap yang belum terdaftar dan belum lulus pemeriksaan adminis-trasi dan teknis kendaraan tidak diperbolehkan mengikuti latihan bebas. 9.6. Pendaftar, Pembalap, Mekanik, Manager atau tamu tidak diperkenankan bertindak tidak sopan, bertengkar atau melakukan tindak kekerasan fisik terhadap Pembalap, anggota team lain, maupun panitia. Pembalap, manager dan team bertanggung jawab atas setiap insiden yang dilaku-kan oleh pihak ke-3 pendukung team tsb. Sanksi berupa skorsing dapat dijatuhkan pada Pembalap, anggota team dll.
Pasal 10.
PERSYARATAN KENDARAAN
10.1 Kendaraan yang diperlombakan adalah kendaraan yang memenuhi sya-rat seperti tercantum pada Pesya-raturan Teknik.
10.2 Sesuai dengan persyaratan, kendaraan sebagaimana tercantum didalam peraturan FIA dan Peraturan Tambahan bidang Teknik yang dikeluarkan oleh Penyelenggara untuk setiap status kejuaraaan sebagaimana tercan-tum didalam Pasal 1 dan Pasal 3.
10.3 Berat minimum kendaraan sesuai dengan berat kendaraan minimum kendaraan yang tercantum dalam Peraturan Teknik.
10.4 Kendaraan harus sesuai dengan PERATURAN NASIONAL OLAH RAGA, KENDARAAN BERMOTOR yang dikeluarkan oleh PP IMI.
10.5 Nama dari Pembalap dengan warna Putih harus terpasang pada kaca
pintu belakang kiri kanan dan harus jelas terpasang. Nama yang
tertera dikaca harus sama dengan nama yang tertulis di KIS. Dengan tinggi hu-ruf minimum 7 cm dan maksimum 8 cm.
Pasal 11.
JARAK LINTASAN LOMBA.
Jarak yang ditentukan adalah minimum 30 km dan maximum 100 km untuk setiap perlombaan (kecuali lomba balap ketahanan).
11.1. Walaupun jarak lintasan dan lamanya waktu tiap lomba telah di-tentukan, Panitia Penyelenggara berhak menentukan sendiri jarak lintasan dan lamanya waktu tiap lomba untuk masing-masing perlombaan sesuai dengan keadaan balapan tersebut.
11.2. Untuk Kejuaraan Nasional di Sirkuit Indonesia diberlakukan sebanyak minimal 38 km dan maksimal 100 km, dengan maksimum lamanya per-lombaan 50 menit.
Pasal 12.
ASURANSI.12.1. Penyelenggara perlombaan harus mengadakan asuransi untuk
Pembalap, anggota panitia dan dengan asuransi atas pihak ketiga (third party insurance). Peraturan tambahan harus mencantumkan kondisi dan ca-kupan dari asuransi dan sesuai dengan hal-hal sebagaimana tercantum dibawah ini.
12.2. Penyelenggara wajib mengirimkan perincian dari kondisi dan cakupan dari asuransi sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku pada umumnya kepada IMI. Pembalap dapat melihat kondisi dan cakupan asuransi ini pada Panitia sesuai dengan kebutuhan.
12.3. Asuransi atas pihak ketiga yang dilakukan oleh panitia harus sebagai tambahan dan tanpa merugikan setiap asuransi pribadi yang dibuat oleh maupun Pembalap pada perlombaan ini.
12.4. Pembalap yang ikut serta tidak dianggap sebagai pihak ketiga.
Pasal 13.
BRIEFING PEMBALAP.
13.1. Pimpinan Perlombaan akan mengadakan briefing kepada para
Pembalap. Adapun tanggal, tempat dan waktu sesuai dengan yang tercantum pada jadwal panitia. Pembalap atau Pendaftar diwajibkan hadir pada saatBriefingPembalap.
13.2. Pendaftar ataupun wakil yang ditunjuk harus bertanggung jawab atas satu atau lebih nya Pembalap yang tidak hadir didalam briefing ini. 13.3. Pembalap yang tidak mengikuti Briefing dan tidak mengirimkan wakil
rupiah). Pembalap baru boleh mengikuti kualifikasi (qtt) dan start jika sudah membayar denda.
13.4. Pembalap non-Seeded wajib mengikuti briefing tanpa diwakilkan.
Sanksi untuk tidak mengikuti briefing bagi non-seeded adalah tidak start (uang pendaftaran tidak dikembalikan).
13.5. Panitia harus mengeluarkanEntry listpeserta untuk masing2 kelas pada saat briefing sebagai form absensi. Absensi tsb harus ditanda tangani oleh Pembalap atau wakilnya/Entrant
13.6. Bahan briefing harus dibagikan kepada seluruh Pembalap.
13.7. Hasil keputusan briefingharus di tanda tangani oleh Pengawas Perlom-baan, dan ditempelkan padaofficial board.
13.8. Kartu Tanda Masuk (jika ada), untuk Pembalap dan Pit Crewnya akan
diberikan setelah briefing. Dengan permohonan tertulis Pembalap
dapat memohon penambahan tanda pengenal kepada Panitia Penyelenggara.
13.9. Wakil dari Pembalap dan Pendaftar harus dibuktikan dengan kartu
Entrant License yang resmi dikeluarkan oleh PP IMI. Sanksi: Protest tidak dilayani.
Pasal 14
PEMERIKSAAN ADMINISTRASI
14.1. Seluruh Pendaftar, Pembalap atau pengurus yang ditunjuk harus hadir pada tempat Pemeriksaan Administrasi dan Pemeriksaan Kendaraan yang akan dilaksanakan sebelum latihan tidak resmi pertama atau di-tentukan sesuai dengan jadwal Panitia.
14.2. Dokumen pendaftar dan harus disampaikan pada saat pemeriksaan administrasi ini. Pemeriksaan juga meliputi dokumen Pendaftaran,
License “C”,KIS Internasional/ Regional, Surat kesehatan Internasional. 14.3. Pendaftar atau Pembalap yang tidak melapor untuk pemeriksaan tidak
diijinkan mengikuti latihan,QTTmaupun perlombaan.
14.4. Jadwal Pemeriksaan sesuai dengan jadwal perlombaan yang dikeluarkan oleh Panitia.
Pasal 15
PEMERIKSAAN TEKNIS.
Jadwal Pemeriksaan Teknis akan dilaksanakan sebagaimana jadwal yang di-keluarkan oleh Panitia dengan ketentuan sebagai berikut:
15.1. Pemeriksaan Teknis (Scrutineering) akan diadakan pada tanggal dan tempat yang ditentukan sesuai dengan jadwal yang dikeluarkan oleh
15.2. Pembalap yang menghadirkan kendaraannya guna pemeriksaan teknis maupun administrasi berarti menyatakan bahwa ia telah mengetahui dan mengerti secara keselurahan peraturan perlombaan, sanksi-sanksi, jadwal dan lain-lainnya yang dikeluarkan oleh panitia untuk kepentingan Pembalap.
15.3. Pemeriksaan kendaraan diluar jadwal yang telah
ditentukan/dikeluarkan oleh Panitia akan dikenakan denda minimum sebesar Rp. 1,000,000 (satu juta rupiah) per kendaraan.
15.4. Pada mobil balap tidak diperkenankan memasang sticker yang sama dengan panitia mis: fast doctor, safety car, course marshall dan lain sebagainya. (sanksi tidak diperbolehkan mengikuti qtt/race).
15.5. Pemeriksaan Teknis sebelum perlombaan dapat dilakukan terpisah atau bersamaan dengan Pemeriksaan Administrasi.
15.6. Seluruh kewajiban yang ditentukan oleh panitia, misalnya; nomor Pembalap, stiker iklan, dan lain-lain sudah harus terpasang sebelum
pe-meriksaan Teknis ini dilakukan. Kendaraan yang tidak melakukan
peme-riksaan Teknis tidak diijinkan untuk mengikuti perlombaan, qtt
maupun latihan.
15.7. Setiap kendaraan yang telah mendapatkan tanda Lulus Pemeriksaan Teknis, jika dibongkar/diubah yang menyebabkan perubahan pada
kese-lamatan kendaraan atau menimbulkan pertanyaan atas
keabsahan, atau terlibat kecelakaan, wajib menyampaikan permohonan ulang Pemerik-saan Teknis dan persetujuan dari petugasScrutineering. 15.8. Setiap kendaraan dapat dilarang ikut perlombaan dengan alasan
kese-lamatan.
15.9. Pimpinan Perlombaan dapat meminta kendaraan yang terlibat kece-lakaan untuk berhenti guna Pemeriksaan Teknis kembali atas
kendaraan nya dan Pemeriksaan Medis atas Pembalapnya. Hasil
Pemeriksaan Teknis ini akan diserahkan kepada Pengawas Perlombaan. 15.10.Pengawas Perlombaan dan Petugas Pemeriksa Teknis dapat melakukan
hal-hal sebagai berikut:
15.10.1 Memeriksa kondisi keabsahan dari kendaraan ataupun Pem-balap setiap saat.
15.10.2 Meminta kepada Pembalap waktu pemeriksaan agar
kendaraan dibongkar oleh Pembalap/peserta guna
memastikan bahwa kendaraan memenuhi persyaratan yang ditentukan.
15.10.3 Meminta kepada Pembalap agar menyediakan suku cadang dan contoh serta data pendukung lainnya guna Pemeriksaan Teknis selama perlombaan dan latihan.
15.11 Pemeriksaan Ulang
15.11.1. Setiap kendaraan dapat diperiksa ulang setelah Pembalap menyelesaikan waktu kualifikasi resmi (QTT)setidaknya untuk hal-hal sebagai berikut:
15.11.1.1. Berat kendaraan
15.11.1.2. Keadaan kendaraan sertaseal/segel.
15.11.2. Setidaknya hal-hal sebagai berikut akan diperiksa sesudah menyelesaikan setiap lomba:
15.12.2.1. Berat kendaraan
15.12.2.2. Keadaan kendaraan sertaseal/segel.
15.12. Setelah perlombaan, pemenangnya dan kendaraan yang dipilih secara acak atau kendaraan yang dicurigai tidak sah akan diperiksa. Pembalap yang diminta, harus melaksanakan instruksi petugas Scrutineering
dalam hal melaksanakan pembongkaran untuk memperlihatkan bagian yang diperlukan petugas scrutineering. Kelalaian atau keberatan untuk melakukan hal ini mengakibatkan sanksi Pemecatan.
15.13. Pemeriksaan Teknis dapat dilakukan setiap saat tanpa menjelaskan alasannya dan keputusan ini sepenuhnya merupakan hak Panitia dan Pengawas Perlombaan.
Catatan: Seluruh Pembalap diwajibkan untuk menggunakan data monitoring
unit (transponder) yang spesifikasi dan suppliernya ditentukan oleh Panitia Penyelenggara. Kelalaian dalam memasang transponder me-rupakan kerugian dan tanggung jawab Pembalap.
Pasal 16
PIT LANE
16.1. Untuk menghindari keraguan dari kegunaannya, area Pit Lane harus
di-bagi menjadi dua jalur. Jalur yang berdekatan dengan Pit Wall
diguna-kan untuk jalur cepat. Sedangkan Jalur yang berdekatan
dengan garasi digunakan untuk jalur lambat.
16.2. Jalur lambat adalah area dimana Pembalap dapat memperbaiki
kendara-an untuk kerusakan yang relative ringan/kecil. Tidak
diperkenankan untuk menjalankan kendaraan diarea jalur lambat, terkecuali kendaran tersebut didorong (tanpa Pembalap dibelakang kemudi).
16.3. Jalur cepat adalah jalur kendaraan yang harus digunakan pada saat
ken-daraan akan masuk dan keluar dari area Pit Lane. Termasuk
16.4. Kendaraan dapat menuju jalur cepat dan atau tetap dijalur cepat (hanya ketika akan start dari Pit Lane) apabila Pembalap nya berada dibelakang kemudi (meskipun kendaraan tersebut didorong).
16.5. Pada saat latihan resmi/qtt/lomba, jalur cepat harus diprioritaskan
untuk kendaraan yang sedang mengikuti latihan resmi/qtt/lomba
tersebut.
16.6. Seluruh Pembalap dan timnya yang menempati Pit Lane area harus
sela-lu menjaga kebersihan daerah pit lane. Pembalap dilarang untuk meru-bah permukaan dari Pit Lane, mengecat (untuk membuat garis), mem-basahi dengan air/liquiddan lain sebagainya.
16.7. Tidak boleh ada peralatan (equipment dan tools) yang tertinggal di-seluruh areaPit Lane.
16.8. Pemakaian Spark-generating atau alat temperatur tinggi tidak dibenar-kan pada daerah Pit dan jalur Pit.
16.9. Pada saat perlombaan, memasuki lintasan sepenuhnya menjadi hak Pembalap, tanpa mengabaikan keselamatan Pembalap lainnya.
16.10.Pembalap wajib menyediakan minimal 2 (dua) buah pemadam api yang bekerja dengan baik dan kapasitas minimal masing-masing 5 Kg. 16.11.Dilarang menyimpan bahan bakar di areaPit Lane.
16.12.Pada saat Pembalap melakukan Pit Stop, mesin kendaraan wajib dima-tikan. Untuk penyetelan mesin kendaraan, Pembalap diijinkan untuk menghidupkan mesin memakai bantuan dari luar kendaraan, tetapi tidak boleh didorong (Sanksi minimum Pemecatan).
16.13.Perbaikan dan penggantian suku cadang hanya diijinkan di Pit nya atau dibagian depan dari Pit. Pembalap tidak diperkenankan untuk memper-baiki kendaraanya di lintasan ataupun didaerah lain selain Pit.
16.14.Pada saat kendaraan berhenti di Pit,maximum 4 (empat) orang dapat membantu memperbaiki kendaraan tersebut secara bersamaan. Hanya 4 orang yg diperbolehkan berada di Pit area (garis kuning). Jika Pem-balap tetap berada didalam kendaraan, PemPem-balap tidak dihitung bagian dari empat mekanik yang dimaksud diatas sejauh tidak melakukan kegiatan yang aktif (atau ditentukan lain oleh Peraturan Tambahan). 16.15.Hewan peliharaan dilarang berada pada daerah pitdan paddock. Anak
dibawah usia 12 tahun dilarang berada di pit lane dan pit wall dengan alasan apapun. Anak dibawah usia 12 tahun yang berada di dalam pit atau di area belakang pit setiap saat harus selalu ditemani oleh orang tuanya atau orang dewasa yang menjadi walinya.
16.16.Alat transportasi bermotor (motor mini, scooter bermotor, sepeda
motor, dsb) kecuali kendaraan balap Pembalap, tidak boleh digunakan di pit lane.
16.17.Apabila kendaraan memasuki Pit garasi, maka Pembalap dianggap telah menyelesaikan perlombaan dan tidak diperbolehkan untuk melanjutkan-nya lagi.
16.18.Seluruh pelanggaran di Pasal 16 ini, adalah sanksi denda minimum se-besar Rp. 500,000 (lima ratus ribu rupiah) sampai dengan Pemecatan.
Pasal 17
KETENTUAN UMUM KESELAMATAN.
17.1. Hanya lintasan pacu yang diijinkan untuk dipakai pada latihan maupun perlombaan.
17.2. Selama perlombaan dan latihan Pembalap dilarang melakukan penam-bahan penam-bahan bakar, minyak pelumas, air, cairan, liquid lainnya diluar daerah Pit.
17.3. Pada waktu pengisian bahan bakar, Pembalap harus menyediakan pe-madam api yang bekerja dengan baik pada sisi kendaraannya.
17.4. Kecuali Pembalap dan pengecualian khusus, petugas yang berwenang, tidak satupun berhak menyentuh kendaraan yang berhenti diluar daerah Pit.
17.5. Pembalap dilarang mendorong kendaraan dilintasan ataupun melintasi garis Finish.
17.6. Setiap Pembalap yang berhenti dan mematikan mesinnya selama perlombaan berlangsung, dikehendaki atau tidak, Pembalap bersang-kutan yang wajib menghidupkan kembali mesin kendaraannya tanpa bantuan peralatan diluar kendaraan.
17.7. Pembalap dalam keadaan apapun wajib mengenakan pakaian balap
lengkap beserta helmet yang sesuai dengan standard FIA, sarung
tangan yang memenuhi syarat serta mengenakan sabuk pengaman selama berada di dalam trek. Pemakaian peralatanHANSsangat dian-jurkan (peralatanHANSharus cocok/compactibledenganHelmetnya). 17.8. Seluruh Pembalap wajib memenuhi syarat-syarat umum keselamatan
sebagaimana diberlakukan oleh FIA.
17.9. Setiap Pembalap yang akan meninggalkan lintasan menuju daerah Pit, harus mengambil jalur sebelah kanan pada saat yang aman dan mem-berikan tanda, serta pastikan bahwa hal ini tidak akan membahayakan Pembalap lainnya.
17.10. Seluruh instruksi dari Petugas/Marshall kepada Pembalap, dilakukan dengan menggunakan papan/bendera. Pembalap dan seluruh timnya ti-dak diperkenankan menggunakan tanda/bendera, yang dianggap dapat menimbulkan salah pengertian terhadap Pembalap yang lainnya.
17.11. Pembalap dilarang untuk mengemudikan kendaraannya secara berlawa-nan arah dengan arah lomba, terkecuali sangat diperlukan untuk me-mindahkan kendaraannya yang berada pada posisi bahaya. Kendaraan hanya dapat didorong untuk menghindar dari posisi yang berbahaya, sesuai dengan arahan dari petugas Marshall.
17.12. Pembalap yang akan meninggalkan kendaraannnya, harus
meninggalkan kendaraannya dalam posisi perneling N (neutral). Kunci kontak tetap pada tempatnya dan dalam posisiunlock.
17.13. Apabila diperlukan, Pembalap harus berada dekat dengan
kendaraannya untuk membantu petugas.
17.14. Perbaikkan kendaraan hanya dapat dilakukan di area paddock. Perbaik-an ringan dapat dilakukan di Pit hanya dalam lomba. Sedangkan per-baikan ringan di grid hanya dapat dilakukan hanya pada saat akan start.
17.15. Pengisian bahan bakar hanya dapat dilakukan di Pit.
17.16. Pimpinan Perlombaan, Pengawas Perlombaan, dan petugas Medic,
dapat meminta untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan, setiap waktu se-lama event berlangsung.
17.17. Pada saat awal lomba, digaris start, Pembalap dilarang untuk meng-hidupkan mesin tanpa instruksi dari Petugas.
17.18. Dilarang mengisi bensin dan cairan/liquid lainnyadi area starting grid.
17.19. Setiap pelanggaran yang dilakukan pada pasal 17.1. s.d. 17.18.
adalah PEMECATAN.
17.20. Lampu kabut belakang mobil (rear fog light) yang berwarna merah ha-rus dalam keadaan dapat berfungsi. Saat lomba dinyatakan dalam kea-daan hujan/gerimis (wet race), maupun turun hujan ditengah berlang-sungnya lomba, maka lampu belakang/rear fog light (warna merah) ter-sebut wajib dinyalakan. Petugas Pemeriksa Teknis, dapat mengecek lampu tersebut sampai dengan 15 menit sebelum start lomba. Jika selama lomba, tiba-tiba lampu tersebut tidak berfungsi
maka, ken-daraan/pembalap tidak perlu berhenti untuk
memperbaikinya (tidak akan ada penalty untuk hal ini).
17.21. Untuk keselamatan bersama, Pembalap dilarang melakukan gerakan zig zag selama berada didaerah sepanjang pit, keluar dari pit exit dan di trek (lintasan). Gerakan zig-zag hanya diperbolehkan pada saat mela-kukan warming up/sighting lap (sanksi denda minimum sebesar Rp. 500,000).
17.22.Seluruh Pembalap harus menjunjung tinggi sportifitas olah raga, etika dalam berlomba serta menomor satukan keselamatan bersama. Sanksi denda minimum sebesar Rp. 500,000 (lima ratus ribu rupiah) setiap