• Tidak ada hasil yang ditemukan

اليِو ْ

Dalam dokumen KONTEMPORER - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 190-194)

أَت ُن َسْح َ

أَو ٌ ْيَخ َكِلَٰذ ۚ ِرِخ ْ لا ِمْوَ ْ

لاَو ِ َّللاِب َنوُنِمْؤُت

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah Swt dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah Swt (al-Qur’ân) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (al-Nisâ’: 59)

Ayat ini dengan tegas merintahkan umat Islam agar menaati segala yang diperintahkan oleh ulil amri/pemerintah. Perintah ini menurutnya sudah tentu menghendaki adanya pemerintah. Dengan pertimbangan itu pula, ayat ini melalui isyârat al-nash memerintahkan adanya ulil amri atau pemerintah. Karena itu, mengangkat pemimpin atau mendirikan pemerintah/negara adalah wajib. Di samping itu, banyak pula hadîts- hadîts lain yang mewajibkan taat kepada pemimpin, yang secara tidak langsung mengisyaratkan keharusan adanya pemimpin, yang dalam hal ini diwujudkan dalam sosok pemimpin negara.

Selain itu, terhadap hukum fiqh yang berkaitan dengan persoalan kemasyarakatan, campur tangan pemerintah mutlak diperlukan demi menghindari kesimpangsiuran dan ketidakpastian. Di samping itu bertujuan agar tercipta keseragaman amaliah umat dan tercipta kemaslahatan umum. Oleh sebab itu, jika pemerintah telah memilih

suatu hukum fiqh dan menetapkannya, maka semua masyarakat terikat dengannya dan harus mematuhinya, hal ini kiranya sejalan dengan hadîts Nabi saw:

ِءْرَم ْ لا َ َع َلاَق ُهَّنَأ َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُ َّللا َّل َص ِّ ِبَّلنا ْنَع َرَمُع ِنْبا ْنَع ٍةَي ِصْعَمِب َرَمْؤُي ْن َ

أ َّ

لِإ َهِر َكَو َّبَحَأ اَميِف ُةَعاَّطلاَو ُعْمَّسلا ِمِلْسُمْلا )ملسم هاور( َةَعا َط َ

لَو َعْمَس َلَف ٍةَي ِصْعَمِب َرِم ُ أ ْنِإَف

”Dari Ibnu Umar dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda: ”Kewajiban seorang muslim terhadap (terhadap pemimpin) ialah mendengar dan mematuhi (keputusannya), baik yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika diperintahkan untuk berbuat maksiat. Kalau diperintah berbuat maksiat, ia tidak boleh mendengar dan mematuhinya.” (HR. Muslim)

Di samping itu, ia juga memperkuatnya argumennya itu dengan kaidah:

27

فللا عفريو مازلإ مكالحا مكح

“Keputusan hâkim (pemerintah, penguasa) mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat.”

Kedua, berdasarkan hukum `aqli, secara rasional adalah tepat dan sudah seharusnya menyerahkan urusan (persoalan kemasyarakatan) kepada seorang pemimpin yang berkuasa untuk mencegah kezaliman dan mengatasi perselisihan dalam masyarakat. Karena kalau tidak, tentu kekacauan akan melanda umat.

Dalam hal kekuasaan pemerintahan berada di tangan kepala negara, sedangkan kedudukan para menteri hanya sebagai pembantu kepala negara dan sebagai pegawai/pejabat tinggi negara/pemerintah, yang dalam kajian fiqh siyâsah disebut dengan wizârat al-tanfîz, maka dibenarkan adanya anggota kabinet atau menteri dari nonmuslim. Namun jika kepala negara hanya sebagai lambang, tidak bertanggung jawab atas pemerintahan, dan

27 Jalâl al-Dîn Abû Bakr al-Suyûthî, al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir fî al-Furû`, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 278

kekuasaan inti berada di tangan Perdana Menteri (wizârat al-tafwîd), maka menurut Ibrahim Hosen, tidak dibenarkan adanya menteri dari kalangan nonmuslim dalam kabinet.28

Ia juga menegaskan bahwa apabila kepala negara/presiden yang langsung menjadi kepala pemerintahan dalam kabinet wizârat al-tanfîz itu beragama Islam, maka menurutnya berdasarkan kajian fiqh siyasah pemerintahannya pun dianggap Islami. Atas dasar itu pula, Indonesia dapat dikatakan sebagai pemerintahan yang Islami. Jika dikatakan pemerintahan RI tidak termasuk kategori pemerintahan/negara yang Islami (Dâr al-Islâm), maka sebagai konsekuensinya umat Islam Indonesia harus angkat senjata dan memberontak kepada pemerintahan RI. Apabila tidak mampu, harus hijrah ke luar dari teritorial negara RI.

Padahal, melihat jumlah umat Islam yang mayoritas di Indonesia, tentu dampak negatifnya sangat besar. Ia mempertanyakan: “Mau hijrah ke mana umat yang jumlahnya yang sebesar itu? Adakah negara atau wilayah lain yang bisa dan mau menampung?” Hijrah itu tidak mungkin dilakukan umat Islam Indonesia yang bisa berakibat menjadikan mereka kelompok yang tidak memiliki legalitas, maka bangsa Indonesia pun dalam hal ini tidak mungkin melepaskan umat Islam dari bangsa sebab akan membuat bangsa Indonesia menjadi kerdil yang tiada berarti.29 Selain itu, implikasi lainnya kalau dikatakan bahwa pemerintahan RI tidak termasuk Dâr al-Islâm, maka semua pejuang dan ulama-ulama Islam yang mati dalam mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan adalah mati konyol, bukan mati syahid. Umat Islam pun (di Indonesia) tidak wajib zakat serta pernikahan yang dilakukan oleh petugas KUA itupun tidak sah.30

Setelah melakukan kajian mendalam terhadap konsep Dâr al-Islâm dan Dâr al-Harbi yang intinya hubungan antara muslim dan nonmuslim adalah atas dasar damai, dengan pengertian bahwa peperangan hanya bersifat insidentil. Ibrahim Hosen berkesimpulan bahwa yang dinamakan negara Islam ialah suatu negara yang menjamin kebebasan umat Islam dalam menjalankan ajaran agamanya. Ini tampak dari ungkapannya:

28 Ibrahim Hosen, Fiqh Siyasah Dalam Tradisi Pemikiran Islam Klasik, h. 12 29 Panitia Penyusun Biografi, Prof. KH. Ibrahim Hosen, h. 140-141 30 Panitia Penyusun Biografi, Prof. KH. Ibrahim Hosen, h. 141

“Suatu negara di mana umat Islam dijamin dan diberi kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya, maka negara tersebut dapat dipandang sebagai Darul Islam atau paling tidak negara/pemerintahan Islami.”31 Ia memperkuat pendapatnya di atas dengan mengutip pernyataan al- Mawardi yang mengatakan bahwa jika seorang muslim dapat menegakkan ajaran agama di suatu wilayah negara orang kafir, maka wilayah itu dipandang sebagai Darul Islam, dan bertempat tinggal di sana lebih utama (afdhal) ketimbang berhijrah darinya.32 Dengan demikian dapat diharapkan akan ada orang lain bersimpati yang kemudian masuk agama Islam.

Selanjutnya, ia menambahkan bahwa apabila telah sepakat memandang suatu negara atau pemerintahan sebagai negara atau pemerintahan Islam atau sekurang-kurangnya Islami, maka sebagai konsekuensinya penduduk yang beragama Islam wajib mematuhi segala bentuk produk hukum dan perundang-undangan yang ditetapkan pemerintah tersebut, sepanjang tidak bertentangan dengan semangat dan tujuan pensyariatan hukum Islam.33

Kemudian, ia mencari landasan Islami tentang keabsahan UUD 1945 dan Pancasila. Menurutnya, UUD 1945 dan Pancasila dapat dinilai sebagai bagian dari ajaran Islam yang berhubungan dengan hablun min al-nâs. Keberadaannya sekalipun dibuat dan dirumuskan oleh manusia (para tokoh dan wakil rakyat), tetapi telah memenuhi kriteria untuk dianggap sebagai perundang-undangan atau peraturan yang Islami.

Sebab selain perumusan dan penyusunannya telah dilakukan oleh tokoh-tokoh yang mewakili umat Islam, juga karena dalam UUD 1945 dan Pancasila tidak ada satu buti rpun pasalnya yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Dalam hal ini ia berdalil dengan hadîts nabi:

31 Ibrahim Hosen, Fiqh Siyasah Dalam Tradisi Pemikiran Islam Klasik, h. 17 32 Al-Mawardi, Adab al-Dunya wa al-Dîn, (al-Qâhirah: T.pn., 1950), h. 6 33 Ibrahim Hosen, Fiqh Siyasah Dalam Tradisi Pemikiran Islam Klasik, h. 18

َّلَح َ أ ْو َ

أ ًا

ل لَح َمَّرَح ا ًاطْ َش َ َّ

لِإ ْمِهِطوُ ُش َ َع َنوُمِلْسُمْلاَو

Dalam dokumen KONTEMPORER - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 190-194)