abstrak (yang tidak dapat dilihat) dan kata benda yang menunjukkan sifat dari sesuatu.
4.1.3.1.2 Fi’il
Menurut bahasa
لعف
(fi’il) berarti “perbuatan atau pekerjaan” seperti dalam ungkapanكلعف
yang berarti “pekerjaanmu atau perbuatanmu”. Bentuk jamaknya ialah yang berarti “ perbuatan-perbuatan atau pekerjaan-pekerjaan”. Sedangkan menurut istilah fi’il adalah kata yang menunjukkan arti pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada masa atau waktu tertentu. Fi’il dibagi menjadi 3 yaitu: fi’il madhi, fi’il mudjhari dan fi’il amar. (1) fi’il madhi ialah secara harfiah berarti kata kerja yang lampau. Secara istilah fi’il madhi ialah kata kerja yang menunjukkan pekerjaan yang telah dikerjakan pada masa lampau, apad masa yang telah berlalu, seperti kataّبتك
(telah menulis),
حتف
(telah membuka), (2) Fi’il mudhari secara harfiah berarti kata kerja yang seimbang. Secara istilah ialah kata kerja yang menunjukkan pekerjaan yang sedang dikerjakan pada masa sekarang, masa kini dan masa yang akan datang, seperti kataّ بتكي
(sedang menulis),حتفي
(sedang membuka), (3) Fi’il amar secara harfiah bereti kata kerja perintah. Secara istilah fi’il amar ialah kata kerja yang menunjukkan perintah untuk dikerjakan pada masa yang akan datang seperti kataّDalam pembelajaran mata kuliah maharah al-kalam saya mewajibkan kepada mahasiswa untuk menghafal mufradat karena mufradat sangatlah penting agar mahasiswa dapat berbicara dengan menggunakan bahasa Arab, jika di ibaratkan sebagai sebuah bangunan maka mufradat disini memiliki posisi sebagai material dari bangunan tesebut, jadi bangunan tersebut tidak akan dapat menjadi sebuah bangunan dan berdiri kokoh tanpa adanya material berupa semen, pasir, dan kerikil begitu pulalah posisi mufradat dalam pembelajaran muhadatsah.61
Berdasarkan hal di atas, maka mufradat merupakan suatu alat agar mahasiswa dapat berbicara dengan menggunakan bahasa Arab tanpa adanya mufradat bagaimana bisa mahasiswa berkomunikasi dengan orang lain, serta mengerti pembicaraan orang lain dan mengungkapkan sesuatu sesuai pikiran mereka tanpa adanya mufradat.
Sesuai dengan pengamatan penulis selama proses pembelajaran maharah al- kalam berlangsung, pada setiap pertemuan dosen mewajibkan kepada mahasiswa untuk menghafal mufradat dan menulis mufradat yang mereka hafal dalam sebuah buku kecil ini bertujuan agar mahasiswa terbiasa menulis bahasa Arab dan dengan menggunakan buku kecil ini bertujuan untuk memudahkan mahasiswa untuk menghafal mufradat yang akan dihafal serta mengulangi mufradat yang telah mereka hafal kapan dan dimanapun berada karena bentuknya yang fleksibel. Nasra Suardi mengugkapkan bahwa
Dalam pembelajaran maharah al-Kalam, dosen senantiasa memotivasi kami untuk menghafal mufradat dengan memberikan kami tugas untuk menghafal mufradat baik itu dari isim maupun fi’il, dengan adanya tugas dari dosen sehingga kami terdorong untuk menghafal mufradat.62
Ungkapan dari salah satu mahasiswa di atas menunjukkan bahwa dosen di sini harus terlibat aktif dalam mendorong mahasiswanya agar bisa bermuhadatsah.
61Kaharuddin, Rumah dosen , Dosen Mata Kuliah Maharah al-Kalam, Wawancara, Tanggal 22 November 2019.
62Nasra Suardi, Kampus IAIN Parepare, Wawancara, Tanggal 05 November 2019.
Dengan tugasnya sebagai pemimipin dalam proses pemmbelajaran sehingga memudahkan dosen untuk mengatur dan memerintah mahasiswa untuk mencapai tujuan dari pembelajaran sehingga mahasiswa merasa bahwa setiap tugas yang di berikan oleh dosen adalah kewajiban mereka dan mau tidak mau mereka harus melaksanakan tugas yang di berikan oleh dosen termasuk menghafal mufradat walaupun sebenarnya tanpa dosen memberikan tugas, mereka akan menghafal mufradat dengan sendirinya. Tanpa adanya tugas menghafal mufradat yang diberikan oleh dosen maka mahasiswa akan berbuat sesuka hati mereka untuk tidak menghafal maupun menghafal mufradat. Kaharuddin mengungkapkan bahwa:
Dalam proses pembelajaran, saya selalu meminta kepada mahasiswa untuk memanfaatkan mufradat yang telah mereka ketahui dan uslub-uslub atau pola kalimat dalam percakapan sehari-hari, agar mereka terbiasa dan tidak kaku ketika berbicara dengan menggunakan bahasa Arab.63
4.1.3.2 Qawa’id (nahwu dan shorof)
Gramatika dalam bahasa Arab di kenal dengan istilah qawa’id di dalamnya terdapat dua unsur yang saling terkait satu sama lain yakni ilmu nahwu dan shorof.
Ilmu nahwu merupakan salah satu satu cabang ilmu bahasa Arab yang biasa digunakan sebagai sarana untuk membaca tulisan bahasa Arab. Sedangkan ilmu shorof digunakan untuk mengubah bentuk-bentuk kata menjadi kata lain yang memiliki makna bermacam-macam. Tashrif ini bertujuan agar mahasiswa dapat menyesuaikan antara fi’il dan dhamir ketika bermuhadatsah. Dengan demikian ilmu nahwu dan shorof mutlak diajarkan kepada mahasiswa agar memiliki kemampuan berbahasa Arab dengan baik dan benar, karena suatu bahasa tanpa adanya tata bahasa akan sulit dipahami. Kaharuddin mengungkapkan bahwa:
63Kaharuddin, Rumah dosen, Dosen Mata Kuliah Maharah al-kalan, Wawancara, 29 November 2019.
Berkaitan dengan qawa’id (nahwu dan shorof) melihat kondisi mahasiswa untuk saat ini masih sangat minim secara keseluruhan meskipun ada beberapa orang yang sudah paham akan tetapi untuk secara keseluruhan masih banyak yang belum paham. Sehingga dosen harus bekerja keras untuk memberikan penguatan dan murojaah berkaitan dengan materi-materi nahwu dan shorof.64
Berdasarkan pengamatan peneliti secara langsung pada saat dilapangan pada saat proses pembelajaran berlangsung sebagian mahasiswa terutama yang berasal dari pesantren dan Madrasah Aliyah rata-rata sudah paham berkaitan dengan nahwu dan shorof karena mereka sudah memiliki bekal dan mempelajari qawa’id sebelumnya, akan tetapi mereka yang berasal dari SMA maupun SMK yang sebelumnya mereka belum pernah mempelajarai nahwu dan shorof maka akan butuh banyak waktu, untuk itulah Kaharuddin selaku dosen mata kuliah maharah al-kalam selalu meminta kepada mahasiswa agar ikut pembelajaran di luar perkuliahan dengan mengikuti kursus bahasa Arab ataupun belajar kepada senior ataupun teman sekelas mereka yang sudah memilki pengetahuan yang cukup memadai mengenai nahwu dan shorof. Nurhapipa Sudirman mengatakan bahwa:
Tingkat pemahaman saya terhadap nahwu dan shorof sebenarnya masih kurang akan tetapi saya terus berusaha dan belajar kepada senior maupun alumni dari pendidikan bahasa Arab.65
Berdasarkan hasil wawancara di atas dengan salah seorang mahasiswa sebagian dari mereka telah ikut dalam kelompok belajar yang diadakan oleh alumni dari prodi pendidikan bahasa Arab, karena menurut mereka hanya dengan mengikuti pembelajaran dalam perkuliahan saja tidak cukup untuk memahami bahasa Arab terlebih nahwu dan shorof membutuhkan banyak waktu untuk mempelajarinya.
64Kaharuddin, Kampus IAIN Parepare, Dosen Mata Kuliah Maharah al-kalam, Wawancara 29 November 2019.
65 Nurhapipa Sudirman, Kampus IAIN Parepare, Wawancara, Tanggal 04 November 2019.
4.1.3.3 Rumus pola kalimat dasar
Berdasarkan hasil observasi penulis, bahwa dosen dalam mengajarkan rumus pola kalimat di atas memakan waktu 3 kali pertemuan. Rumus pola kalimat kalimat diatas benar-benar di usaha dipermantap guna menunjang untuk pertemuan selanjutnya pada materi a’mal yaumiyyah.
4.1.3.3.1 Pertemuan pertama:
Pada pertemuan pertama dosen menjelaskan pola kalimat tentang: