43
oleh Allah swt. bagi umat Islam untuk loyal kepada mereka.
Sesungguhnya penolong kalian (wahai kaum mukminin), hanyalah Allah swt. dan Rasulnya dan kaum mukmin yang menjaga shalat wajib mereka, membayar zakat dengan keridoan jiwanya, sedang mereka itu tunduk kepada Allah swt.
Firman Allah swt: Q.S. An-Nisa [4]: 59:
ََۖۡمُكنِمَِرۡم ۡ لۡٱَ ِلْو ُ
أ وَ لوُسذرلٱَْاوُعيِط أ وَ ذللَّٱَْاوُعيِط أَْآوُن ما ءَ نيِ ذ لَّٱَا هُّي أَٰٓ ي
َُكَنِإَِلوُسذرلٱ وَِ ذللَّٱَ لَِإَُهوُّدُر فَٖء ۡ شَ ِفَِۡمُتۡع زَٰ ن تَنِإ ف
kepada Allah dan Rasul-Nya disebutkan secara eksplisit berdiri- sendiri, sedangkan perintah taat kepada Ulil Amri hanya di ‘ataf- kan kepada perintah taat sebelumnya.
Jelasnya, tauhid mulkiyah adalah mengimani Allah swt.
sebab satu-satunya Malik yang mencakup pengertian sebagai Wali , Hakim, dan Ghayah.
45
A. Syirik
Syirik berasal dari akar kata “syaraka yasyraku-syirkan- fahuwa syaarikun“ artinya mencampur, kemudian mendapat awalan alif menjadi “asyraka-yusyriku-isyrakan-fahuwa musyrikun“, artinya mencampurkan atau mempersekutukan, mencampuraduk, tidak karuan, bersyarikat, dan lain-lain.1
Dengan kata lain, syirik merupakan lawan kata “ ikhlas “ yang artinya murni, bersih tidak tercampur dengan sesuatu.
Pelakunya disebut mukhlis.
Syirik menurut syara’ (berdasarkan dalil Al-Quran maupun Sunnah Rasul) berarti perbuatan seseorang yang telah mengaku beriman kepada Allah dengan segala konsekuensinya, tetapi masih tetap mengikuti cara hidup menurut ketentuan di luar petunjuk Allah.
Firman Allah swt: Q. S. Al-Kahf [18]: 110:
1Taufik Rahman, Tauhid Ilmu Kalam (Cet. I; Bandung: CV Pustaka Setia, 2013), h. 57.
َ فََۖٞدِحَٰ وَٞهَٰ لِإَۡمُكُهَٰ لِإَٓا مذن أَذ لَِإََٰٓ حۡوُيَۡمُكُلۡثِدمَٞ شۡ بَ۠ا ن أَٓا مذنِإَ ۡلُق
ََ ن كََن م
َََاا د ح أَٓۦِهِدب رَِة دا بِعِبَۡكِ ۡشُۡيَ لَّ وَا ٗحِلَٰ صَ ٗ
لَ م عَ ۡل مۡع يۡل فَۦِهِدب رَ ء ٓا قِلَْاوُجۡر ي
َ
Terjemahnya:
(Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia) anak Adam (seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku, 'Bahwa sesungguhnya Rabb kalian itu adalah Tuhan Yang Esa.') huruf Anna di sini Maktufah atau dicegah untuk beramal oleh sebab adanya Ma, sedangkan huruf Ma masih tetap status Mashdarnya. Maksudnya;
yang diwahyukan kepadaku mengenai keesaan Tuhan (Barang siapa mengharap) bercita-cita (perjumpaan dengan Rabbnya) setelah dibangkitkan dan menerima pembalasan (maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan di dalam beribadah kepada Rabbnya) yakni sewaktu ia beribadah kepada-Nya, seumpamanya ia hanya ingin pamer (dengan seorang pun").2
Ayat di atas menjelaskan bahwa katakanlah wahai Rasul,
“sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang telah menerima wahyu bahwa Tuhan sesembahan kalian yang benar adalah Tuhan Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, yaitu Allah swt.” Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amalan yang sesuai dengan syariatnya, disertai keikhlasan dalam melakukannya, dan tidak menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.
Bentuk-bentuk kemusyrikan ini sangat beragam, diantaranya sebagai berikut:3
2Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya (Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 418.
3 Taufik Rahman, Tauhid Ilmu Kalam, h. 58.
47
Pertama, memakai cincin, keris, azimat, atau isim-isim dengan keyakinan bahwa benda-benda tersebut dapat menolak bala atau bencana yang akan menimpa mereka, dan memakai azimat.
Riwayat lain dari Ibrahim, beliau berkata, “ mereka itu sangat membenci azimat-azimat itu, baik dari Al-Quran maupun lainnya (pahalanya sama dengan memerdekakan budak).
Di dalam ayat-ayat berikut, Allah juga menerangkan bahwa orang-orang yang mendewa-dewakan sesuatu yang di anggap menolak bencana atau bahaya yang akan mengancam dan sedang menghadang dirinya, mereka telah berbuat syirik.
Firman Allah swt: Q. S. Fahir[35]: 40:
ًَعيِ جََُةذزِع ۡلٱَِهذلِل فَ ةذزِعۡلٱَُديِرُيَ ن كََن م
َ ُل م عۡلٱ وَ ُبِدي ذطلٱَُمِ كَۡلٱَُد ع ۡص يَِهۡ لِۡإَُۚا
َِد ذسلٱَ نوُر ُكۡم يَ نيِ ذلَّٱ وَ ُۚۥُهُع فۡر يَُحِلَٰذصلٱ
ََُرۡك م وََۖٞديِد شَ ٞبا ذ عَۡمُه لَِتا ٔ ٔ
َََُروُب يَ وُهَ كِئ َٰٓ لْوُأ
َ Terjemahnya:
(Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya) di dunia dan di akhirat, maka kemuliaan itu tidak akan dapat diraih melainkan dengan jalan taat kepada-Nya, oleh karenanya taatlah kepada-Nya. (Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik) yang telah dipermaklumkan oleh-Nya, yaitu kalimat "Laa Ilaaha Illallaah", artinya, "Tidak ada Tuhan selain Allah", dan kalimat-kalimat yang baik lainnya (dan amal saleh dinaikkan-Nya) diterima oleh-Nya. (Dan orang- orang yang merencanakan) membuat rencana makar (kejahatan) terhadap diri Nabi di Darun Nadwah, yaitu untuk mengikatnya, atau membunuhnya atau mengusirnya, sebagaimana keterangan yang telah disebutkan dalam surah Al-Anfal (bagi mereka azab yang
keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur) yakni akan berantakan.4
Katakanlah wahai Rasul kepada orang-orang musyrikin.
“Jelaskan kepadaku tentang sekutu-sekutu kalian, yang kamu sembah selain Allah, apa yang telah mereka ciptakan di bumi, apakah mereka menciptakan gunung-gunungnya atau sungai- sungai, atau hewan-hewannya, atau mereka itu adalah sekutu- sekutu bagi Allah dalam menciptakan langit dan bumi, atau Kami telah membrikan kitab yang berisi hujah atas kebenaran ibadah mereka kepada sekutu-sekutu mereka?”. Tidak satu pun dari semua perkara itu. Sebaliknya orang-orang zalim itu tidak menyediakan bagi diri mereka dengan kekufuran dan kemaksiatan mereka kecuali tipu daya, sebagian dari mereka atas sebagian lainnya, mereka itu adalah orang-orang durhaka kepada Allah swt.
Firman Allah swt Q. S. Az-Zumar[39]: 38
ََمُتۡي ء ر ف أَ ۡلُقَُُۚ ذللَّٱَذن ُلوُق لَۡ ضرۡ ۡلۡٱ وَِتَٰ وَٰ مذسلٱَ ق ل خَۡنذمَمُه ۡلۡ أ سَنِئ ل و
ََٓۦِهِد ُضَ ُتَٰ فِشَٰ كَذنُهَ ۡل هَ د ُضَِبَُ ذللَّٱَ ِنَّ دا ر أَۡنِإَِ ذللَّٱَِنوُدَنِمَ نوُعۡد تَاذم
ََ ذنُهَ ۡل هَ ة ۡحۡ رِبَ ِنَّ دا ر أَۡو أ
َِت ۡحۡ رَ ُتَٰ كِسۡمُم
ََِهۡي ل عََُۖ ذللَّٱَ ِبِ ۡس حَ ۡلُقَ ُۚۦِه
َََ نو ُ ِدك و تُم ۡ لٱَ ُ ذكَّ و ت ي
َ Terjemahnya:
(Dan sungguh jika) huruf Lam bermakna qasam (kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka menjawab, "Allah."
Katakanlah, "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian seru) yang kalian sembah (selain Allah) yakni berhala-berhala (jika Allah hendak mendatangkan
4Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, h. 622-623.
49
kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhala kalian itu dapat menghilangkan kemudaratan itu) tentu saja tidak (atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?) tentu saja tidak pula. Menurut suatu qiraat dibaca Kaasyifaati Dhurrihii dan Mumsikaati rahmatihii (Katakanlah,
"Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri") yaitu orang-orang yang percaya hanya kepada-Nya.5
Sesuatu yang di anggap manusia sebagai dewa penolong, dewa penyelamat yang sanggup menyelamatkan orang dari bencana dan bahaya, ternyata tidak dapat menyelesaikan masalah itu. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa atas diri mereka, apalagi menolong orang lain. Oleh karena itu, dosa besarlah bagi orang yang menyamakan Allah dengan sesuatu, apalagi mengagungkannya melebihi keagungan Allah. Orang tersebut telah berbuat syirik, menyekutukan Allah.
Kedua, meminta perlindungan kepada selain Allah. Hal ini merupakan dosa besar dan termasuk tindakan yang di anggap menyekutukan Dia dengan sesuatu karena secara sadar, orang itu mengakui bahwa selain Allah, masih ada pelindung dan penolong yang dapat melindungi dan menolong segala sesuatu yang dilakukannya.
Firman Allah swt:Q. S. Al-Jin[72]:6:
َََاٗق ه رَۡمُهوُدا ز فَِدنِ لۡٱَ نِدمَٖلا جِرِبَ نوُذوُع يَ ِسنِ ۡلۡٱَ نِدمَٞلا جِرَ ن كََۥُهذن أ و ۡ
َ
Terjemahnya:
(Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan) memohon perlindungan (kepada beberapa laki-laki di antara jin) di dalam perjalanan mereka sewaktu mereka beristirahat di tempat yang menyeramkan, lalu masing-masing orang
5Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 474.
mengatakan, aku berlindung kepada penunggu tempat ini dari gangguan penunggu lainnya yang jahat (maka jin-jin itu menambah bagi mereka) dengan permintaan perlindungannya kepada jin-jin itu (dosa dan kesalahan) karena mereka mengatakan, bahwa kami telah dilindungi oleh jin anu dan orang anu.6
Ayat di atas menjelaskan bahwa sanya di jaman Jahiliyah ada beberapa orang laki-laki dari golongan manusia meminta perlindungan kepada sekelompok laki-laki dari golongan jin saat mereka singgah disuatu tempat yang angker. Salah seorang diantara mereka berkata, “Aku berlindung dari penguasa lembah ini dari kejahatan kaumnya yang bodoh.” Maka hal ini menambah rasa takut segolongan dari manusia terhadap segolongan jin. Maka mereka minta perlindungan kepada jin yang mereka anggap Kuasa di tempat itu. Satu-satunya pelindung dan penolong hanyalah Allah, tidak ada yang lain.
Firman Allah swt: Q. S. Al-Hajj [22]: 73: