َ Terjemahnya;
5Taufik Rahman, Tauhid Ilmu Kalam, h. 43
6Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, h. 341.
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina."
Mereka bertanya:"Apakah engkau akan menjadikan Kami sebuah ejekan?" Dia menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh."7
Penjelasan ayat di atas bahwa “Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat yang telah Aku berikan kepada kalian berupa kejadian yang luar biasa yaitu penyembelian seekor sapi betina dan penjelasan tentang sipembunuh dengan sebab sapi itu.
Kemudian Allah swt. menghidupkan kembali orang yang terbunuh itu hingga dapat ditanya tentang siapa yang membunuhnya”.
Di antara makna Ilah di atas, makna yang paling asasi adalah
‘abada (‘ain-ba-dal ) yang mempunyai beberapa arti, di antaranya:
hamba sahaya (‘abdun ), patuh dan tunduk ( ‘ibadah), yang mulia dan yang agung ( al-ma’bad ), selalu mengikutinya (‘abada bih).
Jika arti kata-kata ini di urutkan akan menjadi susunan kata yang sangat logis yaitu: jika seseorang memperhambakan diri terhadap seseorang, ia akan mengikuti, mengagungkan, memuliakan, mematuhi, dan tunduk kepadanya serta bersedia mengorbankan kemerdekaannya. Dalam konteks ini “ al-Ma’bud” berarti yang memiliki, yang dipatuhi, dan yang diagungkan.8Jika, tauhid uluhiyyah adalah mengimani Allah swt. Sebagai satu-satunya AL- Ma’bud ( yang disembah ).
Firman Allah swt: Q. S. Thaha [20] : 14:
َ وَ ِنَّۡدُبۡعٱ فَ ۠ا ن أَٓ ذلَِّإَ هَٰ لِإَٓ لََُّ ذللَّٱَا ن أَٓ ِنِذنِإ
َََٓيِر كِ ِلََّ ةَٰو ل ذصلٱَِمِق ۡ أ
َ Terjemahnya:
Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah
7Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, h. 13.
8Taufik Rahman, Tauhid Ilmu Kalam, h. 44.
29
shalat untuk mengingat aku.9 B. Tauhid Rububiyyah
Secara etimologi, kata “Rabb “ mempunyai banyak arti, antara lain menumbuhkan, mengembangkan, mendidik, memelihara, memperbaiki, menanggung, mengumpulkan, mempersiapkan, memimpin, mengepalai, menyelesaikan suatu perkara, memiliki, dan lain-lain. Namun, untuk lebih sederhana dalam hubungannya dengan rububiyatullah ( tauhid rububiyyah ), kita mengambil beberapa arti saja, yaitu mencipta, memberi rezeki, memelihara, mengelola dan memiliki ( kata-kata mencipta, memberi rezeki, dan mengelola disimpulkan dari beberapa pengertian etimologis di atas ), dan sebagian arti Rabi, kita memasukkan secara khusus ke dalam pengertian Milkiyatullah (tauhid mulkiyatullah), seperti memimpin, mengepalai, dan menyelesaikan suatu perkara. Dengan pengertian diatas, ayat Allah SWT.: “Alhamdulillahi rabbil’alamin “ bisa kita pahami bahwa segala puja dan puji hanyalah untuk Allah Yang Mencipta, Memberi rezeki, Memelihara, Mengelola, dan Memiliki alam semesta. Begitu juga, ayat “Qul a’udzu bi rabbinnas “ bisa kita pahami, “ katakanlah (Hai Muhammad), aku berlindung dengan Yang Mencipta, memberi rezeki, memelihara, mengelola (kehidupan) dan Memiliki manusia.” Pengertian bahwa Allah swt. Adalah satu-satunya Zat Yang Mencipta, Memberi rezeki, Memelihara, Mengelola, dan Memiliki.10
Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hal-hal tersebut di atas, sebagai berikut:
Firman Allah swt: Q. S. Al-Baqarah[2]: 21-22.
َۡمُكذل ع لَۡمُكِلۡب قَنِمَ نيِ ذ
لَّٱ وَۡمُك ق ل خَيِ ذ
لَّٱَُمُكذب رَْاوُدُبۡعٱَ ُساذلنٱَا هُّي أَٰٓ ي
9Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 432.
10Taufik Rahman, Tauhid Ilmu Kalam, h. 48-49.
ََٗءٓا مَِءٓا م ذسلٱَ نِمَ ل زن أ وَٗءٓا نِبَ ء ٓا مذسلٱ وَاٗشَٰ رِفَ ضرۡ ۡلۡٱَُمُك لَ ل ع جَيِ ذلَّٱَ نوُقذت ت
َۦِهِبَ ج رۡخ أ ف
َذلَاٗقۡزِرَ ِتَٰ ر مذلثٱَ نِم
َََ نوُم لۡع تَۡمُتن أ وَاٗدا دن أَِ ذ ِللََّْاوُل عۡ تََ لَ فََۖۡمُك
َ
Terjemahnya:
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang- orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah Padahal kamu mengetahui. Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.11
Melihat uraian di atas, terlihat adanya hubungan timbal balik antara ketiga dimensi tauhid sehingga dua teori ( dua dalil ) berikut ini dapat berlaku di dalamnya, yaitu :
1. Dalil At-Talazum
Talazum artinya kemestian. Maksudnya setiap orang yang meyakini tauhid rububiyyah semestinya meyakini tauhid mulkiyah, dan orang yang meyakini tauhid mulkiyah semestinya meyakini tauhid uluhiyyah. Dengan kata lain, tauhid mulkiyah adalah konsekuensi konsep dari tauhid rububiyyah. Adapun tauhid uluhiyyah adalah konsekuensi logis pada mulkiyah saja, tentu ada sesuatu yang tidak logis.
Itulah sebabnya, kepada orang-orang yang ingkar, durhaka, kufur, dan sebangsanya, Allah swt. Sering mengajukan pertanyaan “ apakah kamu tidak berakal ? apakah kamu tidak berpikir ? ( afala ta’qiluun afala tatafakkarunn ).“
11Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 4-5.
31
2. Dalil At-Tadhamun
Tadhamun artinya cangkupan. Maksudnya, setiap orang yang sudah sampai pada tingkat tauhid uluhiyah tentunya sudah melalui dua tauhid sebelumnya. Mengapa dia beribadah kepada Allah SWT. Semata ? mengapa Allah Rajanya ? Karena Allah SWT. adalah Rabb-Nya. Kalau teori ini di terapkan pada ayat 12 surat Thaha di atas, jelas bahwa apabila seseorang yang sudah mendirikan shalat, tetapi tetap mendurhakai Allah SWT. dalam aspek kehidupan yang lain, atau sikap dan tingkah lakunya tidak menunjukkan dia mengakui Allah sebagai Wali, Hakim, dan Ghayah, tentu “ pengakuan “ yang diucapkan dalam shalat untuk selalu tunduk patuh hanya kepada Allah SWT. dan mempersembahkan segala sesuatunya untuk Allah Rabbul
‘Alamiin adalah pengakuan yang tidak benar, atau pengakuan palsu.12
Berkenaan dengan tauhidullah ini, Muhammad Abu Zahrah menguraikan sebagai berikut:
a. Keesaan Allah dalam Zat
Keesaan Zat Allah diakui oleh seluruh kaum muslim.
Allah SWT. berbeda dengan makhluk-Nya. Ini adalah makna pokok yang disepakati tanpa ada yang mengingkari.
Tiada perselisihan mengenai hal itu di kalangan orang Islam. Ia termasuk aksioma ( kenyataan (dalil) yang sudah di terima sebagai kebenaran yang tidak perlu dibuktikan atau diterangkan lagi ) yang harus diketahui dari agama secara pasti. Tak seorang ulama maupun satu golongan dan mazhab Islam yang meragukannya, baik dalam kaitannya dengan filsafat ataupun yang lainnya. Ia termasuk ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim, sebagaimana dikatakan
12Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam (Yokyakarta: LPPI Universitas Muhammadiyah, 1993), h. 20-23.
Imam Asy-Syafi’i r. a., yang sumber dasarnya dalam Al- Qur’an.13
Firman Allah swt:Q. S asy-Syura [42]: 11