• Tidak ada hasil yang ditemukan

ذنِإ

Dalam dokumen Ilmu Akidah, Hj. Muliati (Halaman 76-81)

67

perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.26

Sikap nifaq juga mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan rendah atau amoral, seperti riya’, menipu, khianat, bohong, dan sebagainya. Semula itu adalah perbuatan yang merusak ketahanan suatu bangsa yang dapat meruntuhkan eksistensinya.

Diantara sifat-sifat kaum munafiq yang di sebutkan di dalam Al-Quran.

Firman Allah swt: Q.S. An-Nisa’ : (4): 142-143

Maksudnya ayat di atas Allah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani Para mukmin. Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu. Riya adalah melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat. Maksudnya, mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, Yaitu bila mereka berada di hadapan orang.

Rasulullah saw. juga menerangkan ciri khusus nifaq secara garis besar ada empat sifat, siapa yang memiliki sifat-sifat itu maka dia termasuk orang munafik. Dan siapa yang mempunyai salah satu diantara empat sifat rtersebut, dia mempunyai sifat nifaq sampai ia mau meninggalkannya. Sifat tersebut ialah:

Apabila dipercaya ia berbuat khianat, apabila berbicara , ia bohong, apabila berjanji ia mengingkari janjinya. Dan apabila berselisih, ia berlaku curang.

69

Pada masa Nabi Muhammad saw. tidak ada perbedaan- perbedaan tafsir terhadap ayat-ayat Al-Qur’an sehingga menimbulkan golongan atau kelompok paham keagamaan di antara mereka. Mereka bersatu. Keseragamaan akidah pokok yang mencakup masalah Ketuhanan, malaikat-malaikat, kitab- kitab suci, rasul-rasul, hari akhirat, serta qadha dan qadar ini dapat dipertahankan sampai masa kehalifaan Umar bin Al- Khaththab. Akan tetapi, pada masa-masa berikutnya, muncullah akidah-akidah yang bersifat cabang sebagai akibat munculnya kelompok-kelompok paham keagamaan yang mencoba memahami lebih lanjut terhadap akidah-akidah pokok yang enam di atas.1

Berikut adalah uraian lebih lanjut secara panjang lebar mengenai akidah pokok yang mencakup masalah-masalah Ketuhanan, malaikat-malaikat, kitab-kitab suci, rasul-rasul, hari akhirat, serta qadha dan qadar, atau yang biasa disebut dengan rukun iman yang enam.

1 Taufik Rahman, Tauhid Ilmu Kalam, h. 97.

A. Akidah Islam Tentang Allah Beriman Kepada Allah

Pokok ajaran akidah Islam adalah beriman kepada Allah SWT. yang berpusat pada pengakuan terhadap eksistensi dan kemahaesaanNya. Keimanan kepada Allah merupakan keimanan yang menduduki peringkat pertama, dan akan melahirkan keimanan pokok-pokok (rukun) iman yang lain.2

Pengakuan terhadap kemahaesaan Allah adalah Esa dalam segala galanya dan Esa dalam Dzat-Nya. Dia Maha Esa dalam sifat-sifat-Nya Dia Maha Esa dalam wujud-Nya, artinya hanya Allah yang memiliki sifat wajibul wujud, sedangkan yang lainnya hanya mumkinul wujud Dia Maha Esa dalam menerima ibadah, dalam mendengar dos manusia dan permohonan manusia untuk menyampaikan maksud dan kehendaknya. Dia Maha Esa dalam memberi hukum, artinya Dia-lah Pemberi Hukum tertinggi. Dia tidak berserikat dengan sesuatu. Oleh karena itu, kalimat pengakuan Islam adalah la ilaha Illallah (tidak ada Tuhan selain Allah).3

Inti dari akidah adalah tauhid yakni keyakinan bahwa Allah SWT. Maha Esa, tidak ada Tuhan selain-Nya.4

Allah berfirman, Q.S. Al-Ikhlas: [112]: 1-4

َۡم لَُد م ذصلٱَُ ذللَّٱٌَد ح أَُ ذللَّٱَ وُهَ ۡلُق

َََاُد ح أَاًوُفُكَۥُ ذ

لَِنُك يَۡم ل وَۡ لِوُيَۡم ل وَۡ ِل يَ

َ

Terjemahnya:

Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia

2Afif Muhammad et.al., Tauhid, (Bandung: Dunia Ilmu, 1986), h. 26.

3Zainuddin dan Muhammad Jamhari, Al-Islam 1: Aqidah dan Ibadah, (Bandung: Pustaka Setia, 1999, hlm. 65.

4Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), h. 127

71

tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.5

Dalam rukun iman, percaya kepada Allah atau iman kepada Allah menempati urutan pertama. Yang dimaksud iman kepada Allah ialah percaya sepenuhnya, tanpa ada keraguan sedikitpun, akan adanya Allah swt. Yang Maha Esa dan Maha Sempurna, naik Zat, sifat maupun Af’al-Nya.

Keyakinan ini membawa seseorang kepada kepercayaan akan adanya para malaikat, kitab-kitab, ara rasul atau Nabi, adanya hari kiamat dan kepercayaan tentang takdir Allah.6

Metode dan Argumentasi Adanya Allah

Untuk membuktikan adanya Allah swt. Al-Qur’an menunjukkan suatu metode, yakni dengan menyelidiki hakikat kejadian manusia dan alam sekitar.7 Karena dalam mengkaji dan meneliti hal tersebut, dapat mengantarkan kita pada pembuktian adanya keberadaan Allah swt.

Dalam membuktikan wujud Allah, Sayid Sabiq menjelaskan tiga teori yang menjelaskan asal peristiwa alam semesta yang mendukung keberadaan Allah. Ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut:

a. Paham yang mengatakan bahwa alam semesta ada dari yang tidakada (creation ex-nihilo) atau terjadi dengan sendirinya.

b. Paham yang mengatakan bahwa alam semesta ini berasal dari sel (jauhar) yang merupakan inti karena dari sanalah muncul segala sesuatu yang terdapat di alam semesta.

c. Paham yang menyatakan bahwa alam semesta ada yang

5 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. h. 922.

6 Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam, h. 127-128,

7 Hal ini dapat dilihat dalam Q.S. Ali Imran [3]: 190-1923; Q.S. Al-A’raf [7]:

185; Q.S. Al-Anbiya [21]: 22.

menciptakan, yaitu Allah swt. Yang Maha Pencipta.8 Ibn Rusyd memberikan dua cara untuk membuktikan keberadaan Allah.

Pertama, dalil al-‘inayah, intinya bahwa kesempurnaan struktur susunan alam semesta menunjukkan adanya tujuan tertentu pada alam. Tidak mungkin alam semesta yang kita lihat terjadi secara kebetulan, pasti telah ditentukan tujuannya. Alam adalah natijah dari hikmah ketuhanan yang sangat mendalam.

Kedua, dalil ikhtira'. Intinya bahwa yang ada (maujud) adalah makhluk (dijadikan), terutama pada makhluk hidup.9

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan tentang bukti-bukti adanya Allah swt. yaitu sebagai berikut.

1) Manusia pada Hakikatnya adalah Makhluk Bertuhan Pada hakikatnya manusia membutuhkan Dzat Yang Mahakuasa sebagai tempat berlindung. Firman Allah swt:

Q.S.Yunus [10]: 12

ََا نۡف ش كَاذم ل فَاٗمِئٓا قَۡو أَاًدِعا قَۡو أَٓۦِهِبنۢ ِلَۡا ن عٗ دَُّ ُّضَلٱَ نَٰ سنِ ۡلۡٱَ ذس مَا ذوَإِ

ََ ينِفِ ۡسُۡم ۡلِلَ نِديُزَ كِلَٰ ذ كَُۚۥُهذسذمَٖد ُضََٰ لَِإَٓا نُعۡد يَۡمذلَن أ كَذر مَۥُهذ ُضَُهۡن ع

Dalam dokumen Ilmu Akidah, Hj. Muliati (Halaman 76-81)

Dokumen terkait