َََاٗد دِقَ قِئ ٓا ر طَاذنُكََۖ كِلَٰ ذَ نوُدَاذنِم وَ نوُح
َ
Terjemahnya:
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya.
Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.31
Selain Jin, ada pula setan dan iblis. Iblis dikenal sebagai musuh Allah swt. Dalam kamus Al-Muhith, kata “iblis”
diambil dari kata ablasa yang memiliki kesamaan dengan ya’isa atau tahayyara, yang berarti “berputus asa”. Dalam kamus Al-Mishbah Al-Munir disebutkan ablasa min
29Muhammad Ali Hamadussayyadabi; Haqiqah Wa Al-Syayathin fi Al-Quran wa Al-Sunnah, h. 9. Lihat Rosihan Anwar, Saehuddin, Akidah Akhlak, h. 148.
30 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. h. 356.
31 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. h. 843
83
rahmatillah yang artinya berputus asa dari rahmat Allah swt.
sehingga diberi nama Iblis.32
Pekerjaan setan dan iblis adalah menyesatkan manusia ke dalam jalan maksiat dan dosa. Oleh karena itu, Islam menekankan dengan keras agar memusuhi dan menghindari bujuk dan rayu setan dan iblis.
Bentuk setan dan iblis dangat halus sehingga tidak bisa dilihat dengan pancaindra manusia. Ada sebagian ulama yang mengatakan, “Setiap nafsu buruk yang mengajak kepada kemungkaran dinamakan setan(iblis).33
Firman Allah swt. dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 168
ََِٖۚنَٰ طۡي ذشلٱَ ِتَٰ و ُطُخَ ْاوُعِبذت تَ لَّ وَاٗبِدي طَ ٗلََٰ ل حَ ِضرۡ ۡلۡٱَ ِفَِاذمِمَْاوُ ُكَُ ُساذلنٱَا هُّي أَٰٓ ي
ٌَينِبُّمَٞدوُد عَۡمُك لَۥُهذنِإ
َََ
َ
Terjemahnya:
\Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”34
32 Hamadussayyadi, Haqiqat Al-Jinn wa Al-Syayathin fi Al-sunnah, h.14. Lihat Rosihan Anwar, Saehuddin, Akidah Akhlak, h. 149.
33 Abdul Zakiy Al-Kaaf dan Maman Abdul Djaliel, Mutiara ilmu tauhid, h.110-111
34 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. h. 32.
85
A. Akidah Islam Tentang Kitab-Kitab Allah 1. Pengertian Kitab dan Shuhuf
Secara etimologis, kata “kitab” adalah bentuk mashdar dari kata ka-ta-ba yang berarti menulis. Setelah jadi masdhar berarti tulisan, atau yang ditulis. Bentuk jama’ dari kitab adalah kutub.
Dalam bahasa Indonesia, kitab berarti buku. Adapun secara terminologis, Kitab (Al-Kitab, Kitab Allah swt). adalah kitab suci yang diturunkan Allah swt.kepada para Nabi dan Rasul-Nya.1
Beriman kepada kitab-kitab Allah ialah mempercayai bahwa Allah menurunkan beberapa kitab kepada para Rasul untuk menjadi pegangan dan pedoman hidup bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah swt.
itu mempunyai beberapa ajaran dan wasiat yang diwahyukan kepada para Rasul dan Nabi-Nya. Di antara ajaran-ajaran tersebut ada yang dicatatkan dalam kitab dan ada yang tidak dapat kita ketahui sama sekali. Namun yang jelas setiap Rasul mendapatkan risalah yang wajib disampaikan kepada umat atau
1Taufik Rahman, Tauhid Ilmu Kalam, h. 112.
kaumnya. Sesungguhnya Allah swt. itu mempunyai beberapa ajaran dan wasiat yang diwahyukan kepada para Rasul dan Nabi- Nya. Di antara ajaran-ajaran tersebut ada yang dicatatkan dalam kitab dan ada yang tidak dapat kita ketahui sama sekali. Namun yang jelas setiap Rasul mendapatkan risalah yang wajib disampaikan kepada umat atau kaumnya.2
Shuhuf berasal dari kata shahifah, artinya “menulis”. Pada mulanya kata itu berarti lembaran, tetapi pengertiannya tidak demikian ini dan kadang-kadang digunakan untuk merujuk pada buku ke (buklet). Kata “shuhuf" terdapat pula dalam Al-Quran (87: 19) yang artinya naskah atau lembar tulisan. Shuhuf (tunggalnya: shahifahi • berarti lembar lepas yang terbuat dari bahan tertulis seperti kertas. papirus, dan lain-lain. Mushaf (jamaknya: mashahif) berarti kumpulan shuhuf yang tersusun dalam urutan yang pasti, misalnya dalam satu volume yang terjilid rapi.3 Shuhuf yang dimaksud pada bab ini adalah lembaran- lembaran kitab suci yang diturunkan kepada para nabi dan rasul.
Kitab dan shuhuf sama-sama merupakan wahyu dari Allah.
Perbedaannya, kitab dibukukan, sedangkan shuhuf tidak.
2. Iman kepada Kitab-Kitab Allah
Beriman kepada kitab-kitab Allah swt. berarti beriktikad atau mempunyai keyakinan bahwa Allah swt. mempunyai beberapa kitab yang telah diturunkan kepada para Nabi-Nya.
Firman Allah swt: Q.S An-Nisa [4]: 136
وُنِما ءَْآوُن ما ءَ نيِ ذ لَّٱَا هُّي أَٰٓ ي
َِِلِوُس رََٰ عَلَ لذز نَيِ ذلَّٱَِبَٰ تِكۡلٱ وَۦِِلِوُس ر وَِ ذللَّٱِبَْا
َۦ ََۦِهِلُسُر وَۦِهِبُتُك وَۦِهِت كِئَٰٓ ل م وَِ ذللَّٱِبَۡرُفۡك يَن م وَُۚ ُلۡب قَنِمَ ل زن أَٓيِ ذلَّٱَِبَٰ تِكۡلٱ و
2Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam, h.131- 132.
3Musthafa ‘Azhami, “Studi dalam Literatur Hadis Masa Awal (II)”, terj. Yuliani d Azami, Studies in Early Hadits Literature, dalam Jurnal Al-Hikmah, No. 9, Bar Yayasan Muthahhari, 1993, h. 23.
87
َ ضَۡد ق فَِرِخلۡأٓٱَِمۡو لۡٱ و ۡ
َََاًديِع بَ ا لََٰ ل ضَ ذل
َ
Terjemahnya:
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat- malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh- jauhnya.4
Dengan demikian, Islam mengajarkan bahwa mempercayai dan mengimani semua kitab Allah itu wajib. Hal ini merupakan Insekuensi logis dari pembenaran terhadap adanya Allah swt.
Oleh Karena itu, tidak sepantasnya seorang Muslim mengingkari keberadaan kitab-kitab tersebut.5 Adapun jumlahnya tidak ada yang mengetahui karena hanya Allah yang mengetahuinya.
Kitab-kitab yang telah diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya yang wajib diketahui oleh umat Islam adalah sebagai berikut.
a. Taurat, yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. pada sekitar abad 12 SM di daerah Israil dan Mesir.
b. Kitab Zabur, yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s. pada sekitar abad 10 SM di daerah Israil.
c. Kitab Injil, diturunkan kepada Nabi Isa a.s. di daerah Yerusalem pada permulaan abad pertama
d. Kitab Al-Quran, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. di daerah Mekah dan di Madinah pada abad ke-6 M.
Keempat kitab itu disebut kitab-kitab langit (al-kutub al-
4 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya. h. 131.
5 Atang Abd. Hakim dan Jalil Mubarak, Metodologi Studi Islam, h.
118.
samawiyah) karena kitab-kitab tersebut diyakini oleh umat Islam sebagai firman Allah SWT. yang diwahyukan kepada para nabi dan rasul. Kitab-kitab ini Al-Quran telah terkontaminasi oleh
“tangan-tangan kotor” manusia.
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Al- Qur’an memiliki keistimewaan tertentu bila dibandingkan dengan kitab-kitab lainnya, di antaranya adalah:
a. Penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
b. Mencakup semua aspek kehidupan manusia.
c. Tidak dapat ditandingi kehebatannya, tidak dari srgi isi maupun susunan redaksinya.
d. Terpelihara kemurniannya sepanjang masa.
e. Merupakan petunjuk dan rahmat bagi manusia.
f. Paling banyak dibaca orang.
g. Membaca Al-Qur’an dipandang sebagai ibadah
Al-Qur’an merupakan mukjizat yang agung, ilmiah dan rasional. Ajarannya jelas dan membawa cahaya terang bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur’an bukanlah kumpulan kata mutiara atau kumpulan puisi dari seorang penyair yang piawai.
Seandainya seluruh pakar bahasa berkumpul, baik dari golongan manusia maupun jin untuk membuat satu ayat saja dari Al- Qur’an yang dapat menandingi keindahan susunan (gaya bahasa)nya, mereka pasti tidak mampu membuatnya.
Tidak ada seorang pun yang dapat mengubahnya, apalagi mendatangkan yang serupa dengannya, karena Al-Qur’an mendapatkan pemeliharaan dari Sang Pencipta, Allah Yang Maha sempurna, Yang Maha Esa dalam Zat , Sifat, dan Perbuatan-Nya. Begitulah Allah swt. memberikan wahyu kepada hamba dan Rasul-Nya yang suci bernama Muhammad saw.
dengan wujud paling sempurna, penuh perhatian dan pemeliharaan.6
Firman Allah swt: Q.S. Asy-Syu’ara’ [26]: 192-196
6 Taufik Rahman, Tauhid Ilmu Kalam, h. 119.
89