• Tidak ada hasil yang ditemukan

َِسُْٚشُغٌْا

Artinya: “Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan

230 QS.Al-Anfal (8): 28

231 QS.Al-Kahfi (18): 46

tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam- tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”232

Berdasarkan ayat-ayat di atas jelas bahwa pembinaan akhlak pada anak dimulai sejak dini bila perlu sejak anak masih dalam kandungan, sebab proses pembelajaran yang dilakukan sejak awal merupakan langkah maju bagi setiap orang tua dalam menanamkan nilai-nilai yang baik pada anak. Sebagaimana Darajat mengatakan bahwa sebenarnya pertumbuhan kepribadian dan pertumbuhan minat beragama dimulai sejak dari janin dalam kandungan, karena emosi dan sikap ibu terhadap janin yang dikandungnya mempengaruhi pertumbuhan yang dikandungnnya233.

Apabila seorang ibu dengan senang hati dan ikhlas menyambut janin yang dikandungnya itu, terutama apabila ia sadar bahwa anak adalah amanat Allah ditangan orang tuanya, maka si janin akan lahir membawa bibit tentram dan iman dalam dirinya serta unsur positif dalam kepribadiannya. Begitu pentingnya Darajat memberikan pandangan yang cukup untuk diketahui setiap orang tua bahwa pendidikan dan pembinaan agama dalam membentuk kepribadian akhlak yang mulia dimulai sejak janin telah ada dalam kandungan ibu. Ketika lahir anak diadzankan dan diiqomahkan dengan sendirinya kalimat yang didengarnya adalah kalimat-kalimat suci yang dibisikkan ke telinganya yang berintikan seruan untuk mengagungkan Allah, pengakuan bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan pengakuan Muhammad adalah utusan Allah, ajakan untuk melaksanakan shalat, seruan untuk

232 QS. Al-Hadid (57):20

233 Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam..., hlm. 35

mengejar kemenangan dan penegasan bahwa tiada Tuhan kecuali Allah serta seruan untuk mengagungkanNya.

Pada kesempatan lain Daradjat mengungkapkan bahwa, pembinaan akhlak bagi anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMP) yaitu, pembinaan akhlak anak didik pada tingkat sekolah, sudah dapat dilakukan secara langsung melalui petunjuk dan nasehat dengan bahasa sederhana yang sesuai dengan perkembangan kecerdasan dan daya pikirnya234. Dalam hal ini dapat digunakan syair dengan lagu yang menarik bagi anak-anak, kata-kata yang indah yang diucapkan dengan irama lagu yang menarik akan ditiru dan diulang-ulang oleh anak, lambat laun akan diserap ke dalam hatinya dan selanjutnya ia akan terdorong untuk melakukannya.

Petunjuk dan nasehat agama yang terdapat dalam Kita Suci, banyak yang dapat diberikan kepada anak-anak dengan kalimat sederhana dan kata-kata yang telah diketahui dan dipahaminya. Pembinaan akhlak dapat pula memanfaatkan bakat, naluri dan kecerdasan anak, misalnya suka meniru, melakukan identifikasi terhadap kata-kata, perbuatan, gerakan dan sikap diam pada orang-orang yang sering berhubungan dengan mereka, misalnya ibu- bapaknya dan guru dalam bidang studi apapun mereka mengajar terutama guru yang mereka sukai.

Sedangkan tumbuh dan perkembangannya keimanan pada diri siswa dan semakin mampu mengembangkan akhlak mulia serta mengenai moral agama dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Pertumbuhan jasmani yang berjalan cepat itu tidak seimbang, sehingga terjadi ketidakserasian gerak dan prilaku. Diantara perubahan yang merisaukan remaja yang tidak mengerti perubahan yang sedang dilaluinya adalah perubahan suara, perubahan kelenjar menyebabkan mimpi atau mulai haid.

Pola pembinaan akhlak anak tidak bisa dipisahkan dari peran orang tua, guru atau sekolah dan masyarakat

234 Ibid, hlm. 45

sekitar. Karena hal itu sangat besar sekali membawa perubahan pada perilaku mulia dan kepribadian muslim.

Orang tua adalah pendidik dalam keluarga, orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan, oleh karena itu bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga235.

Pada hakekatnya orang tua dan anak bersatu. Mereka satu dalam jiwa, terpisah dalam raga. Raga mereka boleh terpisah, tetapi jiwa mereka tetap bersatu sebagai “Dwi Tunggal” yang kokoh bersatu. Kesatuan jiwa orang tua dan anak tida dapat dipisahkan oleh dimensi ruang, jarak dan waktu. Tidak dapat pula dapat dicerai-beraikan oleh lautan, daratan dan udara. Pertalian darah antara keduanya kokoh dalam keabadian. Rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan Allah kepada orang tua secara psikologis mampu membuat orang tua bersabar dalam memelihara, mengasuh, mendidik anak serta memperhatikan segala kemaslahatannya.

Keberhasilan pendidikan agama dalam pembinaan dan penanaman nilai-nilai bagi pembentukan kepribadian dan watak siswa sangat ditentukan oleh proses yang mengintegrasikan antara aspek pengajaran, pengamalan dan pembiasaan serta pengalaman sehari-hari yang dialami siswa di sekolah memerlukan keterpaduan, konsistensi dan singkronisasi antara nilai-nilai yang diterima siswa dari pengajaran yang diberikan guru di depan kelas dengan dorongan untuk pengamalan nilai-nilai tersebut ke dalam bentukan tindakan dan prilaku nyata sehari-hari, tidak saja dari siswa sendiri, tetapi juga dari seluruh pelaku pendidikan termasuk guru dan staf sekolah.

Maka pembinaan akhlak anak tidak terlepas dari peran orang tua selaku pendidik yang pertama dan paling utama dalam pembentukan karakter mental anak. Maka dari itu perlunya musyawarah dalam keluarga untuk

235 Syaiful Bahri Djamarah, Pola Komunikasi Orang Tua..., hlm. 85

pembinaan akhlak anak. Kemudian dalam membina akhlak anak perlu adanya komunikasi antara orang tua dan anak, sehingga dengan terjalinya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, maka proses musyawarah dalam keluarga dapat berjalan dengan baik. Setiap orang tua mengharapkan anaknya menjadi anak yang shaleh yang mendokannya, disayangi dan disenangi oleh semua orang.

Karakter anak seperti itu memberikan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Salah satu karakteristik anak yang saleh adalah memiliki budi pekerti, sopan dan santun atau disebut juga berakhlak mulia236.

Lingkungan pertama dijumpai oleh anak adalah orang tua dan keluarga. Disinilah anak dibesarkan, belajar dan berinteraksi, sehingga lingkungan ini disebut lingkungan primer yang bersifat fundamental dan menentukan jati diri seorang anak. Dalam melaksanakan tugas orang tua sebagai pemimpin dalam keluarga membentuk kepribadian anak saleh dapat dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, bersikap adil kepada anak-anak, mengajari dan menyuruh anak beribadah, memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak.

a. Keteladanan

Membentuk kepribadian anak berlangsung pada masa yang panjang, sejak bayi dalam kandungan sampai ia dewasa. Secara umum pakar kejiwaan berpendapat bahwa pada masa-masa usia awal seorang anak cenderung meniru dan mencontoh apa yang ditangkap oleh indera jasmaninya. Orang tua sebagai lingkungan pertama menjadi sumber rujukan seorang anak dalam bertindak. Anak banyak meniru apa yang ia tangkap dari prilaku orang tua. Oleh sebab itu orang tua harus memperagakan perbuatan, perkataan maupun sikap yang baik di depan anaknya.

236Rahman Ritonga, Akhlak (Merakit Hubungan Dengan Sesama Manusia), (Surabaya:

Amalia Press, 2005), hlm. 33

b. Pembiasaan

Para Sosiolog dan Psikolog berpendapat bahwa upaya yang paling sulit adalah membiasakan yang tidak biasa dan meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan. Apa yang sudah menjadi kebiasaan ketika kecil akan menjadi kebiasaan setelah besar. Berangkat dari teori itu untuk mendidik anak menjadi berakhlak harus dilakukan oleh orang tua melalui pembiasaan yang berkesinambungan dan secara serius. Apa yang sudah menjadi kebiasaan itulah yang disebut akhlak. Akhlak anak yang baik adalah kebiasaannya yang baik menurut ukuran ajaran Islam. Mendidik kebiasaan ketika kecil jauh lebih mudah dari mendidiknya setelah besar, seperti kata peribahasa “Mendidik kecil bagaikan melukis di atas batu, mendidiknya setelah dewasa bagaikan melukis di atas air”.

c. Bersikap Adil Kepada Anak-anak

Setiap anak membutuhkan belaian kasih dari orang tua. Jika kasih sayang yang diberikan orang tua kepada anaknya tidak sama, maka akan terjadi kecemburuan antara sesama anak yang akhirnya menimbulkan sikap nakal, pembangkang, pelawan terhadap orang tuanya. Keadaan lingkungan anak seperti ini jika terus dibiarkan menimbulkan dampak negative bagi ketentraman keluarga. Hasil pengamatan dan analisis para ahli kejiwaan, menginformasikan bahwa diantara penyebab maraknya kenakalan remaja adalah karena kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya dan ketidaksenangan si anak melihat sikap ketidakadilan orang tua dalam memberikan perhatian terhadap anaknya.

d. Mengajari dan Menyuruh Anak Beribadah

Anak yang saleh menjadi dambaan yang paling tinggi setiap orang tua. Diantara criteria anak yang saleh

adalah beribadah secara benar dan teratur. Meskipun beribadah kepada Allah itu baru diwajibkan bagi setiap muslim setelah ia dewasa, namun sejak dini ia sudah dipersiapkan untuk itu. Persiapan dimaksud adalah mengajari anak teori dan cara pelaksanaan dan kemudian menyuruhnya mempraktekkan ibadah yang dimaksud.

e. Memperhatikan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Kewajiban orang tua yang diuraikan terdahulu berhubungan dengan pembinaan kerohanian seorang anak. Pada bagian ini dilengkapi uraian kewajiban orang tua dalam memelihara pertumbuhan dan perkembangan jasmani si anak, agar orang tua melakukan kewajibannya yang seimbang antar pendidikan jasmani dan rohani.237

Dapat disimpukan bahwa mendidik anak menjadi pribadi yang berakhlakul karimah dapat dilakukan dengan metode keteladanan, pembiasaan, bersikap adil kepada anak- anak, mengajari dan menyeruh anak beribadah dan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak.

E. Konsep Pendidikan Islam pada Anak sejak Usia Dini 1. Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini

Ada berbagai bentuk kurikulum yang dikembangkan oleh para ahli dalam pendidikan anak usia dini. Ada yang disebut dengan Kurikulum terpisah-pisah, yakni kurikulum mempunyai mata pelajaran yang tersendiri satu dengan lainnya tidak ada kaitannya, karena masing-masing mata pelajaran mempunyai organisasi yang terintegrasikan. Ada pula Kurikulum saling berkaitan, yakni antara masing-masing mata pelajaran ada keterkaitan, antara dua mata pelajaran masih ada kaitannya. Dengan demikian anak mendapat kesempatan untuk melihat keterkaitan antara mata

237 Muhammad Al-Khufi, Bercermin Pada Akhlak Nabi SAW., (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hlm. 211-212

pelajaran, sehingga anak masih dapat belajar mengintegrasikan walaupun hanya antara dua mata pelajaran. Kemudian ada pula yang dinamai dengan Kurikuluim Terintegrasikan, dalam kurikulum ini anak mendapat pengalaman luas, karena antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain saling berkaitan.

Dalam kaitannya dengan materi pendidikan untuk anak usia dini, Ibnu Sina telah menyebutkan dalam bukunya yang berjudul As-Siyasah, ide-ide yang cemerlang dalam mendidik anak. Dia menasihati agar dalam mendidik anak dimulai dengan mengajarkannya al Qur‟an al-Karim yang merupakan persiapan fisik dan mental untuk belajar.

Pada waktu itu juga anak-anak belajar mengenal huruf- huruf hijaiyah, cara membaca, menulis dan dasar-dasar agama. Setelah itu mereka belajar meriwayatkan sya‟ir yang dimulai dari rojaz kemudian qashidah karena meriwayatkan dan menghafal rojaz lebih mudah sebab bait-baitnya lebih pendek dan wajn (timbangan)nya lebih ringan238.

Sebaiknya dalam hal ini, guru memilih sya‟ir tentang adab-adab yang terpuji, kemuliaan orang-orang yang berilmu dan hinanya orang-orang yang bodoh, mendorong untuk berbakti kepada orang tua, anjuran melakukan amar ma‟ruf dan memuliakan tamu. Apabila anak-anak sudah bisa menghafal Al-Qur‟an al-Karim dan mengetahui qaidah- qaidah bahasa Arab dengan baik, maka untuk mengarahkan ke jenjang berikutnya adalah dengan melihat kecenderungannya atau apa yang sesuai dengan tabiat dan bakatnya. Di dalam nasihat terakhir tersebut Ibnu Sina menyebutkan pengarahan guru yang disesuaikan dengan kecenderungan atau apa yang sesuai dengan bakat anak, merupakan ruh (inti) pendidikan modern di jaman kita ini.

Para pakar pendidikan sekarang mengajak untuk selalu memperhatikan kesiapan dan kecenderungan anak-anak didik dalam belajar, mereka diarahkan ke dalam masalah

238 Muhammad „Athiyyah Al-Abrasyi, at-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Falasatuhā, (TTp:

‟Isa al-Bābi al-Jalabī wa syirkāhu, 1969), hlm. 162

teori maupun praktik yang meliputi masalah adab, olah raga, agama, sosial dan kesenian sesuai dengan kecenderungan mereka, agar mereka sukses dalam belajarnya239.

Dengan demikian seluruh mata pelajaran merupakan satu kesatuan yang utuh atau bulat. Adapun pokok-pokok pendidikan yang harus diberikan kepada anak, adalah meliputi seluruh ajaran Islam yang secara garis besar dapat dikelompokan menjadi tiga, yakni, aqidah, ibadah dan akhlak serta dilengkapi dengan pendidikan membaca Al Qur‟an.

a. Pendidikan akidah, hal ini diberikan karena Islam menempatkan pendidikan akidah pada posisi yang paling mendasar, terlebih lagi bagi kehidupan anak, sehingga dasar-dasar akidah harus terus-menerus ditanamkan pada diri anak agar setiap perkembangan dan pertumbuhannya senantiasa dilandasi oleh akidah yang benar.

b. Pendidikan ibadah, hal ini juga penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.

Karenanya tata peribadatan menyeluruh sebagaimana termaktub dalam fiqih Islam hendaklah diperkenalkan sedini mungkin dan dibiasakan dalam diri anak sejak usia dini. Hal ini dilakukan agar kelak mereka tumbuh menjadi insan yang benar-benar takwa, yakni insan yang taat melaksanakan segala perintah agama dan taat pula dalam menjauhi segala larangannya.

c. Pendidikan akhlak, dalam rangka mendidik akhlak kepada anak-anak, selain harus diberikan keteladanan yang tepat, juga harus ditunjukkan tentang bagaimana menghormati dan bertata krama dengan orang tua, guru, saudara (kakak dan adiknya) serta bersopan santun dalam bergaul dengan sesama manusia. Alangkah bijaksananya jika para orangtua atau orang dewasa lainnya telah memulai dan menanamkan pendidikan

239Ibid, hlm. 163

akhlak kepada anak-anaknya sejak usia dini, apa lagi jika dilaksanakan secara terprogram dan rutin240.

Dalam rangka mengoptimalkan perkembangan anak dan memenuhi karakteristik anak yang merupakan individu unik, yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang berbeda, maka perlu dilakukan usaha yaitu dengan memberikan rangsangan-rangsangan, dorongan-dorongan, dan dukungan kepada anak. Agar para pendidik dapat melakukan dengan optimal maka perlu disiapkan suatu kurikulum yang sistematis. Selain pembentukan sikap dan perilaku yang baik, anak juga memerlukan kemampuan intelektual agar anak siap menghadapi tuntutan masa kini dan masa datang. Sehubungan dengan itu maka program pendidikan dapat mencakup bidang pembentukan sikap dan pengembangan kemampuan dasar yang keseluruhannya berguna untuk mewujudkan manusia sempurna yang mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab dan mempunyai bekal untuk memasuki pendidikan selanjutnya.

Karenanya kurikulum untuk anak usia dini sebaiknya memperhatikan beberapa prinsip. Pertama, berpusat pada anak, artinya anak merupakan sasaran dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik. Kedua, mendorong perkembangan fisik, daya pikir, daya cipta, sosial emosional, bahasa dan komunikasi sebagai dasar pembentukan pribadi manusia yangh utuh. Ketiga, memperhatikan perbedaan anak, baik perbedaan keadaan jasmani, rohani, kecerdasan dan tingkat perkembangannya.

Pengembangan program harus memperhatikan kesesuaian dengan tingkat perkembangan anak (Developmentally Appropriate Program)241.

240 Hasan dan Andi Rusbandi Mansyur, Pedoman Guru Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk Madrasah Ibtidaiyah, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2001), hlm. 117

241 M. Nipan Abdul Halim, Anak Saleh Dambaan Keluarga, (Jakarta: Mitra Pustaka, 2001), hlm. 12

Acuan menu pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini telah mengembangkan program kegiatan belajar anak usia dini. Program tersebut dikelompokkan dalam enam kelompok usia, yaitu lahir – 1 tahun, 1 – 2 tahun, 2 – 3 tahun, 3 – 4 tahun, 5 – 6 tahun dan 5 – 6 tahun. Masing- masing kelompok usia dibagi dalam enam aspek perkembangan yaitu: perkembangan moral dan nilai-nilai agama, perkembangan fisik, perkembangan bahasa, perkembangan kognitif, perkembangan sosial emosional, dan perkembangan seni dan kreativitas242.

Masing-masing aspek perkembangan tersebut dijabarkan dalam kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator. Indikator-indikator kemampuan yang diarahkan pada pencapaian hasil belajar pada masing-masing aspek pengembangan, disusun berdasarkan sembilan kemampuan belajar anak usia dini. Kecerdasan linguistic (linguistc intelligence) yang dapat berkembang bila dirancang melalui berbicara, mendengarkan, membaca, menulis, berdiskusi, dan bercerita. Kecerdasan logika-matematika (logico- mathematical intelligence) yang dapat dirangsang melalui kegiatan menghitung membedakan bentuk, menganalisis data, dan bermain dengan benda-benda. Kecerdasan visual- spasial (visual-spatial intelligence) yaitu kemampuan ruang yang dapat dirangsang melalui kegiatan bermain balok- balok dan bentuk-bentuk geometri melengkapi puzzle, menggambar, melukis, menonton film maupun bermain dengan daya khayal (imajinasi). Kecerdasan musikal (musical intelligence) yang dapat dirangsang melalui irama, nada, berbagai bunyi, dan tepuk tangan.

Kecerdasan kinestik (kinesthetic intelligence) yang dirangsang melalui kegiatan-kegiatan seperti melakukan gerakan yang teratur, tarian, olahraga, dan terutama gerakan tubuh. Kecerdasan naturalis (naturalist intelligence) yaitu mencintai keindahan dan alam. Kecerdasan ini dapat

242 Depdiknas, Acuan Menu Pembelajaran pada Pendidikan Usia Dini (Pembelajaran Generik), (Jakarta: Depdiknas, 2002), hlm. 21

dirangsang melalui pengamatan lingkungan, bercocok tanam, memelihara binatang, termasuk mengamati fenomena alam seperti hujan, angin, banjir, pelangi, siang malam, panas dingin, bulan dan matahari. Kecerdasan antarpersonal (interpersonal intelligence) yaitu kemampuan untuk melakukan hubungan antar manusia (berkawan) yang dapat dirangsang melalui bermain bersama teman, bekerjasama, bermain peran, dan memecahkan masalah, serta menyelesaikan konflik. Kecerdasan interpersonal, yaitu kemampuan memahami diri sendiri yang dapat dirangsang melalui pengembangan konsep diri, harga diri, mengenal diri sendiri, percaya diri, termasuk kontrol diri dan disiplin. Kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) yakni kemampuan mengenal dan mencintai ciptaan Tuhan.

Kecerdasan ini dapat dirangsang melalui kegiatan-kegiatan yang diarahkan pada penanaman nilai-nilai moral dan agama. Kecerdasan-kecerdasan tersebut merupakan dasar bagi perumusan kompetensi, hasil belajar dan kurikulum pembelajaran pada anak usia dini243.

Sesuai dengan dasar, tujuan dan kompetensi pendidikan anak usia dini, maka ada beberapa materi pokok yang harus diajarkan kepada anak-anak di usia dini. Dalam konsep Islam, secara umum materi yang harus diajarkan kepada anak usia dini, sama dengan materi dasar ajaran Islam yang terdiri dari bidang aqidah, ibadah, dan akhlak.

Dalam pembelajaran terhadap anak usia dini, tentu saja uraian materi yang diberikan tidaklah sama dengan yang diberikan kepada orang dewasa, meskipun masih berada dalam lingkup akidah, ibadah dan akhlak.

Pada bidang aqidah, meskipun anak usia dini belum layak untuk diajak berpikir tentang hakikat Tuhan, malaikat, nabi (rasul), kitab suci, hari akhir, dan qadha dan qadar, tetapi anak usia dini sudah dapat diberi pendidikan

243 Boediono, ed., Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-Kanak dan Raudhatul Athfal, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2003), hlm. 8- 10

awal tentang aqidah (rukun Iman). Pendidikan awal tentang aqidah, bisa saja diberikan materi yang berupa mengenal nama-nama Allah dan ciptaan-Nya yang ada di sekitar kehidupan anak, nama-nama malaikat, kisah-kisah Nabi dan Rasul, dan materi dasar lainnya yang berkaitan dengan aqidah (rukun Iman). Di antara yang dapat dilakukan dalam memberi pendidikan aqidah kepada anak ialah dengan cara mengazankan anak yang baru lahir, sebagaimana diperintahkan rasul dalam sabdanya:

َْثََِّْٓحَّشٌاَُذْجَػََٚ ذ١ِؼَعَ ُْٓثََٝ١ْحَ٠َبََٕصَّذَحَ سبَّؾَثَ ُْٓثَُذََّّحَُِبََٕصَّذَح

َ ُِاِصبَػَ ْٓاَػَ ُْبَ١ْفاُعَبأََشَجْخَأَ َلباَلٍَِّٞذََِْٙ ُٓ

ٍَََػَُ َّاللٍََّّٝاَصَِ َّاللََّيٛاُعَسَ ُذاْ٠َأَسََيبَلَِٗ١ِثَأَ َْٓػَ غِفاَسَِٟثَأَِْٓثَِ َّاللَِّذْ١َجُػَ َْٓػَِ َّاللَِّذْ١َجُػَِْٓث

َٟاِفَ ََّْرَأٍَََُّاَعََِٚٗاْ١

َُْٗرَذٌَََٚ َٓ١ِحٍٍََِّٟػَِْٓثََِٓغَحٌْاَُِْرُأ

َِح َلََّصٌبِثَُخَِّغبَف

Artinya: “Dari Abu Rafi‟, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW ażan sebagaimana ażan shalat, di telinga Husain bin Ali ketika Fathimah melahirkannya”(R. at-Tirmiżi)244.

Ibnu Qayyim seperti dikutip oleh Al Mun‟im Ibrahim, menyebutkan bahwa rahasia azan adalah agar awal yang didengar bagi seorang yang baru dilahirkan adalah azan yang mengandung keagungan dan keluhuran Tuhan.

Sebagaimana kalimat syahadat bagi orang yang baru masuk Islam. Praktik tersebut merupakan pengenalan terhadap syi‟ar Islam di dunia ini245. Selain itu azan juga dimaksudkan agar suara yang pertama-tama didengar oleh bayi adalah kalimat-kalimat yang berisi kebesaran dan keagungan Allah serta syahadat yang pertama-tama memasukkannya ke dalam Islam. Azan juga merupakan seruan menuju Allah, menuju agama Islam dan menuju

244 Imam al-Hafidz Abi „Abbas Muhammad ibn „Isa bin Saurah at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi al-Jami‟us Şahih..., hlm. 36

245 Abu A‟isy Abd Al Mun‟im Ibrahim, Tarbiyah Al-Banati fi Al- Islam, terjemahan Herwibowo, Pendidikan Islam bagi Remaja Putri, (Jakarta: Najla Press, 2007), hlm.

96

peribadahan kepadaNya yang mendahului ajakan-ajakan lainnya246.

Tatkala azan berikut kalimat yang dikandungnya, yaitu kalimat takbir dan kalimat tauhid, menyentuh pendengaran bayi, maka kalimat azan tersebut ibarat tetesan air jernih yang berkilauan ke dalam telinganya, sesuai dengan fitrah dirinya. Pada waktu itu bayi belum dapat merasakan apa-apa, hanya kesadarannya dapat merekam nada-nada dan bunyi-bunyi kalimat azan yang diperdengarkan kepadanya. Kalimat tersebut dapat mencegah jiwa dari kecenderungan kemusyrikan, serta dapat memelihara dirinya dari kemusyrikan. Demikian pula kalimat azan melatih pendengaran manusia balita agar terbiasa mendengarkan panggilan nama yang baik beserta pengertian makna dan pengaruh yang terkandung di dalamnya247.

Dalam ajaran Islam, membaca al-Qur´an dinilai juga sebagai ibadah, karenanya dalam sebuah hadisnya Rasulullah bersabda:

ََذْ١َجُػَ َْٓثََذْؼَعَ ُذْؼَِّعَ ذَصْشََِ ُْٓثَُخََّمٍَْػََِٟٔشَجْخَأََيبَلَُخَجْؼُؽَبََٕصَّذَحَ يبََِِْٕٙ ُْٓثَُطبَّغَحَبََٕصَّذح

َِذْجَػَِٟثَأَ َْٓػََح

ٍَََّعََِْٚٗ١ٍََػَُ َّاللٍَََّّٝصَ ِِّٟجٌَّٕاَ َْٓػََُْٕٗػَُ َّاللَّ َِٟظَسَ َْبَّْضُػَ َْٓػَ ٍَُِِّّّٟغٌاَ َِّْٓحَّشٌا

ٍََََُّؼَرَ ََِْٓ ُُْوُشْ١َخَ َيبَلَ َُ

ٍََََُّّٗػََٚ َْآْشُمٌْا Artinya: “...Sebaik-baik kamu ialah orang yang mempelajari al-Qur´an

dan mengajarkannya kepada orang lain”. (HR. at- Tirmiżi)248.

Setiap orang tua harus menyadari bahwa mengajarkan al-Qur´an kepada anak-anak adalah suatu kewajiban mutlak dan harus dilaksanakan sejak dini agar ruh al-Qur´an dapat membekas dalam jiwa mereka. Sebab

246 Muhammad Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lit-Tifl, terjemahan Salafuddin Abu Sayyid, Mendidik Anak Bersama Nabi, (Solo: Pustaka Arafah, 2003), hlm. 75

247 Muhammas Quthb, Auladuna fi Dlau-it Tarbiyyatil Islamiyyah..., hlm. 48

248 Imam al-Hafidz Abi „Abbas Muhammad ibn „Isa bin Saurah at-Tirmiżi, Sunan

at-Tirmiżi al-Jami‟us Şahih..., hlm. 246