• Tidak ada hasil yang ditemukan

ََنَءٰۤبَعَٚ

َِْٟف

َِِٖزٰ٘

َُّكَحٌْا

َ خَظِػََِْٛٚ

ٜ ٰشْوِرَّٚ

ََْٓ١ِِِْٕئٌٍُِّْ

Artinya "Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman".277

Dijelaskan oleh Ibnu Kasir278, bahwa dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa semua kisah para rasul terdahulu bersama umatnya masing-masing sebelum Muhammad, Kami ceritakan kepadamu perihal mereka.

Semua itu diceritakan untuk meneguhkan hatimu, hai Muhammad, dan agar engkau mempunyai suri teladan dari kalangan saudara-saudaramu para rasul yang terdahulu. Ikutilah kisah ini supaya mereka berpikir dan memperhatikan, dan dapat mawas diri dan berhati-hati jangan sampai terjadi seperti itu.279

Kisah bisa memainkan peran penting dalam menarik perhatian, kesadaran pikiran dan akal anak.

Nabi biasa membawakan kisah di hadapan sahabat, yang muda maupun yang tua, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap apa yang dikisahkan beliau, berupa berbagai peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu, agar bisa diambil pelajarannya oleh orang-orang sekarang dan yang akan datang hingga hari kiamat.

Yang penting dicatat adalah bahwa kisah-kisah yang

277 QS. Huud: 120

278 Al Imam abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur‟an al-„Ażīm..., hlm. 184

279 Salim dan Said Bahreisy Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, jilid III, (Surabaya: Bina Ilmu, 1986), hlm. 509

disampaikan oleh Nabi bersandar pada fakta riil yang pernah terjadi di masa lalu, jauh dari khurafat dan mitos.

Kisah-kisah tersebut bisa membangkitkan keyakinan sejarah pada diri anak, di samping juga menambahkan spirit pada anak untuk bangkit serta membangkitkan rasa keislaman yang bergelora dan mendalam.

Kisah-kisah para ulama, „amilin dan orang-orang mulia yang shalih merupakan sebaik-baik sarana yang akan menanamkan berbagai keutamaan dalam jiwa anak serta mendorongnya untuk siap mengemban berbagai kesulitan dalam rangka meraih tujuan yang mulia dan luhur. Di samping itu juga akan membangkitkan untuk mengambil teladan orang-orang yang penuh pengorbanan sehingga ia akan terus naik menuju derajat yang tinggi dan terhormat.280

d. Metode Targhib dan Tarhib

Targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan dan membuat senang terhadap sesuatu maslahat, kenikmatan, atau kesenangan akhirat. Sedangkan tarhib adalah ancaman dengan siksaan sebagai akibat melakukan dosa atau kesalahan yang dilarang oleh Allah, atau akibat lengah dalam menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah.281

Ini merupakan metode pendidikan Islam yang didasarkan atas fitrah yang diberikan Allah kepada manusia, seperti keinginan terhadap kekuatan, kenikmatan, kesenangan, dan kehidupan abadi yang baik serta ketakutan akan kepedihan, kesengsaraan dan kesudahan yang buruk. Ditinjau dari segi paedagogis, hal ini mengandung anjuran, hendaknya pendidik dan atau orang tua menanamkan keimanan dan aqidah yang benar di dalam jiwa anak-anak, agar pendidik dapat

280 Muhammad Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lit-Tifl...,hlm. 486

281 Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat..., hlm. 412

menjanjikan (targhib) surga kepada mereka dan mengancam (tarhib) mereka dengan azab Allah, sehingga hal ini diharapkan akan mengundang anak didik untuk merealisasikan dalam bentuk amal dan perbuatan yang dianjurkan oleh ajaran Islam.

Dalam memberikan pendidikan melalui targhib dan tarhib, pendidik hendaknya lebih mengutamakan pemberian gambaran yang indah tentang kenikmatan di surga dan berbagai kenikmatan lain yang diperoleh sebagai balasan bagi amal sholeh yang dikerjakan, sekaligus juga diberikan sedikit gambaran tentang dahsyatnya azab Allah yang diberikan sebagai ganjaran pelanggaran yang dilakukan.282 Pendidikan dengan menerapkan metode ini merupakan upaya untuk menggugah, mendidik dan mengembangkan perasaan Rabbaniyah pada anak sejak usia dini, perasaan-perasaan yang diharapkan dapat dikembangkan melalui metode ini antara lain; khauf kepada Allah, perasaan khusyu', perasaan cinta kepada Allah, dan perasaan raja' (berharap) kepada Allah.

Targhib dan tarhib merupakan bagian dari metode kejiwaan yang sangat menentukan dalam meluruskan anak, ia merupakan cara yang jelas dan gamblang dalam pendidikan ala Rasul, beliau sering menggunakannya dalam menyelesaikan masalah anak di segala kesempatan, terutama dalam masalah berbakti kepada orang tua. Beliau mendorong anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya serta menakut-nakutinya dari berbuat durhaka kepada keduanya. Hal itu tidak lain bertujuan agar anak itu menyambut hal ini dan mendapatkan pengaruh sehingga ia bisa memperbaiki diri dan perilakunya.283

e. Metode Pujian dan Sanjungan

282 Ibid, hlm. 414

283 Muhammad Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lit-Tifl...,hlm. 525

Anak kecil yang masih berada dalam umur tiga tahun pertama bukannya tidak mempunyai perasaan kehormatan serta harga diri, ia menyadari bahwasanya dirinya adalah anak kecil, akan tetapi dalam lubuk hatinya ia tidak menerima jika dianggap remeh dalam bentuk dan sikap yang bagaimanapun. Selama ia masih tumbuh berkembang maka perasaan dihargai dan dihormati ikut tumbuh kembang dalam dirinya.

Perasaan harga diri dan dihormati merupakan pembawaan manusia secara fitrah, baik sebagai anak kecil maupun sebagai manusia dewasa, sebab sesungguhnya manusia merupakan makhluk yang dihormati lagi dimuliakan. Mengenai bentuk dan ragam pemberian pujian atau penghargaan cukup banyak, yang terpenting adalah anak sejak dini dipandang sebagai manusia sekaligus diperlakukan secara manusiawi.284

Secara lebih lanjut, pujian dan sanjungan dapat diberikan dalam bentuk hadiah. Namun orang tua hendaklah berhati-hati dalam memilih hadiah, agar tidak menimbulkan ketagihan. Hindarilah memberi hadiah uang, karena selain benda ini sangat menggiurkan, orang tua pun harus bekerja dua kali untuk membimbing anak agar mampu membelanjakan uangnya dengan baik.

Pilihlah hadiah yang bersifat edukatif, sehingga tak jadi persoalan jika anak-anak kemudian ketagihan. Buku cerita, alat-alat sekolah serta perlengkapan kegemaran anak akan cukup menyenangkan mereka. Pilih barang yang saat itu sedang mereka butuhkan, sehingga orang tua tidak perlu membelikannya lagi, misalnya jika sepatunya sudah mulai nampak berlubang, mengapa tidak menjadikannya saja sebagai hadiah, sebab kalaupun tidak sebagai hadia toh akhirnya orang tua harus membelikannya juga. Orang tua harus sejak awal dan terus-menerus menanamkan pengertian bahwa hadiah yang diberikan kepada anak bukan semata untuk

284 Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam..., hlm. 72

menghargai prestasi akhir mereka, namun lebih dititikberatkan pada usaha anak untuk mengubah dirinya.285

f. Menanamkan Kebiasaan yang Baik

Dalam usaha memberikan pendidikan dan membantu perkembangan anak usia dini, selain pengembangan kecerdasan dan keterampilan, perlu juga sejak dini ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang positif.

Pendidikan dengan mengajarkan dan pembiasaan adalah pilar terkuat untuk pendidikan anak usia dini, dan metode paling efektif dalam membentuk iman anak dan meluruskan akhlaknya, sebab metode ini berlandasakan pada pengikutsertaan. Tidak diragukan lagi, mendidik dengan cara pembiasaan anak sejak dini adalah paling menjamin untuk mendatangkan hasil positif, sedangkan mendidik dan melatih setelah dewasa sangat sukar untuk mencapai kesempurnaan286.

Ada beberapa hal yang dapat dianggap positif untuk dibiasakan terhadap anak usia dini, di antaranya adalah:

a. Anak harus dibiasakan menjaga kebersihan, sebab Islam sangat mementingkan kebersihan, sebagaimana dapat dibaca pada firman Allah yang artinya: “Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (Taubah: 108). Hal ini menjelaskan tentang kecintaan Allah terhadap orang yang bersih, yaitu orang menyucikan dirinya dari segala macam najis dan kotoran sekaligus membersihan jiwanya dari segala macam dosa287. Ayat ini sejalan dengan sabda Rasul:

َُذٌِبَخَبََٕصَّذَحَ ُِّٞذَمَؼٌْاَ شِِبَػَُٛثَأَبََٕصَّذَحَ سبَّؾَثَ ُْٓثَُذََّّحَُِبََٕصَّذَح

َ َْبَّغَحَِٟثَأَ ِْٓثَِحٌِبَصَ َْٓػَ َطبَ١ٌِْاَ ُْٓث

ََخَفبَظٌَّٕاَ ُّتِحُ٠َ ف١ِظََٔ َتِّ١َّطٌاَ ُّتِحُ٠َ تِّ١َغََ َّاللَّ َِّْاَُيُٛمَ٠َِتَّ١َغٌُّْاَ َْٓثََذ١ِؼَعَ ُذْؼَِّعَيبَل

َ

285 Irawati Istadi, Mendidik Dengan Cinta..., hlm. 26

286 Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyat al- Aulad Fi al- Islam..., 64

287 Al Imam abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur‟an al-„Ażīm..., hlm. 48

Artinya: “...Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan”… (HR. at-Tirmiżi).288

Dalam rangka membiasakan hidup bersih dan hidup sehat, pada anak usia dini, hendaklah anak dibiasakan untuk; berdo‟a sebelum tidur dan ketika bangun, mandi secara teratur, menggosok gigi setiap bangun dan menjelang tidur, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta membuang sampah pada tempatnya.

b. Anak dilatih dan dibiasakan hidup teratur, misalnya dengan membiasakan anak makan secara teratur dan tidak berlebihan, sebagaimana difirmankan Allah yang artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”289.

Makna yang terdapat pada ayat ini adalah makanlah sesukamu dan berpakaianlah sesukamu selagi engkau hindari dua pekerti, yaitu berlebih-lebihan dan sombong. Allah menghalalkan makan dan minum selagi dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak untuk kesombongan290.

Dalam hadis Rasul kita temukan tentang aturan makan dan minum, yaitu seperti yang tersebut dalam hadis berikut ini:

َِثَأَ ُْٓثاََٚ ةْشَحَ ُْٓثَ ُشْ١َُ٘صََٚ شْ١ََُّٔ ِْٓثَِ َّاللَّ ِذْجَػَ ُْٓثَ ُذََّّحَََُِٚخَجْ١َؽَِٟثَأَ ُْٓثَ ِشْىَثَُٛثَأَبََٕصَّذَح

َ َشَُّػَٟ

اَ َْٓػَ ُْبَ١ْفُعَبََٕصَّذَحَاٌُٛبَلَ شْ١ََُِّْٔٓث ِلَُعْفٌٍَّاَٚ

ََشَُّػَِْٓثَِ َّاللَِّذْجَػَِْٓثَِ َّاللَِّذْ١َجُػَِْٓثَِشْىَثَِٟثَأَ َْٓػَِِّٞشُّْ٘ضٌ

288 Imam al-Hafidz Abi „Abbas Muhammad ibn „Isa bin Saurah at-Tirmiżi, Sunan

at-Tirmiżi al-Jami‟us Şahih..., hlm. 198.

289 QS.Al A‟raaf ayat 31

290 Al Imam abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur‟an al-„Ażīm..., hlm. 289

َ ًُْوْؤَ١ٍَْفَ ُُْوُذَحَأَ ًََوَأَاَرِاَ َيبَلَ ٍَََُّعََِْٚٗ١ٍََػَُ َّاللٍَََّّٝصَِ َّاللَّ َيُٛعَسَ ََّْأَ َشَُّػَ ِْٓثاَِِّٖذَعَ َْٓػ

َاَرِإََِِٚٗ١َِّ١ِث

١َِّ١ِثَ ْةَشْؾَ١ٍَْفَ َةِشَؽ

ٌَِِٗبَِّؾِثَ ُةَشْؾَ٠ٌََِِٚٗبَِّؾِثًَُُوْؤَ٠َ َْبَطْ١َّؾٌاَ َِّْبَفَِِٕٗ

Artinya: “Dari Jaddah ibn Umar Rasulullah berkata: “Jika makan salah seorang diantara kamu, maka makanlah dengan tangan kanan, dan jika minum, maka minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya syaitan makan dan minum dengan tangan kiri”(R. At-Tirmizi).291

c. Anak sejak dini hendaknya dibiasakan hidup sederhana dan hemat. Untuk itu sebaiknya anak tidak dibiasakan jajan, sebab jajan di samping merupakan kebiasaan yang tidak baik, juga makananan yang ia beli belum terjamin kebersihannya hingga bisa membahayakan kesehatannya.292

Itulah beberapa metode pendidikan yang menurut hemat penulis layak untuk diterapkan pada pelaksanaan pendidikan anak usia dini. Dengan metode-metode tersebut secara teoritis akan memberikan hasil positif terhadap pembinaan dan pendidikan anak usia dini, baik itu yang dilaksanakan orang tua di rumah, maupun oleh para guru di sekolah/lembaga pendidikan anak usia dini.

3. Evaluasi Pendidikan Anak Usia Dini

Rangkaian akhir dari suatu proses pendidikan anak usia dini adalah evaluasi atau penilaian. Evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan di dalam proses pendidikan.

Dalam pendidikan Islam, termasuk juga pendidikan anak usia dini, evaluasi merupakan salah satu komponen penting dari sistem pendidikan Islam yang harus dilakukan

291 Imam al-Hafidz Abi „Abbas Muhammad ibn „Isa bin Saurah at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi al-Jami‟us Şahih..., hlm. 166

292 Panitia Muzakarah Ulama, Memelihara Kelangsungan Hidup Anak Menurut Ajaran Islam, (Jakarta: Kerjasama Departemen Agama, MUI dan UNICEF, 1988), hlm.

58-59

secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau target yang akan dicapai dalam proses pendidikan dan proses pembelajaran293.

Dalam ruang lingkup terbatas, evaluasi dilakukan dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan pendidikan dalam menyampaikan materi pendidikan kepada peserta didik. Sedangkan dalam lingkup yang lebih luas, evaluasi dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kelemahan suatu proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan294.

Sebagai satu komponen penting dalam pendidikan, evaluasi yang dilaksanakan secara umum memiliki fungsi untuk; mengetahui peserta didik yang mana yang terpandai dan terbodoh di kelasnya, mengetahui apakah bahan yang telah diajarkan sudah dimiliki oleh peserta didik atau belum, mendorong persaingan yang sehat antara sesama peserta didik, mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mengalami didikan dan ajaran, mengetahui tepat atau tidaknya guru memilih bahan, metode, dan berbagai penyesuaian dalam kelas, dan sebagai laporan terhadap orang tua peserta didik dalam bentuk rapor, ijazah, piagam dan sebagainya295.

Mengigat pentingnya evaluasi bagi proses pendidikan, maka dalam kegiatan pendidikan yang diberikan kepada anak usia dini juga perlu dilakukan evaluasi. Terhadap kegiatan pendidikan anak usia dini, evaluasi atau penilaian dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pengamatan dan pencatatan anekdot. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan sikap anak yang dilakukan dengan mengamati tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus, sedangkan pencatatan anekdot

293 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006), hlm. 223

294 Al-Rasyidin, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis Filsafat Pendidikan Islam.

(Jakarta:Bumi Aksara, 2004), hlm. 77

295 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam..., hlm. 223

merupakan sekumpulan catatan tentang sikap dan perilaku anak dalam situasi tertentu.

Beberapa alat penilaian yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran perkembangan kemampuan dan perilaku anak, antara lain adalah:

a. Portofolio yaitu penilaian berdasarkan kumpulan hasil kerja anak yang dapat menggambarkan sejauhmana keterampilan anak berkembang.

b. Unjuk kerja (performance) merupakan penilaian yang menuntut anak untuk melakukan tugas dalam bentuk perbuatan yang dapat diamati, misalnya praktik menyanyi, olahraga, atau memperagakan sesuatu perbuatan; seperti cara menggosok gigi, cara beristinja, cara berwudhu‟ dan sedikit tentang gerakan dalam sholat.

c. Penugasan (project) merupakan tugas yang harus dikerjakan anak yang memerlukan waktu yang relativ lama dalam mengerjakannya, misalnya melakukan percobaan menanam biji.

d. Hasil karya (product) merupakan hasil kerja anak setelah melakukan suatu kegiatan.296

Seluruh kegiatan evaluasi yang dilakukan dalam pendidikan anak usia dini adalah untuk mengetahui perkembangan anak didik, yang mencakup dua aspek utama yaitu aspek pembiasan dan kemampuan dasar. Pada aspek pembiasaan, penilaian meliputi tentang perkembangan moral dan nilai-nilai agama, social, emosional dan kemandirian. Sedangkan pada aspek kemampuan dasar penilaiannya meliputi; kemampuan berbahasa, kemampuan kognitif, kemampuan fisik/motorik, dan kemampuan seni.

Terhadap perkembangan moral dan nilai-nilai agama, evaluasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan anak

296 Boediono, ed., Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-Kanak dan Raudhatul Athfal..., hlm. 13

dalam berdo‟a, mengucapkan salam, membedakan cipataan- ciptaan Allah, membaca beberapa do‟a pendek, sekaligus juga mengetahui perkembangan anak dalam berdisiplin, kesopanan dalam berpakaian dan ketertiban dalam mengerjakan tugas-tugas di sekolah. Adapun penilaian terhadap perkembangan sikap sosial, emosional dan kemandirian, ditujukan untuk mengetahui perkembangan kemampuan anak dalam bergaul, berteman, mengambil keputusan sederhana, bertanya sederhana, mengendalikan emosi dan kemandirian dalam mengurus keperluannya di sekolah.

Sedangkan penilaian pada aspek kemampuan dasar ditujukan untuk mengetahui perkembangan kemampuan anak dalam berbahasa, seperti kemampuan melakukan macam-macam perintah, menceritakan pengalamannya, merespon pertanyaan guru, dan kemampuan berkomunikasi dengan guru maupun temannya. Evaluas perkembangan kemampuan kognitif dilakukan untuk menilai kemampuan anak dalam menyatakan waktu yang dikaitkan dengan jam, membedakan macam-macam suara, mengelompokan warna, mengenal dan membedakan macam-macam rasa, serta kemampuan anak dalam menghitung bilangan tanpa menggunakan alat bantu.

Evaluasi perkembangan fisik/motorik dilakukan dalam rangka mengetahui kemampuan anak dalam hal fisik/motoriknya seperti dalam kegiatan makan, menyisir rambut, mencuci dan mengelap tangan, memantulkan, menangkap, melempar bola, menggunting, melipat, dan meniru suatu gerakan terutama dalam bentuk senam atau tarian sederhana. Evaluasi perkembangan seni adalah untuk mengetahui kemampuan anak dalam mengapresiasikan imajinasinya dalam bentuk seni, seperti menggambar bebas dengan menggunakan krayon dan pensil berwarna, mewarnai gambar, menyanyikan lagu sambil bermain, dan mengekspresikan gerak.

BAB III

PENDIDIKAN ISLAM DALAM PENDIDIKAN FORMAL

A. Pendidikan Karakter Di Sekolah Dalam Perspektif Islam 1. Pengertian Karakter

Istilah nation and charakter building adalah istilah klasik dan menjadi kosa kata hampir sepanjang sejarah modern Indonesia terutama sejak peristiwa Sumpah Pemuda 1928.

Istilah ini mencuat kembali sejak tahun 2010 ketika pendidikan karakter dijadikan sebagai gerakan nasional pada puncak acara Hari Pendidikan Nasional 20 Mei 2010 yang dicanangkan oleh presiden RI297. Latar belakang munculnya pendidikan karakter ini dilatarbelakangi oleh semakin terkikisnya karakter sebagai bangsa Indonesia, dan sekaligus sebagai upaya pembangunan manusia Indonesia yang berakhlak budi pekerti yang mulia.

Istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “Charakter”, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak.

Sedangkan secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri (Mochtar Buchori,Kompas). Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang298.

Definisi dari “The stamp of individually or group impressed by nature, education or habit. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak

297 Fatchul Mu‟in, Pedidikan karakter kontruksi teoritik dan praktek, (Yogyakarta: Ar- Ruzz Media, 2011), hlm. 323

298 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pedidikan karakter dalam perspektif Islam, (Bandung: Insan Cita Utama, 2010), hlm. 11

dan budi pekerti, sehingga karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa atau budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik299. Dengan demikian, pendidikan karakter adalah usaha yang sungguh- sungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai- nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga negara secara keseluruhan.

Dengan demikian, secara umum, istilah karakter sering diasosiasikan dengan apa yang disebut dengan temperamen yang memberinya, seolah definisi yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Disamping itu, karakter menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek.

Sebaliknya, orang yang berprilaku sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Sedangkan dari segi istilah, karakter sering dipandang sebagai cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan setiap akibat dari keputusan yang ia buat.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter pada hakekatnya ingin membentuk individu menjadi seorang pribadi bermoral yang dapat menghayati kebebasan dan tanggung jawabnya, dalam relasinya dengan orang lain

299 Zubaedi, Design pendidikan karakter, (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 19

dan dunianya dalam komunitas pendidikan. Dengan demikian pendidikan karakter senantiasa mengarahkan diri pada pembentukan individu bermoral, cakap mengambil keputusan yang tampil dalam perilakunya, sekaligus mampu berperan aktif dalam membangun kehidupan bersama.

2. Dasar dan Landasan Pendidikan Karakter a. Dasar Pendidikan Karakter

Dalam Islam, tidak ada disiplin ilmu yang terpisah dari etika-etika Islam. Sebagai usaha yang identik dengan ajaran agama, pendidikan karakter dalam Islam memiliki keunikan dan perbedaan dengan pendidikan karakter di dunia barat. Perbedaan-perbedaan tersebut mencakup penekanan terhadap prinsip-prinsip agama yang abadi, aturan dan hukum dalam memperkuat moralitas, perbedaan pemahaman tentang kebenaran, penolakan terhadap otonomi moral sebagai tujuan pendidikan moral, dan penekanan pahala di akhirat sebagai motivasi perilaku bermoral.

Inti dari perbedaaan-perbedaan ini adalah keberadaan wahyu ilahi sebagai sumber dan rambu- rambu pendidikan karakter dalam Islam. Akibatnya, pendidika karakter dalam Islam lebih sering dilakukan dengan cara doktriner dan dogmatis, tidak secara demokratis dan logis.Implementasi pendidikan karakter dalam Islam, tersimpul dalam karakter pribadi Rasulullah SAW. Dalam pribadi Rasul, tersemai nilai- nilai akhlak yang mulia dan agung. Al-qur‟an dalam surat Al-ahzab ayat 21 mengatakan:

َْذَمٌَ

ََْبَو

َُُْىٌَ

َِْٟف

َِيُْٛعَس

َِّٰاللّ

َ حَْٛعُا

َ خََٕغَح

ٌََِّّْٓ

ََْبَو اُٛع ْشَ٠

ََّٰاللّ

ََََْٛ١ٌْاَٚ

ََشِخٰ ْلا

ََشَوَرَٚ

ََّٰاللّ

َ اًشْ١ِضَو

Artinya: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang

mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”300.

Karakter atau Akhlak tidak diragukan lagi memiliki peran besar dalam kehidupan manusia.

Menghadapi fenomena krisis moral, tuduhan seringkali diarahkan kepada dunia pendidikan sebagai penyebabnya. Hal ini dikarenakan pendidikan berada pada barisan terdepan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, dan secara moral memang harus berbuat demikian.301

Pembinaan karakter dimulai dari individu, karena pada hakikatnya karakter itu memang individual, meskipun ia dapat berlaku dalam konteks yang tidak individual. Karenanya pembinaan karakter dimulai dari gerakan individual, yang kemudian diproyeksikan menyebar ke individu-idividu lainnya, lalu setelah jumlah individu yang tercerahkan secara karakter atau akhlak menjadi banyak, maka dengan sendirinya akan mewarnai masyarakat. Pembinaan karakter selanjutnya dilakukan dalam lingkungan keluarga dan harus dilakukan sedini mungkin sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Melalui pembinaan karakter pada setiap individu dan keluarga akan tercipta peradaban masyarakat yang tentram dan sejahtera.

Dalam Islam, karakter atau akhlak mempunyai kedudukan penting dan dianggap mempunyai fungsi yang vital dalam memandu kehidupan masyarakat.

Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-qur‟an surat An-Nahl ayat 90 sebagai berikut:

ََِّْا

ََّٰاللّ

َُشُِْؤَ٠

َِيْذَؼٌْبِث