• Tidak ada hasil yang ditemukan

مي ِحَر

Dalam dokumen kakanwil kemenag ntb (Halaman 194-199)

”Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada

293Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Vol V, (Jakarta: Lentera Hati, 2009), h. 443.

mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Al-Suyuthi juga tidak menyebutkan asbâb al-nuzûl ayat ini.

Namun, dari rentetan ayat sebelumnya diperoleh informasi bahwa ayat ini berkenaan dengan kondisi interaksi kaum Muslimin dengan kaum musyrikin. Ayat ini menekankan perihal sikap kaum Muslimin setelah melewati bulan haram (al-asyhur al-hurum).

Dalam konteks ayat ini, kata ينكرشلما diartikan sebagai orang-orang khianat yang menghentikan tenggang waktu damai bagi mereka. Sedangkan bagi yang tidak khianat dan tetap mematuhi perjanjian damai dalam tenggang waktu tertentu di antara mereka, maka tidak termasuk cakupan kata tersebut.294

Adapun perintah ( اولتقاف) dalam ayat ini bukanlah perintah wajib, tetapi hanya semacam izin untuk memerangi. Hal ini sama dengan perintah menangkap dan menawan mereka.

Perintah tersebut bertujuan membebaskan wilayah Mekkah—

dan sekitarnya atau paling tidak Jazirah Arabia—dari pengaruh kemusyrikan.295 Wahbah al-Zuhaili menjelaskan bahwa perintah ( هوتمدجو ثيح ينكرشلما اولتقاف) pada ayat ini adalah khusus pada kaum musyrikin Arab, bukan selainnya.296

d) QS. al-Taubah [9]: 14

ِفْشَيَو ْمِهْيَلَع ْمُكْر ُصْنَيَو ْمِهِزُْيخَو ْمُكيِدْيَأِب َُّخللها ُمُهْبِّذَعُي ْمُهوُلِتاَق

َينِنِمْؤُم ٍمْوَق َروُد ُص

294Muhammad Sayyid Thanthawi, al-Tafsir al-Wasith, Vol VI, h. 206.

295Shihab, Tafsir.., Vol. V, h. 504.

296Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, Juz X, h. 111.

”Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman”.

Ayat ini memberitakan hasil yang dapat diperoleh setelah melaksanakan perintah perang yang motivasinya adalah tiga hal (QS. al-Taubah [9]: 12-13), yaitu: 1) kaum musyrikin membatalkan perjanjian; 2) mengusir Nabi Muhammad saw.

dari Mekkah; dan 3) kaum musyrikin memulai penganiayaan dan peperangan. Ayat ini menyebut beberapa hal yang menjadi akibat dari memerangi kaum musyrikin tersebut, yaitu 1) kaum musyrikin memperoleh siksa dari Allah SWT melalui perantaraan kaum Muslimin; 2) Allah SWT menghinakan mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat;

3) Allah SWT menganugerahkan kemenangan bagi kaum Muslimin; 4) melegakan hati kaum Muslimin atas perlakuan dan pengalaman buruk yang dialami kaum Muslimin atas penganiayaan kaum musyrikin di masa lalu.

e) QS. al-Taubah [9]: 29

َنوُمِّرَُيح َلاَو ِرِخ ْلآا ِمْوَيْلاِب َلاَو َِّخللهاِب َنوُنِمْؤُي َلا َنيِذَّخلا اوُلِتاَق اوُتوُأ َنيِذَّخلا َنِم ِّقَْلحا َنيِد َنوُنيِدَي َلاَو ُهُلوُسَرَو َُّخللها َمَّخرَح اَم

َنوُرِغا َص ْمُهَو ٍدَي ْنَع َةَيْزِْلا اوُطْعُي ىَّختَح َباَتِكْلا

”Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab

kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”.

f) QS. al-Taubah [9]: 36

َقَلَخ َمْوَي َِّخللها ِباَتِك ِفي اًرْهَش َرَشَع اَنْثا َِّخللها َدْنِع ِروُهُّشلا َةَّخدِع َّخنِإ َلاَف ُمِّيَقْلا ُنيِّدلا َكِلَذ ٌمُرُح ٌةَعَبْرَأ اَهْنِم َضْرَْلأاَو ِتاَوَمَّخسلا ْمُكَنوُلِتاَقُي اَمَك ًةَّخفاَك َينِكِرْشُْلما اوُلِتاَقَو ْمُكَسُفْنَأ َّخنِهيِف اوُمِلْظَت

َينِقَّختُْلما َعَم ََّخللها َّخنَأ اوُمَلْعاَو ًةَّخفاَك

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Dari beberapa kajian keislaman yang ditulis oleh akademisi barat ditemukan stigma Islam yang sangat negatif, yaitu ”Islam adalah agama yang disebarkan dengan pedang”. Sejumlah karikatur yang provokatif juga turut mendeskripsikan stigma negatif Islam tersebut. Penyebaran Islam digambarkan secara stereotipikal ini tentunya sangat berbalik arah dari karakter Islam seutuhnya yang toleran dan damai. Stigma demikian dilahirkan dari pemahaman terhadap sejumlah hadis Nabi saw yang menganjurkan perang kepada umat Islam. Di antara hadis tersebut yaitu: umirtu an uqatila al-nâs..., Bu’itstu bi al- sayf... , al-jannatu tahta zhilâl al-suyuf. Stigma negatif tersebut disandarkan pada QS. al-Taubah [9]: 111:

َةَّخنَْلا ُمَُله َّخنَأِب ْمَُلهاَوْمَأَو ْمُهَسُفْنَأ َينِنِمْؤُْلما َنِم ىََترْشا ََّخللها َّخنِإ ِفي اًّقَح ِهْيَلَع اًدْعَو َنوُلَتْقُيَو َنوُلُتْقَيَف َِّخللها ِليِبَس ِفي َنوُلِتاَقُي اوُرِشْبَتْساَف َِّخللها َنِم ِهِدْهَعِب ىَفْوَأ ْنَمَو ِناَءْرُقْلاَو ِليِْنِْلإاَو ِةاَرْوَّختلا

ُميِظَعْلا ُزْوَفْلا َوُه َكِلَذَو ِهِب ْمُتْعَياَب يِذَّخلا ُمُكِعْيَبِب

”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”.

Parahnya, stigma negatif tersebut dibubuhi lagi dengan anggapan bahwa al-Qur’an melegitimasi tindakan memerangi dan membunuh rakyat sipil dari negara-negara kolonial.

Anggapan miring demikian diperoleh dari dua buah ayat al- Qur’an, yaitu:

1) QS. al-Baqarah [2]: 194

ىَدَتْعا ِنَمَف ٌصا َصِق ُتاَمُرُْلحاَو ِماَرَْلحا ِرْهَّخشلاِب ُماَرَْلحا ُرْهَّخشلا اوُمَلْعاَو ََّخللها اوُقَّختاَو ْمُكْيَلَع ىَدَتْعا اَم ِلْثِِبم ِهْيَلَع اوُدَتْعاَف ْمُكْيَلَع

َينِقَّختُْلما َعَم ََّخللها َّخنَأ

”Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia,

seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang- orang yang bertakwa”.

2) QS. al-Nahl [16]: 126

ٌْيرَخ َوَُله ُْتَْبر َص ْنِئَلَو ِهِب ْمُتْبِقوُع اَم ِلْثِِبم اوُبِقاَعَف ْمُتْبَقاَع ْنِإَو

Dalam dokumen kakanwil kemenag ntb (Halaman 194-199)