• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepemimpinan perempuan (istri) di dalam keluarga di- arahkan pada penguatan keluarga itu sebagai institusi pendidikan pertama yang melahirkan generasi yang kuat, yang saleh dan salehah, yang termasuk pada ♣urriyyah •ayyibah (keturunan yang baik). Dalam sebuah hadis riwayat imam ad- Dailam◄, Rasulullah ☺allall☼hu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ٌﻊَﺑْﺭﹶﺃ

ْﻦِﻣ

ِﺓَﺩﺎَﻌَﺳ

ِﺀْﺮَﻤﹾﻟﺍ : ﹾﻥﹶﺃ ﹶﻥْﻮﹸﻜَﺗ

ُﻪُﺘَﺟْﻭَﺯ ﹰﺔَﺤِﻟﺎَﺻ

ُﻩُﺩﹶﻻْﻭﹶﺃَﻭ ﺍًﺭﺍَﺮْﺑﹶﺃ

ُﻩُﺅﺎﹶﻄﹶﻠُﺧَﻭ

َﻦْﻴِﺤِﻟﺎَﺻ ﹾﻥﹶﺃَﻭ

ﹶﻥْﻮﹸﻜَﻳ

ُﻪﹸﻗْﺯِﺭ

ِﰲ

ِﻩِﺪﹶﻠَﺑ . ) ﻩﺍﻭﺭ ﻲﻤﻠﻳﺪﻟﺍ ﻦﻋ

ﻰﻠﻋ (

Ada empat macam di antara kebahagiaan manusia: 1) Istri yang salehah, 2) Anak yang baik, 3) Sahabat yang saleh, dan 4) Rezekinya (mata pencaharian) berada dalam negerinya sendiri. (Riwayat ad-Dailam◄ dari

‘Al◄)

Secara eksplisit hadis itu menyatakan keterkaitan yang kuat antara istri yang salehah dengan anak yang baik, di samping teman pergaulan dan rezeki. Terdapat kisah dalam Al-Qur΄an yang menggambarkan betapa pentingnya peranan istri dalam melahirkan generasi yang saleh. Suami yang taat dan saleh, tetapi tidak disertai istri yang salehah, ternyata tidak mampu melahirkan generasi yang saleh. Allah sub♥☼nahu wa ta‘☼l☼

mengisahkan dalam Al-Qur΄an dua orang nabi yang saleh yang memiliki istri yang tidak beriman. Firman-Nya dalam Surah at- Ta♥r◄m/66 ayat 10:

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat

Kepemimpinan Perempuan

60

kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), "Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)." (at-Ta♥r◄m/66: 10)

Anak Nabi Nuh, yang bernama Kan‘an ternyata tidak beriman kepada Nabi Nuh, dan termasuk orang-orang yang ditenggelamkan oleh Allah bersama dengan kaumnya yang kufur. Allah sub♥☼nahu wa ta‘☼l☼ berfirman dalam Surah H‼d/11 ayat 42-46:

Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, "Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir."

Dia (anaknya) menjawab, "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!" (Nuh) berkata, "Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang

Kepemimpinan Perempuan 61

Maha Penyayang." Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.

Dan difirmankan, "Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah." Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan, dan kapal itu pun berlabuh di atas gunung Judi, dan dikatakan, "binasalah orang-orang zalim." Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil." Dia (Allah) berfirman, "Wahai Nuh!

Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh." (H‼d/11: 42-46)

Sebaliknya, pada istri yang mukminah yang suaminya kafir, Allah sub♥☼nahu wa ta‘☼l☼ menitipkan seorang bayi yang kelak menjadi nabi (Musa). Allah berfirman dalam Surah at- Ta♥r◄m/66 ayat 11, juga firman-Nya dalam Surah al-Qa☺a☺/28 ayat 7-9:

Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun, ketika dia berkata, "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zali.," (at-Ta♥r◄m/66: 11)

Kepemimpinan Perempuan

62

Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, "Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul." Maka dia dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.

Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang- orang yang bersalah. Dan istri Fir‘aun berkata, "(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah- mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak," sedang mereka tidak menyadari. (al-Qa☺a☺/28: 7-9)

Dari suami yang saleh serta istri yang salehah, lahirlah anak keturunan yang saleh. Seperti kisah keluarga Nabi Ibrahim yang diabadikan oleh Allah, baik dalam ibadah haji maupun dalam Idul Qurban. Allah sub♥☼nahu wa ta‘☼l☼ berfirman dalam Surah a☺-☻āff☼t/37 ayat 100-102:

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh." Maka Kami beri kabar gembira kepadanya

Kepemimpinan Perempuan 63

dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail). Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (a☺-☻āff☼t/37: 100-102)

Karena itu, dapat disimpulkan bahwa tugas dan peran kaum perempuan sebagai pemimpin dalam keluarga adalah melahirkan dan membangun anak keturunan yang saleh dan salehah. Dan ini pulalah inti dari kepemimpinan perempuan dalam keluarga.

C. Kepemimpinan Perempuan dalam Ibadah

Allah sub♥☼nahu wa ta‘☼l☼ berfirman dalam Surah Āli

‘Imr☼n/3 ayat 35-36:

(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." Maka ketika melahirkannya, dia berkata, "Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan." Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. "Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon

Kepemimpinan Perempuan

64

perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk." (Āli ‘Imr☼n/3: 35-36)

Pada ayat tersebut di atas, terdapat kisah yang menarik tentang keinginan istri ‘Imr☼n yang bernazar kepada Allah, bahwa apabila bayi ini telah lahir dan berjenis kelamin laki-laki, maka dinazarkan untuk menjadi imam dan pengurus masjid, serta dibebaskan dari segala macam pekerjaan yang bersifat duniawi. Akan tetapi, pada kenyataannya, yang lahir itu adalah bayi perempuan. Allah sub♥☼nahu wa ta‘☼l☼ menegaskan, bahwa Dia lebih mengetahui bayi yang dikandung oleh seorang ibu yang hamil; dan laki-laki tidaklah sama dengan perempuan.

Dari ayat ini dapat disimpulkan, bahwa khusus untuk kegiatan ibadah ma♥○ah dan kegiatan takmir masjid, terdapat perbedaan-perbedaan antara laki-laki dengan perempuan.

Perbedaan ini tidak menunjukkan diskriminasi, akan tetapi menunjukkan ciri khas masing-masing sesuai dengan fitrahnya, dan bahkan kondisi fisiknya. Dalam ibadah salat, laki-laki dengan perempuan memiliki perbedaan-perbedaan. Misalnya, dalam hal aurat dan tata cara berpakaian. Kalau perempuan harus ditutup seluruh anggota badannya, kecuali muka dan kedua telapak tangan, sedangkan laki-laki antara pusar sampai dengan lutut. Hal ini juga berlaku dalam pakaian keseharian.

Dalam dokumen kedudukan dan peran perempuan (Halaman 92-97)