soal dari Asesmen Nasional yang dianggap terlalu tinggi/harus berpikir tingkat tinggi membuat guru- guru kewalahan pada awalnya.
Kalau dari saya sih bagus ya, maksudnya ada Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional gitu ya. E, nanti siswa itu terutama karna yang Asesmen Nasional itu kan yang diujikan literasi sama numerasi. Itu juga, apa ya? Jadi mengasah anak-anak untuk bisa membaca banyak, lebih banyak buku, kemudian juga, e keterampilan menulisnya gitu kan? Kemudian yang numerasi juga hitung-hitungannya juga. Cuman, e, mungkin soal-soalnya itu kadang tidak sesuai dengan yang diajarkan di sekolah, gitu. Ya karna, apa ya? Terlalu kemampuan berpikir tingkat tinggi gitu mas, nek saya lihat di nganu jane. Walaupun di numerasi tapi literasinya masuk ketika anak-anak mengerjakan numerasi itu. Misalnya, e, anak-anak itu mengerjakannya biasanya cuma satu langkah, dia harus berputar-putar dulu untuk mencari jawabannya, ya, itu, sebenernya bagus, cuman karna kemarin juga ada pandemi covid 2 tahun. Itu kalau menurut saya yang kemarin itu ya, yang kemarin itu bener-bener, heh, kaya mulai dari nol itu kan juga semester 1 ya ketika diujikan di ini, yang di tahun ini kan semester 1. Anak-anak itu merasakan kaget, ketika, apa namanya?
Soal dirasa berbeda dengan latihan yang dilakukan, sehingga tidak sedikit anak-anak yang merasakan kesusahan saat Asesmen Nasional. Tetapi setelah tahun pertama/periode pertama kemarin itu sekarang guru-guru sudah mulai memiliki strategi dalam menghadapi AN, khususnya dalam mempersiapkan anak dalam menjawab soal-soalnya. Guru-guru juga mulai mengadopsi pelajaran-pelajaran yang mencakup HOTS (Higher Order Thinking Skills).
Latihan, itu kan soalnya itu ituu, selalu, selalu itu gitu ya yang berulang itu. Kemudian, bukunya yang kita punya juga tidak berubah dari yang tahun kemarin sampe tahun sekarang gitu.
83
Tapi, ternyata ketika pelaksanaan, soalnya, wah, kok (beda) seperti ini gitu lho. Jadinya anak-anak merasa kesulitan, kemarin juga orangtua menyampaikan lewat WA juga, “apa soalnya memang sulit apakah cuma anak saya saja yang merasa kesulitan, atau yang lainnya juga?” gitu. Ternyata semuanya juga merasakan itu. Tapi kalo misalnya memang, apa, diasah dari awal, maksudnya, ga cuma ketika kelas 5. Misalnya dari kelas 3, kelas 1 mungkin ya, itu sudah mulai diasah literasi, numerasinya, insyaallah nanti bisa ketika kelas 5. Cuman kemaren memang agak mengagetkan gitu. Mendadak ndangdut yo, tiba-tiba ada. Iya. Ya walaupun tahun kemarin sudah ada, cuman kan belum, jalannya kan kita masih lambat (baru penjajakan). Gitu.
Tapi secara keseluruhan sudah baik, karena dengan adanya Asesmen ini anak-anak jadi memiliki challenge sebagai pengganti dihilangkannya Ujian Nasional.
Tapi bagus ada hal-hal seperti itu. Kalo ujian, bener-bener ga ada ujian dari pemerintah, kita ga ada tantangan juga sekolah.
Anak-anak juga gak ada tantangan juga, seperti itu. Itu sih kalau menurut saya.
b. Pendapat orangtua mayoritas setuju dengan adanya Asesmen ini, cuma memang pada awal/periode 1 itu pastinya ada kendala-kendala yang harus dihadapi, salah satunya mengenai sarana-prasarana.
E, pertama itu waktu pandemi, orangtua, e, langsung banyak yang tidak tau menggunakan pembelajaran secara online, daring itu, orang tua, ya, banyak yang tidak memiliki HP, sehingga kendala pada siswa itu sulit untuk belajar. Namun kalau yang sudah punya, sudah dirumah itu sudah terbiasa menggunakan komputer, itu, semakin, itu dia semakin, belajarnya semakin lancar. Namun, banyak kendala orangtua- orangtua yang barusaja, karena memiliki HP hanya untuk komunikasi saja, bukan untuk aplikasi pembelajaran, sehingga, ya, banyak kesulitan lah setelah pandemi. (belum lagi yang HPnya 1 dipakai gantian ya?) iya.
84
… ke grup orangtua. Tapi pada prinsipnya engga ada komplen, engga ada apa, mereka emang nerima sih. E, bahkan mereka sepertinya seneng karena ga ada ujian nasional, jadi digantikan dengan itu, gitu. Engga terlalu ribet.
c. Dalam hal penyampaian informasi, metode yang digunakan oleh dinas adalah dengan sosialisasi mengenai website ANBK. Karena setiap instrumen dan penjelasan sudah ada didalamnya. Lalu proktor dan teknisi perwakilan dari sekolah menyampaikan ke orangtua.
Ada, sbenernya itu tu di awal mas. Dulu proktor itu dikumpulkan sekali itu, tapi kalo saya ngambil intinya itu diminta untuk selalu, e, apa ya? Lihat di laman ANBKnya itu.
Jadi kita harus mandiri ngelihat itu (website?) websitenya, kalau misalnya engga ya kita bakal ketinggalan info.
Dinas juga senantiasa berkordinasi dengan sekolah- sekolah yang ada melalui grup-grup whatsapp yang ada, supaya jika ada kendala bisa langsung diberi solusi.
Tapi alhamdulilah, yang dari dinas juga sering ngupdate juga di grup (Ada grup WA?) Nggih. Tapi untuk pendampingan ke sekolahnya, per sekolah itu kaya yang dulu mungkin ada nggih bu? Pendampingan ke sekolah, kok kebetulan pas di sekolah ini kemarin njuk belajar sendiri. Belum ada, belum. Saya kan juga awal juga ya. Belum sampai ada pendampingan kesini. Nggih.
Saya juga pertama me ini, menyoba aes, Asesmen ini waktu kemarin nganu programnya yang aplikasinya juga akhirnya belajar sendiri. Gitu. Sama ya itu sering-sering waktu, apa?
udah tanggal-tanggal asesmen itu harus sering buka websitenya.
Kalau engga yaa …. Akan ketinggalan info. Itu.