penghargaan-penghargaan bisa didapatkan oleh sekolah-sekolah ini melalui berbagai lomba yang ada seperti sekolah berprestasi, dan untuk murid melalui berbagai lomba yang diadakan oleh dinas, maupun skala nasional.
Selama ini… belum ada. Nggih. Belum pernah diadakan evaluasi atau lomba untuk, khusus untuk AN ini, belum ada. Iya.
Dari dinas belum ada. (kalau dari sekolah ke murid?) kemungkinan kalau yang sekolah unggulan, mengikuti lomba- lomba dari luar itu, ada. (tapi kalau untuk asesmennya gaada ya?) iya, kalau untuk satu … paling dikasi snack itu ya bu? Satu dinas itu iya … engga yang gimana gitu, penghargaan ke anak- anak, ya trus dimotivasi gitu kan? Karna kan capek to itu. Ada tambahan juga untuk anak-anak itu setiap rabu itu kan pulang sore karna menguplek-uplek nganu itu yang Asesmen Nasional.
Latihan ini. Iya. Ya paling snack itu nggih bu? Sama ada honor juga kalau yang apa namanya, proktor sama teknisi ya bu?
Sama pengawasnya itu. Setiap kali pelaksanaan. Iya tapi..
nggih… tapi dari sekolah juga itu mas. Iya. Anggaran dari sekolah, anggarannya dari sekolah, mboten dari pemerintah enggak. Itu anggaran dari sekolah mas. Jadi, boleh dianggarkan, gitu. Snack itu juga dari sekolah untuk anak-anak itu, tapi untuk penghargaan yang lainnya ini kok mboten enten. Ya dari sekolah, karna sekolah kan terbatas juga kan anggarannya sbenernya juga. Heheheh. Kalau dari pemerintah mau dari uang mana? Engga tau ya?
Selain tidak adanya penghargaan, ternyata juga tidak terdapat keuntungan khusus apapun bagi sekolah- sekolah yang sudah menyelenggarakan Asesmen Nasional ini.
Kuntungan khusus dalam? Dalam apa ya maksudnya ya?
(Apakah ada keistimewaan bagi sekolah yang sudah melaksanakan Asesmen dari 2021?) Kalau keistimewaan sih, engga ya, karena mereka belum melaksanakan karena terkendala beberapa hal, termasuk sarprasnya mungkin. Jadi kalau keistimewaan yo, engga lah ya. Cuman kan istilahnya yo
98
nek kita ikut itu rasane yo seneng juga kan? Karna kita sudah, nah, karna kita sudah bisa memenuhi apa yang diminta pemerintah, itu sih.
Keuntungan bagi sekolah adalah anak-anak sudah bisa berlatih komputer dan literasi. Sekolah negeri juga mengeluhkan mengenai anggaran, karena tidak ada penambahan anggaran.
e.. keuntungan khusus yang utama juga anak-anak sudah ikut latian menggunakan aplikasi. Itu keuntungan yang utama.
(apakah ada yang lain? Misalnya BOSDa nya ditambah? Atau?) hmm… waahhh, mboten… hahaha. Terpangkas. Ini malah menurun e. heheheh. Malah menurun, banyak yang dipangkas e. he’eh. Jangan ngomongin anggaran, kalau anggaran itu….
Eheheheh. Malah menurun. Engga. Iya, malah dirubah, ada yang tidak boleh dimasukkan. Iya. Anggaran juga. Emm, kalau masalah anggaran… mboten.. heheheh.. kita juga, anu, berusaha supaya bisa jalan. Jadi, ini ambil ini, untuk ini ambil ini untuk ini, anggarannya ya… karna, ya, memang keterbatasan anggaran yaa… itu, sehingga terus ini diambil kalau yang ini belum perlu, e, mendadak, mendesak lha dia diambil dulu untuk yang kegiatan … penting/mendesak, itu.
Bagaimana supaya kita tetap jalan. Ya, betul. (tapi kalau ga ditambah ya tetep repot ya?) iya. (kan perbaikannya terus) iya.
Nanti coba disampaikan ya mas di tesisnya itu, tambah gitu heheheh…
f. Mengenai pandangan dari masyarakat, dalam hal ini orangtua murid. Orangtua murid sangat menyetujui sistem ini karena dinilai tidak ribet seperti ujian nasional pada periode sebelumnya yaitu UNBK.
Ya, karna sejak awal sudah kita kasih tahu, bahwa itu dipilih dari pusat, jadi sekolah engga menentukan, gitu. Jadi dari awal sosialisasi, orangtua sudah dikasih tau, “bu, ini yang diambil hanya 30 anak dan kita tidak berkuasa untuk memilih, nama muncul dari pusat. Jadi siapapun yang sudah terpilih di daftar nama tetap (DNT), nah ya itu yang muncul, gatau siapapun nanti yang mengerjakan”. Dan mereka paham sih tanya “o berarti mbok anakku pinter atau anakku an, belum tentu mengerjakan”, gitu, istilahnya gitu. Iya, bahkan yang tahun ini,
99
jumlah siswa kita 31, yang ga ikut kan cuma 1. Kan yang ga ikut cuma 1, jadi otomatis cadangannya kan cuma dia. Nah, itupun orang tua mengijinkan untuk datang ke sekolah sampai teman-temannya selesai mengerjakan baru diajak pulang. Iya to, lho cuma 1 lho yang dipikir, dan orangtua mengijinkan. Karna memang jadi cadangan ya, kamu harus bertanggung jawab.
Kamu harus ke sekolah.
Dinas dan sekolah tidak terlalu menaruh perhatian khusus pada pandangan masyarakat terhadap kebijakan Asesmen Nasional ini. Hal ini dikarenakan Asesmen Nasional bersifat wajib dan suka ataupun tidak tetap harus terlaksana.
Kalau survey, kita secara bukti fisik, jadi misalkan lewat, apa, aplikasi atau semacam voting kita memang belum ya, kita belum. Cuman kita membuatkan edaran ke satuan pendidikan menjelang pelaksanaan ANBK, itu ada poin, ada poin, diantaranya; kepala sekolah bisa memberikan wajib mensosialisasikan pelaksanaan ANBK kepada peserta didik, guru, orangtua. Kalau memang mereka menjalankan, saya yakin orangtua juga sudah memahami. Karena, nuwunsewu, ternyata sampai sejauh ini kan pelaksanaan ANBK antusias orangtua juga ada, berarti kan sekolah betul-betul menjanjikan.
Memang, secara anu itu, gregetnya kurang sih memang, karena kalau Ujian Nasional kan orangtua “anaku ra lulus”, ya kalau ini kan memang tidak menilai individu siswa tapi yang dinilai kan sistem pendidikannya. Jadi ya itu ya, mau gimana lagi memang kebijakan dari pusat seperti itu