• Tidak ada hasil yang ditemukan

A l Qaeda , Terorisme, dan Strategi Nasional AS

AL QAEDA : ANTARA IDEOLOGI DAN APOLOGI

3. A l Qaeda , Terorisme, dan Strategi Nasional AS

radikal yang menginspirasi orang lain untuk bergabung atau mendukung gerakan teroris sejak 9/11.

AS telah membuat kemajuan penting dalam menangani jaringan Al Qaeda dengan menangkap dan menghukum tokoh kunci, menghilangkan tempat berlindung (safehavens), dan memutus dukungan-dukungan luar untuk teroris. AS juga menawarkan solusi terbaik jangka panjang dalam mengatasi teror yaitu dengan mempromosikan demokrasi dan mengutamakan martabat melalui kebebasan manusia yang dilindungi oleh lembaga-lembaga demokrasi. Dalam promosinya tentang demokrasi, AS berpendapat bahwa demokrasi merupakan penangkal jangka panjang yang efektif untuk memenangkan perang melawan teror. Upaya yang harus dilakukan untuk mencegah jaringan teroris adalah menolak senjata pemusnah massal, menolak dukungan dan perlindungan terhadap negara- negara tempat tumbuhnya teroris.

Dalam doktrin di atas, perlawanan terhadap teror bukan hanya terhadap Al Qaeda sebagai musuh yang terus dikejar karena dianggap masih berbahaya, tetapi musuh utama yang tidak kalah penting yaitu gerakan transnasional dari organisasi-organisasi radikal, jaringan, individu dan negara yang mengeksploitasi Islam dan menggunakan terorisme untuk mencapai tujuan ideologis. Dalam sudut pandang AS teroris memanfaatkan Islam untuk mewadahi visi politik kekerasan, yang dipicu oleh ideologi radikal dan keyakinan “palsu” bahwa AS adalah penyebab sebagian besar masalah yang melibatkan umat Islam. Mereka yang mengklaim sebagai musuh AS berusaha mengusir kekuatan Barat dan pengaruhnya dari dunia Muslim. Gerakan permusuhan tersebut dianggap bertujuan untuk menciptakan dan mengeksploitasi perpecahan antara dunia Muslim dan non-Muslim dan perpecahan dalam dunia Muslim itu sendiri.

Para teroris mendistorsi gagasan jihad sebagai panggilan berperang dengan kekerasan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang mereka anggap sebagai murtad atau kafi r, termasuk semua orang yang tidak setuju dengan mereka. Sebagian besar serangan teroris sejak 11 September telah terjadi di negara-negara Muslim dan sebagian besar korban adalah Muslim. Sejumlah kelompok dan individu lain juga menggunakan teror dan kekerasan terhadap warga sipil tidak berdosa untuk mencapai tujuan politik mereka.

Dalam strategi AS melawan teror disampaikan pula pandangan berbahaya dari teroris yang membenarkan kekerasan sebagai cara untuk mencapai visi mereka dengan menumbuhkan kebencian, ketakutan, dan penindasan. Mereka menggunakan bom bunuh diri dan kekejaman lainnya terhadap orang yang tidak bersalah sebagai sarana untuk mempromosikan keyakinan mereka. Ketidakpedulian mereka terhadap kehidupan manusia dan keinginan untuk menimbulkan kerusakan dan bencana di AS dan negara- negara sekutunya di seluruh dunia telah memicu mereka untuk membuat senjata pemusnah massal. AS berpendapat untuk tidak membiarkan para teroris yang mengancam dengan senjata yang merusak dunia.

AS berkeyakinan bahwa solusi jangka panjang untuk memenangkan perang melawan teror adalah mengangkat martabat manusia melalui demokrasi. Demokrasi menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia, termasuk kebebasan beragama, berbicara, berkumpul, dan berserikat. Demokrasi melaksanakan kedaulatan secara efektif dan menjaga ketertiban di dalam negara mereka sendiri, mengatasi konfl ik dengan cara damai, melindungi sistem secara independen dan tidak memihak, menghukum kejahatan, dan menolak korupsi. Demokrasi juga membatasi jangkauan pemerintah dan melindungi lembaga-lembaga masyarakat sipil.

Dalam doktrin perlawanan AS terhadap terorisme disampaikan pula mengenai pertarungan gagasan dengan mengemukakan pentingnya mengenali hal-hal yang menimbulkan terorisme. Menurut doktrin ini, terorisme bukan semata-mata produk kemiskinan karena banyak pembajak pesawat dalam peristiwa 11 September berasal dari latar belakang kelas menengah, dan pemimpin teroris, seperti bin Laden, berasal dari keluarga terpandang. Terorisme bukan akibat dari permusuhan terhadap kebijakan AS di Irak. AS diserang oleh teroris sebelum 11 September, bahkan jauh sebelum AS menggulingkan rezim Saddam Hussein. Negara-negara yang tidak berpartisipasi dalam koalisi di Irak pun tidak terhindar dari serangan teror.

Terorisme bukan pula disebabkan oleh masalah Israel-Palestina. Al Qaeda merencanakan untuk serangan 11 September dimulai pada tahun 1990-an, selama dalam masa proses perdamaian Israel-Palestina. Jaringan Al Qaeda menjadi target AS jauh sebelum AS menjadi target Al Qaeda. Teroris

direkrut dengan meyakinkan pengikut dengan menjadikan AS sebagai pihak lawan yang dekaden, mudah diintimidasi, dan akan mundur jika diserang.

Dalam doktrin perlawanan terhadap teror, disebutkan beberapa sebab terjadinya terorisme, di antaranya, keterasingan yang bersifat politis. Teroris transnasional direkrut dari populasi yang tidak memiliki suara dan peran dalam pemerintahan di negara, mereka yang apatis dan tidak melihat hal positif yang dapat membawa perubahan di negaranya. Terorisme juga bisa muncul karena kegagalan mereka merasakan dan melihat realitas sehingga menyalahkan orang lain dan ketidakadilan yang dirasakan pada masa lalu individu. Retorika para teroris yang merasa disakiti pada masa lalu menjadi motivasi kuat untuk membalas dendam dan teror. Teroris juga direkrut lebih efektif dari populasi yang mempercayai informasi-informasi yang dipengaruhi oleh teori-teori konspirasi. Distorsi dalam menyaring fakta- fakta menimbulkan prasangka dan propaganda yang diarahkan untuk kepentingan tertentu.

Saat ini, aktivitas diplomasi menunjukkan peningkatan peran yang sangat signifi kan seiring dengan semakin kompleksnya isu-isu dalam hubungan internasional. Apalagi sejak serangan teroris ke gedung ikon ekonomi AS yang terletak di jantung kota New York, World Trade Center (WTC) dan kantor pusat pertahanan AS Pentagon di Washington D.C. pada 11 September 2001. Wacana tentang ancaman teroris yang sebelumnya tidak begitu populer, menjadi agenda utama AS. AS mengajak masyarakat internasional untuk bersama-sama memerangi terorisme. Dalam perkembangannya, upaya AS memberantas terorisme seringkali dikaitkan dengan negara Islam.

Hal ini disebabkan aksi-aksi terorisme yang terjadi di AS dilakukan oleh pelaku yang mayoritas berasal dari negara Islam. (Abdo, 2006) Hal inilah yang menyebabkan AS terlihat berperilaku diskriminatif terhadap negara-negara Islam. Perilaku diskriminatif AS terlihat dalam pengurusan visa, misalnya dengan mengeluarkan regulasi pemberian visa melalui syarat-syarat yang khusus untuk negara-negara Islam, misalnya warga negara Indonesia atau Malaysia dan adanya travel warning ke Indonesia ketika terjadi peristiwa pengeboman di Bali (2002, 2005).

Berbeda dengan George W. Bush, Presiden Barrack Obama menjanjikan kebijakan luar negeri yang lebih sederhana, lebih sesuai dengan lembaga-lembaga internasional dan hukum internasional. Presiden Obama dalam pidatonya di Universitas Al-Azhar, Mesir 4 Juni 2009, menjelaskan pandangannya mengenai Islam dan berbagai masalah dunia Islam sebagai usaha memperbaiki citra AS di mata umat Islam.

Terdapat berbagai alasan yang melatarbelakangi kebencian dunia Islam terhadap AS, di antaranya intervensi AS terhadap urusan internal dunia Islam, penguasaan sumber-sumber kekayaan di negara-negara Islam, invasi militer Irak dan Afganistan, dukungan terhadap zionis Israel dan anggapan pelecehan terhadap nilai-nilai suci umat Islam.

Selain pidato di Mesir, langkah yang dilakukan Obama dalam upaya menaikkan citra AS di dunia muslim yaitu memberikan wawancara pers pertamanya dengan al-Arabiya. Dalam wawancara tersebut, Barack Obama mengatakan bahwa AS bukan musuh Islam dan menyatakan bahwa tugasnya kepada negara-negara Muslim adalah menyampaikan hal itu dan menata kembali kebijakan pemerintahan dalam menangani terorisme.

Dalam pemerintahan Obama, AS menjauhi era Bush dengan doktrin perang melawan terornya. Istilah ini dianggap memberi kesan bahwa AS berperang dengan seluruh dunia (terutama negara yang berpenduduk Muslim). Kebijakan Obama lebih ke arah merangkul dunia Muslim dan memperbaiki citra AS dengan langkah-langkah di antaranya melarang penyiksaan pada pelaku teror, menutup penjara Guantanamo, dan pusat penahanan rahasia Badan Pusat Intelegen AS (CIA). Pendekatan baru ini mendapat tentangan dari dalam negeri, terutama kalangan konservatif, didengungkan oleh Dick Cheney, yang menganggap Obama membahayakan keamanan nasional dengan menghapus sistem antiteror zaman Bush.

(Kompas, 11 September 2009). 