MEMBACA” AL QAEDA
1. Apologi Perlawanan dan Naratologi
Apologi berasal dari bahasa Yunani dengan arti “berbicara dengan rendah hati”. Apologia dalam bahasa Yunani pun berarti pembelaan dari dirinya sendiri untuk kejadian yang menimpa dirinya sendiri, seperti yang dilakukan Socrates yang melakukan pembicaraan secara formal terhadap dirinya sendiri. Tetapi, pembelaan diri Socrates tersebut ditulis oleh Plato. Maka, pembelan diri Socrates tersebut dilakukan Plato untuk membela Socrates.
Kata apologia menjadi abadi dan menyebar ke Roma dan Inggris setelah digunakan Plato sebagai judul naskah drama sejarah karya pertamanya.
(Edward, 1998)
Di dalam drama apologia, Socrates ditempatkan sebagai tokoh utama.
Tokoh ini direpresentasikan sebagai korban konstelasi kelas aristokrat dan kaum sophis. Kelas aristokrat merasa terganggu karena kalah popularitas oleh Socrates. Sophis dipermalukan Socrates karena diungkap keterbatasan pengetahuan mereka di hadapan generasi muda. Kemudian, kelas Aristokrat dan kaum sophis merepresentasikan kepada warga polis bahwa Socrates adalah tokoh yang telah mengganggu ketentraman di Athena dan merusak generasi muda polis Athena. Konstelasi kelas dan kaum sophis berhasil memengaruhi masyarakat polis Athena agar Socrates dihukum mati. Maka, tokoh Socrates dihukum mati. Dalam apologia ini diperlihatkan bahwa bukan Socrates yang bersalah melainkan kelas Aristokrat dan kaum Sophis.
(Edward, 1998)
Socrates memiliki kesempatan untuk melarikan diri dan murid- muridnya memaksanya melarikan diri. Akan tetapi, Socrates menolak ajakan tersebut. Ia sudah menjadi korban aspek buruk sistem demokrasi polis Athena, tetapi sistem demokrasi tetap lebih baik daripada sistem kerajaan (baca totaliter). Maka, ia harus tetap menghargai keputusan lembaga peradilan polis Athena. Ia harus tetap mematuhi vonis hukum mati, walaupun itu menyakitkan. Sebagai apologia terhadap Socrates, teks ini merepresentasikan Socrates sebagai orang patuh (baik) terhadap polis.
Sebagai apologia terhadap polis Athena, teks ini merepresentasikan bahwa polis Athena lebih baik daripada sistem kerajaan di negara lain. (Edward, 1998)
Naratologi berasal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Narratio berarti cerita, perkataan, kisah, hikayat; logos berarti ilmu. Naratologi juga disebut teori wacana (teks) naratif. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik, seperti model sintaksis, sebagaimana hubungan antara subjek, predikat, dan objek penderita. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator, demikian juga dengan wacana dan teks, berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefi nisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fi ksional dalam urutan waktu.
Shlomith Rimmon-Kenan (2005) menjelaskan bahwa wacana naratif meliputi keseluruhan kehidupan manusia. Meskipun demikian, ia hanya mencurahkan perhatiannya pada wacana naratif fi ksi. Oleh karena itulah, ia mendefi nisikan fi ksi naratif sebagai urutan peristiwa fi ksional, berbeda dengan narasi lain, seperti fi lm, tari, dan pantomim, narasi fi ksi. Dengan demikian, fi ksi naratif mensyaratkan: (a) proses komunikasi, proses naratif sebagai pesan yang ditransmisikan oleh pengirim kepada penerima, dan (b) struktur verbal medium yang digunakan untuk mentransmisikan pesan.
Atas dasar pemahaman Genette, Rimmon-Kenan membedakannya menjadi cerita, teks dan narasi (story, text, dan narration). Story merujuk pada peristiwa-peristiwa yang direkonstruksikan dalam susunan kronologi, bersama para pelaku dalam peristiwa tersebut. Story merupakan urutan kejadian, sedangkan teks adalah wacana yang diucapkan maupun ditulis.
Dalam hubungan ini jelas bahwa peristiwa tidak kronologis dan keseluruhan narasi berada dalam perspektif fokalisasi. Narasi adalah tindak atau proses produksi, yang mengimplikasikan seseorang, baik sebagai fakta maupun fi ksi, yang mengucapkan atau menulis wacana.
Cerita dan penceritaan, sebagai dikotomi antara fabula dan sjuzet, dibicarakan secara serius dalam formalisme. Perbedaan tersebut juga mewarnai periode strukturalisme. Perbedaan pendapat mengenai unsur- unsur karya sastra yang lain, seperti tema, penokohan, latar, sudut pandang, dan sebagainya sebagian besar diakibatkan oleh perbedaan pemahaman mengenai hakikat cerita dan penceritaan. Kelompok postrukturalisme mulai meragukan adanya makna yang pasti. Hubungan hakiki antara
fabula denga sjuzet, yang diduga merupakan manifestasi kecenderungan sebagaimana diindikasikan dalam oposisi biner, sebagai subjek dan objek harus ada makna yang baru. Hubungan diadik diperbaharui menjadi triadik.
Pembicaraan ini memerlukan perhatian secara khusus, di satu pihak sesuai dengan tujuan buku ini untuk memberikan perhatian pada wacana naratif, di pihak lain sebagai akibat perkembangan visi sastra kontemporer dengan hakikat multidisiplin. (Rimmon-Kenan, 2005)Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural, analisis naratif merupakan bagian dari ideologi. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. Revolusi, restorasi, dan afi rmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fi sik, politik, dan ekonomi, tetapi juga melalui kata-kata, semboyan, dan wacana. Pada paham pascastruktural, naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia, sehingga kajiannya bersifat interdisipliner.
Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks.
Retorika di zaman Yunani Kuno, oleh kaum sophie diajarkan kepada orang-orang awam, pengacara, serta para politisi. Retorika ajaran kaum sophie menitik beratkan pada cara penyampaian agar pendengar terpengaruh ucapan pembicara, bukan pada isi yang dibicarakan. Plato menyindir kaum sophie karena menurutnya retorika yang diajarkan kaum sophie miskin teori.
Aristoteles (2007), murid Plato, berpendapat bahwa retorika itu sen diri sebenarnya bersifat netral. Retorika bisa digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan yang mulia atau hanya menyebarkan dusta belaka.
Aristoteles berpendapat moralitas adalah yang paling utama dalam retorika.
Akan tetapi dia juga menyatakan bahwa retorika adalah seni. Retorika yang sukses adalah yang mampu memenuhi dua unsur, yaitu kebijaksanaan (wis- dom) dan kemampuan dalam mengolah kata-kata (eloquence).
Menurut Aristoteles (2007), fungsi retorika sebagai komunikasi
‘persuasif’ dan kualitas persuasi dalam retorika bergantung kepada tiga aspek pembuktian, yaitu logika (logos), etika (ethos), dan emosional (pathos).
Pembuktian logika berangkat dari argumentasi pembicara atau orator itu sendiri, pembuktian etis dilihat dari bagaimana karakter dari orator
terungkap melalui pesan-pesan yang disampaikannya dalam orasi, dan pembuktian emosional dapat dirasakan dari bagaimana transmisi perasaan dari orator mampu tersampaikan kepada khalayaknya.
Retorika menurut Herrick (2001) adalah ilmu yang mengajarkan orang tentang keterampilan menemukan sarana persuasif yang objektif dari suatu kasus, studi yang mempelajari kesalahpahaman, penemuan saran, dan pengobatannya. Tujuan retorika adalah persuasi, yang mengacu kepada yakinnya pendengar akan kebenaran gagasan yang dibicarakan oleh pembicara atau penutur. Tujuan retorika adalah membina saling pengertian yang mengembangkan kerjasama dalam menumbuhkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat lewat kegiatan bertutur. Fungsi retorika membimbing penutur mengambil keputusan yang tepat. memahami masalah kejiwaan manusia pada umumnya dan kejiwaan pembaca, menemukan ulasan yang baik, mempertahankan diri serta mempertahankan kebenaran dengan alasan yang masuk akal.
Dari prinsip-prinsip tersebut di atas, Herrick (2001) menyatakan bahwa retorika memiliki karakteristik sebagai berikut: terencana, disesuaikan menurut siapa pembaca atau pendengarnya, dibentuk oleh motif manusia, merupakan respon pada situasi tertentu, dan terdapat aspek persuasi. Dengan karakteristiknya yang sedemikian rupa, retorika memiliki fungsi-fungsi sosial yang ada dalam sebuah masyarakat yang demokratis, karena menurut retorika mampu untuk: membantu advokasi, menguji sebuah gagasan, memberi kekuatan, menemukan fakta-fakta, membentuk pengetahuan, membangun komunitas.
Salah atau cara yang paling efektif untuk membangkitkan respon massa adalah dengan menggunakan pilihan kata/frase yang tepat. Beberapa tipe pilihan yang bisa dipakai untuk membangkitkan massa adalah (1) labelling, yang merupakan lawan dari eufemisme, yang artinya menggunakan istilah- istilah yang dianggap tegas secara ofensif untuk menggantikan istilah-istilah yang tidak/kurang ofensif, (2) puffery, yang berasal dari kata puff, yang artinya meniup-niupkan atau membesar-besarkan, (3) metafora, bermakna menerangkan sesuatu yang tidak dikenal dengan mengidentifi kasikannya dengan sesuatu. yang lebih langsung, jelas dan lebih dikenal. (hal.16).