Adat istiadat ini adalah suasana peraturan ja n g mengatur tjaranja pergaulan antara masjarakat besar dan ketiil denean per-
antara p e ^ e o r a n S n T eri - masing2. ^ fen om a ti, dengan mengindahkan kedudukan
J a n g tin ggi kedudukainnia akan tptan tinftm + *
l»n g, dan io„ g tetji, a k a A t a p
ialah seperti kata adat : Jang tua dipermulia, jang ketjil dika- sihi, soTiid gedang mulia nianuliuhdn. Akan t6tapi semuanja mesti tunduk pula kepada peraturan" jang tertentu seperti : Jang tjerdik LeralaJi, jang gedang merdesa. Orang tjerdik. t.jeaidekia mesti men- dengarkan adpis2 atau nasihat2 dari orang2 jang adpisnja patut diterima. Ia tidak boleh menjangka, bahwa ia sadjalah orang jang pandai, sedang orang2 jang diberati dengan memerintah dalam berbagai tjorak, mesti memperhatikan pula peri kemanusiaen. Ia ti
dak boleh menjangka bahwa katamja sadjalah jang betul.
Pergaulaai antara keluarga baik jang langsung seperti berajiak berkemenakan, ataupun jang tidak langsuaig seperti beripar-berbe- san, berandan persemandan, dju ga diatur oleh susunan adat is
tiadat. Oraaig jang mengeluar dari peraturan adat istiadat ini, dinamakan orang jang tidak beradat. Tidak beradat ini adalah satu^
keliinaan jang amat sangat bagi orang Minangkabau.
Melamggar adat istiadat ini, tidak selamanja bisa dibawa lc-smuka hakim, karena jang dilanggarnja itu tidaklah barang jang
„eonereet” , hanja perasaan dan rasa kehormatanlah jang dising- gungnja. M isabija telah mendjadi kebiasaan pula kepada orang Minangkabau, penjapa dan penegur, apabila bertemu dengan karib dan baid ataupun dengan kenalan. D jika bei’temu dengan mereka itu ditengah djalan, atau dimana sadja, sekiranja mereka tidak disapa, maka telah terlanggarlah adat sopan santun. Betul jang bersalah itu tidak bisa dihukum karena kesalahannja ini, akan te- uapi perasaan kita telah tersinggung olelmja dan mudah Idta berpi- kir, bahasa dia adalah sombong.
Pun beranalc bermenantu djuga dilcungkung pula oleh adat is
tiadat itu. Menurut kata2 jang lazim terpakai di Minangkabau, menantu itu sifatnja adalah aim diatas tunggul. Dia hanja seorang lain, tidak sesuku dengan isterinja, dan apabila angin tiba, maka p.bu itu boleh dalam sekedjap mata sadja habis terbang ditiup angin itu.
Tetapi sungguhpun begitu, adat istiadat tentangan menantu itu diadakan pula. Karena dia adalah seorang asing, maka dia di pandang sebagai seorang tamu jang akrab, dan dia tidak boleh dipermudah-mudah begitu sadja. Orang jang tidak menghormati tamu, dipandang tidak sopan. D jika sekiranja menantu itu mem
buat salah satu kesalahan, ataupun sebuah keehilafan dirumah isterinja (orang Minangkabau, kalau telah beristeri mesti tinggal dirumah isterinja maka bukanlah menantu itu jang dipei"
salahkan melainkan anak kita, dengan perkataan adatnja : Pukul anak, sindir menantu. Akan tetapi sebaliknja menantu itu tenkat pula oleh beberapa peraturan2, supaja ia disajangi oleh mertuaiya dan dihormati oleh keluarga isterinja.
Menurut adat, menantu dibagi pula pangkatnja menurut pan- ciai tidaknja dia m endjadi menantu orang. Menantu itu dmama can d ju ga orang semenda, oleh keluarga pihak jang perempuan.
Pembagian orang semenda adalah seperti berikut :
1. Orang semencla nenek mamak. Ia adalali orang jan g sama me- ngatur barang sesuatu dalam keluarga isterinja itu 'dengan tidak mengambil halt mamak rumah. Ia sama pula mengam-
* puwgkan mana jang Urserak, dan mendjem put man a jang ter- .tjetjer, mengingatkan mana jang lupa, sehingga dalam kam
pung isterinja itu, paliamnja dianggap sebagai paham neaiek mamak. Dalam segala lial jang mungkin terdjadi disana, per- timbangannja perlu diminta, dia tidak akan ditinggalkan orang
dalam tiap2 perundingan 'dikampung itu.
2. Orang semenda bapak padja. Orang serupa ini hanja dipakai untuk memperbanjak anak Adam sadja. D ia tidak ada menga- tjuhkan apa jang terdjadi 'dikampung isterinja itu, padanja
lebih penting suasana lahir dan batin jan g terdjadi dalam kampungnja sendiri.
3. Orang semenda langau hidjau. Seperti kelakuan seekor langau hidjau ia terbang kemari merongong, kesana m erongong, serta bertelur dalam sampah. Sudah itu terbang pula kemana dia su- ka dengan tidak mempunjai pedoman jang tetap. B egitu pula- lah sifatnja orang semenda jang mau berbini banjak (kemari merongong kesana merongong) dan meninggalkan isterinja jan g telah hamil (mengandung bangan) dengan tidak memberinja sedikit djuga bekal untuk djaminan hidup.
4. Orang semenda lapik buruk. Ia adalah orang semenda jan g amat pandir dan tidak mau keluar rumah untuk berusaha se
perti kesawah dan keladang, bagi nafkah h idupnja anak ber- anak.
Jang disulcainja ialah duduk bermenung ditepi bendul, karena
’ sifatnja jang pemalas itu.
5. Orang semenda katjang miang. Inilah orang semenda ja n g pe- ngatjau, pengharu-biru dalam kampung antara ipar dengan besan, antara andan dengan persemandan, antara pem bajan se- samanja (orang jang sama beristeri ketempat jan g satu) dan antara orang jang bersau'dara.
Katjang miang menerbitkan gatal jang amat sangat dan gatal jang pindah memindali pada orang jang menghampirinja.
Dalam susunan adat istiadat itu djuga kata m em punjai lima deradjat pula jaitu :
j . Kata mendaki, jaitu perkataan dari kemenakan kepada mamak, atau dari anak kepada bapak, ataupun dari adik kepada kakak, ataupun dari murid kepada guru.
Kata2 itu berisi penuh dengan kata penghormatan.
2. Kata melereng, jaitu kata mertua kepada menantu, kata2nja penuli berisi 'dengan kata kiasan dan kata sindiran. Oleh sebab menantu itu dipandang sebagai seorang tamu jang "akrab, ti- 'daklah selesa mertua berkata tepat kepadanja.
3. Kata mendatar, jaitu kata2 jang diutjapkan kepada sesama be
sar, penuh pula berisi dengan perkataan hormat menghormati serta tenggang menenggang perasaan, agar persahabatan jang
telah ada tetap mendjadi erat. o
O
4. Kata merendah, jaitu kata dari seorang perempuan mengambil liati suaminja penuh pula dengan daja peaiarik. 1 5. Kata menurun, jaitu kata dari mamak terhadap kemenakan,
dari bapak kepada anak, dari kakak kepada adik, dari gury.
kepada murid, kata2 mana penuh berisi nasihat dan kasih sa- jcing.
Begitupun adat istiadat mengatur pula tjara2 pergaulan ber- O
korong 'dan berkampung sampai bernegeri.
Kalau sekiranja kita bertemu dengan kerdja baik, mestilah berhimbauan (panggil memanggil seru menjeru supaja sama2 me- rasai nikmatnja) dan kalau tersua dengan kerdja buruk, maka mestilah berhambauan (berlompatan untuk membasmi keburukan itu 'dengan selekas mungkin).
Kalau tersua dengan pekerdjaan berat atau ringan didalam korong (iinglmngan keluarga kita) jang patut dipersama-samakan mengerdjakannja, maka pekerdjaan itu kalau berat akan berpikul, kalau ringan akan berdjindjing, artinja anggota korong itu tidak dapat mengelak, bagaimanap.un djuga alasan jang dikemukakan.
Mau tak mau ia akan kita kerdjakan djuga.
Kalau pekerdjaan serupa itu diketemukan didalam kampung, maka kalau berat dia akan dipikul dan kalau ringan akan didjin- djing. A rtin ja kita hanja bersifat untuk menolong sadja, sedang berat ringan pekerdjaan itu ditanggung langsung oleh jang berke- pentingan.
Kalau dia tersua didalam negeri, artinja adalah untuk umum semata-mata maka adalah pekerdjaan itu berat sepikul, ringan sedjindjing, artinja menjumbang sekedar kekuatan kita.
Pun untuk memelihara negeri serta isinja, ada pula susunan peraturan adat istia'dat dengan katanja : Penghulu sebuah hukum, alim ulama sebuah kitab, manti sama sekata, orang tua seundang- undanff, hulubalang sama semalu, orang muda (anak buah) sepeti- dapat. Untuk mentjapai itu hendaklah penghulu bersifat mulia — tidak bertjatjat perangainja, basa andiko hendaklah bersifat kaja = radjin memberi pertundjuk, dan panggatua bersifat sampai = menjampaikan segala amanah.
Pun mereka hendaklah tjerdik, tahu, pandai.
Tjerdik — pandai memelihara barang sesuatu.
Tahu — pandai meletakkan sesuatu ditempatnja, 'djangan hendak- n ja kuda diberi berkelaivan, djawi diberi berkekang.
Pandai = pandai melaksanakan sesuatu, awed hendaklah mengenal achir, pandai memperhitungkan segala akibat jan g mungkin terdja-
di. . . o •
P.ohani dikendalikan pula oleh adat istiadat, seperti kata-ai.]a.
Akal dipakai untuk pendjalani = berpikir untuk merentjanakan sesuatu dan berpikir pula bagaimana kelantjaran pelaksanaan ren- tjana itu.
Ilmu dipakai untuk mengetahui = dengan ilmu dapat dikira-kira kan 'akibat apa jang mungkin terdjadi.
Paham adalah perulangan = paham itu dipakai tempat surut, ka
lau perlu kembali : tertumbuk biduk dikelolckan, tertum buk kata dipikiri.
Budi adalah penaruhan = budi ini adalah suatu kekuatan rohani jang kita t^ruh untuk peninggikan derad j at ldta jan g harganja tak 'dapat ditawar-tawar.
A dapun penghulu2 jang mendjadi wakil rakjat dalam madjelis kerapatan dibagi pula menurut pribadi masing2 dalam beberapa tingkatan, sungguhpun tinggikan itu tidak diingini seluruhnja oleh
adat, akan tetapi telah mendjadi pembawaan pribadi seseorang.
Penghulu jang diharapkan oleh adat adalah penghulu nenek mamak, ialah seorang jang bidjaksana, pandai mengagak dengan memberi, tahu dirasa dengan periksa, mengetahui bahasa • dizahir orang menjembah, dibatin kita menjembah, bahwa penghulu adalah untuk anak buah bukan sebaliknja anak buah untuk penghulu se
perti kata pantun adat :
Belum berkilat telah berkelam.
Bulan nan sangkap tiga puluh.
Belum terlihat telah terpaham.
Lah njata tempat bekas tumbuh.
Adapula penghulu jang tjongkak serta sombong, menandakan ia tidak berilmu, tan kemari melagalc sadja, tinggi ruap (buih) da- ri botol, kokok tinggi arti tak ada-, londjak seperti labu dibenam, te- leng bak tjupak hanjut, katanja barang terkatakan sadja, suara ha
nja terbawa oleh nafas, rendah tjotok tinggi gelabung, tikamnja dibawali sadja. Penghulu serupa itu dinamakan penghulu ajarn gedang.
Adapula penghulu jang kurang berilmu dan tidak pula mau men
tjari dan menambah ilmu jang kurang itu. Dalam madjelis kerapatan ia hanja membisu sadja dan kalau ditarijakan bagaimana buah p i- kirannja tentang sesuatu hal, maka dia tidak dapat memberinja, malahan dia menumpang sadja pada paham orang lain. Penghulu sematjam. itu dinamakan penghulu tmguk-taguk jaitu tong-tong, jang sifatnja dipukul baru berbunji.
Adapula penghulu jang digelari penghidu pisak serawal, karena akalnja busuk budinja haring, pandjat katjang nak berbvah, pilin
djering nak bcrisi, dan kerdjanja mengharu-biru, ketjuudang disini, gili disana, bergundjing hilir dan mudik supaja boleh menghukum ditengah-tengah diantara orang jang mendjadi bersengketa karena kelakuannja.
Telali mendjadi lembaga pula bagi anak Minangkabau untuk merantau kenegeri lain, pentjarikan punggung jang tidak bertutup, kepala jang tidak bertudung seperti kata pantun adat :
Kerantau medang berbulu, Berbuah berbunga belrnn, Kerantau bud jang dahulu Dirumah berguna belum.
Maka sebelum ia melangkah kaldnja menudju kenegeri lain itu, ia ditundjuk diadjari lebih dahulu oleh nenek mamaknja serta ibu bapanja bagaimana nanti dinegeri orang harus bertindak dan ber- laku seperti bunji pantun ibarat :
Kalau pandai berkain pandjang, Lebih sebaik kain sarung.
Kalau pandai berinduk semang Lebih dari pada berinduk kandung.
Ia diadjar bermulut manis, berketjindan m wah, budi baik basa ketudju, kalau menjauk dihilir-hilir, kalau berkata dibawah-bawah nak sajang orang ke aivak. Kita disifatkan ^eperti membawa ajam betina karena udjud kita tidak akan mentjari lawan, akan tetapi kalau ajam betina itu digertak-gertak maka dia akan berkokok de
ngan sendirinja. Telali mendjadi pakaian pula bagi anak Minang
kabau, musuh tidak ditjan-tjari, bertemu pantang. dielakkan, esa kilawg, dua terbilang, aivak si Bujung kata ibu.
Itulah sebabnja maka tiap2 orang jang akan pergi meraaitau itu diperlengkapi lebih dahulu dengan ilmu silat barang kadarnja dan diadjarkan pula beberapa mentcra ilmu batin untuk mendjaga diri.
Adapun merantau itu ada dua matjamnja :
Pertama merantau setjara darat, dan kedua merantau setjara laut.
Orang merantau darat perlu mentjari tepatan atau induk semang ditempat jang baru itu, sebagai tempat berlindung. Biasanja jang mendjadi tepatan itu ialali orang jang sepersukuan atau jang sene- geri (atau berdekatan negeri), karena kalau dekat mentjari suku, djauh m entjari hindu.
Orang merantau laut tiukuplah mentjari perlindungan pada orang jang berkuasa dikuala seperti sjahbandar atau tua pasar.
Namanja menurut adat : Dagang darat bertepatan, dagang laut beriambangan. Tambang artinja tali djadi jang dimaksud tali pen- darat.
A dat andan persemandan diatur pula serapi-rapui]a, supaja perbauran antara laki isteri dapat kekal dan tidak dapat diganggu.
A dat istiadat di Minangkabau mengatakan atau mengliendaki dalam peraturannja seperti berikut : nikah dengan isteri, kawin dengan 'kaum keluarga, dan palccng semenda pada orang kampung.
Akan mentjapai tjita2 adat itu, tentulah mesti dimiliki acblak serta budi pekerti jang tinggi mutunja. Jang m endjadi rang se- menda mesti menginsjafi kedudukannja sebagai orang sememda, dan fam ili ja n g perempuan wad jib pula menginsjafi kedudukannja sebagai tempat orang bersemenda. Maka dari itu disjaratkan pada orang jang baru sadja kawin, sesudali helat kawiai jang sebenarnja selesai akan pergi berdua mendjelang famiU jamg laki2 dan fam ili jang perempuan untuk memperkenalkan dii'i supaja nak djelas siapa menantu awak, kalau sekiranja nanti bertemu ditengali djalan boleh sapa menjapa.
Mereka jamg mendjelang itu didjamu oleh orang jan g didje- lang .dengan sepertinja.
Telah sama diketaliui pula bahwa pengaruh mertua sangat be
sar dalam soal kehidupn orang berlaki isteri, kadang2 pengaruh mertua itu dapat pula membawa pertjeraian antara dua laki isteri dan telah banjak tjontoli jang dilihat, tetapi sebaliknja pengaruh mertua itu pulalah jang atjap kali dapat mempererat silaturahim antara stiami isteri. Menurut adat-istiadat itu hendaklah ipar besan hormat menghormati, kalau mereka berdekatan tempat tinggal hen
daklah djelang-mendjelang dan djika kebetulan berdjauhan tem
pat tinggal hendaklah mereka tjinta-mentjinta.
Telah mendjadi adat kebiasaan pula di Minangkabau, djika orang akan masuk puasa dibulan Ramadan, ia berlimau lebih da
hulu, mungkin berlimau itu peninggalan dari agama tua jang dianut sebelum Islam datang.
Maka mendjadi utang jang pentinglah bagi si menantu untuk menghantarkan limau ketika itu kepada mertuanja dan ia pula mesti menghantarkannja sendiri, atau kalau dia berhalangan dian- tarkan oleh ibunja atau saudaranja. Mungkin mcngantar limau itu mempunjai hikmah, hubaja2 mertuanja itu akan melakukan puasa- nja dengan sesempuma-sempurnanja, dan akan diterim a oleh Tuhan Rabbulalamin. Begitu pula selama puasa berlangsung seku- iang-kuramgnja sekali, si menantu mengantar perbukaan jaitu djuadah untuk mertua itu sebagai penghiburannja, jan g selama ini wad jib menahan nafsu makan, dan supaja si mertua merasa se- nang berpuasa. Tidak dikerdjakannja oleh menantu hal jang dua tersebut diatas ini diambil berat oleh sang mertua, dam mungkin akan membawa akibat pertjeraian dua orang laki isteri.
Pendek kata menantu mesti pandai mengambil hati mertua, dan lebih menghormatinja dari menghormati ibu sendiri, sebab ibu kita bagaimana djuga keadaanmja ia akan tetap men
djadi ibu kita djuga,
D jika sekiranja terdjadi kerdja ringan atau berat dirumah sang meitua, maka semendan perlu diberi tahu, dan dia mesti da- tang tidak sebagai tamu tapi sebagai penolong melaksanakan peker- djaam itu. Maka tampaklah oleh orang banjak, bahwa antara mer
tua dan monantu antara a'ndan dan persemandan terdapat saling mengerti jang erat, dan mereka hidup dalam suasana idamai.
Dalam helat perkawinan semandau jang muda2 disuruh dudnk mendjadi teman anak tiara, dan semandan jang lain jang lebih tua akan menerima tamu atau disuruh mengurus apa jang kurang su
paja helat itu mendjadi berseri-seri.
Dalam pekerdjaan sab it hirik (memotong padi) "semandan perlu pula dipanggil untuk mengurus makanan orang jang beker- dja.
Untuk mendjaga hati masjarakat dalam soal mengambil nie- nantu, maka diadakan pula batas2 jang tidak boleh dilanggar begi- tu sadja oleh jang berkepentmgan, dan kalau dilanggami/i djuga, maka sibersalah akan diutangkan menurut adat, ;atau akan disisih- kan dengan lain perkataan, jang bersalah keluar dari hub.migan masjarakat.
Perlu kita ketahui perbedaan antara dibm ng sepandjang adat, dengan disisih sepandjang adat. Jang dibuang sepandjang adat ialah mereka jang telah diutangkan lebih dahulu karena membuat salali satu kesalahan akan tetapi engkar .untuk membajar utang. Maka dia tidak dibawa sehilir semudik, kebukit tidak sama mendaki, ,ke- lurah tidak sama menurun, ditempatkan dilurah jang tidak berair
■dibukit jang tidak berangin, dipakukan diawang3.
Akan tetapi dalam pengertian disisih, ia tidak pemail dibuang oleh masjarakat, melainkan masjarakat jang menghindarkan diri dari padanja, oleh karena perangainja selalu menggandjil, tidak disukai oleh orang banjak, dan tidak, pula mau menerima nasihat dari orang tua2 bagaimana liendaknja mesti bertindak. Disisih adalah lebih berat dari dibuang, karena kalau jang dibuang itu mau membajar utangnja nan sepandjang adat, maka dengan sendirinja ia masuk kembali kedalam masjarakat. Akan tetapi orang jang disisih tidak dapat berbuat seperti itu, karena ia tidak pernah diutangkan, djadi utang apa jang akan dibajarnja.
Jang tidak dibolehkan menurut sepandjang adat dalam soal mengambil menantu adalah sebagai berikut. Larangan itu tidak ber- dasar atas putusan sjarak jang menentukan halal atau ha- ramnja nikah, tetapi berdasarkan semata-mata kepada perasaan peri kemanusiaan 'dalam masjarakat.
1. Tidak boleh memulangi djanda dari salah seorang anggota keluarga kita jang sesuku dengan kita, djika ia masih hidup.
Kalau djanda kita diperisteri- orang, mau tak mau peristiwa itu membawakan hal jang’ tidak enak bagi kita, ini sudah lumrah.
Akan tetapi djika jang memperisterinja itu saudara kita pula menurut adat, maka rasa tidak enak ini akan bertambah,
•seolah-olah tidak ada penghargaannja_ kepada kita. Perbuatan ja n g begini bisa membawa pentjeraian antara oiang jang berkarib.
2. Pun dilarang pula seorang laki2 mengawini seorang perenipuan jan g berfam ili 'dengan bekas isterinja, djika bekas isterinja itu masih hidup. Lain halnja djika bekas isterinja itu telah me-
ninggal, sehingga dalam hal jang seperti itu diizinkan untuk mengambil adik atau kakak kandung dari bekas isterinja itu, un
tuk didjadikan isteri. Menggantikan tikar namanja.
3. Dilarang pula seseorang kawin dalam sukunja, karena orang jang bersaniaan suku dianggap bersaudara. Kalau ada djuga terdja
di sekali2 orang jang kawin sepesukuan ini, karena hati telah di- palingkan setan, mata telah dipalingkan iblis, mestilah jang bersalah itu membajar kesalahan meruntuh adat dengan. me- motong seekor kerbau serta mendjamu negeri.
4. Tidak dibolehkan pula mengawini perempuan jang berdekatan rumah dengan. isteri atau bekas isteri, kalau ia masih hidup, begitu djuga jang setepian dengan 'dia, karena hal ini bisa mendatangkan sengketa jang tidak mau putus2nja, dan tidak
ada akan membawa keamanan.
5. Tidak pula dibolehkan mengawini bekas isteri sahabat kita, djika
’ sahabat itu masih hidup. Mesti dipikirkan pula rasa hati sahabat itu.
6. Tidak boleh mengawini bekas isteri mamak atau bekas isteri kemenakan.
7. Tidak boleh menelangkai dalam telangkai, artinja mengawini seorang perempuan jang masih dalam pinangan orang lain.
Oleh sebab itu dalam setiap perkawinan jang akan dilangsungkan perlu dihadirkan wali adatnja (penghulunja atau mamaknja) jang akan memberi keterangan ada tidaknja halangan menurut adat, dan wali sjarak jang akan menerangkan pula ada tidaknja halangan me- nurut sjarak. W ali sjarak adalah bapa dari si perempuan. D jik a sekiranja tidak ada halangan menurut adat dan menurut sjarak, maka perkawinan dilangsungkan oleh wali sjarak atau dia boleh ber- wakil mengawinkan anaknja kepada tuan kadli.
Halangan menurut sjarak adalah sebagai berikut :
1. Mengawini perempuan jang masih berlaki, artinja tak mempu- njai surat tjerainja jang sah, atau surat fasahnja, ataupun
masih dalam idah.
2. Meaigawini ibu sendiri.
3. Mengawini nenek sendiri, baik nenek dari sebelah ibu ataupun nenek dari sebelah bapa.
4. Mengawini saudara bapa, baik kakaknja atau adiknja 5. Mengawini saudara ibu baik kakaknja atau adiknja. ' 6. Mengawini anak sendiri.
7. Mengawini anak perempuan dari saudara laki2.
8. Mengawini anak perempuan dari saudai’a perempuan 9,. Mengawini tju tju sendiri.
10. Mengawini ibu tempat kita menjusu (bukan ibu jang melahir- kan).
11. Mengawini mertua.
12. Mengawini anak tiri.
13. Mengawini isteri2 ajah.
14. Mengawini isteri anak kandung.
15. Mengawini saudara kandung.
16. Meng-awini saudara sepesusuan.
17. Mengawini anak dari saudara perempuan dari ibu?
A dat istiadat ini mengatur pula tata tcrtib dalam tiap2 perhela
tan jang mesti diperhatikan, baik oleh orang jang punja lielat, ataupun oleh para djamu.
Oleli karena tiap djamu mesti dihormati, maka tjara memanggil- nja untuk menghadiri perhelatan jang akan diadakan meSti menu- n it adatnja pula. Orang jan g ditanam oleh si IPangkalan” untuk memanggil, mesti membawa sirih ditjerana mendjelang rdmah tjalon djamu itu. Seboleh-bolehnja ia mesti bertemu sendiri dengan orang jang dipanggil, djendjangnja ditingkat, bendulnja ditempik.
Kal^u kebetulan jang dipanggil itu tidak berada dirumahnja ketika sii)emanggil datang, maka ditinggalkan oleh jang memanggil itu sirih sekapur atau rokok sebatang, dan dititipkan pada salah se
orang dirumah itu, sebagai tanda panggilan telah disampaikan. Ada kalanja orang jang dipanggil itu kebetulan bertemu ditengah dj.alan, maka tidaklah boleh panggilan dilakukan ditempat itu, karena ia ada berumah tangga. Akan tetapi adat ada memberi sedikit kelong
garan tentang itu, asal jang dipanggil itu mengizinkan ia dipanggil ditempat mana ia bersua. Menurut adat, habis adat dengan kere- lahan habis karangan dengan buatan.
Sipangkalan menurut adat adalah silang nan berpangkal = segala mamak) dengan kerdja nan berdjundjung = segala rang semonda.
Tiap2 perhelatan jang diadakan dikepalai dan diatur oleh seorang djenang, ialah seorang jamg tjekatan, tjepat kaki ringan tangan, bidjak berkata-kata, jang tahu diereng gendeng jang tahu didju- dju r pangkuh, dan mendudukkan para djamu dikedudukannja masing2. D jam u2 itu mesti tunduk pula kepada adat istiadat : liela t seperintah si Pangkalan. Djam u belum boleh duduk sebelum dibawa duduk dan belum boleh makan sebelum dipersilakan makan.
Setelah djam u duduk beredar, maka djenang meminta sifat kepada salah seoramg djamu jang hadir. Minta sifat artinja minta izin berbitjara. Oleh djamu, kepada siapa diminta sifat tadi itu dibawa pulalah permkitaan djenang itu kepada kerapatan jang ha
dir, dan setelah dapat kata sepakat maka diberilah djenang izin- untuk berbitjara.
Mula2 djenang menjembah : Dengan tidak diato/p (disusun) dibilang (dihitung) gelar, sembah dan simpuli mendjalani. Kalau ada salah silit, djudjur pangkuh, kedudukan jang patut dipangked dibawa keudjung dan sebaliknja, dan keduclukan ditepi terbaiva ketengah dan sebaliknja, maka ampun dam maaf dimintakan
•banjak2.
m