H U K U M A D f l v
A f D A N A D A T
P‘dU * BaKD^ cs A A S E L I :
S U R A B A J A • A M S T E R D A M
Perpustakaan Soediman Kartohadiprodjo FHUI Buku ini harus dikembalikan pada :
HUKUM ADAT DAN ADAT
MINANGKABAU
LUHAK NAN TIGA LARAS NAN DUA
PENERB1T : N. V. POESAKA ASELI
’ Dj Biduri 5 . BANDUNG • SURABAJA • AMSTERDAM
I S I B U K U
Halaman
Mukaddimah. ... 7
Minangkabau Dengan Pem erintahannja 'A. A lam Minangkabau... 1 -
B. P enghulu... '•... C. Pembantu Penghulu... 26
D . Benarkah Penghulu2 itu Feoclal... 30
II. Laras nan dua... 33
I I I . Ra-ntau ...' 37
IV . Sekitar Hak Atas Hutan Dan Tanah... . 41
A . H utan T in ggi... 41
B. Hutan Itendali... 48
C. Pagang Gadai... ... ... 54
» V. Sitanibo Lama ... 56
A . Adat sebagai Pim pinan... 56
I. Kota Empat... 58
II. Ivata Em pat... 59
III. Undang - .undang... ... *... 59 . - B. A dat - Istiadat... ... 10.L
FAK. HUKUM d*n PWG. MAS).
Tanqgal ... « ....!....
No. Silsilah:... J S A O il... ....
3 7 o ■ ~ < 7 c v
0V. - 'L -V O tM lo -y u ro i Iw^UO1*
TJsang-usang diperbaru
Lapuk-lapuk dikadjangi
K AT A SAMBUTAN
Atas uudaiigan saudara untuk memberikan sedikit kata sambutan, saja dengan ini menjatakan kegembiraan saja atas usaka saudara da lam .urusan karang mengarang mengenai masjarakat adat kita.
Pada umumnja saja mengandjurkan sungguh-sungguh usaha-usaha jang serupa itu, supaja larabat laun pakaian nenek m ojang kita itu dibeutangkan sendiri ketenga’h tempat jang terang oleh bangsa kita, supaja kita dapat mengambil paedali 'dari padanja untuk liari jang sekarang dan liari jang akan datang.
Mengenai isinja karamgan saudara itu saja tidak akan menjata
kan salah. benarnja, lianja saja berliarap inudah-mndahan setiap orang jan g berminat dilapangan urusan kemasjarakatan kita akan mengambil perbandingaii seperlunja dengan sumber-sumbcr lain jang diketahuinja.
Bagi sekarang ini jan g penting bagi saja ialali, ba'hwa bangsa kita dari kalangan tjerdik pandai ikut menjumbangkan usahanja'untuk mendalami seluk-beluk kebudajaan nasional.
Saja mendoa mudah-mudaiian karangan saudara ini mendapat ka- langan pembatja jang luas.
Prof. Mr. Dr. Hazairin.
MUKADDIMAH
Alain Minangkabau mengambil tempat jang istimewa, istimewa clalam segala-galanja, malahan ia mendapat nama djulukan : Pulau diatas daratan. Sebabnja kcistimewaan ini, adalah karena adatnja ja n g talc lekawg dek panas dan talc lapuk dele liudjan.
K ata2 „tak lekang dek panas dan tak lapuk dek hudjan” men- djadi kata perhiasan pada pentjinta adat, dan sebaliknja mendjavli kata tjemooh bagi mereka jan g membentji adat. Akan tetapi sampai sekarang sungg.uhpun demikian, adat itu masih berdiri" megah, sedangkan orang jan g membentji adat itu, tidak mau dikatakan orang tidak beradat, ataupun orang tak bersuku, dan djika dalam kesempitan ber-lari2lah ia mentjavi perlindungan kepada adat jang dibentjinja itu.
Sajang jan g pentjinta adat itu kebanjakan tjinta karena sen- timen, dan sebaliknja jau g bentii itupun bentji hanja berdasarkan pada sentimen pula. A chirnja kedua belah pihak mendapat sifat masa bodo'h kepada adat, karena jan g mentjinta tidak mejidapat penghargaan jang dikehendakinja, 'dan jang bentji tidak mau memeriksa apa sebab dia bentji ■ akibatnja adat tidak mendapat perhatian lagi.
Pembahasan adat amat kuramg dari onang jang tjinta adat, ke
banjakan hanja taliu pada pepatah dan petitih, dan tidak mendalami usul dan pangkalnja. Itu tersebab orang Minangkabau tidak mempunjai huruf dan tidak mempunjai kitab.
Peraturan2nja hanja tersimpan dalam kata2 pepatah dan petitih jang mengambil tjontoh dan ibarat pada alam sekelilingnja. Pepatah dan petitih ini adalah kalimat jang baik rangkaian 'dan susunan kata2nja, pendek, lekas dimengerti (diambil kiasannja) dan tidak . mudah dilupakan. Karena ketiadaan kitab, maka pepatah petitih
itu turun-temurun hanja dari bibir kebibir sadja.
Tadi telah diterangkan, bahwa orang Minangkabau tidak ber- huruf, tetapi setelah tiba agama Islam disini dengan membawa huruf Arab, maka oleh pentjinta2 adat dikaranglah buku tambo, su- paja peraturan2 adat iui akan dapat dipusakakan kepada auak kemenakan dibelakang hari. Tambo2 ini tidak sama isinja, karena kebanjakan isinja itu mentjeritakan keturunan nenek m ojang jang bertjam pur gaul dengan chajal, monografie negeri2 dan sedikit un- dang2 (hanja batang2nja sadja), sehingga buku tambo ini menjerupai suatu buku jajig tjam pur aduk isinja antara sedjarah, dongeng2, monografie dan undang2.
Siarat undang2 itu tei-serah kepada negeri2 jang memakainja, menurut waktu dan ketika, serta bisa pula berobah-obah m enum t keperluan masa, asal pedoman adat tetap tidak berobah.
Senerti misal 'dikemukakan disini sebuah pepatah : Lapuk dikadiarvai usang2 dipsrbaru. A rtin ja : peliharalah supaja djangaii S S S ’ p“ X o i k i l i mana jang tidak dapat dipakai lagi, mpaja dapat dipakai pula.
Lapuk artinja rusak, karena silili berganti hudjan dan panas menimpanja. D ikadjangi artinja diberi atap. A ta p dju ga bisa lapuk, maka supaja barang pokok djangan lapuk, atap djuga sekali2 mesti diganti.
Usang2 diperbaru, bukan dibaliarui. Dibaharui axtinja di
bikin baru, diobah sama sekali, sedang diperbaru berarti diperbaiki sehingga sesuai dengan keadaan zaman dan masa.
Pulai nan bcrpangkat naik, membawa ruas dengan buku. Pulai a dal ah sematjara batang kaju, lain keadaan dahannja dari kaju lain, karena dahannja ber-tingkat2 (berpangkat), tidak m enjim pang dari pohon besar seperti keadaan pohon jan g lain. Ia membawa ruas de- ngaii buku. Ruas dengan buku ini dimisalkan dengan perkembangan manusia menurut generasi, lain tingkat2nja. Generasi lama berla- inan keadaannja dan kemauannja dengan generasi baru. Pepatah ini disambung dengan : manusia berpangkat turun, membawa adat dan pusaka. A rtin ja, sungguhpun manusia itu kembang, perkem
bangan ini membawa keturunan dari jiinik turun kemamak, dari mamak turun kekemenakan dengan membawa adat dan pusaka, jaitu : pedoman hidup ja n g diranl jan g oleh adat : E lok d'ipakai, bu- ruk dibuang.
Kalau kita artikan perkataan adat ini setjara juridis, maka ia akan berbunji : Akal muslihat, daja u paja ja n g ber-djalin2 mendjadikan undang2 dan peraturan, berw udjud, supaja anggota masjarakat ramai dalam mendjalankan tudjuaaa dan tugas masing2 djangan hendaknja rugi-merugikan, dan kalau terpaksa akan merugikan djuga, seperti kena-mengena, supaja kerugian jang timbul, terbatas pada jan g se-ketjil2n ja berdasarkan pada „take and g iv e ” menerima dan memberi.
A dat ini sudah lama berdii’i dialam Minangkabau, lebih dulu da- ri datangnja agama Islam kemari. Sampai sekarang agama Islam tidak mengobah adat, malahan sedjalan, bahu membahu, baik moril atau kata2n ja atau pemangku2nja, sampai terdjadi kata djulukan : sjarak mengata, adat memakai.
Berlain keadaannja dengan negeri2 lam sekeliling Minangkabau, adat telah berganti sama sekali dengan peraturan Islam, kendatipun di Minangkabau terdapat ulama Islam jang besar2 d i Nusantara ini.
Apakah gerangan sebabnja?
Kala.u kita analisir perkataan sjarak, maka kita akan dapat pe- ngertian kira2 begini :
Sjarak adalah peraturan jang datang dari Tub an nielalui D jibril, dan nabi (rasul) pada manusia jan g berisi : ’ 1. Ohabar suka, artinja pahala dan tempat jan g baik nanti di-
achirat bagi siapa jan g berbuat baik diatas dunia dengan keredaan Tuhan, tempatnja ialah di Sjorga 'djannah.
2. Chabar duka = azab dan tem pat’ jan g buruk diachirat nanti, kalau kita berbuat djahat didunia ini serta melanggar peraturan dan durhaka kepada Tuhan, tem patnja ialah dineraka djahan- nam.
3. L ndang2 = pedoman hidup, untuk mematuhi suruh (amar) dan mendjaulii laraaigan.
D jib ril jaitu suatu maeliluk Allah jan g sutji dalam arti sebenar- n ja dan nabi ialah manusia biasa jang maksum, artinja terpeliliara dari i^ekerdjajm jan g tidak diingini T.ulian. Dengan pengertian maksuni ini, terhindarlah ia dari pada dusta, dan segala kata-aja a da la h perkataan Tuhan, tjuma nabi itu hanja saluran sadja.
Kirimun ehabar itu wahj-u namanja.
Maka sekarang kita analisir pula perkataan adat, maka kita akan da pat pula pengertian kira2 begini.
A dat adalah suatu perat.uran pula jang datang dari Tuliau pada manusia dengan perantaraan orang2 jang tidak ditanggung mak
sum, dan tidak dengan perantaraan wahju, melainkan ilham, pikiran sehat, supaja dipikirkan bagaimana tjara2n ja jang baik agar anggota masjarakat ramai berbuat baik sesama manusia atau machluk lain (keadilan sosial), dan bagaimana mendjaulii perbuatan jan g k cd ji2, supaja clamai dekat, tjabuh djauh.
Didalam adat ini tidak terdapat pahala dan dosa diacliirat, hanja amar m a-ruf daii nahi miuigkarnja se-mata- untuk hidup didunia sadja.
Karena ilham ini datangnja dari Tuhan, maka dalam dasamja tentu ser.upa sadja apa jang dinamakan baik dan apa jang dinama- kan buruk dalam sjarak dan adat, dengan perbedaan begini, namun sjarak tidak berobah-obah peraturannja, karena koran dan hadis selamanja betul, seclang adat ini boleh dimisalkan dengan idjmak dan kias.
Tadi dikatakan, bahasa Minangkabau istimewa 'dalam se-gala2nja ter-lebih2 dalam perga ulan. Orang Minangkabau mempunjai sifat pandai sunggu’h membawakan diri.
Zaman beredar musim beralih, dari merdeka dizaman nenek 1110- jaaig, oleli karena kekuatan sendjata musuh, meringkuk dalam pendjadjahan. Pengaruh luar datang, baik setjara ekonomi, moril, pembagian rezeki,v sosial, dll, namun daerali Minangkabau berkat peraturan adatnja jang kokoh jang telali mendjadi darah daging 'bagi penduduknja memelihara kita dari kerusakan2 jang didatang- kan itu. Tidak itu sadja, pendjadjah2 itu memudji pula 'dan mengakui kebaikan adat Minangkabau, tetapi dalam memudji itu ditjarin ja djalan 'hiiigga adat itu diperalatnja.
Satu misal politik petjah belah Belaada jang litjin :
Sewaktu Belanda datang ke Minangkabau, maka ditjarinjalah kaki-tangannja untuk melakukan kehendakuja dalam rupa tuanku Uras. Sungguhp.un ia tahu, bahasa Minangkabau ini diperintalii se
tjara adat, kemenakan bevadja kemamak, mamak beradja kepeng- Jiulu, pemghulu beradja kemvfalcat, mufakat beradja kepada ben(ii dan benar ini bersendi kepada patut dan mungkin. A da jang patut tetapi tidak mungkin dan ada pula jang mungkin tetapi tidak patut.
Tuanku laras dipilih oleh rakjat dengan suara jang terbanjak.
Sungguhpun dalam teorinja baik, tetapi dalam prakteknja jang ter-
pilili ialah siapa ja n g kuat membajar uang suap, baik pada pemilih, baik pada pembesar ja n g ditugasi mengawasi pemililian itu.
A d a kalanja terdjadi, tukang kuda Residen terpilih mendjadi tuanku laras. Tentu orang ja n g tidak patut diangkat m endjadi ke- pala, diangkat m endjadi kepala, membawa kegelisahan dalain hati rakjat. P etjah belah pertama sudah berlaku. Pet.ua Bunda kandung : Kalau si Budah mendjadi radja, terdjual adat dengan pusaka.
Tuanku Laras jan g telali menghamburkan uangnja beratus-ratus rupia'h tentulah hendakkan uangnja kembali, maka terdjadilah penghisapan pada ,}'akjat jan g dilindungi oleh orang atasannja.
Malahan tuanku laras ingin pula berkuasa dalain adat merebut gelar pusaka orang lain jan g sesuku dengan dia. Akan tetapi berkat susunan adat jan g kuat, tuanku laras tadi dihapuskan dan diganti dengan pegawai2 pangrehpradja jan g tidak dibolehkan mempenga- ruhi adat.
Dalam zaman pendjadjahan Belanda jan g berlaku lebih dari tiga setengah abad, Minangkabau dju ga ja n g boleli dikatakan sedilcit m enanggung kesengsaraan pendjadjahan, misalnja :
a. H utan tanahnja tidak dikuasai oleh liak verponding.
b. Landrente tidak berlaku.
e. Rim ba2n ja tidak diexploiteer, sehingga pangairan terdjam in.
d. Tindakan pemerintah selalu dianibil dengan kata mufakat.
e. Guru ordonansi tidak berlaku d.s.b.nja, sedang dalam masa pendjadjahan D jepang, dimana kemiskinan m eradjalela dan memuntjak sehingga : bangkai memakan bangkai, Minangkabau In sja A llah terlepas dari baliaja romusja.
Apakah sebabnja itu ? Sebabnja ialah kemampuaai unluk inem- persesuaikan diri am at tinggi.
Lembaga anak Minangkabau ialah merantau, dan peraturan adatnja menjerukan : Tjupak sepandjang betung, adat sepandjang djalan.
Tjupak, ialah takaran, betung ialah bambu. Pangkal betung ada- lah besar, ia diambil akan djadi sukatan, dan u dju n g betung adalah ketjij, diambil pula akan takaran lada katik (m eritja). Tjupak se
pandjang betung artinja tiap2 pekerdjaan hendaklah menurut takaran. Pepatah ini disambung dengan adat sepandjang djalan.
A rtin ja : kemana dju ga kita pergi, sopan santun tegur sapa djangan diabaikan, supaja orang menaruh kasili sajang kepada kita. Masih terpakai seltarang dengan tidak disadari, djika kita bertemu dengan orang didjalan, maka ia disapa : hendalc kem ana? Dan djika ber
temu dengan orang ja n g tidak berdjalan : M engapa itu ? Tetapi amat disajangkan, putra2 M inangkabau lebih2 kaum intelek, baik intelek Barat ataupun intelek Timur, tidak suka meluangkan sedikit wakW untuk mendalami adatnja. Malahaai tidak mengatjuhkan, dan ada pu la setengali mengatakan, adat ini reaksioner menghambat kema- djuan, kano d.s.b.nja.
Benarlah kata seorang pudjangga : Orang Belanda inemBaratkaji kita, orang Mesir mengArabkan kita, diinaiia kita ?
H anja sedikit intelek ilu lupa memcriksa, peraturan adatkali jang salah atau orang jang memakainjakah jang tak tahu dongan adat dimana ia berada.
Dengan sengadja kami karangkan naskah ketjil ini akan nien- djelaskan sepandjang pengetahuan kami jang hanja sangat terfc-a- tas pula, apakali itu adat, dan bagaimana sepak terdjangnja.
Karangan ini adalah pandangan objektif, tidak bertjampur dongeng dan telah pula disesuaikau dengan keadaan sekprang.
Mudah2an dapat kita mengambil manfaat dari padanja. Dari pen
tjinta atau pembentji adat akan kami terima ketjaman2 dengan tangan terbuka, untuk mcmperbaiki keterangan2 raana jang salah unt.uk dipakai dimasa jang akan datang.
Kepada J.M. Bapak Menteri Dalam Negeri, Prof. Mr. Dr. Haza-.
irin ja n g mengandjurkan kepada kami supaja menerbitkan buku ini setjepat-tjepatnja, kami utjapkan banjak2 terima kasih, karena andjuran bcliau itu, apalagi djan dji beliau akan memberikan sepa- tah kata sambutan, bagi kami adalah mendjadi satu tundjangan moril dan dorongan untuk melaksanakan terdjadinja buku ini selekas-lekasnja.
Ilonnat peiujarang,
A .M . D A T U K M A R U H U N B A TU A H D.H. BAG1NDO T A N A M E H
I. M INANGKABAU DENGAN PEMERINTAIINJA
A. Alam Minangkabau
Berpadi- setumpung benih, makanun orang tiga luhuk.
•Tang diartikan dengan setumpang bcnih, ialah benih padi, dan kalau bonih itu ditanam disawah, maka ia akaji m endjadi padi dan set erusnja akan m endjadi makanan orang banjak.
Alam Minangkabau terdiri dari tiga luhak, jakni :
Luhak Again, Luhak Tanah Datar dan Luliak Limapuluh.
Benih padi dimisalkan sebuah peraturan jan g rata- dipakai di Minangkabau, ibarat padi rata2 m endjadi makanan. Peraturan itu diringkaskan namanja dalam satu perkataan, adat. Karena adat itu dipakai di Minangkabau, maka ia disebut makanan orang tiga luhak.
Jang dimaksud dengan alam Minangkabau, jaitu satu daerah di- iengah pulau P ertja meliputi keresidenan Sumatera Barat, Kuantan dan Kampar K iri, m enurut bat as2 jang tertentu. Iieutara sampai ke Sikilang-Air-Bangis, jaitu batas dengan bekas Keresidenan Tapanuli. K etim ur sampai ke Teratak Air-H itam , jaitu batas dengan In d era giri; ke Sialang Berlantak Besi, jctitu batas dengan Pelala- tvim. Ketenggara sampai ke Sipisak-Pisau-JIanjut, Durian Ditakuk
G u n u n g M -erapi se d a n g M e le tu s foto : Kemppn
iddja, la n d ju n g Simalulu, balas dengan Djamlri. Kc.sclatan Ice Gu- nuncf, P at ah Sembilan, djuga batas dengan Djambi dan kebarat dengan L aut Nan Sedidih (Samudra Ilindkt).
Karen a Minangkabau dalain perbandingan dengan dunia jang le- bar hanja mcrupakan satu noktah, dan ia menainakan. dirinja alani, tentu perkataan alam ini mendatangkan keragu-raguan tentang artinja.
Mungkin perkataan alam inidiartikan orang sebidang daerah jang lain isi serta undang^ija dari daerali jang ada disokeliJingnja ; ka:
rena ia menggandjil, maka ia menainakan dirinja alum sendiri.
Mungkin d ju ga alam itu diartikan pandji-, tanda kebesaran alan kedaulatan, maka daerali jang bernaung dibawah pandji- Minang
kabau dinamakan alam Minangkabau.
Daerali Minangkabau itu tanahnja sebelah Barat berguniuig-gu- nung sampai ketepi laut, sehingga tidak ada sungainja -jang bermuara kelaut dapat dilajari. Apalagi ia bermuara kesamudera, maka angin jan g berembus dan gelombang jajig- deras memmbun pasir dari laut dimuara sungai- itu, mendjadikan gosong- jang meng- hambat djalannja air. A ir seiamanja berdjalan mentjari tanah jang rendali, maka dari itulali pesisir barat tanah Minangkabau ini tanah
n ja berawang-rawang dan berlebung- lebimg.
Lehung artinja air tergenang-jang dalam djuga, terletak kira2 aeratus meter antara pantai 'dan daratan, lebarnja kira- 20 111 dan pandjangnja beberapa kilometer. Dari sinilah asalnja nama- negeri, seperti : Lebong Donok di Bangkahulu, U djung Lebong dekat Sasak di Pasaman, Lebong Duapuluh di Matur Bukittinggi. Tanah darat- nja adalah dataran rendah dan dataran t-inggi sampai setinggi 1500 m ; sungai2 besar jang mengalir ketimur, jaitu suaigai Kuantan, Kampar dan Batanghari. Sungai-’ itu di Minangkabau airnja deras Uan banjak mempunjai riani jang di Minangkabau disebut Icedja- hatan, jaitu air tunggang jang atjap kali mendatangkan bahaja maut pada anak perahu. Makin ketimur tanahnja makin rendah. Sebab itulali dari Tcluk Ivuantan sampai kekuala tak terdapat lagi bagian sungai jang berbahaja itu.
Tadi kita ada mengatakan luhak. Luhak artinja smnur. Tatkala masa dahulu, ketika nenek-mojang masih tinggal dipuntjak gunung Merapi didapati disana tiga buali sumur tempat mereka menjauk air. Satu diantaranja ditumbuhi oleh mensiang agam, maka sumur itu dinamakan luhak agam. Jang satu datar tanahnja, maka dina
makan ia luliak tanah datar. Jang lain adalah tempat 50 keluarga mengambil air, maka namanja sumur itu luhak limapuluh. Ketika orang sudah mulai, kembang dan tempat sudah sempit, maka berdja- lanlah mereka itu berkelompok-kelompok mentjari tanah jang baik untuk pindah. Orang2- jang biasa menjauk air disumur jang ber- mensiang- again atau luliak agam berdjalan berbondong-bondong, begitu pula orang luhak tanah datar dan luliak limapuluh. Dengan begitu terdjadilah tanah orang Luhak Agam, tanah orang Luhak Tanah Datar dan tanah orang LuJiak Limapuluh.
B. Penghulu
E lok negeri dek penghulu Rantjak tapian dek nan muda.
])i Liihak ini pomjhululah jang memerintah clan ia diwadjibkan m entjari penjelesaian tiap2 perkara. Seliingga mendjadi pepatah :
Kata penghulu menjelesai.
Apakah penghulu itu ? Penghulu asal katanja hulu, jang artinja kepala. Perkataan hulu sebagai kepala kita dapati dalam perkataan kalang hulu = kalang kepala = bantal.
Orang jan g akan mendjadi penghulu itu mesti dipilih betuF, ka
rena ia akan m endjadi orang besar dalam kaiunnja, dia jan g biang akan menebukkan, genting jang akan memutuskan.
Seperti kata pepatah : Nan tinggi tampak djauh, nan terberom- bong djolong bersua, kaju gedang ditengah padang, tempat berlindung kepanasan, tempat berteduh kehudjanan, uratnja tem pat bersikt, batamgnja tem pat bersandar, pergi tem pat bertanja, pulang tempat berberita. Dengan ringkas dapat dikatakan, penghulu itu adalah seorang jan g bidjakstfna, tempat mengadu s es a k -se m p il
(kemiskiiian dan kelemahan ekonomi). Dan kalau seorang akan me- ngerdjakan pekerdjaan jan g sulit, hendaklah rainta nasihatnja lebih daiiulu (pergi iempat bcrtanja) dan kalau sudah selesai dise-
^lenggarakan dengan berhasil baik, maka menurut adat sopan-santun atau adat busa-basi hendaklah ia mcnerangkan, bagaimana basil pe
kerdjaan jan g diperbuat menurut nasihat penghulunja itu (puking berberita) sebagai mengliormati dia. Pepatah Minangkabau menga- takan : sia-sia utang tumbuh, taksir (lalai atau masa bodoh) negeri kalah, mclebihi antjak-antjak (mati kerantjakaja) dan mengurangi sia-sia.
Pekerdjaan penghulu selain dari pekerdjaan kepamongan djuga m endjadi hakim, maka dari itu harus disertai sifat2 jan g mur- ni, supaja ia boleh mengati sama berat, mengudji sama merah. Me- ngati artinja menimbang, mengudji artinja mengudji emas tua mudanja dengan batu. Kalau kuning masili muda, kalau merah emasnja tua.
Orang akan mendjadi penghulu harus ditilik keturunannja seperti berikut.
1. Ia hendaklah laki- dan tidak boleh perempuan. Ia mesti berke- turunain penghulu, berarti sudah pernah salah seorang kaumnja jan g setali darah dengan dia membawa pangkat penghulu, me
nurut adat gedang berlegar, kaja bersalin, atau menurut adat jang dibaivah pinang ditimpa upih.
Gedang berlegar, kaja bersalin diartikan sebagai berikut : Gedang artinja bukan semata-mata besar, melainkan memakai gelar penghulu, karena penghulu itu besarnja karena dibesarkan, bukan besar dengan sendirinja. Berlegar artinja berganti-ganti (didalam kaum ). Misalnja seorang nenek perempuan A beranak tiga orang perempuan B, C dan D. Nenek A mempunjai waris penghulu, maka ia akan memakai penghulu dalam kaum itu di- perlegarkan ' atau diperganti-gantikan antara anggota laki?
keturunan B, C dan D.
K aja bersalin artinja untuk penghulu jang diangkat diberi se- bidang sawah untuk pembajar nafkah sehari-hari, dikerdjakan oleh anak buah bersama-sama. Sawah ini namanja sawah kegada- ngan Kalau penghulu dalam kaum B tidak dapat bekerdja lagi karena mati atau tua maupun sakit, menurut adat namanja : Bukitlah tinggi luralilah dalam, baginja, maka la beihenti (b u kan diperhentikan) menurut adat :
a. mati bertow/ffkat budi, atau b. hidup berkerelahan,
Dengan pertukaran jang m endjundjung gelar pusaka ini maka . berpindah pulalah,sawah kegadangan m i kepada penghulu janfe
baru. Itulah jan g dinamai kaja bersalm,
M ali bertongkat budi artinja, kalau seorang penghulu nuiti, maka gelar pusakanja dihimbaukan ditanah ternierah (dipekuburan) dan ditentukan disana siapa ja n g akan memakai. (lelar disang- kutkan simbolik kepada batang budi, dan karena k aju budi itu rapuh, hendaklah lekas diganti. D ja d i orang1 ja n g mencrima adat bertongkat budi harus selekas-lckasnja mengadakan perhelatan
’ untuk menegakkan penghulu. ITid up berkerelahan diartikan dia suka dan rela menjerahkan gelar pusakanja kepada gantinja se- lagi ki hidup.
Dibawah pinang ditimpa upih. Jang djelasnja upih itu ialah selara pinang.
Ia djatuh kerumpiui pinang. D ja d i ia menggantikan penghulu jan g mati, ialah kemenakan lcandung dari simati. A dat ini ber- lawanan clcngan adat gedang berlegar, kaja bersalin.
Pamili dalam kaum terbagi tiga ja n g dimisalkan dengan tali : a. JCali darah, jaitu jan g satu kcturunan sehulu sem m ra menu- rut keturmian dari ibu.
1). tali budi, orang negeri lain jan g sesuku dengan kita, ldnggap m entjengkam , terb m g bersitumpu, diterim a dalam kaum sebagai anggota.
H inggap mentjengkam artkija : D jik a seekor bux-ung hinggap maka ditjengkam kannja kukunja kedahan kaju, supaja hinggap- n ja itu tegap kokoh. Begitu dju ga kalau ia hendak terbang dari dahan itu, maka ditum pukannja kakinja sehingga ia terlambung keatas. Begitu pulalah, djika seseorang datang dari negeri lain kesebuah negeri dengan maksud hendak bermukim selama-lama- nja, maka ditjarinjalah orang jan g sepersukuan dengan dia, karena di Minangkabau orang jan g sesuku adalah seketur.unaii dan dianggap bersaudara.
Pepatahnja : suku nan tak boleh diandjak, malu nan talc boleh diagih (bagi) ; djadi nialu jang didapat dalam .satu suku, men
djadi aib pula terasa dalam suku senama dengan suku jan g mendapat malu itu.
Kalau ia dinegeri asalnja bersuku tandjung, maka dinegeri liaru itu ditjarin ja pulalah orang jan g bersuku tandjung. Dibawanja siri'h pinang dengan selengkapnja, tanda menghormati, lalu di- terangkannja akan maksudnja. Oleh orang jan g didapati tadi dibawanjalah kaumnja jang patut tahu bermufakat. Setelah mereka seterima, maka dibuatlah djamuan sekedam ja dan diberi tahu orang banjak, bahwa si Polan dari ini keatas telah m endia- di kemenakan orang tandjung, anak buah Datulc Polan kelurah dibawa sama menurun, kebukit dibawa sama mendaki
Tempat dia bertengger telah kokoh, dan kalau ia akan' mcmbuat sesuatu, dm telah mempunjai penumpuan tempat dia bertumpu Tentu kita akan bertanja, apa gunanja mendjamu ? A dat sopan s m un basa basz menentukan : bertanja lepas erak ( pajah) , be-
funding sudah makan. ■
e. tali emus, artinja bekas budak belian. Karena dapatnja keme
nakan itu karena emas (w ang).
K adang2 nama tali itu diganti dengan kemenakan, karena tali uidalam adat sebagai „o b je c t” dan kemenakan sebagai „subjeet” . Kalau sam a kemenakan dipakai, mendjadilah ia : . a. kemenakan dibaivah da-gu (tali darah). Dagu terletak dekat
kerongkongan. »
Segala tjita rasa makanan jang pahit manis Jianja sehingga ke
rongkongan terasanja. Oleh sebab itu kemenakan jang secTarah pulalah pahit manis dalam kaumnja.
b. Kemenakan dibaivah pusat (tali budi). Pusat adalah diperut.
Perut menerima segala makanan tanpa tahu akan rasanja. Begitu pulalah kemenakan jang bertali b u d i; apa jang telah ditetapkaii' oleh mamaknja, diterimanja sadja. Dia diterima dalam kaum bu- kan untuk djadi' mainak tapi hamja untuk djadi kemenakan.
Dalam zaliir ia disamakan dengan kemenakan asli, tapi dalam batin masih ada bedanja antara Jcapur dengan tepung sungguh- pun samar putih.
c. kemenakan dibaivah lutut (tali emas). Dibawah lutut adalah kaki. Kaki ini akan disuruli-suruh ; begitulah pula kemenakan jang bertali emas ini akan disuruh diseraja. Disuruh artinja, disum h biasa sadja, tetapi diseraja artinja disuruh mengerdja- kan suatu pekerdjaan dengan sesempurna-sempurnanja selaku tidak ada orang menjuruhnja, melainkan dia telah mengerdjakan pekerdjaan sendiri.
2. Baik zatnja. Zat diartikan disini keturunan dari bapaknja.
Menurut pepatah adat : Kalau kurik bapanja, sekurang-kurang- 71 ja rmtilc anaknja. Gunanja ini akan memeriksa aehlak.
K urik jaitu warna bintik2. Biasanja disebutkan pada bulu ajam.
A jam djantan di Minangkabau namanja ajam gedang, mendjadi perumpamaan. Satu lesung seekor ajam gedang : artinja seke- lompok manusia, seorang kepalanja. Orang suka pada ajam kurik karena menurut ilmu sabung, ajam kurik tidak meman- tang lawaai.
A jam kinantan (putih bulu) akan kalah bertanding dengan ajam biring sanggonani (bulu merah kaki kuning),' begitu djuga ajam tadun" (bulu hitam) akan kalah bertanding dengan ajam kinan
tan, dan sebagainja. D jadi kalau bapaknja kurik = mempunjai aehlak jan g tinggi, dan kesajangaai serta disegani orang, semoga analmja selcurang-kurangnja ri'ntik, (m enjenipai kurik = me-
njamai achlak bapaknja). . . ,
3. K aja. A rtin ja tidak akan menjusahkan anak kemenakan tentang belandja se'hari-sehari.
4 A dil. A rtin ja pandai menjamakan kemenakan kandung dengan jan g tidak kandung, karena kedua kemenakan itu berhak atas perlindungan harta dan djiwa, zahir batin da n penghulunja.
5. Balig berakal. A rtin ja tjukup umur dan m em punjai pikiran jang tetap, tegas dalam segala tmdakan, b.ukan seperti pu tju k eru.
E ra, adalah sebatang kaju. ja n g kurus tinggi, sedang dahaiuija tidak ada, hanja rantingnja jan g pandjang ja n g akan djadi 'da- han. Oleh sebab itu ia tidak rim bim rampak, ru n tjin g keatas, pu tju kn ja halus mudah sadja dipermainkan angin. D ja d i kca- ra'h mana angin berembus keras, sudah kesana tjon don gn ja pula.
Pepatah mengatakan :
S eperti baling2 diatas bukit jang tinggi.
6. Berilmu. A rtin ja tjerdas, karena banjak kali ia menghadapi pcr- t|
kara jan g sulit-, apalagi dalam putusan hukum Minangkabau djarang sekali orang boleh berkalah bermenang, karena berkalah bermenang itu membawa dendam kesumat. Ibaratkanlah seperti : Memalu ular dalam benih, ular mati, pemalu djangan pat ah, benih djangan binasa tanah djangan lambang.
A rtin ja sengketa selesai, hukum diterima, pergaulan baik, pe- mandangan ,umum terhadap hakim tinggi. Pun adat mengatakan dju ga : Alahs seperti kalah, tetapi tidak berkekalahan, dengan perkataan lain, tiap2 piliak merasa puas dengan putusan peng
hulu.
7. Bidjak bestari. A rtin ja pandai berkata-kata, mulut manis ketjin- dan murah, budi baik, basa ketudju, tahu dipuntja hendak menikam, tahu diranting hendak melanting, mafhum akan kata muhkamah dan mutasjabih seperti kata pepatah :
tahu dibajang kata sampai, tahu dikilat tjerm in lah kemuka tahu dikilat beliung lah kekaki
Kata muhkamah ialali arti kata sebenarnja, dan kata mutasjabih adalah kata kiasan. Kata muhkamah' misalnja :
meminta kepada jang kaja, berkaul ketem pat jang keramat.
Kata ini sebenarnja tidak disangsikan lagi pcngertiannja.
Kata mutasjabih : minta suara pada, enggang, minta daja pada gadjah. Mustahil meminta suara pada enggang, sedang suaranja buruk. Akan tetapi disini dikiaskan pada suara keras, jaitu su
ara jang mempunjai pengaruh, begitu 'djuga meminta daja pada orang jan g kekuatan pengaruhnja seperti kekuatan gadjah.
Dengan perkataan sekarang : m entjari tulang pungguncf.
Akan tetapi sungguhpun begitu harus diingat pula : Tak arif badan binasa, terlampau arif badan tjelaka.
8- Pemurah. A rtin ja tidak bosan memberi adpis jan g baik, kepada siapa sadja jan g meminta.
9. Tahlig. A rtin ja menjampaikan segala jang baik pada unium dan tidak menjampaikan segala jang bnruk2.
10. Amanah. A rtin ja dipertjajai lahir clan batin, tidak pcnohok ka- ivan seiring, tidak penggunting dalam lipatan, tidak musuh dalam selimut = tidak ehianat sesama kawan.
11. Siddik. A rtin ja benar, tidak suka berbohong, tiba dimata tidal' dipitjingkan, tiba diperut tidak dikempiskan.
12. Tawakkal. A rtin ja sabar menanti apa jang akan tiba set^lah me- lakukan segala sjarat pekerdjaan. •
13. Sabar. A rtin ja tidak pemarah, berlaut Upas, berpadang lyas, beralam lebar, berhutan dalam, berpelita terang.
Pemarah adalah mendjadi la rang pantangan seorang penghulu, 3ebab ia diangkat untuk orang banjak, bukan sebaliknja, orang ba- ’ njak untuknja. Apalagi orang pemarah hilang akal.
Disini disebutkan larangan dan pantangan. D Kalau diperbuat sesuatu jang dilarang, maka ada hukuman ten- tangannja. Akan tetapi kalau pantangan dilampaui, maka tidak ada orang jan g mengliukum, hanja akibat pekerdjaannja itu menuiiDi- kan deradjatnja sendiri dimata orang banjak.
Pantangan penghulu.
1. McmeraJikaub muka. Dalam kerapatan ataupun dalam pergaulan sehari-hari mungkin ada kata2 jang diseaigadja ataupun tidak d i- sengadja keluar jang menjakitkan hati. Segala-galanja itu hams diterima dengan tenaiig, djangan njata pada orang banjak, ba- 'hasa, perasaan kita tersinggung. Merah muka adalah tanda marah, sekurang-kurangnja tanda beroleh malu. Lawan djangan diberi kesempatan untuk menjelami hati kita.
2. Menghardik menghentam tanah. Sifat ini sifat hulubalang.
Penghulu sifataija menjelesai. Lebih banjak didapat hasil dengan perkataan jan g lemah lembut dai’i perkataan jang kasar. Anak bua'h mesti hormat, sajang dan segan kepada kita, djangan sam
pai ia takut. Kita tidak boleh djauli dari padanja seperti kata pepatah : DizaMr orang menjembah, dibatiii kita menjembah.
3. Menjiwgsingkan lengan badju atau tjelmia. A rtin ja tidak me- makai tertib madjelis. Ia tidak disegani orang sedang lidahnja tidak akan masin, artinja ketjeknja tidak akan diterima orang.
4. Berlari seperti anak ketjil.
5. Memandjat-mandjat.
6. M endjundjung.
Jang tersebut pada ruas 4, 5, 6 ini adalah pendjaga kehormatan.
Kedudukan penghulu dalam berbagai-bagai negeri tidak sama.
Dalam negeii jan g berhaluan Republikein jan g termasuk laras Budi- Tjaniago, suara penghulu adalah sama. Tegak sama tinggi duduk sama rendah, duduk sehamparan, tegak scpematang.
Sem.ua penghulu berpangkat andiko. Perkataan andiko berasal da
ri bahasa kawi, ngadika artinja memerintah. Sunggulipun dinegeri- negeri itu kedudukan penghulu menurut adat sama dalam arti anggota kerapatan, akan tetapi ada dju ga bedanja sedikit dalam ke
dudukan dalam adat, jaitu penghulu2 ja n g tua, ja n g mula2 m entja
tjak negeri itu dengan penghulu2 ja n g datang kemudian. M entjatjak artinja m entjubit. M entjatjak tonggak artinja mulai memahat tonggak untuk mendirikan rumah. M entjatjak negeri artinja mulai memahat tonggak negeri untuk didjadikan tempat tinggal.
Penghulu jan g iertua itu bernama penghulu keem pat suku. Se
suku artinja seperempat. Keempat suku artinja satu ja n g genap atau penuh. Dan sjarat untuk menamakan satu kediaman dengan perkataan negeri, hendaklah tempat itu mempunjai empat buah suku. Kalau tempat 'hanja mempunjai 3 suku, maka nam anja dusun ; kalau 2 suku namanja teratak ; kalau 1 suku namanja bandjar atau kabul.
Penghulu2 jang tidak masuk keempat suku, adalah diperbuat ke
mudian, karena anak buah bertambah banjak dju ga dan negeri bertambah lebar. Tiap2 penghulu keempat suku m entjari pembantu- n ja diantara orang2 jan g datang kemudian, dan pembantu itu diberi pula pangkat penghulu. Penghulu jan g tua dengan penghulu jan g baru diangkat itu, ber^ima-sama memerintah dalam arti, ja n g tua memerintah dalam kaumnja jan g telah ada ditambah kaum jan g baru datang dan penghulu jang baru diangkat itu hanja dalam ka
um jan g baru datang sadja. Penghulu tua dan penghulu baru itu mendjadi satu tungku. Tungku artinja tempat mendjerangkan peri- uk didapur. Dari periuk itulah diambil nasi untuk dimakan Penghulu jan g mempunjai ulajat hanja penghulu keempat suku Penghulu baru tidak, tetapi ia bebas mengambil hasil rimba untuk nafakah dari ulajat penghulu keempat suku. Setuaigku artinja sama2
boleh mengambil hasil dari satu tempat jan g tertentu.
Ulajat jaitu sebidang tanah hutan dan padang jan g dibagi-bagi antara penghulu2 tua waktu mentjatjak negeri untuk sumber penghasilannja.
Dalam negeri2 jang berhaluan beradja-radja seperti laras K oto- Piliang kedudukan penghulu ada lain sedikit. K ita pedoinanilah kata mamang Minangkabau jang berbunji :
Jngfjarih memapat kuku,.
Dipapat dengan pisau raut Terpapat dibetung tua Betung tua ambilkan laintai.
Negeri keempat suku Berlnndu berbuah perut Kam pung diberi bertua Rumah diberi bertunganai.
Dinegeri-negeri ini penghulu keempat sukulah jan g mendjadi pu tju k, artinja peng'hulu jan g termulia. Dibawahnja penghulu jang
berhindu. H indu adalah sebahaguui dari suku, dibawah itu buah perut atau pajung, sebagian dari liindu ; baru datang' kampung dan kampung terdiri dari beberapa buah rumah. Kampimg diperintahi oleh tua kampung ja n g tidak perlu terdiri dari penghulu dan rumah diperintahi oleh tungganai jaitu mamak1) laki2 jang tcrtua.
Berlainan 'dengan adat jan g terpakai dinegeri-negeri jang berha- luan republikein, dimana terpakai adat : tegalc sama tinggi, diufiilc sama rendah ; dinegeri jang beradja-radja tampak adatnja berdjen-
djang naik bertangga turun. „
Dinegeri jan g penghulunja berputjuk-putj.uk,* penghulu putjuk itu tidak langsung memerintah pada anak buahnja. Kalau ada pu£juk fentu ada urat tunggangnja. Urat tunggang ini tumbuh diatas tanah.
Tanah diibaratkan anak buah. Karena urat dan tanah tidak bertje- rai, maka penghulu urat tunggang inilah jang bergaul seliari-hari dengan anak buahnja. Scdang ia bertangg'ung djawab pada peng-”
hulu putjuk.
Segala penghulu bergelar datuk. Apakah arti perkataan datuk itu?
Setengah orang mengartikan kata itu jang tua. Dalam beberapa ne
geri di Minangkabau, misalnja daerali Sawahlunto, orang memang- gil kakafc laki2nja dengan datuk. Disebelah Pajakumbuh neneknja jan g laki2 dinamakan datuk.
Setengah orang mentafsirkan perkataan datuk dengan datu jang artinja dukun. Karena penghulu itu orang- tjerdik tjendekia, dia dianggap dukun akal 'dan diberi gelaran datu dan kemudian men
djadi datuk. Pendapat mereka dikuatkan, karena ada djuga ja n n’
djadi datuk itu jang termuda dalam satu kaum, sedangkan kakafenja jan g lebih tua dari padanja tidak.
Mana jang benar diantara kedua tafsiran itu terserah kepada arifin. Penghulu diberi nama djulukan : nan gedang, basa, bertuah.
Apakah artinja itu ? Gedang artinja digedangkan. Gedang diambak, tinggi diandjung. Bertegak gedang artinja mendjadikan penghulu.
Basa atau besar artinja memerintah. Dibaurkan basa dengan peng
hulu artinja dibaurkan radja2 dengan penghulu. Basa 4 balai artinja 4 kementerian sungguhpun menterinja 5 orang, jaitu :
1. perdana menteri merangkap menteri dalam negeri = Utah di Sungai Tarab.
2. menteri keuangan = Mangkudun di Sumanik.
3. menteri pertahanan = Indomo di Suroaso.
4. menteri agama = Tuan kadi di Padding Ganting.
5. Tuan Gedang di Batipuh, tidak memegang kementerian tetapi dia orang sangat berani (menteri negara).
Bertuah artinja masj'hur. Perkataan bertuah jang berarti masjhur kita dapat dalam kalimat : ibu ka-ja, bapa bertuah (kenamaan).
! ) mamak = saudara ibu.
Oleh karena nama djulukan ini, penghulu2 hendaklah tahu balnva gedangnja digedangkan orang dan hendaklah ia memerintah dengan bidjaksana, supaja namanja dimasj'hurkan orang.
Kalau dalam sebuah negeri, anak buah sudah kembang biak dan perlu ditambah pemimpin adat untuk kesempurnaan pekerdjaan, maka adat memberi kesempatan untuk menambah penghulu dengan dj'alan :
1. Gedang menjimpang.
Penghulu tambahan itu hendaklah terdjadi dari tali darah peng
hulu asal. Kalau gelar penghulu asal Datuk Sinaro, maka penghulu gedang m enjim pang bergelar Datuk Sinaro Pandjang.
2. M enggunting sibar badju.
Sibar badj.u artinja tcpi. D jad i untuk pakaiannja diainbil dari badju asal. Penghulu tambahan ini diambil dari tali budi peng
hulu asal. Kalau penghulu as'al bergelar Datuk Sinaro, maka penghulu tambahan bergelar Datuk Sinaro nan Pandjang.
3. B adju sehelm clibagi dua.
D jika berebut akan djadi penghulu dan perdamaian antara jang berebut tidak didapat, terpaksa keduanja didjadikan penghulu.
Keduanja memakai gelar asal ja n g sama. Misalnja kalau gelar penghulu asal Datuk Sinaro, maka kedua penghulu jan g baru diangkat itu masing2 bergelar Datuk Sinaro djuga.
4. Membuat penghulu baru.
Kalau kemenakan dibawah lutut telah kembang biak pula pei’lu ditambah penghulu untuk dia jang sederadjat, maka dipilih sa- la'h seorang dari mereka jan g tjerdas dan diberi gelar dengan gelar jang enak didengar ditelinga misalnja Datuk M endjindjing Alam.
Bertegak penghulu :
Jang dinamakan dengan bertegak penghulu, ialah mengganti penghulu jang lama dengan penghulu baru dengan menurut adat :
■waris didjawai, pusaka ditolong. Didjawat artinja menerima barang dai’i atas kebawali, djadi dari mamak kekemeaiakan. Ditolono- artinia
ditolong supaja berdiri tegap. °
a. hidup berkerelahan.
b. Maii bertongkat budi.
Kedua ini telah diterangkan lebih dahulu.
c. M embanykit batang terendam.
Batang = k?,ju. Terendam = ada didalam air. D jikalau sese- orang hendak membuat rumah, maka disediakan pekajuan.
Sedia pekajuan sadja belum tjukup. A tap mesti dibeli, paku mesti diadakan, upah mesti disediakan. Maka djika belum ada wang pembeli atap dan paku, dan Belum ada wang untuk upah, maka supaja pekajuan djangan lapuk sadja dimakan hari, maka
poitajuan itu dircndamkan kedalam air sementara mentjari waiig untuk penegakkan rumah. Setelah wang tjukup maka mulailaL menegakkannja. Begitu djuga menegakkan penghulu menurut is- tilah membangkit batang tex'endam, kax'ena menurut kata pepatah : tjukup pada jang ada, sukar pada jang tidal;, tex'paksa menegakkan gedang itu diundurkan sampai bertahun-tahun.
Sementara itu ia melekap pada penghulu jang setungku.
•I. Melekatkan badju berlipat.
B adju adalah pakaian. Ia dilipat kareaia tak ada jang akan me- makai. D jad i dalam hal ini, bukan alat2 jang'kurang, melainkan ja n g akan memakai tak ada. Misalnja jang akan diangkat men
djadi penghulu ketika itu masih ketjil, belum balig bei’akal. Maka pusakanja (badjunja) terpaksa dilipat menanti dapat dipakai- -1 ja. Sementara itu bermamak pada penghulu setungkunja. Kalau lelah tiba masanja, maka baru badjurija itu dipakainja.
Tjuvu menegakkan penghulu.
Djadi penghulu, sckata kaum.
D jadi radja, sekata alam.
Untuk mexidjadi penghulu haruslah diingat. beberapa rukun dan sjarat jang mesti dilakukan dan didjalani. Jang utama mendjadi j ukunnja ialah :
Benih — tjalon diundjukkan oleh legaran jang patut membawa gelar penghulu itu. Setelah dituah ditjelakai (diperbxntjangkan) dalam kandamg ketjil, jaitu permufakatan dalam legaran jang di- hadiri oleh laki2 dan perempuan, maka keputusaax isi mufakat itu dibawa kedalam permufakatan perut. Disini dituah ditjelakai sekali lagi dan ditjotjokkan sifat-nja dengan sifat2 jang pantas dipakai penghulu. Setelah dapat pula kata sepakat, maka dibaurkan peno-- kulu2 jan g setungku untuk menerima penjerahan benih. Dalam rapat. ini dibex’i kesempataii anak dan pinak, andan dan pesemandan turut hadir, tetapi hanja sebagai penindjau sadja, dengan maksud supaja mereka boleh mengenal tjalon penghulu itu dari dekat, ka
rena anak pinak, andan pesemandan itu tex-masuk famili djuga jang terdjadi karaxa djalan perkawinan. Andan jaitu keluarga dari isteri dan pesemandan adalali keluarga dari suami dan djika seseorang be- ristei’i, maka ia bernama rcmg semenda dalam kaum isterinja.
Dalam kerapatan penghulu nan setungku dibuatlah djan dji pa- bila helat akan didjadikan, namanja menakuk hari dan dibagilah pekerdjaan, pada anak buah apa jang patut dikex’djakan. Sungguh- pun bexxih sudah diund jukkan oleh kaum, maka jang menanamnja ialah negeri, kai’ejxa megei’i jang akan menxbawanjii sehilir semudik, kebukit scima mendaki, kelurah scimci m enw un. Nan setjiap bak ajam, nan sedatntjing bale besi, setempuh lalu, sebondong surut, seajun se- pakuk. Inilah ada sama sekali tanda dari pex’satu paduan. Diibax’at- kan penghulu dengaxx ikiin pandja/ng ; se.ekor ikan pandjang, sekei at ikan pandjang djuga namanja. (satu buat semua, semua buat satu).
Salah seorang dari penghulu nan sctiuigku inenjcmbahkan dengan pidato pada negeri (h an ja diwakili oleh penghulu), bahasa maksud dan niat dari tungkunja akan menegakkan pusakanja (baik setjara
‘hidup berkerelahan atau lain2 seperti telah diterangkan lebili da- hulu). Mempersembahkan niat itu melalui sjarat, ja itu mengisi adat, lilin embalau namanja, jaitu pem bajaran 2 kupang ( ± E p. 1.
- ) 1). W ang jan g 2 kupang ini dibagi2 diantara penghulu ja n g hadir.
Boleh dimisalltan sekarang pem bajaran wang adat itu ialah mema- sukkan surat permohonan ja n g memakai meterai.
Apakah artinja lilin embalau ? D jik a kita akan memberi pesan, atau1 arit bertangkai, maka puntja pisau atau arit itu kita masukkan kedalam tangkai kaju jan g sudah digerek sepandjang pu n tja itu lebili dahulu, dan untuk pengokohkannja kita rekat dengan embalau.
"VYaktu negeri menerima wang adat, embalaunja atau rekatnja be
lum sebenar rekat, hanja baru lilin, barang lunak, oleh sebab itu patut lekas diganti dengan embalau sebenarnja, jaitu m endjam u isi negeri,, supaja gelar itu boleh terbendang2) kelangit, terserak ke- bumi, diketahui oleh orang banjak. Karena negeri ja n g menanam tumbuh, maka perhelatannja mestilah diizinkan. pula oleh negeri, maka diisi pula .adat menurunkcPii djem ur3) banjaknja tengah 3 kupang ( ± Ep. 1,25) dan adat mcmbantai 2 kupang ( ± E p. 1.-).
Menurut pepatah adat : dimana adat berdiri, ialah digung jang ter- sangkut, dimana merawal (pandjv1) jang tertegak. Memakai gung dan merawal waktu berlielat dibolehkan untuk penghulu keempat suku, sebagai tanda, bahasa nenek m ojangnja dahulu ja n g menl ja - tjak negeri. Untuk itu tidak guna mengisi adat apa2. Penghulu jan g bukan keempat suku dibolehkan djuga memakai gung dan merawal itu, tetapi ia mesti mengisi adat 2 kupang pula. W ang adat itu dibagikan hanja kepada penghulu keempat suku.
Mendjamu, ialah. memberi makan penghulu serta isi negeri.
Kalau negerinja besar, dan orangnja banjak, maka disjaratkan me- motong kerbau (djaw i)' 'dan menanak beras seratus sukat.
Daging dilapah, darah dikatjau, tanduk ditanam.
Kalau negerinj a ketjil, orangnja sedikit, memadailah memotong seekor kambing. Disetengah negeri tjukup dengan kepala kerbau sadja, seperti'di K urai 5 D joron g (Bukit T in ggi)..S ebelu m djamu diberi makan, maka diadakan permedanan lebih dahulu, jaitu se- bidang tanah jan g lapang ; disana dipasang alam jang tinggi, supaja tampak dari djauh, baliwa orang bermedan. Seg,ala tamu dipersila- kan kesana dahulu duduk berkeliling medan. Disana diadakan pidato2, seperti pidato radja, pidato alam dsb. jang m entjurai me- maparkan, bagaimana keindahan alam serta adat Minangkabau.
Karena orang Minangkabau tidak ada mempunjai pustaka, maka
! ) W ang adat dnd dalam tiap2. negeri tidaik sama.
2) .terbendang = terbentang ‘terang.
3) djsm ur = padi jang tjukup keringnja untuk ditumbuk.
foto : Kempen
L a k i2 M inangkabau berpakai- an adat (Saw ah L u nto)
mengutjapkan piclato- itu dianggap sebagai kuliah supaja diperhatikan oleh jang hadir. Sesudah puas berpi- dato, maka dilakukan adat bertolong- tolongan, jaitu dengan kata- adat : Kasih nan berambihm, sajang jang berfaedah (siapa jang membcri dulu, patut menerima kini) van tidak sama ditjari, nan lai (ada) sama dmdakan (diundjukkan), puW i kapas boleh di- lihat (njata) putih hati berlccadaan (menundjukkan bukti berupa w an g).
Maka segala jang hadir membawa sumbangannja bernama menuntut adat, membawa kudu. Harganja se- ° ekor kuda Rp. 0,50.
. Sehabis pemedanan itu tamu diba
wa inakan, tjukup dengan kata perseinbahannja. Makan raesti bersa- ma-sama dipiring besar (makan berdjamba) sebagai tanda kerdja sama jang erat dari anggota masja- rakat dalam negeri.
Setelah sudah makan, maka berdi- rilah penghulu tua jang akan digan- tikan itu, dengan tjalon penghulu jang akan menggantikaainja ; kedua- duanja memakai pakaian adat, menurut langgam satu2 negeri.
Penghulu jang tua memakai destar hitam, destar perut kerbau namanja, dan memakai sebilah keris tanda ke- besarannja, sedangkan tjalon peng
hulu jang akan diangkat itu duduk bersila dekatnja dengan tidak ber- tutup kepala dan tidak berkeris, karena ketika itu ia belum mendjadi penghulu. Penghulu jang tua mem
beri tahu pada chalajak rarnai, bahasa dari saat itu keatas disebabkan ia te
lah tua, tak sanggup lagi mendjalan- kan tugas penghulu, pangkatnja dise- rahkannja pada penggantinja, kctjil bernama si Polan, gedang bergelar Sutan Anu ; lalu ditanggalkannjalah destarnja dililitkannja kekepala tj.a- lon itu serta ditamggalkannja pulalah kerisnja dan disisipkannja keping-
gang penggantinja. Pun dim intanja pada para penghulu- jang liadir supaja penghulu ja n g b a ru itu, sudi dibaiva se-liiUr semudik.
Pun karena umurnja baru setahun djagung, darahnja burn setam- puk pinang, pengalaman djo.uh sekcdi, djika ada pekerdjaannja jang salah, berubah minta disapa, bertukar minta diasak’ ), minta ditun- djuk diadjari dengan petundjuk pengadjarannja. Maka adat bersalin badju itupun selesailah.
Panggilan untuk orang jang akan menghadiri peralatan adalah terbagi, dua :
Pertama jan g ‘patut diimbau dikalakan, jaitu ister; atau semen- daji2 dari anggota sipangkahtn2). Orang ini diimbau bukan untuk penambah berserinja perhelatan, melainkan untuk bekerdja.
Kedua orang jan g patut dipanggil. Kalau ia penghulu, atau orang bcrdjenis, maka dibawa kerumahnja (isterinja) tjerana berisi pi- nang selengkapnja, melepa.s kulangsing namanja ; dj end jang di- Lingkat, bendul ditepik ; kalau jang dipanggil tidak dirumah, maka disana ditinggalkan sirih.
Kalau ia tidak orang berdjenis, maka tidak perlu membawa tje rana, tjukuplah membawa rokok sadja, dan tak perlu meningkat djendjang, meningkat bendul, tjukuplah dikatakan dimana bertemu.
Mendudukkan penghulu dalam perhelatan amatlah sukar ; siapa jan g patut duduk diudjung dan siapa duduk dipangkal. Oleh sebab itu perhelatan itu diserahkan pada djenang, jaitu kepala helat, jang tahu diherang-gendeng, didjudjuh pangkuh3). Ilak istimewa dibe-
rikan kepadanja jaitu : Ilelat seperintah djenang.
Djenang itulah pula jang akan mempersilakan djam u makan, dan kepada djenang pulalali segala djamu bermohon d iri untuk
pulang kerumah masing2.
C. Pembantu penghulu
Tjondong bertopang, Rebah bcrdcuh*).
Untuk kesempurnaaji mendjalankan pemerintahan dalam negeri maka penghulu itu ditemani oleh beberapa orang :
1. Penongkat.
Karena untuk mentjari nafkah hidup masing-, kadang2 peng- lmlu2 itu banjak merantau, meninggalkan kampung. Maka ditinggalkannjala'h wakilnja, atau penongkatnja. Penongkat itu ialah wakil mutlaknja dalam tiap2 kerapatan jan g memperbin- tjangkan pemerintahan, tetapi lido/r dengan jan g bersangkutan dengan adat: Jang bersangkutan dengan adat ia diwakili oleh
! ) diasak = dialih.
2) sipangkalan = jang mengadakan perhelatan.
3) dihereng-gendeng, didjudjuh pangkuh = peraturan.
4) berdauh = ditegakkan (cembali.
penghulu jan g sctungku. Penongkat diangkat bersama-saina dengan angkatan penghulu dengan tjara membcritahu sadja. Ti
dak perlu ia mengadakan helat jang tertentu, karena adat mcnjatakan : tcgak penghulu serta tongkat.
Biasanja penongkat. ini diambil dari anggota dari legaran jang berikut, dengan tidak ada kepastian, bahwa djika penghulunja diganti, ia sendiri akan djadi penggantinja. Pangkat penongkat tidak turun temurun. Makanja diambil dari legaran jang berikut, untuk menandakan, bahasa legarannja pula jang mestj meng- gantikan penghulu sekarang. «
. 21 alim. o
Dalam setengah negeri namanja imam. Ia berkewadjiban meme
riksa adat jan g bersangkutan dengan agama, misalnja zakat fitrah, nikali, kawin, talak, rudjuk. Dalam perselisihan anlara^
suami dengan isteri, perkara ada tidaknja pemberian nai'kah dari suami, atau ada tidaknja taat ilari fihak isteri pada suaminja, malimlah jang memeriksa lebih dahulu. Dalam soal perf.jisraian ialah jan g akan memeriksa apa sebab'-nja dan kalau mungkin memj>erdamaikan.
Apabila ada harta guntung, jaitu peninggalan dari seseorang ja n g telah putus warisnja dan datang beberapa orang jang me- ngatakan, bahwa merekalah war is teivlekat jang masih tinggal pada simati, maka ia pula jang akan memeriksa siapa diantara mereka itu jang terdekat untuk mewarisi harta guntung itu. D ji
ka keterangan sama- kuat, dan kedua belah pihak tidak m'au berdamai dengan djalan dibagi dua dan tiap2 pihak mengatakan, bahwa dia jang berhak mendjadi siwaris, jang lain tidak, maka liukum terpaksa didjalankan dengan bersumpah, dengan menje- but nama Allah, jaitu „Demi A lla h ” . Inilah namanja gaib, ber- kalam Allah. Kata malim bernama kata hakekat, jaitu kata jang hak| tidak mempunjai helah.
Bersumpah ada 2 matjamnja :
a. sumpah biasa, jaitu bersumpah diantara 2 orang berperkara dengan perantaraan surat Ivuran. Sumpah dilakukan oleh malim. Lazimnja dinamakan sumpah sematjam itu sumpah kantor. Sumpah ini tidak ditakuti orang betul, karena kutuk- nja tertimpa hanja pada 2 orang jang bersumpah sadja.
b. sumpah sativ, nama lainnja, berlingkung putjuk.
Kedua belah pihak jang bersumpah, memeluk anak kemena- kannja, dilingkungi dengan putjuk enau, mereka bersumpah atas kebenaran pendapat masing2 dengan utjapan :
Akan dimakan bisa kaivi, keatas tidak bcnirat, ditengah-te- ngak dilarik (digerek dengan bentuk tak menentu) kumbang.
Kutuk sumpah jang seperti itu menghabiskan anak kemena
kan habis sekampung ; oleh sebab itu, atas kata sepakat sekarang sumpah berlingkung putjuk itu dilarang oleh kera- patan penghulu'2.
5. Manti.
Dalam setengah negeri nam anja chatib, a rtm ja dju ru tu lis, 11 £ selcretaris. T ugasnja iala'h m enjam paikan segala perintah *ccj wah dan m enjam paikan perasaan anak buali keatas. P a <u sidang rapat memeriksa perkara, ia ditugaskan menerima daMva^
dan m enjam paikan putusan hakim. K atan ja bernama kata <)ei ' hubung.
4. Hulubalang = perwira.
H u lu artin ja kepala. B a la (n g ) artin ja tentera. H ulubalang i111"
?.ah ja n g akan menguatkan kata keputusan penghulu. Ia jan g akan m enakik man a jan g Iceras, m enjudu mana jan g lunak- K adang2 ia bersifat polisi, ia mesti m endjaga keamanan c^an berusalia supaja larangan dan pantangan adat djangan dilan g- gar orang. Ia m csti tahu dimana randjau jan g telah lapuk patut diganti, parit nan telah terham par patut dinaikkan. Ia m e le b ih - l:aci djaga dari tidur, siang berselimut awan, malum b e r s e l i m u t
embun. Dimana randa dapat malu, dimana penghulu dapat basa (penghinaan) ia lekas berada ditempat itu untuk memberi gaii- djaran pada ja n g bersalah. Dahulu hulubalang ini m e m a k a i
b a d ju merah, beram but pan d jan g sedang dipu n ggu n gn ja tersisip keris pandjang. K atan ja kata menderas.
5. Pegawai.
Pegawai, jaitu orang suruli2an jan g tjepat kaki ringan tangan, ja n g tak tahu ditulang litak. Pegawai ini ja n g disuruh m endjem - pu t dan mengantar orang dan mengumpulkan orang u n tu k pekerdjaan umum, seperti bergotong-rojong.
K adang2 ia mesti berdusta m endjalankan tugasnja. Seumpama.
djik a orang mesti berapat pukul 9, ia katakan pukul 7.
K alau perlu orang 15 orang, dikatakannja 30 sehingga pada w aktunja dan tem patnja, segala perintah tertjapai. M engang- kat pegawai ini boleli begitu sadja serta pangkataija tidak turun temurun. K ata pegawai ini nam anja kata berlipat.
Dalam pembantu penghulu ja n g lima m atjam ini, maka malim, manti, hulubalang, diangkat dalam adat dengan hale turun temuruai seperti mengangkat penghulu djuga, hanja tidak seberat adat me- ngangkat penghulu, sedang gelarnja tidak selamanja datuk. M ereka masuk orang berdjenis. Orang 4 djenis, jaitu penglm lu, malim, m an
ti dan hulubalang.
Selain dari 5 m atjam pembantu penghulu itu ada lagi beberapa golongan d a la m . negeri :
a. alim ulama = suluh bendang dalam negeri, ja itu penasehat da
lam urusan agama.
b. tjerd ik pandai = seruling dalam negeri, ja itu perhiasan m eru- pakan penasehat pehting ; mereka orang ja n g kaja, termasuk golongan tjerd ik pandai djuga.
LTkiran rum ah gadang di B u k it Tinggi foto : Kcmpen
c. perem puan — amban puruk, alung bunian = penjim pan harta.
Amban puruk, alung bunian, jaitu satu peti besar terbuat dari pada kaju jan g mempunjai pandjang ± 2 m, lebar 1 m, tinggi V2 m. Amban puruk ialah penj impart b a rang- jaiig berharga.
K atanja kata merendah, mengambil hati suami.
d. orang muda, jaitu segala mereka jan g suka pada keb.udajaan seperti silat dan bermatjam kesenian sepei-ti puput -sailing, rebab ketjapi, serunai 'dan nafiri, tabuh2an seperti telempong, serta pentjak dan tari. Orang jang mengepalai orang muda ini ber- nama tua- muda.
c. tua b u m = bernama pem untjak bum .
f. lua bandar = satu pangkat jang diberikan untuk memelihara bandar dan pembagian air sawah. Sekali setahun waktu memu- langkan ulu tahun, artinja waktu mengambil hasil pertama, ke- padanja dipersembahkaai suatu peralatan.
g. ormig pandai = segala matjam tukang. Orang pandai ini dahu- lu sangat 'diliormati, sehingga dalam peperangan, tukang2 ini tidak boleh dibunuh.
li. orang banjak, jaitu aaiak buah biasa, ja n g tak tentu udju ng pangkalnja, sehingga katanja disebut kata bergalau.
Enak sirih, ri.il cyar tjerana Enak lata, dil e-gar bunji.
Dalam perkembangan kini di Nusantara, set el ah negara kita nier- deka dan berdaulat penuli dan sedikit waktu mendjelang kemerdekaan, maka terdjadilah perlawanan .antara ka.um marhaen dengan,kaum ningrat (fe o d a l). Banjak sedikitnja perkembangan ini berembus pul?, ke Minangkabau, seliingga ada pemuda3 ja n g menganggap d irin ja bersifat radikal repolusioner, inendaulat peng- l.ulunja masing2, karena ia menganggap penghulunja itu bersifat feodal, menurut adatnja, sebab katanja mengapa segala rundingan dimonopoli oleh penghulu2 sadja.
Kalau kita artikan perkataan feodal, maka ia akan berbuaiji pem - berian liak oleh radja kepada pembantunja, berupa hak atas tanah untuk m endjadi djalan penghidupan baginja dan hak memakai ge- lar keoangsawanan untuk penundjukkan martabatnja.
Hak ini adalah turun-temurun.
Hak atas tanah dan hak memakai gelar kebangsawanan itu, dibe- rikan pada sipembantu radja tadi, sebaliknja dengan perdjandjian, supaja ia akan membantu tuannja dalam tiap- peperangan jang dilakukan oleh radja tadi itu.
Hak jang diberikan oleh radja tadi dinamai ,,leen” = pindjam . Tuan pindjam (leenman), berkuasa diatas tanah jan g diterimanja dari radja, sebagai tanah pindjaman. Ia berkuasa pula untuk men- tjari pembantunja, serupa dengan 'hak jang diberikan radja kepadanja. (lihat Ens. W inkler P rin s).
D jad i dalam arti kata feodal, hak atas tanah adalah hak radja semata-mata. Selebihnja hanja mendapat tanah karena ,,pin
djam an” .
Lain 'halnja d i Minangkabau. R adja itu tidak m em punjai kekua- saan absolut. Ia hanja mcrupakan lambang sadja, itupun hanja dikelarasan koto piliang daai dirantau jan g terdapat pengaruhnja.
Se])iib/ija ifllali karena ia datang kemudian, dan sebelum ia datang, negeri2 di Minangkabau telah berpemerintahan jan g teratur d ju ga ’ dengan pemerintahan rakjat. R adja2 itu tidak m empunjai tanah’
sendiri, karena sebelum dia datang, tanah2 disitu telah ada pem - bagiamnja, dan telah dimiliki oleh perseorangan sebagai hutan rendah (sawah ladang) dimiliki oleh penghulu3 (wakil rakjat) sebagai hu
tan tinggi (u la ja t). &
Penghulu — kepala rakjat dipilih bersama-sama dari tjalon2 jan g tak disjaratkan mesti berani berkelahi, tetapi mesti Jang bcrani 'ka
rena benar, takut karena salah.
H utan tanah dibagi menurut suku, dalam kelarasan budi tjania»-o dam dikendalikan oleh penghulu putjuk atas nama negeri dalam kelarasan koto piliang. A p a jan g sudah terkanda.no (dikerdjakan) itulah m iliknja masing2, dipusakakan turun-temurun sampai keanak tjutju. A p a jang belum dikerdjakan, itulah tanah tjadangan untuk
bersama. D jadi tampaklah disini bahwa penghulu2 bukan punja ta
nah ulajat, tapi hanja menguasai sadja.
D jika ada salah seorang didalam suku kekurangan sawah atau Jadang, karena manusia telah kembang djuga, maka ia minta izin pada penghulunja untuk membuat teruka baru ditempat jang di- ingininja. Permintaan ini hendaklah menurut peraturan jang lazim terpakai, supaja djangan mendjadi teruka liar. D jika tanah jang diminta itu telah selesai 'dikerdjakan, menurut timbangan penghu- Jiuija, maka tanah itu mendjadi mililmjalah turun-temurun. Tanah2 itu tidak disewa pada pengimlu dan tidak pula dfpindjamkan oleh penghulu- kepadanja.
Oleh karena penghulu2 itu dipilih oleh orang banjak, maka harus pula ia meinbalas budi, dengan berlaku adil serta bidjaksana dalam segala tindakannja. Ia mesti insaf, bahwa gedangnja dek karena diambak, tingginja dek karena■ diandjung. Benarlah kata petua
„B undo K andung” dizuhir orang menjembah, dibatin kita
menjembah. .
Penghulu tidak boleh memutuska.11 sesuatu dengan seorang dirinja, memantjung putus, menga-ut habis, sungguhpun mamang berkata : putus kata dek panghulu. iJalani sesuatu masaalah, sebelum tindakan diambil, maka segala sesuatunja diperundingkan masak2 lebili da- iiulu, ditimbang buruk baiknja, laba ruginja, tuah tjelakanja, adakah ada dimakan patut dan mungkin dan bersendi kepada halur.
Segala anggota kerapatan berhak mengeluarkan suaranja dengan sebebas2nja. Kalau telah dapat kata sepaka^ bidat boleh digolekkan, petjak lah boleh dilajangkan, maka dipulangkan kata putusan pada penghulu. Dan penghulu inilali nanti akan mengatakan kata putu
san pada orang banjak. Inilali jang bernama : Putus kata dek pang- hulu:
Mungkin dalam perdebatan mentjari kata kebenaran, terbit perdebatan jan g sengit, sampai perkataan merembet kepada per-
•seorangan, tapi ini tidak mendjadi apa, karena adat ada memberi kelonggaran tentang itu dengan petuanja :
Dapat dibalai-balai, hilang dibalai-balai. Dengan kesempatan jang seluas ini terlaksanalah demokrasi jang sebenarnja.
Dalam negeri demokrasi tentu tidak ada peraturan feodal. Pun is- filah „bangsawan ’ ’ dalam arti kata jang sempit tidak ada di Minangkabau. Disini hanja terdapat orang baik-. Orang bangsawan adalah tersebab oleh keturunan, sedang orang baik2 terdapat karena pendidikan, add bcrtundjuk berpengadjar. Kalau oiang tidak di- tund ju k diadjari, maka ia mendjadi kurang adjar, sungguhpun 1a anak radja sekalipun. Peri bahasa mengatakan :
Bahasa menundjukkan bangsct, sedang pantun mendendangkan pula:
D ek ribut rebahlah padi, D itjupak datuk Tumawggung.
Djika, lii&up tidak berbudi, D uduk tegak kemari tjanggung.