• Tidak ada hasil yang ditemukan

Afektif Guru dari Aspek Rasa Tidak Senang Terhadap Perubahan Kurikulum

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 105

BAB 1 PENDAHULUAN

C. Dinamika Perubahan Kurikulum

2. Sikap Afektif Guru SD Terhadap Perubahan Kurikulum

2.2 Afektif Guru dari Aspek Rasa Tidak Senang Terhadap Perubahan Kurikulum

dari luar yang menyebabkan guru tersebut mempunyai perasan senang, pengaruh dari luar ini dapat berasal dari dorongan pelatihan, teman-teman guru di sekolah, media masa, atau kepalah sekolah.

2.2 Afektif Guru dari Aspek Rasa Tidak Senang Terhadap Perubahan

Munculnya rasa ketidaksenangan di kalangan berbagi guru diakibatkan lahirnya ketidakkonsistenan kebijakan kurikulum. Ketidakkonsistenan yang dimaksud disini adalah adanya perilaku pemerintah yang selalu mendesain kurikulum dengan format pembelajaran yang baru dengan dasar kepentingan sendiri yaitu masalah program keguruan dalam masa jabatannya, tanpa memperhatikan akar rumput yang akan menjalankan program tersebut. Sehingga lahirlah selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan.

Seandainya perubahan kepemimpinan mengarah pada pemantapan pelaksanaan arus bahwa dari K13 tanpa melakukan pembaharuan kurikulum lagi, pendidikan akan lebih mengarah pada konsisten pengembangan SDM yang lebih baik untuk peserta didik, sehingga guru dan peserta didik akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara yang diinginkan dengan persepsinya atas kenyataannya.

Pendapat tersebut sejalan dengan pernyataan informan L berikut ini;

Betul karena banyak guru-guru saya dapati mengeluh tentang aspek penilaian apalagi disini sekolah percontohan, yang membuat ibu tidak senang adalah fasilitas yang tidak lengkap dan peniaian yang menjadi masalah. (I.14/GR/SD/MKS/P)

Pernyataan informan L tergambar kalau munculnya rasa tidak senang guru dikarenakan pada aspek penilaian dan fasilitas pembelajaran untuk K13.

Munculnya banyak kritik yang mengemuka selain faktor penilaian dan fasilitsa pembelajaran yang sangat terbatas sekali, juga dipandang kalau terkesan kompetensi dasar (KD) dipaksa untuk dikaitkan dengan nilai-nilai religiusitas, hilangnya posisi kerja guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), belum jelasnya konsep dan praktik tematik-integratif pada jenjang Sekolah Dasar (SD),

dan pengembangan kurikulum 2013 tidak didasari oleh riset-riest yang serius dan mendalam terhadap pelaksanaan kurikulum yang sedang berjalan, dan lainnya.

Walau banyak kritik dilontarkan namun pemerintah tetap bersikukuh bahwa kurikulum 2013 yang didesain sebagai kurikulum nasional akan dilaksanakan pada tengah tahun 2013 ini. Oleh karena itu, mau tidak mau pihak sekolah dan para guru harus “siap” menghadapi implementasi kurikulum 2013.

Semestinya guru selain dilatih dan didampingi serius untuk dapat meramu berbagai realitas, beragam ilmu pengetahuan, dan juga keterampilan hidup agar dapat menjadi menu belajar yang enak, menyenangkan, untuk dipelajari bersama anak didik di kelas. Dengan kata lain, guru harus punya ruang gerak yang luas untuk dan demi kepentingan anak didiknya, konsep inilah yang familiar disebut sebagai student centered atau pembelajaran yang berpusat pada siswa/anak didik.

Dari perspektif pedagogi kritis (critical pedagogy) dengan demikian bahan/materi pembelajaran mesti berangkat dari pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dan dibawa oleh masing-masing anak didik ke kelas. Salah seorang pemikir dan aktivitas pedagogi kritis. Pernyataan yang senada juga disampaikan oleh informan Q sebagaimana berikut ini;

membuat rasa kurang senang karena masalah banyak sekali, terutama masalah bukunya, selalu berubah-ubah, kemudian masalah kalau mau dibagikan LKS-nya anak-anak kan kebanyakan gambar terutama penilaian. saya senang toh tapi, yg menjadi masalah bukunya, karena bagimana kita berikan anak-anak kalau cmn gambar yg diajarkan krn kebanyakan gambar itu di buku kls 1 jadi kalau begitu butuh lagi dana untuk fotocopy (I.1/GR/SD/GW/P)

Faktor munculnya rasa tidak senang guru atas perubahan kurikulum selain masalah fasilitas buku yang tidak lengkap dan penilain yang bengitu rumit juga

secara subtansial karena faktor dari diri sendiri sebahagian guru yang tidak mempunyai keinginan melaksanakan K13. Tanpa dorongan keinginan yang kuat pada diri guru tak akan dapat diwujudkan pelaksanaan K13 dengan baik dan terarah. Faktor lain yang menyebabkan munculnya rasa tidak senang juga diakibatkan dari aspek tidak adanya percaya diri guru. Munculnya rasa percaya diri dikarenakan adanya rasa ketidak mampuan untuk melakukan sesuatu terhadap objek, dari hal itu sehigga memicu munculnya rasa tidak senang pada diri akibat ketidak adanya keinginan untuk melaksanakan K13.

Lahirnya rasa tidak senang juga dikarenakan faktor lingkungan sosial dalam sekolah yang tidak mendukung. Keterkaitan antara faktor lingkungan dengan perubahan kurikulum yang melahirkan rasa tidak senang disini adalah situasional hubungan stakeholder’s dengan guru tidak terbangung secara stabil sehingga ruang kreativitas guru sangat terbatas. Hegemoni internal sekolah antara guru dengan guru, kepala sekolah dengan guru dan guru, kepalah sekolah dan pengawas ketidak terjadi ruang harmonisasi yang baik akan melahirkan dampak pada motivasi guru dan dapat membias pada rasa senang guru untuk menerimah perubahan kurikulum.

Tidak terbangungnya harmonisasi lingkungan sekolah akan mengganggu konsentrasi proses belajar mengajar guru. Permasalahan lingkungan akan

“merusak suasana” dan membuat kondisi tidak nyaman. Dukungan dan bimbingan yang diharapkan dari stakeholders kalau itu tidak terbangung dengan baik maka dapat merugikan peserta didik. Oleh karena itu, motivasi akan menentukan afektif guru. Tanpa motivasi, jiwa dan raga anda tak akan bergerak untuk berbuat.

Mengajar akan menjadi beban dan hanya sekedar menggugurkan kewajiban.

Jadikan belajar sebagai aktifitas menyenangkan.

Ketidak senang guru juga terjadi disebabkan karena guru tidak memahami tujuan K13 secara jelas sehingga lahir berbagai alasan. Namun alasan guru juga rasional dan objekti dalam teori perbandingan dan ketidak sesuaian. Muncul rasa tidak senang dalam teori perbandingan mengilustrasikan kalau munculnya rasa tidak senang karena disebabkan oleh beberapa faktor dalam K13. Faktor tersebut tidak akan memungkin lahir suatu rasa tidak senang bila fasilitas yang berkaitan dengan keperluan K13 lengkap dan berdasarkan keperluan guru dibandingkan dengan selalu berdali bahwa guru harus kreatif. Hal tersebut juga masuk pada rana teori ketidak sesuaian yang pada prinsipnya pencapain tujuan K13 untuk guru harus disesuaikan dengan keperluan guru yang berdasar pada K13 itu sendiri.

Kita bisa saja menelaah lebih jauh secara serius dan kritis konsep dan substansi kurikulum 2013, namun di sini kami akan lebih fokus pada mengulas ulang konsep ideal guru bagaimana yang “tidak memiliki rasa senang”

menghadapi kurikulum apa saja, termasuk kurikulum 2013. Konsep guru yang

“tidak memiliki rasa senang” ini penting diulas mengingat pro dan kontra yang masih terjadi mengenai kurikulum 2013, kalaupun kurikulum 2013 setelah final dan diketok palu oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) hasilnya bagus maka guru “yang tidak memiliki rasa senang” untuk mengelaborasi dan mengembangkannya di konteks lokal dengan mempertimbangkan keragaman bakat dan minat anak didik, di sisi lain kalau hasilnya tidak atau kurang bagus dalam arti tidak banyak perubahan yang terjadi

dari desain sekarang, maka para guru harus siap untuk melakukan improvisasi dan inovasi yang diperlukan dan dibutuhkan serta sesuai dengan konteks dan ragam anak didik tersebut.

guru terkait perubahan kurikulum memiliki persepsi yang berbeda-beda terkait k13, ada guru yang senang dengan k13 karena menganggap k13 tidak membebani guru dalam membuat RPP, menentukan bahan ajar dan membuat penilaian karena semua suda ada dalam K13. (D.4/observasi).

Guru dalam perubahan kurikulum memiliki persepsi yang berbeda, dimana guru ada yang memiliki rasa senang dengan keberadaan perubahan kurikulum dan ada pula yang tidak senang. Ini lah yang dimaksud resiko kebijakan ketika suatu kebijakan diterapkan, kadang harus berhadapan dengan sikap pro-kontra.

Fenomena inilah yang terjadi dalam uji coba kebijakan Kurikulum 2013 mulai diterapkan. Tudingan dan cercaan untuk mengganti pola dan sistem pengajaran di jenjang SD dengan metode dan sistem baru, mengakibatkan guru harus belajar keras karena mau tidak mau harus ditermi.

Penerimaan guru terhadap perubahan kurikulum bikan hanya terlihat dari aspek bahwa guru memahami kurikulum K13, akan tetapi proses penerimaan melalui proses yang panjang dan juga sangat didukung oleh kesadaran sikap guru kalau perubahan tersebut merupakan hal fundamental bagi pendidikan. Melalui proses yang panjang tersebut kesanangan guru dengan K13 mulai terpanjar bagi guru-guru yang berpengalam, guru yang suda mengikut banyak pelatihan dan guru-guru yang memiliki keratifitas. Guru-guru tersebut menganggap kalau K13 sangat obtimal karena guru tinggal mengajar, itu disebabkan menurut guru karena

RPP, bahan ajar dan penilainan semuanya suda terformat dan tinggal dilaksanakan. Pendapat ini sejalan dengan pendapat hasil observasi berikut ini;

guru dalam perubahan kurikulum memiliki persepsi rasa tidak senang yang berbeda, mereka beranggapan kalau perubahan kurikulum menyusahkan guru, karena penilaiannya terlalu banyak, bahan ajar susa untuk didapatkan, terlalu menyusahkan dalam pembuatan media bahkan sulit untuk mendapatkan materi ajar. (D.3/observasi)

Guru juga menyatakan bahwa penerapan Kurikulum 2013 sangat banyak tuntutan yang harus dipenuhi yaitu diantaranya dari aspek proses evaluasi/penilaian yang dilakukan terhadap peserta didik yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Selain pada proses pengajaran, berbagai keluhan juga bermunculan dari aspek perangkat pengajaran, yaitu mulai dari RPP, penerapan KI yang sangat sulit untuk diaplikasikan. Proses pengajaran yang dilaksanakan harus selalu mengacu pada keempat KI yang telah disusun dalam silabus dan dipadukan dengan KD dengan selalu mengacu pada pola pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik.

Ketidak senangan guru terkait K13 karena guru menganggap fasilitas bahan ajar sangat kurang mendukung, selain itu, guru juga tidak mampuh melakukan sinerjitas mata pelajaran antara satu dengan yang lainnya hingga terpadu karena buku yang dipakai di sekolah adalah buku yang berbasis kegiatan (Activity Based Learning) untuk SD yang ditulis secara terpadu (Tematik Terpadu). Buku Siswa lebih ditekankan pada "activity base" bukan merupakan bahan bacaan. Dalam mengajar ada dua jenis buku (Buku Siswa dan Buku Guru).

Setiap buku memuat model pembelajaran dan proyek yang akan dilakukan oleh

siswa. Dalam Kurikulum 2013, buku ditulis mengacu kepada konsep kurikulum (KI, KD, Silabus).