• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 105

BAB 1 PENDAHULUAN

C. Teori-Teori

1. Teori Perubahan Kurt Lewin, mengungkapkan bahwa perubahan dapat dibedakan menjadi 3 tahapan:

a. Pencairan (unfreezing)

Motifasi yang kuat untuk beranjak dari keadaan semula dan berubahnya keseimbangan yang ada. Merasa perlu untuk berubah dan berupaya untuk berubah, menyiapkan diri dan siap untuk berubah dan melakukan perubahan.

b. Bergerak (moving)

Bergerak menuju keadaan yang baru atau tidak / tahap perkembangan baru, karena memiliki cukup informasi, serta sikap dan kemampuan untuk berubah, memahami masalah yang dipahami dan mengetahui langkah- langkah penyalasaian yang harus dilakukan, melakukan langkah nyata untuk berubah dalam mencapai tingkat atau tahap baru.

c. Pembekuan (refresing)

Telah mencapai tingkat atau tahap baru, mencapai keseimbangan baru.

Tingkat baru yang dicapai harus dijaga untuk tidak mengalami kemunduran atau atau bergerak kembali pada tingkat atau tahap perkembangan semula. Oleh karena itu perlu selalu ada upaya untuk

mendapatkan umpan balik, kritik yang konstroktif dalam upaya pembinaan yang terus menerus dan berkelanjutan.

Sementara teori perubahan Roger terdiri lima tahap dalam perubahan, yaitu : Kesadaran, Keinginan, Evaluasi, Mencoba, dan Penerimaan. Roger percaya proses penerimaan terhadap perubahan lebihh kompleks dari pada 3 tahap yang dijabarka Roger. Terutama dalam setiap individu yang terlibat dalam proses perubahan dapat menerima atau menolaknya. Meskipun perubahan dapat diterima, mungkin saja suatu saat akan ditolak setelah perubahan tersebut dirasakan sebagai hal yang menghambat keberadaanya. Roger mengatakan bahwa berubah yang efektif tergantung dari indifidu yang terlibat tertarik dan berupaya untuk sellalu berkembang/maju serta mempunyai sutau komitmen untuk bekerja dan melaksanakannya.

Seterusnya teori perubahan yang diperkenalkan oleh Charles Darwin (1809-1882) yang menjelaskan bahawa proses perubahan berlaku dalam bentuk linear yaitu dari tahap yang mudah ke tahap yang lebih sederhana. Teori ini terus mengalami perkembangan diberbagai disiplim ilmu seperti pendapat Trevino (2008) dan Tsai (2013) bahwa dunia yang kompetitif seperti saat ini perubahan ialah satu-satunya bahagian yang konstan dan dipengaruhi oleh berbagai fenomena, sikap ketergantungan serta hubungan timbal-balik antara elemen- elemen lainnya dalam suatu organisasi pendidikan. Berhubungan dengan perubahan kurikulum dapat terjadi karena tuntutan suatu keadaan sosial yang mendorong struktur seperti negara untuk melakukan suatu perubahan dalam

mencapai suatu tujuan iyaitu kepentingan negara dan masyarakat dalam persaingan didunia pendidikan.

Dari aspek perubahan inilah yang dimaksud Machmud (2011) tujuan suatu perubahan seperti kurikulum pendidikan dalam suatu negara untuk lebih membentuk sistem pendidikan yang jelas dan sesuai kondisi sosial masyarakat.

Perubahan kurikulum pendidikan merupakan suatu wujud penyesuaian terhadap konteks kemajuan dan perkembangan Negara. Disadari bahwa pendidikan merupakan bahagian dari rangkaian kehidupan manusia yang mesti dikembangkan agar mereka dapat memperoleh pengetahuan untuk menghasilkan suatu keberhasilan dalam kehidupannya. Justru itu, guru harus selalu sadar terhadap perkembangan dunia agar dalam perubahan sistem pendidikan seperti kurikulum yang terjadi tiap saat tidak menjadi suatu keluhan dan persoalan dalam dunia pendidikan khususnya guru-guru.

2. Teori Pembelajar Orang Dewasa

Teori pembelajaran orang dewasa telah mengalami perkembangan dan banyak digunakan dalam berbagai penelitian disetiap bidang ilmu khususnya ilmu pendidikan. Dalam dunia pendidikan menurut Knowles, (1990) teori tersebut dikenal dengan istilah andragogi yang berarti suatu proses pembimbingan orang dewasa. Implementasi teori pembelajaran orang dewasan menurut Knowles (1990) bahwa, proses pembelajaran dalam suatu sekolah memerlukan pendekatan dan metode yang berbeda sehingga sangat diperlukan suatu pengetahuan, pengalaman yang banyak agar dapat diaplikasikan bardasarkan kondisi.

Teori pembelajaran orang dewasa menuntut pada aspek belajar secara terus menerus artinya tidak berhenti melakukan proses belajar. Teori tersebut sejalan dengan pendapat Lindeman (2010) dan Trotter (2006) bahwa teori pembelajaran orang dewasa mengarah pada dimensi pembelajaran seumur hidup karena orang dewasa selain memerlukan pendekatan praktis untuk belajar, mereka juga perlu memahami suatu perubahan yang berhubungan dengan kehidupan sosial dan profesinya. Selain itu menurut Post (2010) dan Scott (2010) bahwa seorang guru dalam dunia pendidikan harus selalu belajar dengan berbagai keterampilan, meningkatkan pengetahuan dan lebih banyak paham tentang informasi agar mereka tidak tinggal landas. Ini yang dimaksud oleh Scott (2010) tentang prinsip pembelajaran orang dewasa yang ideal adalah selalu tertarik pada peningkatan profesional yang bersifat kontekstual dan relevan.

Menurut Knowles (1990) dalam teori pembelajaran orang dewasa terdapat tiga hal fundamental yang harus dipahami antaranya; Pembelajaran berdasarkan ciri-ciri orang dewasa; mereka memiliki keinginan yang tinggi untuk memahami kenapa mereka perlu mempelajari sesuatu hal. Selain itu, kematangan berpikir dapat menghasilkan konsep diri yang mandiri dan bertanggungjawab dalam mengarahkan proses belajarnya sendiri. Seterusnya selain pengalaman yang banyak menjadi sumber pembelajarannya sendiri juga memiliki tingkat keperluan belajar berdasarkan peranan sosialnya sendiri agar mereka dapat menyesuaikan dengan kehidupannya lebih efektif. Sehubungan dengan ini, pembelajaran orang dewasa selain juga adanya dominasi faktor internal individu yang memotivasi

untuk selalu belajar dibandingkan faktor eksternal dan selalu berorentasi pada penyelesaian masalah.

Teori berdasarkan situasi hidup orang dewasa; Teori ini menurut Knox (1980) dan Jarvis (1987) terdapat dua hal yang berbeda yaitu pembelajaran yang berdasarkan pada prestasi dan implementasi pembelajaran dan tindakan setelah mengikuti program pelatihan. Selain itu, dalam teori pembelajaran orang dewasa menurut Jarvis (1987) bahwa pengalaman belajar merupakan hal penting karena semua proses pembelajaran bersumber dari pengalaman sehingga dalam situasi sosial perlu untuk selalu dicermati dan dipahami. Sementara teori berdasarkan perubahan kesadaran; teori ini lebih jenderung pada pengetahuan kognitif yaitu perbaikan mental dan sikap. Menurut Mezirow. J (1995) dan Blackburn (2000), dalam pembelajaran orang dewasa selain pada konsep pemberdayaan diri sendiri, juga cenderung menggunakan pendekatan konstruktivis yang menganggap bahwa pengetahuan berada diluar sana yang harus dicari dan bagaimana pengetahuan tersebut ditafsirkan kembali menjadi pengalaman dan pengetahuan yang baru.

3. Teori Struktur Fungsional

Faix, Thomas L (1966) menggunakan analisis struktural-fungsional yang berasal dari biologi, sosiologi, dan antropologi untuk menjelaskan konsep kurikulum. Fungsi kurikulum dilukiskan sebagai proses bagaimana memelihara dan mengembangkan strukturnya. Menurut Beaucham (1975), teori pendidikan akan atau dapat berkembang. Tetapi perkembangnnya pertama-tama dimulai pada

sub-sub teorinya. Yang menjadi subteori dari teori pendidikan adalah teori-teori dalam kurikulum pengajaran, evaluasi, bimbingan, dan administrasi pendidikan.

Hugh C. Black dalam bukunya A Four-fold Classification of Education Theories (1966) mengemukakan empat teori pendidikan, yaitu teori tradisional, teori progresif, teori hasil belajar, dan teori proses belajar. Teori tradisional menekankan fungsi pendidikan sebagai pemelihara dan penerus warisan budaya, teori progresif memandang pendidikan sebagai penggali potensi anak-anak, dalam teori ini anak menempati kedudukan sentral dalam pendidikan. Teori hasil belajar sesuai dengan namanya mengutamakan hasil, sedangkan teori proses belajar mengutamakan proses belajar.

4. Teori Individu Kreatif

Individu Kreatif mengikut Georgen Herbert Mead (1863-1931) dalam penelitiannya mengenai interaksi sosial antar manusia sebagai makhluk kreatif.

Guru sebagai makhluk individu kreatif karena kemampuannya melakukan berbagai program diberbagai aktivitas pendidikan di sekolah. Seperti yang dimaksud Tsai (2013) bahwa kreativiti menusia merupakan satu-satunya bahagian yang konstan yang mesti didorong untuk melakukan perubahan. Oleh itu, pemerintah daerah selain harus memberikan ruang kebebasan kepada semua stakeholder sekolah untuk memanfaatkan berbagai potensi yang ada di sekolah agar peserta didik juga lebih kreatif, juga guru harus selalu dievaluasi dan dilatih menjadi guru yang lebih kreatif agar tercipta guru profesional.

Teori individu kreatif banyak menarik perhatian bagi peneliti dalam pengembangan lembaga pendidikan, seperti hasil penelitian Burbiel (2009) dan Chua dan Iyengar (2008) bahwa kreativiti individu merupakan perkara yang penting bagi proses inovasi. Melalui proses pencapaian inovasi kepala sekolah sebagai pemimpin mesti membangun interaksi dalam kelompok kerja dengan guru-guru disetiap sekolah. Interaksi tersebut perlu agar dalam setiap perubahan yang menyangkut persoalan pendidikan guru selalu siap menerima dan tetap belajar terhadap perubahan (Ford, 1996: Gibson, 2005: Gumusluoglu dan Ilsev, 2009: Tsai, 2013). Senada dengan pendapat Agbor (2008) dan Beheshtifar dan Kamani-Fard (2013) bahwa kreativiti individu merupakan bahagian fundamental yang harus dimiliki oleh semua guru dalam lingkup pendidikan dan harus mendapat dukungan serta perhatian. Karena dengan guru yang kreativiti maka pengembangan pendidikan dan peserta didik ditingkat sekolah akan lebih berkualitas walaupun perubahan kurikulum terjadi setiap masa.