BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 105
BAB 1 PENDAHULUAN
C. Dinamika Perubahan Kurikulum
1. Sikap Kognitif Guru SD Terhadap Perubahan Kurikulum 1 Persepsi Guru dalam Perubahan Kurikulum
1.2 Kognitif Guru SD Dari Aspek Perubahan Kurikulum
Pengetahuan guru terhadap kurikulum suatu hal yang fundamental, terutama dari aspek isi, tujuan dan muatannya agar dalam setiap perubahan kurikulum dapat membedakan inti dari setiap perubahan kurikulum tersebut.
Perubahan kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013 sama-sama menampilkan teks sebagai butir-butir KD. Untuk struktur kurikulumnya baik pada KTSP atau pada K13 sama-sama dibuat atau dirancang oleh pemerintah tepatnya oleh Depdiknas.
Beberapa mata pelajaran masih ada yang sama seperti KTSP. Terdapat kesamaan esensi kurikulum, misalnya pada pendekatan ilmiah yang pada hakikatnya berpusat pada siswa. Dimana siswa yang mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan.
Sementara dari aspek perbedaan dimana sistem yang digunakan dalam kurikulum 2006 yang digunakan standar klompetensi dan kompetensi dasar berbasis mata pelajaran, masing-masing disiplin ilmu dibahas atau dikelompokkan dalam satu mata pelajaran. Namum dalam kurikulum 2013 yang digunakan Kompetensi Inti (KI) Berbasis tematik, sehingga dalam pembelajaran yang digunakan adalah tema-tema yang menjadi acuan atau bahan ajar. Silabus yang digunakan adalah silabus yang dibuat oleh masing-masing satuan pendidikan yang berdasarkan silabus nasional. Silabus yang digunakan adalah silabus dari pusat, sehingga seluruh indonesia menggunakan silabus yang sama. Mata pelajaran pancasila dalam kurikulum 2006, mata pelajaran pendidikan pancasila ditiadakan dan diganti dengan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan. Dalam kurikulum 2013, mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dirubah menjadi
pendidikan pancasila dan kewarganegaraan. Informan E beriku juga menyatakan secara berbeda:
Selama mengikuti pelatihan, kami juga sedikit memahami, juga terjadi perubahan pengetahuan tentang kurikulum K13, tapi sebenarnya dulu, 2 tahun yang lalu k13 itu sudah direvisi, dirubah lagi halaman-halaman bukunya tidak sama. isinya berbedaki ada yang dipindah-pindahkan (I.4/GR/SD/MKS/P)
Pada mata pelajaran sejarah kebudayaan islam (SKI) di kurikulum 2013 ini, materi-materi yang disajikan dengan sistem tematik, jadi materinya tidak mendetail. Guru tidak bisa mengembangkan kemampuannya untuk mengajar.
Sedangkan sebenarnya yang namanya sejarah itu sangat panjang dan harus detail dalam peyampaiannya supaya mudah dipahami oleh para siswa. Dan dalam kurikulum 2013 ini siswa di anjurkan untuk lebih aktif dalam mengkaji dan mencari materi-materi yang terkait dengan sejarah mata pelajaran lain juga secara individu.
Pendidikan SKI menghadapi beberapa kendala, antaralain; waktu yang disediakan terbatas sedang materi begitu padat dan memang penting, yakni menuntut pemantapan pengetahuan hingga terbentuk watak dan keperibadian yang berbeda jauh dengan tuntutan terhadap mata pelajaran lainnya. Kelemahan lain, materi SKI, lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif). Data implementasinya juga lebih didominasi pencapaian kemampuan kognitif; kurang mengakomodasikan kebutuhan afektif. Kendala lain adalah kurangnya keikutsertaan guru mata pelajaran lain dalam memberi motivasi kepada peserta didik untuk
mempraktekkan nilai-nilai SKI dalam kehidupan sehari-hari. Lalu lemahnya sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yang lebih variatif, minimnya berbagai sarana pelatihan dan pengembangan, serta rendahnya peran serta orang tua peserta didik. Informan S juga menyatakan yang berbeda sebagaiman berikut;
“Kalau di Sekolah kami berkenaan isi perubahan kurikulum masi ada sebahagian guru yang tidak memahami isi dari perubahan kurikum, tapi sebahagian ada juga yang memahami, kalau perubahan kurikulum dari aspek perbedaan menurut saya hanya terletak pada aspek penilaian saja” (I.7/GR/SD/MKS/P)
Perubahan kurikulum melahirkan banyak guru berbeda pemahaman dalam memaknai isi dan tujuan kurikulum, bahkan sebagian besar guru masih kurang paham dari isi perubahan KTSP ke K13. Kebingungan guru SD terletak dari aspek penilain dan proses integrasi mata pelajaran dalam K13 sehingga guru merasa tidak tau mau berbuat apa dan memulai dari mana. Dari persoalan tersebut membuat guru mengajar berdasar apa adanya dan apa yang dia ketahui sendiri.
Ironisnya guru yang sekolahnya masih dalam uji coba kurikulum K13 masih memudahkan antara K13 dan KTSP karena pengetahuan tentang kurikulum K13 secara keseluruhan masih dipenuhi suatu kekeliruan akibatnya guru hanya mengajar berdasarkan pemahamannya sendiri sehingga dianggap biasa pada murid dan juga berdampak pada capaian tujuan kurikulum K13 tidak tercapai.
Sehubungan dengan ini, selain dari faktor ketidakpahaman guru terhadap isi kurikulum, guru juga lebih banyak mengeluh persoalan penilaian K13. Rata- rata guru yang diwawancarai menilai kalau penilaian kurikulum K13 dianggap rumit dan terlalu bertele-tele sehingga guru lebih memilih KTSP. Walaupun guru
mengeluh sistem penilaian pada K13 namun guru tetap menjalankan K13 karena mereka menganggap kalau ini salah satu perintah dari atasannya, jadi mau tidak mau harus dijalankan menurutnya. Perilaku seperti ini merupakan bentuk perilaku pememaksaan program yang seharusnya tidak dilakukan pada dunia pendidikan karena biasa dari perilaku tersebut akan berdampak pada murid itu sendiri dan juga berdampak pada ketidakmaksimalnya proses belajar mengajar di sekolah tersebut. Pernyataan informan A sejalan dengan informan D berikut ini;
“Di Sekolah saya suda dijalankan K13 tapi baru kelas 1 dan kelas 4. Dari perubahan kurikulum KTSP ke K13 sebahagian guru belum mampu memahami isi kurikulum yang baru di karenakan baru sebahagian kecil guru yang sudah mendapatkan pelatihan K13. Lebih banyak guru yang tidak tahu tentang apa K13, sehingga pada umumnya guru yang bertugas di SD tidak memahami subtansi dari isi K13. Guru yang suda ikut pelatihan K13 saja belum memahami betul, apalagi guru yang tidak perna ikut pelatihan” (I.9/GR/SD/MKS/P)
Pelaksanaan kurikulum 2013 di berbagai sekolah belum dilaksanakan secara serentak dikarenakan K13 masih dalam proses uji coba. Proses uji coba tersebut juga masih dibatasi dari aspek kelas yaitu antara kelas satu dan kelas 4.
Selain dari itu, uji coba kurikulum tersebut tidak rata untuk semua sekolah akan tetapi hanya dikhususkan pada sekolah yang memiliki prestasi, baik dari prestasi gurunya maupun prestasi manejemen sekolah tersebut. Namun di sisi lain, walaupun uji coba kurikulum dilakukan berdasarkan prestasi sekolah dan guru, namu guru-guru pada sekolah tersebut rata-rata mengeluh tentang isi kurikulum tersebut. Keluhan-keluhan dari isi kurikulum tersebut lahir karena faktor ketidakpahaman isi dari kurikulum itu sendiri.
Beberapa informan baik yang pernah ikut pelatihan tentang kurikulum K13 secara totalitas belum mampu memahami dari aspek substansi dari isi dan proses pelaksanaannya. Persoalan ini menunjukan bahwa dalam proses pelatihan muatan-muatan materi tidak seharusnya hanya bermain pada rana teori saja akan tetapi harus lebih menekankan pada aspek praktek agar guru dapat melakukan transfer pengetahuan pada teman yang lainnya sesampai di sekolah masing- masing. Selain dari itu, proses pelatihan tersebut lebih idealnya tidak hanya satu perwakilan untuk tiap sekolah akan tetapi idealnya dua atau tiga orang satu sekolah sebagai perwakilan. Tujuan lebih dari satu persekolah sebagai perwakilan dalam tiap perwakilan akan lebih memudahkan guru berkolaborasi pemahaman, karena dipahami kondisi guru dari aspek daya tangkap dalam suatu pelatihan berbeda-beda sehingga rasionalnya perwakilan dalam pelatihan mesti lebih dari satu.
Tujuan pelatihan K13 mesti didesain makna dan subtansi dari tujuan pelatihan-pelatihan tersebut. Pelatihan guru-guru berkaitang K13 seharusnya diarahkan pada pelatihan yang mendesain peserta dalam hai ini guru di bentukan sebagai seorang tutor, bukan hanya dijadikan sebagai peserta untuk melakukan atau melaksanakan saja tugasnya di sekolah. Pelatihan K13 dengan desain pembentukan peserta sebagai tenanga pengajar sekaligus sebagai totur di sekolah masing-masing akan lebih memudahkan pemerintah dan lebih mempercepat pelaksanaan K13 disetiap sekolah masing-masing. Dengan konsep pelatihan yang beroreitasi pada tenaga tutor dengan perwakilan lebih dari satu sekaligus sebagai penanggungjawab dalam transfer pengetahuan, hal ini akan lebih mempercepat
suksesnya pelaksanaan K13 pada setiap sekolah di SD. Hal tersebu sejalan dengan pendapat Mulyasa 2004 bahwa perubahan kurikulum mengisyaratkan bahwa pembelajaran bukan semata-mata tanggung jawab guru, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara guru, kepala sekolah, dan dewan pendidikan.
Dengan pembinaan terhadap komponen-komponen tersebut merupakan tuntutan yang harus dipenuhi dalam perubahan kurikulum. Pendapat yang sama juga lahir dari informan N, sebagaimana hasil wawancara berikut ini;