• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agama

Dalam dokumen LAMPID Tahun 2017.pdf (Halaman 175-179)

BAB 4 PEMBANGUNAN MANUSIA

4.5 Agama

PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT 4-43 (3) Terbatasnya upaya penggalian dan pemanfaatan nilai-nilai yang terkandung dalam warisan budaya, serta kurangnya pemahaman, komitmen, dan kesadaran tentang arti penting warisan budaya; (4) Terbatasnya pengetahuan masyarakat terhadap kekayaan budaya antardaerah; dan (5) Belum optimalnya pelibatan pelaku budaya dalam melestarikan dan memajukan kebudayaan.

4.4.3 Arah Kebijakan dan Strategi

Arah kebijakan dan strategi pembangunan kebudayaan adalah: (1) Meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan nilai-nilai luhur budaya bangsa, serta kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya kearifan lokal sebagai perekat persatuan bangsa; (2) Menyediakan sarana dan prasarana aktualisasi seni dan karya budaya untuk mendorong tumbuh kembangnya kreativitas dan produktivitas para pelaku budaya kreatif serta kecintaan pada produk dalam negeri; (3) Meningkatkan potensi dan pendayagunaan warisan budaya untuk kesejahteraan rakyat;

(4) Meningkatkan promosi budaya antardaerah serta meningkatkan kreativitas dan pertukaran antarpelaku sebagai sarana diplomasi budaya di tingkat internasional; dan (5) Meningkatkan kapasitas sumber daya pembangunan kebudayaan serta mensinergikan kerja pelaku budaya, masyarakat, dan pemerintah untuk mewujudkan satu kesatuan ekosistem kebudayaan.

4-44 PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT

pemahaman dan pengamalan ajaran agama, kualitas pelayanan kehidupan beragama dan kualitas penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

Upaya peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama dilakukan melalui peningkatan kualitas dan persebaran penyuluh agama, pembinaan keluarga sakinah, dan penyelenggaraan perayaan hari besar keagamaan secara nasional sebagai sarana penanaman nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat.

Peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan keagamaan dilakukan melalui berbagai langkah penting yaitu:

(1) Penyediaan dan distribusi kitab suci dan buku-buku keagamaan serta digitalisasi naskah; (2) Bantuan kegiatan keagamaan; (3) Peningkatan kualitas bimbingan dan konsultasi keagamaan melalui penyuluhan pada masyarakat dan aparatur negara; (4) penyelenggaraan berbagai lomba keagamaan, seperti MTQ/STQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an/Seleksi Tilawatil Qur’an), Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi), Utsawa Dharma Gita, Festival Seni Baca Kitab Suci Tripitaka/Swayamvara Tripitaka Gita (STG), dan lomba kaligrafi; (5) Peningkatan pembinaan penyuluh dan juru penerang agama melalui pelatihan/orientasi dalam bidang manajemen pelayanan; (6) Penjelasan secara mendalam (tahqiq) buku-buku keagamaan; (7) Pentashihan Mushaf Al-Qur’an; (8) Pemanfaatan media massa cetak dan elektronik sebagai wahana pembinaan umat; (9) Pengembangan sistem informasi keagamaan; (10) Peningkatan pembinaan keluarga sejahtera; serta (11) Bantuan rehabilitasi dan pembangunan untuk rumah ibadah (masjid, gereja, pura, dan vihara) dan pengadaan kitab suci regular dan kitab suci braile bagi tuna netra.

PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT 4-45 Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kehidupan beragama dan kerukunan hidup umat beragama, peringatan hari-hari besar keagamaan yang dilakukan, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’ Mi’raj, Nuzul al-Qur'an, Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru Hijriah, perayaan Natal, Tahun Baru Masehi, Paskah, Pentakosta, Kenaikan Isa Almasih, Hari Raya Nyepi, Galungan, Kuningan, hari Purnama Tilem, Kasodo, Upacara Hindu Kaharingan, Siwaratri, Piodalan, Waisak, Asadha, Kathina, Magha Puja, dan Imlek, sekaligus untuk membangun pemahaman, sikap, dan tingkah laku keberagamaan masyarakat demi terwujudnya insan yang saleh dan toleran, baik secara individual maupun sosial.

Dalam rangka peningkatan layanan administrasi keagamaan, telah dilakukan kegiatan pembangunan dan rehabilitasi gedung, bantuan alat pengolah data, penyediaan sarana perkantoran, dan penyediaan dana operasional bagi KUA.

Selain itu, dilakukan pula pemilihan KUA teladan dan Keluarga Sakinah Teladan. Upaya mengintensifkan peran penyuluh agama dilakukan melalui pemberian honor insentif penyuluh non-PNS untuk semua agama.

Upaya peningkatan kualitas pelayanan ibadah Haji dan Umrah, dalam lima tahun terakhir Pemerintah telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Pendaftaran calon jemaah haji dilakukan dengan prinsip first come first served untuk dapat memberikan kepastian keberangkatan;

(2) Untuk memenuhi rasa keadilan, memprioritaskan bagi calon jemaah yang belum pernah menunaikan ibadah haji mengingat tingginya minat masyarakat dan adanya sistem kuota haji; (3) Restrukturisasi komponen Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) menjadi biaya langsung (direct cost) dari sebelumnya biaya tidak langsung (indirect

4-46 PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT

cost). Melalui sistem ini, jemaah haji hanya menanggung biaya langsung (direct cost) dari penyelenggaraan ibadah haji;

(4) Peningkatan kualitas pelayanan haji dilakukan mulai dari persiapan keberangkatan, pelaksanaan haji, sampai dengan kepulangan ke tanah air (utamanya transportasi, akomodasi, konsumsi, dan administrasi dokumen perjalanan).

Selain itu, dilakukan perbaikan SDM kualitas petugas haji dan pengembangan sistem manajemen mutu penyelenggaraan haji sesuai dengan sertifikasi ISO 9001:2008. Berdasarkan survei kepuasan jemaah haji yang dilakukan oleh BPS, nilai kepuasan jemaah haji tahun 2016 mengalami peningkatan 1,16 poin menjadi 83,83 persen, dibandingkan tahun 2015 sebesar 82,67 persen.

4.5.2 Permasalahan dan Kendala

Pembangunan agama sampai dengan tahun 2016 telah menunjukkan perbaikan, namun masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan dan kendala, antara lain: (1) Terbatasnya jumlah penyuluh agama yang berkualitas; (2) Masih adanya konflik intern umat beragama; dan (3) Belum optimalnya pelayanan di dalam negeri bagi jemaah haji dan pengelolaan keuangan haji.

4.5.3 Arah Kebijakan dan Strategi

Arah kebijakan dan strategi pembangunan agama meliputi:

(1) Meningkatkan kualitas penyuluh agama melalui: (a) Perkuatan peraturan perundang-undangan tentang penyuluh agama; (b) Peningkatan kompetensi penyuluh agama; (c) Penyempurnaan substansi dan metode penyuluhan agama;

(d) Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penilaian kinerja penyuluh agama; dan (e) Peningkatan kesejahteraan penyuluh agama non-PNS (penyuluh agama

PEMBANGUNANMANUSIADANMASYARAKAT 4-47 honorer); (2) Memperkukuh kerukunan intern umat beragama melalui: (a) Peningkatan peran majelis agama dalam penanaman nilai-nilai kerukunan intern umat beragama; dan (b) Peningkatan peran aparat dalam penegakan hukum terkait dengan konflik bernuansa agama;

dan (3) Meningkatkan kualitas layanan dan pengelolaan dana haji melalui: (a) Memasukkan komponen pelayanan haji dalam negeri kedalam Indeks Kepuasan Pelayanan Haji; (b) Pembentukan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sebagai amanat dari UU No. 34/2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji.

Dalam dokumen LAMPID Tahun 2017.pdf (Halaman 175-179)