BAB 2 KAJIAN PUSTAKA
2.4 Analisa Hidrolika
Analisa hidrolika bertujuan untuk mengetahui kemampuan penampang dalam menampung debit rencana, bahwa salah satu penyebab banjir adalah karena ketidakmampuan penampang dalam menampung debit banjir yang tejadi.
2.4.1 Lengkung Debit
Lengkung debit atau lengkung aliran debit (Discharge Rating Curve), adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara tinggi muka air dan debit. Dibuat berdasarkan data pengukuran debit dari berbagai ketinggian muka air, yang mencakup keadaan tinggi muka air rendah sampai yang tertinggi. Jumlah dan sebaran data pengukuran debit yang dapat menggambarkan hubungan antara tinggi muka air dan debit dari muka air terendah sampai tertinggi harus cukup mewakili keadaan sebenarnya kejadian di lapangan.
Untuk mendapatkan data debit yang kontinyu maka perhitungan debit dapat dilaksanakan berdasarkan data pengamatan tinggi muka air dan lengkung debit serta koreksinya karena adanya perubahan penampang sungai akibat pengendapan dan atau penggerusan alur sungai. Dengan demikian lengkung debit merupakan alat yang praktis untuk mendapatkan data debit yang kontinyu dengan periode waktu yang cukup panjang. Lengkung debit dapat dibuat dengan analisa grafis atau dibuat berdasarkan rumus matematik (Soewarno, 1995).
Metode pembuatan lengkung aliran (Discharge Rating Curve) merupakan gambaran dari sifat fisik hidraulis dari lokasi penampang sungai, biasanya gambaran tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
Q = A′× V ………..……....…………...……….… (2.33)
28 Dengan :
Q = Debit (m3/detik)
A′ = Luas penampang basah (m2)
V = Kecepatan aliran rata-rata (m/detik)
Persamaan untuk menghitung kecepatan aliran rata-rata : V =1
nR23s12 …..………...…...……..………..…….. (2.34) Dimana :
V = Kecepatan aliran (m/detik) R = Jari-jari hidrolis (m) S = Kemiringan dasar saluran n = Kekasaran manning
Apabila penampang sungainya teratur dan stabil, maka baik (A’) maupun (V) merupakan fungsi dari nilai tinggi muka air (H). Semua titik dengan koordinat- koordinat (H,Q) pada grafik arithmatik akan merupakan garis lengkung.
2.4.2 Bangunan Pelimpah (Spillway)
Fungsi utama dari bangunan pelimpah (Spillway) adalah membuang kelebihan air pada embung, sehingga air tidak melimpaspuncak embung (Overtopping) yang dapat membahayakan embung, terutama embung tipe urugan tanah. Jika Spillway dilengkapi dengan gate yang mengontrol debit banjir maka disebut gate Spillway. Jika tidak, dan mercusuar luapan sepenuhnya mengontrol aliran, ini disebut Spillway Non-Inflated. Kapasitas pelimpah harus dirancang untuk memanfaatkan banjir dengan periode ulang tertentu dan sesuai dengan NSPM (misalnya, untuk bendungan dengan tinggi di atas 40 m dan di hilir dengan risiko tinggi, kapasitas pelimpah harus dirancang dengan PMF). Bangunan pelimpah dapat didesain dan dikombinasikan dengan bangunan pengeluaran.
Berdasarkan statistik, banyak reservoir TPA yang runtuh karena kurangnya kapasitas luapan, dengan kata lain, spillway tidak dirancang dengan baik. Terdapat bebarapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain bangunan pelimpah antaralain sebagai berikut :
a. Debit inflow, frekuensi dan bentuk hidrografnya.
b. Tinggi mercu pelimpah yang direncanakan.
29
c. Kapasitas embung pada beberapa variasi permukaan.
d. Kondisi geologi dan kondisi lapangan lainnya.
e. Lokasi berupa lereng yang terjal/ curam.
f. Bekas galian yang dapat dimanfaatkan sebagai material timbunan.
g. Daya dukung, stabilitas lereng, rembesan/ uplift, dan lain-lain.
Kondisi daerah hilir saat pelepasan banjir juga memerlukan perhatian khusus, terutama jika populasinya sangat padat (resiko sangat tinggi). Saat mendesain bangunan Spillway, batang pohon, sampah, dan sedimen juga perlu dipertimbangkan.
Bangunan pelimpah dapat dibangun menjadi bagian dari embung atau terpisah. Jika pondasi cukup keras, dimungkinkan untuk membentuk luapan beton di sungai. Untuk Spillway yang dibangun di lokasi TPA, perhatian khusus harus diberikan pada bagian transisi (bidang kontak) antara timbunan dan dinding beton, karena ini adalah bagian terlemah yang dilalui air. Jika kondisi medan memungkinkan, struktur pelimpah dapat dibangun secara terpisah dari bendungan utama untuk menghindari kebocoran melalui area kontak.
Gambar 2.3 : Bangunan Pelimpah
Sumber: Kementerian PUPR, 2017
Adapun komponen-komponen dari bangunan pelimpah (Spillway) terdiri dari beberapa bagian, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Saluran pengarah dan log pengaman debris.
b. Bangunan kendali seperti struktur mercu atau sill yang dapat dilengkapi dengan pintu, balok sekat dan peralatan lain terkait.
30
c. Bangunan pembawa seperti lantai dan dinding saluran luncur dan atau konduit atau terowongan.
d. Bangunan akhir (terminal) seperti peredam energi loncatan hidraulik, bak lontar (flip bucket), bak pusaran (roller bucket).
e. Saluran hilir.
Dimensi bangunan pelimpah (Spillway), beserta aliranya yang meluap sempurna melalui mercu pelimpah dapat ditentukan dengan mengunakan persamaan sebagai berikut (Nuryono dan Hidayat, 2017) :
Q = C . B . H1.5 ………...…….…...………...….. (2.35) Dimana :
Q = Debit (m3/detik) C = Koefisien pelimpah
B = Lebar bangunan pelimpah (Spillway) (m) H = Tinggi bangunan pelimpah (Spillway) (m)
Koefisien pelimpah (C) akan berubah nilainya, tergantung tinggi tekanan (H) dan tinggi ambang (P), namun dalam desain nilai C dapat dianggap tetap, yakni 2,0 (dalam satuan metrik), dimana R = radius hidraulis (m).
2.4.3 Bagian-Bagian Penting Bangunan Pelimpah
Ada tiga bagian yang penting pada bangunan pelimpah, yakni saluran pengarah dan pengatur, saluran peluncur serta bangunan peredam energi.
1. Saluran pengarah dan pengatur aliran (Controle Structures)
Digunakan untuk mengarahkan dan mengatur aliran air agar kecepatan alirannya kecil tetapi debit airnya besar. Untuk menentuka design saluran pelimpah maka digunakan persamaan sebagai berikut :
Gambar 2.4 : Penampang Saluran
Sumber: Dok Pribadi B
W
h
31 Keterangan :
W = Tinggi jagaan (m) h = Tinggi muka air (m) B = Lebar dasar saluran (m)
Persamaan untuk menghitung debit saluran (Q) : Q = A × V
………...…..…….……….…. (2.36)
Atau
A =Q
V
……..………....………...………..… (2.37) Dimana :
𝑄 = Debit rencana (m3/detik) 𝐴 = Luas penampang (m2) 𝑉 = Kecepatan aliran (m/detik)
Persamaan untuk menghitung luas penampang saluran (A) :
A = B × H ………...………..… (2.38) Dimana :
A = Luas penampang basah (m2) B = Lebar bawah (m)
H = Kedalaman saluran (m)
Persamaan untuk menghitung keliling basah saluran (P) :
P = 𝐵 + (2 × ℎ)
………...………..…….. (2.39) Dimana :
𝐵 = Lebar bawah (m) ℎ = Kedalaman saluran (m) P = Keliling basah (m)
Persamaan untuk menghitung jari-jari hidrolis (R) : R =A
P ………..………..………..…….. (2.40)
Dimana :
R = Jari-jari hidrolis (m) A = Luas penampang (m2) P = Keliling basah (m)
32
Persamaan untuk menghitung kecepatan aliran : S =Tinggi Saluran Hulu−Tinggi Saluran Hilir
Panjang Saluran ..………..… (2.41) Persamaan untuk menghitung kecepatan aliran :
𝑉 =1
𝑛𝑅23𝑠12 …………...……….. (2.42) Dimana :
𝑉 = Kecepatan aliran (m/detik) 𝑅 = Jari-jari hidrolis (m) 𝑆 = Kemiringan dasar saluran 𝑛 = Kekasaran manning
Tabel 2.11 Nilai n Kekasaran Manning
No Tipe saluran & jenis bahan Harga n
Minimum Normal Maksim um 1. Beton
Gorong-gorong lurus dan bebas dari kotoran
Gorong-gorong dengan lengkungan dan sedikit kotoran/gangguan
Beton dipoles
Saluran pembuang dengan bak kontrol
0,010 0,011
0,011 0,013
0,011 0,013
0,012 0,015
0,013 0,014
0,014 0,017 2. Tanah, lurus dan seragam
Bersih baru
Bersih telah melapuk
Berkerikil
Berumput pendek, sedikit tanaman pengganggu
0,016 0,018 0,022 0,022
0,018 0,022 0,025 0,027
0,020 0,025 0,030 0,033 3. Saluran alam
Bersih lurus
Bersih, berkelok-kelok
Banyak tanaman pengganggu
Dataran banjir berumput pendek – tinggi
Saluran di belukar
0,025 0,033 0,050 0,025 0,035
0,030 0,040 0,070 0,030 0,050
0,033 0,045 0,08 0,035
0,07 Sumber: Chow, Ven Te
33 2. Saluran peluncur (Chute)
Makin tinggi embung, makin besar perbedaan antara permukaan air tertinggi di dalam waduk dengan permukaan air sungai di sebelah hilir embung.
Apabila kemiringan saluran peluncur debit air dibuat kecil, maka ukurannya akan sangat panjang dan berakibat bagunan menjadi mahal. Oleh karena itu kemiringannya terpaksa dibuat besar, dengan sendirinya disesuaikan dengan keadaan topografi setempat.
3. Bangunan peredam energi (Energy Dissipator).
Digunakan untuk menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi energi air agar tidak merusak tebing, jembatan, jalan, bagunan dan instalasi lain di sebelah hilir bangunan pelimpah.
2.4.4 Jenis-Jenis Bangunan Pelimpah
Menurut Kementerian PUPR Tahun 2017, ada beberapa jenis bangunan pelimpah berdasar bentuknya yang sering digunakan, adalah :
a. Pelimpah Luncur
Pelimpah tipe ini umumnya digunakan dalam kaitannya dengan bendungan tipe urugan tanah atau batu, meskipun pelimpah luncur juga digunakan pada bendungan beton gravity.
Gambar 2.5 : Pelimpah Utama Bendungan Pengga, Provinsi NTB
Sumber: Kementerian PUPR, 2017
Bendungan umumnya terletak di lembah (canyon) yang sempit dan tidak tersedia ruang cukup untuk pelimpah bebas. Pelimpah luncur umumnya di
34
tempatkan pada tumpuan yang berdekatan dengan bendungan, meskipun dapat pula di tempatkan pada lokasi pelana yang jauh dari lokasi struktur bendungan.
b. Pelimpah Samping
Pelimpah tipe ini digunakan pada kondisi yang sama seperti pelimpah luncur.
Disebabkan bentuknya yang unik, maka pelimpah samping dapat di tempatkan pada tumpuan bendungan yang sempit. Pelimpah samping umumnya tanpa pintu.
Karakteristik aliran adalah sama dengan aliran melalui ambang bebas, kecuali pada debit aliran tinggi yang mungkin merendam sebagian puncak pelimpah.
Gambar 2.6 : Pelimpah Samping
Sumber: Kementerian PUPR, 2017
Pelimpah jenis ini mempunyai keuntungan lain, mempunyai saluran yang sempit, akibat terjalnya lereng tumpuan, ambang pelimpah dapat didesain cukup panjang untuk mengakomodasi debit banjir desain.
c. Pelimpah Corong
Gambar 2.7 : Pelimpah Corong
Sumber: Kementerian PUPR, 2017
35
Pelimpah corong termasuk salah satu dari berbagai konfigurasi desain mercu, dengan dan tanpa pintu, seluruhnya merupakan transisi ke sistem conduit atau terowongan di hilir mercu. Sistem conduit tertutup pada pelimpah corong merupakan pengganti saluran luncur pelimpah yang digunakan pada pelimpah konvensional.
d. Pelimpah Siphon
Gambar 2.8 : Pelimpah Sipon
Sumber: Kementerian PUPR, 2017
Pelimpah sipon dibangun dengan satu atau lebih sipon pada ketinggian mercu, kadang-kadang digunakan untuk menyediakan pengaturan muka air otomatis dalam batas yang pendek atau bila kapasitas debit hanya diperlukan pada periode waktu yang singkat.
e. Pelimpah Labirin
Gambar 2.9 : Pelimpah Labirin
Sumber: Kementerian PUPR, 2017
36
Karakteristik pelimpah labirin yaitu adanya perubahan alinyemen dari tata letak untuk memperpanjang mercu di banding dengan mercu konvensional pada ruang lateral yang sama. Perubahan alinyemen membentuk satu seri dari weir bentuk V yang terhubung satu sama lain.
f. Pelimpah Inlet Bak Terjun
Gambar 2.10 : Pelimpah Inlet Bak Terjun
Sumber: Kementerian PUPR, 2017
Pelimpah tipe bak terjun (drop) vertikal atau tipe jatuh bebas merupakan salah satu dari bentuk aliran yang jatuh bebas dari daerah waduk. Tipe ini sesuai untuk bendungan tipe busur yang tipis, aliran air dapat mengalir bebas, atau sepanjang bagian mercu yang sempit.
g. Pelimpah konduit atau terowongan
Pelimpah konduit/ terowongan merupakan saluran tertutup yang dapat berupa shaft vertikal atau miring atau horisontal yang melalui formasi tanah atau batuan.
Gambar 2.11 : Pelimpah Konduit atau Terowongan
Sumber: Kementerian PUPR, 2017
Sebagai bangunan/ambang pengendali dapat berupa hampir semua jenis ambang pelimpah dengan bukaan vertikal atau miring, lubang glory atau saluran
37
samping, dan lain-lain. Terowongan biasanya didesain untuk aliran sebagian penuh, kecuali untuk lubang glory. Tipe ini biasanya dilengkapi dengan aerasi. Bila saluran tertutup dibangun di bawah bendungan, bangunan tersebut disebut sebagai pelimpah konduit. Jenis pelimpah ini biasanya cocok untuk bendungan pada lokasi di lembah yang lebar, dimana konduit pengelak dibuat di dekat aliran sungai.
38
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian secara administratif berada di Kelurahan Kampung Satu Skip Kecamatan Tarakan Tengah, Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Secara geografis terletak pada titik koordinat 1170 44’ BT dan 30 20’ 27” LU.
Gambar 3.1 Lokasi Penelitian
Sumber: Google Maps
Akses menuju lokasi penelitian dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan jarak tempuh dari pusat Kota Tarakan sekitar 7 km ke arah utara, dengan melalui jalan berbatu dan berbukit.
Kondisi (Site Plan) penelitian terdiri dari bangunan utama dan bangunan pelengkap. Bangunan utama berupa tubuh embung utama dan embung pelana (Saddle Dam) dari konstruksi urugan tanah, untuk tubuh embung utama di as embung dipakai filter tegak dan horizontal (Chimney Drain) dari material sirtu.
Bangunan pelengkap terdiri dari Bangunan Pelimpah (Spillway) berikut jembatan penyeberangan di atas bangunan pelimpah (Spillway), dan Bangunan Pengambilan (ex Terowongan Pengelak). Kondisi dan lokasi tempat penelitian, secara jelas dapat dilihat pada Gambar 3.2
39
Embung Binalatung Kota Tarakan merupakan tempat atau wadah penampungan air irigasi pada waktu terjadi surplus air di sungai atau air hujan, yang dapat digunakan sewaktu terjadi kekurangan air di Kota Tarakan.
Gambar 3.2 Embung Binalatung
Sumber: Google Maps
3.2 Bahan dan Alat Penelitian
Adapun peralatan yang digunakan dalam penelitian ini, diklasifikasikan untuk mengetahui bentuk bangunan pelimpah (Spillway) guna untuk membuat analisa lengkung debit aliran.
1. Alat ukur (Meteran) 2. Alat tulis
3. Kamera untuk dokumentasi 3.3 Tahapan Persiapan
Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai tahapan pengumpulan data dan pengolahannya. Dalam tahap ini disusunlah hal-hal penting yang harus dilakukan dengan tujuan agar kegiatan terstruktur, terkoordinasi dan mendapatkan hasil seperti yang direncanakan. Adapun yang termasuk dalam tahap persiapan ini meliputi:
1. Melakukan studi pustaka terhadap masalah yang berkaitan dengan embung pada umumnya dan bangunan pelimpah (Spillway) khususnya.
2. Melakukan persyaratan administrasi.
3. Menentukan jenis dan sumber data yang diperlukan.
40
4. Melakukan list terhadap instansi yang akan dijadikan sebagai narasumber.
5. Melakukan survey terhadap lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian, dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran umum, situasi dan kondisi tempat penelitian
3.4 Metode Pengumpulan Data
Dalam proses perencanaan, diperlukan analisis yang akurat. Semakin sulit suatu permasalah yang diteliti, maka semakin kompleks pula analisis yang dilakukan. Untuk dapat melakukan analisis yang baik, diperlukan data/informasi, teori konsep dasar atau alat bantu yang memadai, sehingga kebutuhan akan data sangat mutlak diperlukan. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas:
1. Data primer
Data yang proses pengambilannya dengan melakukan survey secara terencana dan sistematis pada lokasi penelitian secara langsung. Dalam survey ini penulis melakukan pengamatan secara langsung yaitu untuk mengetahui kondisi lokasi serta mengambil dokumentasi area pada embung dan bagunan pelimpah (Spillway).
2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dengan melakukan kajian pustaka terhadapa media publikasi seperti buku, laporan jurnal, laporan tahunan instansi, dan wawancara terhadap dinas terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum Kota Tarakan, Pengelolah embung serta Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika untuk memperoleh informasi serta data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Adapun data-data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah : a. Data curah maksimum harian 15 tahun terakhir.
b. Kapasitas tampung Embung Binalatung Kota Tarakan.
c. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Embung Binalatung Kota Tarakan.
d. Panjang Sungai (L) pada Embung Binalatung Kota Tarakan
41 3.5 Metode Pengolahan Data
Dalam pengolahan data, tentu diperlukan metode yang sesuai untuk mengelolah data yang tersedia, agar hasil yang diperoleh sesuai dengan perencanaan. Maka dari itu dalam penelitian ini pengolahan data terbagi atas dua, antara lain :
3.5.1 Analisis Hidrologi
Analisis hidrologi merupakan salah satu bagian dari keseluruhan rangkaian dalam perencanaan bangunan air. Dalam melakukan analisis hidrologi, sering dihadapkan pada kejadian-kejadian ekstrim seperti banjir dan kekeringan. Adapun langkah-langkah analisis hidrologi, pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Analisis Curah Hujan Rencana
Dalam analisis curah hujan rencana, pada penelitian ini digunakan empat metode analisis curah hujan, antara lain :
a. DistribusiNormal dengan persamaan ………..…….... (2.1) b. Distribusi Log Normal dengan persamaan ………... (2.2) c. Distribusi Gumbel Type-I dengan persamaan ……….. (2.3) d. Distribusi Log Pearson Type-III dengan persamaan ………..… (2.5) Setelah dilakukan analisis curah hujan rencana, maka langkah selanjutnya yakni dengan uji kecocokan distribusi pada setiap hasil dari setiap metode analisis curah hujan rencana yang digunakan. Adapun metode yang digunakan dalam menguji kecocokan distribusi yakni, dengan mengunakan metode Uji Kecocokan Chi-Square dan Uji Kecocokan Smirnov-Kolmogorof.
2. Uji Kecocokan Distribusi
Dalam uji kecocokan distribusi digunakan dua metode pengujian, antara lain :
a. Uji Kecocokan Chi-Square dengan persamaan ………...… (2.12) b. Uji Kecocokan Smirnov-Kolmogorof dengan persamaan … (2.15) Setelah dilakukan uji kecocokan distribusi pada setiap hasil, dari empat metode analisis curah hujan rencana yang digunakan, maka langkah berikutnya dengan memilih salah satu dari hasil, analisis curah hujan rencana dari empat metode analisis yang akan digunakan, yang bertujuan
42
dimana hasil dari metode yang terpilih akan digunakan dalam menganalisis debit banjir rencana. Adapun langkah yang digunakan dalam menentukan hasil dari metode apa yang akan digunakan iyalah berpatokan pada nilai dari masing-masing hasil uji kecocokan metode Chi-Square dan metode Smirnov-Kolmogorof.
3. Analisis Debit Banjir Rencana
Dalam analisis debit banjir rencana ada beberapa komponen-komponen yang harus disiapkan sebelum menganalisis debit banjir rencana dengan mengunakan metode Nakayasu, diantaranya, sebagai berikut :
a. Menentukan distribusi hujan jam-jaman dengan persamaan …..
(2.17)
b. Kemudian menentukan nilai koefisien pengaliran dengan persamaan ….. (2.20)
c. Berikutnya menentukan nilai koefisien aliran dengan tabel …..
(2.10)
d. Selanjutnya menentukan hujan efektif dengan mengunakan persamaan ….. (2.21)
e. Menganalisis debit banjir rencana dengan metode Nakayasu dengan persamaan ………...……… (2.22) Setelah menganalisis debit banjir rencana dengan menggunakan metode Nakayasu, maka dapat diperoleh debit banjir rencana yang akan digunakan untuk menentukan bentuk dari bangunan pelimpah (Spillway) dan saluran pengarah pelimpah (Controle Structures) yang sesuai untuk kebutuhan Embung Binalatung Kota Tarakan.
3.5.2 Analisis Hidrolika
Analisa hidrolika bertujuan untuk mengetahui kemampuan penampang dalam mengalirkan debit banjir rencana, agara dalam menentukan bentuk bangunan dapat sesuai dengan kebutuhan. Adapun langkah-langkah dalam analisis hidrolika dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Lengkung Debit
Dalam menganalisis lengkun debit digunakan persamaan ……..….. (2.33) 2. Analisis Perhitungan Bentuk Bangunan Pelimpah (Spillway).
43
Dalam menganalisis bentuk bangunan pelimpah (Spillway) dengan persamaan ………..…... (2.35) 3. Analisis Perhitungan Bentuk Saluran Pengarah Pelimpah (Spillway).
Dalam menganalisis bentuk saluran pengarah pelimpah (Spillway) dengan persamaan ………..…... (2.36)
3.6 Bagan Alir Penelitian
Setelah melakukan survey dan data terkumpul, maka dapat dilakukan pengolahan serta analisis data dengan langkah-langkah yang tertera pada bagan alir di bawah ini.
44
Gambar 3.3 Flow Chart Penelitian
Sumber : Dok Pribadi Mulai
Study Pustaka
Survey Lokasi
Pengumpulan Data
Data Primer Data Sekunder
- Letak Geografis - Kondisi Bagunan
Pelimpah (Spillway) - Dokumentasi Kegiatan
- Data Curah Hujan Maksimum Harian 15 Tahun
- Luas & Panjang Daerah Aliran Sungai (DAS)
- Lay Out Embung Pengolahan Data
Analisis Curah Hujan
Uji Kecocokan Distribusi
Analisis Debit Banjir
Tidak
Design Bagunan Saluran & Pelimpah Kesimpulan & Saran
Selesa i
Ya
45
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Teknis Embung Binalatung
Embung Binalatung merupakan embung yang dibangun secara bertahap, dimana pembangunan embung binalatung dilakukan selama empat tahap pembangunan, yang dimulai dari tahun 2005. Tujuan dari pembangunan embung binalatung adalah untuk membuat tampungan air baku, guna keperluan pemenuhan air domestik maupun industri bagi seluluh warga sekitar kota, sehingga diharapkan dapat mengatasi krisis kekurangan air di Kota Tarakan khususnya pada waktu musim kemarau.
Adapun data Teknis Embung Binalatung yang diperoleh dari PT. INDRA KARYA (Consulting Engineers) meliputi kondisi hidrologi, Intake, bendungan pelana (Saddel Dam), waduk, bendungan utama, bangunan pelimpah (Spillway), dan bangunan terowongan pengelak. Rangkuman data teknis tersebut disajikan dalam tabel-tabel berikut ini.
- Hidrologi
Tabel 4.1 Data Teknis Hidrologi
No Nama Data Satuan
1. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) 1,50 km2
2. Panjang Sungai (L) 1.351 km
3. Hujan Rencana Pereode Ulang (R1000) 315,35 mm 4. Debit Banjir 1000 tahunan (Q1000) 85,35 m3/detik 5. Debit Banjir Boleh Jadi (PMF) 120,85 m3/detik Sumber : PT. INDRA KARYA (Consulting Engineers)
- Bagunan Intake
Tabel 4.2 Data Teknis Bangunan Intake
No Nama Data Satuan
1. Type Valve
2. Konstruksi Beton bertulang
3. Kapasitas 0,50 m3/detik
Sumber : PT. INDRA KARYA (Consulting Engineers)
46 - Bendungan Pelana (Saddel Dam)
Tabel 4.3 Data Teknis Bendungan Pelana (Saddel Dam)
No Nama Data Satuan
1. Type Urugan tanah dengan
filter kaki
2.
Kemiringan Lereng Lereng Udik Lereng Hilir
1 : 2,50 1 : 2,00
3. Elevasi Puncak + 91,00 m
4. Lebar Puncak Bendungan 6,00 m
5. Panjang Puncak 45,00 m
6. Tinggi Bendungan dari dasar galian 9,00 m
7. Volume 4.264,85 m3
Sumber : PT. INDRA KARYA (Consulting Engineers)
- Waduk
Tabel 4.4 Data Teknis Waduk
No Nama Data Satuan
1. Muka Air Normal + 87,25 m
2. Muka Air Rendah (MAR) + 84,00 m
3. Muka Air Banjir (MAB) + 88,25 m
4. Tampungan Total (Elevasi MAN) 530.00,00 m3
5. Tampungan Efektif 666.667,00 m3
6. Tampungan Mati (Elevasi MAR) 48.830,00 m3 7. Tampungan Max (Elevasi MAB) 783.000,00 m3
8. Luas genangan pada MAN 231.250,00 m2
9. Luas genangan pada MAR 66.410,00 m2
10. Luas genangan pada MAB 276.7504,00 m2
11. Usia Guna Waduk 50,00 tahu
Sumber : PT. INDRA KARYA (Consulting Engineers)
47 - Bendungan Utama
Tabel 4.5 Data Teknis Bendungan Utama
No Nama Data Satuan
1. Type Urugan tanah dengan
filter tegak
2.
Kemiringan Lereng Lereng Udik Lereng Hilir
1 : 2,50 1 : 2,00
3. Elevasi Puncak + 91,00 m
4. Elevasi Berm Udik + 86,00 m
5. Lebar Puncak Bendungan 6,00 m
6. Panjang Puncak 190,00 m
7. Tinggi Bendung dari dasar galian 9,30 m
8. Volume 49,505,95 m3
Sumber : PT. INDRA KARYA (Consulting Engineers)
- Bangunan Pelimpah
Tabel 4.6 Data Teknis Bangunan Pelimpah
No Nama Data Satuan
1. Type Pelimpah ogee tak
berpintu
2. Konstruksi Beton bertulang
3.
Mercu
Debit banjir 1000 tahunan (Qout) m3/det Debit banjir 100 tahunan (Qout) m3/det
Elevasi Puncak Panjang Puncak
19.94 15.34 + 87,25 m
10,00 m
4.
Saluran Utama dan Peluncuran Panjang Saluran dan Peluncuran
Lebar Mercu Pelimpah
45,00 m 10,00 m
5.
Kolam Olak Panjang Saluran
Lebar
12,50 m 5,00 m Sumber : PT. INDRA KARYA (Consulting Engineers)
48 - Bangunan Pengelak
Tabel 4.7 Data Teknis Bangunan Pengelak
No Nama Data Satuan
1. Type Konduit
2. Konstruksi Beton bertulang
3. Debit banjir 10 tahunan (Qout) m3/det 12,50
4. Elevasi titik hulu + 82,00
5. Penampang Konduit Bujur sangkar
6. Dimensi 1,50 × 1,50 m
7. Jumlah 1,00 buah
8. Panjang saluran 32,00 m
9. Kemiringan dasar 0,008
Sumber : PT. INDRA KARYA (Consulting Engineers)
4.2 Data Hidrometri
Data hidrometri adalah data yang diperoleh dari Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan, berupa data curah hujan maksimum harian selama 15 tahun, dari tahun 2004 s/d 2018 yang akan digunakan sebagai data input dalam pengolahan dan analisis dalam penelitian ini. Adapun data curah hujan maksimum harian dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut ini.
Pelayanan Jasa Informasi Klimatologi Harian
Data : Curah Hujan Maksimum Harian
Satuan : Millimeter (MM)
Lokasi Pengamatan : Tarakan / Stasiun Meteorologi Kota Tarakan
Koordinat : 3.3 LU dan 117.5 BT
Elevasi : 10 DPL (Dari Permukaan Laut)
Tabel 4.8 Data Curah Hujan Maksimum Harian Tahun 2004 s/d Tahun 2018
Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Juli Ags Sept Okt Nov Des Max 2004 177.3 64.3 70.0 70.0 54.6 40.8 94.0 42.0 90.8 61.5 95.8 63.3 177.3
2005 61.6 50.6 103.1 53.5 104.1 47.5 60.2 70.1 73.1 72.3 41.5 140.8 140.8 Sumber : Stasiun Meteorologi Kota Tarakan, 2020