III. METODE PENELITIAN
3.4 Analisis Data
Semua data yang akan di kumpulkan berupa catatan lapangan, komentar peneliti, uraian informan peneliti, dokumen-dokumen berupa laporan, artikel, dan sumber data lainnya yang terkait dengan perkembangan agribisnis sayuran dataran tinggi di kabupaten bantaeng selanjutnya di analisis secara kualitatif.
Denzin dan Lincoln (1998) dalam Salam (2011) menjelaskan kata
“kualitatif dalam istilah “penelitian kualitatif” bahwa studi-studi kualitatif memberikan penekanan pada proses dan makna yang tidak di uji dan tidak di ukur secara ketat dalam arti kuantitas, jumlah, intensitas, atau frekuensi. Berangkat dari pendapat tersebut, maka penelitian ini tetap memerlukan bantuan angka- angka seperti untuk mendeskripsikan suatu fenomena maupun gejala yang di teliti, meskipun penelitian ini merupakan penelitian kualitatif.
Analisis kualitatif yang di gunakan terhadap data yang di peroleh pada penelitian ini adalah analisis terhadap situasi pengembangan agribisnis komoditas Kentang di kabupaten bantaeng terdiri dari :
Analisis faktor internal untuk mengidentifikasikan kekuatan-kekuatan (strengths) yang di miliki oleh petani Kentang di Kabupaten Bantaeng yang dapat di manfaatkan dalam pengembangan agribisnis Kentang, serta mengidentifikasi kelemahan-kelemahan (weakness) yang di hadapi oleh petani Kentang yang akan menghambat pengembangan komoditas Kentang.
20
Analisis faktor eskternal untuk mengidentifikasi peluang-peluang (opportunities) yang dapat diraih oleh petani Kentang di Kabupaten Bantaeng dalam pengembangan Kentang di masa yang akan datang dan mengidentifikasikan ancaman-ancaman (threats) yag munkin akan menghambat pengembangan Kentang.
Setelah analisis faktor internal dan eskternal di lakukan, selanjutnya di buat pemetaan analisis SWOT dengan menggunakan tabel matriks seperti yang di tampilkan di bawah ini :
21 Tabel 2. Matriks Analisis SWOT.
SWOT Analysis
Analysis Internal Kekuatan
(strenghts)
Kelemahan (weeknes)
Analysis Eksternal
Peluang (opportunities)
S-O strategies : Bagaimana membangun metodologi yang baru yang sesuai dengan kekuatan institusi
W-O strategies : Bagaimana menghubungkan kelemahan kelemahan untuk mendapatkan peluang-peluang baru
Ancaman (Threats)
S-T strategies : Bagaimana menggunakan kekuatan-
kekuatan internal yang ada untuk bertahan dari ancaman
W-T strategies : Bagaimana membuat strategi untuk menghindari kelemahan yang mungkin
menjadi sasaran ancaman dari luar
3.5 Defenisi Operasional
1. Petani Kentang adalah warga masyarakat desa di Kecamatan Ulu Ere Desa Bonto Lojong yang mengusahakan komoditas Kentang.
2. Produksi Kentang adalah banyaknya hasil yang di peroleh dari kegiatan budidaya Kentang yang di hitung dalam bentuk fisik (kg).
22 3. Pendapatan Kentang adalah nilai produksi usaha tani/perdagangan industri
Kentang setelah di kurangi dengan biaya yang di keluarkan dalam menghasilkan produksi yang di nyatakan dalam rupiah/thn (Rp/Thn).
4. Strategi pengembangan Kentang adalah serangkaian rencana yang tepat untuk di laksanakan sebagai wujud memajukan dan mengembangkan Komoditi Kentang.
5. Lingkungan internal adalah adalah segala aspek dan potensi yang terkait dengan pengembangan Komoditi Kentang yang berada dalam kewenangan petani untuk mengembangkannya.
6. Kekuatan (strenghts) adalah hal-hal yang positif yang di miliki oleh petani Kentang dan berada dalam otoritas pengendalian yang dapat mendukung pengembangan komoditi Kentang.
7. Kelemahan (Weaknesses) adalah hal-hal bersifat negatif yang di milki oleh petani Kentang dan berada dalam otoritas pengendalian yang dapat menekan pengembangan komoditi Kentang.
8. Lingkungan eksternal adalah segala aspek dan potensi yang terkait dengan pengembangan komoditi Kentang di luar kewenangan (otoritas) petani sayuran di Kabupaten Bantaeng untuk mengaturnya.
9. Peluang (Opportunities) adalah hal-hal bersifst positif dan berada di luar otoritas pengendalian petani Kentang di Kabupaten Bantaeng yang dapat mendukung pengembangan komoditas Kentang.
23 10. Ancaman (treats) adalah hal-hal yang bersifat negatif dan berada di luar
otoritas pengendalian petani Komoditi Kentang di Kabupaten Bantaeng yang dapat menekan pengembangan komoditas Kentang.
11. Strategi W – O adalah strategi yang di hasilkan dengan memanfaatkan berbagai kekuatan (strengths) yang di miliki oleh petani Komoditi Kentang di Kabupaten Bantaeng untuk meraih berbagai peluang (opportunities).
12. Strategi S – O adalah strategi yang di hasilkan dengan memperbaiki berbagai kelemahan (weaknesses) yang di miliki oleh petani Komoditi Kentang di Kabupaten Bantaeng untuk meraih berbagai peluang (opportunities).
13. Strategi W – T adalah strategi yang di hasilkan dengan memanfaatkan berbagai kekuatan (strengths) yang di miliki oleh petani komoditi Kentang di Kabupaten Bantaeng untuk menekan berbagai ancaman (treats).
14. Strategi S – T adalah strategi yang di hasilkan dengan memperbaiki berbagai kelemahan (Weaknesses) yang di miliki oleh petani Komoditi Kentang di Kabupaten Bantaeng untuk menekan berbagai ancaman (treats).
24
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak Geografis
Desa Bonto Lojong adalah salah satu desa di Kecamatan Ulu Ere yang berada di sebelah utara Kabupaten Bantaeng. Jarak dari Ibu Kota Kecamatan + 2,5 km dan jarak dari ibu kota Kabupaten + 23 km. Jarak tempuh wilayah Desa Bonto Lojong dari Ibu kota Kabupaten Bantaeng + 35 menit. Desa Bonto Lojong memiliki luas wilayah 1.917 ha, dengan potensi alam yang sangat produktif seperti lahan pertanian, perkebunan dan hutan.
Adapun batas-batas desa sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kabupaten Gowa, Kabupaten Sinjai
Sebelah Selatan : Desa Bonto Tannga, Desa Bonto Bulaeng
Sebelah Timur : Kab. Bulukumba, Desa Kayu Loe
Sebelah Barat : Kab. Jeneponto, Desa Bonto Marannu
4.2 Keadaan Tanah dan Iklim
Desa Bonto Lojong merupakan wilayah dataran tinggi dengan ketinggian 1300-1500 dpl. Daerah dataran didominasi oleh perbukitan dengan kemiringan lereng secara umum berada di atas 40 %, oleh karena itu kondisi hidrologi sangat di pengaruhi oleh kondisi tanahnya. Jenis tanah di Kabupaten Bantaeng di bagi dalam 3 jenis yaitu Andosol seluas ± 3948 ha, Regosol seluas ± 2755,30 ha, dan Latosol ± 4585,39 ha. Sedangkan jenis tanah di Desa Bonto Lojong sendiri adalah Latosol dengan kedalaman efektif tanah 30-60 cm sehingga sangat cocok untuk pengembangan lahan perkebunan. Daya serap air sekitar 60-90 cm, ini
25 menunjukkan bahwa tingkat kesuburan tanah sangat baik. Kondisi tanah berbentuk perbukitan dan pegunungan pada umumnya berbutir halus dan kasar, bantuan pembentuknya berupa batuan gunung api tersier.
Iklim di Desa Bonto Lojong menurut Schmide Ferguson adalah iklim tipe C dengan rata-rata curah hujan setiap tahunnya sebanyak 1.503 mm/tahun, dengan jumlah hari hujan setiap tahunnya sebanyak 108 hari hujan. Jumlah bulan basah 8 bulan, bulan kering 4 bulan. Suhu udara pada siang hari bervariasi antara 15-20°c dan pada malam hari antara 15-19°c.
4.3 Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan kerja dan juga sangat menentukan dalam klasifikasi pembagian kerja.
Untuk kaum pria memiliki jenis pekerjaan yang berbeda dengan kaum wanita, waulupun kadang ada beberapa pekerjaan yang dapat di kerjakan oleh kaum pria maupun kaum wanita. Dengan demikian jenis kelamin dapat memberikan pengaruh terhadap taraf hidup kehidupan seseorang. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Desa Bonto Lojong dapat di lihat pada Tabel 3 :
26 Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Bonto Lojong,
Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, 2014.
No Jenis Kelamin Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1.
2.
Laki-laki Perempuan
1419 1547
47,84 52,16
Total 2966 100
Sumber : Kantor Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu ere, Kabupaten Bantaeng, 2014.
Tabel di 3 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Desa Bonto Lojong adalah sebanyak 2966 jiwa. Dari jumlah tersebut sebagian besar berjenis kelamin perempuan, sebanyak 1547 orang, selebihnya berjenis kelamin laki-laki sebanyak 1419 orang.
4.4 Penduduk Menurut Usia
Desa Bonto Lojong mempunyai jumlah penduduk sebanyak 2.966 jiwa dan di golongkan dalam beberapa kelompok umur. Umur dapat mempengaruhi kemampuan kerja seseorang secara fisik, penduduk yang usianya masih muda, relatif memiliki kemampuan fisik yang lebih kuat dalam meningkatkan aktivitasnya di bandingkan dengan penduduk yang usianya lebih tua. Selain itu, umur yang relatif mudah memiliki kecenderungan kemampuan untuk mencari informasi dan menerima inovasi yang berkaitan dengan aktivitas usahataninya untuk lebih berkembang. Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di Desa Bonto Lojong dapat di lihat pada Tabel 4 :
27 Tabel 4. Jumlah Penduduk Menurut Usia di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu
Ere, Kabupaten Bantaeng, 2014.
N0. USIA LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH
1 0-5 Tahun 113 290 403
2 6-12 Tahun 256 250 506
3 13-21 Tahun 427 394 821
4 22-45 Tahun 501 494 995
5 46-60 Tahun 58 63 121
6 61 Tahun Keatas 64 56 120
Jumlah 1419 1547 2966
Sumber : Kantor Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, 2014.
Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah penduduk terbesar berada pada kelompok umur 22 – 45 tahun sebanyak 995 orang, dari jumlah penduduk yang ada di Desa Bonto Lojong. Sedangkan jumlah terendah berada pada kelompok usia 60 tahun ke atas sebanyak 120 orang.
4.5 Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan dan pengalaman pada umumnya mempengaruhi cara berfikir dan perilaku individu dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan banyaknya pengalaman, individu maupun masyarakat akan lebih dinamis dan inovatif. Pendidikan dapat di peroleh melalui pendidikan formal, informal maupun nonformal. Melalui pendidikan, kualitas hidup seseorang dapat di tingkatkan dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Untuk meningkatkan tingkat intelektual, maka pendiudikan sangat di butuhkan. Jumlah
28 penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Bonto Lojong dapat di lihat pada Tabel 5 :
Tabel 5 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, 2014.
No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Belum/Tidak sekolah 928 52,79
2 Tamat SD/sederajat 719 40,90
3 Tamat SLTP/sederajat 48 2,74
4 Tamat SMU/sederajat 46 2,61
5 Tamat Akademi/sederajat 17 0,96
Total 1758 100
Sumber : Kantor Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, 2014.
4.6 Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Mata pencaharian merupakan salahg satu faktor yang menentukan tingkat kesejahteraan hidup seseorang. Mata pencaharian antara satu penduduk dengan penduduk yang lain akan berbeda berdasarkan tingkat keterampilan dan kesempatan kerja yang di miliki setiap individu. Penduduk di Desa Bonto Lojong bukan hanya berpropfesi sebagai petani, namun mata pencaharian penduduk di sana bermacam-macam. Untuk mengetahui jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian di Desa Bonto Lojong dapat di lihat pada Tabel 6 :
29 Tabel 6. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Bonto Lojong,
Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng, 2014.
No Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) Persentase (%)
1. Pegawai Negeri Sipil (PNS) 8 1,3
2. Pedagang 6 1,0
3. Tukang Kayu 2 0,3
4. Sopir 13 2,0
5. Buruh Tani 24 3,9
6. Petani 569 91,5
7. Total 622 100%
Sumber data : Masyarakat Desa Bonto Lojong (hasil sensus sosial) Oleh : KPM dan Fasduk, Tahun 2014.
Tabel 6 menunjukkan bahwa mata pencaharian penduduk Desa Bonto Lojong antara lain : Pegawai Negeri Sipil (PNS), yaitu 8 orang (1,3%). Pedagang, yaitu 6 orang (1,0%). Tukang Kayu, yaitu 2 orang (0,3%). Sopir, yaitu 13 orang (2,0%). Buruh Tani, yaitu 24 orang (3,9%). Dan yang menempati mata pencaharian penduduk paling banyak di Desa Bonto Lojong adalah Petani, yaitu 569 orang (9,5%).
4.7 Keadaan Penggunaan Lahan
Desa Bonto Lojong memiliki luas lahan 4.038 ha dengan alokasi pemanfaatan lahan unuk egalan/kebun, pekarangan dan hutan. Pola penggunaan lahan di Desa Bonto Lojong secara ringkas di uraikan pada Tabel 7:
30 Tabel 7 . Luas dan Pola Penggunaan Lahan di Desa Bonto Lojong, Kecamatan
Uluere, Kabupaten Bantaeng 2014.
No Jenis Penggunaan Luas (ha) Persentase (%)
1 Sawah - -
2 Tegal/kebun 861.98 44.96
3 Pekarangan 11.19 0.59
4 Lain-lain 1043.83 54.45
Total 1917 100
Sumber :Dinas pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng,2014
Tabel 7 menunjukkan bahwa lain-lain menenpati urutan pertama terluas yaitu 1043.83 ha (54.45%). Lain-lain yang di maksud adalah bangunan, jalan raya, selokan, gunung, dan seterusnya. Sedankan jumlah lahan paling sempit berada pada penggunaan lahan untuk pekarangan yaitu seluas 11.19 ha (0,59).
Luas lahan pertanian tersebut, di dominasi oleh tanaman hortikultura seperti kentang, kubis, wortel, dan bawang merah. Oleh karena itu Desa Bonto Lojong termasuk salah satu daerah pengembangan tanaman hortikultura yang menjadi andalan Kabupaten Bantaeng.
4.8 Keadaan Sarana dan Prasarana
Keadaan sarana dan prasarana di suatu daerah sangat penting untuk menunjang kelancaran aktivitas masyarakat pada umumnya, serta kegiatan kegiatan ekonomi pada khususnya. Adapun sarana dan prasarana yang terdapat di di Desa Bonto Lojong dapat di lihat pada Tabel 8:
31 Tabel 8. Jenis Sarana dan Prasarana yang terdapat di Desa Bonto Lojong,
Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, 2014
No Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah
1
2
3
4
Sarana Pendidikan
TK
SD Sarana Peribadatan
Masjid
Mushollah Sarana Kesehatan
Posyandu
Pustu
Sarana Umum dan Pemerintahan
Kantor Desa
1 2 11
- 1 1 1
Total 17
Sumber : Kantor Desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, 2014.
Tabel 8 menunjukkan bahwa sarana dan prasarana yang ada di Desa Bonto lojong masih belum memadai sehingga masyarakat sulit untuk melaksanakan kegiatannya sehari-hari baik kegiatan sosial budaya, maupun ekonomi. Hal ini dapat di lihat dari kurangnya sarana pendidikan, sehingga banyak anak-anak yang putus sekolah dan tidak lanjut ke SLTP. Begitupun sarana kesehatan yang ada di Desa Bonto Lojong yang hanya ada 2, yakni PUSTU dan POSYANDU yang di tempatkan di pusat Kota Desa Bonto Lojong sehingga masyarakat sulit menjangkaunya karna wilayahnya yang luas yang terbagi atas empat Dusun.
Hanya prasarana perhubungan darat dan sarana peribadatan yang yang memadai.
Olehnya itu dengan demikian sarana dan prasarana belum cukup menunjang
32 kegiatan masyarakat di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng.
4.9 Kelembagaan
Kelembagaan berasal dari kata lembaga, yang berarti aturan dalam organisasi atau kelompok masyarakat untuk membantu anggotanya agar dapat berinteraksi satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan yang di inginkan. Selain itu lembaga juga dapat di artikan sebagai aturan dalam sebuah kelompok sosial yang sangat di pengaruhi oleh faktor-faktor sosial, politik dan ekonpomi. Desa Bonto Lojong terdapat beberapa kelembagaan antara lain :
a. Kelompok Tani
Terdapat 14 kelompok Tani yang sudah terbentuk. Kelompok Tani i nantinya akan merata 4 kelompok di setiap dusun. Pengurus inti terdiri dari ketua 1 orang, sekertaris 1 orang dan bendahara 1 orang dan lainnya menjadi angota, setiap kelompok berjumlah 20 anggota. Keberadaan kelompok tani ini membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dalam bidang pertanian tanaman hortikultura, tanaman jangka panjang dan pupuk. namun masyarakat masih merasa berat karena kontribusi cukup tinggi terhadap penyediaan benih hortikultura tersebut. Sehingga kelompok masih perlu penguatan manajemen pengelolaan dan mensosialisasikannya pada masyarkat.
33 b. BPD (badan Permusayawaratan Desa)
BPD merupakan lembaga penampung dan penyalur aspirasi masyarakat dan lembaga legislasi di mana BPD sebagai pembuat aturan bersama pemerintah desa yang dapat mengatur pengelolaan kebijakan pemerintahan desa.
C. LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat)
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), secara struktural Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Bonto Lojong yang di pimpin satu orang ketua, satu orang sekertaris dan di bantu orang bendahara serta beberapa devisi.
Meskipun keberadaan LPM baru terbentuk pada tanggal 20 Mei 2000. Namun diharapkan lembaga ini dapat melakukan pembaharuan di segala bidang dalam hal pemberdayaan masyarakat Desa Bonto Lojong sehingga masyarakat tau bahwa LPM bukan hanya lembga pelengkap struktural desa atau lembaga papan nama akan tetapi mampu menjalankan peran dan fungsinya serta tanggung jawab yang diamanahkan kepada pengurus karang taruna.
D. PKK (Badan Kesejahteraan Keluarga)
Pengurus kelompok PKK di tingkat desa di pimpin oleh satu orang ketua, satu orang sekertaris dan satu orang bendahara serta di bantu oleh kelompok kerja pada tingkat dusun dan tingkat rukun tetangga, terdapat beberapa kelompok dasa wiswa yang dipimpin satu orang ketua. Kelompok ini beranggotakan ibu-ibu di masing-masing dusun. Masyarakat mengharapkan kelompok ini aktif agar peran dan fungsi PKK dikenal luas oleh masyarakat.
34
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Identitas Responden
Identitas petani responden menggambarkan keadaan dan kondisi status petani responden dalam usaha taninya. Dengan adanya identitas petani responden maka akan memudahkan dalam menganalisis usahataninya. Identitas responden meliputi nama responden, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman berusaha tani, dapat di lihat pada lampiran 1, Identitas petani responden akan di bahas berkut ini.
5.1.1. Umur
Umur akan sangat berpengaruh dalam kegiatan berusaha tani. Hal tersebut berhubungan dengan kemampuan bekerja dan cara berfikir petani dalam menerima inovasi baru. Pada umumnya petani yang berumur muda mempunyai kemampuan fisik lebih kuat dan responsif terhadap penerapan inovasi baru di bandingkan petani yang berumur tua. Adapun tingakat umur petani responden dapat di lihat padal Tabel 9 :
35 Tabel 9. Identitas Petani Responden Menurut Umur di Desa Bonto Lojong,
Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng.
No Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)
1 <36 10 33,3
2 36-45 12 40
3 >46 8 26,7
Jumlah 30 100
Sumber :Data Primer Setelah Diolah, 2015
Dari Tabel 9. Pada sample responden di lokasi penelitian di peroleh data bahwa usia petani termudah adalah 27 tahun, dan usia petani tertua adalah 55 tahun. Dengan data tersebut terlihat bahwa umur petani responden berkisar <36 sebanyak 10 orang dengan persentase 33,33%, usia 36-45 sebnyak 12 orang dengan persentase 40,00%, dan usia >46 sebanyak 8 orang dengan persentase 26,67%. Hal ini menjelaskan bahwa responden umumnya berada pada tingkat umur produktif. Wulandari (dalam Ekawati, 2009) menjelaskan bahwa menurut teori kependudukan, usia produktif berada pada kisaran 15-60 tahun dan usia non- produktif berkisar 0-14 tahun. Hal ini berarti bahwa petani responden yang berada di Desa Bonto Lojong masih tergolong produktif. Dengan tingginya tingkat umur produktif petani responden ini, di harapkan mampu untuk membangun pertanian di desa ini. Hal ini karena dengan usia yang masih produktif, petani memiliki potensi untuk melaksanakan kegiatan usaha taninya dengan baik.
36 5.1.2 Tingkat Pendidikan
Pendidikan umumnya akan mempengaruhi cara berfikir petani dan turut mempengaruhi keberhasilan dalam mengelola usahataninya. Pendidikian petani yang relatif tinggi menyebabkan petani akan ;lebih dinamis mengikuti perkembangan teknologi. Tingkat pendidikan petani responden dapat di lihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Identitas Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng.
No Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
1 SD/sederajat 19 63,33
2 SMP/sederajat 9 30,00
3 SMA/sederajat 2 6,67
Total 30 100
Sumber :Data primer setelah diolah, 2015
Berdasarkan Tabel 10 menunjukkan bahwa tingkat pendidkan petani responden yang tertinggi pada tingkat SD/sederajat, yang berjumlah 19 orang dengan persentase 63,33%, SMP/sederajat berjumlah 9 orang dengan persentase 30,00%, SMA/sederajat sebanyak 2 orang dengan persentase 6,67%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat penerimaan inovasi petani responden rendah sehingga mempengaruhi hasil produksi dan pendapatan yang di peroleh.
37 5.1.3 Pengalaman Berusaha Tani
Pengalaman berusaha tani yang di maksud adalah terhitung sejak melepaskan diri dari keluarga dan menusahakan sendiri usaha taninya.
Pengalaman hidup petani merupakan pelajaran besar untuk menuju ke tingkat pengembangan usahataninya. Tabel 13 menunjukkan pengalaman berusaha tani dari petani responden.
Tabel 11. Identitas Petani Responden Menurut Pengalaman Berusahatani di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng.
No Pengalaman berusahatani (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)
1 5 – 20 19 63,33
2 20 – 35 11 36,67
Jumlah 30 100
Sumber : Data primer setelah diolah, 2015
Tabel 11 menunjukkan bahwa petani responden telah berusaha tani selama kurang dari 5 – 20 tahun dan lebih dari 20 – 35 tahun dengan persentase 63,33 % dan 36, 67%. Melihat waktu yang sudah terbilang sangat cukup lama dalam berusahatani, menandakan bahwa pengalaman yang dan keterampilan yang di miliki sangat cukup matang. Sehingga dalam bertindak sangat berhati-hati mengingat sudah cukup lama pengalaman yang telah di dapatkan, dan juga diutinjau dari hasil wawancara bersama responden dapat di ketahui petani yang memulai mengembangkan kentang minimal selama 5 - 20 tahun dan maksimal selama 20 - 35 tahun.
38 5.2 Gambaran Umum Usahatani Kentang
5.2.1. Sumberdaya Usahatani a. Luas Lahan
Pada dasarnya luas lahan yang di kelola oleh petani responden sangat berpengaruh terhadap kegiatan usahataninya baik terhadap jenis komoditi maupun pada pola usahataninya itu sendiri. Total luas lahan yang di miliki oleh seluruh petani responden adalah 18,8 ha dengan nilai rata-rata 0,63 ha/petani. Luas lahan yang di miliki petani responden dapat di lihat pada tabel 12.
Tabel 12. Identitas Petani Responden Menurut Penggunaan Lahan di Desa Bonto Lojong, Kec.Uluere, Kabupaten bantaeng, 2015
No Luas lahan (ha) Jumlah (orang) Persentase (%) 1
2 3
0,10-0,50 0,60-1,00 1,10-1,50
19 7 4
63,33 23,00 13,33
Total 30 100
Sumber :Data Primer Setelah Diolah, 2015
C. Tenaga Kerja
Penggunaan tenaga kerja pada proses produksi merupakan faktor yang penting dalam jumlah yang cukup bukan saja di lihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu pula di perhatikan. Setiap proses
39 produksi di perlukan tenaga kerja yang di sesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu sehingga jumlah optimal (soekarwati, 2003).
Dari hasil wawancara dengan petani responden di peroleh keterangan bahwa tenaga kerja yang di gunakan oleh petani untuk memproduksi kentang mulai dari persiapan lahan sampai pasca panen adalah keluarga. Untuk persiapan lahan, penanaman, dan pemeliharaan kentang petani biasanya menggunakan tenaga kerja keluarga. Untuk panen dan pasca panen kentang, petani pun hanya menggunakan tenaga kerja keluarga dengan sistem gotong royong (a’rera’).
D. Pendapatan Usahatani Petani Kentang
Berusaha tani sebagai suatu kegiatan untuk memperoleh produksi di lapangan pertanian, pada akhirnya akan di nilai dari biaya yang di keluarkan dan penerimaan yang di peroleh. Selisih dari keduanya merupakan pendapatan dari kegiatan usahatannya.
Dalam melakukan kegiatan usahatani kentang, petani mengeluarkan biaya dan mengharapkan penerimaan yang di peroleh dari bertanam kentang. Biaya yang di keluarkan petani antara lain sarana produksi, upah tenaga kerja/ongkos tenaga kerja. Sedangkan penerimaan usaha tani adalah hasil penjualan produksi yang di peroleh yang kemudian di jual sesuai dengan harga kentang yang berlaku di daerah penelitian.
Peneriamaan usaha tani adalah perkalian antara produksi yang di peroleh dengan harga jual. Jumlah produksi adalah hasil yang di peroleh dari cabang usahatani yang di usahakan, sedangkan harga jual adalah nilai atau harga dari usaha persatuan produksi. Suatu usahatani di katakan berhasil apabila situasi