• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pengembangan Kentang

Dalam dokumen strategi pengembangan agribisnis kentang di (Halaman 60-80)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Strategi Pengembangan Kentang

45 Penanganan pasca panen yang di lakukan oleh petani kentang di tempat penelitian yaitu meliputi :

1. Pembersihan 2. Sortasi dan Grading 3. Penyimpanan

4. Pengemasan dan Pengangkutan

E. Pemasaran

Pasar adalah tempat untuk melakukan transaksi atau tukar-menukar barang dengan barang lain (nilai uang). Pasar dapat tercipta karena adanya produsen atau penjual dan kosumen atau pembeli. Bentuk-bentuk pasar untuk komoditas kentang banyak sekali macamnya, misalnya, pasar umum, pasar swalayan (supermarket), warung-warung kecil, restoran-restoran, dan lain-lain. Bahkan pasar bisa tercipta di kebun produksi. Dengan demikian, pasar memiliki fungsi penting untuk penyampaian barang dari produsen ke konsumen. Kegiatan penyampaian barang- barang tersebut dengan segala aturan permainannya di sebut pemasaran atu tataniaga.

Transaksi penjualan kentang di Desa Bonto Lojong terjadi di rumah petani sendiri. Para pengusaha /pedagang pengumpul membeli kentang dari petani , lalu kemudian di pasarkan ke pedagang/industri,yang ada di luar kota/daerah.

46 pengembangan dan pemasaran komoditas-komoditas hasil pertanian, menuntut peran serta pemerintah untuk mengambil sikap dan tindakan dalam menghadapi perubahan tersebut. Sikap dan tindakan inilah yang di maksud dengan strategi.

Termasuk dalam hal ini adalah perlunya pemerintah Kabupaten Bantaeng menentukan strategi-strategi yng perlu di ambil dalam pengembangan komoditas kentang yang berasal dari Kabupaten Bantaeng.

Strategi pengembangan Kentang di Kabupaten Bantaeng di lakukan dengan memadukan faktor-faktor pada lingkungan eksternal Kabupaten Bantaeng yang berada di luar kewenangan Pmerintah Kabupaten untuk mengaturnya terkait peluang (opportunities) dan ancaman (threaths) yang ada dengan kondisi lingkungan internal Kabupaten Bantaeng yang berada di dalam kewenangan pemerintah kabupaten untuk mengaturnya terkait kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) yang di miliki. Dalam berbagai literatur perpaduan berbagai faktor tersebut di kenal sebagai pengenalan situasi yang di kenal dengan istilah analisis SWOT. Hal ini sejalan yang di kemukakan oleh LPM FE-UI (2007) yang mengemukakan bahwa analisa SWOT (SWOT analysis) adalah suatu metode perencanaan strategis yang di gunakan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang menjadi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) yang munkin terjadi dalam mencapai suatu tujuan dari kegiatan proyek/kegiatan usaha atau institusi/lembaga dalam skala yang lebih luas. Untuk keperluan tersebut di perlukan kajian dari aspek lingkungan baik yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal yang mempengaruhi pola strategi institusi lembaga dalam mencapai tujuan.

47 I. Analilis Faktor Internal

Analisis faktor internal bertujuan untuk menemukan berbagai kekuatan (strenghts) yang di miliki oleh Kabupaten Bantaeng, khususnya Kecamatan Ulu Ere, Desa Bonto Lojong pada berbagai aspek yang terkait dengan strategi pengembangan komoditas kentang untuk di mamfaafkan. Selain itu menemukan kelemahan-kelemahan (weakness) yang di miliki oleh Kabupaten Bantaeng pada berbagai aspek yang terkait dengan pengembangan komoditas kentang khususnya untuk segera di benahi.

a. Kekuatan (strenghts)

Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang biasa di gunakan untuk menggerakkan institusi kedepan. Suatu kekuatan hanya akan menjadi keunggulan kompotitif bagi suatu institusi apabila kekeuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya, misalnya apakah kekuatan tersebut di butuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Jika pada institusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki kemampuan utama yang sama, maka kekuatan harus di ukur dari berbagai kekuatan relatif suatu institusi di bandingkan dengan instutusi yang lain. Sehingga dapat di simpulkan bahwa tidak tidak semua kekuatan yang di miliki institusi harus di paksa untuk di kembangkan karena ada kalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika di lihat dari lingkungan yang lebih luas (LPEM-FE-, 2007). Kekuatan yang di maksud di sini adalah potensi sumberdaya dan kondisi yang di miliki oleh Kabupaten Bantaeng terkait dengan srtrategi pengambangan komoditas kentang

48 yang dapat di jadikan sebagai modal dasar dalam pengembangan komoditas kentang di Kabupaten Bantaeng.

Berikut ini di urtaikan berbagai kekuatan yang di miliki oleh komoditas kentang :

1. Tingginya tingkat produktivitas usahatani kentang

Usahatani kentang di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, kabupaten Bantaeng dapat di kategorikan tinggi. Sesuai dengan data yang di peroleh dari hasil observasi lapangan dengan melalui pengisian kusioner menunjukkan bahwa produktifitas usahatani kentang di peroleh bahwa rata-rata nilai jumlah produksi usaha tani kentang di lokasi penelitian adalah panen adalah 4.314,67 ton.

2. Banyaknya jumlah petani yang berusahatani kentang

Komoditas kentang (khususnya varietas Granola) merupakan komoditas yang baru di kenal dan di usahakan oleh petani di Desa Bonto Lojong, Kecamatan UluEre, Kabupaten Bantaeng. Bahkan komoditas ini dapat di katakan sebagai komoditas utama yang hampir di budidayakan oleh petani di mana saja dalam wilayah Kabupaten Bantaeng khususnya Kecamatan Ulu Ere. Jadi wajarlah jika jumlah petani yang mengusahakan komoditas kentang dapat di katakan cukup banyak. Hingga saat ini belum ada data yang jelas dari instansi terkait mengenai jumlah petani kentang yang ada di Kabupaten Bantaeng. Namun jika di diestimasi dari 569 petani yang berada di Desa Bonto Lojong, yang menjadikan kentang sebagai komoditas utama terdapat 75%.

3. Usia petani kentang masih produktif.

49 Umur akan sangat mempengaruhi dalam kegiatan berusaha tani. Hal tersebut berhubungan kemampuan bekerja dan cara berfikir petani dalam menerima inovasi baru. Pada umumnya petani yang berumur muda mempunyai kemampuan fisik lebih kuat dan responsif terhadap penerapan inovasi baru di bandingkan petani yang berumur tua. Terlihat bahwa umur petani responden yakni <36 sebanyak 10 0rang dengan persentase 33,3%, dan umur 36-45 sebanyak 12 orang dengan persentase 40,00, sedangkan umur >46 sebanyak 8 orang dengan persentase 26,7 %. Ini menunjukkan bahwa usia petani responden masih produktif.

4. Luasnya areal penanaman komoditas kentang

Pada dasarnya luas lahan yang di kelolah oleh petani responden sangat berpengaruh terhadap kegiatan usahataninya baik terhadap jenis komoditi maupun pada pola usaha tani itu sendiri. Total luas lahan yang di miliki oleh seluruh petani responden adalah seluas 18,8 ha dengan nilai rata-rata 0,63 ha.

5. Tingginya tingkat pengalaman petani dalam berusahatani kentang

Pada umumnya petani dalam berusaha tani senantiasa berpedoman pada pengalaman berusahatani terdahulu. Pengalaman berusaha tani dari seorang petani berpengaruh terhadap pola pengelolaan usahataninya, karena terdapat kecenderungan bahwa petani yang memiliki pengalaman usahatani yang cukup lama juga memiliki kemampuan berusahatani yang lebih baik. Sebagaimana terlihat pada Tabel 11 bahwa rata-rata pengalaman petani responden yakni 17,46 tahun.

50 b. Kelemahan (weakness)

Hal-hal yang menjadi lawan dari kekuatan adalah kelemahan. Sehingga sama dengan kekuatan, tidsk semua kelemahan dari institusi harus di paksa untuk di perbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar (LPEM-FE-UI, 2007). Kelemahan yang di maksud di sini adalah keterbatasan sumberdaya dan kondisi yang di miliki oleh komoditas kentang dan juga Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng terkait dengan pengembangan komoditas kentang yang dapat menghambat dalam pengembangan komoditas kentang di Kabupatyen Bantaeng.

Berikut ini di uraikan berbagai kelemahan yang di miliki oleh komoditas kentang:

1. Tingkat pendidikan petani masih rendah

Pendidikan pada umumnya akan mempengaruhi cara berfikir petani dan turut mempengaruhi keberhasilan dalam mengelolah usaha taninya. Pendidikan petani yang relatif tinggi menyebabkan petani akan lebih dinamis mengikuti perkembangan teknologi. Tingkat pendidikan petani dapat di lihat pada tabel 12.

Berdasarkan tabel 12 bahwa tingkat pendidikan petani responden yakni SD 19 orang dengan persentase 63,33%. SMP 9 orang dengan persentase 30,00%. Dan SMA 2 oang dengan persentase 6, 67%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan petani yang ada di Desa Bonto Lojong masih relatif rendah.

2. Rendahnya tingkat pengetahuan petani terhadap IPTEK

51 Ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakikatnya sangat membantu manusia dalam mengakses informasi. Salah satu contoh dengan perkembangan zaman maka muncullah alat elektronik sebagai alat komonikasi yang di sebut handpone. Hal ini sangat memudahkan bagi para manusia yang menggunakannya dalam hal positif, begitupun para petani yang mampu menggunakan Handpone untuk kebutuhan pengembangan usahataninya. Namun sesuai fakta di lapangan bahwa petani responden pengetahuannya terhadap alat komonikasi ini masih minim, sehingga menyulitkan dalam memasarkan produksi usahataninya.

3. Keterbatasan jenis dan jumlah sarana teknologi budidaya kentang

Salah satu faktor penghambat sehingga petani kentang sulit untuk menghasilkan kentang yang berkualitas adalah karena keterbatasan sarana teknologi pengelolaan usahatani kentang, meskipun pada hakikatnya banyak tersedia di sentra-sentra produksi. Sarana teknologi untuk panen yang di gunakan cenderun alat tradisional seperti cangkul, sabit, dll.

Sehingga umbi kentang pada saat di panen banyak mengalami kerusakan sperti, terkelupas dan terpotong-potong, padahal pedagang/industri sangat ketat persyaratan kualitas kentang.

4. Benih bermutu yang sulit di peroleh oleh petani kentang

Di sisi lain faktor penghambat sehingga produksi kentang menurun adalah di sebabkan karna benih kentang itu sendiri. Pada tahun-tahun sebelumnya, yakni pada tahun 2010-2013 produktivitas kentang di Bantaeng mengalami peningkatan karna benih bermutu yang di tanam petani mudah di dapatkan sebab penangkar

52 benih Kentang berada di Desa Bonto Lojong dan berjalan dengan baik. Akan tetapi pada tahun 2014 produktivitas kentang di Bantaeng mengalami penurunan selama penangkar benih Kentang beralih fungsi menjadi Taman Bunga. Faktor inilah sehingga petani sulit untuk mendapatkan benih yang bermutu yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Sesuai hasil wawancara dari beberapa petani responden bahwa dia hanya mampu membeli 10-20 kg benih G2 dengan harga yang cukup mahal yakni 25000/kg yang di datangkan dari Jawa dan itupun sangat sulit di dapatkan.

II. Analisis Faktor Eksternal

Berbeda dengan faktor-faktor lingkungan internal yang merupakan faktor yang dapat di kendalikan, faktor lingkungan eksternal perlu mendapatkan prioritas lebih dalam penentuan strategi, karena pada umumnya faktor-faktor ini berada di luar kendala institusi (LPEM-FE-UI, 2007). Analisis faktor eksternal bertujuan untuk menemukan berbagai peluang (opportunitiess) yang dapat di raih oleh komoditas kentang dan juga Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng pada berbagai aspek yang terkait dengan pengembangan komoditas kentang. Selain itu analisis ini bertujuan untuk mengedentifikasi ancaman- ancaman (treath) yag merupakan faktor penghambat pada berbagai aspek yang terkait dengan pengembangan komoditas kentang.

a. Peluang (opportunities)

Perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar selalu datang bersama peluang. Peluang dapat bersumber dari ketakterdugaan, ketidakserasian,

53 kebutuhan proses, struktur pasa dan industri, demografi, perubahan dalam persepsi dan pengetahuan baru. Berikut ini beberapa peluang yang dapat di raih oleh petani Kabupaten Bantaerng terkait dengan pengembangan komoditas kentang.

1. Sumber Daya Alam mendukung dari segi komparatif

Kabupaten Bantaeng adalah salah satu Kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan yang sangat bagus untuk pengembangan sayuran khususnya kentang.

Kabupaten bantaeng memiliki wilayah pegunungan yang sangat cocok untuk pengembangan kentang dan itu berada di Kecamatn Uluere, tepatnya di Desa Bonto Lojong. Desa Bonto Lojong memiliki keunggulan tersendiri dari daerah atau Desa lain, sebab di tinjau dari ktinggian tempat Desa Bonto Lojong berada pada ketinggian 1300-1500 dpl, dan itu sangat cocok untuk pengembangan komoditi Kentang. Dari segi iklim juga sangat mendukung, testur tanah yang gembur dll.

2. Infrastruktur yang mendukung

Pada umumnya infrastruktur akan mempengaruhi keberhasilan dalam mengelola usaha tani. Infrastruktur yang memadai akan sangat membantu petani dalam melakukan akses terhadap apa yang mereka usahakan. Sesuai fakta dan hasil wawancara dari Petani Responden bahwa infrastruktur di Daerah tersebut sangat mendukung, sebab jalan usahatani sudah terpenuhi sehingga petani tidak lagi tekendala walaupun kebun mereka jauh dari rumah. Dan bukan hanya jalan

54 usahatani saja untuk akses ke pasar pun lancar sehigga petani tidak lagi khawatir dalam hal pemasaran hasil usaha taninya.

3. Tingkat konsumsi akan kentang meningkat khususnya kentang goreng

Di Indonesia kentang dikonsumsi sebagai sayur dan belakangan ini sudah mulai dikonsumsi sebagai makanan alternatif yang disukai dalam bentuk french fries atau potato chips sebagai makanan ringan. Faktanya di restoran-restoran besar seperti KFC, M’Donals dll, kentang goreng sangat di minati oleh pengunjung, di warung-warung kecil, sampai pada acara-acara pesta lainnya komsumsi akan kentang goreng sangat tinggi.

4. Tingginya permintaan pasar dan tingkat harga kentang untuk ekspor

Kebutuhan kentang untuk konsumsi dan untuk keperluan industri, setiap tahunnya mencapai 9546 ton, pada 5 tahun terakhir ini, dari mulai tahun 2010- 2014. Sebagaimana yang terdapat pada tabel 15 di bawah ini:

Tabel 15. Perkembangan Luas Panen dan Produksi Tanaman Kentang di Kabupaten Bantaeng Tahun 2010– 2014

No. Tahun Tanaman Kentang

Luas Panen (ha) Produksi (ton)

1 2010 455 6.860

2 2011 602 8.294

3 2012 692 10.324

4 2013 860 12.659

5 2014 652 9.593

Jumlah 3261 47.730

Rata-rata 652,2 9.546

Sumber : Laporan Tahunan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng (2010– 2014).

55 Melihat data-data di atas tadi jelas budidaya kentang maupun proses produksi kentang menunjukkan prospek yang cukup menggembirakan.

b. Ancaman

Tidak semua masalah yang di hadapi oleh sebuah organisasi berada dalam kewenanganya untuk menyelesaikan, meskipun masalah tersebut secara langsung maupun tidak langsung menjadi faktor penghambat dalam mencapai tujuan.

Masalah yang di maksud di anggap sebagai sebuah ancaman. Berikut ini di uraikan beberapa ancaman yang di hadapi petani kentang di Kabupaten Bantaeng dalam pengembangan komoditas kentang.

1. Penetapan standar kualitas yang ketat oleh industri/pedagang

Umumnya pedagang besar/industri ekspor sebelum melakukan pembelian kentang dari pedagang pengumpul sudah menetapkan standar kualitas yakni harus bersih, besar dan serta tidak lecet. Bilamana persyaratan ini tidak sesuai maka akan ada potongan harga dari pedagang. Misalnya, harga kentang untuk kebutuhan ekspor 7000 namun, umbi kentang tidak bersih akibat penanganan pasca panen yang kurang bagus maka harganya lebih rendah dari harga standar dan bahkan tidak di beli. Hal ini sangat mempegaruhi pengembangan usaha tani kentang di Bonto Lojong. Berdasarkan data di lapangan yang di peroleh dari petani responden bahwa pedagang pengumpul sangat ekstra hati-hati ketika ingin membeli kentang, bilamana kualitas kentang tidak sesuai standar yang telah di tetapkan oleh industri/pedagang besar maka, ada potongan harga.

2. Harga komoditas kentang berfluktuasi

56 Salah satu faktor di luar usahatani yang dapat mempengaruhi produksi usaha tani adalah aspek yang menyangkut pemasaran termasuk di dalamnya adalah harga hasil produksi. Hanya saja umumnya petani tidak berdaya dalam menentukan harga hasil produksinya sebagaimana pendapat yang di kemukakan oleh Hernanto (1991) bahwa petani yang serba terbatas berada pada posisi yang lemah dalam penawaran dan persaingan, karena penentuan harga bukan pada petani atau dengan kata lain petani harus terpaksa menerima apa yang menjadi kehendak pembeli. Berdasarkan data yang di peroleh dari petani dan pedagang di lokasi penelitian, tingkat harga Kentang yang berlaku di wilayah ini selama tahun 2014 berkisar antara Rp 5000 – Rp 6000 per kilogram. Tingkat harga ini masih relatif rendah di bandingkan dengan tingkat harga yang berlaku pada sentra-sentra pengembangan komoditas kentang di indonesia. Berfluktuasinya tingkat harga kentang yang berlaku di Kabupaten Bantaeng.

III. Analisis Strategi Pengembangan Kentang

Berdasarkan analisis faktor internal dan eksternal sebagaimana yang telah di uraikan, maka faktor tersebut selanjutnya di analisis dengan menggunakan matriks analisis SWOT (Strenghts – Weaknees – Opportunities – Threats) untuk merumuskan strategi pengembangan kentang di Kabupaten Bantaeng. Strategi- strategi yang di rumuskan, yakni :

1. Strategi SO, dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan (S) yang di miliki Kentang untuk mengambil manfaat dari peluang-peluang (O) yang ada, terutama dalam pengembangan kentang;

57 2. Strategi WO, dengan mengatasi kelemahan-kelemahan (W) yang di miliki

kentang untuk meraih peluang-peluang (O) yang ada, terutama dalam pengembangan kentang;

3. Strategi ST, dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan (S) yang di miliki kentang untuk menghindari ancaman-ancaman (T), terutama dalam pengembangan kentang;dan

4. Strategi WT, dengan mengurangi kelemahan-kelemahan (W) yang di miliki kentang dan menghindari ancaman-ancaman (T) yang ada.

Analisis faktor-faktor internal dan eskternal yang di tuangkan ke dalam matriks SWOT dengan rumusan strategi-strategi yang dapat di ambil dalam kaitannya dengan pengembangan kentang di Kabupaten Bantaeng, secara lengkap dapat di lihat pada tabel 15.

Berdasarkan analisis SWOT yang di lakukan dengan menggunakan matriks sebagaimana yang tertera pada tabel 14, maka di peroleh strategi yang dapat di lakukan untuk mengembangkan kentang di Kabupaten Bantaeng.

Strategi- strategi di kelompokkan berdasarkan Strategi SO, WO, ST dan WT sebagaimana di uraikan berikut ini.

1. Strategi SO

SO-1. Memaksimalkan produktivitas usaha tani kentang, yang merupakan tanaman konsumsi dan ekspor sehingga menarik para petani untuk mengembangkan kentang.

58 Tingginya produktivitas dan harga jual kentang di Kabupaten Bantaeng sehingga menambah daya tarik para petani untuk berusaha tani dan mengembangkan komoditas kentang, dengan alasan agar mampu menambah pendapatan dan mendongkrak perekonomian petani kentang.

SO-2. Memanfaatkan banyaknya jumlah petani yang berusahatani kentang agar mampu menutupi permintaan untuk di ekspor

Banyaknya petani yang berusahatani kentang di Kabupaten Bantaeng masih tetap harus di tingkatkan lagi, karena jumlah permintaan kentang setiap tahunnya semakin meningkat karena merupakan tanaman ekspor yang paling produktif.

SO-3. Memanfaatkan luas areal penanaman kentang untuk memenuhi permintaan kentang

Luasnya areal penanaman kentang di Kabupaten Bantaerng semestinya di manfaatkan oleh Kabupaten Bantaeng agar mampu memenuhi kebutuhan petani Kentang agar permintaan kentang mampu di penuhi sehingga mampu mensejahterahkan petani kentang karena bertambahnya penghasilannnya karena telah berusahatani kentang.

SO-4. Memanfaatkan usia petani yang masih produktif dan pengalaman yang di miliki untuk mengembangkan kentang dengan potensi alam dan ifrastruktur yang mendukung

59 Usia petani yang masih produktif serta pengalaman yang di miliki oleh petani kentang seharusnya di dukung dan lebih di tingkatkan lagi oleh Kaupaten Bantaeng melihat potensi alam dan ifrastruktur yang sangat mendukung untuk pengembangan agribisnis kentang.

2. Strategi WO

WO-1. Meningkatkan pengetahuan dan pendidikian petani, sarana dan prasarana produksi khususnya benih serta bertambah fasilitas teknologi budidaya dan pasca panen untuk mengatasi kualitas kentang demi memenuhi permintaan ekspor

Tingginya permintaan komsumsi akan kentang goreng dan ekspor akan komoditas kentang merupakan peluang yang harus di capai oleh Kabupaten Bantaeng sebagai salah satu sentra produksi di Sulawesi Selatan. Hal ini perlu di lakukan dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam teknis budidaya, penanganan dan manajemen pengelolaan usahatani. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam budidaya dan pasca panen akan memberikan dampak terhadap tersalurnya produksi kentang dengan tingkat harga yang menguntungkan semua pihak terutama petani sebagai produsen. Peningkatan kualitas kentang ini perlu pula di dukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana penanganan pasca panen seperti lantai dan sebagainya.

Ketatnya persyaratan kualitas yang di gunakan oleh pedagang/industri menuntut petani sebagai produsen untuk dapat memenuhinya agar tingkat harga yang di terima dapat lebih memadai. Hanya saja petani kentang memiliki

60 keterbatasan yang tidak hanya pengetahuan dan keterampilan, namun juga pada ketersedian prasarana pengelolaan hasil terutama dalam penanganan pasca panen.

Keterbatasan prasarana penanganan pascapanen perlu di fasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui penyediaan gudang penyimpanan. Pengelolaan prasarana pascapanen ini dapat di serahkan kelembagaan di tingkat petani seperti gapoktan atau dapat pula di kelola langsung oleh pemerintah Kabupaten dengan membentuk Sub-terminal agribisnis Bantaeng di Kecamatan/kluster yang menjadi sentra pengembangan Bantaeng.

3. Strategi ST

ST-1. Memanfaatkan tingkat produktivitas kentang sebagai tanaman ekspor untuk mendapatkan penghasilan yang lebih, meskipun harganya fluktuatif.

Komoditas kentang yang terkenal sebagai tanaman ekspor dan bernilai jual tinggi sangat menarik perhatian para petani di Bantaeng untuk menjadikannya sebagai komoditas utama, hanya terkadang menemukan masalah dalam pemasarannya, sehngga di butuhkan pengawalan yang serius dan nyata dari pemerintah Kabupaten pada khususnya dan Provensi pada umumnya untuk melakukan pengawalan dan penetapan harga standar agar dapat mengurangi resiko kerugian bagi para petani dan pedagang kentang.

ST-2. Meningkatkan upaya penyuluhan mengenai ketatnya standar kualitas yang di tetapkan oleh industri/pedagang

61 Kelemahan produk kentang yang di hasilkan oleh petani di Kabupaten Bantaeng adalah rendahnya kualitas utama yang utamanya di sebabkan oleh penanganan pasca panen yang kurang tepat. Akibat dari rendahnya kualitas tersebut adalah tingginya potongan harga yang di terima oleh petani dan berakibat rendahnya tingkat pendapatan yang mereka terima. Untuk mengatasi kelemahan ini peranan kelembagaan petani sebagai wadah belajar bagi petani sangat di butuhkan terutama terkait dengan informasi mengenai teknologi penanganan pascaanen yang baik melalui pelatihan-pelatihan.

ST-3. Mengawal harga dari pemerintah agar tidak terjadi permainan harga sehingga petani tidak mengalami kerugian

Luasnya areal penanaman kentang di Kabupaten Bantaeng seharusnya di kawal baik oleh pemerintah agar para petani kentang tidak mengalami kerugian yang di sebabkan oleh permainan harga oleh pedagang pengumpul sehingga menimbulkan kerugian oleh para petani kentang.

4. Strategi WT

WT-1. Meningkatkan pendidikan dan pengetahuan petani dalam menerapkan teknologi budidaya untuk meningkatkan jumlah produksi agar dapat memenuhi penetapan standar yang di tetapkan oleh industri dan pedagang

Salah satu hambatan yang di peroleh oleh petani dalam memperoleh pendapatan yang memadai adalah rendahya tingkat harga yang yang di tetapkan

Dalam dokumen strategi pengembangan agribisnis kentang di (Halaman 60-80)

Dokumen terkait