101
ketentuan perundang-undangan diatasnya serta bersifat internal, dalam hal ini seperti PERMA (Peraturan Mahkamah Agung).142
Idealnya hukum merupakan leader yang harus diikuti dan ditaati oleh masyarakat, oleh karenanya hukum harus sesuai dengan perkembangan zaman, begitu pula halnya dengan Peraturan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung dalam hal ini Peraturan Mahkamah Agung hadir sebagai suatu alternatif yang berfungsi sebagai pengisi dari kekosongan dan solusi terhadap kebuntuan dari suatu hukum acara. Akan tetapi perlu untuk diingat bahwa dalam Peraturan Mahkamah Agung ini harus turut serta memuat tiga asas hukum yaitu asas keadilan, asas kemanfaatan, dan asas kepastian hukum.
Mengingat tuntutan dari perkembangan zaman yang mengharuskan adanya pembaharuan dalam ranah hukum yang tentunya bertujuan untuk memudahkan masyarakat pencari keadilan, maka pada pertengahan tahun 2019 tepatnya pada tanggal 8 Agustus 2019 Mahkamah Agung mengundangkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik sebagai suatu terobosan baru dalam dunia peradilan yang kemudian diharapkan akan mampu memenuhi tiga asas dalam hukum acara yang diantaranya asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan.
142Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, (Jakarta : Rajagrapindo Persada, 2014), hlm.140
Hukum materil dan hukum acara haruslah sejalan dengan perkembangan zaman, dalam artian mulai dari bentuk yang paling sederhana sampai pada bentuk atau tahap yang semodern mungkin, yang dimana hukum tersebut tersusun secara sistematis dan diterapkan oleh orang yang memang memiliki kapasitas dan kredibilitas dalam bidang hukum tersebut.143 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 yang diyakini sebagai penyempurna dari Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2018 merupakan upaya yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dalam memodernkan proses pelayanan di Pengadilan. Sebagaimana yang kita lihat pada saat ini hukum beracara tengah mengalami fase transisi mulai dari hukum acara yang semula bersifat manual kini beralih menuju proses beracara yang mengandalkan media elektronik dalam proses penerapannya.
Sejalan dengan itu, Peraturan Mahkamah Agung tersebut dibentuk berdasarkan kegelisahan yang dirasakan terhadap hukum acara.
Kegelisahan tersebut mencangkup keterlambatan, keterjangkauan dan integritas oleh karenanya, Mahkamah Agung sebagai lembaga Yudikatif yang menaungi empat lembaga peradilan dibawahnya mengeluarkan suatu terobosan baru dengan tujuan menjawab kegelisahan tersebut sekaligus dengan harapan dikeluarkan peraturan tentang beracara secara elektronik ini mampu memberikan kemudahan dalam proses pelaksanaannya. Tentu saja, kemudahan yang diharapkan mampu mencangkup kepada siapapun yang
143 Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta: RajaGrapindo Persada, 1999), hlm.90
terlibat dalam prosesnya baik itu para aparat penegak hukum maupun para masyarakat pencari keadilan.
Berdasarkan sudut pandang peneliti, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Elektronik merupakan hal yang baru dalam dunia peradilan yang memang perlu untuk diterapkan dalam proses menerima, memeriksa, dan mengadili suatu perkara dengan tidak mengesampingkan asas keadilan, kemanfaatan dan kepastian dari hukum itu sendiri. Mengingat hukum haruslah berkembang selaras dengan masifnya pemanfaatan teknologi dan negara Indonesia telah memasuki era Society 5.0 yang dimana pemanfaatan terhadap media elektronik menjadi suatu kebutuhan mendasar dalam kehidupan sosial masyarakat. Masifnya pemanfaatan tekhnologi dalam kehidupan masyarakat tentunya merupakan suatu perkembangan yang baik dalam membantu masyarakat sebagai mahluk sosial.
Pada Era society 5.0 ini pemanfaatan tekhnologi dalam hal media elektronik dan internet tidak hanya berfungsi sebagai media berbagi informasi melainkan juga menjadikan manusia sebagai komponen yang memiliki andil dari perkembangan tekhnologi itu sendiri dalam proses untuk melaksanakan berbagai kegiatan dalam kehidupan. Perkembangan teknologi tentunya tidak hanya memberi pengaruh dalam dunia industri dan ekonomi saja, tetapi berpengaruh pula dalam dunia hukum. Dalam rangka mengikuti perkembangan zaman yang serba online dan mengandalkan media elektronik, Mahkamah Agung dan seluruh lembaga peradilan yang
berada dibawah naungannya mencoba untuk melakukan pembaharuan dalam hal memberikan pelayanan yang lebih berkualitas dengan mengutamakan tiga asas dalam hukum beracara yaitu asas cepat, sederhana, dan biaya ringan. Pembaharuan tersebut diwujudkan dengan mengubah pelayanan dalam hal administrasi dan persidangan yang semula manual berubah yakni menggunakan media elektronik dan berbasis online.
Ketentuan yang mengatur tentang proses persidangan berbasis online atau e-litigation termuat dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 yang membahas Tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik. Pembentukan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 ini didasarkan pada kententuan dari Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi
“semua peradilan di selurh wilayah Negara Republik Indonesia adalah peradilan negara yang diatur dengan undang-undang. Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan”144 berdasarkan pasal di atas, bahwa persidangan harus dilaksanakan secara sederhana, cepat, dan biaya ringan, oleh karenanya segala hambatan yang dirasakan selama proses persidangan perlu untuk diatasi agar ketiga asas tersebut dapat terealisasi dan memberi dampak yang nyata bagi para pencari keadilan.
Jika dilihat dari segi substansi dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 membahas tentang administrasi perkara dan
144 Pasal 2 ayat 3 dan 4 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman
persidangan secara elektronik. Pada bab 4 dalam ketentuan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 yang menjelaskan tentang tata cara dari pelaksanaan persidangan secara elektronik/e-litigation. Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa persidangan secara e-litigation dimulai setelah terlaksananya proses mediasi dan disetujui oleh seluruh pihak yang terlibat baik pihak penggugat maupun tergugat. Secara pokok dalam substansi Peraturan Mahkamah Agung tentang e-litigation ini hanya diberlakukan pada proses pertukaran dokumen mulai dari jawaban hingga putusan, kecuali pada proses pembuktian dan pemeriksaan setempat pada perkara kebendaan yang tetap mengikuti ketentuan dari hukum acara yang berlaku.
Poin penting dalam PERMA tersebut ialah untuk memberikan kemudahan dalam proses beracara sekaligus menjawab segala bentuk problematika yang timbul dalam proses beraca secara manual, dalam hal ini berupa ketejangkauan, keterlambatan, dan integritas, sehingga apa yang dicita-citakan oleh Pasal 2 Ayat 4 dalam Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 dapat terlaksana. Tujuan Mahkamah Agung dalam mengeluarkan peraturan tersebut, selaras dengan salah satu kaidah fiqhiyah yang menyatakan :
ماكحلااريغت ةنمزلااريغتب
ةنكملااو لاوحلااو
Artinya : “Perubahan hukum berdasarkan perubahan zaman, tempat, dan keadaan”145
145 uhlish Usman, Kaidah-Kaidah Ushuliyah Dan Fiqhiyah Pedoman Dasar Dalam Hukum Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1997), hlm.145
Kaidah fiqhiyah diatas menjelaskan bahwa hukum bersifat fleksibel, apabila suatu ijtihad terdahulu menghasilkan sebuah hukum yang sudah tidak sesuai atau tidak relevan lagi dengan kondisi dan keadaan yang dihadapi pada saat ini, maka hasil ijihad atau hukum tersebut dapat direvisi dan disesuaikan dengan kebutuhan manusia berdasarkan tuntutan dari perkembangan zaman.146 Maka berdasarkan penjelasan kaidah diatas dapat diketahui bahwa hukum memang selayaknya perlu mengalami perkembang dan pembaharuan terutama dalam proses beracara. Dengan adanya PERMA Nomor 1 Tahun 2019 menjadi hal yang patut diterapkan guna menyelenggarakan peradilan yang lebih efisien selagi tidak bertentang dengan hukum acara yang berlaku/undang-undang yang lebih tinggi.
B. Analisis Efektivitas Penerapan E-Litigation Di Pengadilan Agama Selong
Efektivitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti berhasilnya suatu usaha atau tindakan. Suatu kegiatan dapat dikatakan efektif apabila telah dilaksanakan dan atas pelaksanaannya diperolehlah suatu hasil yang sesuai dengan tujuan dari dibentuk atau dijalankannya suatu kegiatan tersebut.147
Berbicara mengenai efektivitas dari penerapan sistem persidangan secara e-litigation dalam proses penyelesaian sengketa waris berarti berbicara tentang tingkat keberhasilannya. Apabila persidangan secara e-
146 Ibid.., hlm.145
147 HeryantoاMonoarfa,ا“Efektivitasاdan Efisiensi Penyelenggaraan Pelayanan
Publik”:ا“TinjauanاKinerjaاLembagaاPemerintahan”,اJurnal Pelangi Ilmu, volume.05, Nomor 01,2012.
litigation ini mampu memenuhi tujuan dari keberadaanya maka dapat disimpulkan bahwa e-litigation ini sudah bisa dikatakan efektif dalam pelaksanaannya. Untuk mengukur tingkat efektivitas dari e-litigation berarti melihat sesudah dan sebelum e-litigation tersebut diterapkan, melihat perbedaan baik dari segi waktu dan biaya yang keluarkan serta melihat perbandingan kuantitas dari perkara yang disidangkan secara manual dengan yang disidangkan secara e-litigation khususnya dalam sengketa waris.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah peneliti lakukan di Pengadilan Agama Selong mengenai penerapan dari e-litigation khususnya pada perkara sengketa waris dapat dilihat bahwa minat masyarakat pencari keadilan terhadap penyelesaian perkara dengan menggunakan e-litigation masih sangat minim ketimbang dengan minat para masyarakat pencari keadilan yang beracara secara manual.
Masyarakat pencari keadilan khususnya dalam hal ini para pengguna lain kurang tetarik menyelesaikan perkara waris secara elektronik, mereka lebih percaya apabila proses persidangan dilakukan secara manual/bertatap muka. Hal ini dikarenakan pengetahuan masyarakat pencari keadilan dalam hal ini para pengguna lain terhadap e-litigation sangat minim serta kurangnya kecakapan masyarakat dalam mengoprasikan media elektronik yang kemudian menyebabkan rendahnya minat masyarakat pencari keadilan beracara secara e-litigation. Merujuk pada data yang peneliti peroleh dari kepaniteraan Pengadilan Agama Selong, pada tahun 2020
sampai dengan 2021 tercatat sebanyak 116 perkara kewarisan yang didaftarkan secara elektronik/e-court, akan tetapi hanya 3 dari perkara tersebut yang diselesaikan secara e-litigation. Hal membuktikan bahwa minat masyarakat terhadap penyelesaian sengketa waris melalui e-litigation sangatlah minim.
Menurut pandangan peneliti jika merujuk kembali kepada definisi efektivitas diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa apabila dilihat dari sisi para masyarakat pencari keadilan belum bisa menyesuaikan diri dengan sistem persidangan yang menggunakan media elektronik. Melihat kurangnya minat masyarakat pencari keadilan dalam penyelesaian perkara secara e-litigation khususnya pada perkara sengketa waris menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi efektif atau tidaknya sistem persidangan secara elektronik/e-litigation. menurut peneliti e-litigation dapat dikatakan efektif apabila dalam proses penerapannya mendapat respon yang baik sehingga masyarakat pencari keadilan memiliki minat yang tinggi dalam menyelesaikan perkara secara e-litigation terlebih dalam perkara waris. Karena bagaimana suatu kegiatan dapat dikatakan efektif apabila dalam proses penerapannya tidak mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Jika suatu kegiatan tidak terlaksana secara maksimal maka secara otomatis akan sulit mencapai tujuan dari keberadaannya.
Proses penyelesaian sengketa waris secara e-litigation sudah mulai diterapkan di Pengadilan Agama Selong namun, karena kurangnya minat masyarakat pencari keadilan baik para pengguna terdaftar maupun para
pengguna lain dalam menyelesaikan perkara waris menyebabkan efektivitas dalam proses pelaksanaan e-litigation belum bisa dikatakan merata dikalangan para masyarakat pencari keadilan mengingat data jumlah perbandingan antara persidangan manual dengan persidangan secara e- litigation sangat berbanding jauh.
Selain itu, untuk mengukur suatu hukum berjalan dengan semestinya maka pada bab ini peneliti menggunakan teori sistem hukum yang dikemukakan oleh Lawrence M. Friedman sebagai pisau analisis bagi peneliti dalam mengalisis efektif atau tidaknya penerapan e-litigation dalam proses penyelesaian sengketa waris. Yang menyatakan bahwa berhasil atau tidaknya suatu hukum di masyarakat dalam proses penerapannya dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :
1. Substansi Hukum
Substansi hukum merupakan hal yang menentukan bisa atau tidaknya hukum tersebut dilaksanakan.148 Substansi juga dapat diartikan sebagai suatu produk yang dihasilkan oleh seseorang atau lembaga yang berada dalam suatu sistem hukum, mencangkup suatu keputusan yang mereka keluarkan ataupun aturan baru yang telah mereka susun.149 friedman juga menyatakan bahwa substansi juga diartikan sebagai suatu norma, aturan, atau perundang-undangan yang dijadikan sebagai pedoman bagi institusi maupun aparat penegak hukum dalam
148Lawrence M. Friedman, SISTEM…, hlm.17
149 Ibid .., hlm.18
menerapkan suatu hukum berdasarkan wewenangnya., norma yang dimaksud dalam hal ini adalah menekankan pada hukum yang hidup bukan hanya pada hukum atau pun aturan yang terdapat dalam undang- undang saja.
Jika membahas substansi hukum mengenai e-litigation dapat diketahui bahwa yang menjadi pedoman dalam penegakan persidangan secara elektronik/e-litigation ialah Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Elektronik. Melihat dari sisi terbentuknya ketentuan tentang proses beracara secara e-litigation yang termuat dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 ialah sebagai suatu pembaharuan dalam persidangan untuk mengatasi segala hambatan dan kendala dalam beracara secara manual yang dirasa menghambat proses penyelesaian perkara sesuai dengan apa yang dijelaskan pada pasal 2 ayat 4 undang- undang nomor 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman yang menyatakan peradilan hendaknya dilaksanakan dengan melihat tiga aspek yaitu cepat, sederhana, dan biaya ringan.
Berbicara mengenai substansi hukum maka berbicara pula mengenai Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 yang menjadi dasar atau pedoman bagi seluruh Pengadilan Agama termasuk Pengadilan Agama Selong dalam menerapkan persidangan secara e- litigation. Secara substansi yang termuat dalam PERMA Nomor 1 Tahun 2019 mengatur tentang bagaimana proses penyelesaian perkara
secara elektronik menghendaki adanya kemudahan dalam proses beracara secara e-litigation. akan tetapi, dalam PERMA Nomor 1 Tahun 2019 itu sendiri tidak memuat suatu ketentuan yang bersifat mengharuskan atau menghimbau masyarakat pencari keadilan untuk beracara secara e-litigation. Hal ini lah yang kemudian menjadikan masyarakat menjadi acuh tak acuh untuk menyelesaikan perkara secara e-litigation.
2. Struktur Hukum
Selain substansi faktor lainnya yang menjadi penentu berhasil atau tidaknya suatu hukum yaitu struktur hukum. Struktur hukum dalam hal ini yaitu berbicara mengenai lembaga-lembaga pembuat undang- undang, institusi/badan dan aparatur yang diberikan kewenangan untuk menegakkan hukum. Di Indonesia struktur hukum yang menjadi penentu dalam berhasilnya penegakan suatu hukum selain dari lembaga yang membentuk suatu peraturan perundang-undangan tersebut, yaitu institusinya dan aparatur penegak hukumnya dalam hal ini kaitannya dengan lembaga peradilan, para hakim, dan advokat serta aparat penegak hukum lainnya.
Peradilan Agama sebagai salah satu lembaga penyelenggara penegakan hukum dan keadilan di Indonesia memiliki kewenangan dalam memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara dikalangan masyarakat pencari keadilan yang beragama islam sebagaimana yang tertera pada Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 dalam Pasal 24 ayat 2.150 Peradilan agama juga dalam hal ini menjadi salah satu lembaga peradilan yang memiliki kewenangan dalam menerapkan proses beracara secara elektronik/e-litigation sebagaimana yang termuat dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019.
Seperti yang telah dikemukakan di atas tentang struktur hukum, apabila berbicara mengenai struktur hukum maka secara langsung berbicara pula tentang Pengadilan Agama, para hakim, dan advokat karena merupakan komponen yang memiliki wewenang dalam menegakkan suatu hukum atau menerapkan suatu peraturan serta memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses penerapan e- litigation. Berbicara mengenai Pengadilan Agama berbicara pula mengenai ketersediaan sarana dan prasana penunjang yang menjadi faktor pendukung dalam proses penyelesaian perkara di Pengadilan Agama secara e-litigation. Dalam hal ini, sarana dan prasana menjadi suatu komponen yang penting dalam proses penerapan e-litigation, semakin lengkap ketersedian dari sarana dan prasana maka akan semakin menunjang pemaksimalan dalam proses penerapannya.
Berdasarkan hasil observasi, pada Pengadilan Agama Selong sarana dan prasarana telah sesuai dengan pedoman pelaksanaan pengadaan alat pengolah data dan komunikasi pendukung e-litigation sebagaimana yang termuat dalam Surat Sekretaris Mahkamag Agung.
150 Ibid..,hlm.18
Sarana dan prasarana pendukung seperti komputer/PC yang tersedia di ruang PTSP digunakan oleh operator e-court untuk memantau apabila terdapat kendala ketika proses persidangan secara e- litigation, laptop yang diberikan kepada masing-masing majelis hakim dan panitera, serta dua buah layar monitor berupa TV LED yang terpasang diruang sidang sudah menunjukkan ketersedian sarana dan prasarana telah memenuhi standar minimal sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Mahkamah Agung. Selain itu juga, koneksi jaringan internet untuk mengakses aplikasi e-court pada Pengadilan Agama Selong tergolong stabil karena sudah memenuhi standar minimal yaitu 10 mbps/second. Hal ini merupakan suatu ciri bahwa Pengadilan Agama Selong secara sarana dan prasarana paling mendasar telah siap dalam proses penerapan e-litigation.
Selain sarana dan prasarana sumber daya manusia juga merupakan struktur hukum yang tidak kalah pentingnya, dalam hal ini kaitannya dengan para hakim, operator e-court dan advokat. Hakim memiliki peran yang sangat penting mengingat hakim merupakan komponen utama dalam pelaksanaan persidangan secara e-litigation.
Hakim dan advokat yang merupakan pengguna terdaftar haruslah memiliki kapabilitas dalam pengoprasikan media elektonik khususnya dalam dan paham proses persidangan secara e-litigation sehingga meminimalisir munculnya kendala-kendala yang disebabkan gapteknya majelis hakim maupun advokat dalam mengoperasikan media
elektronik mengingat e-litigation dalam proses penerapannya sangat mengandalkan media elektronik.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan salah satu hakim Pengadilan Agama Selong menyebutkan bahwa hambatan yang sering pula terjadi dalam proses persidangan secara e-litigation ialah para advokat terkadang lupa mengupload berkas atau dokumen seperti replik, duplik sehingga mengharuskan operator e-court untuk mengingatkan para advokat berulang kali. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan ketidaksiapan dari advokat dalam beracara secara elektronik.
Dapat disimpulkan jika berbicara secara struktur dalam artian sarana dan prasarana maka Pengadilan Agama Selong sudah bisa dikatakan siap dan telah memumpuni untuk penerapan e-litigation.
tetapi jika berbicara struktur dalam artian aparat penegak hukum terlebih untuk advokat dapat diketahui belum adanya kesiapan sehingga perlu untuk para aparat penegak hukum baik itu hakim maupun advokat untuk lebih mempersiapkan diri.
3. Budaya hukum
Budaya hukum atau legal culture merupakan komponen terpenting untuk mengetahui berhasilnya suatu sistem hukum. Legal culture/budaya hukum merupakan sikap dan nilai-nilai masyarakat terhadap suatu hukum/sistem hukum serta kepercayaan dan harapan mereka atas hukum tersebut.151 Sikap dan nilai masyarakat yang
151 Ibid, hlm.18
dimaksud ialah sebesar apa kepercayaan masyarakat dalam memanfaatkan lembaga peradilan dalam menyelesaikan perkara, apakah masyarakat akan memilih pengadilan sebagai lembaga yang mereka yakini dapat menyelesaikan segala persoalan mereka atau tidak.
Sikap inilah yang kemudian dinyatakan sebagai budaya hukum/legal culture. Selain itu, budaya hukum memiliki peranan yang penting dalam sistem hukum karena hukum tanpa adanya budaya hukum yang baik maka sistem hukum akan pingsan, karena pada dasarnya sistem hukum diibaratkan seperti ikan.152
Legal culture atau budaya hukum erat juga kaitannya dengan keadaan sosial masyarakat. Dalam hal ini, jika berbicara mengenai kondisi sosial masyarakat maka berbicara tentang masyarakat pencari keadilan yang hendak menyelesaikan perkara di Pengadilan Agama Selong yang dijadikan sebagai objek hukum dari pelaksanaan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 tentang pelaksanaan sidang secara elektronik/e-litigation. Jika budaya hukum sebagai komponen penting dalam mencapai keberhasilan dan keefektivitasan atas suatu hukum dalam masyarakat maka apabila dikaitkan dengan kondisi sosial masyarakat menjadi kendala dari terlaksananya Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019.
Melihat dari sisi usia dari para pihak yang berperkara khususnya pada perkara kewarisaan rata-rata berusia diatas 30 tahun
152 Soerjono Soekanto, Hukum…, hlm.18
yang memiliki keterbatasan dalam mengoperasikan media elektronik.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas PTSP yang sekaligus merupakan operator e-court menerangkan bahwa alasan yang menjadi faktor dari para pihak/masyarakat pencari keadilan kurang tertarik dalam beracara secara e-litigation ialah karena menganggap bahwa persidangan secara e-litigation akan lebih ribet karena menggunakan media elektronik.
Jika melihat keadaan sosial dan budaya dari masyarakat yang dapat dikatakan gagap terhadap teknologi serta kurangnya pemahaman akan e-litigation menjadi kendala atas terlaksananya Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Persidangan Secara Elektronik. Kurangnya pemahaman atas e-litigation membuat masyarakat cemas jika beracara secara e-litigation. Budaya atau kondisi social masyarakat yang memiliki pemahaman rendah atas pemanfaatan media elektronik, menimbulkan sikap responless yang kemudian menghasilkan budaya hukum yang belum bisa dikatakan baik dalam mengefektifkan persidangan secara elektronik/e-litigation.
Suatu budaya hukum akan dikatakan baik apabila dalam proses penerapannya mendapatkan respon yang baik dari masyarakat sebagai bentuk kepercayaan masyarakat atas suatu hukum. rendahnya minat masyarakat pencari keadilan dalam hal ini masyarakat Lombok Timur yang menyelesaikan perkara secara e-litigation khusunya pada perkara kewarisan di Pengadilan Agama Selong menjadi bukti bahwa budaya
hukum/legal culture belum dapat dikatakan baik. Jika komponen terpenting untuk menentukan efektivitas dari penerapan suatu hukum di masyarakat belum baik maka bagaimana mungkin suatu hukum akan terlaksana dengan baik dan dapat dikatakan efektif.
Selain teori sistem hukum diatas, Soerjono Soekanto menyatakan ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi efektivitas dari suatu hukum,yaitu :
1. Faktor hukum
Hukum memiliki tujuan untuk memberikan keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan bagi seluruh lapisan masyarakat,153 begitu pun halnya dengan ketentuan hukum yang mengatur tentang e-litigation apakah sudah memenuhi tujuan dari hukum sendiri atau tidak. E- litigation dalam praktik penerapannya ialah sebagai solusi untuk menghilangkan segala problematika beracara tanpa mengesampingkan nilai dasar dalam hukum itu sendiri. Jika dilihat dari segi kemanfaatan, tentu saja e-litigation ini sangat bermanfaat lebih-lebih dalam mempercepat proses pertukaran berkas,
2. Faktor penegak hukum
Penegakkan hukum sangatlah mempunyai nilai yang sangat penting, dimana tanpa adanya penegakkan hukum, suatu aturan-aturan ataupun peraturan-peraturan yang dibuat tidak mempunyai ketegasan dalam segi praktek sehari-hari. Dengan adanya penegakkan hukum
153 Ibid…, hlm.51