BAB II EFEKTIVITAS PENERAPAN E-LITIGATION DALAM
F. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan E-Litigation di
Pada proses penerapan e-litigation tentu tidak terlepas dari faktor faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi tingkat efektivitas terhadap penerapan e-litigation di Pengadilan Agama Selong khususnya pada perkara sengketa waris. Adapun faktor-faktor tersebut ialah :
1. Faktor pendukung a. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi terlaksananya persidangan secara elektronik/e-litigation, hal ini dikarenakan mengingat e-litigation merupakan suatu sistem persidangan elektronik yang memerlukan sarana dan prasarana yang memadai seperti tersedianya laptop/komputer dan alat pendukung e-litigation lainnya. Hal ini sebagaimana yang di jelaskan oleh Bapak Dr. Imran, S.Ag., M.H., selaku Wakil Ketua Pengadilan Agama Selong 135:
“Kalau untuk faktor pendukung dari e-litigasi ini yang paling pokok atau utama itu, ya sarana dan prasarana yang lengkap, contoh saja seperti komputer atau laptop harus disediakan untuk majelis hakim dan satu unit untuk operator e-court, koneksi
135 Dr. Imran, (Hakim/Wakil Ketua), Wawancara, Pengadilan Agama Selong, 09 November 2021
internet yang stabil, speaker di ruang sidang dan alat-alat atau sarana dan prasana lainnya bisa dicek sendiri ada ketentuannya tersendiri mengenai sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana ini sifatnya mutlak karena yang kita tau e-litigasi ini kan tidak akan terlaksana dengan baik kalau sarana dan prasarananya saja tidak memadai.”
b. SDM (Sumber Daya Manusia)
Selain sarana dan prasarana faktor pendukung lainnya dalam penerapan e-litigation ialah sumber daya manusia. Orang-orang yang hendak berperkara melalui sistem persidangan secara e-litigation hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap e-litigation atau paling tidak paham akan penggunaan media elektronik. Bapak Dr.
Imran selaku Wakil Ketua Pengadilan Agama Selong pun menerangkan sebagai berikut :
“faktor lainnya juga adalah sumber daya manusianya yang memang benar-benar harus paham apa itu e-litigation. Misalnya saja aparatur pengadilan itu harus paham betul tentang dunia IT, dia paham memanggil para pihak secara elektronik, paniteranya juga paham cara mengupload berita acara secara online di sistem informasi perkara pengadilan. Para hakimnya juga harus paham tekhnologi. Para pihaknya pun harus paham tekhnologi juga, punya email yang jelas dan bisa membuka website. Intinya semua komponen yang akan melaksanakan persidangan secara e-litigation ini adalah orang-orang yang memang paham betul dengan penggunaan tekhnologi atau media elektronik. Karena kalau tidak paham kan nanti para pihaknya atau komponen dari aparatur pengadilannya bingung bersidang secara e-litigation dan bisa terhambat proses persidangannya.”136
Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa faktor pendukung dalam penerapan e-litigation ialah sumber daya manusia
136 Imran, (Hakim/Wakil Ketua), Wawancara, Pengadilan Agama Selong, 09 November 2021
yang berkualitas dan paham akan pemanfaatan tekhnologi untuk mendukung dan melaksanakan persidangan secara e-litigation
2. Faktor penghambat
Selain faktor pendukung tentunya dalam penerapan e-litigation terdapat pula faktor penghambat, dalam hal ini faktor penghambat dikategorikan bersumber dari dua faktor yaitu sebagai berikut :
a. Faktor internal
Faktor penghambat yang bersumber dari internal atau lebih bersifat individual yang bersumber dari dalam diri para pihak atau komponen aparatur peradilan dapat berupa kurangnya konstrasi dan keseriusan dari para pihak dalam melaksanakan proses persidangan secara e-litigation sehingga menghambat jalannya persidangan. Selain itu, faktor internal juga berasal dari sistem dari e-litigation itu sendiri seperti terjadinya kesalahan sistem atau erornya aplikasi saat menginput data atau dokumen. Sebagaimana yang diterangkan oleh salah satu advokat yang merupakan pengguna terdaftar sebagai berikut :
“sebenarnya e-litigation ini memudahkan, tapi untuk kendala yang sering dirasakan sih sering terjadinya eror tekhnis, misalnya saja mau memasukkan gugatan ke Pengadilan Agama malah larinya ke Pengadilan Negeri, bahkan pernah juga memasukkan dokumen gugagatan ke Pengadilan Agama Selong larinya ke PA Jambi. Jadi memang untuk aplikasi e-courtnya sering ada eror mungkin karena aplikasi e-court antara Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri masih satu atau belum dipisah maka dari itu sering eror.”137
137 L. Purnama Adiguna, (Advokat/Pengguna Terdaftar), Wawancara, Pengadilan Agama Selong, 10 November 2021.
b. Faktor Eksternal
Selain faktor internal, faktor lainnya yang kerap kali menghambat proses penerapan dari e-litigation yaitu bersumber dari faktor eksternal.
Dalam hal ini faktor eksternalnya yaitu minimnya SDM (Sumber Daya Manusia) dari para pihak atau para masyarakat pencari keadilan. Para pihak yang minim pengetahuan akan e-litigation menyebabkan rendahnya minat untuk berperkara secara e-litigation. Selain itu banyaknya para pihak yang berperkara pada perkara waris menjadi salah satu faktor penghambat yang eksternal. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Bapak Wakil Ketua Pengadilan Agama Selong Sebagai berikut :
“untuk faktor penghambatnya ada yang bersifat eksternal artinya yang berasal dari luar pengadilan seperti masyarakat atau para pihak yang terkadang tidak paham apa itu e-litigation, pikirnya mereka jika tidak datang ke pengadilan maka tidak sidang, padahalkan memang tujuan dari e-litigation itu biar para pihak tidak datang langsung ke pengadilan. Selain itu juga karena faktor usia, apalagi untuk yang perkara wariskan rata-rata yang berperkara itu sudah berumur 35 tahun ke atas dan kurang paham apa itu e-litigation, mau pakai kuasa hukum pun kalau untuk e-litigation juga tidak bisa hanya satu pihaknya saja, harus kedua belah pihaknya. Sedangkan bisa dilihat sendiri kalau perkara kewarisan ini kan para pihaknya banyak tidak cuma satu, dua atau tiga orang saja, dan tidak semua pihak mau menggunakan jasa advokat/kuasa hukum. jadi itu lah kira-kira faktor penghambat dari eksternalnya.”138
138 Imran, (Hakim/Wakil Ketua), Wawancara, Pengadilan Agama Selong, 09
November 2021
G. Efektivitas Penerapan E-Litigation Dalam Proses Penyelesaian Sengketa