Oleh
NI’MATUL MAOLA NIM. 170202005
PRODI HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM TAHUN 2021
diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Hukum
Oleh
NI’MATUL MAOLA NIM. 170202 005
PRODI HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM TAHUN 2021
iii
iv
vi
vii MOTTO
اَل َو
ا ۡوُسَٔــۡياَت ۡنِم ِح ۡوَّر ِٰاللّؕ هَّنِا َل ُسَٔــۡياَي ۡنِم ِح ۡوَّر ِٰاللّ َّلِا ُم ۡوَقۡلا َن ۡوُرِف ٰكۡلا.….
“…..dan jangaanlah kamu berputus asa dari rahmat allah, sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat allah hanyalah orang-orang kafir”
(QS. Yusuf [12]:87)1
1 Departemen Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahan, Q.S. Yusuf Ayat 87
viii
PERSEMBAHAN
“Skripsi ini ku persembahkan kepada orang tua tercinta, sebagai tanda bakti, rasa hormat dan terima kasih yang tiada terhingga, orang tua yang senantiasa mendukung dan mendoakanku. Kepada bapak Abdurrahim yang telah memberikan kasih sayang serta segala dukungan yang bersifat moril maupun materil. Kepada Ibu Husnul Khotimah yang selalu mendoakanku dan menasehatiku agar menjadi lebih baik. Terima kasih Bapak, terima kasih Mak, semoga Allah senantiasa memberi kalian Kesehatan dan umur yang panjang agar dapat menemani langkah kecilku menuju kesuksesan”
ix
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala Puji dan Syukur kehadirat Allah swt maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan alam, Nabi Muhammad saw yang telah menuntun umat manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh dengan cahaya dan ilmu.
Tentunya, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan keterlibatan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada pihak yang telah membantu sebagai berikut :
1. Bapak Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., selaku Dosen Pembimbing I dan Bapak Ahmad Nurjihadi, M.Ag., selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu memberikan bimbingan, mengkoreksi secara mendetail, terus menerus tanpa bosan di tengah kesibukannya hingga terselesaianya skripsi ini.
2. Ibu Dr. Tuti Harwati, M.Ag selaku penguji 1 dan Bapak Imam Edy Ashari, M.H., selaku penguji II yang telah memberikan saran yang bersifat konstruktif bagi penyempurnaan skripsi ini.
3. Bapak Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., selaku Rektor Universitas Islam Negeri Mataram (UIN) karena telah memfasilitasi sarana dan prasarana yang memadai.
4. Bapak Dr. Moh. Asyiq Amrulloh, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Syariah yang telah membuat sistem perkuliahan yang efektif.
x
5. Ibu Hj. Ani Wafiroh, M.Ag., sebagai Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) dan ibu Nunung Susfita, M.Si., Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga Islam, karena telah membantu melancarkan surat menyurat dalam memenuhi syarat mendapatkan surat izin penelitian.
6. Ketua Pengadilan Agama Selong beserta Wakil dan jajarannya yang telah memberikan izin penelitian dan telah membantu melancarkan kegiatan penelitian dengan memfasilitasi apa yang peneliti perlukan selama melakukan penelitian.
7. Bapak Apit Farid, S.H.I., Ismail Zain, selaku Hakim dan staf Pengadilan Agama Selong yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan, serta membantu peneliti untuk memperoleh data-data yang berkaitan dengan penelitian penulis.
8. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat kepada penulis.
9. Kedua orang tua tercinta yang tak henti-hentinya memberikan doa-doa terbaiknya dan dukungan, baik secara moral maupun materil. Terima kasih banyak atas pengorbanannya.
10. Kak ida, kak budi, opi, dan syaki yang telah menyemangati dan memotivasi penulis agar tetap semangat menyelesaikan skripsi.
11. Fadila, Linda, Farida, Elan, dan Uyun yang telah membantu peneliti dalam proses penelitian hingga penulisan skripsi. Terima kasih.
12. Omma, Dongsaeng, Rosida, Tya, Inun, dan Nunung yang selalu menyemangati dan memberikan motivasi kepada penulis saat penulis sedang mumet dengan
xi
skripsi, yang selalu membantu penulis ketika penulis dalam kesulitan. Terima kasih.
13. Teman-teman HKI A Angkatan 2017.
Meski penulis telah berusaha sebaik mungkin dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih ada kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini berguna bagi para pembaca dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Mataram, Peneliti,
Ni’matulاMaola
xii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN LOGO ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
NOTA DINAS PEMBIMBING ... v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... vi
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vii
HALAMAN MOTTO ... viii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix
KATA PENGANTAR ... xi
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
ABSTRAK ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 10
E. Telaah Pustaka ... 11
F. Kerangka Teori ... 17
G. Metode Penelitian ... 32
H. Sistematika Pembahasan ... 44
I. Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian ... 46
BAB II EFEKTIVITAS PENERAPAN E-LITIGATION DALAM PROSES PENYELESAIAN SENGKETA WARIS (Studi di Pengadilan Agama Selong) ... 47
A. Gambaran Lokasi Penelitian ... 47
1. SejarahاBerdirinyaاPengadilanاAgamaاSelong………… ... 47
2. VisiاdanاMisiاPengadilanاAgamaاSelong………… ... 51
3. Tugas dan Fungsi Pengadilan Agama Selong ... 52
4. Wilayah Yuridiksi Pengadilan Agama Selong ... 54
5. Struktur Organisasi Pengadilan Agama Selong ... 57
B. Latar Belakang Dibentuknya E-Litigation ... 63
C. Ketentuan Pengaturan E-Litigation di Pengadilan Agama ... 65
xiii
D. Peralatan Pendukung Dalam Penerapan E-Litigation ... 66
E. Prosedur Penerapan E-Litigation di Pengadilan Agama Selong ... 70
F. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan E-Litigation di Pengadilan Agama Selong ... 90
G. Efektivitas Penerapan E-Litigation Dalam Proses Penyelesaian Sengketa Waris di Pengadilan Agama Selong... 94
H. Kelebihan Menyelesaikan Sengketa Waris Menggunakan E- Litigation ... 98
I. Daftar Jumlah Perkara Waris di Pengadilan Agama Selong ... 99
BAB III ANALISIS EFEKTIVITAS PENERAPAN E-LITIGATION DALAM PROSES PENYELESAIAN SENGKETA WARIS (Studi di Pengadilan Agama Selong) ... 100
A. Ketentuan Pengaturan e-litigation di Pengadilan Agama ... 100
B. Prosedur Penerapan e-litigation Dalam Proses Penyelesaian Sengketa Waris di Pengadilan Agama Selong ... 10
C. Efektivitas penerapan e-litigation di Pengadilan ... Agama Selong ... 106
BAB IV PENUTUP ... 118
A. Kesimpulan ... 118
B. Saran ... 120
DAFTAR PUSTAKA ... 121 LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
xiv
DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Daftar Ketua Pengadilan Agama Selong
Tabel 2.2 Daftar Jumlah Perkara Waris di Pengadilan Agama Selong
xv DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Letak Geografis Pengadilan Agama Selong Gambar 2.2 Struktur Organisasi Pengadilan Agama Selong Gambar 2.3 Halaman Registrasi Pengguna
Gambar 2.4 Halaman Utama Login E-Court
Gambar 2.5 Dokumen Persetujuan Para Pihak Berperkara Secara E- Litigation
Gambar 2.6 Dokumen Panggilan Secara Elektronik
Gambar 2.7 Tahap Pertukaran Dokumen Jawaban, Replik, Duplik, Secara E-Litigation
Gambar 2.8 Detail Status Dokumen Persidangan Gambar 2.9 Dokumen Pembuktian Penggugat
Gambar 2.10 Dokumen Pembuktian Lanjutan Tergugat Gambar 2.11 Salinan Putusan Elektronik
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Izin Penelitian Dari Kampus
Lampiran 2 Surat Keterangan Penelitian Dari Pengadilan Agama Selong Lampiran 3 Kartu Konsultasi Skripsi
Lamoiran 4 Surat Plagiasi
Lampiran 5 Foto Wawancara Penelitian Lampiran 6 Daftar Informan
Lampiran 7 Daftar Riwayat Hidup
xvii
EFEKTIVITAS PENERAPAN E-LITIGATION DALAM PROSES PENYELESAIAN SENGKETA WARIS
(Studi di Pengadilan Agama Selong Kabupaten Lombok Timur)
Oleh:
NIMATUL MAOLA NIM 170202005
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat efektivitas dari penerapan e-litigation dalam proses penyelesaian sengketa waris di Pengadilan Agama Selong. Seperti yang tertera dalam Pasal 49 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 yang menyatakan bahwa kewarisan merupakan salah satu kewenangan Pengadilan Agama. Dengan diterapkannya sistem persidangan secara e-litigation diharapkan mampu mewujudkan salah satu asas beracara yaitu persidangan dilakukan secara cepat, sederhana, dan biaya ringan. Ketentuan yang mengatur tentang persidangan secara e-litigation terdapat dalam Peraturan Makhamah Agunng Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Elektronik.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian jenis kualitatif dengan pendekatan yuridis empiris dimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan terkait ketentuan hukum normative. Adapun sumber data yang peneliti gunakan yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer peneliti peroleh dengan proses observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan sumber data sekunder peneliti peroleh dari beberapa literatur pendukung. Pada teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk keabsahan data pada penelitian ini peneliti melakukan perpanjangan penelitian, meningkatkan ketekunan, triangulasi, dan menggunakan bahan refrensi yang tepat.
Hasil dari penelitian yang telah peneliti laksanakan ialah bahwa penerapan e-litigation di Pengadilan Agama Selong Dalam Proses Penyelesaian Sengketa Waris belum bisa sepenuhnya dikatakan efektif. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman dari masyarakat pencari keadilan terhadap e-litigation sehingga menimbulkan responless masyarakat pencari keadilan dalam beracara secara elektronik (e-litigation) khususnya dalam perkara waris. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya sumber daya masyarakat dari para pencari keadilan dalam mengoprasikan media elektronik atau gagap terhadap tekhnologi.
Kata Kunci: Sengketa Waris, efektivitas, e-litigation, PERMA No. 1 Tahun 2019.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Kewarisan merupakan suatu peristiwa yang penting dalam kehidupan manusia. Manusia sebagai mahluk sosial yang bernyawa akan dihadapkan pa da kematian, maka pada saat tersebutlah terjadi perpindahan harta dari yang meninggal/pewaris kepada keluarga yang ditinggalkan atau ahli warisnya.
Sebagaimanaا firmanا Allahا SWTاdalamا Qur’anاSurahاAn-Nisa’ا ayatا33اyangا berbunyi :
َ ۡلا َو ِنٰدِلا َوۡلا َك َرَت اَّمِم َىِلا َوَم اَنۡلَعَج ٍّ لُكِل َو َن ۡوُب َرۡق
ۡمُكُناَمۡيَا ۡتَدَقَع َنۡيِذَّلا َو ؕ ۡمُه ۡوُت ٰاَف
ۡمُهَبۡي ِصَن اًد ۡيِهَش ٍّء ۡىَش ِ لُك ىٰلَع َناَك َ هاللّٰ َّنِا ؕ
.
“Dan untuk masing-masing (laki-laki dan perempuan) Kami telah menetapkan para ahli waris atas apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan karib kerabatnya. Dan orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berikanlah kepada mereka bagiannya. Sungguh, Allah maha menyaksikan segala sesuatu.”2
Mengenai Perkara waris sendiri merupakan salah satu bagian dari hukum perdata yang menjadi kewenangan dari Pengadilan Agama. Pada tanggal 29 desember 1989 ketika Undang-undang tentang Peradilan Agama Nomor 7 Tahun 1989 diundangkan melalui Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 49, mempertegas tentang kedudukan dan kekuasaan bagi Peradilan Agama sebagai kekuasan kehakiman sesuai dengan lembaga peradilan lainnya.3
2 Departemen Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahan, Q.S an-Nisa’اAyatا33
3Suhrawardi K. Lubis, dkk, Hukum Waris Islam, (Jakarta : Sinar Grafika, 2001), hlm.14
Dalam perkara waris, yang menjadi tugas dan wewenang dari Pengadilan Agama disebut berdasarkan penjelasan dari Pasal 49 huruf b Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 yang merupakan perubahan atas Undang- undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama adalah sebagai berikut : penentuan ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian dari masing-masing ahli waris, melaksanakan pembagian harta peninggal tersebut, dan penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang akan menjadi ahli waris beserta penentuan bagian-bagiannya.4
Berbicara mengenai perkara waris, dalam proses penyelesaiannya di Pengadilan Agama perkara waris yang terdapat sengketa di dalamnya, memerlukan waktu yang cukup lama, hal tersebut disebabkan pada proses acara sidang yang panjang. Dalam perkara sengketa waris, pada umum melibatkan banyak pihak, baik dari pihak penggugat maupun pihak tergugat yang tidak hanya satu orang saja. Hal ini menyebabkan proses beracara memakan waktu yang cukup lama, misalnya pada proses mediasi yang didalamnya terdapat proses tanya jawab yang lama, kemudian pada cara sidang pembuktian yang memerlukan beberapa kali sidang dikarenakan banyaknya jumlah saksi dari para pihak. Jika dibandingkan dengan perkara perceraian, waktu yang dibutuhkan jauh berbeda. Perkara perceraian dalam proses penyelesaiannya
4Tuti Harwati, Peradilan di Indonesia, (Mataram : Sanabil Puri Bunga Amanah, 2015), hlm.71-72
dapat diputus kurang lebih dalam kurun waktu dua bulan, berbeda dengan perkara waris yang dapat memakan waktu yang lebih lama.
Menyikapi hal tersebut Mahkamah Agung berupaya agar dalam proses persidangan dalam penyelesaian perkara sengketa waris lebih efisien serta tidak berbelit-belit sesuai dengan asas hukum beracara, maka Mahkamah Agung menciptakan terobosan dengan meluncurkan sebuah inovasi baru dengan tujuan meningkatkan pelayanan yang ditujukan pada masyarakat pencari keadilan secara cepat, sederhana, dan biaya ringan. Hal ini diwujudkan dalam bingkai peradilan modern yang berbasis teknologi informasi dengan meluncurkan suatu sistem persidangan elektronik (e-litigation) yamg merupakan bagian yang tak terpisahkan sekaligus sebagai penyempurna atas sistem e-court.5
Mahkamah Agung beserta lingkungan peradilan yang berada di bawah naungannya telah berupaya melakukan peningkatan pemanfaatan teknologi informasi yang semakin masif dalam proses pelayanannya, salah satunya dengan diterapkannya sistem pelayanan dan sistem persidangan berbasis elektronik atau yang dikenal dengan istilah e-litigation.
Praktik persidangan secara e-litigation pada umumnya menggunakan sistem informasi pengadilan, yaitu berupa aplikasi e-court yang dijadikan semacam ruang sidang virtual. Sehingga proses persidangan dapat terlaksana tanpa adanya proses tatap muka secara konvensional antara majelis hakim dengan para pihak baik pengguna lain ataupun pengguna terdaftar, panitera
5Ahmad Zaky, dkk, Penemuan Hukum di Peradilan Agama Perkembangan Norma dan Praktik Terbaik, (Yogyakarta : UII Press Yogyakarta, 2020), hlm.324
pengganti, bahkan hingga pada tahap pemeriksaan para saksi dan ahli apabila telah disepakati dapat dilakukan pemeriksaan secara vitual yakni melalui audiovisual.6
Penerapan dari e-litigation ini menjadi jawaban yang disuguhkan oleh Mahkamah Agung dalam membentuk pelayanan peradilan yang praktis dengan memanfaatkan kemajuan dari teknologi informasi. Hatta Ali selaku ketua dari Mahkamah Agung menyatakan bahwa teknologi informasi serta komunikasi memberikan kersederhanaan sistem pelayanan dalam membantu menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi di dunia peradilan. Oleh karenanya, Mahkamah Agung berpendapat bahwa dengan adanya e-litigation ini hendaklah menjawab segala persoalan tentang peradilan melalui sistem informasi.7
Perubahan Hukum yang mengikuti tuntutan dari perkembangan zaman merupakan suatu hal yang tak terelakkan. Perubahan tersebut terjadi disebabkan dari perubahan zaman dan situasi sosiologis masyarakat dalam suatu negara.
Perubahan ini sudah menjadi sunnatullah, kodrat bagi setiap perjalanan hidup manusia dari satu zaman ke zaman yang lain. Keadaan antara suatu zaman dengan zaman yang lain sangatlah berbeda kondisi dan kehidupan sosialnya.
Perkembangan peradaban manusia dan perkembangan hukum ialah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak mungkin dapat dipisahkan.8 Oleh karenanya hukum selalu bersifat fleksibel mengikuti perkembangan sosial masyarakat.
6Muhammad Noor Halim Perdana Kusuma, dkk, Panduan Beracara di Peradilan Tata Usaha Negara dan Persidangan Elektronik (e-litigasi), (Jakarta : Kencana, 2020), hlm.94
7 Goldaا Eksa,ا “MAا Luncurkanا Aplikasiا Elektronikا Litigasi”ا dalamا https://m.mediaindonesia.com/politik-dan-hukum/ diakses tanggal 17 maret 2021 pukul 21.19
8Ahmad Zaky, dkk, Penemuan…, hlm.325
Melihat adanya tuntutan dari perkembangan zaman yang mengharuskan tersedianya suatu pelayanan administrasi perkara dan persidangan di pengadilan yang lebih efektif dan efisien. Maka Mahkamah Agung menjadikan teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia peradilan sebagai suatu kebutuhan bagi lembaga peradilan untuk melaksanakan administrasi perkara dan persidangan yang lebih efektif dan efisien. E-litigation resmi mulai diterapkan disejumlah badan peradilan setelah Mahkamah Agung mengeluarkan Peraturan Nomor 1 Tahun 2019 tentang Administrasi dan Persidangan di Pegadilan secara elektronik yang merupakan hasil revisi dari Peraturan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi di Pengadilan Secara Elektronik.
Mahkamah Agung telah melakukan pengembangan dalam PERMA Nomor 1 Tahun 2019 dengan meluaskan fitur pelayanan pada aplikasi e-court yang semula hanya terbatas pada pendaftaran perkara secara elektronik kini diperluas dengan adanya sistem persidangan secara elektronik yang meliputi pertukaran terhadap dokumen persidangan.9
E-litigation merupakan inovasi lebih meluas dari sistem e-court, dimana e-court hanya sebatas melakukan administrasi pelayanan publik pengadilan seperti pendaftaran gugatan, pembayaran panjar perkara, dan pemanggilan (relasse) secara online. Sedangkan e-litigation dilakukan secara secara menyeluruh terhadap tahapan persidangan.10 Penerapan persidangan secara e-
9Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Dan Persidangan Secara Elektronik.
10Alek Sander Kaisar Hebring, “E-litigasi,اinovasi,اpublikاpengadilanاberkemajuan”, dalam http://ombudsman.go.id, diakses tanggal 19 November 2020 pukul 23:17 WITA.
litigation tertuang dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik.
Proses persidangan secara e-litigation pada umumnya sama dengan proses persidangan secara manual. Hanya saja pada praktiknya e-litigation mediasi tidak bisa dilaksanakan secara elektronik. Para pihak yang hendak melakukan persidangan atau calon pengguna peradilan elektronik harus memiliki atau terdaftar di aplikasi e-court. Adapun prosedur dan proses persidangan secara elektronik (e-litigation) ialah sebagai berikut :11
Sidang Pertama, diawali oleh majelis hakim dengan agenda pembukaan sidang, kemudian dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan atas dokumen elektronik yang telah disampaikan oleh para pihak melalui Sistem Informasi Pengadilan.12
Sidang lanjutan, pada tahap ini ketua majelis akan menetapkan jadwal untuk agenda persidangan selanjutnya yaitu agenda penyampaian jawaban, replik dan duplik secara elektronik melalui e-court. Para pihak terkait hendak memberikan jawaban beserta replik duplik berdasarkan jadwal yang telah disepakati. 13
Selanjutnya, sidang pembuktian secara elektronik, pada dasarnya proses pembuktian dalam peradilan elektronik sama dengan pembuktian manual, yaitu dilakukan dengan ketentuan hukum acara yang berlaku.
11Ahmad Zaky, dkk, Penemuan…, hlm.337
12Ibid.., hlm.337
13Ibid, hlm.339
Tahap kesimpulan elektronik, pada tahap ini para pihak berkewajiban untuk menyampaikan dokumen elektronik berupa kesimpulan dalam aplikasi e- court.
Putusan elektronik, pembacaan putusan/penetapan dilakukan dengan mengirim salinan putusan kepada para pihak bererkara, melalui aplikasi e-court atau Sistem Informasi Pengadilan. Putusan secara elektronik ini dianggap telah memenuhi asas persidangan terbuka untuk umum dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.14
Terakhir, upaya hukum elektronik, upaya hukum ini diajukan dalam batas waktu yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.15
Persidangan secara e-litigation diterapkan sebagai bentuk jawaban dari Mahkamah Agung dalam memberikan pelayanan peradilan yang mudah dengan pemanfaatan teknologi informasi. Tuntutan perkembangan zaman yang mengharuskan adanya pelayanan administrasi perkara dan persidangan yang lebih efektif dan efisien. Dengan adanya persidangan melalui media elektronik Mahkamah Agung mencoba untuk menjawab 3 persoalan utama yang selama ini dihadapi oleh para pihak yang berperkara di pengadilan, yakni keterlambatan (delay), keterjangkauan (access), dan integritas (integrity). Penggunaan teknologi informasi dapat mengurangi waktu penanganan perkara, mengurangi intensitas para pihak yang datang ke pengadilan serta mengkanalisasi cara
14 Pasal 26 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Elektronik
15Ibid.., hlm.13
berinteraksi para pihak dengan aparatur pengadilan, dan dapat menghindari mayarakat dari kekurangan informasi dan pengetahuan pengadilan.16
Berdasarkan argumen di atas, maka perlu diketahui sejauh mana efektivitas dari penerapan sistem e-litigation dalam penyelesaian sengketa waris. Apakah dengan diterapkannya sistem e-litigation di Pengadilan Agama Selong dapat memberi kemudahan bagi masyarakat pencari keadilan serta mengefensiensi proses beracara sesuai dengan asas hukum beracara yaitu peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan serta dapat memenuhi tujuan dari dibentuknya sistem e-litigation atau justru memunculkan problematika baru dalam proses beracara, khususnya dalam penyelesaian sengketa waris.
Berangkat dari hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang kefektivitasan dari sistem e-litigation, sehingga terbentuklah sebuah skripsi dengan judul : Efektivitas Penerapan E-Litigation Dalam Proses Penyelesaian Sengketa Waris (Studi di Pengadilan Agama Selong Kabupaten Lombok Timur).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil pemaparan latar belakang diatas, maka iditentifikasi masalah yang akan diteliti ialah sebagai berikut :
1. Bagaimana ketentuan pengaturan e-litigation di lingkungan Peradilan Agama?
16A.S. Pudjoharsoyo, Arah Kebijakan Teknis Pemberlakuan Pengadilan Elektronik (Kebutuhan Sarana dan Prasarana Serta Sumber Daya Manusia), (Jakarta, 13 Agustus), hlm.329
2. Bagaimana prosedur penerapan e-litigation dalam proses penyelesaian sengketa waris di Pengadilan Agama Selong?
3. Bagaimana efektivitas penerapan e-litigation dalam penyelesaian sengketa waris di Pengadilan Agama Selong?
C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulis melakukan penelitian ini ialah sebagai berikut : a. Ingin mengetahui bagaimana prosedur atau tata cara penerapan sistem
persidangan elektronik (e-litigation) dalam perkara waris di Pengadilan Agama Selong.
b. Ingin mengetahui problematika atau hambatan beserta solusi yang dirasakan dalam penyelesaian sengketa waris menggunakan e-litigation di Pengadilan Agama Selong.
c. Ingin mengetahui tingkat efektivitas dari penerapan sistem e-litigation dalam penyeselaian sengketa waris di Pengadilan Agama Selong.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk pengembangan khazah keilmuan khususnya terkait dengan penerapan sistem e-litigation di Pengadilan Agama dalam bidang pembagian hukum waris islam dan hasil penelitian ini juga diharapkan agar dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam memperkaya wawasan bagi pembaca.
b. Manfaat Praktis
1. Bagi Pengadilan Agama Selong Kelas 1B diharapkan hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan terkait dengan diterapkanya sistem persidangan secara elektronik (e-litigation) sehingga segala problematika dan hambatan yang muncul selama proses persidangan, khususnya dalam perkara sengketa waris dapat teratasi dengan baik sehingga tujuan dari diterapkannya sistem e- litigation dapat terpenuhi.
2. Bagi peneliti berikutnya diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi peneliti selajutnya dengan objek kajian yang sama.
3. Bagi peneliti, secara praktisme hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi pemecahan permasalahan yang berkenaan dengan masalah efektivitas penerapan sistem persidangan melalui media elektronik (e-litigation) khususnya dalam penyelesaian sengketa waris.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup
Adapun Ruang lingkup dari penelitian ini ialah efektivitas dari penerapan e-litigation dalam penyelesaian sengketa waris di Pengadilan Agama Selong Kelas 1b beserta problematika yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Peneliti memfokuskan penelitian ini hanya pada penerapan dari persidangan sengketa waris melalui media elektronik (e-litigation) yang dimana e-litigation merupakan bagian dan sekaligus penyempurna dari e-court yang telah dikeluarkan oleh Mahkamah Agung dengan menerbitkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2018 tentang
administrasi perkara di Pengadilan secara elektronik. Persidangan secara elektronik (e-litigation) di pengadilan agama yang diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019. Namun agar penelitian ini lebih terarah peneliti memfokuskan penelitian e-litigation khusus pada perkara sengketa waris.
2. Setting Penelitian
Penelitian ini bertempat di Pengadilan Agama Selong Kelas 1b Kabupaten Lombok Timur yang beralamat di Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo No. 200 Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Email : [email protected]. Telp.(0376) 21184 Fax (0376) 22612. Website : http://www.pa-selong.go.id. Alasan penelitian memilih Pengadilan Agama Selong sebagai lokasi penelitian ialah dikarenakan Pengadilan Agama Selong merupakan salah satu dari beberapa pengadilan tingkat pertama yang menerapkan e-litigation dalam penyelesaian sengketa waris.17 Selain itu hampir dalam setiap tahunnya Pengadilan Agama Selong menerima 1000 lebih perkara termasuk perkara waris.
E. Telaah Pustaka
Sepanjang hasil observasi, peneliti menemukan beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, berikut beberapa refrensi terkait yang peneliti maksud :
1. Efiliati, dalam skripsinya yang berjudulا “Efektivitasا Pelayananا Administrasi Perkara Melalui E-Court di Pengadilan Agama (Studi di
17 Observasi, Pengadilan Agama Selong, 17 Maret 2021
Pengadilanا Agamaا Mataramا Kelasا 1A)”,ا Fakultasا Syariah,ا Universitasا Islam Negeri (UIN) Mataram 2020. 18 Dalam penelitiannya, Efiliati menggunakan pendekatan kualitatif.
Pada penelitian ini, Efiliati memfokuskan penelitiannya pada pelayanan Administrasi melalui sistem e-court di Pengadilan Agama Mataram. Adapun hasil dari penelitiannya menjelaskan bahwa pelaksanaan dari pelayanan administrasi perkara melalui e-court di Pengadilan Agama Mataram belum bisa dikatakan efektif. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor diantaranya kurangnya sumber daya manusia yang masih belum memahami kemajuan teknologi informasi dan kurangnya informasi yang diterima oleh para pihak mengenai e-court. Selain faktor tersebut, belum adanya aturan yang bersifat mengikat para pihak berperkara dalam menggunakan e-court serta kurangnya kesadaran dari para pihak menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pelayanan administrasi perkara melalui sistem e-court di Pengadilan Agama Mataram belum dapat dikatakan efektif. Faktor-faktor diatas menyebabkan Pengadilan Agama Mataram menerapkan 2 sistem administrasi perkara yaitu secara manual dan secara elektronik. Hal ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan para pencari keadilan.19
Berdasarkan pemaparan dari hasil penelitian Efiliati diatas, maka dapat dilihat jika perbedaan mendasar yang terdapat dalam penelitian
18Efiliati,ا “ا Efektivitasا Pelayananا Administrasiا Melalui E-Court di Pengadilan Agama (Studi di Pengadilan Agama Mataramا Kelasا 1A)”,ا (Skripsiا Fakultasا Syariahا Uiniversitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Mataram, 2020).
19Ibid..,hlm.90
Efiliati dengan penelitian yang akan peneliti laksanakan ialah terletak ada substansi dan fokus dari objek penelitian yang akan peneliti laksanakan. jika Efiliati memfokuskan penelitian kepada pelayanan administrasi perkara secara elektronik sedangkan peneliti memfokuskan penelitian kepada penerapan persidangan secara elektronik khususnya dalam penyelesaian sengketa waris di Pengadilan Agama Kelas 1b. Adapun persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti laksanakan ialah sama- sama meneliti bagian dari e-court yang tidak dapat dipungkiri bahwa e- litigation merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari e-court berdasarkan ketentuan dari PERMA No 1 Tahun 2019 tentang Administrasi perkara dan persidangan secara elektronik.20
2. Rizki Anur Fita, NIM.1717301032, dalam skripsinya yang berjudul
“Analisisا Penyelesaianا Perkaraا Ekonomiا Syariahا Berbasis E-Court di Pengadilan Agama Mungkid Dalam Upaya Penerapan Asas Peradilan Cepat,ا Sederhana,ا danا Biayaا Ringan”,ا Fakultasا Syariah,ا Institutا Agamaا Islam Negeri (IAIN) Purwokerto.21
Pada penelitian ini, Rizki Anur Fita memfokuskan penelitiannya membahas tentang aplikasi e-court mulai dari e- filling (pendaftaran), e- payment (pembayaran), dan e-summons (pemanggilan) secara elektronik pada perkara ekonomi syariah. Dalam penelitiannya Rizki Anur Fita
20Ibid..,hlm.91
21Rizki Anur Fita, Analisis Penyelesaian Perkara Ekonomi Syariah Berbasis E- Court di Pengadilan Agama Mungkid Dalam Upaya Penerapan Asas Peradilan Cepat, Sederhana, dan Biaya Ringan, (Skripsi Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, Purwoketo, 2021).
menggunakan pendekatan doktrin normatif digunakan oleh Rizki Anur Fita untuk melihat PERMA dari Mahkamah Agung yaitu PERMA Nomor 1 tahun 2019 yang menjadi dasar bagi seluruh lingkungan peradilan untuk menerapkan sistem elektronik di pengadilan yaitu e-court. Selain pendekatan tersebut, Rizki Anur Fita juga menggunakan pendekatan sosiologis untuk melihat apakah sistem e-court telah digunakan oleh masyarakat, advokat, dan pengadilan agama atau bahkan belum mulai diterapkan. Selain itu, dalam hal memproleh data Rizki Anur Fita menggunakan sumber data primer yang diperoleh langsung dari sumber datanya dan sumber data sekunder dari beberapa buku, artikel, jurnal, dan penelitan sebelumnya yang terkait dengan judul yang akan Rizki Anur Fita teliti.
Hasil penelitian dari Rizki Anur Fita menerangkan bahwa Pengadilan Agama Mungkid telah menerapkan sistem e-court sebagai sistem pelayanan bagi masyarakat pencari keadilan, sesuai dengan PERMA Nomor 1 Tahun 2019. Dimulai dengan penerapan e-filling sebagai metode pendaftaran perkara untuk pengguna terdaftar dan pengguna lainnya melalui email yang baru diverifikasi dalam sistem. Kemudian dilanjutkan dengan e- payment untuk pembayaran perkara yng dimana Pengadilan Agama Mungkid telah bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai akses pembayaran perkara. Kemudian e-summons untuk pengirimann surat panggilan ke email atau domisili elektronik. Dan terakhir e-litigation untuk persidangan secara online/elektonik, akan tetapi pada Pengadilan Agama
Mungkid sidang mediasi, sidang pertama, dan pembuktian dilakukan secara manual, hal ini dikarenakan pihak Pengadilan Agama Mungkid belum memperoleh media online yang dapat dijangkau untuk semua pihak.22
Dengan menerapkan sistem e-court dalam perkara ekonomi syariah membantu menyelesaikan perkara lebih cepat sekaligus sebagai bentuk implementasi dari asas peradilan cepat karena dengan penerapan sistem e- court menggunakan e-calender yang dibuat dan disepakati besama oleh para pihak. Selain itu penerapan sistem e-court juga berpengaruh dalam asas biaya ringan karena dengan menerapkan sistem e-court memangkas biaya panjar perkara 50% dari biasanya.23
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dapat dilihat perbedaan mendasar antara penelitian yang telah Rizki Anur Fita dengan pnelitian ini ialah terletak pada fokus objek penelitian dan substansi penelitian. Jika Rizki Anur Fita meneliti tentang analisis penyelesaian perkara ekonomi syariah berbasis e-court di Pengadilan Agama Mungkid dalam upaya penerapan asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan, sedangkan penelitian ini memfokuskan pada efektivitas penerapan e-litigation dalam penyelesaian sengketa waris. Selain itu yang menjadi titik perbedaan pada penelitian ini dengan penelitian Rizki Anur Fita ialah lokasi penelitian, jika Rizki Anur Fita melakukan penelitian di Pengadilan Agama Mungkid, sedangkan penelitian ini dilakukan di Pengadilan Agama Selong.
22Ibid.., hlm.143
23Ibid..,hlm.143
3. Zakiatulا Munawaroh,اdalamا skripsinyaا yangا berjudulا “AnalisisاMaslahah Mursalah Terhadap Penerapan Aplikasi E-Litigasi Dalam Perkara Perceraian”,اFakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya.24
Pada penelitian ini Zakiatul Munawaroh memfokuskan penelitiannya pada penerapan aplikasi e-litigtion dalam perkara perceraian.
Dalam penelitiannya Zakiatul Munawaroh menjelaskan bahwa penggunaan aplikasi e-litigation dalam perkara perceraian yaitu setelah pengguna mendapatkan panggilan elektronik yang kemudian dilakukan persidangan secara elektronik. Dalam proses persidangan secara elektronik, harus disetujui oleh kedua belah pihak, baik penggugat maupun tergugat harus mengisi persetujuan prinsipal, dan dilakukan sesuai dengan e-summons yang telah dikirimkan.
Pada e-litigation, persidangan elektronik dilakukan mulai dari tahap jawab menjawab, replik, duplik, kesimpulan dan pembacaan putusan. Untuk mekanisme kontrol (menerima, memeriksa, dan meneruskan) dari semua dokumen yang diupload oleh para pihak dilakukan oleh majlis hakim, yang berarti ketika kedua belah pihak mengirim dokumen selama belum diverifikasi oleh majlis hakim maka, pihak lawan tidak dapat melihat ataupun mendownload dokumen yang dikirim oleh salah satu pihak. 25
24 Zakiatul Munawaroh, Analisis Maslahah Mursalah Terhadap Penerapan Aplikasi E-Litigasi Dalam Perkara Perceraian, (Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya 2019).
25Ibid..,hlm.77
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Zakiatul Munawaroh menunjukkan bahwa penerapan aplikasi e-litigasi dalam perkara perceraian dikategorikan sebagai maslahah al-hajiyyat karena sesuai dengan definisinya yaitu maslahah yang dikandung oleh segala perbuatan dan tindakan demi mendatangkan kemudahan dan kesuksesan bagi manusia.26
Berdasarkan pemaparan di atas, maka terdapat perbedaan antara penelitian Zakiatul Munawaroh dengan penelitian ini yaitu terletak pada fokus penelitian, jika Zakiatul Munawaroh memfokuskan penelitian pada penerapan e-litigasi dalam perkara perceraian, sedangkan penelitian ini memfokuskan efektivitas dari penggunaan e-litigation dalam penyelesaian sengketa waris.27
F. Kerangka Teori
1. Teori Efektivitas dan Penegakan Sistem Hukum a. Pengertian Efektivitas Hukum
Efektivitas merupakan suatu tingkat keberhasilan yang dihasilkan oleh seseorang dalam mencapai suatu target baik dari segi kualitas, kuantitas, dan waktu.28 Wiyono berpendapat bahwa efektivitas ialah suatu kegiatan yang dilaksanakan dan memiliki dampak serta hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan dan apa yang dituju.29
26Ibid.., hlm.77
27Ibid
28Heryantoا Monoarfa,ا “Efektivitasا dan Efisiensi Penyelenggaraan Pelayanan Publik”:ا“Tinjauanا Kinerjaا Lembagaا Pemerintahan”,اJurnal Pelangi Ilmu, volume.05, Nomor 01,2012.
29 Ibid.., hlm.5
Jika berbicara mengenai efektivitas hukum dalam masyarakat berarti membicarakan daya kerja hukum itu dalam mengatur dan memaksa masyarakat untuk taat terhadap hukum. Efektivitas hukum yang dimaksud, berarti mengkaji kaidah hukum yang memenuhi syarat, yaitu berlaku secara yuridis, berlaku secara sosiologis, dan berlaku secara filosofis.30
Menurut Hans Kelsen, efektivitas hukum juga berbicara tentang validitas suatu hukum. Validitas hukum berarti norma-norma hukum itu mengikat, bahwa masyarakat harus berbuat sesuai dengan yang diharuskan oleh norma hukum, mematuhi dan menerapkan norma- norma hukum.31
b. Teori efektivias Hukum
Soerjono Soekanto menyatakan bahwa teori efektivitas hukum sebagai suatu kaidah yang dijadikan barometer mengenai tindak atau perilaku yang pantas. Hukum dapat diketahui efektivitasnya apabila dalam tindakan atau realita dari hukum tersebut dinyatakan berhasil atau pun gagal dalam mencapai tujuannya, maka idealnya hal tersebut dapat diketahui dengan melihat apakah pengaruhnya berhasil dalam mengatur sikap tindak atau perilaku tertentu sehingga sudah sesuai dengan tujuannya atau tidak.32 Efektivitas hukum artinya tingkat keberhasilan
30 Zainuddin Ali, Sosiologi Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2015), hlm.62
31 Nur Fitriyani Siregar, “Efektivitas Hukum”,dalam https://ejournal.stai-br.ac.id diakses tanggal 28 april 2021 pukul 21.45 WITA.
32 Soejono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta : RajaGrafindo, 2018), hlm.8
dari suatu hukum yang berlaku akan disoroti dari tujuan yang ingin dicapai, yaitu efektifnya suatu hukum. Soerjono Soekanto dalam teori efektivitas hukumnya, menyatakan bahwa suatu hukum dikatakan efektif atau tidaknya dilihat dari 5 (lima) faktor, yaitu :
1) Faktor hukum (Undang-undang), Hukum memiliki peran untuk menegakkan keadilan, memberikan kepastian dan kemanfaatan bagi seluruh masyarakat. Akan tetapi dalam realitanya adala kalanya hukum akan akan terdapat pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan. Kepastian hukum bersifat nyata dan konkret, sementara keadilan bersifat abstrak.33
2) Faktor penegak hukum, ialah para pihak yang menciptakan/mengeluarkan suatu hukum dan pihak yang menegakkan hukum tersebut atau disebut pula dengan law enforcement. Adapun yang termasuk ke dalam law enforcement ialah aparatur penegak hukum yang memiliki kapasitas dan mampu untuk memberikan kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan dari segi hukum itu sendiri secara proposional.34
3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung dari terlaksananya penegakan hukum. Faktor sarana dan fasilitas yang mendukung merupakan faktor yang memiliki peranan yang sangat penting dalam mewujudkan efektifnya penerapan suatu hukum. Sarana dan fasilitas
33 Ibid.., hlm.51
34 Ibid.., hlm.56
yang mendukung mencangkup dalam sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan berpendidikan, organisasi yang baik serta peralatan yang memadai.35
4) Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. Hukum berasal dari masyarakat dan memiliki tujuan untuk mewujudkan kedamaian bagi masyarakat.36 Masyarakat sendiri menginterpretasikan hukum dengan berbagai definisi, yang diantaranya :
a) Hukum diartikan sebagai suatu sistem pemerintahan.
b) Hukum diartikan sebagai pejabat atau petugas.
c) Hukum diartikan sebagai tata hukum.
d) Hukum diartikan sebagai disiplin yaitu sistem ajaran tentang kenyataan.
e) Hukum diartikan sebagai keputusan pejabat atau penguasa.
f) Hukum diartikan sebagai suatu perilaku yang teratur.
g) Dan hukum diartikan pula sebagai suatu proses pemerintahan.
5) Faktor kebudayaan, ialah sebagai suatu hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan.37 Faktor kebudayaan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam penerapan suatu aturan yang dikeluarkan, yang dimana faktor kebudayaan ini
35 Ibid.., hlm.37
36 Sajipto Raharjo, Hukum dan Masyarakat, (Bandung : Angkasa, 1980), hlm.87
37 Ibid.., hlm.29
memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya misalnya nilai kepastian suatu hukum dan nilai kemasyarakatan.38
c. Faktor penegak hukum
Lawrence M. Friedman mengatakan bahwa berhasil atau tidaknya penegakan suatu hukum tergantung pada substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum.39
1) Legal Substance atau biasa disebut dengan substansi hukum, dalam bukunya Lawrence M. Friedman menyebutkan bahwa substansi hukum sebagai sistem substansial yang menjadi penentu bisa atau tidaknya hukum tersebut dilaksanakan.40 Substansi juga diartikan sebagai suatu produk yang dihasilkan oleh orang yang berada dalam suatu sistem hukum, mencakup keputusan yang mereka keluarkan atau pun mengenai aturan baru yang mereka susun. Jika dilihat dari sisi subtansi dikeluarkannya PERMA Nomor 1 Tahun 2019 tentang administrasi dan persidangan secara elektronikyaitu dengan tujuan agar memudahkan proses beracara menggunakan media elektronik atau secara e-litigation, sehingga dapat tercapainya tujuan dari diterapkannya persidangan secara elektronik.
38 Julianto,اRahmiاAyunda,اdkk,ا“EfektivitasاImplementasiاKebijakanاE-Litigasi di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Kota Batam”,ا“Jurnal Media Komunikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan”, Volume 3 Nomor 1 April 2021, hlm.10
39Slamet Tri Wahyudi , “Problematikaا Penerapan Pidana Mati dalam Konteks Penegakan Hukum diاIndonesia”,اا“Jurnal Hukum dan Peradilan”,اVolumeا1اNomor 2, Juli 2012, Hlm.217-218
40Lawrence M. Friedman, SISTEM HUKUM : Prespektif Ilmu Sosial, (Bandung, Penerbit Nusa Media, 2009), hlm.17
2) Legal Structure, dalam hal ini didefinisikan sebagai sistem struktural yang menentukan bisa atau tidaknya hukum tersebut terlaksana dengan baik. Struktur hukum meliputi seluruh dari aparatur penegak hukum yang terkait dengan penerapan sistem e- ltigation terhadap penyelesaian sengketa waris di Pengadilan Agama yang termasuk juga sarana dan prasarana yang mendukung penerapan dari e-litigation. Tanpa adanya sarana dan fasilitas pendukung dalam penerapan sistem e-litigation, maka tidak mungkin dalam penerapannya dapat dikatakan efektif dan berjalan sesuai dengan tujuan diterapkannya sistem persidangan elektronik.
Sarana/fasilitas yang dimaksud ialah, meliputi sumber daya manusia yang memiliki tingkat pengetahuan dan terampil terhadap e- litigation, organisasi yang baik, serta peralatan yang memadai.41 3) Legal Culture atau disebut dengan Budaya Hukum. Friedman
menyatakan bahwa budaya hukum merupakan sikap manusia atas suatu hukum dan sistem hukum serta kepercayaan, nilai, dan pemikiran pun harapannya atas hukum tersebut. Budaya hukum sangat erat kaitannya dengan kesadaran masyarakat atas penerapan suatu hukum42 Begitupun dengan penerapan e-litigation, semakin tinggi kesadaran dan kemauan masyarakat terhadap penyelesaian perkara dengan menggunakan e-litigation khususnya dalam
41Ibid., hlm.220
42Ibid..,hlm.220
penyelesaian sengketa waris maka secara tidak langsung membantu lembaga peradilan beserta aparatur penegak hukum dalam mewujudkan proses beracara yang efisien sesuai dengan asas hukum acara dan tujuan dari diterbitkan PERMA Nomor 1 Tahun 2019 tentang e-litigation atau persidangan di pengadilan secara elektronik.
2. Konsep Penyelesaian Sengketa Waris di Pengadilan Agama
Secara garis besar, proses penyelsaian sengketa waris di Pengadilan agama melalui dua cara, yaitu secara non-litigasi atau disebut juga dengan upaya damai/kekeluargaan dan secara litigasi atau melalui pesidangan.43 a. Secara Non-Litigasi (damai)
Penyelesaian mengenai sengketa waris pada Peradilan Agama diatur dalam Undang-undang Pengadilan Agama yang termuat pada pasal 56 ayat 2 sebagai berikut :
“ketentuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) tidak menutup kemungkinan usaha penyelesaian perkara secara damai”
Isi pasal tersebut menyatakan bahwa dalam proses penyelesaian sengketa waris tidak menutup kemungkinan bahwa perkara tersebut dapat diselesaikan secara damai atau kekeluargaan sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa.
43 Adi Nur Rohman dan Sugeng, “Probabilitas Mekanisme Small Claim Court Dalam Penyelesaian Sengketa Waris di Pengadilan Agama”, “Jurnal Hukum dan Peradilan”,اVolumeا7اNomorا3,اNovemberا2018,اhlm.392
Proses penyelesaian sengketa waris yang diselesaikan di luar Pengadilan Agama dapat dilakukan dengan cara mediasi. Mediasi merupakan salah satu cara atau proses penyelesaian sengketa yang ditempuh oleh kedua belah pihak yang berperkara, dimana mediasi ini menempatkan para pihak dalam situasi yang sama sehingga hasil akhir yang diperoleh adalah win-win solution yaitu tidak ada pihak yang kalah atau pun pihak lain yang dimenangkan.
Proses penyelesaian sengketa waris melalui mediasi merupakan salah satu cara yang ditempuh pula di Pengadilan Agama sebelum perkara mulai diperiksa. Secara tidak langsung hal ini membuktikan bahwa proses mediasi yang dilakukan dalam penyelesaian sengketa waris memperkuat dan mengoptimalkan fungsi dari Pengadilan Agama itu sendiri dalam penyelesaian perkara perdata. Mediasi ini memiliki tujuan agar sengketa yang terdapat antara para pihak dapat terselesaikan secara damai dan kekeluargaan dengan melibatkan pihak ketiga yang bersifat netral serta imparsial.44
Proses penyelesaian sengketa melalui non litigasi dalam hal ini mediasi dapat menjadi penghubung bagi para pihak dalam mewujudkan kesepakatan yang damai setra bersifat permanen, mengingat bahwa proses penyelesaian dari sengketa waris melalui jalur mediasi menempatkan para pihak pada posisi yang setara yaitu win-win solution.
Pada proses mediasi memiliki kewenangan secara penuh dalam
44 Ibid.., hlm.393
menentukan keputusan atau bersifat pro-aktif. Mediator dalam hal ini hanya berfungsi sebagai penyeimbang atas terjaganya jalan mediasi guna membantu para pihak sehingga terwujudnya kesepakatan yang damai antara kedua belah pihak.45
Secara umum, setiap perkara yang diselesaikan di Pengadilan Agama dalam hal ini khususnya sengketa waris mengutamakan mediasi terlebih dahulu. Hakim sebelum melakukan pemeriksaan gugatan perkara, terlebih dahulu akan mengagendakan upaya damai/mediasi.
Mediasi pun dapat dilaksanakan di luar pengadilan dengan mediator/pihak ketiga yang selain hakim.
b. Litigasi
Proses lain dalam menyelesaikan sengketa waris ialah melalui jalur litigasi atau persidangan. Sengketa waris merupakan kondisi dimana adanya konflik atau pertentangan antara para pihak yang akan dan sedang berperkara. Salah satu lembaga yang berfungsi sebagai tempat bagi masyarakat dalam menyelesaikan perkara waris khususnya untuk orang islam ialah Pengadilan Agama. Hukum acara Peradilan Agama dilaksanakan sebagai upaya untuk menemukan kebenaran dan keadilan bagi para pihak dengan cara mengajukan permohonan atau gugatan perkara ke Pengadilan Agama baik secara langsung (in person) maupun melalui kuasa hukum, sebagaimana yang tertera pada Pasal 118 HIR.
45 Ibid.., hlm.394
Hakim Pengadilan Agama dasarnya, bersikap pasif, dalam artian bahwa hakim tidak dibenarkan untuk mencari-cari perkara kewarisan atau pun perkara lainnya di masyarakat, hakim hanya boleh menunggu setiap perkara yang masuk kemudian diperiksa dan dilakukan mediasi terlebih dahulu barulah kemudian diputus di pengadilan berdasarkan hukum acara yang berlaku. Berkenaan dengan perkara kewarisan yang merupakan perkara keperdataan, maka dalam proses penyelesaiannya lebih mengutamakan prinsip musyawarah untuk mencapai perdamaian.
Apabila proses perdamaian yang ditempuh melalui mediasi tidak berhasil dalam mendamaikan kedua belah pihak maka mediator wajib menyatakan mediasi tidak gagal dalam mencapai kesepakatan dan menyerahkan bukti dari ketidak berhasilan mediasi tersebut secara tertulis kepada hakim yang memeriksa perkara. Berdasarkan pada bukti tertulis yang menyatakan mediasi tidak berhasil dengan demikian majelis hakim akan melanjutkan sidang sesuai dengan ketentuan hukum acara perdata yang meliputi: tahap pembacaan gugatan (termasuk jawaban, replik, duplik), tahap pembuktian untuk membuktikan suatu peristiwa yang disengketakan, pengajuan kesimpulan oleh para pihak, dan terakhir tahap putusan.
Hakim dalam setiap tahapan yang dilakukannya sebagai upaya terhadap pemeriksaan perkara diharuskan untuk memberikan nasihat kepada para pihak. Apabila kemudian ditengah pemeriksaan pokok perkara para pihak bersepakat untuk berdamai maka kesepakatan atas
perdamaian haruslah dikuatkan dengan membuat akta perdamaian (van dading) yang kemudian pada akta perdamaian tersebut memuat kesepakatan perdamaian disertai dengan putusan dari hakim yang menguatkan perdamaian tersebut serta bersifat eksekutorial. Yang dimana apabila dikemudian hari salah satu dari pihak yang membuat akata perdamaian tersebut mengingkari isi dari akta perdamaian maka pengadilan memiliki kewenangan untuk melaksanakan eksekusi terhadap objek waris yang disengketakan.
3. Konsep E-litigation
a. Pengertian E-litigation
Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Elektronik mendefinisikan e- litigation sebagai serangkaian dari proses memeriksa dan mengadili perkara oleh pegadilan yang dilaksanakan dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi46 e-litigation merupakan bagian yang tak terpisahkan dari e-court, hal ini dikarenakan bahwa e-litigation merupakan Salah satu fitur yang disediakan oleh e-court itu sendiri.
Sebelum ketentuan yang mengatur e-litigation dikeluarkan, Mahkmah Agung terlebih dahulu mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Administrasi Perkara Secara Elektronik yang di dalamnya hanya memuat ketentuan tentang
46 Pasal 1 ayat 7 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Elekronik.
administrasi pelayanan publik saja. Seiring dengan masifnya pemanfaatan tekhnologi maka Mahkamah Agung pun mengeluarkan e- litigation agar pemeriksaan perkara di pengadilan dapat dilaksanakan secara elektronik pula.
E-litigation merupakan inovasi yang bisa dikatakan lebih meluas dari sistem e-court hal ini dikarenakan pada e-court hanya sebatas melakukan administrasi pelayanan public pengadilan seperti pendaftaran gugatan, pembayaran panjar perkara, dan pemanggilan (relasse) secara online. Sedangkan e-litigation dilakukan secara secara menyeluruh terhadap tahapan proses beracara di pengadilan.47
b. Dasar Hukum Penerapan E-litigation
Penerapan persidangan secara elektronik (e-litigation) tertuang dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Secara Elektronik. Dengan adanya persidangan melalui media elektronik Mahkamah Agung mencoba untuk mengatasi segala persoalan yang muncul dalam proses persidangan seperti, keterlambatan (delay), keterjangkauan (access), dan integritas (integrity) yang dimana tiga poin tersebut merupakan persoalan utama yang selama ini dihadapi oleh para pihak yang berperkara di pengadilan.48 Dengan memanfaatkan teknologi informasi dapat mengurangi waktu penanganan perkara serta mengurangi
47 AlekاSanderاKaisarاHebring,ا“E-litigasi, inovasi, pelayanan publik pengadilan berkemajuan”,اdalamاhttp://ombudsman.go.id diakses tanggal 19 Maret 2020 pukul 23.17.
WITA.
48Ahmad Zaky, dkk, Penemuan…, hlm.329
intensitas para pihak yang datang ke pengadilan serta dapat mengkanalisasi cara berinteraksi para pihak dengan aparatur pengadilan, dan dapat menghindari mayarakat dari kekurangan informasi dan pengetahuan pengadilan.49
c. Tata Cara/alur Pelaksanaan E-litigation
Alur persidangan secara elektronik (e-litigation) pada umumnya sama dengan alur persidangan secara manual. Hanya saja pada praktiknya mediasi tidak bisa dilaksanakan secara elektronik. Para pihak yang hendak melakukan persidangan atau calon pengguna peradilan elektronik harus memiliki atau terdaftar di aplikasi e-court. Dalam aplikasi e-court sendiri terbagi menjadi 2 kategori pengguna terdaftar dan pengguna lain. Pengguna yang terdaftar adalah para advokat yang telah memenuhi syarat sebagai pengguna sistem Informasi Pengadilan dengan hak dan kewajiban yang diatur oleh Mahkamah Agung.50 Sedangkan pengguna lain adalah subjek hukum selain advokat, yang memenuhi syarat sebagai pengguna sistem informasi pengadilan dengan hak dan kewajibanyang diatur oleh Mahkamah Agung meliputi Jaksa, Pengacara Negara, Biro Hukum Pemerintah/TNI/POLRI, Kejaksaan RI, direksi/Pengurus atau karyawan yang ditunjuk badan hukum, kuasa insidentil yang ditentukan oleh Undang-undang.51
49A.S. Pudjoharsoyo, Arah…,hlm.329
50Pasal 1 ayat (4) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Elektronik
51Pasal 1 ayat (5) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara dan Persidangan Elektronik
Tahap persidangan secara elektronik (e-litigation) diawali persidangan upaya damai atau mediasi, persidangan tahap jawab menjawab, intervensi pihak ketiga (jika ada), persidangan dalam tahap pembuktian, persidangan dalam tahap kesimpulan dan pembacaan putusan serta upaya hukum. Seluruh tahapan tersebut dilakukan secara elektronik.
1) Persidangan Upaya Damai
Persidangan upaya damai dilakukan pada sidang pertama ketika kedua pihak hadir secara pribadi ke persidangan. Majelis Hakim akan mengupayakan damai pada sidang pertama tersebut.
Majelis hakim yang tidak berhasil mendamaikan para pihak pada sidang tersebut, proses berikutnya akan dilakukan mediasi.52 Para pihak yang menghadiri persidangan upaya damai, akan diberikan penjelasan mengenai persidangan secara elektronik. Persidangan secara elektronik pada persidangan berikutnya dapat dilakukan setelah memperoleh persetujuan kedua belah pihak. Persidangan upaya damai nampaknya belum dilakukan secara teleconfrence sebagai salah satu ciri dari persidangan elektronik. Persidangan upaya damai masih dilakukan dengan hadirnya para pihak secara langsung ke pengadilan.
2) Persidangan Tahap Jawab Menjawab
52 Ahmad Zaky, dkk, Penemuan…, hlm.337
Persidangan dalam tahap jawab menjawab merupakan hak para pihak untuk mempertahankan haknya. Jadwal sidang pada tahap jawab menjawab dikirim melalui Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP). Jadwal di SIPP ini terintergrasi dengan e-court. Dalam persidangan secara elektornik (elitigasi), pihak- pihak yang berperkara wajib memberikan replik dan duplik menurut jadwal yang telah ditentukan.53 Dokumen yang berisi replik dan duplik itu dibuat dalam format pdf atau rtd/doc. Verifikasi dokumen yang dikirmkan para pihak oleh majelis hakim dilakukan melalui aplikasi e-court. Dokumen tersebut akan dikirimkan kepada tergugat setelah diverifikasi oleh majlis hakim.
3) Intervensi Pihak Ketiga Secara Elektronik
Setiap penyelesaian perkara di pengadilan, dapat dijumpai adanya masuk pihak ketiga ditengah pemeriksaan perkara sedang berlangsung. Masuknya pihak ketiga inilah yang yang lazimnya disebut dengan intervensi pihak ketiga yang melibatkan diri atau dilibatkan oleh salah satu pihak berperkara perdata yang sedang berjalan.54 Dasar hukum tentang itervensi pihak ketiga terdapat pada pasal 279 hingga 282 Rv.55 Dalam persidangan elektronik, pihak ketiga dapat mengajukan intervensi terhadap perkara yang sedang berlangsung secara elektronik. Tentunya pihak ketiga yang
53Ibid.., hlm.337
54Ibid., hlm.338
55Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, (Jakarta : Kencana Preneda Media, 2008), hlm.58
mengajukan intervensi tersebut wajib mengikuti proses persidangan secara elektronik. Jika pihak ketiga tidak bersedia mengikuti persidangan secara elektronik maka majlis hakim dapat menyatakan permohonan intervensi (intervenient) tersebut tidak dapat diterima dengan sebuah penetapan.
4) Sidang pembuktian secara elektronik
Pada dasarnya sidang pembuktian dalam peradilan elektronik sama dengan pembuktian manual, yaitu dilakukan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Semua tahapan pada proses pembuktian mengacu pada ketentuan yang berlaku pada hukum acara perdata, hanya saja perbedaannya pada e-litigation proses pembuktian dilakukan melalui media elektronik.56 Bukti berupa surat dan pemeriksaan para saksi para pihak wajib mengunggah dokumen bukti surat yang telah bermatrai ke dalam aplikasi e-court.
Asli dokumen tersebut di muka sidang pada hari dan tanggal yang telah ditetapkan oleh ketua majlis melalui SIPP. Sedangkan untuk sidang pemeriksaan saksi atau saksi ahli dapat dilakukan secara teleconference.
5) Kesimpulan secara elektronik
Pada tahap ini para pihak berkewajiban untuk menyampaikan dokumen elektronik berupa kesimpulan dalam aplikasi e-court.
Selanjutnya ketua majlis akan memverifikasi dokumen tersebut
56Ahmad Zaky, dkk, Penemuan…, hlm.338
melalui menu yang telah tersedia pada aplikasi e-court, maka dokumen tersebut akan secara otomatis terkirim kepada akun pihak lawan.
6) Putusan elektronik
Putusan elektronik dan penyampaian salinan putusan secara elektronik. Pembacaan putusan atau penetapan dilakukan dengan mengirim salinan putusan dalam format pdf kepada para pihak melalui aplikasi e-court atau Sistem Informasi Pengadilan. Proses pengucapan/penyampaian putusan ataupun penetapan secara elektronik sebagaimana yang diuraikan diatas dianggap telah memenuhi asas persidangan terbuka untuk umum dan sesuai dengan ketentuan perundang-undnagan yang berlaku.57
7) Upaya hukum secara elektronik.
Layaknya persidangan secara manual, para pihak yang berperkara apabila merasa belum puas dengan putusan atau penetapan yang dibacakan oleh majlis hakim pada tahap putusan, maka dapat melakukan upaya hokum dalam batas waktu yang telah ditentukan berdasarkan hukum acara yang berlaku. Hal demikian pun berlaku pula dalam proses persidangan secara e-litigation. Para pihak yang merasa keberatan dengan hasil putusan dapat melakukan upaya hukum secara elektronik.
57Mukti Arto, Praktik Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2017). hlm.279