• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis Pencegahan Tindak Pidana Korupsi

IV. PEMBAHASAN

4.2. Hasil Penelitian

4.2.4 Hasil Analisis Pencegahan Tindak Pidana Korupsi

Dalam upayah pencegahan terjadinya kecurangan atau tindak pidana korupsi menurut Tunggal (2012) harus menciptakan budaya jujur

dan etika yang mencakup enam unsur yaitu; tone at the top, menciptakan lingkingan kerja positif, memperkerjakan dan mempromosikan karyawan yang tepat, pelatihan, konfirmasi, dan disiplin.

Pada implementasinya auditor inspektorat provinsi Sulawesi Selatan merespon ada beberapa cara efektif salah satunya adalah melakukan pelatihan. Untuk membuktikannya peneliti memberi pertannyaan cara efektif dalam mencegah kasus korupsi Berikut hasil wawancaranya:

“ kami ada namanya pelatihan penggembangan SDM jadi dalam bentuk kalau saya selaku auditor ada namanya substansi yang terkait tugas pokok seorang auditor misalnya audit barang milik daerah, audit penggadaan barang dan jasa, dan audit lain- lainnya itu. Artinya tujuannya itu untuk meningkatkan kompetensi SDM paling tidak kan kalau auditor harus lebih tau dari pada orang yang diperiksa. Orang yang diperiksa kadangkan tidak mungkin masa dia yang lebih pintar dari pada yang memeriksakan etikanya kan begitu harus selangkah lebih majulah dari orang yang diperiksa itu.” (Hamka, Auditor muda inspektorat Sulawesi Selatan)

Berdasarkan pengamatan peneliti inspektorat provinsi Sulawesi selatan telah menunjukkan perilaku dan etika yang sesuai dengan melakukan pelatihan guna meninggkatkan SDM seorang auditor. Hal ini juga dipertegas dengan (Tunggal. 2012) pelatihan merupakan tool serta menjadi pegangan bagi karyawan dalam perusahaan/lembaga agar mampu menerapkan perilaku etisnya. Serta menjelaskan pelatihan merupakan bagian yang penting dalam melakukan audit dimana seorang auditor memiliki fungsi dan tanggung jawab yang penting dalam menentukan kesuksesan dari pelaksanaan kegiatan audit internal. Auditor Internal memiliki peranan penting dalam sebuah organisasi. Tanpa keberadaan auditor internal,

perbaikan sistem sulit untuk dicapai. Karena sistem akan berjalan apa adanya tanpa adanya upaya untuk melakukan evaluasi penggendalian anti kecurangan yang sering kali terjadi.

Pernayatan lain juga dijelaskan oleh informan ketiga yang mengatakan cara paling efektif dalam mengurangi tindak pidana korupsi adalah dengan memberikan efek jera, berikut pernyataannya:

“memberikan efek jera kepada si pelaku dan tentunya memberikan penjelasan kepada mereka bahwa ketika melakukan tindak pidana korupsi itu sangat-sangat merupakan extra ordinary crime atau kejahatan luar biasa dimana hukumannya bisa sangat berat dan bila pelakunya adalah seorang ASN (aparatur sipil negara) maka dia akan langsung apa.. negara akan langsung memecat secara tidak terhormat sebagai ASN atau PNS.” (Ahnan safri, auditor muda inspektorat Sulawesi Selatan).

Informan menjelaskan untuk melakukan pendakatan disiplin yang sistematis untuk mengevaliasi dan meningkatkan efektifitas manajemen resiko pengendalian dan proses pengelolaan organisasi serta menjelaskan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan harus dijalankan sesuai target dalam mencapai tujuan organisasi

Pernyataan yang sama diperkuat dengan (Tunggal. 2012) terkait disiplin setiap pegawai harus mengetahui bahwa mereka akan dimintai pertanggung jawaban jika tidak menggikuti kode perilaku perusahaannya atau melanggar nilai dan norma, sehingga pegawai akan merasa enggan untuk berbuat tidak etis yang mmerujuk pada kecurangan.

Dari hasil pengamatan peneliti di Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan etika dan perilaku seorang auditor memiliki respon positif dengan teori yang di ungkapkan oleh (Azjen.1975) dimana tindak

pidana korupsi dilakukan secara sadar dan perilaku yang menyebabkannya adalah faktor sosial, ekonomi, dan personal. Sedangkan dalam menjalankan tugas profesinya seorang auditor inpektorat provinsi Sulawesi Selatan mematuhi kode etik dan standar audit yang ditetapkan sebagai pedoman dan asas-asas yang mereka jadikan acuan dalam melaksanakan tugas sesuai etika dan professional yang ada. Jadi dapat dikatankan pfofesionalisme adalah sikap tanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya sesuai etika dan perilaku pfofesional yang ada agar tercapainya hasil kinerja yang sesuai dengan yang diharapkan.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Fokus penelitian ini adalah melihat perilaku serta etika bagaimana respon positive atau negative seorang auditor pada inspektorat Sulawesi Selatan terhadap tindak pidana korupsi yang terjadi karna adanya faktor ekonomi, gaya hidup, dan keserakahan. Perilaku serta sikap yang ditunjukkan sesuai dengan prinsip standar auditor dan kode etik auditor yang mereka jadikan sebagai pedoman dalam bersikap dan tidak terpenggaruh dengan faktor eksternal seperti opini masyarakat dan hubungan kekerabatan.

Auditor inspektorat provinsi Sulawesi Selatan juga memberikan respon positif dengan teori terhadap tindak pidana korupsi sebagai kejahatan luar biasa dimana hukumannya bisa sangat berat bagi seorang ASN yang menunjukkan perilaku tidak etis, tidak bertanggungjawab, serta merupakan aib. Respon positive diberikan apabila seorang auditor melakukan pencegahan untuk mengurangi tindak pidana korupsi dengan menggikuti pelatihan dan disiplin dalam memahami tugas sebagai auditor yang tertuang dalam kode etik auditor.

5.2 Saran

1. Bagi Penelitian Selanjutnya

Penelitian selanjutnya diharapkan bisa melakukan wawancara yang mendalam terkait etika dan perilaku auditor sesuai dengan kode etik dan satandar auditor dalam melaksanakan tugasnya terhadap pihak-pihak terkait

yang memiliki peran penting dalam struktur organisasi auditor pada inspektorat provinsi Sulawesi Selatan, tidak hanya dari kelompok auditor muda tetapi bisa juga dengan auditor senior yang dianggap lebih memiliki penggalaman lebih.

2. Tempat Penelitian Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan

Etika dan perilaku yang di tunjukkan oleh auditor pada inspektorat Sulawesi Selatan terhadap tindak pidana korupsi diharap mampu memberi motivasi bagi inspektorat dan instansi lain dalam menjalankan tugasnya khusunya dalam mencegah terjadinya korupsi di negri ini. Serta selalu mempertahankan etika seorang auditor dalam menjalankan tugasnya.

5.3 Keterbatasan Penelitian

penelitian ini hanya memiliki 3 informan saja, terdiri dari satu auditor Madya, dan dua auditor Muda yang menjadi informan bagi peneliti.

Penelitian ini juga hanya fokus pada auditor inspektorat provinsi Sulawesi Selatan sehingga tidak bisa digeneralisasikan terhadap etika dan perilaku auditor terkait tindak pidana korupsi di inspektorat lain.

DAFTAR PUSTAKA

ACFE Indonesia. 2016. Fraud Indonesia." Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) Indonesia Chapter, Aranya, N.

Adha, Baigi Rabbani. 2016. Pengaruh Independensi Auditor, Profesionalisme Auditor, Etika Profesi Auditor, Akuntanbilitas Auditor Terhadap Kualitas Audit Pada Kantor Akuntan Publik di Surabaya. Skripsi. Surabaya:

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga

Albrecht, W. S., Albrecht, C. C., & Albrecht, C. O. (2004). Fraud and corporate executives: Agency, stewardship and broken trust. Journal of Forensic Accounting, 5(1), 109-130.

Amrizal. 2004. Pencegahan dan Pendeteksian Kecurangan oleh Internal Auditor.

:Jakarta.

Ajzen, I. 1991. Attitudes, Personality and Behavior. Berkshire: McGraw-Hill Professional Publishing.

Bologna, J., Lindquist, R. J., & Wells, J. T. (1993). The Accountant's Handbook of Fraud and Commercial Crime: Wiley New York, NY.

Creswell, John W. 1998, Qualitative Inquiry and Research Design, Choosing Among Five Traditions. California: Sage Publication

Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta:

Media Pressindo.

Futri, Putu Septiani dan Gede Juliarsa. Pengaruh Independensi, Profesionalisme, Tingkat Pendidikan, Etika Profesi, Pengalaman dan Kepuasan Kerja Auditor pada Kualitas Audit Kantor Akuntan Publik di Bali. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 7.2 (2015): 444-461.

Hartadi, Bambang . 1991. Internal Auditing. Edisi Pertama, Andi Offset:Yogyakarta.

Husaini, Usman dan Setiady, Purnomo. 2009. Metodelogi Penelitian Sosial.

PT.Bumi Aksara: Jakarta.

IAPI. 2011. Standar Profesional Akuntan Publik. Jakarta: Salemba Empat.

Ikshan, A dan Ishak, M.2005. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta: Salemba Empat.

Ikshan, Arfan, dan Muhammad Ishak. 2005, Akuntansi Keperilakuan. Jakarta:

Salemba Empat.

Inspektoratsulsel.id (diakses tanggal 26 Agustus 2020)

Irawati, Y., Petronila, T. A., dan Mukhlasi. 2005. Hubungan Karakteristik Personal Auditor Terhadap Tingkat Penerimaan Penyimpangan Perilaku dalam Audit. Simposium Nasional Akuntasi 8. Solo. 15-16 September.

Kosasih, Ruchyad. 1981. Auditing Prinsip dan Prosedur. Ananda: Yogyakarta Lubis, Arfan Irfan 2010, 'Akuntansi Keperilakuan', Edisi dua, Salemba Empat:

Jakarta

Maryani, T., & Unti Ludigdo. 2001. Survei Atas Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap dan Perilaku Etis Akuntan. TEMA, 2(1), 49-62.

Miles, B. Mathew dan Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta: UIP

Muhammadin, Ali.2016. Analisis Penaranan Audit Internal Dalam Mendeteksi Kecurangan Pada Pemerintah Kota Makassar. Skripsi. Makassar:

Fakultas Ekonomi Universitas Bosowa.

Republik Indonesia, Peratutran Pemerintah No 79 Tahun 2005 Tentang Pedoman Pembinaan Dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

Republik Indonesia, Peratutran Pemerintah No.60 Tahun 2008 Tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

Rozmita, Dewi YR. (2012). Gejala Fraud dan Peran Auditor Internal Dalam Pendeteksian Fraud di Lingkungan Perguruan Tinggi. Jurnal Akuntansi.

Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia, Jakarta.

Santosa, Urip dan Pambelum, 2008. Pengaruh Penerapan Akuntansi Sektor Publik Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dalam Mencegah Fraud. Jurnal Administrasi Bisnis, Vol.4.FISIP-UNPAR.

Siegel, G., dan H.R. Marconi, 1989. Behavioral Accounting. South Western Publishing, Co. Cincinnati, OH.

Suartana, I Wayan. 2010. Akuntansi Keperilakuan Teori dan Implementasi:

Yogyakarta.

Statement on Auditing Standards No. 99. 2002. Consideration of Fraud in a Financial Statement Audit

Tunggal, Widjaja. 2011. Pengantar Kecurangan Korporasi. Harvarindo: Jakarta . 2012. Pedoman Pokok Audit Internal. Harvarindo: Jakarta.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Widagdo, R, S. Lesmana, dan S.A. Irwandi. 2002. Analisis pengaruh Atribut- Atribut Kualitas Audit Terhadap Kepuasan Klien (Studi Empiris Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta). SNA 5 Semarang. p.

560-574

https://www.academia.edu/34866968/PENGARUH_PENERAPAN_KODE_ETI K_APARAT_PENGAWASANINTERN_PEMERINTAH_APIP_TERHA DAP_KINERJA_AUDITORINTERNAL_PEMERINTAH_STUDI_PAD A_APIP_DI_PROVINSI_SUMATERA_SELATAN?auto=download (Diakses:14 Februari 2020)

https://www.academia.edu/10079699/Analisis_pengaruh_pengalaman_dan_pelati han_auditor_terhadap_pengetahuan_auditor_dalam_mendeteksi_kecurang an (Diakses:14 Februari 2020)

https://www.academia.edu/29928570/Pengaruh_Pengalaman_Kerja_Kompetensi_

Auditor_Dan_Independensi_Terhadap_Kualitas_Hasil_Pemeriksaan_Studi _Empiris_Pada_Kantor_Inspektorat_Kabupaten_Buleleng_ (Diakses:14 Februari 2020)

http://ejournal.unp.ac.id/students/index.php/akt/article/view/1603/1226 (Diakses:14 Februari 2020)

http://ejournal.unp.ac.id/students/index.php/akt/article/view/1590/1213 (Diakses:14 Februari 2020)

http://eprints.umsida.ac.id/3314/1/Setyaniduta%20dan%20Hermawan%2C%2020 16%20-%20Disfunctional%20Audit%20Behavior%20-%20Oke.pdf (Diakses:14 Februari 2020)

https://ojs.unud.ac.id/index.php/EEB/article/view/16447/13332(Diakses:14 Februari 2020)

http://repository.unair.ac.id/54352/16/A.361-16%20Adh%20p-min.pdf (Diakses:14 Februari 2020)

https://ojs.unud.ac.id/index.php/EEB/article/view/33836/22146(Diakses:14 Februari 2020)

http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/17054/6.%20BAB%20II.

pdf?sequence=6&isAllowed=y (Diakses:14 Februari 2020)

https://id.wikipedia.org/wiki/Standar_Auditing (Diakses:25 februari 2020) https://konsultaniso.web.id/sistem-manajemen-mutu-iso-90012008/tugas-dan-

tanggung-jawab-auditor-internal/ (Diakses:25 februari 2020) https://stptower.com/audit-internal/ (Diakses:25 februari 2020)

https://www.academia.edu/23502893/BAB_I_PENGANTAR_AKUNTANSI_PE RILAKU (Diakses:25 februari 2020)

https://www.kompasiana.com/zurul_98/581e17a4d99373bb3293679e/dampak- korupsi-terhadap-berbagai-aspek-kehidupan (diakses 9 Februari 2020) https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/11/185540869/korupsi-pengertian-

penyebab-dan-dampaknya?page=all (diakses 9 Februari 2020

Foto 1: Informan pertama

Profil Responden

Mohon Bapak/Ibu mengisi daftar pertanyaan berikut : 1. Nama Lengkap : Misbahuddin

2. Jenis Kelamin : Pria Wanita

3. Agama : Islam

4. Umur : 42 Th

5. Jabatan Pekerjaan :Auditor Madya

6. Pendidikan Terakhir : SMA D3 S1 S2 Lainnya

7. Masa Kerja : 1-5 Tahun 5-10 Tahun >10 Tahun

File 1, pak misbah (informan 1)

1. Apa faktor yang biasa membuat orang melakukan korupsi?

Jawab: biasanya itu adalah faktor ada kesempatan karna ada anggaran yang dikelola, kemudian faktor yang lain adalah ee sistem yang lemah, sistem pengendalian yang lemah di tempat tersebut atau di entitas pemerintah tersebut. Kemudia yang ke tiga adannya keserakahan pejabat itu sendiri.

Saya kira itu.

2. Apa yang anda lakukan saat menyadari adanya kesalahan dalam melakukan pekerjaan?

Jawab: saya akan segera memperbaiki diri.

3. Bagaimana anda mengatasi kesalahan yang selalu terjadi berulang kali?

Jawab: masalahnya saya tidak pernah melakukan kesalahan yang berulang, kesalahan yang sama maksudnyakan, yaah mungkin saya harus senantiasa belajar, tapi selama ini saya belum perna merasa melakukan kesalahan yang fatal yang berulang-ulang dalam ingatan saya, seperti itu buktinya saya belum pernah diberikan sanksi.

4. Bagaimana tanggapan ada sebagai auditor melihat banyaknya tokoh pemerintah yang terkena korupsi?

Jawab: saya merasa bahwa semakin banyaknya tokoh pemerintah yang terkena korupsi itu menandakan bahwa sistem pengendalian dan pemberantasan korupsi di pemerintahan dinegara kita ini lemah. Yang Kemudian berikutnya adalah apa namanya sistem tadi masih lemah rasa keserakahan itu masih tinggi sifat keserakahan atau integritas penyelenggara negara itu masih banyak yang kuranglah integritasnya dalam. Karna memang korupsi itu dapat terjadi kepada siapapun yang mendapatkan kesempatan sebenarnya karna dapat kita lihat ketika orang pada saat belum menduduki sebuah jabatan orang-orang tersebut bisa saja dia mempunyai idealisme yang menyatakan jangan korupsi apa tapi ketika dia yang

menduduki jabatan tersebut bisa saja dia yang korupsi itu kalau kita lihat dimasyarakat itu banyak yang terjadikan seperti itu.

5. Bagaimana anda menyikapi jika orang terdekat anda melalkukan korupsi?

Jawab: eh saya tidak setuju, saya akan eeh apa namanya saya akan menasehati orang-orang terdekat saya supaya jangan sampai dia menjadi pelaku korupsi karena pelaku korupsi itukan yah selain dia merupakan apa merukan negara, merugikan masyarakat, dia merupakan aib, aib bagi saya dan keluarga saya apabila itu menjadi apa tersangka diaparat hukum itu menjadi aib.

6. Bagaimana anda sebagai auditor menanggapi keresahan masyarakat terhadap perilaku auditor dalam menangani kasus korupsi?

Jawab: wajar saja kalau masyarakat itu resah melihat adanya pelaku korupsi dikalangan pejabat pemerintah karena apa dengan adanya korupsi itu otomatis apa mengurangi kesejahteraan masyarakat dengan sendirinya karena harusnya pejabat pemerintah itu ee apa namanya melakukan pelayanan yang baik kepada masyarakat, ee melaksanakan anggaran dengan baik, yang pada akhirnya ee berguna bermanfaat bagi masyarsakat kalau ee anggaran itu di korupsi yaah pada akhirnya masyarakat yang dirugikan sehingga wajar saja kalau masyarakat itu resah dan bahkan kalau masyarakat itu demo itu wajar karena masyarakat punya hak untuk menuntut untuk penyelenggaraan pemerintahaan yang bebas dari korupsi.

Saya kira itu.

7. pernahkah bapak terpengaruh dengan opini masyarakat yang selalu menyalahkan inspektorat/auditor?

Jawab: eem yah, tapi itu tidak saya rasa tidak terlalu arahnya tidak terlalu menekankan kepada inspektorat tapi karena inspektorat ini kan adalah lembaga audit internal pemerintahan yang sebenarnya merupakan lini pertama mengatasi terjadinya korupsi jadi, tapi selama ini masyarakat itu

belum mengetahui barang kali secara pasti bahwa peran inspektorat itu secara strategis untuk menangkal atau menggurangi terjadinya tindak korupsi.

8. Apa yang ingin membuat anda menjadi seorang auditor?

Jawab:auditor itu, saya menjadi auditor ya karena memang ee apa namanya direkrut untuk menjadi auditor pemerintah daerah pada saat itukan, jadi disamping itu disiplin ilmu saya memang kesitu saya jurusan akuntansi iyakan. Ee skripsi saya juga dulu terkait dengan audit jadi memang sudah sejalan dengan disiplin ilmukan, yang kedua ee menjadi auditor itu adalah pengambdian karena kenapa auditor itu bisa menggambil peran yang cukup efektif dalam langkah menggurangi terjadinya korupsi bukan memberantas yah menggurangi korupsi karena inspektorat dan auditor itu merupakan lini pertama yang menemukan kasus dilapangan ketika itu ada terjadi korupsi bukan aparat hukum tapi auditor.

9. Bagaimana tanggapan anda melihat auditor yang menerima suap?

Jawab: sebenarnya auditor menerima suap itu kalau di inspektorat provinsi itu suap itu yang berindifikasi kasus suap itu mungkin belum ada tetapi, mungkin suap yang anda maksud disini gratifikasi, karena gratifikasi itu juga tergolong korupsi tapi skalanya kecil, gratifikasi itu misalnya diberikan makan pada saat mengaudit iyakan, bisa saja diberikan ee fasilitas lain misalnya apa kendaraan pada saat menuju ketempat audit itu bisa saja terjadi. Tapi, sekiranya itu terjadi suap kepada auditor itu mungkin terjadi ditempat lain. Ee sering kita dengar dimedia masa bahwa ada auditor yang menerima suap itu sangat miris karena itu sudah menyalahi misinya, misinya menyalahi idealismenya karena dialah yang seharusnya menjadi lini yang pertama yang mengeliminasi terjadinya korupsi justru dia yang menerima suap dan suap itu adalah korupsi, jadi saya tidak setuju jika ada auditor yang menerima suap.

10. Jika anda diberi sejumlah uang oleh tersangka korupsi apa yang anda lakukan?6

Jawab: ooh saya menolak, saya pasti menolak karena ee menerima uang dari tersangka itu sudah pasti korupsi juga bagi kita karena menerima uang dari koruptor, yang kedua menerima uang dari koruptor itu adalah gratifikasi yang bisa mengganggu independensi kita dalam menentukan hasil audit atau opini audit.

11. Bagaimana sikap yang tepat sebagai seorang auditor dalam menangani masalah kasus suap tersebut?

Jawab: jadi auditor itu dituntut untuk menggunakan komunikasi yang efektif dan bersahabat yah, tidak menakut-nakuti, tidak kaku iyakan, tetap harus komunikatif dengan siapapun termasuk dengan orang yang diaudit atau orang yang terlibat dalam kasus korupsi, kasus korupsi yang sedang diaudit kita harus tetap menjaga etika komunikasi ee kita tetap harus menjaga hal itu jadi, auditor itukan adalah pihak yang independen yang tidak terpenggaruh jadi sikapnya tetap harus netral, jadi tetap harus netral terhadap orang yang di audit sekali pun. Seperti itu

Foto 2: Informan kedua

Profil Responden

Mohon Bapak/Ibu mengisi daftar pertanyaan berikut : 1. Nama Lengkap : Hamka

2. Jenis Kelamin : Pria Wanita

3. Agama : Islam

4. Umur : 41 Th

5. Jabatan Pekerjaan : Auditor Muda

6. Pendidikan Terakhir : SMA D3 S1 S2 Lainnya

7. Masa Kerja : 1-5 Tahun 5-10 Tahun >10 Tahun

File 2 pak Hamka (informan 2)

1. Apa faktor yang biasa membuat orang melakukan korupsi?

Jawab: faktor yang biasa membuat orang melakukan korupsi adalah satu yaitu pertama faktor ekonomi artinya dalam hal apabila ada kebutuhan yang harus dipenuhi sedangkan misalnya keterbatasan, misalnya dari segi pendapatan kurang maka ee bisa saja muncul seseorang dalam pikirannya untuk melakukan korupsi, apalagi kalau misalnya ada kesempatan.

Kemudian yang kedua itu faktor gaya hidup, tapi terkait gaya hidupkan larinya juga dari faktor ekonomi kan, artinya yang sebelumnya misalnya sudah tataran (tinggkatan) kehidupannya gaya hidupnya misalnya hidup mewah ternyata untuk memenuhi kebutuhan itu dia harus melakukan sesuatu yang misalnya diluar pekerjaannya maksudnya gaji yang diterima kurang misalnya seorang auditor apa jadi dia melakukan korupsi dan dikasih kesempatan. Tapi intinya ee semua itu dari dari akhlak kalau orang kurang mensyukuri pasti muncul itu pilihan karena faktor misalnya kalau akhlaknya kurang bagus kemungkinan untuk korupsi itu akan muncul begitu.

2. Apa yang anda lakukan saat menyadari adanya kesalahan dalam melakukan pekerjaan?

Jawab:apabila dalam melakukan pekerjaan terdapat suatu kesalahan yang misalnya belum tidak terlalu mempenggaruhi keputusan saya akan melakukan perbaikan artinya perbaikan dalam fungsi administrasi, apabila ada hal yang tidak sesuai dengan yang seharusnya dilakukan secepatnya mungkin saya melakukan perbaikan supaya tidak terulang kembali kesalahan tersebut.

3. Bagaimana anda mengatasi kesalahan yang selalu terjadi berulang kali?

Jawab: Mengatasi kesalahan yang selalu terjadi berulang kali artinya setiap kesalahan itu mungkin ada resikonyakan artinya kalau mengulang suatu kesalahan dilakukan berulang kali paling tidak ada semacam pengalaman bahwa kesalahan yang sama tidak mungkin kembali terjadi kelubang yang

sama, kalau ada pengalamannya bahwa ini suatu kesalahan fatal dan tidak akan mengulangi kembali kesalahan tersebut.

4. Bagaimana jika seorang auditor tidak ingin melakukan audit terhadap kasus kecurangan?

Jawab: sebenarnya kalau seorang auditor itu memangkan tugas pokoknyakan dia audit keuangan disitu artinya jika seorang auditor tidak ingin melakukan audit terhadap kasus kecurangan sebenarnya itu tidak mungkin karena larinya ketugas pokoknya, ee tapi kalau kami disini selama ada perintah dari pimpinan kami akan laksanakan selaku auditor dan tidak boleh menolak itu namaya konsekuensi jabatan, artinya kalau mau menduduki jabatan auditor tidak boleh menolak ‘saya tidak mau anu kalau tidak’, karena ada perintah pimpinan itu namanya pelanggaran tidak berintegritas namanyakan kalau kita ada namanya integritas jadi setiap ada perintah dari pimpinan kita harus laksanakan tidak boleh menolak. Apalagi kalau ada kasus kecurangan-kecurangankan.

5. Apa makna satandar auditing bagi seorang auditor?

Jawab: jadi seorang auditor itu memiliki standar audit dimana standar audit itu ditetapkan oleh ikatan auditor independen pemerintah Indonesia atau yang di keluarkan oleh komisi auditor APIP. Jadi satandar itu berfungsi sebagai pedoman atau olah bagaimana melaksanakan suatu audit secara terarah karena standar audit itu terdiri dari standar umum, dan pelaksanaan, dan pelaporan tindak lanjut. Tapi, paling tidak seorang auditor itu awalnyakan dia harus penuhi standar umum. Standar umum itu misalnya memiliki kompetensi, pengalaman, dan dia tidak istilahnya mampu bekerja sama dalam satu tim itu maksud standar audit. Tapi yang paling penting kompetensi dan keahlian paling tidak dia memiliki sertifikasi, artinya seorang auditor kami disini tidak bisa diangkat seorang auditor kalau tidak ada sertifikasi. Seperti gurukan misalnya tidak boleh mengajar kalau tidak ada sertifikasinya seorang guru. Karena itu untuk tugas keahlian.

Dokumen terkait