II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.10. Kecurangan (Fraud)
5. Perbedaan Kualifikasi
Kualifikasi yang diperlukan untuk seorang auditor internal tidak harus seorang akuntan, namun juga teknisi, personil marketing, insinyur produksi, serta personil yang memiliki pengetahuan dan pengalaman lainnya tentang operasi organisasi sehingga memenuhi syarat untuk melakukan audit internal. Auditor Eksternal harus memiliki kualifikasi akuntan yang mampu memahami dan menilai risiko terjadinya errors dan irregularities, mendesain audit untuk memberikan keyakinan memadai dalam mendeteksi kesalahan material, serta melaporkan temuan tersebut. Pada kebanyakan negara, termasuk di Indonesia, auditor perusahaan publik harus menjadi anggota badan profesional akuntan yang diakui oleh ketentuan perundang-undangan.
6. Perbedaan Timing
Auditor internal melakukan review terhadap aktivitas organisasi secara berkelanjutan, sedangkan auditor eksternal (audit keuangan/KAP) biasanya melakukan secara periodik/tahunan.
Albrecht, Albrecht, & Albrecht, (2004).
“Para pelaku kecurangan biasanya menghadapi berbagai jenis tekanan dimana tekanan yang paling kuat adalah tekanan finansial, tekanan non finansial seperti tuntutan untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik, ataupun tantangan untuk melawan sistem.”
Alasan utama yang menyebabkan terjadinya fraud adalah adanya tekanan untuk memenuhi kebutuhan, untuk mendapatkan keuntungan, dan tidak menganggap apa yang dilakukannya adalah termasuk fraud.
2.1.10.1 Pengertian Kecurangan (Fraud)
Dalam akuntansi, dikenal dua jenis kesalahan yaitu kekeliruan (error) dan kecurangan (fraud). Perbedaan antara kedua jenis kesalahan ini hanya dibedakan oleh jurang yang sangat tipis, yaitu ada atau tidaknya unsur kesengajaan. Standarpun mengenali bahwa sering kali mendeteksi kecurangan lebih sulit dibandingkan dengan kekeliruan karena pihak manajemen atau karyawan akan berusaha menyembunyikan kecurangan itu. Ada tiga hal yang mendorong terjadinya sebuah upaya fraud, yaitu dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud (pressure), peluang yang memungkinkan fraud terjadi (opportunity), dan elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku mencari pembenaran atas tindakannya (rationalization).
Menurut Institute of Internal Auditors (IIA) menyatakan bahwa kecurangan mencakup satu kesatuan ketidakberesan (irregularities) dan perbuatan melawan hukum (illegal act) yang bercirikan penipuan yang
disengaja dilakukan oleh orang luar atau orang dalam perusahaan guna mendapatkan keuntungan dan merugikan pihak lain (perorangan, perusahaan atau institusi). Pendapat lain juga dikemukakan oleh bebrapa ahli yang mendukung penelitian terkait dengan kecurangan yang sering terjadi.
Rozmita (2012):
“ fraud adalah penyimpangan, error (kesalahan) dan irregularities (ketidakberesan dalam masalah financial). “
Statement on Auditing Standards No. 99 mendefinisikan fraud sebagai berikut:
“an intentional act that result in a material misstatement in financial statements that are the subject of an audit.”
Dari pernyataan di atas fraud didefinisikan sebagai semua macam yang dapat dipikirkan manusia, dan yang diupayakan oleh seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain dengan saran yang salah atau pemaksaan kebenaran, dan mencakup semua cara yang tak terduga, penuh siasat licik atau tersembunyi, dan setiap cara yang tidak wajar yang menyebabkan orang lain tertipu.
2.1.10.2 Jenis-Jenis Kecurangan
Kecurangan memiliki beberapa jenis dalam hal ini untuk memudahkan mendeteksi dan menganalisis jenis kecurangan yang sering terjadi. Oleh karena itu ACFE (Association of Certified Fraud Examiners)
membagi fraud (kecurangan) dalam tiga jenis atau tipologi berdasarkan perbuatan, yaitu (ACFE, 2016):
1. Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation)
Jenis ini meliputi penyalahgunaan/pencurian aset atau harta perusahaan atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah dideteksi karena sifatnya yang tangible atau dapat diukur/dihitung (defined value).
2. Fraudulent Statements
Meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat atau eksekutif suatu perusahaan atau instansi pemerintah untuk menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan dalam penyajian laporan keuangannya untuk memperoleh keuntungan.
3. Korupsi (Corruption)
Tindakan ini banyak terjadi di negara-negara berkembang yang penegakan hukumnya lemah dan masih kurang kesadaran akan tata kelola yang baik sehingga faktor integritasnya masih dipertanyakan.
Fraud jenis ini sering kali tidak dapat dideteksi karena para pihak yang bekerja sama menikmati keuntungan (simbiosis mutualisme).
Termasuk didalamnya adalah penyalahgunaan wewenang/konflik kepentingan (conflict of interest), penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak sah/illegal (illegal gratuities), dan pemerasan secara ekonomi (economic extortion).
2.1.10.3 Pencegahan dan Pendeteksian Kecurangan
Dewasa ini kecurangan merupakan tindakan yang sifatnya berkelanjutan dan memang sulit dalam upayah menghapuskan tindakan tersebut, meski telah ada upayah pencegahan internal audit dalam suatu organisasi dikarenakan kecurangan itu telah membudaya serta sifat manusia yang terkadang mempunyai sifat serakah yang akhirnya dapat memicu hal tersebut. Meski demikian, internal audit tetap berupaya dalam meminimalisir kecurangan dalam organisasi dengan mengupayakan pencegahan dini, serta memberikan pembinaan-pembinaan dalam sebuah perusahaan atau organisasi.
AICPA bersama dengan organisasi profesional, manerbitkan Management Anti Fraud Program and Controls: Guidance to Prevent, Deter, and Detect Fraud. Dalam pedoman tersebut, mengungkapkan tiga unsur untuk mencegah, menghalagi, dan mendeteksi kecurangan: (1) budaya jujur dan etika yang tinggi; (2) tanggung jawab menajemen untuk mengevaluasi resiko kecurangan; (3) pengawasan oleh komite audit.
Mencakup dari tiga hal diatas, maka pengendalian internal merupakan cara yang paling efektif dalam mencegah dan menghalangi kecurangan. Namun, penciptaan lingkungan pengendalian yang efektif tidak luput dari adanya nilai atau norma yang dianut dalam perusahaan tersebut. Dengan adanya nilai dan norma dapat membantu menciptakan budaya jujur dan etika yang tinggi terhadap seorang auditor agar dapat menjalankan tugas mereka dengan baik sehingga dapat patuh pada kode etik yang ada.
Penciptaan budaya jujur dan etika yang tinggi menurut Tunggal (2012: 220) mencakup enam unsur:
1. Tone at the top
Manajemen dan dewan direksi berada pada posisi atas. Dalam hal ini manajemen dan dewan direksi selaku pemberi arahan terhadap karyawannya serta tidak membiarkan karyawan yang tidak menenmkan kejujuran dan perilaku etis.
2. Menciptakan lingkungan kerja positif
Semangat karyawan akan semakin meningkat jika dalam perusahaannya dia merasa lebih santai, namun tetap memiliki dedikasi yang tinggi. Dengan demikian, karyawan tidak merasa terabaikan dalam lingkungannya, misalnya seorang karyawan tidak mendapatkan tekanan berlebihan, ancaman, dan sebagainya.
3. Mempekerjakan dan mempromosikan karyawan yang tepat
Perusahaan sebaiknya mempromosikan karyawan untuk mendapatkan promosi atau mempekerjakan berdasarkan tingkat kejujurannya agar karyawan didalamnya dapat lebih kompeten dan menanamkan kejujurannya sehingga dapat membantu pencegahan terjadinya kecurangan. Hal demikian dimaksudkan agar lebih mengefektifkan pencegahan atau mengurangi kecurangan.
4. Pelatihan
Pelatihan merupakan tool serta menjadi pegangan bagi karyawan dalam perusahaan agar mampu menerapkan perilaku etisnya. Pelatihan
merupakan bagian yang penting dalam pengendalian anti kecurangan yang sering kali terjadi.
5. Konfirmasi
Adakalanya pegawai mengkonfirmasikan tanggung jawab serta perilaku mereka selama bekerja tanpa melaporkan suatu tindakan yang melanggar. Hal ini dapat mengokohkan kebijakan kode perilaku dan juga membantu pegawai untuk tidak melakukan kecurangan.
6. Disiplin
Setiap pegawai harus mengetahui bahwa mereka akan dimintai pertanggung jawaban jika tidak mengikuti kode perilaku perusahaannya atau melanggar nilai dan norma, sehingga pegawai akan merasa enggan untuk berbuat tidak etis yang merujuk pada kecurangan.