• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Kerangka Pikir

Audit internal sebagai suatu cara yang digunakan untuk mencegah kecurangan dalam suatu organisasi yang kegiatannya meliputi pengujian dan penilaian efektivitas serta kecukupan sistem pengendalian internal organisasi. Fungsi audit internal dapat berupa layanan informasi, sistem atau proyek. Tanpa audit internal yang bebas mengenai kinerja dalam organisasi.

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Audit Internal pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Inspektorat

Provinsi)

Masalah Pokok: Bagaimana Etika dan Perilaku Auditor terhadap Tindak Pidana Korupsi pada

Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan

Metode: Analisis Deskriptif Kualitatif

Etika dan Perilaku Auditor Tindak Pidana Korupsi

Kesimpulan

Rekomendasi

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokai dan Waktu Penelitian

Berdasarkan judul yang diangkat oleh penulis “Analisi Etika dan Perilaku Auditor terhadap Tindak Pidana Korupsi (TIPIKOR) pada Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan”, maka untuk memperoleh data penelitian ini dilakukan di Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan. Etika dan perilaku auditor menjadi obyek dalam penelitian ini . guna memperoleh data yang berkaitan dengan judul penelitian tersebut, maka dilakukan pembetasan dari beberapa pihak yang hanya terdiri dari auditor karena memiliki pengetahuan serta pengalaman tentang audit internal dan yang memiliki kepentingan yang berkaitan dengan audit internal.

Alasan peneliti memilih audit internal di pemerintah karena begitu banyaknya kasus-kasus kecurangan yang mencuat akhir-akhir ini khususnya di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Parahnya, terdapat beberapa kasus kecurangan yang tidak sampai penyelesaian akhir dan seolah-olah kasus kecurangan yang terjadi tidak ada habisnya. Oleh karena itu, Inspektorat Provinsi Sulawesi Selatan selaku audit internal Provinsi Sulawesi Selatan menjadi objek dalam menemukan jawaban dari tujuan penelitian ini.

Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini didirencanakan selama dua bulan yakni dari bulan Maret sampai April 2020. Waktu ini dirasa cukup untuk menganalisis etika dan perilaku auditor terhadap penelitian yang di lakukan.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Wawancara

Wawancara dalam penelitian ini yaitu proses tanya jawab ataupun diskusi antara peneliti dan informan yang menjadi narasumber. Informan yang dimaksud yaitu yang memungkinkan peneliti memperoleh data berupa informasi yang memadai dan berhubungan dengan tujuan penelitian.

2. Studi Dokumentasi

Teknik dokumentasi, yaitu upaya peneliti dalam mengumpulkan data sekunder yang telah terdokumentasi dalam Provinsi Sulawesi Selatan.

Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali informasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teorerik untuk memaknai semua dokumen tersebut untuk mendukung penelitian ini sehingga tidak sekedar barang yang tidak bermakna.

3.3 Jenis dan Sumber Data 3.3.1 Jenis Data

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan atau eksplorasi. Sehingga dapat menganalisa permasalahan yang terjadi selama ini seraca rinci dalam menlakukan penelitian dan pengamatan langsung dilanpangan.

Creswell (1998:5) mengatakan:

“penelitian kualitatif merupakan suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodelogi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia.”

Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami. Pada penelitian ini, peneliti sebagai instrument kunci yang berarti peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas sehingga mampu bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi objek yang diteliti agar menjadi lebih jelas.

Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan maksud agar peneliti dapat memahami makna peristiwa serta interaksi pada orang-orang dalam situasi tertentu (Moleong, 1998 dalam Endraswara,2008).

Jika dikaji lagi, fenomenologi berasal dari kata phenomenon yang berarti realitas yang tampak dan logos yang berarti ilmu. Jadi, fenomenologi adalah ilmu yang berorientasi untuk mendapat penjelasan dari realitas yang tampak. Dapat diartikan bahwa fenomenologi tidak menganut sepenuhnya teori atau dengan kata lain menolak teori. Fenomenologi berasumsi bahwa orang-orang secara aktif menginterpretasi pengalaman-pengalamnnya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman pribadinya (Littlejohn, 2009 dalam Endrawarsa 2008). Dalam hal ini, peneliti lebih mengutamakan peristiwa yang benar-benar terjadi (relitas) atau pengalaman dengan mengesampingkan gagasan peneliti untuk memahami objek yang akan

diteliti. Dengan demikian peneliti seolah-olah memasuki sudut pandang orang lain, hal ini dimaksudkan bahwa peneliti mampu memasuki pandangan yang menjadi subjek penelitian yaitu organisasi audit internal Inspektorat Kota Makassar, serta berupaya untuk mengetahui mengapa hal demikian bisa terjadi. Fenomenologi berusaha memahami budaya lewat pandangan pemilik budaya atau pelakunya. Menurut paham fenomenologi, ilmu bukanlah values free (bebas nilai dari apapun), melainkan values bound (memiliki hubungan dengan nilai). Aksioma dasar fenomenologi adalah:

a. Kenyataan ada dalam diri manusia baik sebagai individu maupun kelompok selalu bersifat majemuk atau ganda yang tersusun secara kompleks, dengan demikian hanya bisa diteliti secara holistic dan tidak terlepas-lepas

b. Hubungan peneliti dengan subjek inkuiri saling mempengaruhi, keduanya sulit dipisahkan

c. Lebih kea rah pada kasus-kasus, bukan untuk mengeneralisasi hasil penelitian

d. Sulit membedakan sebab dan akibat, kerna situasi berlangsung secara simultan

e. Inkuiri terikat nilai, bukan values free.

Penelitian ini dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Menurut Creswell (1998), pendekatan fenomenologi menunda semua penelitian

tentang sikap yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Sebelum melakukan pilihan pendekatan (approach), metode (method), teknik (technique) atau apa pun cara dan piranti (ways and instruments), peneliti menetapkan cara pandang yang digunakan terhadap bahan dan tujuan kajian.

Cara pandang yang mendasar inilah merupakan paradigm kajian (paradigm of inquiry). Jadi, paradigm adalah cara pandang, cara memahami, cara menginterpretasikan, suatu kerangka piker, dasar keyakinan yang memberi arahan pada tindakan.

Pengelompokkan teori-teori dan pendekatan untuk membentuk paradigma menghasilkan pemetaan yang bervariasi berdasarkan peneliti.

Salah satunya menurut Burrel dan Morgan (1979 dalam Badu, 2010) yang memetakan pengetahuan dalam tiga paradigm, yaitu fungsionalis-interpretif (fungctionalist-interpretive),dan radikal strukturalis (radical structuralist).

Untuk desain penelitian kualitatif merupakan bentuk metode yang cocok dengan paradigma ini. Paradigma ini memasukkan aliran etnometologi dan interaksionis simbolis fenomenologi yang didasarkan pada aliran sosiologis, hermenetik, dan fenomenologis.

Paradigma ini menganggap ilmu pengetahuan tidak digunakan untuk menjelaskan (to explain) melainkan untuk memahami (to understand) (Triyuwono dalam Ihsan & Ishak, 2005). Paradigma interpretif menyatakan bahwa pengetahuan dan pemikiran awam berisikan arti atau makna yang diberikan individu terhadap pengalaman dan kehidupannya sehari-hari, dan hal tersebutlah yang menjadi langkah ilmu-ilmu sosial. Oleh karena itu,

dengan menggunakan paradigm ini, penulis dapat melihat fenomena dan menggali pengalaman dari objek penelitian. Pendekatan interpretif berangkat dari upaya untuk mencari penjelasan tentang peristiwa-peristiwa sosial atau budaya yang didasarkan pada prespektif dan pengalaman orang yang diteliti. Interpretif melihat fakta sebagai sesuatu yang unik dan memiliki konteks dan makna yang khusus sebagai esensi dalam memahami makna sosial serta melihat fakta sebagai sesuatu yang cair (tidak kaku) yang melekat pada sistem makna dalam pendekatan kualitatif. Secara umum pendekatan kualitatif merupakan sebuah sistem sosial yang memaknai perilaku secara detail karena secara langsung mengobservasi objek penelitian (Newman, 1997 dalam Erna, 2008). Berkaitan dengan penelitian ini, dengan pendekatan kualitatif peneliti mendekskripsikan serta menginterpretasikan hasil observasi berdasarkan fenomena yang ada yaitu pada audit internal dalam mendeteksi kecurangan yang kemudian memberikan penilaian terhadap realita kinerja audit internal.

3.3.2 Sumber Data

Bila dilihat dari keperluan penelitian, sumber data yang digunakan yaitu:

1. Data primer terdiri dari dokumen-dokumen maupun dapat berupa lisan dan juga ada yang tercatat jika langsung dari sumbernya (tentang diri sumbernya).

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui studi kepustakaan dengan judul yang merupakan data pendukung primer.

Dokumen terkait