• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pemikiran Tentang Konsep Iman dan Kufur . 79

BAB IV KONSEP IMAN DAN KUFUR

B. Analisis Pemikiran Tentang Konsep Iman dan Kufur . 79

Pembahasan terdahulu menunjukkan bahwa akal dan iman bagi kaum Mu’tazilah tidak dapat dipisahkan. Seorang mukmin harus benar-benar mengetahui adanya Tuhan melalui pembuktian akalnya. Oleh karena itu, iman bagi mereka tidak sekedar menyatakan bahwa yang dibawa rasul benar (al-tasdiq).

Mayoritas dari mereka berpandangan bahwa iman itu mencakup ketaatan lahir dan batin dengan mengerjakan semua yang wajib dan sunat.53 Oleh karena itu, posisi amal menjadi sangat sentral dalam akidah mereka.

Sehubungan dengan itu mereka tidak memandang pelaku dosa besar

51 Lihat Syarh al-Fiqh al-Akbar, seperti juga yang dikutip oleh Thoshihiko Izutsu, op. cit, hlm. 217-218.

52 Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi, op. cit., hlm. 253.

53 ‘Abd al-Jabbar, Syarh, op.cit., hlm. 707. Al-Qadi Abu Ya’la, Masail al-Iman, (Riyad: Dar al-‘Asimat, 1410 H), hlm. 156.

sebagai tetap mukmin. Al-Nadzdzam sendiri mengatakan, bahwa iman adalah menjauhi dosa besar.54

Iman bagi mereka adalah ma’rifah yang dibarengi dengan amal saleh dalam bentuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan Tuhan. Amal bagi mereka merupakan syarat sahnya iman. Dalam konteks itulah mereka berbeda dengan kaum salaf yang lupa memasukkan amal dalam iman, namun amal bagi kaum salaf hanya sebagai syarat sempurnanya iman .55

Sementara itu kaum Murji’ah dan Karamiyah berpendapat bahwa iman itu hanyalah tasdiq bi al-lisan, sedangkan amal tidak merupakan bagian dan bukan cabang dari iman. Oleh karena itu, dalam pandangan mereka orang yang mengucapkan syahadat saja, seperti orang munafik, tanpa disertai amal sudah sempurna imannya.56

Jahm ibn Sufyan dan Abu al-Hasan al-Salihi dari kalangan Qadariyah mengatakan bahwa iman itu adalah al-makrifah bi al-qalb, yaitu pengetahuan dalam hati. Pendapat seperti itu membawa pengertian bahwa Fir’aun dan kaumnya termasuk mukmin sebab mereka mengetahui kenabian Musa dan Harun itu benar, meskipun mereka tidak percaya kepada keduanya.57 Dalam konteks seperti itu tampaknya pendapat kaum Qadariyah mengandung kelemahan.

Di dalam al-Ibanat, al-Asy’ari mengatakan bahwa iman adalah qaul wa

amal, yazid wa yangqus.58 Jadi iman merupakan perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Dengan demikian al-Asy’ari juga mementingkan amal. Tetapi di dalam Kitab al-Luma‘ ia hanya menyebutkan bahwa iman ialah al-tasdiq bi Allah.59 Al-Syahrastani mengatakan dalam pandangan al-Asy’ari qaul dan amal hanyalah cabang dari iman. Al-Syahrastani juga mengatakan, dalam pandangan al-Asy’ari orang yang hanya membenarkan dalam hati bahwa Allah itu ada, dan rasul-rasulnya datang dari sisi-Nya sudah sah imannya sehingga apabila ia meninggal dunia dalam keadaan

54 Abu Hasan al-Asy’ari,, Maqala, jilid 1, op.cit., hlm. 331.

55 Al-Amin al-Haj Muhammad Ahmad, Syarh Muqadimat, Ibn Abi Zaid al-Qairani, (Jeddah: Maktabat Da al-Matbu at al-Hadisat, 1991), hlm. 28.

56 Al-Qadi Abu Ya’la, Masa’il, op.cit., hlm. 159-161.

57 Al-Amin al-Haj Muhammad Ahmad, Syarh Muqaddimat, op.cit., hlm. 31.

58 Abu Hasan al-Asy’ari,, al-Ibanat, op.cit., hlm. 21.

59 Abu Hasan al-Asy’ari,, al-Luma’, op.cit., hlm. 123.

yang demikian, ia adalah mukmin yang selamat.60 Berkaitan dengan itu ada pendapat yang mengatakan bahwa iman bagi kaum Asy’ariyah hanyalah tasdiq bi Allah, yaitu menerima sebagai benar tentang adanya Tuhan,61 sedangkan amal posisinya berada di luar iman atau cabang dari iman.62

Sebagaimana al-Asy’ari, al-Baqillani juga berpendapat bahwa iman adalah al-tasdiq bi Allah, yaitu mengetahui dan membenarkan dalam hati bahwa Allah itu ada. Menurutnya sejak sebelum al-Qur’an turun dan sebelum Nabi Muhammad diutus, para ahli bahasa sepakat bahwa al-iman adalah al-tasdiq, sesuai dengan bunyi salah satu ayat al-Qur’an:



َنيِقِدا َص اَّنُك ْوَلَو اَنَل ٍنِمْؤُمِب َتْنأَا اَمَو

“Dan kamu sekali-kali tidak percaya kepada kami, sekalipun kami orang-orang yang benar. (QS. 12:17).63

Bertitik-tolak dari pandangan tersebut di atas, al-Baqillani mengatakan bahwa iman di dalam syari’at adalah iman menurut bahasa Arab sesuai dengan :

ِهِمْوَق ِناَسِلِب �َّلِإا ٍلوُسَر ْنِم اَنْلَسْرأَا اَمَو

“kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya.”(QS. 14: 4).64

Al-Baqillani membedakan antara iman dan Islam dengan mengatakan bahwa setiap mukmin adalah muslim tetapi tidak setiap muslim berarti mukmin. Menurutnya pendapat tersebut sesuai dengan firman Allah :

اَنْمَلْسأَا اوُلوُق ْنِكَٰلَو اوُنِمْؤُت ْمَل ْلُق ۖ اَّنَمآا ُباَرْعأَ�ْلا ِتَلاَق

Orang-orang Arab Badui itu berkata Kami telah beriman, “Katakanlah (kepada mereka) Kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk.”(QS. 49: 14).

60 Al-Syahrastani, al-Milal, 1, op.cit., hlm. 88.

61 Al-Amidi, Gayat al-Maram, op.cit., hlm. 309. Harun Nasution, op.cit., hlm. 148.

62 Al-Qadi Abu Ya ‘la, op.cit., hlm. 158-159. Harun Nasution, Ibid., hlm. 158-159.

63 Al-Baqillani, Tamhid, op.cit., hlm. 389.

64 Ibid.

Iman adalah manifestasi dari Islam. Sebagaimana diisyaratkan dalam ayat tersebut, Allah tidak memandang orang-orang Badui beriman, meskipun mereka telah mengaku beriman sebab mereka baru Islam.65

Al-Baqillani menjelaskan pertentangan iman dan kafir dengan membagi kafir kepada tiga macam. Pertama, kafir i’tiqadi, kafir semacam ini tempatnya di hati. Umpamanya meniadakan sifat-sifat Allah, dan orang yang berkeyakinan bahwa Allah itu nur dalam pengertian cahaya atau sinar, atau roh, atau jism yang duduk di atas ‘arasy. Kedua, kafir fi’il, seperti melemparkan al-Qur’an kedalam kotoran. Ketiga, kafir qauli seperti menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, baik zat, sifat, maupun perbuatan. Termasuk juga orang yang mendustakan isi kandungan al- Qur’an, atau ajaran Nabi Muhammad, seperti mengatakan surga dan neraka itu lenyap, surga bukan kesenangan jasmaniyah dan neraka adalah siksaan ma’nawiyah atau abstrak. Demikian juga orang yang mengingkari kewajiban shalat, puasa, dan zakat, mengharamkan talak dan menghalalkan khamar.

Kafir yang paling berat adalah orang yang mengingkari Allah.66

Pembagian kafir di atas menunjukkan bahwa dalam konsep iman yang dikemukakan al-Baqillani, amal tetap dipentingkan sebab menurutnya perbuatan dapat membawa kepada kekafiran. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa amal tidak lepas dari iman. Ada pengecualian didalam kafir qauli di atas. Orang yang hilang akal atau terpaksa, sedang hatinya tetap beriman tidak termasuk didalamnya. Dalam memperkuat pendapatnya itu ia mengemukakan argumen berdasarkan ayat al-Qur’an:

ْنِكَٰلَو ِناَمي ِإ�ْلاِب ٌّنِئَمْطُم ُهُبْلَقَو َهِرْكأُا ْنَم �َّلِإا ِهِناَميِإا ِدْعَب ْنِم ِهَّللاِب َرَفَك ْنَم

ٌمي ِظَع ٌباَذَع ْمُهَلَو ِهَّللا َنِم ٌب َضَغ ْمِهْيَلَعَف اًرْد َص ِرْفُكْلاِب َحَر َش ْنَم

Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah beriman, ia mendapat kemurkaan Allah, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap beriman, akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”.(QS. 16: 106).67

65 Ibid., hlm. 392.

66 Ibid., hlm. 393.

67 Ibid.

Selanjutnya al-Baqillani mengatakan bahwa orang yang termasuk di antara macam-macam kafir di atas sia-sia semua kebaikannya. Tidak dihitung sedikit pun, baik puasa, shalatnya dan sebagainya. Sesuai dengan ayat:

ُهُلَمَع َطِب َح ْدَقَف ِناَمي ِإ�ْلاِب ْرُفْكَي ْنَمَو

“Barang siapa kafir setelah beriman maka hapuslah amalnya.”(QS. 5:5).

Orang yang seperti itu sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat tetap berdosa, meskipun ia minta ampun kepada Allah, batal nikahnya dengan istrinya, hubungan keduanya setelah kekafiran adalah diluar syari’at, ia akan diampuni Allah setelah memperbaharui imannya.

A. Teologi Islam Tentang Perbuatan Manusia dan Perbuatan