BAB IV KONSEP IMAN DAN KUFUR
B. Analisis Pemikiran Tentang Perbuatan Manusia dan
B. Analisis Pemikiran Tentang Perbuatan Manusia dan
sebab sesuai dengan pendapat mereka yang memandang manusia bebas dalam melakukan perbuatan-perbuatannya.19
Menurut pandangan Mu’tazilah jika Tuhan yang menciptakan perbuatan manusia, maka tidak ada gunanya dia mengutus rasul-Nya, sebab mereka tidak bebas di dalam mengikuti petunjuk-petujuknya .20
Kaum Mu’tazilah berpendirian bahwa di dalam perbuatan manusia ada kekafiran, kebohongan dan kezaliman. Jika Allah yang menciptakan perbuatan manusia tentu perbuatan- perbuatan buruk merupakan perbuatan-Nya sebab siapa yang berbuat sesuatu, maka perbuatan itu disandarkan kepada-Nya. Dengan demikian tidak dapat dikatakan Tuhan yang menciptakan perbuatan manusia 21
Di samping itu menurut kaum Mu’tazilah, tidak dapat dikatakan Allah menciptakan perbuatan hamba-Nya kemudian dia menyiksa mereka.
Sehubungan dengan itu merupakan perbuatan zalim jika Allah menyiksa orang yang terpaksa melakukan maksiat, dan Allah tidak dapat memberi pahala kepada orang yang berbuat zalim. Berdasarkan argumen itu mereka berpendapat bahwa perbuatan buruk seperti zalim tidak berasal dari Tuhan.22
‘Abd al-Jabbar mengatakan bahwa Tuhan tidak mau berbuat zalim sebagaimana disebut dalam al-Qur’an “Tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya. ( QS. 45: 46). Dalam ayat lain dikatakan “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.” (QS. 4: 40);
“Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. 18: 49).23 Kaum Mu’tazilah berpendirian bahwa manusialah yang menciptakan perbuatan- perbuatan mereka. Tuhan tidak campur tangan di dalamnya.
Kaum Asy’ariyah menolak pandangan kaum Mu’tazilah di atas, sebab menurut al-Asy’ari pandangan yang demikian bertentangan dengan ayat
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”
(QS. 11: 107).24 Tampaknya bagi al-Asy’ari manusia tidak mempunyai
19 Zuhdi Jar Allah, op.cit. hlm. 95..
20 Ibid., hlm. 95-96.
21 Ibid., hlm. 96.
22 Ibid.
23 ‘Abd al-Jabbar, Syarh, op.cit., hlm. 315-316.
24 Abu Hasan al-Asy’ari, al-Ibanat, op.cit., hlm. 14
pilihan di dalam perbuatannya karena semua yang dilakukan manusia adalah berdasarkan ketentuan Tuhan. Baginya Tuhan merupakan pencipta perbuatan manusia.25 Hakikatnya perbuatan tidak terjadi kecuali diciptakan oleh yang menciptakan-Nya. Oleh karena itu mesti ada yang menciptakan kekafiran dan keimanan secara hakiki. Allah yang menjadikan keimanan itu baik. Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan manusia, baik atau buruk. Sekiranya bukan Tuhan yang menciptakannya tentu orang kafir dapat menjadikan kekafiran itu buruk dan ia juga yang menjadikan keimanan itu baik. Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan manusia, baik atau buruk. Sekiranya bukan Tuhan yang menciptakan tentu orang kafir dapat menjadikan kekafiran dipandang baik sesuai dengan keinginan mereka. Perbuatan manusia menurut al-Asy’ari disebut kasb.
Tidak ada fa’il bagi kasb kecuali Allah. Demikian pula tidak ada khaliq kecuali Allah. Menurutnya tidak ada yang mampu menciptakan secara hakiki kecuali Allah. Perbuatan mesti dari fa’il secara hakiki. Kasb mesti dari muktasib yang memberi kasb secara hakiki. Perbuatan baik seperti iman dan perbuatan jahat seperti kufr sebenarnya Allah yang menciptakannya.
Pengertian manusia beriman menurutnya adalah manusia itu beriman dengan daya yang baru, bukan berarti manusia tersebut yang membuat keimanan tetapi yang membuat sebenarnya adalah Allah. Demikian pula dengan perbuatan dusta. Orang yang membuat dusta sebagai kitab bukanlah pencipta dusta yang sebenarnya. Gerakan yang terpaksa juga menunjukkan bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan manusia.26 Pandangan yang demikian membawa pengertian, manusia terpaksa atau tidak mempunyai pilihan didalam perbuatannya.
Berbeda dengan al-Asy’ari, menurut al-Baqillani ada perbuatan yang terjadi berdasarkan pilihan manusia, dan ada perbuatan yang manusia terpaksa melakukannya. Berkaitan dengan itu, ia mengatakan bahwa manusia mampu berdiri, duduk, dan berbicara dengan keinginannya sendiri. Tetapi manusia tidak mampu bergerak ketika lumpuh dan sakit.27 Berdasarkan pendapat tersebut, tampaknya al-Baqillani mengakui adanya
25 Abu Hasan al-Asy’ari, al-Luma’, op.cit., hlm. 69.
26 Ibid., hlm. 71-74.
27 Al-Baqillani, Tamhid, op.cit., hlm. 232.
andil manusia didalam perbuatannya. Manusia memiliki kebebasan di- dalam menentukan perbuatannya. Manusia memiliki kebebasan didalam menentukan perbuatan yang diinginkannya. Tetapi kebebasan manusia dalam pandangannya tidak sebesar kebebasan yang dipahami Mu’tazilah.
Dalam masalah perbuatan manusia, al-Baqillani tidak sepenuhnya sependapat dengan al-Asy’ari.
Al-Baqillani selanjutnya mengatakan bahwa manusia hanya mampu berbuat dengan qudrat yang diciptakan Tuhan padanya, dengan alasan seseorang hanya dapat berbuat sesuatu pada suatu waktu. Tetapi tidak dapat berbuat yang serupa pada waktu yang lain. Di samping itu manusia tidak mampu berbuat ketika terjadi perbuatan (iktisab). Ia hanya mampu berbuat ketika terjadi perbuatan (fi hat iktisab) sebab ia tidak diberikan qudrat sebelumnya. 28
Selanjutnya ia mengatakan bahwa qudrat yang ada pada manusia tidak tetap. Kemampuan manusia hanya ada kesamaan dengan perbuatan.
Apabila manusia telah mempunyai kemampuan sebelum terjadi perbuatan, maka pada waktu terjadi perbuatan ia tidak lagi membutuhkan bantuan Tuhan. Menurutnya yang demikan itu mustahil. Pandangan yang demikian menunjukkan bahwa dalam pemahamannya, Tuhanlah yang menciptakan daya pada manusia dan kebebasan manusia terletak pada penggunaan daya itu.
Qudrat manusia tidak tetap, apabila tetap maka tidak dapat tidak ia tetap karena dirinya sendiri, atau karena ada yang menyebabkannya. Apabila ia tetap dengan sendirinya mestilah ia tetap ada pada waktu yang sama atau pada waktu yang berlainan. Ini juga mustahil. Di samping itu kalau qudrat tetap karena ada sebab, mestilah ia merupakan jism atau jauhar. Ia juga menurutnya tidak benar.29 Pandangan yang demikian menunjukkan bahwa ia tidak setuju pada pendapat yang memandang qudrat sebagai sebab terjadinya perbuatan.
Di samping itu berpandangan Allah swt. memberikan qudrat tidak untuk dua perbuatan yang bertentangan atau yang sama, atau yang berbeda.
28 Ibid., hlm. 324.
29 Ibid.
Dengan kata lain, Allah memberikan satu qudrat untuk satu perbuatan.30 Dia memberikan qudrat untuk berbuat kepada manusia yang sebelumnya tidak ada. Qudrat itu ada bersamaan dengan gerakan tangan. Air keluar bersamaan dengan masuknya batu ke dalam gelas. Seseorang mengetahui rasa sakit bersamaan dengan adanya sakit. Untuk memperkuat pendapatnya itu, ia mengemukakan ayat Al-Qur’an “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2: 286). “Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. 65: 7). Ayat tersebut menurutnya menunjukkan bahwa tidak ada qudrat sebelum perbuatan. Pendapat tersebut diperkuat ayat ”Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya membayar fidyah.”
(QS. 2: 184). Ayat tersebut menurutnya jelas menunjukkan tidak adanya qudrat.
Al-Baqillani mengatakan bahwa pendapatnya yang menyebutkan satu qudrat untuk satu perbuatan tidak menunjukkan seseorang terpaksa dalam perbuatannya. Menurutnya orang yang terpaksa berbuat sesuatu adalah orang yang dibebani sesuatu yang tidak disukainya. Sementara orang yang dikatakan mampu berbuat adalah orang yang berbuat dengan kemampuannya sendiri. Orang yang terpaksa berbuat dan yang mampu berbuat berbeda dengan orang yang tidak mampu berbuat sama sekali.
Orang yang tidak berbuat apa yang diperintahkan kepadanya adalah orang yang tidak mampu melakukannya.31
Selanjutnya ia mengatakan bahwa taklif mala yutaq itu ada sebagaimana Allah memerintahkan hamba-Nya berbuat adil kepada sesama manusia tetapi Dia sendiri mengatakan manusia tidak mampu berbuat demikian.
Sebagaimana diisyaratkan dalam ayat “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” (QS. 4: 129).32
Ia berpendapat bahwa qudrat manusia tidak tetap dan bukan merupakan sebab terjadinya perbuatan. Satu qudrat hanya untuk satu perbuatan, satu qudrat tidak bisa untuk beberapa perbuatan yang serupa, berbeda atau
30 Ibid., hlm. 326.
31 Ibid., hlm.331-332.
32 Ibid., hlm. 333
bertentangan. Qudrat hanya ada pada saat terjadinya perbuatan, qudrat tidak ada sebelum maupun setelah terjadinya perbuatan.33 Pandangan di atas menunjukkan bahwa al-Baqillani lebih jauh dari al-Asy’ari, baginya manusia mempunyai kebebasan di dalam perbuatannya. Sebaliknya menurut al-Asy’ari manusia tidak mempunyai kebebasan.
Di dalam menanggapi pandangan Mu’tazilah, al-Baqillani mengatakan bahwa Allah adalah pencipta semua perbuatan manusia sebab Dia berkuasa terhadap tiap-tiap yang mereka lakukan. Menurutnya firman Allah dalam ayat “Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”(QS.
37: 96), menunjukkan bahwa Allahlah yang menciptakan manusia dan perbuatan-perbuatannya. Tidak ada pencipta selain Allah, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat ”Adakah sesuatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia.” (QS. 35: 3); “Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya?.” (QS. 28: 72).34
Al-Baqillani berpendapat bahwa memandang manusia sebagai pencipta sendiri perbuatannya bertentangan dengan ayat “Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya, sehingga kedua ciptaan itu serupa dalam pandangan mereka?”
(QS.13: 16).35
Selanjutnya al-Baqillani berpendapat bahwa perbuatan manusia dikatakan perbuatan Tuhan, adalah karena manusia diberi Tuhan qudrat berbuat ketika terjadi perbuatan, dan Allah tidak meninggalkan perbuatan itu sebab perbuatan itu terjadi karena Dia, bukan karena manusia. Jika Dia meninggalkan-Nya, maka perbuatan itu tidak akan terjadi. Allahlah yang menciptakan perbuatan manusia dan Dia jugalah yang menciptakan keinginan manusia untuk melakukan perbuatan.36
Didalam menanggapi pendapat Mu’tazilah, Al-Baqillani mengatakan bahwa Tuhan tidak memerintahkan seorang pun dari hamba-Nya untuk menciptakan sesuatu. Dia juga tidak melarangnya. Dia juga tidak memberi
33 Ibid., hlm. 336.
34 Ibid., hlm. 342
35 Ibid
36 Ibid., hlm. 346.
pahala kepada seseorang yang menciptakan sesuatu, dan juga tidak memberi pahala kepada seseorang yang menciptakan sesuatu, dan juga tidak menyiksanya. Al-khalq (penciptaan) mustahil bagi manusia. Allah hanya memerintahkan hamba-Nya agar berusaha dengan sungguh-sungguh (al- iktisab) untuk memperoleh ciptaan-Nya, atau melarangnya. Pahala, siksaan dan ancaman adalah berdasarkan perintah dan larangan-Nya. Namun Allah hanya akan memberikan pahala kepada orang yang disukai-Nya dan memberi siksa kepada orang yang tidak disukai-Nya.37
Al-Baqillani memandang al-kasb sebagai gerakan orang yang disertai qudrat pada waktu terjadi perbuatan, berbeda dengan orang yang lumpuh, yang tidak dapat bergerak. Ia membedakan antara gerakan tangan orang yang sehat, sebagai gerakan yang tidak terpaksa, dengan gerakan orang yang gemetar karena sakit, yaitu yang bergerak karena terpaksa. Kasb merupakan perbuatan dengan jalan ikhtiar, kasb bukan perbuatan yang terpaksa.38 Dengan pandangan yang demikian, konsep kasb al-Baqillani mengandung paham kebebasan. Bagi al-Baqillani manusia mempunyai sumbangan yang efektif didalam perwujudan perbuatannya. Tuhan hanya menciptakan gerak di dalam diri manusia, sedangkan bentuk dari gerakan itu, yang kemudian disebut perbuatan, seperti duduk, berdiri, atau berbaring adalah perbuatan manusia.39
Sejalan dengan pandangannya, sebagaimana tampak pada uraian di atas, bahwa semua yang terjadi di alam ini adalah ciptaan Tuhan, maka ketaatan juga menurutnya adalah ciptaan Tuhan, bukan ciptaan manusia.
Ia memahami ayat ”Dan kamu tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.” (QS. 4: 64), sebagai isyarat bahwa Tuhan tidak mengutus seorang Rasul kecuali untuk memerintahkan agar semua mukallaf menaati-Nya. Demikian pula dengan firman Allah “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS. 51: 56). Menurutnya ayat tersebut mempunyai pengertian bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk memerintahkan mereka beribadah kepada-Nya.40
37 Ibid.
38 Ibid., hlm. 347.
39 Nasution, Teologi, op.cit., hlm. 71.
40 Ibid., hlm. 356.
Manusia mempunyai kasb bukan dalam pengertian terpaksa tetapi
“usaha” untuk melakukan perbuatan, baik taat maupun maksiat. Oleh karena itu di dalam al-Qur’an disebutkan “Ia mendapat pahala (dari kebijakan) yang diusahakannya.” (QS. 2: 286), maksudnya pahala dari perbuatan baik.
Kemudian dikatakan pula “Dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. 2: 286), maksudnya siksaan dari perbuatan jahat yang dikerjakan manusia.41
Selanjutnya ia mengemukakan beberapa ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa perbuatan manusia merupakan kasb bagi mereka, diantaranya “Disebabkan karena perbuatan tangan manusia.”(QS. 30:
41); “adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. 42: 30).
Menurutnya akal dapat membedakan ikhtiar. Kasb adalah perbuatan ikhtiar bagi manusia dan ciptaan bagi Allah. Apa yang disifatkan kepada Allah tidak dapat disifatkan kepada ciptaannya. Dan apa yang disifatkan kepada ciptaannya tidak dapat disifatkan kepada Allah. Oleh karena itu, Allah tidak disebut sebagai muktasib dan manusia tidak dapat disebut sebagai khaliq.42
Al-Baqillani mengatakan bahwa sesuatu yang dikatakan pencipta adalah jika ia mampu menciptakan sesuatu dan mampu juga meniadakannya. Jika ia mampu membuat sesuatu hidup, ia juga mesti mampu mematikannya.
Jika ia mampu menghancurkan sesuatu, ia juga mesti mampu menyusunnya kembali sebagaimana aslinya. Manusia tidak mampu melakukan yang demikian. Dengan demikian tidak ada pencipta selain Allah karena Dialah yang mampu menciptakan sesuatu dan sebaliknya.43
Hakikat penciptaan adalah mengeluarkan sesuatu dari tidak ada menjadi ada (ikhraj al-syai’ min al-‘adam ila al-wujud). Pandangan yang mengatakan bahwa manusia mampu menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada adalah menyamakan antara qudrat Allah dengan qudrat manusia. Pendapat seperti itu tidak mempunyai dasar sebagaimana diisyaratkan Allah dalam ayat “Bantahan mereka itu sia-sia saja disisi Tuhan mereka.”(QS. 42:16).44
41 Al-Baqillani, al-Insaf, op.cit., hlm. 40.
42 Ibid., hlm.41
43 Ibid., hlm. 130
44 Ibid., hlm. 131
Al-Baqillani selanjutnya berpendapat bahwa ayat ”Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. 56: 24), tidak menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah sebenar-benarnya ciptaan bagi manusia.
Menurutnya yang dimaksud dengan ya‘malun dalam ayat tersebut adalah yaksibun. Ia tidak menolak bahwa kasb disebut sebagai perbuatan bagi manusia. Ia hanya menolak untuk mengatakan manusia sebagai pencipta bagi perbuatannya dari tidak ada menjadi ada. Menurutnya tidak ada yang mampu melakukan penciptaan (al-khalaq wa al-ikhtira wa al-khuruj min al’adam ila al-‘wujud) kecuali Allah.45
Ia mengatakan bahwa ayat ”Dan diwaktu kamu membentuk dari tanah.” (QS. 5: 110), hanya mengandung informasi bahwa Adam as. mampu membentuk tanah, bukan mengeluarkan bentuk dari tidak ada menjadi ada. Dalam pada itu ayat “Maka maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. 23:14) memberitahukan bahwa orang-orang kafir memandang ada pencipta selain Allah. Kemudian ayat ”Dan dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan.” (QS. 30: 27) merupakan penolakan Allah terhadap pendapat mereka tersebut.
Selanjutnya ia mengatakan bahwa pengaruh keinginan terhadap perbuatan manusia juga tidak menunjukkan bahwa manusia dapat menciptakan perbuatannya. Ia memberikan perumpamaan, bahwa tumbuhnya tanaman sesuai dengan kehendak penanamnya, namun bukan merupakan ciptaan baginya. Demikian pula ternak yang gemuk terjadi atas kehendak pemiliknya yang memberi makan dan minumnya. Tetapi bukanlah al-alif dan al-saqi (pemberi makan dan pemberi minum ternak) yang menciptakan kegemukan pada ternak. Semua itu diciptakan Allah atas kehendak-Nya.46
Menurut al-Baqillani perbuatan tidak menentukan keadaan seseorang di akhirat nanti. Dengan kata lain, pahala atau siksa bukanlah merupakan konsukuensi dari kebebasan manusia di dalam melakukan perbuatannya.
Pahala dan siksa merupakan ketentuan dari Allah, sebagaimana wajib hukum denda (al-diyat) terhadap orang yang membunuh orang lain meskipun tidak dengan sengaja karena sudah ketentuan Allah. Begitu pula
45 Ibid.
46 Ibid., hlm. 136
orang yang berpuasa lalu makan karena lupa, tidak batal puasanya dan tidak mendapat hukuman. 47
Al-Baqillani tidak menghubungkan pahala dan siksa semata-mata dengan perbuatan manusia. Tetapi dapat dipahami bahwa Tuhan dalam pandangannya bukanlah sebagai raja absolut yang bertindak sewenang- wenang, karena sesuai dengan konsep kasb-Nya ia juga mengakui Tuhan memberikan ikhtiar bagi manusia. Dalam konteks seperti itulah tampaknya al-Baqillani tidak lagi sepenuhnya mengikuti al-Asy’ari. Dalam masalah perbuatan manusia, al-Baqillani tidak lagi berpegang pada konsep kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan karena didalam pandangannya manusia bebas berkehendak dan menentukan perbuatannya.
47 Ibid., hlm. 137
A. Janji dan Ancaman Tuhan
Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa janji dan ancaman Allah pasti terjadi. Dia wajib memberikan pahala kepada orang yang berbuat baik dan wajib menyiksa orang yang berbuat dosa besar kelak di akhirat jika tidak bertaubat.1 Bahkan pelaku dosa besar yang tidak bertaubat akan kekal di dalam neraka. Namun azab yang diterimanya lebih ringan dari azab yang diterima orang kafir. Dengan demikian apabila pelaku dosa besar bertaubat ia berhak memperoleh pahala.2
Al-Asy’ari dan al-Baqillani membedakan antara syirik dan perbuatan- perbuatan maksiat lainnya. Menurut mereka, Allah mengampuni semua perbuatan maksiat kecuali syirik. Mereka memperkuat pendapat tersebut dengan mengemukakan ayat al-Qur’an seperti ini: “Sesunguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan sesuatu dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki- Nya.”(QS. 4:116).3
1 ‘Abd al-Jabbar ibn Ahmad, Syahr al-Usul al-Khamsah (Kairo: Maktabah Wanbah, 1965), hlm. 619.
2 Zuhdi Hasan Jar Allah, Al-Mu’tazillah, (Kairo, tp.,1948), hlm. 51.
3 Abu Hasan al-Asy’ari, Al-Ibanah al-Usul al-Diyanah, (Kairo: Idarah al-Tiba’ah al- Misriyyah, t. th.), hlm. 140. Al-Baqillani, Tamhid, op.cit., hlm. 400.
JANJI DAN ANCAMAN TUHAN
B A B V I
Nabi Muhammad saw. pernah mengatakan sesuatu ketika Malaikat Jibril mendatanginya dan mengatakan apabila umatnya meninggal dunia dalam keadaan tidak musyrik meskipun melakukan dosa besar, seperti berzina dan mencuri akan masuk surga, sebagaimana disebutkan dalan hadis dibawah ini.
Nabi saw. mengatakan: “Jibril berkata kepadaku bahwa siapa meninggal dunia diantara umatmu sedangkan dia tidak mempersekutukan sesuatu terhadap Allah masuk surga atau tidak akan masuk neraka, Nabi bertanya, meskipun ia berzina dan mencuri? Jibril menjawab dengan mengatakan meskipun ia berzina dan mencuri.” 4
Al-Baqillani mengatakan bahwa Allah mengistimewakan orang mukmin dengan memberi mereka qudrat beriman dan beramal saleh di dunia. Kemudian memberi pahala atas perbuatan baik mereka di akhirat.
Berbeda dengan Mu’tazilah yang bertitik-tolak dari pertimbangan akal, al-Asy’ari maupun al-Baqillani berpandangan bahwa perbuatan baik tidak wajib mendapat pahala dari Allah. Dan orang yang berbuat maksiat tidak wajib menerima hukuman. Apabila Allah menyiksa semua penduduk langit dan bumi, Dia tidak zalim terhadap mereka.5
Berdasarkan uraian dan dalil-dalil di atas, mereka berpendapat bahwa memberikan pahala kepada hamba-Nya yang taat bukanlah kewajiban bagi Tuhan. Menurut al-Asy’ari, Allah adalah pemberi kewajiban maka tidak ada sesuatu pun yang wajib terhadap-Nya. Al-Asy’ari bependapat bahwa berdasarkan akal tidak dapat dikatakan Allah wajib menerima taubat orang yang berdosa besar. Selanjutnya ia berpandangan bahwa sesuai dengan petunjuk wahyu dan hadis, Allah akan mengabulkan taubat orang yang bertaubat dan mengabulkan doa orang yang dalam keadaan terpaksa.
Al-Baqillani memandang bahwa pendapat yang mengatakan pemberian pahala merupakan kewajiban Tuhan adalah buruk menurut akal. Menurutnya tidak mustahil Allah mengampuni dan memasukkan orang yang berbuat maksiat ke dalam surga. Kekafiran dan kejahatan
4 Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, jilid 4, (Istambul: Dar al-Fikr, 1981), hlm. 10, ‘Abd al- Jabbar, Syarh, op.cit., hlm. 81.
5 Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Juz I, (Kairo: Muassasah al-Halabiy, 1387 H./1968 M.), hlm. 88.
mereka bukan merupakan alasan bagi-Nya untuk memasukkan mereka ke neraka. Siksaan Allah terjadi bukan kerena suatu sebab, siksaan adalah hak Allah swt. Dia boleh melaksanakannya dan boleh meninggalkannya.6
Al-Baqillani berpandangan bahwa Allah tetap baik meskipun tidak menyiksa orang yang berbuat jahat. Kaum muslimin juga sepakat bahwa mengampuni orang yang berbuat jahat itu baik. Oleh karena itu, bukan suatu yang buruk bagi Allah tidak melaksanakan ancamannya. Dalam memperkuat pendapatnya itu, ia mengemukakan ayat ”Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.64: 14).7
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah boleh mengampuni semua atau sebagian orang yang berdosa dan menyiksa sebagian yang lain. Namun sesuai dengan ketentuan Nabi Muhammad dan ijma’ kaum Muslimin, ia berpendapat bahwa Allah tidak akan mengampuni seorang pun diantara orang kafir. Semua orang kafir masuk neraka. Demikian pula semua orang musyrik masuk neraka. Meskipun dikatakan “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”.(QS.39: 53), menurutnya didalamnya tidak termasuk musyrik dan kafir. Musyrik tidak mendapat ampunan Allah sesuai dengan salah satu ayat-Nya “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa yang mempersekutukan sesuatu dengan Dia.” (QS. 4: 116) dan orang kafir tidak mendapat ampunan-Nya sesuai dengan ayat “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya niscaya kami hapus kesalahan-kesalahanmu.”(Qs. 4: 31).8
Pendapat di atas sejalan dengan pandangan al-Asy’ari bahwa pelaku dosa besar yang tidak bertaubat hukumnya terserah Allah. Ia boleh mengampuninya berdasarkan rahmat-Nya atau karena syafa’at dari nabi Muhammad saw. Ia juga boleh menghukumnya kemudian memasukkannya ke surga. Disamping itu, pelaku dosa besar tidak kekal dalam neraka bersama orang kafir.9
Al-Baqillani mengatakan, bahwa lafaz al-kabair dalam ayat diatas maksudnya adalah al-kufr. Kemudian dengan mengemukakan ayat
6 Al-Baqillani, Tamhid, op.cit.
7 Ibid., hlm. 401-402.
8 Ibid., hlm. 402-404.
9 Al-Syahrastani, al-Milal, 1, op.cit., hlm. 88.