BAB IV KONSEP IMAN DAN KUFUR
A. Teologi Islam Tentang Perbuatan Manusia dan
A. Teologi Islam Tentang Perbuatan Manusia dan Perbuatan
daya untuk mewujudkan perbuatannya. Manusia tak ubahnya seperti wayang bergerak bila digerakkan oleh dalang.3 Semua perbuatan manusia merupakan perbuatan yang dipaksakan atas dirinya, termasuk perbuatan- perbuatan mengerjakan kewajiban, menerima pahala dan menanggung siksaan.4 Oleh Karena itu menurut Harun Nasution, manusia dikatakan berbuat bukan dalam arti sebenarnya, tetapi dalam arti majazi atau kiasan.
Seluruh perbuatan manusia tidak merupakan perbuatan manusia, tidak merupakan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya.5
Kedua pandangan tersebut di atas, yakni antara paham Qadariah dan paham Jabariah nampaknya bertolak belakang, ibarat dua kutub yang berlawanan. Disatu pihak mengakui adanya kebebasan manusia dan dipihak lain, Tuhan berkuasa mutlak dalam terciptanya perbuatan manusia.
2. Aliran Mu’tazilah dan Aliran Asy’ariyah.
Aliran Mu’tazilah hampir sama dengan aliran Qadariah karena ada persesuaian pendapat antara keduanya. Pendapatnya adalah bahwa manusia mempunyai kekuasaan atau daya (qudrah) untuk menciptakan perbuatannya secara mandiri dan merdeka tanpa keterlibatan Tuhan. Para penganutnya meniadakan anggapan bahwa segala sesuatunya terjadi sesuai apa yang sudah ditetapkan (Qada dan Qadar) Allah.6
Sedangkan aliran Asy’ariyah adalah aliran yang condong kepada aliran Jabariah yaitu manusia dipandang lemah, banyak tergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan.7 Perbuatan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena pencipta menciptakannya.
Adapun kaum Asy’ariyah menolak konsepsi bahwa Allah melakukan sesuatu karena satu atau beberapa maksud dan tujuan. Mereka menyatakan bahwa adanya maksud atau tujuan, itu hanya berlaku untuk manusia dan makhluk serupa lainnya. Namun Allah tak seperti itu, karena adanya maksud
3 Lihat, Harun Nasution, Islam, loc. cit.
4 Al-Syahrastani, al-Milal Wa al-Nihal, Jilid I, (Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi Wa Awladuhu, 1967), hlm. 87.
5 Lihat Harun Nasution, Teologi, op. cit, hlm. 34.
6 Ahmad Amin, Fajr al-Islam (Kairo: al-Nahdah al-Misriyah, 1975) hlm. 286-287.
7 Lihat Harun Nasution, Islam, op. cit., hlm. 106.
dan tujuan menunjukkan si pelaku berada di bawah kendali maksud dan tujuan itu. Allah tidak seperti itu. Allah tidak dibatasi apapun dan tidak di bawah kendali apapun, entah itu batas atau kendali yang berupa maksud dan tujuan.8
Berkaitan dengan penciptaan alam seisinya dan segala perbuatannya disertai dengan alasan dengan tujuan tertentu. Dalam hal ini, ulama mutakallimin mempunyai pandangan-pandangan yang berbeda. Mayoritas Mu’tazilah berpandangan bahwa perbuatan-perbuatan Allah berkaitan dengan tujuan-tujuan tertentu karena Dia Maha Bijaksana, yang tidak akan berbuat kecuali disertai tujuan. Tujuan-tujuan itu dalam bentuk pemberian manfaat kepada makhluknya. Allah tidak menciptakan sesuatu yang tidak mempunyai nilai manfaat, dan atau kebaikan bagi hamba-hamba-Nya.9
Menurut Ibrahim al-Nidam, Allah tidak mampu berbuat yang menyalahi kebaikan hamba-Nya, tidak mampu mengurangi sebutir kenikmatan penghuni Surga dan tidak mampu menambah atau mengurangi sedikitpun siksa penghuni Neraka. Hal ini, jika terjadi merupakan manifest kezaliman-Nya.10
3. Aliran Maturidiyah
Dalam sejarah aliran teologi Islam, dikenal dua aliran Maturidiyah, yaitu Maturidiyah Samarkhan dan Maturidiyah Bukhara. Penganut aliran Maturidiyah Samarkhan mendapat pengaruh dari Abu Hanifah (yang dikenal banyak memakai rasio dalam pandangan keagamaannya) dibawah pimpinan al-Maturidi.11 Sedang kelompok Maturidiyah Bukhara yang dipimpin oleh al-Bazdawi banyak condong ke paham Asy’ariyah.
Dalam hal af’al al-ibad, Abu Mansur al-Maturidi berusaha untuk mencari jalan tengah antara kandungan ayat-ayat al-Qu’ran (Q.S. 6:102) dan (Q.S.6:17) dengan (Q.S. 41: 46). Ayat-ayat ini merupakan sebahagian dari ayat-ayat yang membawa kepada paham Jabariyah dan Qadariyah. Al-
8 Murtada Mutahhari, Introduction to Kalam, alih bahasa Ilyas Hasan dengan judul, Mengenal Ilmu Kalam, Cet. I; (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), hlm. 93.
9 Abu Hasan al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyah, Cet. I, (Mesir: Makrabah al-Nahdah, t. th.), hlm. 292.
10 Al-Bagdadi, Al-Farqu baina al-Firaq, (Libanon: Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, t.th), hlm. 80.
11 Harun Nasution, Teologi Islam, op.cit., hlm. 78
Maturidi mencoba merumuskan pemikirannya yang menetapkan bahwa Allah harus bersifat seperti yang diinginkannya dan manusia harus pula mempunyai bagian dalam perbuatannya. Menurutnya, Allah adalah satu- satunya pencipta yang Maha Kuasa dan Maha Adil, disamping itu manusia memiliki daya yang berpengaruh terhadap perbuatannya. Atas dasar inilah diberlakukan pemberian upah dan siksaan kepada manusia yang melakukan suatu perbuatan.
Al-Maturidi berkesimpulan bahwa terjadinya suatu perbuatan adalah hasil dari perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia. Perbuatan Tuhan lain dari perbuatan manusia.12 Ia menegaskan bahwa pencipta perbuatan adalah Allah karena ia satu-satunya pencipta. Pencipta di sini dalam arti mewujudkan sesuatu dari tidak ada menjadi ada, disamping itu, manusia adalah fa’il. Manusia mempunyai daya untuk memilih tentang sesuatu yang dikerjakannya.
Adapun golongan Maturidi Bukhara yang dipelopori oleh al-Bazdawi berpendapat bahwa dalam perwujudan perbuatan terdapat dua perbuatan, perbuatan Tuhan dan perbuatan manusi. Perbuatan Tuhan adalah penciptaan perbuatan manusia dan bukan penciptaan daya. Perbuatan ini disebut maf’ul. Perbuatan manusia hanyalah melakukan perbuatan yang diciptakan itu, perbuatan ini disebut fa’il.13
Dengan demikian, jelas bahwa perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan karena perbuatan Tuhan adalah penciptaan perbuatan itu. Jadi akhirnya paham al-Bazdawi sama dengan paham Asy’ari bahwa daya manusia tidak efektif dalam perwujudan perbuatannya.
Abu Mansur al-Maturidi sependapat dengan Mu’tazilah dalam hal bahwa Allah tidak menciptakan makhluknya dengan sia-sia, perbuatan- perbuatan-Nya selalu memiliki nilai hikmah, dan hikmah itulah yang dikehendakinya. Al-Maturidi sependapat dengan Muhammad Abduh, bahwa perbuatan-perbuatan Allah selalu mengandung hikmah, tidak sia- sia dan tidak berbohong memenuhi janjinya.14
12 Abu Mansur al-Maturidi, Kitab al-Tauwid, (Istambul: Al-Maktabah al-Islamiyah,1979), hlm. 238.
13 Lihat Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi, Kitab Usul al-Din, (Kairo: Isa al-Babi al- Halabi, 1963), hlm. 115.
14 M. Abduh, Risalah Tauhid, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1986), hlm. 28-29
B. Analisis Pemikiran Tentang Perbuatan Manusia dan