BAB III PEMBAHASAN
B. Analisis Penentuan Harga Jual Dengan Metode Cost Plus Pricing
B. Analisis Penentuan Harga Jual Dengan Metode Cost Plus Pricing
biaya non produksi sebesar Rp. 2.142. Dengan demikian laba bersih pedagang sate sebesar Rp. 97.858.
b. Perhitungan laba rugi pedagang sate dengan metode cost plus pricing
Harga jual yang didapatkan melalui perhitungan dengan metode cost plus pricing yaitu sebesar Rp. 14.071 atau jika dibulatkan akan menjadi Rp. 15.000/ porsi, untuk penjulan 30 porsi akan menghasilkan Rp. 450.000 sebagai hasil penjualan tiap hari. Jika dikurangi dengan taksiran biaya penuh sesuai dengan perhitungan dengan metode cost plus pricing sejumlah Rp. Rp.
322.142, maka akan didapatkan laba bersih dalam sehari sejumlah Rp. 127.858.
c. Perbandingan laba bersih pedagang sate
Perbandingan laba bersih yang diperoleh pedagang sebesar Rp. 97.858 dengan perhitungan menggunakan metode cost plus pricing sebesar Rp. 127.858 adalah sebesar Rp. 30.000 lebih rendah. Maka dari itu, pedagang harus melakukan perhitungan harga pokok produksi dalam menentukan harga jual yang tepat sesuai dengan teori akuntansi yang ada agar pedagang tidak menetapkan harga terlalu tinggi namun tetap memperoleh laba sesuai dengan yang diharapkan.
2. Pedagang Mainan Baling- Baling
Pedagang mainan baling-baling memproduksi 30 unit dalam sehari, maka perhitungan laba rugi pedagang mainan baling-baling bisa diterangkan sebagai berikut:
a. Perhitungan laba rugi oleh pedagang mainan baling-baling
Harga jual mainan baling-baling oleh pedagang mainan seharga Rp. 10.000/ unit, maka dalam penjualan 30 unit baling- baling menghasilkan Rp. 300.000 sebagai hasil penjualan. Jika dikurangi dengan biaya bahan baku yang dikeluarkan oleh pedagang mainan baling-baling untuk memproduksi mainan baling-baling sejumlah Rp. 75.000, maka didapatkanlah perhitungan laba kotor sejumlah Rp. 225.000.71
Dikarenakan biaya tenaga kerja tidak dihitung sebagai biaya oleh pedagang dan tidak ada biaya lain yang dikeluarkan, maka laba kotor sama dengan laba bersih pedagang mainan baling-baling yaitu sebesar Rp. 225.000.
b. Perhitungan laba rugi pedagang mainan baling-baling dengan metode cost plus pricing
Harga jual yang didapatkan melalui perhitungan dengan metode cost plus pricing yaitu sebesar Rp. 8.400 atau dibulatkan menjadi Rp. 8.500, untuk penjulan 30 unit akan menghasilkan sejumlah Rp. 255.000 sebagai hasil penjualan tiap hari. Jika
71 Observasi, 14 September 2019
dikurangi dengan taksiran biaya penuh sesuai dengan perhitungan dengan metode cost plus pricing sejumlah Rp. Rp. 152.000, maka didapatkanlah laba bersih sejumlah Rp. 103.000.
c. Perbandingan laba bersih pedagang mainan baling-baling
Perbandingan laba bersih yang diperoleh pedagang sebesar Rp. 97.858 dengan perhitungan menggunakan metode cost plus pricing sebesar Rp. 127.858 adalah sebesar Rp. 30.000 lebih rendah
Perbandingan laba bersih yang diperoleh pedagang sebesar Rp. 225.000 dengan perhitungan menggunakan metode cost plus pricing sebesar Rp. 103.000 adalah sebesar Rp. 122.000 lebih tinggi. Maka dari itu, pedagang harus melakukan perhitungan harga pokok produksi dan menentukan harga jual yang tepat sesuai dengan teori akuntansi yang ada agar pedagang tidak menetapkan harga terlalu tinggi dan tetap memperoleh laba sesuai dengan yang diharapkan.
3. Pedagang Minuman Es Blender
Pedagang es blender memproduksi 90 gelas dalam sehari, maka perhitungan laba rugi pedagang minuman es blender bisa dipaparkan sebagai berikut:
a. Perhitungan laba rugi oleh pedagang es blender
Harga jual es blender oleh pedagang seharga Rp. 4.000/
gelas, maka dalam penjualan 90 gelas menghasilkan Rp. 360.000
sebagai hasil penjualan. Jika dikurangi dengan biaya bahan baku yang dikeluarkan oleh pedagang minuman untuk memproduksi es blender sejumlah Rp. 200.000, maka didapatkan perhitungan laba kotor sejumlah Rp. 160.000.72
Dikarenakan biaya tenaga kerja tidak dihitung sebagai biaya oleh pedagang, maka laba kotor tadi hanya dikurangi oleh biaya non produksi sebesar Rp. 2.142. Dengan demikian laba bersih pedagang sate sebesar Rp. 157.858.
b. Perhitungan laba rugi pedagang minuman es blender dengan metode cost plus pricing
Harga jual yang didapatkan melalui perhitungan dengan metode cost plus pricing yaitu sebesar Rp. 3.357 atau dibulatkan menjadi Rp. 3.500/ gelas, untuk penjulan 90 gelas akan menghasilkan Rp. 315.000 sebagai hasil penjualan tiap hari. Jika dikurangi dengan taksiran biaya penuh sesuai dengan perhitungan dengan metode cost plus pricing sejumlah Rp. Rp. 202.142, maka didapatkanlah laba bersih sejumlah Rp. 112.858.
c. Perbandingan laba bersih pedagang es blender
Perbandingan laba bersih yang diperoleh pedagang sebesar Rp. 157.858 dengan perhitungan menggunakan metode cost plus pricing sebesar Rp. 112.858 adalah sebesar Rp. 45.000 lebih tinggi. Maka dari itu, pedagang harus melakukan perhitungan
72 Observasi, 14 September 2019
harga pokok produksi dengan memasukkan semua biaya-biaya yang dikeluarkan dan menentukan harga jual yang tepat sesuai dengan teori akuntansi yang ada agar pedagang tidak menetapkan harga terlalu tinggi namun tetap dapat memperoleh laba sesuai dengan yang diharapkan.
4. Pedagang Makanan Ringan
Pedagang cilok memproduksi 500 biji dalam sehari, maka perhitungan laba rugi pedagang cilok bisa diterangkan sebagai berikut:
a. Perhitungan laba rugi oleh pedagang cilok
Harga jual cilok oleh pedagang seharga Rp. 1.000/ biji, maka dalam penjualan 500 biji sate menghasilkan Rp. 500.000 sebagai hasil penjualan. Jika dikurangi dengan biaya bahan baku yang dikeluarkan oleh pedagang cilok untuk memproduksi cilok sejumlah Rp. 350.000, maka didapatkan perhitungan laba kotor sejumlah Rp. 150.000.73
Dikarenakan biaya tenaga kerja tidak dihitung sebagai biaya oleh pedagang, maka laba kotor sama dengan laba bersih pedagang cilok yaitu sebesar Rp. 150.000.
b. Perhitungan laba rugi pedagang cilok dengan metode cost plus pricing
Harga jual yang didapatkan melalui perhitungan dengan metode cost plus pricing yaitu sebesar Rp. 760 atau dibulatkan
73 Observasi, 14 September 2019
menjadi Rp. 800/ biji, untuk penjulan 500 biji akan menghasilkan 400.000 sebagai hasil penjualan tiap hari. Jika dikurangi dengan taksiran biaya penuh sesuai dengan perhitungan dengan metode cost plus pricing sejumlah Rp. Rp. 280.000, maka didapatkanlah laba bersih sejumlah Rp. 120.000.
c. Perbandingan laba bersih pedagang cilok
Perbandingan laba bersih yang diperoleh pedagang sebesar Rp. 150.000 dengan perhitungan menggunakan metode cost plus pricing sebesar Rp. 120.000 adalah sebesar Rp. 30.000 lebih tinggi. Maka dari itu, pedagang harus melakukan perhitungan harga pokok produksi dan menentukan harga jual yang tepat sesuai dengan teori akuntansi yang ada agar pedagang tidak menetapkan harga terlalu tinggi dan tetap memperoleh laba sesuai dengan yang diharapkan.
Dari keempat jenis usaha yang penulis teliti memperlihatkan kesamaan pola dalam perhitungan biaya produksi yaitu tidak memperhitungkan biaya tenaga kerja langsung sebagai bagian dari biaya produksi, sehingga berakibat kepada kesalahan dalam penentuan harga pokok produksi untuk tiap unit dagangan yang dijual. Hasil penelitian penulis menunjukkan rata-rata pedagang asongan di Taman Sangkareang menetapkan harga melebihi harga jual yang didapatkan melalui perhitungan menggunakan metode cost plus pricing.
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang dikemukakan tentang analisis penentuan harga jual dengan metode cost plus pricing dalam meningkatkan laba yang dihasilkan pedagang asongan di Taman Sangkareang Kota Mataram dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pedagang asongan di Taman Sangkareang terdiri dari pedagang dengan usia produktif berjumlah 24 orang dengan jenis usaha mulai dari pedagang makanan berat yaitu penjual sate, pedagang makanan ringan yaitu penjual cilok, pedagang mainan yaitu penjual baling- baling dan pedagang minuman yaitu penjual es blender.
Terdapat kesamaan pola dalam perhitungan biaya produksi yaitu tidak memperhitungkan biaya tenaga kerja langsung sebagai bagian dari biaya produksi, sehingga berakibat kepada kesalahan dalam penentuan harga jual yang tidak memadai jika dibandingkan dengan metode cost plus pricing.
2. Penentuan harga jual yang dilakukan pedagang tidak menggunakan presentase margin yang jelas sehingga keuntungan yang diperoleh tidak bisa ditentukan. Harga jual yang ditentukan oleh pedagang lebih besar daripada perhitungan harga jual berdasarkan metode cost plus pricing. Sehingga bisa disimpulkan dari pemaparan di atas bahwa
62
perolehan laba yang didapat pedagang asongan di Taman Sangkareang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perolehan laba menggunakan metode cost plus pricing, namun penghitungan menggunakan metode cost plus pricing lebih tepat sasaran sesuai dengan pembagian pos-pos biaya produksi.
B. Saran
1. Bagi Pedagang
Berdasarkan hasil penelitian diketahui adanya kesalahan dalam perhitungan harga pokok produksi sehingga membuat penentuan harga jual tidak memadai untuk menghasilkan laba sesuai dengan yang diharapkan oleh pedagang. Maka dari itu, penulis menyarankan untuk lebih menyadari faktor-faktor produksi yang mempengaruhi harga pokok produksi sehingga ketepatan biaya produksi disa dihasilkan dan penentuan harga jual lebih mendekati untuk mendapatkan laba yang sesuai dengan harapan pedagang
2. Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan menelitia faktor lain yang dapat mempengaruhi penentuan harga jual pedagang yang ada di Taman Sangkareang ataupun destinasi wisata lainnya yang ramai pengunjung. Peneliti selanjutnya dapat juga meneliti penentuan harga pokok produksi yang menjadi masalah utama pedagang, sehingga kekeliruan dalam penetapan harga jual bisa diatasi.
DAFTAR PUSTAKA
Andre Henri Slat, “Analisis Harga Pokok Produk Dengan Metode Full Costing Dan Penentuan Harga Jual”, Jurnal EMBA, Vol. 1 Nomor 3, Juni 2013.
Buchari Alma, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, Bandung: Alfabeta, 2004.
Damsar, Sosiologi Ekonomi, Jakarta: Rajawali Press, 1997.
Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran, Yogyakarta: Andi, 2008.
https://dolandolen.com/travel-directory/taman-sangkareang/
Hubaidillah, “Aktivitas Transaksi Pedagang Cinderamata Khas Lombok Di Kota Mataram Perspektif Etika Bisnis Islam”, Skripsi, IAIN Mataram, 2015.
Hurlock Elizabeth B, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga, 1991.
Kuncoro, Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta: Erlangga, 2009.
Kurniawan Saifullah, Studi Kelayakan Bisnis, Jakarta: Kencana, 2006.
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT Rosda Karya, 2010.
M. Mursid, Manajemen Pemasaran, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014.
Marsudi Djojodipuro, Teori Harga, Jakarta: LPFE UI, 1991.
Moh. Prabundu Tika, Metodologi Riset Bisnis, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Muh. Nazir, Metode Peneitian, Bogor: Ghalia Indonesia, 2005.
Mulyadi, Akuntansi Biaya, Yogyakarta: Aditya Media, 2009.
Nurazizah, “Penentuan Harga Jual Beli Mutiara Perspektif Etika Bisnis Islam, Study Kasus Di Lingkungan Karang Genteng Kelurahan Pagutan Kota Mataram”, Skripsi, IAIN Mataram, 2015.
Peraturan Daerah Kota Mataram Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau.
Philip Kotler dan Gary Armstrong, Prinsip-prinsip Pemasaran, Jakarta: Erlangga, 2003.
Prathama Rahardja, Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi & Makroekonomi), Jakarta: LPFE UI, 2008.
Sudono Sukirno, Pengantar Bisnis, Jakarta: Kencana, 2006.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung:Alfabeta, 2014.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta:
Rineka Cipta, 1996.
Suherman Rosyidi, Pengantar Teori Ekonomi, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2006.
Tim Penyususun, Pedoman Penulisan Skripsi, Mataram: UIN Mataram, 2018.
LAMPIRAN