BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Analisis Strategi Penyelesaiaan Non Performing Financing
atau faktor apa yang menyebabkan pembiayaan tersebut mengalami kemacetan apakah karena nasabahnya bangkrut atau memang nasabahnya tidak mau bayar. Setelah mengetahui masalahnya maka langkah selanjutnya adalah memeberikan solusi. Solusi yang di berikanpun juga berbeda-beda adapun nasabah yang usahanya masih dapat di tolong atau nasabah yang tidak dapat memenuhi kewajiban karena sakit, maka akan diberikan toleransi dan di bantu untuk mengembangkan kembali usahanya misalnya memperpanjang jangka waktu pembayaran. Selanjutnya jika setelah diberikan solusi maka akan dilihat perubahannya, jika tidak ada perubahan dan nasabah telat bayar satu bulan maka diberikan surat peringatan satu (SP 1) , jika dua bulan surat peringatan dua (SP 2) dan jika tiga bulan surat peringatan tiga (SP 3). Jika setelah di berikan surat peringatan tersebut tepapi tidak ada kemajuan maka di berikan solusi lelang jaminan. Kemudian nasabah yang memang bangkrut (usahanya tdak dapat di tolong) dan tidak dapat mengembalikan pinjaman maka di usulkan untuk menjual jaminannya secara pribadi atau bisa juga di selesaikan dengan cara kekeluargaan dengan cara mencari keluarga nasabah yang mampu menyanggupi untuk melunasi sisa angsuran pembiayaan nasabah atau juga bisa menggunakan jalur hukum.62
D. Analisis Strategi Penyelesaiaan Non Performing Financing di PT. BPRS Metro
maupun menyalurkan dana dalam bentuk pembiayaan. Dalam penyaluran pembiayaan tentunya tidak akan terlepas dari risiko yang dihadapi. Risiko tersebut biasa disebut dengan risiko pembiayaan. Risiko pembiayaan adalah risiko yang timbul akibat kegagalan penerima pembiayaan atau nasabah dalam memenuhi tanggung jawab atau juga dapat dikatakan pembiayaan macet.
Pembiayaan bermasalah pada dasarnya disebabkan oleh faktor intern dan ekstern. Faktor internal dapat berupa ketidakmampuan dalam mengelola usaha (mismanagement) dan terjadi pemanfaatan dana yang tidak sesuai dengan tujuan pemberian pembiayaan (side streaming). Sedangkan faktor eksternal lebih disebabkan oleh kondisi makro seperti inflasi, fluktuasi harga dan nilai tukar mata uang asing, serta kondisi industri yang tidak berkembang saat ini (sunset industry). Kedua faktor tersebut tidak dapat dihindari mengingat adanya kepentingan yang saling berkaitan sehingga mempengaruhi kegiatan usaha bank
Pembiayaan bermasalah atau pembiayaan macet pada lembaga keuangan bukanlah hal yang baru untuk di dengar. Tidak sedikit lembaga keuangan ambruk karena tidak mampu memanajemen masalah dengan baik. Pembiayaan bermasalah akan mengalami penurunan atau sudah tidak lagi menghasilkan bagi pihak bank.
Bahkan pembiayaan bermasalah sudah pasti akan mengurangi pendapatan bank.
Karena pembiayaan bermasalah yang semakin besar, akan menambah pula biaya pencadangan yang harus di sisihkanatau di kenal dengan istilah PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif).63
Sementara strategi penanganan pembiayaan bermasalah merupakan tugas utama yang harus di lakukan oleh lembaga keuangan ketika pembiayaan yang di
63 Nurjannah dan Dewi Laela Hilyatim, “Strategi Penyelesaiaan Pembiayaan Bermasalah Pada Pembiayaan Analisis Penerapan Akad Qard Wal Ijarah Pada Pembiayaan Talangan Haji Di Bank Syariah Mandiri Cabang Purwokwrto” Vol. 4 No. 2, Juli 214, 59
berikan kepada nasabah mengalami kemacetan. Biasanya sebuah lembaga keuangan memiliki strategi tersendiri untuk mengatasi pembiayan bermasalah. Strategi penyelesaiaan pembiayaan bermasalah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
6. Rescheduling : hal ini dilakukan dengan cara memperpanjang jangka waktu pembiayaan, dimana nasabah diberikan keringanan dalam jangka waktu pembiayaan.
c. Memperpanjang jangka waktu pembiayaan
Dalam hal ini si nasabah diberikan keringanan dalam masalah jangka waktu pembiayaan misalnya perpanjangan jangka waktu pembiayaan dan 6 bulan menjadi 1 tahun sehingga si nasabah mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembalikannya
d. Memperpanjang jangka waktu angsuran
Memperpanjang angsuran hampir sama dengan jangka waktu pembiayaan dalam hal ini jangka waktu angsuran pembiayaan nya diperpanjang pembayarannya pun misalnya dari 36 kali menjadi 48 kali dan hal ini tentu saja jumlah angsuran pun menjadi mengecil seiring dengan penambahan jumlah angsuran
7. Reconditioning : perubahan sebagian atau seluruh persyaratan pembiayaan tanpa menambah sisa pokok kewajiban nasabah yang harus di bayarkan kepada bank, diantaranya adalah:
a. Perubahan jadwal pembayaran b. Perubahan jumlah angsuran c. Perubahan jangka waktu
8. Restructuring : perubahan persyaratan pembiayaan antara lain yaitu penambahan dana fasilitas pembiayaan bank.
9. Kombinasi
Merupakan kombinasi dari ketiga jenis di atas 10. Penyitaan jaminan
Penyitaan jaminan merupakan jalan terakhir apabila nasabah sudah benar- benar tidak punya etiket, baik ataupun sudah tidak mampu lagi untuk membayar semua hutang hutangnya.64
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan oleh peneliti di BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung kemudian di analisis dengan teori- teori yang telah di bahas maka Strategi yang di lakukan oleh BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung dalam menyelesaikan pembiayaan bermasalah menggunakan banyak cara, semua tergantung pada berat atau ringannya permasalahan yang terjadi antara lain:
1. Strategi penyelesaiaan pembiayaan bermasalah kategori kolektabilitas 1 yaitu:
a. Penagihan secara intensif atau melakukan pendekatan kepada nasabah yaitu dengan mengingatkan kepada nasabah bahwa pembiayaan akan memasuki waktu jatuh tempo. Maka hal-hal yang di lakukan oleh BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung adalah melakukan pendekatan kepada nasabah yaitu dengan bycall dalam kurun waktu 3 hari sebelum jatuh tempo,
64 Wangsa Widjaja, Pembiayaan Bank Syariah (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012), 448
untuk mengingatkan nasabah bahwa waktu pembayaran pembiayaan sudah akan memasuki waktu jatuh tempo.
b. Setelah terlihat mulai tersendat dalam angsuran kemudian melakukan pendekatan hati (menanyakan masalah dan memberikan solusi) selanjutnya akan dilihat perubahannya.
2. Strategi penyelesaiaan pembiayaan bermasalah kategori kolektabilitas 2 yaitu:
a Pemberian surat peringatan atau teguran. Dalam hal ini dilakuakn dengan cara jika nasabah mengalami tunggakan pembayaran 1 bulan maka pihak BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung memberikan surat peringatan (SP) kemudian jikatunggakan melampaui 2 bulan maka akan di berikan surat peringatan (SP) 2 dan seterusnya jika nasabah mengalami tunggakan pembayaran sampai 3 bulan maka pihak BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung akan memberikan surat peringatan (SP) 3.
b Rescheduling (penjadwalan kembali) merupakan perunahan jadwal kewajiban nasabah atau jangka waktunya. Jika bagi nasabah pembiayaan bermasalah tidak mampu membayar pada tanggal jatuh tempo, dengan ketentuan tidak menambah jumlah tagihan yang tersisa, perpanjangan masa pembayaran yang harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, dan yang memperoleh fasilitas rescheduling hanyalah nasabah yang memiliki prospek usaha untuk bangkit kembali. Dalam hal ini langkah yang dilakukan oleh BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung yaitu dengan memberikan keringanan berupa merubah jangka waktu pembiayaan misalnya perpanjangan jangka waktu dari enam bulan menjadi satu tahun sehingga nasabah yang mengalami pembiayaan bermasalah dalam pembayaran pembiayaan mempunyai waktu yang lama untuk mengembalikan pembayaranpembiayaan
yang kurang lancar , jadwal (pembayaran tenggang waktu) jangka waktu pembiayaan di perpanjang pembayaran misal 56 kali menjadi 70 kali dengan cara ini tentu saja jumlah angsuran pun smakin mengecil seiring dengan penambahan jumlah angsuran. Kemudian harapannya adalah agar dapat menyehatkan kembali pembayaran kewajiban.
c Reconditioning (persyaratan kembali) merupakan perubahan jumlah angsuran, bahan sebagian atau seluruh persyaratan pembiayaan tanpa menambah sisa pokok kewajiban nasabah kepada bank, meliputi: pengurangan jadwal pembayaran, perubahan jumlah angsuran, perubahan jangka waktu dan pemberian potongan. Pihak BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung dalam melakukan penyelamatan pembiayaan dengan cara merubah sebagian atau seluruh persyaratan pembiayaan yang tidak terbatas hanya pada perubahan jadwal pembiayaan, jangka waktu, dan persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut perubahan maksimum pembiayaan.
d Restructuring (penataan kembali) merupakan perubahan persyaratan pembiayaan, meliputi: penambahan dana fasilitas pembiayaan bank. Konversi akad pembiayaan. BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung dalam melakukan restructuring (penataan kembali) terhadap nasabah yang belum sanggup melunasi pembiayaan yang telah di terima dengan cara nasabah di beri kesempatan dengan menambah dana fasilitas pembiayaan, konversi akad pembiayaan dan konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal, sementara pada perusahaan nasabah yang dapat di sertai dengan rescheduling atau reconditioning untuk memperbaiki usaha nasabahketika nasabah tersebut mulai mulai mengalami masalah dalam pembayaran pembiayaa.
3. Strategi penyelesaiaan pembiayaan bermasalah kategori kolektabilitas 3 yaitu:
a Mengajukan gugatan ke pengadilan umum /agama untuk menegakkan hukum dan keadilan. Hal ini akan di tempuh oleh BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung jika langkah-langkah sebelumnya tidak menemukan solusi permasalahan dan nasabah sudah benar-benar tidak mempunyai itikad baik ataupun sudah tidak mampul lagi untuk membayar hutang-hutangnya atau kewajibannya untuk memberi keputusan sengketa di bidang perbankan syariah.
b Lelang, hal ini akan dilakukan oleh pihak BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung jika nasabah kabur dan tidak mau menjamin sukarela jaminan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi yang paling tepat untuk mengatasi penyelesaiaan non performing financing di PT. BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung adalah dengan menggunakan strategi:
rescheduling (penjadwalan kembali), reconditioning (persyaratan kembali) dan restructuring (penataan kembali). Hal ini dapat dilihat dari NPF yang semakin tahun semakin menurun yaitu pada tahun 2015 mencapai 10% dan pada tahun 2018 turun menjadi 4%.
Data NPF BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung65 Tahun Jumlah
Pembiayaan
Pembiayaan Bermasalah
Non Performing Financing (NPF)
2015 482 50 10 %
2016 349 23 6 %
2017 311 14 4 %
2018 288 13 4 %
65 Wawancara kepada bapak Enda Suhendra selaku Kacab 26 Februari 2019
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan yang pembayaran angsuran pokok dan/atau bagi hasilnya telah lewat 90 hari setelah jatuh tempo, atau pembiayaan yang pembayarannya secara tepat waktu sangat diragukan. Non Performing Financing secara luas dapat didefinisikan sebagai suatu pembiayaan dimana pembayaran yang dilakukan tersendat-sendat dan tidak mencukupi kewajiban minimal yang ditetapkan sampai dengan pembiayaan yang sulit untuk dilunasi atau bahkan tidak dapat ditagih.
Faktor-faktor yang menyebabkan pembiayaan bermasalah adalah adanya unsur kesengajaan yaitu untuk menguntungkan diri sendiri atau nasabah tidak mau mengembalikan pembiayaan padahal nasabah tersebut mampu. Kemudian adanya unsur ketidaksengajaan yaitu dimana nasabah mempunyai keinginan untuk mengembalikan pembiayaan, tetapi tidak mampu bayar karena kesulitan dalam kondisi ekonomi nasabah yang semakin hari semakin menurun.
Strategi penyelesaiaan non performing financing di BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung dilakukan dengan banyak cara, semua tergantung pada berat atau ringannya permasalahan yang terjadi, antara lain: penagihan secara intensif, melakukan pendekatan hati, pemberian surat peringatan atau teguran, Rescheduling (penjadwalan kembali), Reconditioning (persyaratan kembali), Restructuring (penataan kembali), Mengajukan gugatan ke pengadilan umum /agama dan Lelang jaminan. Dengan menggunakan beberapa strategi tersebut BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung dapat meminimalisir atau mengurangi kerugian yang terjadi atas pemberian pembiayaan.
B. Saran
Berdasarkan pembahasan di atas, maka peneliti ingin memberikan beberapa saran yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan dan masukan:
1. Untuk bagian Acount Officer atau bagian Marketing agar lebih berhati-hati dan cermat dalam menganalisis calon nasabah yang akan di berikan pembiayaan yang bertujuan untuk memperkecil kemungkinan terjadinya pembiayaan bermasalah 2. Dalam hal penagihan pembiayaan jangan jenuh atau merasa bosan dalam
menangani pembiayaan bermasalah dan selalu optimis dalam menjalankannya agar dapat menghindari terjadinya lelang jaminan
DAFTAR PUSTAKA
Agustina Tiara, Analisa Penyebab Terjadinya Pembiayaan Macet Dan Penyelesaiaan Terhadap Produk Pembiayaan Ijarah Multijasa,, Skripsi:
2017
Ahmad Ifham, Pedoman Umum Lembaga Keuangan Syari’ah, Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2010
Ascarya Dan Dian Yunita, 2005. Bank Syariah: Gambaran Umum, Jakarta: PPSK.
Beni Ahmad Saebani, 2008. Metode Penelitian, Bandung: CV. Pustaka Setia Cholid Narbuko dan Abu Ahmad, 2010. Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi
Aksara.
Cik Hasan Bisri, 2003. Penuntun Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi Bidang Ilmu Agama, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Departemen Agama RI, 2004. Al-qur’an dan Terjemah, (Surabaya: Mekar Surabaya.
Edi Susilo, 2017. Analisis Pembiayaan Dan Risiko Perbankan Syariah Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Faturrahman Djamil, 2014. Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah, Jakarta: Sinar Grafika.
Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah Deskripsi dan Ilustrasi Cetakan Pertama, Yogyakarta: EKONESIA, 2003, h. 85.
Irnanda Dina, 2018. Penanganan Pembiayaan Bermasalah di PT. BPRS Metro Madani KP. Metro, Tugas akhir.
Kartini Kartono, 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial, Bandung: CV. Mabdar Maju
Kasmir, 2014. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Jakarta: Rajawali Pers.
Khotibul Umam, 2016. Perbankan Syariah:Dasar-dasar dan Dinamika Perkembangannya Di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers
Khotibul Umam, S.H.,LL.M. 2009. Trend pembentukan Bank Umum Syari’ah Pasca Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 (Konsep, Regulasi, dan Implementasi), Yogyakarta : BPFE Yogayakrta.
Lexy J. Moleong, 2009. Metodologi Penelitian, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Masri Sangaribun dan Sofyan Efendi, 1989. Metodologi Penelitian Survey, Jakarta:
LP3ES.
Michael Quinn Patton, 2009. Metode Evaluasi Kualitatif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Muhammad Maulana, 2019 “Jaminan Dalam Pembiayaan Pada Perbankan Di Indonesia”, (Skripsi UIN Ar-Raniry Banda Aceh: 2014) Di akses pada tanggal 7 juli.
Muhammad Syafii Antonio, 2011. Bank Syariah dari Teori ke Praktek, Jakarta:
Gema Insani.
Muhammad, 2002. Manajemen Pembiayaan Bank Syariah (Yokyakarta: UPP AMP YKPN.
Muhammad, 2005. Manajemen Pembiayaan Bank Syariah Yokyakarta: UPP APM YKPN.
Muhammad, 2014. Manajemen Dana Bank Syariah, Jakarta: Rajawali Pers.
Nur Rianto Al Arif, 2012. Lembaga Keuangan Syari’ah Suatu Kajian Teoritis Praktis, Bandung: CV Pustaka Setia.
Nurjanah dan Dewi Laela Hilyatim, 2016. ”Strategi Penyelamatan Pembiayaan Bermasalah Pada Pembiayaan Mudharabah Di Bank Syariah Mandiri Cabang Purwokerto,” Journal No 1 Januari-Juni.
Nurjannah dan Dewi Laela Hilyatim, 2014. “Strategi Penyelesaiaan Pembiayaan Bermasalah Pada Pembiayaan Analisis Penerapan Akad Qard Wal Ijarah Pada Pembiayaan Talangan Haji Di Bank Syariah Mandiri Cabang Purwokwrto” Vol. 4 No. 2, Juli.
Riski Aditya Baskara, 2013. “Pengaruh Non Performing Financing Pembiayaan Mudharabah Dan Musyarakah Pada Bank Muamalat Indonesia,” vol. 4 No 1 Oktober.
S. Nasution, 2012. Metode Research, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Metro, 2013. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Metro.
Suharsimi Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta:
Rineka.
Sutan Remy syahdeini, 2002. Perbankan Syariah dan Kedudukannya Dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia, Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.
Tiara Agustina, 2017. Analisa Penyebab Terjadinya Pembiayaan Macet Dan Penyelesaiaan Terhadap Produk Pembiayaan Ijarah Multijasa,, Skripsi.
Veithzal Rivai Dan Arvian Arifin, 2010. Islamic Banking:Sebuah Teori, Konsep Dan Aplikasi, Jakarta: Bumi Aksara.
Wangsa Widjaja, 2012. Pembiayaan Bank Syariah Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Zubairi Hasan, 2009. Undang-Undang Perbankan Syari’ah Titik Temu Hukum Islam dan Hukum Nasional, Jakarta: PT Rajagrafindo persada.