BAB II LANDASAN TEORI
B. Analisa Pembiayaan
1. Faktor Sumber Daya Manusia
Analisis pembiayaan dilaksanakan oleh Account Officer (AO)
Account Officer adalah petugas yang melakukan pemasaran pembiayaan kemudian melakukan analisis pembiayaan seorang, account officer mengawalinya dengan membuat perencanaan, usaha apa saja yang
23 Ibid.,
24 Edi Susilo, Analisis Pembiayaan Dan Risiko Perbankan Syariah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2017), 136
layak dibiayai di wilayahnya, dan berapa kira-kira dana yang diperlukan untuk menyalurkan pembiayaannya kemudian account officer akan melakukan kunjungan ke usaha nasabah melakukan wawancara menggali sebetulnya apa yang diperlukan oleh nasabah tersebut sehingga dapat membuat suatu keputusan apakah permohonan pembiayaan yang diajukan oleh calon debitur atau debitur pantas untuk di biayai.
Banyak sekali dijumpai nasabah sebetulnya hanya tahu bahwa dia perlu pinjaman tetapi belum jelas berapa dan untuk apa, di sini diperlukan keahlian seorang account officer untuk melakukan probing agar kebutuhan pinjaman memang sesuai dengan keperluan nasabah (ada unsur tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran). account officer juga sekaligus menjadi konsultan, karena bagi nasabah kecil tak jarang mereka bisa bercerita menunjukkan bon-bon bukti penjualan atau pesanan tetapi tak bisa membuat laporan keuangan, di sini account officer bertugas mengajari nasabah agar dapat membuat neraca perkiraan usaha nasabah serta cash flow atau kemampuan membayarnya. Account officer juga harus sensitif apakah nasabah mengatakan yang sebenarnya, di sinilah perlunya melakukan probing cek dan ricek kemudian melakukan analisis selanjutnya account officer akan mengusulkan dalam bentuk memorandum analisis pembiayaan kepada atasannya dan atasan akan meneruskan kedalam analisis pembiayaan kepada atasannya dan atasan akan meneruskan ke dalam komite pembiayaan (loan comittee) untuk mendapat putusan berupa persetujuan maupun penolakan.
Oleh karena itu seorang Account Officer harus memenuhi syarat- syarat sebagai berikut:
a. Sudah biasa dengan formulir analisis dan cara menganalisis.
b. Mengetahui spread sheet program untuk analisis pembiayaan.
c. Memiliki pengetahuan tentang pengertian yang tepat mengenai prinsip- prinsip pembiayaan.
d. Mengetahui prakter/ kebiasaan dalam perdagangan atau perusahaan.
e. Mempunyai wawasan luas dalam bidang keuangan atau permodalan, manajemen, akuntansi, dan ekonomi.
f. Memiliki mental yang kuat sehingga dapat mudah mempengaruhi.
Account Officer Harus Memiliki:
1) Ketentuan dan larangan yang berlaku atas pembiayaan yang dimohon 2) Besar pembiayaan yang diminta dan untuk apa pembiayaan tersebut
digunakan
3) Bagaimana rencana pembiayaan dan perluasan oleh nasabah serta dari mana dana sumber dana perluasan pembiayaan atau cash flow usaha nasabah
4) Informasi dan data utama yang diperlukan sehubungan dengan pembiayaan yang diminta
5) Informasi dan data tambahan Apa yang perlu dilengkapi25 2. Faktor Data Analisis
25 Edi Susilo, Analisis Pembiayaan.,141
Informasi dan data yang diperlukan harus lengkap dapat dipercaya dan akurat untuk mendekati hal tersebut dapat ditempuh jarak antara lain:
a. Melakukan penelitian secara fisik (On The Spot).
b. Untuk laporan keuangan (neraca dan daftar rugi/laba) bisa dengan cara meminta bantuan kantor akuntan.
3. Teknis Analisis
Analisis harus dilakukan secara teliti dan mengikuti ketentuan.
Secara umum, teknik analisis memilih meliputi dua macam, yaitu analisis kuantitatif (agunan, perhitungan limit) dan analisis kualitatif (legalitas, pemasaran, manajemen, teknis produksi). Analisis pembiayaan diperlukan agar bank syariah memperoleh keyakinan bahwa pembiayaan yang diberikan dapat dikembalikan oleh nasabahnya.
4. Analisis Kualitatif dan Kuantitatif
Jenis-jenis aspek yang dianalisis secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Analisis terhadap kemauan bayar disebut analisis kualitatif aspek yang dianalisis mencakup karakter atau watak dan komitmen dari nasabah.
b. Analisis terhadap kemampuan bayar disebut dengan analisis kuantitatif pendekatan yang dilakukan dalam perhitungan kuantitatif yaitu untuk menentukan kemampuan bayar dan perhitungan kebutuhan modal kerja nasabah adalah dengan pendekatan pendapatan bersih.
5. Penilaian 5C
Selain aspek-aspek di atas kita juga perlu menganalisis aspek 5C, aspek-aspeknya adalah sebagai berikut:26
a. Character
Suatu keyakinan bahwa sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan pembiayaan benar-benar dapat dipercaya, hal ini tercermin dari latar belakang si nasabah baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yang bersifat pribadi seperti: cara hidup atau gaya hidup yang dianutnya, keadaan keluarga, hobi dan sosial standingnya. Ini semua merupakan ukuran "kemauan"
membayar.
b. Capacity
Untuk melihat nasabah dalam kemampuannya dalam bidang bisnis yang dihubungkan dengan pendidikannya, kemampuan dalam memahami tentang ketentuan-ketentuan pemerintah. Begitu pula dengan kemampuannya dalam menjalankan usahanya selama ini pada akhirnya akan terlihat "kemampuannya"
dalam mengembalikan pembiayaan yang disalurkan.
c. Capital
Untuk melihat penggunaan modal Apakah efektif, dilihat laporan keuangan (neraca dan laporan rugi laba) dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, dan ukuran lainnya. Capital juga harus dilihat dari sumber mana saja modal yang ada sekarang ini.
d. Collateral
Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah pembiayaan yang diberikan jaminan juga harus diteliti keabsahannya sehingga jika terjadi suatu
26 Kasmir, Bank Dan Lembaga., 95
masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin.
e. Condition
Dalam menilai pembiayaan hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi dan politik sekarang dan dimasa yang akan datang sesuai sektor masing-masing, serta prospek usaha dari sektor yang ia jalankan. Penilaian aspek bidang usaha yang dibiayai hendaknya benar benar memiliki prospek yang baik sehingga kemungkinan pembiayaan tersebut bermasalah relatif kecil. 27
C. Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah
1. Pengertian Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah
Sebelum lahirnya BPR Syari’ah di Indonesia, masyarakat terlebih dahulu mengenal adanya Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Menurut UU No. 21 Tahun 2008 disebutkan bahwa BPR adalah bank konvensional yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Dimana BPR konvensional masih menerapkan sistem bunga dalam operasionalnya. Maka dari itu, harus dibedakan antara BPR Konvensional dan BPR Syari’ah. Perbedaan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah sebagai berikut:28
a. Akad dan aspek legalitas.
Dalam BPR Syari’ah akad yang dilakukan memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum
27 Ibid., 96
28 Muhammad, Manajemen Bank Syari’ah, Yogyakarta: UPP AMP, 2002, h. 56.
Islam. Sering nasabah berani melanggar kesepakatan atau perjanjian yang telah dilakukan bila hukum hanya berdasarkan hukum positif.
b. Adanya Dewan Pengawas Syari’ah dalam struktur organisasinya yang bertujuan mengawasi praktik operasional BPR Syari’ah agar tidak menyimpang dari prinsip Syari’ah.
c. Penyelesaian sengketa yang terjadi dapat diselesaikan melalui Badan Arbitrase Syari’ah maupun Pengadilan Agama.
d. Bisnis dan usaha yang dibiayai tidak boleh bisnis yang haram, syubhat ataupun dapat menimbulkan kemadharatan bagi pihak lain.
e. Praktik operasional BPR Syari’ah, baik untuk penghimpunan maupun penyaluran pembiayaan, menggunakan sistem bagi hasil dan tidak menggunakan sistem bunga.
Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prisnsip Syari’ah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bentuk hukumnya dapat berupa : Perseroan Terbatas/PT, Koperasi atau Perusahaan Daerah (Pasal 2 PBI No. 6/17/PBI/2004). Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 menyebutkan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) yaitu Bank Syari’ah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.29 Yang perlu diperhatikan dari ketentuan diatas adalah kepanjangan dari BPR Syari’ah yang berupa Bank Perkreditan Syari’ah. Ini
29 Khotibul Umam, S.H.,LL.M. Trend pembentukan Bank Umum Syari’ah Pasca Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2008 (Konsep, Regulasi, dan Implementasi), Yogyakarta : BPFE Yogayakrta, 2009, h. 41.
berarti semua peraturan perundangan-undangan yang menyebut BPR Syari’ah dengan Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah harus dibaca dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS).30
Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Bank Syari’ah telah mengatur secara khusus eksistensi Bank Syari’ah di Indonesia. Undang- Undang tersebut melengkapi dan menyempurnakan UU No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 10 Tahun 1998 yang belum spesifik sehingga perlu diatur khusus dalam Undang-Undang tersendiri. Menurut Pasal 18 UU No. 21 Tahun 2008, Bank Syari’ah terdiri atas Bank Umum Syari’ah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah.
Pasal 1 UU No. 21 Tahun 2008 tentang Ketentuan Umum disebutkan pengertian dari Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) adalah Bank Syari’ah yang dalam kegiatanya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.31
Sedangkan Pasal 2 UU No. 21 Tahun 2008 dijelaskan bahwa Perbankan Syari’ah dalam melakukan kegiatan usahanya berasaskan Prinsip Syari’ah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehati-hatian.
2. Tinjauan dan Karakteristik BPR Syari’ah
Ada beberapa tujuan yang dikehendaki dari pendirian BPR Syari’ah di dalam perekonomian, yaitu sebagai berikut:
30 Zubairi Hasan, Undang-Undang Perbankan Syari’ah Titik Temu Hukum Islam dan Hukum Nasional, Jakarta: PT Rajagrafindo persada, 2009, h. 7.
31 Ahmad Ifham, Pedoman Umum Lembaga Keuangan Syari’ah, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2010, h. 3.
a. Meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat Islam, terutama masyarakat golongan ekonomi lemah yang pada umumnya berada di daerah pedesaan.
b. Menambah lapangan kerja, terutama ditingkat kecamatan sehingga dapat mengurangi arus urbanisasi.
c. Membina semangat ukhuwah islamiyah melalui kegiatan ekonomi dalam rangka meningkatkan pendapatan perkapita menuju kualitas hidup yang memadai.32
d. Untuk mempercepat perputaran aktivitas perekonomian karena sektor real akan bergairah.
Dalam aktivitas operasional perbankannya berdasarkan UU No. 21 Tahun 2008, Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) dilarang:33
a. Melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip Syari’ah.
b. Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran.
c. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing, kecuali penukaran uang asing dengan izin Bank Indonesia.
d. Melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai agen pemasaran produk asuransi Syari’ah.
e. Melakukan penyertaan modal, kecuali pada lembaga yang dibentuk untuk menanggulangi kesulitan likuiditas Bank Pemiayaan Rakyat Syari’ah.
32 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah Deskripsi dan Ilustrasi Cetakan Pertama, Yogyakarta: EKONESIA, 2003, h. 85.
33 Nur Rianto Al Arif, Lembaga Keuangan Syari’ah Suatu Kajian Teoritis Praktis, Bandung: CV Pustaka Setia, 2012, h. 200.
f. Melakukan usaha lain diluar kegiatan usaha yang telah diatur dalam Undang-Undang.
3. Kegiatan Usaha BPR Syari’ah
Adapun kegiatan usaha dari BPR Syari’ah intinya hampir sama dengan kegiatan dari Bank Umum Syari’ah, yaitu berupa penghimpunan dana, penyaluran dana, dan kegiatan di bidang jasa. Yang membedakannya adalah bahwa BPR Syari’ah tidak diperkenankan memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran, misalnya ikut dalam kegiatan kliring, inkaso, dan menertibkan giro.
Kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh BPR Syari’ah versi Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah diatur dalam Pasal 21, yaitu bahwa kegiatan usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah meliputi :34
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk:
1) Simpanan berupa tabungan atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip Syari’ah; dan
2) Investasi berupa deposito atau tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip Syari’ah.
b. Menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk:
34 Khotibul Umam, S.H.,LL.M. Ibid, h. 53-54.
1) Pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah atau musyarakah.
2) Pembiayaan berdasarkan akad murabahah, salam, atau istishna’.
3) Pembiayaan berdasarkan akad qardh.
4) Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; dan
5) Pengambilalihan utang berdasarkan akad hawalah.
c. Menempatkan dana pada Bank Syari’ah lain dalam bentuk titipan berdasarkan akad wadi’ah atau investasi berdasarkan akad mudharabah dan atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip Syari’ah.
d. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah melalui rekening Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah yang ada di Bank Umum Syari’ah , Bank Umum Konvensional dan UUS.
24
e. Menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha Bank Syari’ah lainnya yang sesuai dengan prinsip Syari’ah berdasarkan persetujuan Bank Indonesia.
Kegiatan usaha BPR Syari’ah secara teknis operasional berkaitan dengan produk-produknya mendasarkan pada Pasal 2 dan Pasal 3 PBI No.
9/19/PBI/2007 tentang pelaksanaan prinsip Syari’ah dalam kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa Bank Syari’ah sebagaimana telah diubah dengan PBI No. 10/16/PBI/2008. Lebih teknis lagi
mengacu SEBI No. 10/14/DPbS Jakarta, 17 Maret 2008 perihal pelaksanaan prinsip dalam kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa Bank Syari’ah.
Perlu ditekankan disini bahwa setiap pihak dilarang melakukan kegiatan penghimpunan dana dalam bentuk simpanan atau investasi berdasarkan prinsip Syari’ah tanpa izin terlebih dahulu dari Bank Indonesia, kecuali diatur dalam undang-undang lain. Dengan demikian untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan sebagaimana dimaksud di atas secara a contrario dapat ditafsirkan harus ada izin terlebih dahulu dari Bank Indonesia.35
4. Pembiayaan di BPR Syari’ah
Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank, yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan defisit unit.36 Pengertian pembiayaan adalah pendaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun lembaga. Dengan kata lain, pembiayaan adalah pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan.37
Menurut Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:
35 Khotibul Umam, S.H.,LL.M. Ibid, h. 55
36 Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, Jakarta: Gema Insani, 2011, h. 160
37 Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syariah, Yogyakarta: UPP YKPN, 2002, h.
17.
a. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah.
b. Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa-beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik.
c. Transaksi jual-beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna.
d. Transaksi pinjam-meminjam dalam bentuk piutang qardh.
e. Transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multi jasa, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan atau bank syariah dan/atau Unit Usaha Syariah (UUS) dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil.
Dalam pelaksanaan pembiayaan, Bank Syari’ah harus memenuhi:
a. Aspek Syari’ah, berarti dalam setiap realisasi pembiayaan kepada para nasabah Bank Syari’ah harus tetap berpedoman pada syariat Islam (antara lain tidak mengandung unsure maisir, gharar, dan riba serta usahanya harus halal).
b. Aspek ekonomi, berarti disamping mempertimbangkan hal-hal Syari’ah, Bank Syari’ah tetap mempertimbangkan perolehan keuntungan baik bagi bank Syari’ah maupun bagi nasabah bank Syari’ah.
Tujuan Pembiayaan adalah sebagai berikut:38 a. Peningkatan ekonomi umat
b. Tersedianya dana bagi peningkatan usaha c. Meningkatkan produktifitas
d. Membuka lapangan kerja baru e. Terjadi distribusi pendapatan
Secara garis besar, pembiayaan dibagi dua jenis, yaitu sebagai berikut:
a. Pembiayaan konsumtif, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk pembiayaan yang bersifat konsumtif, seperti pembiayaan untuk pembiayaan rumah, kendaraan bermotor, pembiayaan pendidikan, dan apapun yang sifatnya konsumtif.
b. Pembiayaan produktif, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk pembiayaan sektor produktif, seperti pembiayaan modal kerja, pembiayaan pembeliaan barang modal dan lainnya yang mempunyai tujuan memberdayakan sektor real. Salah satu fungsi utama dari perbankan adalah menyalurkan dana yang telah dihimpunnya kepada masyarakat melalui pembiayaan kepada nasabah.
Jenis-jenis pembiayaan pada dasarnya dapat dikelompokan menurut beberapa aspek, diantaranya:
a. Pembiayaan menurut tujuan, yaitu :
38 Sutan Remy syahdeini, Perbankan Syariah dan Kedudukannya Dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia, Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2002, h. 20.
1) Pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan yang dimaksudkan untuk Mendapatkan modal dalam rangka pengembangan usaha.
2) Pembiayaan investasi yaitu pembiayaan yang dimaksudkan untuk melakukan investasi atau pengadaan barang konsumtif.
b. Pembiayaan menurut jangka waktu, yaitu :
1) Pembiayaan jangka pendek, pembiayaan yang dilakukan dengan waktu 1 bulan sampai dengan 1 tahun.
2) Pembiayaan jangka waktu menengah, pembiayaan yang dilakukan dengan waktu 1 tahun sampai dengan 5 tahun.
3) Pembiayaan jangka waktu panjang, pembiayaan yang dilakukan dengan waktu lebih dari 5 tahun.
Jenis pembiayaan pada bank syariah akan diwujudkan dalam bentuk aktiva produktif dan aktiva tidak produktif, yaitu:
a) Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil. Untuk jenis pembiayaan dengan prinsip ini meliputi:
1) Pembiayaan murabahah.
2) Pembiayaan musyarakah.
b) Pembiayaan dengan prinsip jual beli (piutang). Untuk jenis pembiayaan dengan prinsip ini meliputi:
1) Pembiayaan murabahah.
2) Pembiayaan salam.
3) Pembiayaan istishna.
c) Pembiayaan dengan prinsip sewa. Untuk jenis pembiayaan dengan prinsip ini meliputi:
1) Pembiayaan ijarah.
2) Pembiayaan ijarah muntahiya bittamlik/wa iqtina.
D. Pembiayaan Bermasalah
1. Pengertian Pembiayaan Bermasalah (Non Performing Financing)
Kredit macet /NPL (termasuk NPF) pada mulanya selalu di awali dengan terjadinya “wanprestasi” (ingkar janji/cedera janji), yaitu suatu keadaan dimana debitur tidak mau dan tidak mampu memenuhi janji-janji yang telah di buatnya sebagaimana tertera dalam perjanjian kredit (termasuk perjanjian pembiayaan).
Penyebab debitur wanprestasi dapat bersifat alamiah (di luar kemampuan dan kemauan debitur), maupun akibat iktikad tidak baik debitur. Wanprestasi juga bisa disebabkan oleh pihak bank karena membuat syarat perjanjian kredit yang sangat memberatkan pihak debitur.
Ada beberapa pengertian kredit bermasalah atau pembiayaan bermasalah, yaitu:
a. Kredit/pembiayaan yang di dalam pelaksanaannya belum mencapai/memenuhi target yang diinginkan oleh pihak bank.
b. Kredit/pembiayaan yang memungkinkan timbulnya risiko di kemudian hari bagi bank dalam artian luas.
c. Mengalami kesulitan dalam penyelesaiian kewajiban-kewajibannya, baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya dan/atau pembayaran bagi hasil yang menjadi beban nasabah yang bersangkutan.
d. Kredit/pembiayaan yang dimana pembayaran kembaliaannya dalam bahaya, terutama apabila sumber-sumber pembayaran kembali yang diharapkan
diperkirakan tidak cukup membayar kembali kredit/pembiayaan, sehingga belum mencapai/memenuhi target yang diinginkan oleh bank.
e. Kredit/pembiayaan yang dimana terjadi cidera janji dalam pembayaran kembali sesuai perjanjian, sehingga terdapat tunggakan atau ada potensi kerugian di perusahaan nasabah sehingga memiliki kemungkinan timbulnya risiko di kemudian hari bagi bank dan dalam arti luas.
f. Mengalami kesulitan di dalam penyelesaiaan kewajiban-kewajibannya terhadap bank, baik dalam pembayaran ongkos-ongkos bank yang menjadi beban nasabah yang bersangkutan.
g. Kredit/pembiayaan dalam golongan perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet serta golongan lancar yang berpotensi menunggak.39
Non performing financing (NPF) atau pembiayaan bermasalah merupakan salah satu indikator kunci untuk menilai kinerja bank. Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan yang pembayaran angsuran pokok dan/atau bagi hasilnya telah lewat 90 hari setelah jatuh tempo, atau pembiayaan yang pembayarannya secara tepat waktu sangat diragukan. NPF secara luas dapat didefinisikan sebagai suatu pembiayaan dimana pembayaran yang dilakukan tersendat-sendat dan tidak mencukupi kewajiban minimal yang ditetapkan sampai dengan pembiayaan yang sulit untuk dilunasi atau bahkan tidak dapat ditagih.
Selain itu pembiayaan bermasalah juga dapat di artikan pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor kesengajaan yang bersifat internal dan atau karena faktor eksternal diluar kemampuan kendali nasabah peminjam.40
39 Khotibul Umam, Perbankan Syariah:Dasar-dasar dan Dinamika Perkembangannya Di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), 206-207
40 Riski Aditya Baskara, “Pengaruh Non Performing Financing Pembiayaan Mudharabah Dan Musyarakah Pada Bank Muamalat Indonesia,” vol. 4 No 1 Oktober 2013, 5
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa pembiayaan bermasalah adalah hutang yang wajib di bayar namun dalam pelunasannya mengalami kesulitan atau tersendat-sendat atau juga bisa disebut kewajiban yang tidak dapat dipenuhi oleh nasabah.
2. Sebab-sebab Terjadinya Pembiayaan Bermasalah
Penyebab timbulnya pembiayaan bermasalah terdiri dari faktor internal dan eksternal perbankan. Faktor internal, yaitu penyebab pembiayaan bermasalah yang berasal dari dalam bank itu sendiri, diantaranya:
a) Kualitas pejabat bank b) Persaingan antar bank c) Hubungan ke dalam
Hubungan ke dalam adalah hubungan bank dengan perusahaan lain yang tergabung dalam kelompoknya, serta hubungan bank dengan pengurus maupun dengan pemegang saham.
d) Pengawasan
Tindakan pengawasan dilakukan oleh pihak bank itu sendiri dan pihak Bank Indonesia.
Sedangkan faktor eksternal pembiayaan bermasalah disebabkan oleh nasabah pembiayaan, seperti nasabah side streaming yaitu nasabah menggunakan dana tidak sesuai dengan ketentuan akad, nasabah beritikad tidak baik, tidak jujur, lalai, dan lain sebagainya. Dapat pula diidentifikasi penyebab timbulnya pembiayaan bermasalah antara lain karena perubahan politik dan peraturan perundangan, deregulasi sektor riil, keuangan dan ekonomi.
Perubahan kondisi tersebut di atas merupakan tantangan yang dihadapi oleh pemilik dan pengelola perusahaan. Satu kunci menuju pengelolaan sukses dari
suatu usaha adalah kemampuan mengantisipasi perubahan dan cukup fleksibel dalam mengelola usahanya. Pembiayaan bermasalah akan timbul, dikarenakan oleh faktor eksternal sebagai akibat gagalnya pengelola dalam mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi perekonomian, perubahan peraturan, dan bencana alam.41
3. Strategi Penyelesaiaan Pembiayaan Bermasalah
Penyelamatan pembiayaan bermasalah atau (restrukturisasi pembiayaan) adalah istilah teknis yang biasa dipergunakan di kalangan perbankan terhadap upaya dan langkah-langkah yang di lakukan bank dalam mengatasi pembiayaan bermasalah42.
Strategi penyelesaiaan terhadap kredit macet/pembiayaan bermasalah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Rescheduling
a. Memperpanjang jangka waktu kredit
Dalam hal ini si debitur memberikan keringanan dalam masalah jangka waktu kredit misalnya perpanjangan jangka waktu kredit dan 6 bulan menjadi 1 tahun sehingga si debitur mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembalikannya
b. Memperpanjang jangka waktu angsuran
Memperpanjang angsuran hampir sama dengan jangka waktu kredit dalam hal ini jangka waktu angsuran kredit nya diperpanjang
41 Nurjanah dan Dewi Laela Hilyatim, ”Strategi Penyelamatan Pembiayaan Bermasalah Pada Pembiayaan Mudharabah Di Bank Syariah Mandiri Cabang Purwokerto,” Journal No 1 Januari-Juni 2016, 68
42 Wangsawidjaja, Pembiayaan Bank Syariah (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012), 448