• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Penyelesaiaan Non Performing Financing

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Strategi Penyelesaiaan Non Performing Financing

Bicara mengenai pembiayaan, maka sebuah bank tidak akan terlepas dari risiko pembiayaan. Oleh karena itu lembaga keuangan tentunya sudah mengantisipasi risiko-risiko yang akan terjadi. Risiko pembiayaan yang terjadi biasanya adalah risiko

58 Wawancara kepada Bapak Enda Suhendra selaku Kepala Cabang 26 Februari 2019

59 Wawancara kepada Bapak Sarif Husin Selaku Marketing 26 Februari 2019

yang di sebabkan oleh kegagalan nasabah dalam memenuhi kewajiban sesuai akad atau perjanjian yang telah di tetapkan antara bank dengan nasabah.60 adapun risiko yang berkaitan dengan pembayaran yaitu nasabah tidak melakukan kewajiban dengan baik sesuai denga jadwal pembayaran, maka untuk menghindari risiko ini adalah dengan adanya sebuah jaminan. Jika tidak melakukan pembayaran dikarenakan faktor diluar kemampuan nasabah, bank syariah secara moral berkewajiban untuk melakukan penjadwalan ulang (rescheduling) bahkan me-restructuring piutang tersebut.Untuk mengetahui Strategi Penyelesaiaan Non Performing Financing di PT.

BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung, maka peneliti mengadakan wawancara langsung dengan pihak bank. Dari hasil penelitian yang dilakukan BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung telah menetapkan bahwa strategi penyelesaiaan pembiayaan bermasalah di lakukan dengan cara:

Berdasarkan wawancara dengan bapak Patlas Bruri Nugraha selaku Kepala Cabang baru di BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung Produk yang ada di BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang yaitu produk penghimpunan dana yang meliputi: tabungan wadiah, tabungan haji azzamani, tabungan walimah, tabungan qurban, dan tabungan pendidikan. Kemudian ada juga Deposito berjangka 1,3,6,12. Selanjutnya produk Pembiayaan umum dengan menggunakan akad murabahah, mudharabah, ataupun musyarakah. tetapi yang paling banyak diminati di BPRS Metro Madani KC Unit II adalah pembiayaan murabahah.

untuk pembiayaan murabahah, jika nasabahnya adalah seorang petani maka berupa pupuk, jika pedagang berupa barang dagangan, jika yang mau membuat bangunan

60 Muhammad Maulana, “Jaminan Dalam Pembiayaan Pada Perbankan Di Indonesia”, (Skripsi UIN Ar-Raniry Banda Aceh: 2014) Di akses pada tanggal 7 juli 2019

berupa material bangunan. Kemudian untuk usaha yaitu untuk sektor usaha mikro.

Tidak hanya itu, adapun pembiayaan Sergu. Jadi sertifikat guru yang menjadi jaminan, tetapi untuk saat ini, pembiayaan sergu tinggal menghabiskan saja, namun bisa saja ditambah tetapi dengan menggunakan sertifikat tanah atau kendaraan.

Penyebab pembiayaan macet dapat dilihat dari hari tunggakan. Literatur kolektabilitas pembiayaan pada BMT, Bank Umum dan BPRS itu berbeda-beda. Jika di BPRS hanya ada tiga kolektabilitas pembiayaan, yaitu lancar yang artinya tidak ada tunggakan, dalam perhatian khusus seperti akan macet atau pembiayaan yg tersendat- sendat, dan Macet atau sudah lebih dari tiga bulan masuk 4 bulan ataupun masuk kolektabilitas 3.

Strategi penyelesaiaan pembiayaan untuk nasabah yang belum ke level macet yaitu dari pembiayaannya. Sebelum di berikan pembiayaan, maka nasabah harus di survey terlebih dahulu untuk melihat kemampuan serta karakter yang termasuk dalam analisis 5C, jika analisis 5C sudah bagus kemudian di ACC, jika analisis 5C sudah bagus kemudian di ACC. strategi penyelesaiaan pembiayaan macet yaitu dengan cara sering-sering di pantau baik secara lisan ataupun di telfon di tanya bagaimana usahanya atau juga dengan datang dan berkunjung langsung di ingatkan terus jika sudah mendekati waktunya pembayaran angsuran. Kemudian jika nasabah sudah mulai terlambat maka pihak bank mengingatkan terus menerus untuk membayar kewajiban nasabah agar nasabah jangan sampai ke level macet.61

Berdasarkan wawancara dengan bapak Sarif Husin selaku Marketing di BPRS Metro Madani KC Unit II Tulang Bawang Lampung bahwa analisis pembiayaan di lakukan dengan menggunakan analisis 5C yaitu character melihat orangnya baik atau tidak, cara melihat karakter nasabah dapat dilakukan dengan cara bertanya kepada

61 Wawancara kepada bapak Patlas Bruri Nugroho 12 Agustus 2019

tetangga atau kerabat dekat calon nasabah mengenai karakter calon nasabah, hubungan dengan lingkungannya bagaimana, apakah jika berhutang dikembalikan atau tidak, atau juga bisa dilihat dari SIDnya untuk mengetahui data nasabah, dari situlah pihak bank akan melihat nasabah pernah meminjam uang dimana saja, apakah nasabah pernah mengalami kemacetan atau tidak. Capacity yaitu melihat kemampuan nasabah dalam menjalankan bisnisnya sehingga akan terlihat kemampuan nasabah untuk mengembalikan pembiayaan. Capital yaitu melihat penggunaan modal apakah digunakan dengan baik dan memang benar-benar untuk usaha atau yang lainnya, colleteral yaitu melihat jumlah jaminan yang akan di pergunakan untuk permohonan pembiayaan, jaminan yg di berikan harus lebih besar jumlahnya dengan pembiayaan yang akan di lakukan, condition yaitu melihat kondisi nasabah apakah memungkinkan untuk dapat mengembalikan pembiayaan, atau jika nasabah seorang pedagang maka apakah dagangannya di masa yang akan datang akan tetap memiliki prospek yang baik.

Faktor yang paling mempengaruhi analisa pembiayaan adalah dari segi karakter nasabah atau watak nasabah apakah nasabah tersebut baik, kemudian kemampuan bayarnya dan jaminan pembiayaan.

Apabila nasabah telat bayar masih dalam jangkauan hari maka pihak bank akan mengingatkan nasabah melalui SMS ataupun telepon dan menanyakan apakah permasalahan yang dihadapi nasabah, sehingga belum dapat membayar kewajiban.

Kemudian pihak bank akan memberikan solusi, jika nasabah sudah mulai telat bulan maka pihak bank akan mengunjungi rumahnya dan memberikan surat peringatan (SP).

Strategi penyelesaiaan pembiayaan bermasalah dapat dilakukan dengan cara mengontrol setiap nasabah, Kemudian setelah mulai tersendat dalam angsuran lalu pendekatan hati (sharing). Melihat dulu permasalahan yang ada

atau faktor apa yang menyebabkan pembiayaan tersebut mengalami kemacetan apakah karena nasabahnya bangkrut atau memang nasabahnya tidak mau bayar. Setelah mengetahui masalahnya maka langkah selanjutnya adalah memeberikan solusi. Solusi yang di berikanpun juga berbeda-beda adapun nasabah yang usahanya masih dapat di tolong atau nasabah yang tidak dapat memenuhi kewajiban karena sakit, maka akan diberikan toleransi dan di bantu untuk mengembangkan kembali usahanya misalnya memperpanjang jangka waktu pembayaran. Selanjutnya jika setelah diberikan solusi maka akan dilihat perubahannya, jika tidak ada perubahan dan nasabah telat bayar satu bulan maka diberikan surat peringatan satu (SP 1) , jika dua bulan surat peringatan dua (SP 2) dan jika tiga bulan surat peringatan tiga (SP 3). Jika setelah di berikan surat peringatan tersebut tepapi tidak ada kemajuan maka di berikan solusi lelang jaminan. Kemudian nasabah yang memang bangkrut (usahanya tdak dapat di tolong) dan tidak dapat mengembalikan pinjaman maka di usulkan untuk menjual jaminannya secara pribadi atau bisa juga di selesaikan dengan cara kekeluargaan dengan cara mencari keluarga nasabah yang mampu menyanggupi untuk melunasi sisa angsuran pembiayaan nasabah atau juga bisa menggunakan jalur hukum.62

D. Analisis Strategi Penyelesaiaan Non Performing Financing di PT. BPRS Metro

Dokumen terkait