BAB IV
B. Tahapan Penyusunan
Pada tahapan penyusunan, substansi kegiatannya adalah penyusunan dan penulisan naskah akademik. Da- lam UU Nomor 10 tahun 2004, tidak dijumpai penjelasan tentang naskah akademik. Sementara UU Nomor 12 tahun 2011 menyatakan dalam Pasal 1 angka 11: “Naskah Akademik adalah naskah hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu yang dapat dipertanggung- jawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam suatu Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi, atau Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan dan kebutuhan hukum masyarakat”. Karena dalam UU Nomor 10 tahun 2004 me- mang belum dikenal apa itu naskah akademik, maka tidak ada pasal yang mensyaratkan pembentukan UU atau Perda harus disertai dengan naskah akademik.
Sebagai pengganti UU Nomor 10 tahun 2004, maka UU nomor 12 tahun 2011 membawa sejumlah per- baikan, termasuk keharusan menyiapkan naskah akademik dalam pembentukan UU dan Perda. Dalam pasal 56 ayat 2 UU Nomor 12 tahun 2011 tersebut didapati perintah yang menyatakan: Rancangan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan penjelasan atau keterangan dan/atau Naskah Akademik”.
Sebagai naskah hasil penelitian maka sudah selayaknya Naskah Akademik Ranperda RTRWP Riau 2017 – 2037 memenuhi kaedah terutama terkait metode penelitian dan yang tidak kalah penting melibatkan lembaga penelitian atau tenaga ahli. Seperti diatur dalam Pasal 99 Undang-Unadang Nomor 12 tahun 2011 yang menegaskan: “Selain Perancang Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (1), tahapan pembentukan Undang-Undang, Peraturan Daerah Provinsi, dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota mengikutsertakan peneliti dan tenaga ahli”. Poin ini kembali dipertegas oleh Pasal 67 Per- pres Nomor 87 tahun 2014 ayat (4) yang menyatakan: “Pemrakarsa dalam melakukan Penyusunan Naskah Akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat mengikutsertakan instansi vertikal dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dan pihak ketiga yang mempu- nyai keahlian sesuai materi yang akan diatur dalam Rancangan Peraturan Daerah Provinsi”.
Dari NA Ranperda RTRWP Riau 2017 – 2037 tidak terlihat keterlibatan baik peneliti, tenaga ahli maupun pihak ketiga lainnya sebagaimana diatur dalam pasal-pasal diatas. Seharusnya di dalam kata pengantar, tergambar pihak mana saja yang terlibat dalam penyusunannya. Boleh jadi karena alasan-alasan tersebut, maka NA Ranperda RTRWP tampil “asal ada” sehingga tidak memuat:
a) uraian/gambaran lengkap di sub bab tentang praktek empiris,58 apa yang terjadi selama pelaksanaan Perda no. 10 tahun 1994. Begitu pula kondisi riel tata ruang Provinsi Riau pada tahun 2009, sebagai tahun terakhir berlakunya Perda dimaksud.
b) data kuantitatif yang memadai, khususnya terkait data lahan/kawasan yang menjadi isu sentral dalam Perda ini (baik yang di holding maupun yang disetujui perubahan peruntukannya).
Hal lain yang tidak kalah penting dalam tahapan ini adalah keterlibatan publik. Seharusnya NA itu sudah melewati uji publik dengan melibatkan semua pihak yang dianggap terlibat/berkepentingan atau memahami persoalannnya secara teknis yuridis. Tidak ada data atau informasi tentang uji publik dalam penyusunan NA Ranperda RTRWP Riau ini.
C. Tahapan Pembahasan
Sebagaimana diatur dalam Pasal 40 UU Nomor 10 tahun 2004 (Pasal 75 UU Nomor 12 tahun 2011) Pem- bahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah dilakukan oleh dewan perwakilan rakyat daerah bersama gubernur atau bupati/walikota. Pembahasan bersama tersebut dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan yang dapat berupa rapat komisi/panitia/alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna.
Tidak ada yang istimewa dalam tahapan pembahasan ini, kecuali seharusnya penekanan kembali pada keterlibatan publik. Pada penyusunan NA keterlibatan publik bisa diinisiasi oleh OPD inisiator, Bappeda Provinsi Riau, maka dalam tahapan pembahasan keterlibatan publik itu menjadi tanggungjawab Pani- tia Khusus yang diberi tugas untuk membahas substansi Ranperda berdasar daftar inventarisasi masalah (DIM). Tidak terlihat juga upaya melibatkan publik pada tahapan ini.
D. Tahapan Penetapan
Titik akhir dari tahapan pembahasan adalah persetujuan bersama antara DPRD dan Gubernur Riau. Setelah itu, Ranperda tersebut tinggal menunggu penetapannya untuk menjadi Perda oleh Gubernur. Sesungguhn- ya tahapan penetapan ini bersifat administratif belaka. Namun demikian ada beberapa catatan yang layak untuk diperhatikan:59
a. Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang telah disetujui bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur disampaikan oleh pimpinan DPRD Provinsi kepada Gubernur untuk ditetap- kan menjadi Peraturan Daerah Provinsi dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.
b. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi ditetapkan oleh Gubernur dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut disetujui bersama oleh DPRD Provinsi dan Gubernur.
c. Dalam hal Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tidak ditandatangani oleh Gubernur dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut disetujui ber- sama, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tersebut sah menjadi Peraturan Daerah Provinsi dan wajib diundangkan.
d.
Gambar 3: Tahapan Penetapan dan Evaluasi Perda.
Ada yang menarik dari tahapan penetapan Perda ini, karena muncul tambahan prosedur-administratif beru- pa “evaluasi”. UU No. 12 tahun 2011 tidak mengaturnya, akan tetapi muncul dalam Perpres No. 87 tahun 2014 yang pada dasarnya evaluasi itu dilakukan setelah Perda itu ditetapkan (ditandatangani) oleh Guber- nur, seperti terlihat pada pragraf berikut ini:
“Gubernur menyampaikan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang berkaitan dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, pajak daerah, retribusi daerah, dan tata ruang daerah sebelum diundangkan dalam Lembaran Daerah Provinsi kepada menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam negeri untuk dievaluasi sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan”.60
Sementara Permendagri terbaru yang mengatur tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah, yaitu Per- mendagri No. 80 tahun 2015, menyatakan “Rancangan perda provinsi yang mengatur tentang RPJPD, RP- JMD, tata ruang daerah dan rencana pembangunan industri provinsi yang telah disetujui bersama sebelum ditetapkan oleh Gubernur paling lama 3 hari disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Sekretaris Jenderal”61 (lihat piramid diatas).
Footnote
56. Penyusunan dan penetapan Prolegda Provinsi dilakukan setiap tahun sebelum penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi.
57. Pasal 78 ayat 4 huruf b ini memerintahkan: “semua peraturan daerah provinsi tentang rencana tata ruang wilayah provinsi dis- usun atau disesuaikan paling lambat dalam waktu 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diberlakukan”.
58. Sistematika Bab II dari sebuah Naskah Akademik terdiri dari 1) Kajian Teoritis; 2) Kajain terhadap asas/prinsif; 3) Praktek Em- piris; 4) Kajian Implikasi Perda baru.
59. Lihat Pasal 78 dan 79 UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
60. Pasal 121 ayat 1 Peraturan Presiden No. 87 tahun 2014.
61. Pasal 93 ayat 3 Permendagri No. 80 tahun 2015.