BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Analisis Terhadap Jaminan Halal dalam Proses
menggunakan mesin bubut bertujuan agar pembersihan dan pencabutan bulu ayam lebih menghemat waktu dan tenaga.42
Setelah dilakukan kegiatan penyembelihan dan pembubutan bulu, langkah selanjutnya yaitu kegiatan pembersihan. Pembersihan dilakukan oleh petugas dengan memasukkan daging ayam ke dalam bak air panas untuk membersihkan darah yang masih menempel di badan ayam, lalu jeroan atau organ dalam ayam dikeluarkan.43
Setelah ayam dirasa bersih dan telah dipisahkan dengan jeroannya, maka proses selanjutnya yaitu pengepakan, dimana dalam kegiatan pengepakan ini, petugas memasukkan daging ayam ke dalam plastik sesuai dengan pesanan atau perrmintaan konsumen untuk selanjutnya daging yam siap untuk dipasarkan kepada konsumen.44
C. Analisis Terhadap Jaminan Halal dalam Proses Penyembelihan Ayam
dengan aturan yang ada. Namun, pada praktiknya, di peternakan Farm Jaya Asri Metro terkadang ada ayam yang masih hidup dan harus disembelih lagi agar benar-benar mati. Padahal dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 Tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal mengenai tata cara penyembelihan disebutkan bahwa, “Penyembelihan dilakukan dengan satu kali dan secara cepat”.
Ayam yang gagal disembelih dengan satu kali harusnya diolah secara terpisah dengan ayam yang sekali sembelih. Namun di peternakan Farm Jaya Asri langsung dimasukkan dalam suatu wadah secara bersamaan. Padahal dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 Tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal disebutkan bahwa:
1. Pengolahan dilakukan setelah hewan dalam keadaan mati oleh sebab penyembelihan.
2. Hewan yang gagal penyembelihan harus dipisahkan.
3. Penyimpanan dilakukan secara terpisah antara yang halal dan nonhalal.
4. Dalam proses pengiriman daging, harus ada informasi dan jaminan mengenai status kehalalannya, mulai dari penyiapan (seperti pengepakan dan pemasukan ke dalam kontainer), pengangkutan (seperti pengapalan/shipping), hingga penerimaan.
Pada tahap setelah penyembelihan, yaitu perendaman, pengeluaran jeroan, pencucian dan persiapan pemasaran, peternakan Farm Jaya Asri Metro Kibang belum memisahkan tempat yang kotor dengan tempat yang bersih dalam proses penyembelihan ayam. Sehingga Farm Jaya Asri Metro Kibang melakukan proses pemotongan ayam dalam satu tempat, yaitu tempat penyembelihan bersatu dengan proses perendaman, pencabutan bulu, pencucian, pengeluaran jeroan.
Berdasarkan penjelasan di atas, bukan berarti semua penyembelihan yang dilakukan di Farm jaya Asri Metro Kibang menjadi tidak halal. Hal ini dikarenakan proses melakukan penyembelihan sudah sesuai dengan syari’at, hanya saja fasilitas yang dimiliki belum memenuhi Standar Nasional Indonesia.
Pada peternakan Arie Broiller Purbolinggo petugas yang melakukan penyembelihan Bapak Haris yang berusia 38 tahun dan beragama Islam, dan mengetahui tata cara penyembelihan secara Islam, serta tentunya memiliki keahlian dalam penyembelihan dengan alat modern. Alat yang digunakan adalah pisau yang tajam. Petugas penyembelih engan menghadap satu meja penyembelihan yang mempunyai cerobong dengan kapasitas 40 ekor ayam.
Hal tersebut menunjukkan bahwa syarat penyembelih dan alat penyembelihan di peternakan Arie Broiller Purbolinggo sesuai dengan aturan.
Namun, pada praktiknya, di peternakan Arie Broiller Purbolinggo petugas penyembelih di Arie Broiller terlihat tidak menghiraukan ayam yang disembelihnya, apakah sudah benar-benar mati atau belum karena setelah penyembelihan terakhir, petugas lain langsung mengambil ayam yang ada dalam cerobong lalu dimasukkan ke dalam bak perendam yang berisi air panas. Selain itu, berdasarkan observasi dari peneliti, dari 40 ekor ayam yang disembelih ternyata ada satu ekor ayam yang masih bergerak-gerak. Hal tersebut mengindikasikan terjadi penyembelihan yang kurang sempurna sehingga urat nadinya belum terputus. Padahal dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 Tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan
Halal mengenai tata cara penyembelihan disebutkan bahwa, “Penyembelihan dilakukan dengan satu kali dan secara cepat”.
Ayam yang gagal disembelih dengan satu kali harusnya diolah secara terpisah dengan ayam yang sekali sembelih. Namun di peternakan Arie Broiler Purbolinggo langsung dimasukkan dalam bak perendam yang berisi air panas secara bersamaan. Padahal dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 Tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal sebagaimana telah dijelaskan di atas, menjelaskan bahwa hewan yang gagal penyembelihan harus dipisahkan.
Pada peternakan Arie Broiller Purbolinggo pelaksanan penyembelihan ayam belum dikatakan sempurna karena masih dijumpai ayam yang dipotong mati bukan karena penyembelihannya yang sempurna, melainkan adanya kegiatan yang lanjutan yang menyebabkan ayam itu mati. Salah satu yang diketahui adalah matinya ayam karena dimasukan ke dalam air panas dan mesin bubut ayam.
Pada Peternakan Agus Ayam Metro Kibang, petugas penyembelih yaitu Bapak Dikin yang berusia 35, dengan Bapak Soleh yang berusia 28 tahun yang memilih ayam serta memegang tubuh ayam yang nantinya akan memudahkan Bapak Dikin dalam menyembelih ayamnya. Kedua orang tersebut merupakan penganut agama Islam, dan telah mengetahui tata cara penyembelihan secara Islam serta memiliki keahlian dalam menyembelih. Hal ini tentu sudah memenuhi syarat penyembelih menurut syariat Islam.
Penyembelihan ayam di peternakan Agus Ayam Metro Kibang, yaitu ayam disembelih pada bagian leher, dengan petugas membaca basmallah.
Tempat yang disembelih adalah tenggorokan dan lubang leher. Hal ini telah sesuai dengan syariat Islam karena pada kedua tempat ini karena merupakan tempat berkumpulnya urat-urat yang membuat hewan cepat mati, menjadikan dagingnya baik, dan tidak menyakiti hewan. Selain itu, pembacaan lafadz basmallah sudah sesuai dengan syarat penyembelihan dalam Islam, dimana dalam Islam diwajibkan menyebut lafadz Allah ketika menyembelih. Untuk proses setelah penyembelihan, peternakan Agus Ayam Metro sudah melakukan proses yang sesuai dengan Islam.
Pembacaan basmallah pada saat penyembelihan pada peternakan di atas tentunya mengindikasikan bahwa ayam tersebut telah memenuhi salah satu syarat kehalalan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
Artinya: Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat- Nya.” (QS. Al-An’am [6]: 118)
Namun, apabila dalam penyembelihan tersebut belum sempurna, atau ayam yang dipotong belum mati secara langsung, maka hal tersebut tidak dilarang dan ayam yang disembelih tidak boleh dimakan, sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:
...
Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah. Itu adalah perbuatan kefasikan” (QS. Al-Maidah [5]: 3)
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa jaminan halal dalam proses penyembelihan ayam potong pada Peternakan Ayam Potong di Kabupaten Lampung Timur belum terjamin kehalalannya. Hal ini dikarenakan dari tiga peternakan ayam yang melakukan pemotongan ayam yaitu: Farm jaya Asri Metro Kibang, Arie Broiller Purbolinggo, dan Agus Ayam Metro Kibang, hanya Agus Ayam Metro Kibang yang semua prosesnya sesuai dengan syariat Islam. Sedangkan Farm jaya Asri Metro Kibang dan Arie Broiller Purbolinggo masih ada proses penyembelihan yang belum sempurna atau belum sesuai dengan syariat Islam. Hal ini dikarenakan masih dijumpai ayam yang dipotong tidak langsung mati, namun dipotong dua kali dan ada yang mati karena dimasukan ke dalam air panas dan mesin bubut ayam.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti ingin memberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Bagi pengusaha penyembelihan ayam potong, harus lebih memperhatikan lagi semua proses penyembelihan ayam potong agar sesuai dengan syariat Islam agar tercipta produk daging ayam yang halal. Hal ini sangat penting
karena daging ayam dapat dikatakan haram apabila proses penyembelihannya tidak sesuai dengan syariat Islam.
2. Bagi konsumen, agar lebih teliti dalam membeli daging ayam di peternakan ayam. Sebaiknya konsumen memastikan terlebih dahulu proses penyembelihan ayam yang dilakukan agar konsumen, terutama umat Muslim dapat mengkonsumsi makanan yang sudah terjamin kehalalannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ainiyah, Churrotul. “Urgensi Sertifikasi Halal Pada Penyembelihan Ayam di Rumah Potong Ayam RPA Surabaya”, dalam http://digilib.uinsby.ac.id/
10061/.
Amin, Ma’ruf, dkk. Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sejak 1975.
Jakarta: Erlangga, 2011.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta, 2013.
Az-Zabidi, Al Imam Zainuddin Ahmad bin Abdul Lathif. Mukhtashar Shahih Al- Bukhari. Terj. Abdurrahman Nuryaman. Jakarta: Darul Haq, 2017.
Burhanudin. Pemikiran Hukum Perlindungan Konsumen dan Sertifikasi Halal.
Malang: UIN Maliki Press, 2011.
Charity, May Lim. “Jaminan Produk Halal di Indonesia Halal Products Guarantee In Indonesia”, dalam Jurnal Legislasi Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM.
Vol. 14 N0. 01 - Maret 2017.
Dahlan, Abdul Aziz. et.al. Ensiklopedi Hukum Islam. Jilid 6. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2006.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: CV. Diponegoro, 2005.
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.
Fathoni, Abdurrahmat. Metodologi Penelitian & Teknik Penyusunan Skripsi.
Jakarta: Rineka Cipta, 2011.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 4 Tahun 2003 Tentang Standardisasi Fatwa Halal
H, Rony dan Etwin F. “Analisis Model Kehalalan Proses Potong Ayam di Rumah Potong Ayam RPA di Samarinda”, dalam Jurnal Prosiding. Vol 2, 2017.
Hasan, Sofyan. Sertifikasi Halal dalam Hukum Positif. Regulasi dan Implementasinya di Indonesia. Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2014.
---. “Kepastian Hukum Sertifikasi dan Labelisasi Halal Produk Pangan”, dalam Jurnal Dinamika Hukum. Palembang: Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. Vol. 14 No. 2 Mei 2014.
Huda, Nurul. “Pemahaman Produsen Makanan Tentang Sertifikasi Halal Studi Kasus di Surakarta”, dalam Ishraqi, Surakarta:Universitas Muhammadiyah Surakarta. Vol. 10. No. 1. Juni 2012.
Kementerian Agama RI. Pedoman dan Tata Cara Pemotongan Hewan Secara Halal. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, 2010, 19 Keputusan Menteri Agama RI No 518 Tahun 2001 tentang Pemeriksaan dan
Penetapan Pangan Halal.
Khallaf, Abdul Wahhab. Ilmu Ushul Fiqih. Semarang: Dina Utama Semarang, 1994.
Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majlis Ulama Indonesia. Panduan Umum Sistem Jaminan Halal LPPOM MUI, 2008.
Ma’rifat, Tian Nur dan Maya Sari. “Penerapan Sistem Jaminan Halal Pada UKM Bidang Olahan Pangan Hewani”, dalam Jurnal Khadimul Ummah. Jawa Timur: Universitas Darussalam Gontor. Vol. 1. Nomor. 1. November 2017.
Manguleta, Indra. “Pandangan Hukum Islam Tentang Penyembelihan Ayam Potong di Pasar Tradisional Kota Bulukumba”, dalam http://repositori.uin- alauddin.ac.id/9996/.
Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara, 2013.
Nuryati, Sri. Halalkah Makanan Anda?. Solo: PT Aqwam Media Profetika, 2008.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2019 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal
Rasjid, Sulaiman. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2015.
Ritonga, Novita Nandar Br. “Pemotongan Ayam Oleh Pedagang Ayam Potong Di Pasar Tradisional Sukaramai Medan Area Kota Medan Tinjauan Menurut Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal Menurut Fatwa Mui No. 12 Thn 2009”, dalam http://repository.uinsu.ac.id/ 5807/.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2016.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal
Zulham. Hukum Perlindungan Konsumen. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013.