• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Terhadap Praktik Pemeliharaan Rahasia Dagang di

BAB I PENDAHULUAN

A. Analisis Terhadap Praktik Pemeliharaan Rahasia Dagang di

Praktik yang dilakukan oleh pengusaha kecil berdasarkan pada bab paparan data sebelumnya terkait dengan pemeliharaan dan pembocoran rahasia dagang memang ada beberapa pelaku usaha yang melakukan pemeliharaan atau telah menerapkan rahasia dagang dan adapula pelaku usaha yang belum menerapkannya. Sebelumnya perlu diketahui terkait dengan apa itu pemeliharaan dan pembocoran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pemeliharaan adalah proses, cara, perbuatan memelihara, menjaga untuk mengindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. Pembocoran rahasia adalah tindakan mengungkapkan hal yang tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Terkait dengan temuan hasil penelitian yang peneliti dapatkan tentang praktik pemeliharaan dan pembocoran rahasia dagang di kalangan pengusaha kecil kuliner sebagaimana telah di uraikan pada Bab II sebelumnya, maka peneliti dapat menganalisisnya sebagai berikut:

A. Analisis Terhadap Praktik Pemeliharaan Rahasia Dagang di Kalangan

metode penjualan, atau informasi lain di bidang teknologi dan/atau bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan tidak diketahui oleh masyarakat umum. Sehingga kriteria untuk dapat menentukan apakah seseorang telah menerapkan atau melakukan pemeliharaan rahasia dagang maupun pembocoran rahasia dagang didasarkan atas ruang lingkup dari rahasia dagang itu sendiri. Praktik pemeliharaan rahasia dagang di kalangan pengusaha kecil kuliner Kota Mataram terdiri atas 3 (tiga) aspek diantaranya:

1. Analisis Terhadap Pemeliharaan Rahasia Dagang dari Aspek Metode Produksi.

Pemeliharaan rahasia dagang dari aspek metode produksi ini, pengusaha kecil melakukan 2 (dua) tahapan yakni pertama, membagi karyawan berdasarkan job description yang berbeda dan kedua, antar karyawan tidak memiliki keahlian yang sama.

Berdasarkan gambaran temuan peneliti di atas, menurut analisis peneliti penerapan metode produksi dalam hal pemeliharaan dengan membagi karyawan berdasarkan job description yang berbeda serta antar karyawan tidak memiliki keahlian yang sama, hal ini memberikan batasan yang jelas dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab masing-masing karyawan, sehingga dapat dihindari adanya tumpang tindih dalam pelaksanaan pekerjaan. Dengan adanya hal tersebut, maka karyawan dapat memiliki kesempatan untuk mempelajari keterampilan dan keahlian pada pekerjaan tertentu yang telah menjadi tugas dan tanggung jawab mereka.

Sehingga mereka dapat terfokus pada pekerjaan yang telah menjadi tugas

masing-masing serta dapat memudahkan dalam melaksanakan pekerjaannya dan hal ini juga memberikan efektivitas kerja pada karyawan dapat tercapai.

Metode produksi yang tercakup dalam kategori ini adalah hasil penelitian, hasil riset pasar dan langkah yang hendak dilakukan terhadap pengembangan dari hasil tersebut, termasuk teknik penggunaan mesin- mesin, dan treatment terhadap bahan.189

2. Analisis Terhadap Pemeliharaan Rahasia Dagang dari Aspek Metode Pengolahan.

Pemeliharaan rahasia dagang dari aspek metode pengolahan ini, pengusaha kecil melakukan 3 tahapan yakni pertama, pengolahan dilakukan di tempat terpisah, kemudian tahap kedua yakni bahan-bahan yang digunakan hanya diketahui oleh beberapa pihak saja. Tahap ketiga, adanya teknik pengolahan khusus tersendiri.

Berdasarkan gambaran temuan peneliti di atas, yang dimaksud dengan metode pengolahan adalah perusahaan tidak diharuskan melaporkan penggunaan bahan-bahan yang dipakai untuk formula, sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih unggul, misalnya kualitas bahan yang digunakan. Contohnya adalah dalam pembuatan obat, jamu, kosmetik, minuman ringan dan sebagainya.190

189Haris Munandar, Sally Sitanggang, Mengenal HAKI Hak Cipta, Paten, Merek dan seluk- beluknya, (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 77.

190Ibid.

3. Analisis Terhadap Pemeliharaan Rahasia Dagang dari Aspek Metode Pemasaran.

Pemeliharaan rahasia dagang dari aspek metode pemasaran ini pengusaha kecil menjaga informasi bisnis kepada orang lain seperti merahasiakan strategi yang digunakan. Metode yang diterapkan mulai dari menawarkan dari satu orang ke orang lainnya, kemudian melalui online dengan beberapa aplikasi media sosial, maupun dengan memberikan promo menarik hingga bertransaksi online seperti pemesanan melalui media sosial lalu diantarkan ke lokasi tujuan (delivery). Hal ini diterapkan oleh usaha Donat Delicious Mooik, Lombok Mirah, Kedai Giyong, D’ Donuts, Cokelat Gila, dan Pisang Unyil. Penawaran online melalui media sosial ini juga diterapkan oleh usaha Cokelat Serius tetapi tidak menerima pesanan online yang harus diantarkan ke lokasi (delivery).

Berdasarkan gambaran temuan peneliti di atas, menurut analisis peneliti metode pemasaran yang diterapkan ini hanya dilakukan secara umum saja sedangkan promosi secara detail baik dalam hal tata cara promosi, bahasa promosi atau penjualan yang digunakan tidak diungkapkan secara gamblang sehingga tidak diketahui oleh orang lain, hal ini hanya diketahui oleh pemilik saja.

Metode penjualan yang dimaksud dalam hal ini adalah perusahaan tidak diwajibkan mengungkapkan strategi-strategi yang dilakukan untuk meningkatkan penjualan/omset yang besar, misalnya cara pembayaran

kredit, tunai, kebijakan diskon (terbuka/terselubung), kebijakan harga (distributor, ritel), serta strategi promosi (terbuka/terselubung).191

Berdasarkan atas tiga aspek metode di atas terlihat bahwa pengusaha kecil yang telah menerapkan atau memelihara rahasia dagangnya tidak dengan mudah begitu saja memberikan informasi terkait dengan bahan-bahan baik dalam aspek metode produksi, metode pengolahan maupun metode pemasaran karena mengingat hal tersebut begitu berharga baginya. Pengusaha kecil yang telah melakukan ketiga metode ini yakni Donat Delicious Mooik, Pisang Unyil, Lombok Mirah, Cokelat Gila, D’ Donuts, Cokelat Serius dan Kedai Giyong.

Selain tiga aspek metode tersebut hal yang dapat dijadikan sebagai dasar sehingga pengusaha kecil tersebut dikategorikan telah menjaga atau melakukan pemeliharaan diketahui berdasarkan unsur-unsur dari rahasia dagang yang termaktub dalam Pasal 3 yakni:192

a. Harus bersifat rahasia. Informasi akan dianggap rahasia apabila hanya diketahui oleh pihak tertentu atau tidak diketahui secara umum oleh masyarakat: Pasal 3 ayat 2.

b. Harus bernilai komersial. Informasi akan dianggap bernilai komersial kalau kerahasiaannya dapat digunakan untuk kemajuan aktivitas bisnis atau komersial atau untuk meningkatkan keuntungan secara ekonomi:

Pasal 3 ayat 3. Makna menjalankan kegiatan yang bersifat komersial, menunjukkan bahwa informasi tesebut akan bermanfaat dan

191Ibid.

192Tim Lindsey dkk., Hak..., hlm. 249.

menguntungkan jika dilakukan secara massal, dan tidak hanya diperuntukkan dan dipergunakan secara terbatas. Hal ini menunjukkan kembali bahwa rahasia dagang, yang dirahasiakan adalah suatu sistem, prosedur, tata cara, proses, formula. Melalui rangkaian kegiatan dengan mempergunakan sistem, tata cara, proses, dan/atau formula yang dirahasiakan, produk, baik barang atau jasa yang dihasilkan ini diharapkan dapat memberikan keuntungan secara ekonomis.

c. Pemilik informasi harus telah mengambil langkah yang layak dan patut untuk memelihara atau melindungi sifat kerahasiaan informasi tersebut:

Pasal 3 ayat 4. Dengan kata lain adanya upaya sebagaimana mestinya dari pihak yang memiliki informasi untuk menjaga agar informasi yang dimilikinya tetap rahasia. Upaya layak ini dapat terwujud misalnya dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri karyawan akan pentingnya keberadaan rahasia dagang, pembatasan akses terhadap informasi yang rahasia, adanya level kewenangan akses atas rahasia dagang, meminta karyawan yang memiliki akses untuk menandatangani perjanjian merahasiakan dan menyimpan dokumen rahasia secara terkunci dan untuk tidak memanfaatkannya di luar yang diizinkan.

Dengan adanya unsur kerahasiaan dalam rahasia dagang ini, menyebabkan rahasia dagang tidak memiliki batas jangka waktu perlindungan, yang tepenting adalah selama pemilik rahasia dagang tetap melakukan upaya untuk menjaga kerahasiaan dari informasi tersebut maka informasi itu masih tetap dalam perlindungan rahasia dagang. Intinya bahwa selama pemiliknya

tetap merahasiakan dan melakukan usaha-usaha untuk melindungi kerahasiaannya maka selama itu pula berlaku perlindungan hukum.193

Ketentuan rahasia dagang diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 dan dalam Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor:

1/MUNAS VIII/MUI/5/2005 tentang Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) tanggal 28 Juli 2005 menyatakan bahwa rahasia dagang merupakan salah satu HKI yang wajib dilindungi. Dalam fatwa tersebut menyatakan bahwa dalam hukum Islam hak kekayaan intelektual dipandang sebagai salah satu bagian dari hak kekayaan yang mendapat perlindungan hukum sehingga diperlakukan sama seperti kekayaan atau harta. Islam mengakui rahasia dagang sebagai salah satu hak kepemilikan harta sehingga kepemilikan tersebut dilindungi sebagaimana perlindungan terhadap harta benda. Harta inilah yang merupakan hak milik pribadi bagi setiap orang. Bentuk pengakuan terhadap hak orang lain itulah sebenarnya adalah pengakuan terhadap hak kekayaan intelektual.194

Rahasia dagang dalam lingkup HKI dalam Islam merupakan bagian dari harta (al-mal). Sehingga setiap pengusaha kecil yang memiliki rahasia dagang berarti telah memiliki suatu harta. Harta atau mal jamaknya amwal, secara etimologi mempunyai beberapa arti yaitu condong, cenderung, dan miring.

Karena memang manusia condong dan cenderung untuk memiliki harta. Ada juga yang mengartikan al-mal dengan sesuatu yang menyenangkan manusia dan mereka menjaganya, baik dalam bentuk materi maupun manfaat. Ada juga

193Adrian Sutedi, Hak..., hlm. 126.

194Nugraha Pranadita, Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual Berdasarkan Prinsip Syariah dan Implementasinya Pada Negara Kesejahteraan, (Yogyakarta: Deepublish, 2018), hlm. 106.

yang mengartikan dengan sesuatu yang diperoleh manusia baik berupa benda yang tampak seperti emas, perak, binatang, tumbuhan, maupun yang tidak tampak, yakni manfaat seperti kendaraan, pakaian, dan tempat tinggal.195

Menurut Jumhur Ulama antara harta dan hak milik adalah sama, sementara menurut ulama Hanafiyah membedakan antara hak milik dengan harta. Adapun pengertian harta menurut para ulama sebagai berikut:

a. Mazhab Hanafi mendefinisikan hak milik adalah sesuatu yang dapat digunakan secara khusus dan tidak dicampuri penggunaannya oleh orang lain. Sedangkan harta ialah sesuatu yang digandrungi oleh tabiat manusia memungkinkan untuk dimiliki, dalam penggunaannya bisa dicampuri oleh orang lain, disimpan dan dimanfaatkan. Maka menurut Hanafi yang dimaksud harta hanyalah sesuatu yang berwujud.196

b. Mazhab Maliki mendefinisikan hak milik menjadi dua macam. Pertama, adalah hak yang melekat pada seseorang yang menghalangi orang lain untuk menguasainya. Kedua, sesuatu yang diakui sebagai hak milik secara urf (adat).

c. Mazhab Syafi’ i mendefinisikan hak milik juga menjadi dua macam.

Pertama, adalah sesuatu yang bermanfaat bagi pemiliknya; kedua, bernilai harta.

d. Hambali juga mendefinisikan hak milik menjadi dua macam. Pertama, sesuatu yang mempunyai nilai ekonomi; kedua, dilindungi undang- undang.

195Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah Fiqh Muamalah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 59.

196Ibid.

Dari 4 mazhab tersebut dapat disimpulkan tentang pengertian harta/hak milik yakni:

a. Sesuatu itu dapat diambil manfaat b. Sesuatu itu mempunyai nilai ekonomi

c. Sesuatu itu secara urf (adat yang benar) diakui sebagai hak milik d. Adanya perlindungan undang-undang yang mengaturnya.

Menurut Zuhaily sebagaimana dikutip oleh Ismail Nawawi menyatakan bahwa harta adalah segala sesuatu yang dapat memberikan ketenangan dan bisa dimiliki oleh manusia dengan sebuah upaya, baik sesuatu itu berupa materi maupun memberikan manfaat, seperti rumah, mobil, dan sebagainya.197 Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka harta mempunyai dua kriteria, yaitu seperti berikut:198

a. Sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan manusia hingga dapat mendatangkan kepuasan dan ketenangan atas kebutuhan tersebut, baik bersifat materi maupun bersifat immateri.

b. Sesuatu yang mesti dalam genggaman pemiliknya. Konsekuensinya, bila sesuatu tersebut belum dimiliki maka tidak bisa dikatakan sebagai harta (al-mal), misalnya barang-barang tambang yang berada di perut bumi, atau ikan yang ada di sungai dan lautan, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, HKI bisa digolongkan sebagai harta atau kekayaan meskipun tidak berwujud benda yang kasat mata atau bisa diindera. Hal ini dikarenakan terpenuhinya kriteria dari definisi harta di atas, yaitu dapat

197Ismail Nawawi, Fiqh Muamalah Klasik dan Kontemporer (Hukum Perjanjian, Ekonomi, Bisnis, dan sosial), (Bogor: Ghalia Indonesia, 2012), hlm. 31.

198Ibid.

dimiliki dan mampu memenuhi kebutuhan manusia baik secara materi maupun immateri atau dalam istilah ekonomi ada benda yang berwujud dan tidak berwujud.199

Berangkat dari paparan di atas pengusaha kecil yang telah menerapkan atau melakukan pemeliharaan maka mereka termasuk dapat melindungi harta yang dimiliki, di mana Islam sangat menghargai dan melindungi harta yang merupakan bentuk dari kepemilikan seseorang. Islam memberikan perlindungan terhadap hak individu mengenai al-mal dalam konsep al-masalih al-khamsah (lima maslahah yang harus dijaga) yakni termasuk pada kategori hifdz al-mal (menjaga harta).

B. Analisis Terhadap Praktik Pembocoran dan Penggunaan Rahasia