E. METODOLOGI DALAM MSSP
2. Analytical Hierarchy Process (AHP)
Selanjutnya, metode yang digunakan untuk memutuskan skala prioritas dari strategi yang akan ditentukan oleh lembaga atau perusahaan digunakan Analytical Heirarchy Process (AHP)
Tabel 21. Skala Penilaian Berpasangan Tabel
Kepentingan Definisi Keterangan
1 Sama pentingnya Kedua elemen
sama pentingnya 3 Agak lebih penting yang satu atas
lainnya Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang
lain.
5 Cukup penting Elemen yang
satu lebih
penting daripada elemen yang lain
7 Sangat penting Elemen yang satu mutlak
penting daripada elemen yang lain
9 Mutlak lebih penting Elemen yang satu mutlak lebih penting daripada elemen yang lain 2,4,6,8 Nilai tengah diantara dua
nilai berdekatan Bila kompromi dibutuhkan
1. Synthesis of priority (menentukan prioritas). Tujuan pengambilan keputusan adalah kegiatan untuk menentukan prioritas dari elemen- elemen kriteria yang bisa dianggap sebagai mutu elemen.
AHP digunakan dalam menganalisis prioritas elemen dengan membandingkan secara berpasangan antara dua elemen. Prioritas elemen-elemen kriteria ditentukan atas pendapat dan pandangan para ahli.
2. Logical consistency (konsistensi logis). Konsistensi memiliki 2 makna.
Makna pertama adalah obyek-obyek yang sama dan serupa dapat dikelompokkan sesuai keseragaman dan kepentingannya. Makna kedua mengenai peringkat hubungan antar obyek yang didasarkan pada kriteria tertentu.
Berikut langkah-langkah dari Analytical Hierarchy Process (AHP) (Parhusip, 2019):
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan cara pemecahan masalah yang diinginkan;
2. Membuat struktur hierarki dengan menetapkan tujuan umum.
Tujuan umum tersebut merupakan sasaran sistem secara keseluruhan. Namun sebelumnya, dilakukan penyusunan tujuan utama sebagai level teratas yang akan disusun level hirarki di bawahnya yaitu: kriteria-kriteria yang dianggap cocok untuk mempertimbangkan atau melakukan penilaian secara alternatif dan menentukan alternatif yang ada;
3. Membuat matriks perbandingan berpasangan;
4. Mendefinisikan perbandingan berpasangan, sehingga diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah. n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan. Berikut skala perbandingan berpasangan sesuai dengan intensitas kepentingan;
a. 1: Kedua elemen sama pentingnya, dan dua elemen memiliki pengaruh yang sama besar;
b. 3: Elemen yang satu sedikit lebih penting dari elemen yang lain, sehingga pengalaman dan penilaian sedikit mendukung satu elemen dibandingkan elemen lain.
c. 5: Elemen yang satu lebih penting dari elemen lain, sehingga pengalaman dan penilaian yang sangat kuat dapat mendukung satu elemen dibandingkan elemen lain.
d. 7: Satu elemen lebih mutlak memiliki kepentingan daripada elemen lain, sehingga satu elemen yang kuat didukung dan lebih dominan dalam praktik.
e. 9 : Satu elemen mutlak penting daripada elemen, lain.
2,4,6,8: Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan- pertimbangan yang berdekatan.
1. Menghitung nilai eigen dan melakukan pengujian konsistensi apabila hasil pengujian menunjukkan tidak konsisten, maka dapat dilakukan pengulangan pengambilan data.
2. Mengulangi langkah 3,4 dan 5 pada seluruh tingkat hirarki.
3. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk
penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai dengan capaian tujuan.
4. Memeriksa konsistensi hirarki. Berikut langkah-langkah dalam pengukuran konsistensi:
a. Mengalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relatif elemen pertama, serta nilai pada kolom ke dua dengan prioritas relatif elemen kedua dan seterusnya.
b. Menjumlah setiap baris.
c. Hasil dari jumlah setiap baris dibagi dengan elemen prioritas relatif yang bersangkutan, selanjutnya hasil tersebut dijumlahkan.
d. Hasil penjumlahan dibagi dengan jumlah elemen yang ada sehingga diperoleh nilai lambda max (πmax).
5. Mencari nilai Consistency Index (CI). Berikut rumus yang digunakan:
πΆπΌ = (πmax β π)/(π β 1) Di mana;
CI : Consistency Index N : Banyaknya elemen
6. Menghitung Consistency Ratio (CR). Berikut rumus yang digunakan:
CR = πΆπΌ β π πΌ Di mana;
CR : Consistency ratio CI : Consistency Index RI : Random Index
7. Memeriksa konsistensi hierarki
Data dapat dikatakan konsisten apabila nilai CR < 0,1.
Proses pengujian konsistensi tersebut dilakukan pada
sampel, menunjukkan bahwa apabila pertimbangan memilih secara acak dari skala 1/9, 1.8, ... , 1, 2, ... , 9 maka akan diperoleh rata-rata konsistensi untuk matriks yang berbeda seperti pada tabel berikut:
Tabel 22. Daftar Random Index (RI)
N 3 4 5 6 7 8 9 10
RI 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49
Sumber: Hatta (2016) Adapun contoh AHP terlampir pada Lampiran 1.3.
3. Balance Scorecard
Balanced Scorecard merupakan suatu kerangka organisasi untuk dapat melaksanakan program-program yang memfokuskan pada strategi yang disusun oleh suatu organisasi (Koesomowidjojo, 2017). HBR dalam Ciptani (2000) menyatakan balanced scorecard dikembangkan oleh Robert S. Kaplan dan David P. Norton. Balanced scorecard memandang oragnisasi dari empat perspektif yaitu perspektif keuangan (financial perspective), perspektif pelanggan (customer perspective), perspektif proses bisnis internal (internal business process perspective), dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth perspective) (Hansen and Mowen, 2007).
Balanced scorecard dijadikan sebagai sistem manajemen strategi yang memungkinkan manajer menerjemahkan visi misi besarnya ke seluruh anggota organisasi untuk mencapai tujuannya. Konsep tersebut pada dasarnya relevan apabila diterapkan pada sektor publik. Penerapan balanced scorecard berorientasi pada pelayanan publik (Blocher dkk., 2005).
Kaplan dan Norton (1996) menyatakan bahwa perusahaan menggunakan fokus pengukuran scorecard untuk menghasilkan berbagai proses manajemen, meliputi:
1. Memperjelas dan menerjemahkan visi dan strategi;
2. Mengkomunikasikan dan mengaitkan berbagai tujuan dan ukuran strategis;
3. Merencanakan, menetapkan sasaran, dan menyelaraskan berbagai inisiatif strategis;
4. Meningkatkan umpan balik dan pembelajaran strategis.
Keunggulan pendekatan balanced scorecard dalam sistem perencanaan strategis adalah dapat menghasilkan rencana strategis yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Komprehensif b. Koheren c. Seimbang d. Terukur
Balanced scorecard sebagai suatu sistem manajemen yang mengintegrasikan visi, strategi, dan keempat perspektif secara seimbang ditunjukkan dalam gambar berikut:
Gambar 15. Basic Design of a Balanced Scorecard Performance System
(Sumber: Rohm dalam Imelda, 2004)
Gambaran balanced scrorecard yang digunakan dalam organisasi publik tersaji pada Gambar berikut.
Gambar 16.Balanced Scorecard Cause-Effect Hypothesis
(Sumber: Rohm dalam Imelda., 2004)
Gambar 17. Public Sector Strategy Map (Rohm dalam Imelda,2004)
Rohm dalam Imelda (2004) menyatakan terdapat 6 tahap dalam membangun suatu balanced scrorecard yaitu sebagai berikut: 1) menilai fondasi organisasi, 2) membangun strategi bisnis, 3) membuat tujuan organisasi, 4) membuat strategic map bagi strategi bisnis organisasi, 5) pengukuran kinerja, 6) menyusun inisiatif.
Kendala yang dihadapi organisasi dalam penerapan balanced scorecard meliputi: 1) sulitnya dipahami kata-kata yang terdapat pada visi dan misi, 2) masih adanya free rider yang tidak mengerti substansi penerapan balanced scrorecard, 3) manajemen sering kali tidak konsisten dengan implementasi strategi, 4) progressnya serta butuhnya biaya dan usaha yang besar dalam penerapan balanced scorecard (Biswan dan Andika, 2020).
Pada paparan selanjutnya, diuraikan secara rinci berdasar hasil penelitian, dengan judul: β Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat dalam Implementasi Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 68 Tahun 2014 tentang Penataan Wilayah Pertahanan Negara di Laut Natuna Utaraβ.
1.1 Faktor Internal
Analisis Faktor Internal pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang ada, dikaitkan dengan teori Van Meter Van Horn. Berdasarkan pada literatur yang ada, wawancara, observasi di lapangan maka dapat dirumuskan faktor internal yang dimaksud meliputi aspek 1) Standar, tujuan dan kegiatan, 2) Sumber Daya, 3) Komunikasi antar organisasi dan kegiatan, 4) Sikap pelaksana, yang dijelaskan sebagai berikut :
Tabel23. Analisis Faktor Internal Penataan Wilayah Pertahanan
Analisis Faktor Internal Kekuatan Kelemahan
Standar, tujuan dan
kegiatan -Memiliki rencana
tata ruang wilayah pertahanan, sehingga mampu untuk menangkal ancaman sesuai dengan arah ancaman
-Banyaknya wilayah yang membutuhkan rencana tata ruang wilayah pertahanan berdasarkan ancaman
Sumber Daya
a.Sumber Daya Manusia -Banyaknya SDM Indonesia yang dapat dipergunakan sebagai pertahanan semesta
-Memerlukan pembinaan SDM yang cukup sulit dalam pemerataan pendidikan dalam memperkuat pertahanan dan keamanan
F. CONTOH ANALISIS SWOT
b. Sumber Daya Sarana
dan Prasarana -Banyakya SDA yang dimiliki Indonesia sehingga mampu untuk memperkuat pertahanan dan keamanan
-Belum mampu mengelola SDA yang dimiliki secara mandiri dan teknologi yang ada masih terbatas c. Sumber Daya Finansial -Pemerintah fokus
melaksanakan pembangunan di Kepulauan Natuna
-Keterbatasan anggaran serta luasnya wilayah negara Indonesia, sehingga pembangunan pertahanan dan keamanan dilaksanakan sesuai dengan skala prioritas
Komunikasi antar
Organisasi dan kegiatan -Memiliki stakeholder yang cukup banyak dalam pengamanan wilayah Laut Natuna Utara (TNI, PPNS, Pemda, Bakamla dan lain-lain)
-Masih memiliki ego sektoral dalam melaksanakan tugas
Sikap Pelaksana -Memiliki kesatuan sikap dalam
mempertahankan wilayah Indonesia dan
melaksanakan pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan
Sumber : Robith, 2022
Dari keterangan yang didapat, selanjutnya dilaksanakan penyebaran kuesioner kepada 46 responden untuk mengetahui jumlah nilai kekuatan dan kelemahan terhadap penataan wilayah pertahanan negara di Laut Natuna Utara dihitung menggunakan analisis SWOT sebagai berikut:
Tabel 24.Faktor Internal berdasarkan Analisis SWOT
No Faktor Internal Bobot Peringkat Skor
Kekuatan
1 Memiliki rencana tata ruang wilayah pertahanan sehingga mampu untuk menangkal ancaman sesuai dengan arah
ancaman 0,096 3,630 0,349
2 Banyaknya SDM Indonesia yang dapat dipergunakan sebagai pertahanan semesta
0,091 3,435 0,314
3 Banyaknya SDA yang dimiliki Indonesia sehingg mampu untuk memperkuat pertahanan dan keamanan
0,101 3,435 0,347
4 Pemerintah fokus melaksanakan pembangunan di Kepulauan Natuna
0,098 3,435 0,335
5 Memiliki stakeholder yang cukup banyak dalam pengamanan wilayah Laut Natuna Utara (TNI, PPNS, Pemda, Bakamla, dan
lain-lain) 0,083 3,565 0,297
6 Memiliki kesatuan sikap dalam
mempertahankan wilayah Indonesia dan melaksanakan pembangunan di bidang
pertahanan dan keamanan 0,087 3,391 0,296
Jumlah Kekuatan 1,938
No Faktor Internal Bobot Peringkat Skor
Kelemahan
1 Banyaknya wilayah yang membutuhkan rencana tata ruang wilayah pertahanan berdasarkan ancaman
0,086 1,935 0,166
2 Memerlukan pembinaan SDM yang cukup sulit dalam pemerataan pendidikan dalam memperkuat pertahanan dan keamanan
0,086 1,717 0,147
3 Belum mampu mengelola SDA yang dimiliki secara mandiri dan teknologi yang
ada masih terbatas
0,093 1,826 0,170
4 Keterbatasan Anggaran serta luasnya wilayah negara Indonesia, sehingga pembangunan pertahanan dan keamanan
dilaksanakan sesuai skala prioritas 0,097 1,739 0,168 5 Masih memiliki ego sektoral dalam
melaksanakan tugas
0,082 1,761 0,145
Jumlah Kelemahan 0,796
Total 1,000 2,734
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa kekuatan terbesar dalam Penataan Wilayah Pertahanan Negara Dalam Perspektif Manajemen Pertahanan di Laut Natuna Utara adalah memiliki rencana tata ruang wilayah pertahanan, sehingga mampu untuk menangkal ancaman sesuai dengan arah ancaman. Hal ini dibuktikan dengan adanya skor tertinggi yaitu 0,349, sedangkan kelemahan terbesar adalah belum mampu mengelola SDA yang dimiliki secara mandiri dan teknologi yang ada masih terbatas dengan skor tertinggi yakni 0,170.
1.2 Faktor Eksternal
Analisis Faktor Eksternal pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui dan mengidentifikasi Peluang dan Ancaman yang ada, dikaitkan dengan teori Van Meter Van Horn. Berdasarkan pada literatur yang ada, wawancara, observasi di lapangan maka dapat dirumuskan faktor eksternal yang dimaksud meliputi aspek 1) Kondisi ekonomi, sosial dan politik, 2) Komunikasi antar Organisasi dan kegiatan, 3) Karakteristik lembaga, 4) kinerja, yang dijelaskan sebagai berikut :
Tabel 25. Analisis Faktor Eksternal Penataan Wilayah Pertahanan Analisis Faktor
Eksternal Peluang Ancaman
Kondisi Ekonomi, Sosial, Politik
a.Ekonomi -Mampu menjadi negara maju dan mewujudkan ekonomi yang mandiri -Indonesia memiliki posisi
strategis sebagai jalur perdagangan dan ekonomi dunia
-Belum mampu mengelola sumber daya dan ekonomi masih terpusat di Pulau Jawa
b. Sosial -Memiliki
keanekaragaman karakter dan budaya bangsa
-Mudah terprovokas dan mudah dipecah belah c. Politik -Indonesia menganut
politik bebas aktif -Sistem pertahanan yang dimiliki menganut pada perpaduan kekuatan blok Barat dan blok Timur Komunikasi antar
Organisasi dan kegiatan -Melaksanakan diplomasi maritim
-Melaksanakan Kerjasama dengan negara lain
-Sulitnya menerapkan diplomasi maritim karena kepentingan masing- masing negara -Menimbulkan gejolak
dan peningkatan eskalasi keamanan
Karakteristik Lembaga -Melaksanakan operasi dan Latihan bersama baik dengan Stakeholder maupun negara asing
-Belum adanya kesamaan SOP dalam melaksanakan pengamanan di Natuna -Belum adanya program Network Centric Warfare Kinerja -Rencana kerja instansi
sesuai nawa cita Poros Maritim Dunia
-Belum konsistennya penerapan poros maritim dunia dalam pembangunan wilayah maritim
Dari keterangan yang didapat, selanjutnya dilaksanakan penyebaran kuesioner kepada 46 responden untuk mengetahui jumlah nilai peluang dan kendala terhadap penataan wilayah pertahanan negara di Laut Natuna Utara dihitung menggunakan analisis SWOT sebagai berikut:
Tabel 26. Tabel Faktor Eksternal berdasarkan Analisis SWOT
No Faktor Eksternal Bobot Peringkat Skor
Peluang
1 Mampu menjadi negara maju dan
mewujudkan ekonomi yang mandiri 0,067 3,761 0,251 2 Indonesia memiliki posisi strategis sebagai
jalur perdagangan dan ekonomi dunia 0,066 3,370 0,224 3 Memiliki keanekaragaman karakter dan
budaya bangsa 0,058 3,283 0,192
4 Indonesia menganut politik bebas aktif 0,058 3,500 0,202
5 Melaksanakan diplomasi maritime 0,066 3,739 0,248
6 Melaksanakan Kerjasama dengan negara
lain 0,064 3,326 0,214
7 Melaksanakan Operasi dan Latihan Bersama antar stakeholder maupun
dengan negara asing 0,071 3,587 0,254
8 Rencana kerja instansi sesuai dengan
Nawacita Poros Maritim Dunia 0,072 3,587 0,259
Jumlah Peluang 1,844
No Faktor Eksternal Bobot Peringkat Skor
Ancaman
1 Belum mampu mengelola sumber daya dan ekonomi masih terpusat di Pulau
Jawa 0,066 3,196 0,211
2 Mudah terprovokasi dan mudah dipecah
belah 0,062 3,717 0,229
3 Sistem pertahanan yang dimiliki menganut pada perpaduan kekuatan blok Barat dan
blok Timur 0,047 3,543 0,166
4 Sulitnya menerapkan diplomasi maritime
karena kepentingan masing-masing negara 0,061 3,522 0,215 5 Menimbulkan gejolak dan peningkatan
eskalasi keamanan 0,068 2,913 0,197
6 Belum adanya kesamaan SOP dalam
melaksanakan pengamanan di Natuna 0,056 3,304 0,186
7 Belum adanya program Network Centric
Warfare 0,053 3,174 0,169
8 Belum konsistennya penerapan Poros Maritim Dunia dalam pembangunan
Wilayah Maritim 0,065 3,261 0,211
Jumlah Ancaman 1,583
Total 1,000 3,426
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa peluang terbesar dalam Penataan Wilayah Pertahanan Negara Dalam Perspektif Manajemen Pertahanan di Laut Natuna Utara adalah Rencana kerja instansi sesuai dengan Nawacita Poros Maritim Dunia. Hal ini dibuktikan dengan adanya skor tertinggi yaitu 0,259. Sedangkan ancaman terberat adalah Mudah terprovokasi dan mudah dipecah belah dengan skor tertinggi yakni 0,229. Matriks internal eksternal ini dikembangkan dari model General Electric (GE- Model). Parameter yang digunakan meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi. Tujuan penggunaan model ini adalah untuk memperoleh strategi di tingkat korporat yang lebih detail. Matriks IE menempatkan berbagai divisi dari suatu organisasi dalam sembilan sel. Matriks IE didasarkan pada dua dimensi kunci, yaitu total nilai matriks IFE yang diberi bobot pada sumbu X dan total nilai matriks EFE yang diberi bobot pada sumbu Y sebagai berikut:
Gambar 18. Matriks IE.
Gambar 18. Matriks IE (Sumber :Maulana, 2016)
Berdasarkan pada Gambar di atas menunjukkan matriks IE pertahanan wilayah Laut Natuna Utara berada dalam sel II yakni digambarkan sebagai tumbuh dan membangun (Growth and Build).
Strategi-strategi yang cocok adalah Strategi Intensif atau Strategi Terintegrasi (Backward Integration, Forward Integration, dan Horizontal Integration).
Hasil analisis dari faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan serta faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancaman, diharapkan dapat disusun beberapa alternatif strategi dengan cara memindahkan hasil analisis matriks IFE dan EFE ke dalam matriks SWOT.
Sehingga pada akhirnya didapatkan strategi yang sesuai berdasarkan posisi dan dan kondisi di lapangan. Strategi ini terdiri dari strategi SO, strategi ST, strategi WO, dan strategi WT. Berikut hasil analisis matriks SWOT:
Tabel27. Matriks SWOT
IFAS
EFAS
Peluang (Opportunities) 1. Mampu menjadi negara maju
dan mewujudkan ekonomi yang mandiri (O1)
2. Indonesia Memiliki posisi strategis sebagai jalur perdagangan dan ekonomi dunia (O2)
3. Memiliki keanekaragaman karakter dan budaya bangsa (O3)
4. Indonesia menganut politik bebas aktif (O4)
5. Melaksanakan diplomasi maritim (O5)
6. Melaksanakan kerjasama dengan negara lain (O6) 7. Melaksanakan operasi dan
latihan bersama antar stakeholder maupun dengan negara asing (O7)
8. Rencana kerja instansi sesuai dengan Nawacita Poros Maritim Dunia (O8)
Ancaman (Threats) 1. Belum mampu mengelola
sumber Daya dan ekonomi masih terpusat di Pulau Jawa (T1)
2. Mudah terprovokasi dan mudah dipecah belah (T2) 3. Sistem pertahanan yang
dimiliki menganut pada perpaduan kekuatan blok Barat dan blok Timur(T3) 4. Sulitnya menerapkan
diplomasi maritim karena kepentingan masing-masing negara (T4)
5. Menimbulkan gejolak dan peningkatan eskalasi keamanan (T5)
6. Belum adanya kesamaan SOP dalam melaksanakan pengamanan di Natuna (T6) 7. Belum adanya program
Network Centric Warfare 8. Belum konsistennya (T7)
penerapan poros maritime dunia dalam pembangunan wilayah maritime (T8)
Kekuatan (Strengths) 1. Memiliki rencana
tata ruang wilayah pertahanan, sehingga mampu untuk menangkal ancaman sesuai dengan arah ancaman (S1) 2. Banyaknya SDM
Indonesia yang dapat dipergunakan sebagai pertahanan semesta (S2) 3. Banyaknya SDA yang
dimiliki Indonesia sehingga mampu untuk memperkuat pertahanan dan keamanan (S3) 4. Pemerintah fokus
melaksanakan pembangunan di Kepulauan Natuna 5. Memiliki stakeholder (S4)
yang cukup banyak dalam pengamanan wilayah Laut Natuna Utara (TNI, PPNS, Pemda, Bakamla, dan lain-lain) (S5) 6. Memiliki kesatuan
sikap dalam mempertahankan wilayah Indonesia dan melaksanakan pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan (S6)
Strategi (S-O) 1. Mewujudkan
Pertahanan yang bersifat semesta (S1,S2,S3,O1,O8) 2. Meningkatkan
keamanan maritim, darat dan kedirgantaraan (S2,S3,S5,O2, O6,O7)
Strategi (S-T) 1. Membangun dan
mendayagunakan industri
pertahanan (S2,S3,S6,T3) 2. Menciptakan
kesadaran dan kemampuan bela negara (S2,S5,T2,T6)
Kelemahan (Weakness) 1. Banyaknya wilayah
yang membutuhkan rencana tata ruang wilayah pertahanan berdasarkan ancaman 2. Memerlukan (W1)
pembinaan SDM yang cukup sulit dalam pemerataan pendidikan dalam memperkuat pertahanan dan keamanan (W2) 3. Belum mampu
mengelola SDA yang dimiliki secara mandiri dan teknologi yang ada masih terbatas (W3) 4. Keterbatasan
Anggaran serta luasnya wilayah negara Indonesia, sehingga pembangunan pertahanan dan keamanan dilaksanakan sesuai skala prioritas (W4) 5. Masih memiliki
ego sektoral dalam melaksanakan tugas (W5)
Strategi (W-O) 1. Meningkatkan
kerjasama internasional (W1,W2,W3,O2,07) 2. Menyusun
pertahanan berlapis (W4,W5,O2,O8)
Strategi (W-T) 1. Mempersiapkan
pertahanan defensif aktif (W1,W4,T3,T5,T7) 2. Melaksanakan
pengelolaan Sumber Daya (W2,W3,W4,T1,T2,T7)
Berdasarkan hasil Analisa SWOT di atas, maka ditemukan strategi untuk pertahanan wilayah Laut Natuna Utara. Dari berbagai strategi di atas, maka dianalisa kembali menggunakan AHP untuk mengetahui prioritas strategi yang digunakan. AHP ini dilakukan melalui penyebaran kuesioner yang diberikan kepada ahli (expert) berjumlah 3 orang, hasil dari masing- masing responden dianalisa dan dihitung nilai geomean.
1.3 Strategi yang dapat diterapkan
Berdasarkan hasil Analisa SWOT di atas, maka ditemukan strategi untuk pertahanan wilayah Laut Natuna Utara. Dari berbagai strategi di atas maka akan dianalisa kembali menggunakan AHP untuk mengetahui prioritas strategi yang digunakan. AHP ini dilakukan melalui penyebaran kuesioner yang diberikan kepada expert berjumlah 3 orang, hasil dari masing-masing responden dianalisa dan dihitung nilai geomean, sehingga mendapatkan hasil sebagai berikut:
Responden 1
STRATEGI S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8
S1 1,000 3,000 5,000 0,143 0,250 0,200 0,500 0,200 S2 0,333 1,000 0,333 2,000 0,333 0,143 3,000 0,143 S3 0,200 3,000 1,000 0,200 2,000 0,333 0,143 4,000 S4 7,000 0,500 5,000 1,000 3,000 4,000 5,000 0,200 S5 4,000 3,000 0,500 0,333 1,000 0,500 0,200 0,143 S6 5,000 7,000 3,000 0,250 2,000 1,000 0,143 6,000 S7 2,000 7,000 7,000 0,200 5,000 7,000 1,000 0,333 S8 5,000 7,000 0,250 5,000 7,000 0,167 3,000 1,000 TOTAL 24,533 31,500 22,083 9,126 20,583 13,343 12,986 12,019
Responden 2
STRATEGI S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8
S1 1,000 0,200 0,333 0,143 0,200 0,200 0,333 3,000 S2 5,000 1,000 7,000 0,143 0,333 5,000 0,200 7,000 S3 3,000 7,000 1,000 0,333 0,200 0,333 0,333 0,200 S4 7,000 7,000 3,000 1,000 0,143 0,333 0,167 0,333 S5 5,000 3,000 5,000 7,000 1,000 5,000 2,000 4,000 S6 5,000 0,200 3,000 3,000 0,200 1,000 5,000 0,143 S7 3,000 5,000 3,000 6,000 0,500 0,200 1,000 3,000 S8 0,333 0,143 5,000 3,000 0,250 7,000 0,333 1,000 TOTAL 29,333 23,543 27,333 20,619 2,826 19,067 9,367 18,676
Responden 3
STRATEGI S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8
S1 1,000 0,493 0,693 0,143 0,721 0,493 0,794 0,493 S2 2,027 1,000 0,920 0,385 0,693 0,523 0,585 0,794 S3 1,442 1,087 1,000 0,281 0,511 0,822 0,212 0,543 S4 7,000 2,596 3,557 1,000 0,599 0,575 0,593 0,585 S5 1,387 1,442 1,957 1,671 1,000 0,794 0,385 1,046 S6 2,027 1,912 1,216 1,738 1,260 1,000 0,709 0,556 S7 1,260 1,710 4,718 1,687 2,596 1,409 1,000 0,630 S8 2,027 1,260 1,842 1,710 0,956 1,800 1,587 1,000 TOTAL 18,171 11,501 15,903 8,615 8,337 7,417 5,865 5,646
Hasil di atas kemudian dilakukan perhitungan matrix vaktor untuk mengetahui apakah mendapatkan nilai yang konsisten atau tidak.
MATRIX S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 Priority
S1 0,055 0,043 0,044 0,017 0,087 0,067 0,135 0,087 0,067 S2 0,112 0,087 0,058 0,045 0,083 0,071 0,100 0,141 0,087 S3 0,079 0,095 0,063 0,033 0,061 0,111 0,036 0,096 0,072 S4 0,385 0,226 0,224 0,116 0,072 0,078 0,101 0,104 0,163 S5 0,076 0,125 0,123 0,194 0,120 0,107 0,066 0,185 0,125 S6 0,112 0,166 0,076 0,202 0,151 0,135 0,121 0,098 0,133 S7 0,069 0,149 0,297 0,196 0,311 0,190 0,170 0,112 0,187 S8 0,112 0,110 0,116 0,198 0,115 0,243 0,271 0,177 0,168 TOTAL 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000
Nilai matrix ini nantinya akan digunakan sebagai perhitungan parameter sebagai berikut:
Parameter Value Result
Max Eigen Value 8,821
Konsisten karena nilai CR kurang dari 0,1
CI 0,117
RI 1,41
CR = CI/ RI 0,083
Berdasarkan hasil parameter ditemukan bahwa data Analisa konsisten karena memiliki nilai CR kurang dari 0,1. Sehingga perhitungan AHP bisa dilanjutkan. Untuk menentukan prioritas dalam perhitungan AHP maka dilakukan perkalian matrix, dalam penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali. Berikut hasil dari perkalian matrik yang pertama:
Squarring Matrix: 1st
MATRIX S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 Jumlah
eigen vactor 1st S1 8,000 6,073 9,013 4,915 5,378 4,476 3,518 3,366 44,739 0,0623 S2 12,445 8,000 10,829 5,729 6,485 5,827 5,100 4,696 59,112 0,0823 S3 10,800 6,971 8,000 4,755 5,089 4,767 4,013 3,949 48,345 0,0673 S4 28,323 16,227 20,101 8,000 12,686 11,249 10,581 9,933 117,098 0,1630 S5 24,428 13,528 16,853 8,462 8,000 8,021 6,342 6,643 92,278 0,1285 S6 25,620 14,390 18,616 9,096 9,343 8,000 6,802 7,070 98,935 0,1377 S7 32,334 20,784 25,838 13,403 13,085 12,378 8,000 10,284 136,106 0,1895 S8 28,212 17,499 23,881 12,117 12,602 10,754 8,570 8,000 121,635 0,1694 718,248 1,0000
Squarring Matrix: 2nd
MATRIX S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 Jumlah
eigen vactor 2nd S1 830,871 508,933 654,004 330,446 363,920 328,130 268,835 270,328 3555,467 0,0648 S2 1083,433 667,797 862,287 437,462 478,840 430,646 350,475 353,416 4664,356 0,0850 S3 881,864 544,254 704,934 357,169 391,863 351,685 286,623 288,284 3806,676 0,0693 S4 2092,608 1298,972 1686,406 863,584 931,546 836,653 674,458 682,434 9066,661 0,1652 S5 1578,861 983,091 1278,247 651,554 717,870 641,964 525,071 524,566 6901,223 0,1257 S6 1695,269 1054,676 1369,464 698,302 768,814 688,730 563,146 562,790 7401,189 0,1348 S7 2361,538 1461,613 1895,858 963,227 1064,810 953,351 784,578 780,561 10265,535 0,1870 S8 2130,741 1317,783 1703,459 865,669 954,712 857,604 702,745 703,668 9236,380 0,1682 54897,489 1,0000
Apabila nilai eigen vaktor 1 dikurangi dengan nilai eigen vaktor 2, didapatkan hasil mendekati nol, maka perkalian matrik diberhentikan.
Hal ini berarti sudah mendapatkan nilai yang optimal. Pada penelitian ini
nol, sehingga nilai eigen vaktor 2 dapat dilakukan perangkingan untuk menentukan prioritas strategi yang digunakan.
Kode Strategi Nilai Eigen
Vaktor 2nd Ranking
S1 Mewujudkan pertahanan yang
bersifat semesta 0,1652 3
S2 Meningkatkan keamanan maritim, darat dan
kedirgantaraan 0,0850 6
S3 Membangun dan mendayagunakan industri
peetahanan 0,0693 7
S4 Menciptakan kesadaran dan
kemampuan bela negara 0,0648 8
S5 Meningkatkan kerjasama
internasional 0,1257 5
S6 Menyusun pertahanan berlapis 0,1348 4
S7 Mempersiapkan pertahanan
defensif aktif 0,1870 1
S8 Melaksanakan pengelolaan
Sumber Daya 0,1682 2
Berdasarkan hasil di atas, maka secara berurutan strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan pertahanan defensif aktif
Pertahanan defensif aktif menunjukkan bahwa kekuatan TNI dibangun untuk mempertahankan integritas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak ditujukan untuk melakukan ofensif ke Negara lain. Sistem pertahanan defensif aktif sesuai dengan politik luar Negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Politik luar negeri tersebut menjadi landasan yang kuat bagi TNI untuk bebas menjalin kerja sama internasional dengan semua negara, tidak bergantung pada blok tertentu, dan aktif menjalin kerja sama tersebut sesuai kepentingan nasional Indonesia dan perdamaian dunia. Sistem pertahanan defensif aktif ini bersumber dari nilai-nilai kejuangan 1945 yang menyatakan bangsa Indonesia cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan. Sistem pertahanan negara defensif aktif dijabarkan dalam bentuk Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), yang kemudian
disebut Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta).
Adapun upaya-upaya yang perlu dilakukan antara lain:
a. Komando, Kendali, Komunikasi, Komputerisasi, Intelijen serta Pengawasan dan Pengintaian (K4IPP) yang bersinergi dengan keamanan Nasional.
b. Peningkatan deteksi dini antar kelembagaan.
c. Pembangunan wilayah pertahanan yang terintegrasi dengan pemerintah daerah agar menjadi ruang pertahanan yang tangguh.
d. Pembentukan sistem operasi Network Centric Warfare (NCW).
2. Melaksanakan pengelolaan Sumber Daya
Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Sumber daya manusia
Pada Sumber Daya ini tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Perekrutan anggota TNI baru.
2) Perekrutan komponen cadangan/bela negara.
3) Pengembangan kemampuan personel yang ada dengan sekolah dan kursus-kursus.
4) Pemanfaatan SDM secara integrasi antar K/L.
b. Sumber Daya Sarana dan Prasarana
Pada Sumber Daya ini tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Sinergitas pembangunan infrastruktur pertahanan dan insfrastruktur nasional.
2) Pembangunan pangkalan militer terintegrasi.
3) Penambahan jumlah alustita TNI.
c. Sumber Daya Finansial
Pada Sumber daya finansial ini tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Menggunakan Dana APBN.
2) Menggunakan dana kerjasama dengan swasta.
3) Menggunakan dana dari kerjasama dengan negara lain.
4) Menggunakan dana darurat negara.
3. Mewujudkan pertahanan yang bersifat semesta
Strategi penindakan bertujuan untuk dapat menindak setiap ancaman yang mengganggu kedaulatan, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa dilaksanakan dalam bentuk operasi tempur untuk menghancurkan musuh di negaranya, dalam perjalanan dan yang telah berhasil memasuki wilayah nasional dengan menggunakan strategi perang berlarut. Sebagai kaitan dengan state of the art, Pertahanan Indonesia mengatur dan merancang strategi khusus untuk merespon perkembangan pembangunan pangkalan militer China di Laut China Selatan.
Adapun upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Menempatkan TNI sebagai komponen utama, didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung.
b. Peningkatan pembangunan kawasan perbatasan di laut dan pulau-pulau terkecil.
c. Memperkuat postur dengan Pemenuhan MEF (Minimum Essensial Force).
d. Pembangunan kelembagaan pertahanan militer dan nir militer.
e. Pembangunan pertahanan militer terpadu (Trimatra terpadu).
f. Pengembangan organisasi.
4. Menyusun pertahanan berlapis
Dalam rangka menyusun pertahanan berlapis, gelar pertahanan militer disinergikan dengan gelar pertahanan nirmiliter untuk melaksanakan penangkalan, menghadapi ancaman militer, menghadapi ancaman nonmiliter, melaksanakan kerjasama pertahanan, dan melaksanakan perdamaian dunia. Gelar pertahanan militer diselenggarakan dalam keterpaduan matra darat, matra laut, dan matra udara serta ditata