F. CONTOH ANALISIS SWOT
1.3 Strategi yang dapat Diterapkan
Responden 3
STRATEGI S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8
S1 1,000 0,493 0,693 0,143 0,721 0,493 0,794 0,493 S2 2,027 1,000 0,920 0,385 0,693 0,523 0,585 0,794 S3 1,442 1,087 1,000 0,281 0,511 0,822 0,212 0,543 S4 7,000 2,596 3,557 1,000 0,599 0,575 0,593 0,585 S5 1,387 1,442 1,957 1,671 1,000 0,794 0,385 1,046 S6 2,027 1,912 1,216 1,738 1,260 1,000 0,709 0,556 S7 1,260 1,710 4,718 1,687 2,596 1,409 1,000 0,630 S8 2,027 1,260 1,842 1,710 0,956 1,800 1,587 1,000 TOTAL 18,171 11,501 15,903 8,615 8,337 7,417 5,865 5,646
Hasil di atas kemudian dilakukan perhitungan matrix vaktor untuk mengetahui apakah mendapatkan nilai yang konsisten atau tidak.
MATRIX S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 Priority
S1 0,055 0,043 0,044 0,017 0,087 0,067 0,135 0,087 0,067 S2 0,112 0,087 0,058 0,045 0,083 0,071 0,100 0,141 0,087 S3 0,079 0,095 0,063 0,033 0,061 0,111 0,036 0,096 0,072 S4 0,385 0,226 0,224 0,116 0,072 0,078 0,101 0,104 0,163 S5 0,076 0,125 0,123 0,194 0,120 0,107 0,066 0,185 0,125 S6 0,112 0,166 0,076 0,202 0,151 0,135 0,121 0,098 0,133 S7 0,069 0,149 0,297 0,196 0,311 0,190 0,170 0,112 0,187 S8 0,112 0,110 0,116 0,198 0,115 0,243 0,271 0,177 0,168 TOTAL 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000
Nilai matrix ini nantinya akan digunakan sebagai perhitungan parameter sebagai berikut:
Parameter Value Result
Max Eigen Value 8,821
Konsisten karena nilai CR kurang dari 0,1
CI 0,117
RI 1,41
CR = CI/ RI 0,083
Berdasarkan hasil parameter ditemukan bahwa data Analisa konsisten karena memiliki nilai CR kurang dari 0,1. Sehingga perhitungan AHP bisa dilanjutkan. Untuk menentukan prioritas dalam perhitungan AHP maka dilakukan perkalian matrix, dalam penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali. Berikut hasil dari perkalian matrik yang pertama:
Squarring Matrix: 1st
MATRIX S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 Jumlah
eigen vactor 1st S1 8,000 6,073 9,013 4,915 5,378 4,476 3,518 3,366 44,739 0,0623 S2 12,445 8,000 10,829 5,729 6,485 5,827 5,100 4,696 59,112 0,0823 S3 10,800 6,971 8,000 4,755 5,089 4,767 4,013 3,949 48,345 0,0673 S4 28,323 16,227 20,101 8,000 12,686 11,249 10,581 9,933 117,098 0,1630 S5 24,428 13,528 16,853 8,462 8,000 8,021 6,342 6,643 92,278 0,1285 S6 25,620 14,390 18,616 9,096 9,343 8,000 6,802 7,070 98,935 0,1377 S7 32,334 20,784 25,838 13,403 13,085 12,378 8,000 10,284 136,106 0,1895 S8 28,212 17,499 23,881 12,117 12,602 10,754 8,570 8,000 121,635 0,1694 718,248 1,0000
Squarring Matrix: 2nd
MATRIX S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 Jumlah
eigen vactor 2nd S1 830,871 508,933 654,004 330,446 363,920 328,130 268,835 270,328 3555,467 0,0648 S2 1083,433 667,797 862,287 437,462 478,840 430,646 350,475 353,416 4664,356 0,0850 S3 881,864 544,254 704,934 357,169 391,863 351,685 286,623 288,284 3806,676 0,0693 S4 2092,608 1298,972 1686,406 863,584 931,546 836,653 674,458 682,434 9066,661 0,1652 S5 1578,861 983,091 1278,247 651,554 717,870 641,964 525,071 524,566 6901,223 0,1257 S6 1695,269 1054,676 1369,464 698,302 768,814 688,730 563,146 562,790 7401,189 0,1348 S7 2361,538 1461,613 1895,858 963,227 1064,810 953,351 784,578 780,561 10265,535 0,1870 S8 2130,741 1317,783 1703,459 865,669 954,712 857,604 702,745 703,668 9236,380 0,1682 54897,489 1,0000
Apabila nilai eigen vaktor 1 dikurangi dengan nilai eigen vaktor 2, didapatkan hasil mendekati nol, maka perkalian matrik diberhentikan.
Hal ini berarti sudah mendapatkan nilai yang optimal. Pada penelitian ini
nol, sehingga nilai eigen vaktor 2 dapat dilakukan perangkingan untuk menentukan prioritas strategi yang digunakan.
Kode Strategi Nilai Eigen
Vaktor 2nd Ranking
S1 Mewujudkan pertahanan yang
bersifat semesta 0,1652 3
S2 Meningkatkan keamanan maritim, darat dan
kedirgantaraan 0,0850 6
S3 Membangun dan mendayagunakan industri
peetahanan 0,0693 7
S4 Menciptakan kesadaran dan
kemampuan bela negara 0,0648 8
S5 Meningkatkan kerjasama
internasional 0,1257 5
S6 Menyusun pertahanan berlapis 0,1348 4
S7 Mempersiapkan pertahanan
defensif aktif 0,1870 1
S8 Melaksanakan pengelolaan
Sumber Daya 0,1682 2
Berdasarkan hasil di atas, maka secara berurutan strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan pertahanan defensif aktif
Pertahanan defensif aktif menunjukkan bahwa kekuatan TNI dibangun untuk mempertahankan integritas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak ditujukan untuk melakukan ofensif ke Negara lain. Sistem pertahanan defensif aktif sesuai dengan politik luar Negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Politik luar negeri tersebut menjadi landasan yang kuat bagi TNI untuk bebas menjalin kerja sama internasional dengan semua negara, tidak bergantung pada blok tertentu, dan aktif menjalin kerja sama tersebut sesuai kepentingan nasional Indonesia dan perdamaian dunia. Sistem pertahanan defensif aktif ini bersumber dari nilai-nilai kejuangan 1945 yang menyatakan bangsa Indonesia cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan. Sistem pertahanan negara defensif aktif dijabarkan dalam bentuk Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata), yang kemudian
disebut Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta).
Adapun upaya-upaya yang perlu dilakukan antara lain:
a. Komando, Kendali, Komunikasi, Komputerisasi, Intelijen serta Pengawasan dan Pengintaian (K4IPP) yang bersinergi dengan keamanan Nasional.
b. Peningkatan deteksi dini antar kelembagaan.
c. Pembangunan wilayah pertahanan yang terintegrasi dengan pemerintah daerah agar menjadi ruang pertahanan yang tangguh.
d. Pembentukan sistem operasi Network Centric Warfare (NCW).
2. Melaksanakan pengelolaan Sumber Daya
Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Sumber daya manusia
Pada Sumber Daya ini tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Perekrutan anggota TNI baru.
2) Perekrutan komponen cadangan/bela negara.
3) Pengembangan kemampuan personel yang ada dengan sekolah dan kursus-kursus.
4) Pemanfaatan SDM secara integrasi antar K/L.
b. Sumber Daya Sarana dan Prasarana
Pada Sumber Daya ini tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Sinergitas pembangunan infrastruktur pertahanan dan insfrastruktur nasional.
2) Pembangunan pangkalan militer terintegrasi.
3) Penambahan jumlah alustita TNI.
c. Sumber Daya Finansial
Pada Sumber daya finansial ini tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Menggunakan Dana APBN.
2) Menggunakan dana kerjasama dengan swasta.
3) Menggunakan dana dari kerjasama dengan negara lain.
4) Menggunakan dana darurat negara.
3. Mewujudkan pertahanan yang bersifat semesta
Strategi penindakan bertujuan untuk dapat menindak setiap ancaman yang mengganggu kedaulatan, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa dilaksanakan dalam bentuk operasi tempur untuk menghancurkan musuh di negaranya, dalam perjalanan dan yang telah berhasil memasuki wilayah nasional dengan menggunakan strategi perang berlarut. Sebagai kaitan dengan state of the art, Pertahanan Indonesia mengatur dan merancang strategi khusus untuk merespon perkembangan pembangunan pangkalan militer China di Laut China Selatan.
Adapun upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Menempatkan TNI sebagai komponen utama, didukung oleh komponen cadangan dan komponen pendukung.
b. Peningkatan pembangunan kawasan perbatasan di laut dan pulau-pulau terkecil.
c. Memperkuat postur dengan Pemenuhan MEF (Minimum Essensial Force).
d. Pembangunan kelembagaan pertahanan militer dan nir militer.
e. Pembangunan pertahanan militer terpadu (Trimatra terpadu).
f. Pengembangan organisasi.
4. Menyusun pertahanan berlapis
Dalam rangka menyusun pertahanan berlapis, gelar pertahanan militer disinergikan dengan gelar pertahanan nirmiliter untuk melaksanakan penangkalan, menghadapi ancaman militer, menghadapi ancaman nonmiliter, melaksanakan kerjasama pertahanan, dan melaksanakan perdamaian dunia. Gelar pertahanan militer diselenggarakan dalam keterpaduan matra darat, matra laut, dan matra udara serta ditata
secara seimbang dan proporsional sesuai dengan kondisi geografi Indonesia di wilayah barat, tengah, dan timur.
Adapun upaya yang dapat dilakukan antara lain:
a. Penempatan radar di pulau-pular terluar maupun rig-rig minyak bumi lepas pantai.
b. Pembangunan suar-suar di perbatasan.
c. Mengerahkan kekuatan pertahanan dan keamanan secara sistematis.
d. Pembangunan sistem informasi dan komunikasi.
e. Melaksanakan latihan terintegrasi antar lembaga.
5. Meningkatkan kerjasama Internasional
Indonesia telah melakukan beberapa upaya unilateral. Di antaranya adalah mengubah penamaan kawasan yang awalnya disebut Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara. Dalam hal ini, mengubah nama Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara merupakan upaya Indonesia untuk mengklaim kekuasaannya di kawasan tersebut.
Selain itu, Indonesia juga memberlakukan tindakan tegas terhadap pelanggaran di wilayah konflik ini. . Namun pada kenyataannya, upaya yang dilakukan oleh Indonesia belum sepenuhnya efektif, mengingat konflik masih terus berjalan dan RRT masih melakukan pelanggaran.
Melihat realitas tersebut, menjadi sangat penting bagi Indonesia untuk mengupayakan penuntasan konflik Laut China Selatan dengan diplomasi multilateral bersama dengan negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Melalui diplomasi multilateral ASEAN, telah dilakukan upaya-upaya secara damai untuk penuntasan konflik, seperti dikeluarkannya The Declaration of Conduct (DOC) dan Code of Conduct (COC).
Oleh karena itu, penting dilakukan suatu langkah dalam menurunkan eksalasi sehingga tidak terjadi perang yang merugikan seluruh pihak, yang dapat dilakukan dengan diplomasi sebagai tindakan pemulihan. Adapun strategi pemulihan adalah strategi yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi stabilitas keamanan dan kepercayaan masyarakat yang dilakukan antara lain melalui pembinaan, rekonstruksi dan rehabilitasi.
Adapun upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Mengirimkan siswa pendidikan ke Luar Negeri.
b. Diplomasi maritim guna penyamaan persepsi keamanan di kawasan.
c. Latihan bersama dengan negara luar.
d. Kerjasama pertahanan dan keamanan dengan negara-negara lain.
e. Melaksanakan bantuan kemanusaiaan sesuai PBB.
6. Meningkatkan keamanan maritim, darat dan kedirgantaraan Strategi penangkalan bertujuan untuk mewujudkan kesiapsiagaan segenap kekuatan dan kemampuan serta gelar TNI yang mampu memberikan dampak psikologi dengan mewujudkan efek tangkal yang tangguh, baik keluar maupun kedalam. Strategi TNI dalam pertahanan negara yaitu penangkal, penindakan dan pemulihan. Mabes TNI pun menyebut mandala Natuna berkarakter maritim. Sehingga dengan keberadaan Mako Guspurla Koarmada I diharapkan dapat memperkokoh kemampuan interoperabilitas kekuatan laut dan udara TNI di domain maritim sebagai bentuk penangkal.
Adapun upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan pola dan gelar operasional secara interoperability.
b. Saling tukar menukar informasi ancaman antar lembaga.
c. Memberikan fungsi kontrol terhadap kapal-kapal maupun pesud yang melintas di wilayah hak berdaulat Indonesia.
7. Membangun dan mendayagunakan industri pertahanan Pembangunan industri pertahanan dalam negeri tersebut pada perjalanannya ternyata memunculkan masalah tersendiri, antara lain pengembangan industri pertahanan nasional. Negara dituntut untuk sesegera mungkin memenuhi kebutuhan sektor pertahanan. Pengadaan alutsista pada dasarnya tidak dapat menunggu waktu yang lama sebab alutsista merupakan bagian integral dari Renstra dan sasarannya alutsista itu harus siap digunakan kapanpun sesuai kebutuhan Saat ini, hampir semua negara penyedia peralatan militer berskala besar ditopang oleh kemampuan riset dan pemberdayaan kapasitas teknologi yang kuat dari dalam negeri. Industri pertahanan bersama pemerintah,
lembaga keuangan, universitas, dan kalangan inventor bekerja dalam sebuah model kerjasama terintegrasi untuk menciptakan berbagai produk pertahanan, baik yang berorientasi impor maupun untuk keperluan dalam negeri (nasional).
Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Mengembangkan iptek tentang pertahanan.
2) Berkerjasama dengan pertahanan negara lain untuk transfer teknologi dalam pembangunan industri pertahanan.
3) Mengembangkan riset dalam negeri tentang pembangunan pertahanan.
8. Menciptakan kesadaran dan kemampuan bela negara
Implementasi dikatakan berhasil dengan menetapkan tugas yang telah diciptakan, identifikasi dapat menggunakan statement atau pernyataan dari pembuat keputusan, sebagai refleksi dalam sejumlah dokumen seperti regulasi program dan garis pedoman kriteria evaluasi penampilan kinerja kebijakan.
Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan program bela negara.
b. Pembangunan karakter bangsa yang berorientas pada kelautan.
c. Mengubah negara agraris kembali menjadi negara maritim.
Abdulla, J.Y.A . 1996. The Timeliness of Bahraini Annual Reports.
Advances in. International Accounting. 9: 73-88.
Ahmadi, M., Parthasarati, D.,. Kathleen, K.W. 2016. A SWOT Analysis of Big Data. The Journal of Education for Business, 91 (5): 1-6.
Alamsurya, K.E. 2020. Inovasi Kewirausahaan Berbasis Ekonomi Kerakyatan. Kondisi Persaingan Usaha IKM (Industri Kecil dan Menengah) Cocraft Indonesia. UST Yogyakarta.
Alwi, S. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia, Strategi Keunggulan Kompetitif. Yogyakarta: BPFE.
Alwi, S. 2015. Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Kedua.Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta.
Amirullah & Haris, B. 2004. Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Anisa, C.A. 2021. Tingkat Manajemen dan Manajer Beserta Fungsi- fungsi Manajemen. Leadership, 2(2): 150-164.
Annisa, S., Rizal, M., & Herawaty, T. 2021. Studi Literatur: Implementasi Good Corporate Governance pada Bisnis Keluarga. Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis. 6 (2): 73-81.
Ansoff, I.H. 1980. Strategic Issue Management. Strategic Management Journal, 1(2): 131-148.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhianto, N.C. 2015. Analisis Kondisi Fasilitas Belajar dan Motivasi Belajar Siswa Kelas Atas Sekolah Dasar Se-Gugus II Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.
Arthur, G., F. Noakes, D.E., Pearson., & H. Parkison. 1996. Veterinary Reproduction and Obstetrics, W.B. Sounders. London.
Bangun, W. 2018. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga.
Barney, J.B., & Wright, P.M. 1998. On Becoming a Strategic Partner.
The Role of Human Resources in Gaining Competitive Advantage.
Human Mresource Management, 37 (1): 31-46.
Biswan, A.T., & Wahyu, A. 2020. Balanced Scorecard Sektor Publik:
Sebuah Pelajaran Berharga. InFestasi, 16 (2): 166-178.
Blocher, Edward J., Chen, Kung H., & Lin, Thomas W. 2005. Cost Management: A Strategic Emphasis. 3rd Edition. McGraw Hill.
Cigler, A. B. 1990. Public Administration Review. Profesional Pratice of Public Administration, 50 (6).
Ciptani, M.K. 2000. Balanced Scorecard sebagai Pengukuran Kinerja Masa Depan: Suatu Pengantar. Jurnal Akuntansi & Keuangan, 2(1):
21-35.
Dailimunthe, R.F. 2005. Sejarah Perkembangan Ilmu Manajemen.
Univeristas Sumatera Utara.
Dakhi, S.M.Y. 2016. Implementasi POAC terhadap Kegiatan Organisasi dalam Mencapai Tujuan Tertentu. Jurnal Warta Edisi: 50.
Daryanto, & Suryatri, D. 2013. Pendidikan Karakter di Sekolah.
Yogyakarta: Gava Media.
Denhart, R.B., & Jennings, E.T. 1987. The Revitalization of The Public Service. Extension Publication, USA.
Donnelly, G. 1996. Organisasi, Prilaku, Strukur, Proses. Jakarta: Erlangga.
Fatimah, F.N. 2016. Teknik Analisis SWOT. Yogyakarta: Quadran.
Fera, D. 2022. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Komitmen Organisasi pada Perawat: Integrative Review. Thesis. Universitas Hasanuddin.
Fitriyah, N.A., & Agus, S. 2018. Membangun Kompetensi Pemimpin dalam Mengelola Organisasi Publik: Strategi dan Aplikasi. MADANI Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan, 10(1): 79-91.
Goldworthy & Ahsley. 1996. Australian Public Affairs Information. Service.
Australia: APAIS.
Guta, A.J. 2012. Characteristica of Public Sector Management. Annals of the University of Petrosani, 12 (4): 95-102.
Hadari, N. 2005. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Hansen, D.R., & Maryane, M.M. 2007. Management Accounting, 8th Edition. South-Western, USA : Thompson Learning.
Hasibuan, M. Sp. 2012. Manajemen SDM. Edisi Revisi, Cetakan ke-13.
Jakarta: Bumi Aksara.
Hatten, K. J., & Hatten, M.L. 1996. “Strategic Groups, Asymmetrical Mobility Barriers, and Contestbility. Strategic Management Journal.
United States of America: Elseiver Inc.
Hatry, H.P. 1999. Performance Measurement Getting Results, The Urban Institute Press, Washington D.C.
Husaini, H. & Happy, F. 2019. Manajemen Kepemimpinan pada Lembaga Pendidikan Islam. Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan, 4 (1): 43-54.
Hatzer, E. 2012. Central and Regional Government. Jakarta: Gramedia.
Hisyam, M.S. 1998. Analisa SWOT sebagai Langkah Awal Perencanaan Usaha. Makalah. Jakarta: SEM Institute
Hodge, B.J., & Anthony, W.P. 1998. Organization Theory. America: Allyn and Bacon (third edition).
Hunger, J. D., Wheelen, L., Thomas. 2001. Manajemen Strategis.
Yogyakarta: ANDI.
Imaduddin, W. 2017. Analisis Perencanaan SDM Strategik:
Mengantisipasi Perubahan Lingkungan Bisnis yang Dinamis Guna Mencapai Competitive Advantage. Jurnal Penelitan Ilmu Manajemen, 2(3): 600-614.
Imelda, R.H.N. 2004. Implementasi Blanced Scorecard pada Organisasi Publik. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 6 (2): 106-122.
Ismail. 2009. Pengantar Manajemen. Jakarta: Airlangga.
Jabani, M. 2015. Pentingnya Perencanaan Sumber Daya Manusia dalam Sebuah Organisasi. Jurnal Muamalah. 5(1): 1-10.
Jakson, B.R., & Millirion, V.C. 1986. Tax Compliance Research, Findings, and Problems and Prospects. Journal of Accounting Research, 5: 125- 165.
J.M. Bryson. 1988. Strategic Planning for Public and Non Profit: A Guide to Strengthening and Sustaining Organizational Achievement, San Fransisco, CA: Jossey-Bass, Inc.
Joyce, P. 2015. Strategic Management in The Public Sector. University of Birmingham (INLOGOV).
Kaplan, R.S., & Norton, D.P. 1996. The Balanced Scorecard: Translating Strategy Into Action, Massachusetts, Harvard Business Review.
Kasanuddin, M. 2011. Pengaruh Kualitas Sumber Daya Manusia Pengelola Koperasi terhadap Kinerja Koperasi Pondok Pesantren di Kabupaten Demak. Skripsi. Institute Agama Islam Negeri Walisongo. Semarang.
Koesomowidjojo, S.R.M. 2017. Balanced Scorecard: Model Pengukuran Kinerja Organisasi dengan Empat Perspektif. Jakarta: Swadaya Grup.
Kooten, J. 1989. Strategic Management in Public and Nonprofit Organizations;
Thinking and Acting. Strategically on Public Sectors. New York: Praeger.
Kreitner, Robert dan Angelo, 2005, Perilaku Organisasi, Buku 2, Edisi 5 (Terjemahan), Jakarta: Salemba Empat.
Kristiawan, M., Safitri, D., & Lestari, R. (2017). Manajemen Pendidikan.
Yogyakarta: Budi Utama.
Laksono, D.D., Lasiman., Maria, N.D. 2013. Perancangan Company Profile Supplier Alat Listrik “UD. Setia Kawan” Surabaya. Jurnal DKV Adiwarna Universitas Kristen Petra, 1(2): 1-12.
Liem, R., Sutanto, R.P., Petra, U.K., Siwalankerto, J., Vegas, P., Show, C., Perusahaan, I., & Conseptual, V. 2015. Perancangan Buku Company Profile sebagai Media Promosi Vegas Conceptual Show. Jurnal DKV Adiwarna, Universitas Kristen Petra, 2(7).
Luthfi, O.M., & I Nyoman, J. 2018. Identifikasi Organisme Kompetitor Terumbu Karang di Perairan Pantai Putri Menjangan, Buleleng, Bali.
Jurnal Kelautan, 11(1): 24-30.
Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta:
Penerbit Andi.
Marr, Benard. 2005. Strategic Performance Management, Levering, and Measuring Your Intangible Value Driver. Elseiver Ltd, Oxford, UK.
Masyhud, A. 2006. Manajemen Risiko: Strategi Perbankan dan Dunia Usaha Menghadapi Tantangan Global Bisnis. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Maulana, A.A. 2016. Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Harga terhadap Kepuasan Pelanggan PT. Toi. Jurnal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Esa Unggul Jakarta, 7(2): 113-1125.
Mokoginta, M.B., Sugihen, B.G., Susanto, D., Asngari, P.S. 2009.
Karaktersitik Pelanggan dan Persepsi Pelanggan terhadap Pelayanan Puskesmas Kota Kotamobagu dan Kabupaten Bolaang Margondoe Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Penyuluhan, 5(1).
Morsink, Catherin V., Carol Chases Thomas & Vivian I. Correra. 1991.
Interactive Teaming: Consultation and Collaboration in Specials Programs, New York. Mc Millang Publishing Company.
Muslim, M. 2017. Membangun Visi Perusahaan. ESENSI, 20 (3): 144- 152. Mustafa, D. 2013. Birokrasi Pemerintah. Makassar: Alfabeta.
Nasron & Tri, B.A. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja (Studi pada Karyawan Bagian Produksi PT Mazuvo Indo). Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis, vol.1.
Nugroho, P., & Abdul, H. 2016. Analisis Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Kualitas Indikator Outcome: Studi Empiris pada Kabupaten/
Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal pknstan: 39-58.
Parhusip, J. 2019. Penerapan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) pada Desain Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Calon Penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kota Palangkaraya.
Jurnal Teknologi Informasi, 13 (2): 18-29.
Pearce & Robinson. 1997. Manajemen Pemasaran, Analitik, Perencanaan, Implementasi dan Pengadilan. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Pearce, J.A.II., & Robinson, R.B.Jr. 1998. Manajemen Strategis. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Porter, M.E. 2002. Strategi Bersaing Teknis Menganalisis Industri dan Pesaing.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Purhadi, G. 2003. Perkembangan Ilmu Manajemen. Jakarta: Binaputra.
Rachmat. 2014. Manajemen Strategik. Bandung: Pustaka Setia.
Raharjo, B. 2009. Laporan Keuangan Perusahaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rahim, A.R., & Enny, R. 2017. Manajemen Strategi. Makassar: Lembaga Perpustakaan dan Penerbitan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Rangkuti, F. 2007. Teknik Membedah Kasus Bisnis Analisis SWOT. Jakarta:
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Rivai, V. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan.
Jakarta: Grafindo.
Roswati. 2008. Evaluasi Program/Proyek. Jurnal Pendidikan Penabur, 11, 66-67.
Safitri, L.N., Siti, M.M., Muhammad, A.F. Habib. 2021. Analisis Strategi Obyek Wisata Pantai dengan Konsep Halal Beach Tourism di Kota Denpasar.
Salusu, J. 1996. Pengambilan Keputusan Strategik untuk Organisasi Publik dan Organisasi Non Profit. Jakarta: PT Grasindo.
Sari, E. 2006. Modul Teori Organisasi (Konsep dan Aplikasi). Jakarta: Jayabaya University Press.
Saaty, T.L. 1990. The Analytic Hierarchy Process: Planning., Priority Setting, Resource Allocating. Pittsburgh: University of Pittsburgh.
Shidqi, R.D. 2022. Implementasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2014 tentang Penataan Wilayah Pertahanan Negara di Laut Natuna Utara. Tesis. Universitas Hang Tuah Surabaya.
Siagian, S. P. 2006. Teori dan Kepemimpinan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Sjamsuddin, S. 2007. Good Governance. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik, 5(3). Malang: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya.
Stephanie, K. Marus. 2002. Desain Penelitian Manajemen Strategik. Jakarta:
Rajawali Press.
Sudaryono. 2014. Budaya dan Perilaku Organisasi. Jakarta: Lentera Ilmu Cendekia.
Sukarna. 2011. Dasar-dasar Manajemen. Bandung: Mandar Maju.
Susan, E. 2019. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jurnal Manajemen Pendidikan, 2: 952-962.
Sutarto. 1978. Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen. Jakarta: Ghalia.
Syarifuddin & Lisa, Y. 2014. Analisis Produktivitas Perusahaan pada UD. Karya Jaya. Malikussaleh Industrial Engineering Journal, 3(2): 22-27.