• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas-asas Kurikulum Pendidikan Islam

Dalam dokumen pengantar ilmu pendidikan islam (Halaman 132-136)

KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF ILMU PENDIDIKAN ISLAM

C. Asas-asas Kurikulum Pendidikan Islam

zaman.

7. Kurikulum pendidikan Islam harus bertautan dengan pengalaman dan aktifitas anak didik dalam masyarakat.132 H.M. Arifin dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menge- mukakan empat prinsip dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam yaitu:

1. Kurikulum pendidikan yang sejalan dengan idealitas islami adalah kurikulum yang mengandung materi (bahan) ilmu pengetahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk tujuan hidup islami.

2. Untuk berfungsi alat yang efektif mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus nengandung tata nilai islami yang intrinsik dan ekstrinsik mampu merealisasikan tujuan pendidikan Islam.

3. Kurikulum yang bercirikan islami itu diproses melalui metode yang sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam tujuan pendidikan Islam

4. Antara kurikulum, metode, dan tujuan pendidikan Islam harus saling menjiwai dalam proses mencapai produk bercita- citakan menurut ajaran Islam.133

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah landasan yantg digunakan pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan pendidikan yang diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, kerterampilan dan sikap mental.

kan asas-asas tertentu. Asas – asas tersebut antara lain menurut S.

Nasution yaitu : 1. Asas Filosofis

Dalam pengembangan kurikulum muncul pertanyaan- pertanyaan pokok seperti: hendak dibawa kemana siswa yang di- didik itu? Masyarakat yang bagaimana harus diciptakan melaui ikh- tiar pendidikan? Apakah hakikat pengetahuan yang harus dipelajari dan dikaji siswa? Norma-norma atau sistim nilai yang bagaimana yang harus diwariskan kepada anak didik sebagai generasi pene- rus? Dan bagaimana seharusnya proses pendidikan itu berlang- sung?

Sebagai landasan fundamental, filasafat memegang peranan penting dalam proses pengembangan kurikulum. Ada empat fungsi filasat dalam mengembangkan kurikulum yaitu:

a. Filsafat dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan.

Dengan filsafat segaai pandangan hidup, atau value sistem, maka dapat ditentukan mau dibawa kemana siswa yang kita didik

b. Filsafat dapat menentukan materi dan bahan ajaran yang diberkan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

c. Filsafat dapat menentukan strategi atau cara penyampaian tujuan. Sebagai sistem nilai, filsafat dapat dijadikan pedoman dalam merancang kegiatan pembelajaran.

d. Melalui filsafat dapat ditentukan baaimana menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan.

Dari penjelasan tentang fungsi-fungsi filasafat dalam pengem- bangan kurikulum maka semua pertanyaan pokok yang timbul da- lam pengembangan kurikulum dapat terjawabkan. Filsafat merupa- kan asas/landasan yang paling utama dalam pengembangan kuriku- lum. Filsafat sangat penting, khususnya dalam pengambilan keputu- san pada setiap aspek kurikulum, dimana setiap keputusan harus

ada dasarnya (landasan filosofisnya). Para pengembang kurikulum harus mempunyai filsafat yang jelas tentang apa yang mereka jun- jung tinggi. Filsafat yang kabur akan menimbulkan kurikulum yang tidak tentu arah. Kurikulum sebagai rancangan dari pendidikan, mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam keseluruhan ke- giatan pendidikan karena kurikulum menentukan proses pelaksa- naan dan hasil daripada pendidikan. Mengingat begitu pentingnya peranan kurikulum dalam pendidikan dan perkembangan kehidu- pan manusia, maka pengembangan kurikulum tidak dapat diran- cang sembarangan.

Kurikulum sebagai suatu program dan alat untuk mencapai tu- juan pendidikan, mempunyai hubungan dengan proses perubahan perilaku peserta didik. Dalam hal ini kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang berfungsi sebagai alat untuk mengubah perilaku peserta didik (peserta didik) ke arah yang diharapkan oleh pendidikan. Oleh sebab itu, proses pengembangan kurikulum perlu memperhatikan asumsi-asumsi yang bersumber dalam bidang ka- jian psikologi. Pengembangan kurikulum membutuhkan landasan- landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.

Asas filosofis membawa rumusan kurikulum pendidikan Islam kepada tiga dimensi:ontologi, epistemologi, dan aksiologi.Dimensi ontologi mengarahkan kurikulum agar lebih banyak memberi anak didik kesempatan untuk berhubungan langsung dengan fisik-fisik, obyek-obyek. Pada mulanya dimensi ini diterapkan Allah SWT.dalam pengajaranNya kepada nabi Adam as dengan mem- beritahukan atau mengajarkan nama-nama benda „‟Dan Dia men- gajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:

"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"Dan Dia mengajarkan kepada Adam na-

ma-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan- nya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar

"Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah QS.Al-Baqarah:31 sebagai berikut:

































Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

Demensi epistemologi adalah perwujudan kurikulum yang sah,yang berdasarkan metode kontruksi pengetahuan yang disebut metode ilmiah,yang sifatnya mengajak berfikir menyeluruh,reflektif dan kritis, implikasi dimensi epistemologi dalam rumusan kurikulum, isinya cenderung fleksibel karena pengetahuan yang dihasilkan tidak mutlak, tentatif dan dapat berubah-ubah.

Dampak dimensi epistimologi dalam rumusan kurikulum ada- lah:

1) Konten (the what) yang tidak sepenting dengan penguasaan bagaimana memperoleh ilmu pengatahuan itu. Berarti pemahaman atau penguasaan suatu ilmu itu tidak penting tapi bagaimana ilmu itu diperoleh (diproses) itu yang dikaji.

2) Kurikulum lebih menitik beratkan pada pelajaran proses, maksudnya disini bagaimana siswa merekonstruksi ilmu?, aktivitas yang ada, serta bagaimana pemecahan suatu masalah?.

3) Konten cenderung bersifat fleksibel karena pengetahuan itu

bersifat tidak mutlak dan dapat berubah-ubah, karena alam akan mengalami perubahan dari saat kesaat. Umar bin al- Khattab menyatakan:

يرغ ناوزل و هكنيج يرغ ليلج اوقنخ دق هكئابأ نإ

Dalam dokumen pengantar ilmu pendidikan islam (Halaman 132-136)