• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asesmen TPACK pada Pembelajaran Bahasa Inggris Muchlas Suseno

Dalam dokumen PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS (Halaman 55-63)

Universitas Negeri Jakarta [email protected]

Pendahuluan

Kompetensi guru dalam mengintegrasikan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dengan konten materi ajar serta keterampilan pedagogi atau Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dapat diukur atau dievaluasi pada seluruh aspek kegiatan pembelajaran sejak tahap perencanaan, yaitu saat guru menulis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Lesson Plan, saat pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan terakhir pada kegiatan pengetesan atau evaluasi. Pada dimensi lain, kompetensi tersebut juga dapat diukur lebih awal, yaitu di luar atau terpisah dari rangkaian kegiatan pembelajaran. Dalam dimensi ini, salah satu aspek yang diukur misalnya berkaitan dengan ranah afeksi dari guru.

Dalam hal ini, ada empat obyek kompetensi TPACK yang dapat diukur, yaitu (1) persiapan kegiatan mengajar, (2) proses kegiatan mengajar, (3) kegiatan evaluasi belajar, dan (4) atribut-atribut afektif dari pengajar, misalnya percaya diri atau keyakinan guru tentang kemampuannya mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran.

Empat obyek pengujian tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik pengujian berikut ini, yaitu (a) studi dokumen atau artifak (artifact) pembelajaran, misalnya Rencana Pembelajaran (lesson plan), kurikulum dan/atau silabus pembelajaran dan (b) observasi tindakan guru saat mengajar atau saat pelaksanaan evaluasi belajar, dan (c) laporan diri (self-report) dalam bentuk survey atau melalui interview.

Instrumen yang dipakai pada empat obyek pengujian tersebut berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Instrument yang dipakai pada kegiatan studi dokumen atau artifak pembelajaran adalah rubrik penilaian. Instrument untuk menguji TPACK dalam kegiatan pembelajaran dan/atau evaluasi belajar adalah lembar observasi (observational sheet). Sedangkan untuk menguji atribut afektif yang sifatnya latent digunakan instrument berupa kuesioner.

35 Berdasarkan penelusuran literatur, terdapat banyak variasi dari tiga instrumen tersebut telah dibakukan oleh para pengembangnya. Dalam hal ini, Schmidt, Ann, dan Koehler (2009) mengidentifikasi beberapa instrument tersebut (Tabel 1).

Tabel 1. Instrument untuk mengukur kompetensi penggunaan TIK dalam pembelajaran

No Instrument Variabel yang diteliti Sumber Rujukan

1

Technology Proficiency Self- Assessment

Teachers’ use of e-mail, Web, integrated applications, and technology integration

Knezek & Christiansen (2004), created in 1999

2

Concerns-Based Adoption Model Stages of Concern (CBAM SoC)

Teachers’ CBAM stage of concern with technology integration as an innovation

Knezek & Christiansen (2004), created in 1999

3

Concerns-Based Adoption Model Levels of Use (CBAM LoU)

Teacher’s CBAM Level of Use of Technology

Knezek & Christiansen (2004), created in 1999

4

Level of Technology Implementation (LoTi) Questionnaire

Teachers’ technology skills, technology integration, stage of instructional development, strategies for technology- related professional development, access to technology

Keller, Bonk, & Hew (2005) adapted Moersch’s (1995) LoTi (both pre-/post- and

intervention/control groups)

5

Integrated Studies of Educational

Technology (ISET) national survey of U.S. teachers, technology coordinators, principals

Teachers’ technology integration, related professional development

implementation and outcomes

SRI International (2002) created survey, complemented with case studies

6

Teaching, Learning, and Computing Survey (TLC)

Teachers’ technology integration, in broader context with approach to teaching, professional engagement, and school-based access to technology

Becker & Riel (2000) created in 1998, complemented with case studies

7

National survey in England of teachers and technology- related professional development providers

Teachers’ technology integration, quality of professional development model and its implementation, school’s engagement with professional

development, teacher access to technology

Preston (2004), complemented with case studies

36

Selanjutnya, bab ini membahas instrument yang dipakai pada tiga jenis pengukuran sebagaimana dibahas di atas, yaitu rubrik penilaian artifak pembelajaran, rubrik pengamatan kegiatan pembelajaran, dan kuesioner penilaian atribut afektif. Satu per satu instrument tersebut dibahas dan diuraikan dengan harapan dapat digunakan untuk keperluan praktis mengevaluasi kompetensi TPACK para guru di SMA dan SMK.

1) Rubrik penilaian artifak pembelajaran

Instrument dalam bentuk rubrik untuk mengukur artifak pembelajaran masih tergolong langka. Namun demikian, dari penelusuran di berbagai jurnal dapat ditemukan satu instrument yang sering digunakan untuk mengevaluasi persiapan integrasi TIK dalam pembelajaran, yaitu rubrik yang dikembangkan oleh Britten dan Cassady pada tahun 2005 yang dikenal dengan nama Technology Integration Assessment Instrument (TIAI) dan telah direvisi oleh Haris, Grandgenett dan Hofer (2010). Selanjutnya dalam buku ini rubrik TIAI diterjemahkan menjadi Rubrik Penilaian Integrasi TIK pada kurikulum atu rencana pembelajaran. Namun demikian, istilah tersebut tidak menghasilkan akronim yang mudah untuk diingat sehingga istilah TIAI tetap dipergunakan dalam pembahasan selanjutnya.

Rubrik ini digunakan untuk mengukur secara kualitatif kompetensi guru dalam mengintegrasikan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) pada kegiatan pembelajaran yang tampak pada rencana pembelajaran. Dengan kata lain, rubrik ini digunakan untuk mengukur kompetensi guru dalam merencanakan integrasi TIK sebagai media pembelajaran dan belum mengukur kompetensi praktik tentang pemanfaatan TIK sebagai media pembelajaran. Rubrik TIAI pada versi pertama terdiri dari tujuh komponen, yaitu (1) perencanaan penggunaan TIK, (2) Standar isi atau jenis TIK, (3) Standar TIK, (4) Diferensiasi, (5) Pemanfaatan TIK untuk pembelajaran, (6) Pemanfaatan TIK untuk Pengajaran, (7) Pemanfaatan TIK untuk Asesmen. Namun setelah direvisi, rubrik TIAI diringkas menjadi empat komponen, yaitu (1) tujuan kurikuler dan pemilihan TIK, (2) strategi pembelajaran dan pemilihan TIK, (3) tujuan kurikuler, strategi pembelajaran dan pemilihan TIK, dan (4) keterpaduan (fit) antara tujuan kurikuler, strategi pembelajaran, materi ajar dengan pemilihan TIK. Hal ini, sebagaimana dijelaskan oleh Haris, Grandgenett dan Hofer dilakukan untuk memberi bobot keterkaitan antar komponen dalam TPACK, yaitu komponen pengetahuan tentang teknologi dan pedagogi (TPK), pengetahuan tentang teknologi dan materi (TCK),

37 pengetahuan tentang pedagogi dan materi ajar (PCK), serta pengetahuan tentang pedagogi, materi ajar dan teknologi (TPACK). Di samping itu, dalam rubrik tersebut juga dimasukkan pengukuran keterkaitan antara tujuan instruksional dengan teknologi. Rubrik TIAI versi adaptasi dapat dilihat pada lampiran.

Rubrik penilaian TIAI telah dibakukan oleh para pengembangnya melalui serangkaian pengujian kualitatif maupun empiris kuantitatif. Pengujian kualitatif dilakukan dengan cara meminta masukan atau feedback dari sejumlah guru yang telah mempraktikkan pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, mereka diundang pada diskusi terpumpun (Focus Group Discussion) untuk mempelajari lebih lanjut tentang tata cara menggunakan TIAI sebelum mereka diminta mempraktekkan penggunaan rubrik TIAI untuk mengevaluasi rencana pembelajaran milik mereka sendiri. Di lain pihak, pengujian secara kuantitatif dilaporkan untuk mendapatkan hasil koefisien reliabilitas inter-rater 0,857, reliabilitas konsistensi internal Alpha Cronbach 0,911, dan reliabilitas test-and- retest 0,87. Validitas yang diuji dengan menggunakan interclass correlation menghasilkan koefisien kesesuaian sebesar 84,1%. Uraian tentang pembakuan rubrik TIAI tersebut memberi justifikasi bahwa instrument TIAI layak dijadikan pedoman untuk mengevaluasi kualitas kompetensi guru dalam merencanakan integrasi TIK dalam pembelajaran.

Validasi rubrik TIAI versi Bahasa Indonesia hasil adaptasi untuk disesuaikan dengan situasi di Indonesia telah dilakukan namun baru pada tahap pengujian empiris sederhana untuk mengukur tingkat validitas muka (face validity) dan reliabilitas test-and-retest. Rubrik TIAI versi Bahasa Indonesia dapat dilihat di lampiran 1.

2) Rubrik Pengamatan Kegiatan Pembelajaran

Salah satu rubrik pengamatan tindakan guru dalam mengaplikasikan TPACK dalam proses belajar-mengajar yang dibahas dalam bagian ini adalah rubrik yang dikembangkan oleh Hofer, Grandgenett, Harris dan Swan yang diberi nama TPACK-based observation rubric (Hofer, Grandgenett, Harris, & Swan, 2011).

Bila dicermati, para pengembang rubrik ini adalah juga para pengembang rubrik TIAI yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, kecuali satu orang tambahan, yaitu Kathy Swan. Selanjutnya untuk mengetahui kaitan kedua instrument tersebut, berikut dipaparkan perbandingan tentang kegunaan serta pengujiannya (Tabel 2).

38

Tabel 2. Perbandingan Rubrik TIAI dan Rubrik Pengamatan Tindakan N

o

Aspek Rubrik TIAI Rubrik Pengamatan Tindakan

1 Kegunaan Mengukur kompetensi guru dalam merencanakan pengintegrasian TIK dalam pembelajaran.

Mengukur kompetensi guru dalam implementasi

pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran

2 Uji Validitas Melibatkan 6 orang ahli

TPACK dan 6 orang guru yang berpengalaman tentang

TPACK

Melibatkan 7 orang peneliti TPACK dan 12 guru senior yang berepengalaman

mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.

3 Sumber data Lima belas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Dua belas buah rekaman video proses pembelajaran

4 Jenis Validitas yang diuji

Validitas Konstruk dan Validitas Muka

Validitas Konstruk dan Validitas Muka

5 Uji Reliabilitas Tidak disebutkan Melibatkan 12 orang guru yang berpengalaman

mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran.

6 Tenik pengujian reliabilitas

1) Inter-rater reliability, 2) Internal Consistency, 3) test- retest.

1) Inter-rater reliabilitas, 2) Internal Consistency, 3) test- retest.

7 Hasil Uji Reliabilitas

1. Inter-rater reliablity yakni (a) Korelasi inter-class (0,857);

(b) score agreement procedure (84,1%). 2. Internal

Consistency Cronbach Alpha (0,911), 3. Test-retest (87%).

1. Inter-rater reliablity yakni ( a) Korelasi inter-class (0,802), (b) score agreement procedure (90,8%). 2. Internal Consistency Cronbach Alpha (0,914), 3.

Test-retest (93,9%).

Rubrik pengamatan tindakan juga telah dibakukan oleh para pengembangnya melalui uji panel pakar dan uji empiris. Sebagaimana tampak pada Table 2, tujuh pakar ahli dalam bidang TPACK dimintai pendapat dan feed-back dan mereka sepakat menyatakan bahwa rubrik ini telah memenuhi kualitas validitas konstruk (construct validity) dan juga validitas muka (face validity). Sementara itu, reliabilitasnya diuji dengan pengujian Korelasi Intrakelas (Intraclass Correlation) dan menghasilkan koefisein (0,802) dan nilai kesepakatan antar pakar (score agreement) sebesar 90,8%. Uji reliabilitas dengan Teknik konsistensi internal (Internal Consistency) menghasilkan koefisien Cronbach Alpha sebesar 0,914.

Sementara itu, reliabilitas test-and-retest menghasilkan koefisien sebesar 93,9%.

Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa rubrik observasi ini dapat dinyatakan

39 valid dan reliable untuk mengukur kompetensi guru dalam mengintegrasikan TIK dalam kegiatan pembelajaran. Sejauh ini, Rubrik Pengamatan Tindakan belum dipublikasikan secara utuh oleh para pengembangnya. Namun penjelasan tentang aktivitas pembelajaran berbasis TPACK dalam dipahami lebih jauh pada laman (http://activitytypes.wm.edu/).

3) Technology Proficiency Self-assessment

Technology Proficiency Self-assessment (TPSA) adalah alat ukur atau instrument berupa kuesioner yang dikembangkan pertama kali oleh Ropp pada tahun 1999 untuk mengukur keyakinan guru tentang kemampuannya dalam kompetensi (self- efficacy) terkait pemanfaatan TIK dalam pembelajaran (Gençtürk, Gökçek, &

Günes, 2010). Selanjutnya, kuesioner TPSA disempurnakan oleh Rhonda Christensen dan Gerald Knezet pada tahun 2014 (Christensen & Knezek, 2014).

Pada awalnya kuesioner TPSA terdiri dari 20 butir yang dikelompokkan menjadi empat komponen kompetensi TIK, yaitu kompetensi yang berkaitan dengan (1) email, (2) world wide web (www), (3) aplikasi terintegrasi, dan (4) pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Dalam perkembangan dan penyempurnaan selanjutnya peneliti menambah 14 butir baru sehingga jumlah keseluruhan butir kuesioner menjadi 34. Tambahan butir-butir baru tersebut dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan perkembangan TIK, khususnya terkait dengan teknologi sosial media dan telepon seluler yang waktu itu belum muncul. Walaupun jumlah butirnya bertambah, jumlah kelompok komponennya dipertahankan tetap sama seperti semula.

Dalam instrumen ini, responden diminta menanggapi atau menjawab sesuai dengan keyakinannya masing-masing terhadap kompetensi tentang TIK pada tiap butir kuesioner. Kompetensi tersebut dinyatakan dengan kata kerja dan ditulis pada tiap awal pernyataan butir. Untuk memandu seluruh butir, di awal kuesioner ditulis pernyataan umum berupa teks rumpang yang terkait dengan kompetensi pada tiap butir. Pernyataan awal tersebut berbunyi, ‘Saya merasa yakin bahwa saya mampu memanfaatkan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) tentang hal- hal berikut ini: …’ Terjemahan adaptasi dari pernyataan aslinya, ‘I feel confident I could …. . Pada tiap butir kuesioner terdapat lima alternatif pilihan jawaban berupa persetujuan dan/atau ketidaksetujuan dengan skala 1 untuk pilihan ‘sangat tidak setuju’ (strongly disagree) dan skala 5 untuk pilihan ‘sangat setuju’ (strongly agree).

40

Kuesioner TPSA telah dibakukan atau distandarisasi oleh pengembangnya melalui serangkaian pengujian empiris dan dinyatakan bahwa instrumen ini dapat dan layak dipakai untuk mengukur kompetensi guru tentang pengintegrasian TIK dalam pembelajaran. Uji validitas konstruk menyatakan bahwa semua butir memiliki factor loading > 0,50 sehingga dinyatakan valid sedangkan uji reliabilitas konsistensi internal menghasilkan koefisien Cronbach-Alpha untuk 20 butir (TPSA versi 1) sebesar 0,93. Hasil untuk 14 butir tambahan menghasilkan koefisien Cronbach-Alpha berturut-turut (1) dimensi email = 0,85, (2) dimensi www = 0,87, (3) dimensi integrasi aplikasi = 0,81, dan (4) dimensi pemanfaatan TIK dalam pembelajaran 0,84. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kuesioner TPSA memiliki tingkat reliabilitas tinggi. Kuesioner TPSA versi Bahasa Indonesia dilampirkan pada bagian akhir buku ini agar dapat dimanfaatkan untuk mengukur keyakinan para guru tentang kompetensinya dalam hal TPACK. Uji validitas dan reliabilitas TPSA versi Indonesia sudah dilakukan walaupun baru pada tahap uji sederhana (Lampiran 3).

Berikut sekilas uraian singkat tentang langkah dan prosedur yang ditempuh dalam melakukan adaptasi Kuesioner TPSA. Pertama, kuesioner TPSA yang telah disempurnakan yang terdiri dari 34 butir (versi orisinil dalam Bahasa Inggris) diberikan kepada tiga orang ahli bidang Teknologi Pendidikan. Tiga buah pertanyaan tentang kuesioner TPSA diberikan kepada ketiga ahli tersebut yaitu (1) apakah butir-butir kuesioner TPSA telah mewakili serta menggambarkan kompetensi TIK dalam pembelajaran, (2) apakah pengelompokan butir-butir pernyataan dalam kuesioner telah sesuai, (3) apakah penyebutan contoh pada beberapa butir telah memadai. Kedua, penerjemahan yang dilakukan setelah kuesioner tersebut mendapatkan masukan dari tiga orang ahli bidang Teknologi Pendidikan. Penerjemahan dilakukan sendiri oleh penulis. Ketiga kuesioner TPSA versi Bahasa Indonesia kemudian diberikan kepada tiga orang pakar tersebut untuk mendapatkan komentar dan saran dari mereka.

Dalam proses penerjemahannya, semua unsur yang ada pada kuesioner TPSA diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, yaitu butir-butir TPSA yang berjumlah 34 dan pernyataan pengantar (leading statement) yang dijadikan dasar oleh para responden untuk memberikan tanggapan atas butir-butir tersebut. Pernyataan pengantar dalam Bahasa Inggris ‘I feel confident I could ….’ diterjemahkan secara

41 kontekstual menjadi ‘Saya merasa yakin bahwa saya mampu memanfaatkan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) tentang hal-hal berikut ini …’.

Di samping itu, dalam penerjemahan adaptasi ini, beberapa istilah baku yang telah umum digunakan dalam TIK, misalnya kata-kata email, home page, podcasts, audio books, dan bookmarks tidak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Sedangkan beberapa kata lainnya yang juga dikategorikan sebagai istilah baku dan umum dalam TIK namun bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia diperkirakan dapat menimbulkan kendala maka yang dilakukan dalam penerjamahan adaptasi ini adalah menerjemahkan kata-kata tersebut dan juga menuliskan kata aslinya langsung setelah kata kata tersebut misalnya kata

subscribe’ diterjemahkan dengan kata ‘mendaftar’ (subscribe); kata ‘search engine’ diterjemahkan ‘mesin pencari tautan’ (search engine). Hal ini dilakukan atas saran para ahli yang dimintai pendapatnya dalam proses validasi dan adaptasi TPSAi.

Daftar Pustaka

Christensen, R., & Knezek, G. (2014). The Technology Proficiency Self-Assessment Questionnaire ( TPSA ): Evolution of a Self-Efficacy Measure for Technology Integration, 311–318. Retrieved from http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/

Gençtürk, E., Gökçek, T., & Günes, G. (2010). Reliability and validity study of the technology proficiency self-assessment scale. Procedia Social and

Behavioral Sciences, 2, 2863–2867.

https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2010.03.429

Harris, J., Grandgenett, N., & Hofer, M. J. (2010). Testing a TPACK-Based Technology Integration Assessment Rubric.

Hofer, M. J., Grandgenett, N., Harris, J., & Swan, K. (2011). Testing a TPACK-Based Technology Integration Observation Rubric Testing a TPACK-Based Technology Integration Observation Instrument.

Schmidt, D. A., Thompson, A. D., Koehler, M. J., & Shin, T. S. (2009).

Technological Pedagogical Content Knowledge ( TPACK ): The Development and Validation of an Assessment Instrument for Preservice Teachers. JRTE, 42(2), 123–149.

42

5. Keyakinan Guru Terhadap Penerapan Kerangka TPACK dalam Pembelajaran

Dalam dokumen PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS (Halaman 55-63)