BAB I PENDAHULUAN
A. Masa Pemberian Dhabth
3. Aspek-Aspek Dhabth
menggagas tanda baca vokal saja, yakni harakah dan tanwîn, namun dengan bentuk yang berbeda. Menurut ad-Dani, pada masa ini Khalil al-Farahidi telah menambahkan tanda baca berupa harakah, tanwîn, sukûn, tasydîd, hamzah, isymâm dan raum.35 Namun ada pendapat lain mengenai tanda-tanda yang digagas oleh Khalil al-Farahidi ini, bahwa Khalil telah memberikan tanda baca berupa harakah, sukûn, tasydîd, mad, shilah, dan hamzah. Tanda-tanda tajwid seperti isymâm, dan rum baru ada pada masa setelahnya yakni masa kekhalifahan al-Makmun.36
3. Aspek-Aspek Dhabth
33 sama dengan alif. Bentuk fathah seperti ini karena untuk menunjukkan keistimewaan asalnya, yaitu alif.39
2) Dhammah (u)
Dhammah pada masa Abu Aswad berupa titik merah yang diletakkan di samping huruf.40 kemudian disempurnakan pada masa Khalil al-Farahidi berupa waw kecil yang diletakkan di atas huruf, dan ada juga yang mengatakan di depan huruf.41 Terdapat dua mazhab mengenai bentuk dhammah ini, untuk mazhab masyâriqah, dhammah ditulis seperti huruf waw pada umumnya, pada mazhab maghâribah menghilangkan atau menghapuskan kepala waw hingga seperti bentuk huruf dal kecil.42
3) Kasrah (i)
Kasrah pada masa Abu Aswad ad-Du`ali berupa titik merah yang diletakkan di bawah huruf.43 Kemudian pada masa Khalil disempurnakan seperti huruf ya` yang dikembalikan kebelakang dan diletakkan di bawah huruf ber-harakah. Pada huruf-huruf yang berserat, seperti huruf syin, sin, nun, lam, kasrah diletakkan pada awal ta„rif huruf.44 Bentuk kasrah merupakan ya` yang dihilangkan
39 Ahmad Muhammad Abu Zihtar, As-Sabîlu ilâ Dhabthi Kalimât at-Tanzîl, h. 21
40 „Utsman bin Said Al-Dani, Al-Muqni„ fî Ma„rifati Marsum Mashâhifi Ahli al- Amshâr ma„a Kitâb al-Naqth, h. 306
41 Ahmad Muhammad Abu Zihtar, As-Sabîlu ilâ Dhobthi Kalimât at-Tanzîl, h. 21
42 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâd ath-Thâlibîn ilâ Dhabth al-Kitâb al- Mubîn, h. 9
43 „Utsman bin Said Al-Dani, Al-Muqni„ fî Ma„rifati Marsum Mashâhifi Ahli al- Amshâr ma„a Kitâb al-Naqth, h. 306
44 Ahmad Muhammad Abu Zihtar, As-Sabîlu ilâ Dhobthi Kalimât at-Tanzîl, h. 21
kepalanya dan kedua titiknya, hanya menyisakan jarrah-nya saja.45
b. Tanwîn (an, in, un)
Pada masa Abu Aswad ad-Du`ali, tanwîn diberi tanda dua titik merah, yang pertama sebagai harakah, dan yang kedua sebagai isyarat tanwîn.46 Tanda tanwîn kemudian disempurnakan menjadi dua harakah dari fathah, kasrah, dan dhammah. Tanda fathah tanwîn dengan dua fathah, kasrah tanwîn dengan dua kasrah, dan dhammah tanwîn dengan dua dhammah. Namun untuk dhammah ada juga yang menulis dengan satu tanda dhammah dan yang keduanya nun terbalik tanpa titik di atas dhammah.47
Tanda tanwîn pada kalimat ditulis dengan bentuk tarkîb48 dan tatâbu„49 tergantung huruf setelahnya. Adapun keadaan tanwîn terhadap huruf setelahnya sebagai berikut: 50 a) Jika setelah tanwîn berupa huruf halqi, yakni ء, ه, ع, ح, غ, خ,
maka tanda tanwîn tarkîb dan pada huruf setelahnya diberikan harakah huruf saja, untuk menunjukkan bahwa tanwîn dibaca izhâr.
45 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâd ath-Thâlibîn ilâ Dhabth al-Kitâb al- Mubîn, h. 9
46 Sulaiman bin Najah, Ushûl adh-Dhabth wa Kaifiyyatuh „„alâ Jihah al- Ikhtishâr, (tt.p.: t.p., t.t.), h 11
47 Ahmad Muhammad Abu Zihtar, As-Sabîlu ilâ Dhobthi Kalimât at-Tanzîl, h. 37
48 Tarkîb ialah meletakkan isyarat tanwîn di atas harakah dengan sejajar
49 Tatabu„ ialah meletakkan tanda harakah dan isyarat tanwîn secara berturut dengan tanda tanwîn berada di atas harakah.
50 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâd ath-Thâlibîn ilâ Dhabth al-Kitâb al- Mubîn, h. 12-13
35 b) Jika setelah tanwîn berupa huruf ر, ل, م, dan ن, maka tanda tanwîn tatâbu„ dan pada huruf setelahnya diberi harakah huruf dan tanda tasydîd, untuk menunjukkan bacaan idghâm kamîl.
c) Jika setelah tanwîn berupa huruf ي, و, maka tanda tanwîn tatâbu„ dan pada huruf setelahnya diberikan harakah huruf saja tanpa tanda tasydîd, untuk menunjukkan bacaan idghâm nâqish.
d) Jika setelah tanwîn berupa huruf-huruf ikhfâ` yang lima belas yakni ت, ث, ج, د, ذ, ز, س, ش, ص, ض, ط, ظ, ف, ق, ك, maka tanda tanwîn tatâbu„ dan pada huruf setelahnya diberikan harakah hurufnya saja, tanpa tanda tasydîd, untuk menunjukkan bahwa tanwîn dibaca ikhfa`.
e) Jika setelah tanwîn berupa huruf ب, maka ada dua mazhab, yang pertama merupakan ikhtiar ad-Dani yaitu meletakkan isyarat tanwîn dan harakah dengan tatâbu„. Yang kedua merupakan ikhtiar dari Abu Daud yaitu meletakkan mim kecil sebagai pengganti isyarat tanwîn untuk menunjukkan adanya bacaan iqlâb.
c. Sukûn
1) Bentuk sukûn
Menurut Abu Daud, sukûn mempunyai empat bentuk tanda di antaranya sebagai berikut: 51
51 Sulaiman bin Najah, Ushûl adh-Dhabth wa Kaifiyyatuh „alâ Jihah al- Ikhtishâr, h. 45
a) Bentuk bulatan kecil di atas huruf seperti angka nol pada matematika. Tanda ini banyak digunakan diwilayah maghâribah dan sebagian masyâriqah.
b) Bentuk seperti jarrah atau bejana di atas huruf sukûn.
Tanda ini digunakan oleh ahli Andalus.
c) Bentuk kepala kha` yang diambil dari awal kata khafif, sebab huruf sukûn lebih ringan diucapkan dari huruf yang ber-harakah. Namun ada juga yang mengatakan dari huruf jim yang diambil dari kata jazm, karena pada sukûn memutus harakah dari bersambung dengan huruf.
Kemudian ada pula yang mengatakan dari kepala ha`
dari lafadz istirâhah, sebab dalam dalam pengucapannya sukûn sebagai istirahat dari beratnya pengucapan harakah.
d) Bentuk ha` masyqûq, digunakan oleh sebagian ahli Arab.
2) Sukûn pada nun
Nun sukûn memiliki keadaan yang berbeda-beda dalam penempatan tanda sukûn sesuai dengan huruf yang ada setelahnya. Diantaranya:52
a) Jika setelah nun sukûn itu huruf halqi, yakni ء, ه, ع, ح, غ, خ, maka tanda sukûn dibubuhkan pada huruf nun.
Pada huruf setelahnya diberikan harakah huruf saja, untuk menunjukkan bahwa nun sukûn dibaca izhâr.
52 „Utsman bin Said Al-Dani, Al-Muqni„ fî Ma„rifati Marsum Mashâhifi Ahli al- Amshâr ma„a Kitâb al-Naqth, h. 316-317
37 b) Jika setelah nun sukûn berupa huruf ر, ل, م, dan ن, maka tanda sukûn tidak diberikan pada huruf nun. Pada huruf setelahnya diberi harakah huruf dan tanda tasydîd, untuk menunjukkan bacaan idghâm kamîl.
c) Jika setelah nun sukûn ialah huruf ي, و, maka tanda sukûn pada nun tidak dibubuhkan. Pada huruf setelahnya diberikan harakah huruf saja tanpa tanda tasydîd, untuk menunjukkan bacaan idghâm nâqish.
d) Jika setelah nun sukûn berupa huruf-huruf ikhfâ‟ yang lima belas yakni ت, ث, ج, د, ذ, ز, س, ش, ص, ض, ط, ظ, ف, ق, ك, maka tanda sukûn tidak dibubuhkan pada nun.
Pada huruf stelahnya diberikan harakah hurufnya saja, tanpa tanda tasydîd, untuk menunjukkan bahwa nun sukûn dibaca ikhfâ‟.
e) Jika setelah nun sukûn berupa huruf ب , maka ada dua mazhab. Yang pertama menurut Abu Daud meletakkan mim kecil di atas nun dan tanpa sukûn padanya.
Sedangkan menrut ad-Dani hanya menghilangkan tanda sukûn-nya saja.
d. Tasydîd
Tasydîd merupakan pengulangan dua buah huruf yang berjenis satu, huruf pertama sukûn dan huruf kedua ber- harakah. Tasydîd memiliki dua bentuk, di antaranya:
1) kepala syin tanpa titik. Tanda ini digagas oleh Al-Khalil dan Sibawaih, dan diletakkan di atas huruf ber-tasydîd.53 Tanda tasydîd diambil dari kepada huruf syin pada kata syadîd.54 Bentuk tasydîd seperti ini digunakan oleh Khalil bin Ahmad, sahabatnya serta ahli masyrîq.
2) Huruf dal kecil. Tanda ini diletakkan di atas huruf jika fathah, di bawah huruf jika kasrah, dan diletakkan di depan huruf jika dhammah. Tanda tasydîd diambil dari huruf dal pada kata syadîd. Bentuk tasydîd seperti ini digunakan oleh ahli Madinah dan diikuti oleh ahli Andalusia.55
e. Tanda mad
Mad menurut bahasa adalah al-ziyâdah56 yang berarti tambahan. Sedangkan menurut istilah Mad adalah memanjangkan suara dengan huruf dari huruf mad yang tiga yaitu alif yang didahului fathah, ya` sukûn didahului kasrah, dan waw sukûn didahului dhammah.57
Tanda mad berbentuk seperti jarrah yang ujungnya naik sedikit dan diletakkan di atas huruf mad. Tanda ini diambil dari kata mad yang dihapuskan kepala mim-nya dan dihilangkan
53 Sulaiman bin Najah, Ushûl adh-Dhabth wa Kaifiyyatuh „alâ Jihah al- Ikhtishar, h. 55
54 Ghanim Qadduri al-Hamad, Al-Muyassar fî „Ilm Rasm al-Mushaf wa Dabthih, h. 294
55 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâd ath-Thâlibîn ilâ Dhabth al-Kitâb al- Mubîn, h. 20
56 „Abd al-Fattah al-Sayyid „Ajami al-Marshafi, Hidâyah al-Qârî ilâ Tajwîd Kalâm al-Bârî, (Madinah: Maktabah Thayyibah, t.t.), hal. 266
57 „Abd al-Fattah al-Sayyid „Ajami al-Marshafi, Hidâyah al-Qârî ilâ Tajwîd Kalâm al-Bârî, hal. 267
39 yang ujung yang atas dari dal.58 Menurut Abu Daud, tanda mad diberikan bila bacaan lebih dari 2 harakat, yaitu ketika huruf mad atau lîn setelahnya berupa hamzah atau sukûn. Sedangkan pada ahli naqt Iraq, mereka tidak memberikan tanda mad.59
Ada dua pendapat tentang cara meletakkan tanda mad pada huruf. Yang pertama Abu Daud berpendapat bahwa tanda mad diletakkan di atas huruf mad. Yang kedua bahwa tanda mad diletakkan sedikit di depan huruf mad.60 Jika huruf mad- nya tertulis, maka tanda mad akan diletakkan di atasnya.
Namun jika tidak tertulis rasm-nya, maka tanda mad ditulis di atas huruf yang dibaca panjang, .
f. Hamzah
Ada beberapa pendapat mengenai bentuk hamzah, di antaranya:
1. Bulat seperti bentuk naqth al-i„jâm, baik tahqîq maupun tashîl. Tanda ini merupakan mazhab naqth al-mushaf.
2. Kepala huruf „ain kecil. Tanda ini merupakan mazhab ahli nahwu dan kitab al-umara‟.61
Adapun yang sekarang diamalkan ialah bentuk kepala huruf „ain ketika dibaca tahqîq dan naqth mudawwar ketika dibaca tashîl.
58 Ali Muhammad Adh-Dhabba‟, Samîr ath-Thâlibîn fî Rasm wa Dhabth al- Kitâb al-Mubîn, (Kuwait: Qitha‟u al-Masajid, t.t.), h. 187
59 Ahmad Muhammad Abu Zihtar, As-Sabîlu ilâ Dhabthi Kalimât at-Tanzîl, h. 28
60 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâd ath-Thâlibîn ilâ Dhabthi al-Kitâb al- Mubîn, h. 21
61 Ali Muhammad Adh-Dhabba`, Samîr ath-Thâlibîn fî Rasm wa Dhabth al- Kitâb al-Mubîn, h. 196
Pemberian harakah pada hamzah berbeda-beda, tergantung pada cara membacanya sebagai berikut:
1. Jika hamzah dibaca tahqîq maka harakah diletakkan di atasnya sebagaimana huruf ber-harakah.
2. Jika hamzah dibaca tashîl baina-baina maka tidak diberi harakah karena harakah tidak khalishah dan tidak berbeda ketiadaan harakah-nya.
3. Begitu juga tidak memberikan harakah yang dibaca badl huruf mad.
4. Adapun ibdâl harakah huruf diberi harakah seperti tahqîq, ada yang mengatakan tidak, yang digunakan yang awal.
5. Jika dibaca tashîl baina-baina maka jadikan tandanya titik mudawwar menyerupai hamzah tahqîq.
g. Shilah Hamzah Washal
Hamzah washal adalah hamzah yang itsbat ketika berada di awal kata dan gugur saat berada di tengah kata. Ia bisa berada di kalimah huruf, isim, maupun fi‟il.62 Pada mazhab maghâribah, shilah alif washal ditulis dengan bentuk jarrah kecil dan mengikuti harakah dari huruf sebelumnya, misalnya jika huruf sebelumnya berharakat fathah maka shilah jarrah diletakkan di atas alif untuk menjukkan bahwa huruf sebelumnya fathah, jika sebelumnya berharakat kasrah maka
62 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur`an Metode Maisuro, (Tangerang Selatan: Yayasan Bengkel Metode Maisuro dan Pesantren Takhasus IIQ Jakarta, 2017), cet. ke-10, h. 269
41 shilah-nya diletakkan di bawah alif, dan jika sebelumnya ber- harakah dhammah maka shilah-nya diletakkan di tengah alif.63
Jika harakah sebelumnya berupa tanwîn, maka shilah jarrah diletakkan di bawah alif, karena tanwîn dikasrahkan bagi dua huruf sukûn yang bertemu, selama belum datang setelahnya sukûn waqi„ setelah alif washal dan dhammah asli.
Qurra` berbeda pendapat pada dhammah tanwîn dan kasrah.64 Contoh: 65 , jarrah diletakkan di atas huruf alif kata kedua sebab huruf terakhir kata pertama ber-harakah fathah.
Adapun perbedaan bentuk antara jarrah pada mad dan jarrah pada tanda shilah ialah pada peletakan dan bentuknya.
Jarrah pada tanda mad diletakkan di atas huruf mad atau huruf yang dibaca panjang dengan bentuk jarrah yang ujungnya naik sedikit ke atas, sedangkan jarrah pada tanda shilah hanya diletakkan pada hamzah washal dengan mengikuti harakah huruf sebelumnya dan dengan bentuk garis kecil.
Pada mazhab masyâriqah, shilah ditulis dengan kepala shad kecil yang diletakkan di atas huruf alif, dan sebagian lagi dengan huruf dal terbalik yang diletakkan di atas huruf alif pula. Kemudian oleh mazhab ad-Dani shilah ditulis dengan bentuk bulatan kecil di atas alif. 66
63 „Utsman bin Said Al-Dani, Al-Muqni„ fî Ma„rifati Marsum Mashâhifi Ahli al-
Amshâr ma„a Kitâb al-Naqth, h. 324
64 „Utsman bin Said Al-Dani, Al-Muqni„ fî Ma„rifati Marsum Mashâhifi Ahli al-
Amshâr ma„a Kitâb al-Naqth, h. 324
65 QS. Al-Baqarah [2]: 16
66 Ali Muhammad Adh-Dhabba`, Samîr ath-Thâlibîn fî Rasm wa Dhabth al- Kitâb al-Mubîn, h. 207
Untuk tanda ibtidâ` ialah dengan titik (nuqthah mudawwarah). Diletakkan di atas alif menandakan ibtidâ`
dengan fathah, di tengah alif menunjukkan ibtidâ` dengan dhammah, dan jika di bawah alif maka menunjukkan ibtidâ`
dengan kasrah. Contoh:
67 68 69
h. Ikhtilâs, isymâm, dan imâlah
Ikhtilâs ialah membunyikan huruf dengan 2/3 harakah.70 Pada qira`at riwayat Qalun, bacaan ikhtilâs terdapat pada QS.
Al-Baqarah [2]: 270 (), QS. An-Nisa` [4]: 57 () dan
153 (), QS. Yunus [10]: 35 ( ), dan QS. Yasin
[36]: 48 (). Bacaan ikhtilâs pada lafazh-lafazh tersebut merupakan wajh kedua pada qira`at riwayat Qalun, yang mana wajh pertamanya ialah dengan sukun.
Kemudian isymâm, ialah membaca dua harakah antara dhammah dan kasrah dengan mendahulukan harakah dhammah serta lebih sedikit dari harakah kasrah.71 Pada qira`at riwayat Qalun, bacaan isymâm terdapat pada QS. Hud
67 QS. Al-Baqarah [2]: 36
68 QS. Al-Baqarah [2]: 21
69 QS. Al-Baqarah [2]: 12
70 Ahmad Fathoni, Tuntunan Praktis Kalimat al-Farsyiyah Plus Surah Al- Baqarah s/d Surah Ali Imran Qiraat Nafi„ Riwayat Qalun, h. 76
71 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâd ath-Thâlibîn ilâ Dhabth al-Kitâb al- Mubîn, h.20
43
[11]: 77 (), QS. Al-Mulk [67]: 27 (), dan QS.
Yusuf [12]: 11 ()72.
Selanjutnya imâlah, terbagi kepada imâlah kubrâ dan Imâlah shughrâ. Imâlah kubrâ ialah bunyi antara harakah fathah dan kasrah, serta antara alif dan ya`.73 Pada qira`at riwayat Qalun, bacaan dengan imâlah kubrâ hanya terletak pada kata (QS. At-Taubah [9]: 109). Adapun imâlah shughrâ atau taqlîl ialah bunyi alif yang diucapkan antara fath dan imâlah kubrâ.74 Pada qira`at riwayat Qalun, bacaan imâlah shughrâ atau taqlîl ini hanya terdapat pada kata di semua tempat pada Al-Qur`an.
Dalam penulisannya pada mushaf Al-Qur‟an, terdapat perbedaan pendapat mengenai pembubuhan dhabth pada bacaan Ikhtilâs, isymâm dan imâlah tersebut, di antaranya:
72 Pada surah Yusuf ayat 11 ini, penulis menemukan beberapa perbedaan mengenai pembacaannya. Dalam Mushaf Qalun min Syathibiyah wa Thayyibah dikatakan bahwa pada qira`at Syathibiyyah Qalun membaca dengan mendahulukan raum, kemudian pada qira`at Thayyibah Qalun membaca dengan raum dan isymâm, dan pada mushaf Al-Qira`at al-„Asyrah terbitan Dâr ash-Shahâbah li at-Turâts Bithanthâ disebutkan bahwa pada lafazh tersebut Qalun membaca dengan isymâm dan ikhtilâs.
73 Ahmad Fathoni, Tuntunan Praktis Kalimat al-Farsyiyah Plus Surah Al- Baqarah s/d Surah Ali Imran Qiraat Nafi„ Riwayat Qalun, (Tangerang: IIQ Jakarta Press, 2018), cet. ke-3, h. 52
74 Ahmad Fathoni, Tuntunan Praktis Kalimat al-Farsyiyah Plus Surah Al- Baqarah s/d Surah Ali Imran Qiraat Nafi„ Riwayat Qalun, h. 52
1. Tidak membutuhkan tanda khusus. Abu Dawud meniadakan adanya dhabth isymâm menurutnya lebih baik dan lebih utama karena tidak waqf pada hakikat lafazh kecuali dengan musyafahah.75
2. Dibutuhkannya tanda agar orang yang membacanya tidak lupa bahwa terdapat bacaan Ikhtilâs, isymâm maupun imâlah. Tandanya berupa bulat berwarna merah tanpa lubang di tengahnya seperti ini (•). Selain tanda bulat penuh juga ada yang memberikan tanda dengan ketupat berlubang tengahnya, seperti: ( ).76
Adapun cara peletakannya jika Ikhtilâs maka diletakkan nuqthah di atas huruf yang dibaca Ikhtilâs harakah-nya jika fathah dan jika kasrah maka di bawah huruf. Adapun pada isymâm maka nuqthah diletakkan di depan huruf. Dan pada imâlah, baik itu itsbat saat washal maupun waqf atau waqf saja, adapun yang pertama maka dhabth-nya di bawah huruf diberikan nuqthah dan yang kedua sesuaikan dengan harakah yang hilang saat washl.
i. Huruf yang di-hazdf
huruf-huruf yang dibuang rasm-nya dalam mushaf kebanyakan dari huruf „illah yaitu alif, waw dan ya`, dan sedikit dari huruf nun. Penghapusan huruf „illah tersebut dikarenakan 3 sebab, yakni berkumpulnya dua huruf „illah
75 Sulaiman bin Najah, Ushûl adh-Dhabth wa Kaifiyyatuh „alâ Jihah al- Ikhtishar, hal. 42
76 Aiman Rusydi Suwaid, At-Tajwîd al-Mushawwar, (Damaskus: Maktabah Ibn Jazari, 2011), hal. 559
45 yang sama, meringkas dan adanya ganti dari huruf yang dibuang.77
Huruf yang di-hadzf ditandai sesuai dengan huruf yang dihapus akan tetapi dengan ukuran yang kecil, seperti:
1. Alif Khinjariyyah atau alif kecil, menandakan huruf yang dihapus adalah alif.
2. Waw kecil, menunjukkan yang dihapus adalah waw.
3. Ya` kecil, menunjukkan yang dihapus adalah ya`.
4. Nun kecil, menandakan huruf yang dihapus adalah nun.
j. Huruf tambahan
Huruf tambahan pada penulisan mushaf ada tiga huruf yakni alif, waw, dan ya`. Huruf tambahan ini tidak dibaca baik saat washl maupun waqf. Bentuk yang menandakan bahwa huruf tersebut merupakan huruf tambahan di antaranya ialah:78 1. Dua alif yang menyilang (x), tanda diletakan di atas huruf
tambahan dan digunakan oleh sebagian ahli masyâriqah.
2. Tanda bulat (o), tanda diletakkan di atas huruf tambahan dan ini yang banyak digunakan.
k. Lam alif
Lam alif merupakan huruf yang tersusun dari dua huruf, yaitu huruf lam dan alif. Pada bagian atasnya memiliki dua ujung berbentuk alif dan bagian bawahnya bulatan, seperti لا.
77 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâd ath-Thâlibîn ilâ Dhabth al-Kitâb al- Mubîn, h. 34
78 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâd ath-Thâlibîn ilâ Dhabth al-Kitâb al- Mubîn, h. 40
Ulama berbeda pendapat mengenai ujung mana dari lam alif yang merupakan hamzah/alif.
1. Imam Khalil bin Ahmad mengatakan bahwa alif terdapat pada ujung pertama. Ini digunakan oleh ulama maghâribah . 2. Imam ad-Dani mengatakan bahwa alif terdapat pada ujung
kedua.