PR AGMATIK A AL-QUR’AN
B. Teori Pragmatik 1. Definisi Pragmatik
2. Asumsi Dasar Pragmatika Al-Qur’an
Kitab suci al-Qur’an merupakan firman Allah Swt. yang menggunakan peranti kultural bahasa Arab127 dalam rangka merespons suatu kasus atau insiden yang terjadi di Arab. Penggunaan peranti kultural bahasa tersebut bertujuan dalam rangka memudahkan masyarakat Makkah dan Madinah, sebagai komunitas pengguna bahasa Arab, untuk menangkap dan melakukan interpretasi terhadap pesan-pesan moral yang disampaikan al-Qur’an.128 Dengan demikian, al-Qur’an tersebut merupakan firman Allah Swt. menggunakan media bahasa Arab yang diturunkan dalam rangka merespons kasus atau insiden yang terjadi dalam konteks lokal komunitas Makkah dan Madinah.
Karena itu, sehubungan al-Qur’an merupakan kitab suci yang menggunakan jaring lokalitas Arab, maka diperlukan suatu perangkat sekunder untuk membongkar lapisan-lapisan pesan yang terendap dalam teks itu sendiri yang tidak dapat secara tuntas dipahami dari perspektif semantika teksnya.
Hal ini dilakukan dalam rangka untuk memperoloh ketepatan pemahaman (subtilitas intelligendi) dan ketepatan penjelasan (subtilitas explicandi) terhadap al-Qur’an. Instrumen sekunder tersebut dalam kajian ilmu linguistik disebut kajian pragmatik. Asumsi dasarnya adalah sebagai berikut.
Pertama, al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. dalam rangka untuk merespons realitas sosial yang terjadi di komunitas lokal masyarakat Makkah dan Madinah. Dengan demikian, kitab suci ini tidak turun dalam ruang kosong (cultural vacum), tetapi mempunyai hubungan dialektis dengan realitas sosial yang berkembang pada saat itu, yaitu berinteraksi, bernegosiasi, dan berdialektika dengan kondisi sosial masyarakat Arab.129 Artinya, kondisi sosial, geografis, dan psikologi masyarakat Arab ketika itu merupakan salah-satu pertimbangan menarik yang diangkat al-Qur’an ke permukaan.
127 Fathurrosyid, Semiotika Kisah al-Qur’an, 3.
128 Muhammad al-Tahir Ibn ‘Ashur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Vol. XV (Beirut: Mu’asasah al-Tarikh al-‘Arabi, 2000), 106.
129 M. Faruq al-Nabhan, al-Madkhal li al-Tashri‘ al-Islami (Beirut: Dar al-Qalam, 1981), 83.
BITREAD
Berdasarkan fenomena di atas, maka upaya interpretasi terhadap kitab suci –dalam hal ini al-Qur’an- yang hanya diorientasikan pada analisis linguistik dan struktur gramatikalnya tidak akan cukup memadai untuk mengejar kebenaran hakiki (maqasid asasiyyah) yang diusung oleh teks. Analisis pemahaman terhadap suatu teks semestinya dilanjutkan pada penyingkapan makna yang terdiamkan (al-maskut ‘anhu), yaitu makna yang tidak tercakup secara verbatim di dalam aksara sebuah teks.
Karena itu, sebuah perangkat yang mampu mengungkap kondisi struktur sosial budaya dan ekonomi masyarakat, tentu menjadi kebutuhan mutlak untuk mengungkap secara utuh dan totalitas pesan yang terdapat dalam teks, sebab tidak cukup jika hanya mengandalkan analisis pada sisi struktur gramatikalnya saja.130 analisis terhadap kelas, struktur sosial, dan budaya tersebut dalam kajian linguistik disebut ilmu pragmatik, yaitu disiplin kajian yang terikat konteks (context dependent),131 baik konteks linguistik (linguistic meaning) yang bersifat diadik, maupun konteks non- linguistik (speaker meaning) yang bersifat triadik.
Kedua, al-Qur’an adalah kitab suci yang menggunakan media bahasa yang sarat makna (yahtamil al-wujuh li al-ma‘na). Kondisi multiple meaning tersebut disebabkan faktor internal (al-‘awamil al-dakhiliyah) kebahasaan ayat al-Qur’an yang memberikan berbagai ”ruang kosong”
kemungkinan pemaknaan, dalam satu sisi, serta adanya faktor eksternal (al-‘awamil al-kharijiyah) subjektivitas sang mufasir, pada sisi yang lain.132 Karena itu, upaya interpretasi terhadap kitab suci ini tentu tidak akan pernah cukup untuk mendapatkan pemahaman yang objektif-totalistik jika hanya dikonsultasikan pada aspek strukturalnya saja sebab pembacaan secara struktural, hanya diorientasikan pada pemahaman posisi subjek, predikat, dan objeknya saja, tanpa dikonsultasikan dan negosiasikan pada konteksnya.133 Dengan cara yang demikian, maka kajian yang mendasarkan pada bentuk strukturalnya, tentu hanya mendapatkan pemahaman dari perspektif literalnya saja.
130 Abd Muqsith Ghazali, Metodologi Studi al-Qur’an (Jakarta: Gramedia Pustaka Agama, 2009), 119.
Bandingkan dengan; ‘Abd al-Sabur Shahin, ‘Arabiyyat al-Qur’an (t.tp.: Maktabah al-Shahab, t.th.), 67.
131 Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, 16.
132 Fathurrosyid, Semiotika Kisah al-Qur’an, 56.
133 Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, 11-12.
BITREAD
Demikian pula, pendekatan struktural yang terjadi pada suatu kalimat. Fungsi suatu kalimat dalam tata bahasa tradisional (traditional grammar), terbagi menjadi tiga kategori, yaitu berfungsi untuk menyampaikan suatu berita (sentence informative), berfungsi untuk bertanya (sentence imperative), serta ada juga kalimat yang berfungsi untuk memerintah (sentence interogative).134 Namun sekalipun demikian, dalam kondisi dan konteks tertentu, makna atau maksud suatu kalimat terkadang tidak selalu linear dengan wujud formalnya. Kondisi yang demikian dikarenakan munculnya suatu kalimat tidak bisa dilepaskan dari konteks yang melatarbelakanginya. Karena itu, posisi pragmatik sebagai disiplin ilmu yang mengkaji relasi antara bahasa dengan konteksnya (the relations between language and context), menjadi solusi alternatif dalam kompleksitas kajian al-Qur’an.
Kecuali itu, upaya interpretasi yang hanya mengandalkan pada analisa semantik, baik pada level kajian makna leksikal maupun makna gramatikal, juga tidak akan cukup menemukan ideal moral (maqasid al- shari‘ah) yang dituju al-Qur’an. Sebab kajian tersebut hanya terpusat pada kajian makna kata semata, klausa serta kalimat yang bebas konteks (context independent). Sementara al-Qur’an merupakan kitab suci yang diturunkan oleh Allah Swt. dengan bentuk terikat konteks (context dependent) mengingat ia diturunkan dalam rangka merespons realitas sosial, politik, budaya, ekonomi, dan geografi komunitas Arab.
Fenomena yang demikian dipotret al-Qur’an sebagaimana kasus yang terjadi dalam Q.S. al-A‘la [87]: 14-15.135 Karena itu, pemahaman yang didasarkan pada kajian pragmatik merupakan pilihan tepat untuk
134 David E. Cooper, Philosophy and the Nature of Language (London: Longman Group, 1979), 10. Lihat juga; Ramelan, Sintaksis, (Yogyakarta: CV. Karyono, 1982), 9.
135 Kalimat man tazakka dan fa salla yang terdapat dalam Q.S. al-A‘la [87]: 14-15 jika diinterpretasikan berdasarkan pemahaman struktural dan semantik, maka ia berarti perintah menunaikan zakat fitrah (tazakka) dan shalat ied (fa salla) adalah tindakan pemahaman yang tidak objektif mengingat perintah kedua ritual tersebut baru diberlakukan sewaktu Rasulullah berhadapan dengan komunitas Madinah, sementara ayat tersebut diturunkan pada saat Rasulullah saw. masih berdomisili di Makkah. Karena itu, jika ayat tersebut dikonsultasikan dan negosiasikan pada konteksnya, maka – menurut pemahaman Ibnu Abbas- menunjukkan bahwa kalimat tazakka berorientasi pada kritik budaya politeisme (syirik) komunitas Makkah dan kalimat fa salla berarti perintah ritual shalat. Lihat selangkapnya: Ibn al-Jauzi, Zad al-Masir fi ‘Ilmi al-Tafsir, Vol. VIII (Beirut: Dar al-Fikr, 1407), 230.
Lihat juga; Musa‘id Sulaiman al-Tayyar, al-Tafsir al-Lughawi li al-Qur’an al-Karim (Makkah: Dar Ibn al-Jauzi, t.th.), 30.
BITREAD
menemukan ”angan-angan sosial” al-Qur’an yang sesungguhnya. Sebab posisi pragmatik merupakan kajian yang diorientasikan pada makna tuturan (utterance) atau pengujaran kalimat berbasis pada konteks yang sesungguhnya.136