• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesatuan Tema Surat Kisah Maryam a. Surat Maryam [19]

Dalam dokumen Pragmatika Al-Quran Aprejdi (Halaman 68-72)

DESKRIPSI STRUKTUR AL KISAH MARYAM DALAM AL-QUR’AN

3. Kesatuan Tema Surat Kisah Maryam a. Surat Maryam [19]

Surat Maryam merupakan surat yang turun pada periode Makkah sewaktu Rasulullah as. hijrah bersama kaum mukmin ke Habasyah (Ethiopia). Berdasarkan sistematika turunnya (tartib al-nuzul), surat ini merupakan surat ke 44 setelah surat Fatir [35] dan sebelum surat Taha [20]. Dengan demikian, surat ini diturunkan pada pertengahan tahun ke 6 masa kenabian mengingat surat Taha tersebut diturunkan sebelum sahabat ‘Umar Ibn Khattab resmi masuk Islam, tahun ke 5 masa kenabian.143

Labelisasi nama Maryam pada surat ini144 disebabkan pesan-pesan yang terdapat dalam surat ini mengisahkan tentang kelahiran dan kehidupan seorang perempuan yang bernama Maryam. Kisah tersebut juga diceritakan lebih detail pada surat Ali ‘Imran yang turun di Madinah.

Jumlah total ayat ini, menurut kalkulasi orang Makkah dan Madinah, sebanyak 99 ayat.145

Surat ini mempunyai relevansi dengan surat-surat sebelumnya yang mengisahkan tentang kejadian-kejadian aneh, seperti kisah Ashab al- Kahfi, kisah Nabi Musa as. dengan Nabi Khidir as., dan kisah Dhu al- Qarnayn. Sementara dalam surat ini menceritakan kisah yang lebih aneh lagi, yaitu kelahiran Nabi Yahya yang terlahir dari seorang ayah tua renta berusia 123 tahun dan seorang ibu yang mandul serta kejadian aneh cerita kelahiran seorang anak bernama Isa dari seorang ibu bernama Maryam tanpa seorang ayah.146

Karakteristik ayat atau surat yang diturunkan pada periode Makkah,147 di antaranya sebagai berikut. Pertama, redaksinya ringkas, tegas dan

143 Muhammad ‘Abid al-Jabiri, Fahm al-Qur’an: al-Tafsir al-Wadih Hasbu Tartib al-Nuzul, Vol. I (Maroko: al-Dar al-Baida’, 2008), 271.

144 Penetapan nama-nama surat yang terdapat dalam al-Qur’an menurut pendapat imam al-Suyuti ditetapkan berdasarkan hukum tawqifi sebagaimana termaktub dalam hadith. Lihat selengkapnya, Muhammad Abu Shuhbah, al-Madkhal li Dirasat al-Qur’an al-Karim (Kairo: Maktabat al-Sunnah, 1423), 321-322. Periksa juga; Abu Ja‘far Ibn Zubair al-Gharnati, al-Burhan fi Tartib Suwar al-Qur’an (Kairo: Matba‘ah Fadalah, 1990), 68.

145 Muhammad al-Tahir Ibn ‘Ashur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Vol. XVI (Beirut: Mu’asasah al- Tarikh al-‘Arabi, 1420), 5-6.

146 Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsir al-Bahr al-Muhit, Vol. VII (Beirut: Dar al-Fikr, 1420), 237. Periksa juga; al-Gharnati, al-Burhan fi Tartib Suwar al-Qur’an, 251.

147 Indikator fase Makkah adalah; Pertama, terdapat ayat-ayat sajadah, kecuali Q.S. al- Ra‘d [13] dan Q.S. al-Hajj [22]. Kedua, terdapat ungkapan penegasian kalimat kalla dan ungkapan ini baru muncul

BITREAD

bernuansa syair. Tujuannya adalah untuk mempermudah komunitas muslim dalam menghafalnya serta untuk memikat perhatian pendengar karena keindahan susunan kosa katanya.148 Kedua, pesan-pesan yang diusungnya mewacanakan teologi monotoisme, yaitu menggambarkan keesaan dan kebesaran Allah Swt., the unity and majesty of God.149 Ketiga, ayat-ayatnya mendeskripsikan objek alam semesta secara lugas.150 Hanya saja, objek tersebut mayoritas digunakan dalam bentuk sumpah (qasm) seperti matahari, bulan, bintang, buah-buahan dan sebagainya. 151

Sehubungan surat Maryam diturunkan di Makkah, maka wajar sekali jika dideskripsikan dengan menggunakan nuansa susastra yang sangat indah disertai perbedaan bunyi irama di akhir sajaknya mulai dari awal sampai akhir surat.152 Hal ini dikarenakan terdapat nada dan irama

“musik”nya yang khas dari kata-kata yang dipilihnya. Indikatornya, ditemukan dalam lafaz dan fasilah, yakni akhir kata pada ayat-ayatnya, nuansa kelemahlembutan dan kedalaman, seperti kata radiyyan, sariyyan, khafiyyan, dan najiyyan, sedangkan pada tempat-tempat di mana diperlukan adanya ketegasan dan sikap keras, maka fasilah yang digunakan umumnya adalah huruf dal yang ditashdid-kan seperti kata maddan, diddan, dan huddan, atau menggunakan huruf zay, seperti kata ‘izzan dan ‘azzan.153

Demikian pula, indikasi bahwa surat Maryam diturunkan di Makkah disebabkan substansi pesan-pesannya mewacanakan teologi monotoisme dengan cara mendeskripsikan kisah kelahiran Nabi Yahya as.

pada setengah akhir al-Qur’an. Ketiga, terdapat ungkapan ya ayyuha al-nas dan tidak ditemui ungkapan ya ayyuha al-ladhina amanu, kecuali Q.S. al-Hajj [22]. Keempat, di awal surat terdapat huruf tahajji (kalimat rilis), kecuali Q.S. al-Baqarah [02] dan Q.S. Ali ‘Imran [03]. Kelima, terdapat kisah Adam dan Iblis kecuali Q.S. al-Baqarah [02]. Keenam, terdapat kisah-kisah para nabi dan umat terdahulu, kecuali Q.S. al-Baqarah [02]. Ketujuh, semua surat mufassal. Lihat; Badr al-Din al- Zarkashi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, Vol. I (Beirut: Dar Ihya’ ‘Arabi, 1957), 162.

148 Abu A‘la al-Mawdudi, The Meaning of the Quran, cet. 2 (New Delhi: Lakshmi Printing Works, 1971), 149 11.Ahmad A. Ghalwasy, The Religion of Islam, Vol. II (Kairo: Dar al-Kitab al-Arabi Press, 1961), 153.

150 Ibid.,

151 Lammens SJ., Islam Beliefs and Institutions (New Delhi: Oriental Book Reprint Corporation, 1979), 46

152 ‘Izzah Darwazah, al-Tafsir al-Hadith: Tartib al-Suwar Hasab al-Nuzul, Vol. III (Kairo: Dar Ihya’ al- Kutb al-‘Arabiyah, 1421), 141.

153 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Vo. VIII (Tangerang: Lentera Hati, 2007), 149. Lihat juga dalam; Sayyid Qutb, Fi Zilal al-Qur’an, Vol. IV (Kairo: Dar al-Shuruq, 1412), 2300. Lihat juga;

Sayyid Tantawi, al-Tafsir al-Wasit, Vol. IX, (Kairo: Dar Nahdah, 1998), 11.

BITREAD

dari seorang ibu yang mandul dan kelahiran Nabi ‘Isa as. dari seorang ibu yang tidak bersuami. Kejadian luar biasa atas kelahiran Nabi Yahya as.

yang disuguhkan jauh sebelum kejadian kelahiran Nabi ‘Isa as., menurut

‘Izzah Darwazah (w. 1984), sebagai bentuk pengantar (al-tamhid) sekaligus celaan (tafnid) atas dugaan unsur ke-ayah-an Allah Swt. terhadap diri ‘Isa as. yang berkembang di kalangan orang-orang Nasrani.154

Dengan demikian, rangkaian redaksi kalimat yang bernuansa susastra pada surat Maryam ini, termasuk kisah kelahiran ‘Isa as. tentu disesuaikan dengan konteks sosial dan kultur audiens masyarakat Makkah sebagai komunitas yang ahli dalam bidang susastra. Penggunaan lima huruf muqata‘ah di awal surat sebagai simbol perhatian (al-istir‘a’) dan peringatan (al-tanbih) terhadap kepentingan tema yang ada dalam surat ini155 juga merupakan bentuk akomodasi terhadap nilai-nilai susastra.

Karena itu, sekalipun kisah kelahiran Nabi ‘Isa as. juga diceritakan dalam surat Ali ‘Imran [03], tetapi nilai dan nuansa sastra yang terdapat dalam surat Maryam lebih kental mengingat surat Maryam diturunkan kepada komunitas yang ahli sastra, yaitu masyarakat Makkah.

b. Surat Ali ‘Imran [03]

Konteks historis (sabab al-nuzul) surat ini, Muhammad ‘Abid al- Jabiri (w. 1429/2010) menyatakan sebagai berikut:

Ibn Ishaq menjelaskan bahwa delegasi pakar Nasrani dari Najran mendatangi Madinah untuk mengetahui sikap agama Islam tentang posisi Isa as. Menurut keyakinan orang-orang Nasrani Najran bahwa Isa as. adalah anak tuhan dengan alasan tidak ada satu pun orang yang tahu siapa bapaknya. Demikian pula, tidak ada seorang pun yang berbicara pada masa penyapihan kecuali Isa as., juga merupakan bukti bahwa ia anak tuhan. Jika benar bahwa Allah itu satu, tentu tidak akan berfirman menggunakan redaksi khalaqna, amarna, dan qadaina. Ketika rombongan delegasi itu masuk masjid, sebagian perwakilan mereka berdialog dengan nabi. Setelah itu, Rasulullah saw. mengajak mereka masuk Islam. Namun perwakilan itu menjawab dengan tegas, “Kami telah masuk Islam jauh sebelum

154 Darwazah, al-Tafsir al-Hadith, Vol. III, 144.

155 Ibid., 143.

BITREAD

kamu”. Rasulullah menolak jawaban mereka seraya bersabda,

“Kalian berdua bohong, kalian menyatakan bahwa Allah swt, mempunyai anak”. Perwakilan itu bertanya lagi, “Lantas, siapakah bapak ‘Isa jika ia bukan anak Tuhan?”. Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Rasulullah saw. sehingga turunlah wahyu dari Allah swt, sebagai jawaban terhadap mereka, yaitu surat Ali ‘Imran.156

Surat ini dinamakan Ali ‘Imran [03] karena pesan-pesan yang terdapat dalam surat ini, salah-satunya berisi tentang superioritas dan keutamaan keluarga ‘Imran, yaitu (1) ‘Imran bin Mathan; (2) istri ‘Imran, Hannah Binta Faqud; (3) Maryam, putri ‘Imran; (4) Nabi Zakariya dan istrinya yang mengasuh dan membesarkan Maryam karena ditinggal mati oleh ‘Imran sejak masih kecil.157

Namun demikian, secara umum, tema yang terdapat dalam surat ini berisikan tiga hal. Pertama, pada awal surat menjelaskan tujuan diskusi yang terjadi antara Rasulullah saw. dan ahli kitab, yaitu kedatangan delegasi pendeta Kristen dari Najran (sebuah lembah di perbatasan Yaman dan Makkah (sekarang Saudi Arabia) ke Madinah pada tahun IX Hijriah, sebelum penaklukan kota Makkah (fathu Makkah ). Kedua, pada pertengahan surat menjelaskan maksud sikap orang Yahudi dan tipu daya mereka. Ketiga, pada akhir surat menjelaskan tujuan terjadinya agresi di Gunung Uhud, dekat Madinah, antara orang mukmin dan kaum musyrikin yang terjadi 15 bulan setelah perang Badar.158

Tujuan utama surat ini adalah pembuktian tentang tauhid, keesaan, kekuasaan Allah Swt., serta penegasan bahwa dunia, kekuasaan, harta dan anak-anak yang terlepas dari nilai-nilai Ilahiyah, tidak akan bermanfaat di akhirat. Hukum-hukum alam yang melahirkan kebiasaan-kebiasaan, pada hakikatnya ditetapkan dan diatur oleh Allah Yang Maha Hidup, sebagaimana terlihat dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh keluarga

‘Imran. Setelah itu, surat ini memaparkan kisah Maryam, ‘Isa, Zakariya dan lain-lain, yang melalui mereka-lah Allah Swt., menunjukkan keesaan,

156 al-Jabiri, Fahm al-Qur’an, Vol. III, 135. Periksa juga; Jalal al-Din al-Suyuti, Asrar Tartib al-Qur’an (Kairo: Dar al-I‘tisam, 1398), 83.

157 Ibn ‘Ashur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Vol. III, 6.

158 Darwazah, al-Tafsir al-Hadith, Vol. VII, 150.

BITREAD

kekuasaan, dan penguasaan-Nya atas alam raya, serta terlihat pula bagaimana keluarga itu –ayah, ibu, dan anak, atau suami dan istri- tunduk patuh dan percaya kepada Allah Swt.159

Surat Ali ‘Imran ini, sebagaimana dijelaskan di atas adalah surat yang turun pada periode Madinah, maka salah-satu karakteristiknya,160 yaitu redaksinya panjang-panjang. Menurut H. Lammens SJ, ayat-ayat pada surat-surat Madaniyyah umumnya lebih panjang daripada ayat-ayat yang Makkiyyah. Bagian silogismenya juga sedikit lebih luas.161 Karena itu, ayat-ayat fase Madaniyyah diberi nama al-ayat al-tiwal (ayat-ayat yang panjang),162 sebab pada fase tersebut, al-Qur’an telah sepenuhnya berubah menjadi prosa yang menguraikan konsep-konsep teologis dan praktis keseharian secara rinci dan panjang lebar.163

Berdasarkan teori di atas, maka kisah Maryam yang terdapat dalam surat Ali ‘Imran ini termasuk surat yang diturunkan di Madinah. Hal ini disebabkan menggunakan redaksi yang berbentuk prosa dan disusun dengan bentuk kalimat yang panjang-panjang. Pilihan al-Qur’an menggunakan bentuk redaksi yang demikian karena disesuaikan dengan komunitas yang dihadapinya, yaitu masyarakat Madinah, bukan masyarakat Makkah yang ahli dalam bidang susastra.

4. Kompilasi Kisah Maryam dalam Al-Qur’an Perspektif Tartib Nuzuli

Dalam dokumen Pragmatika Al-Quran Aprejdi (Halaman 68-72)