DESKRIPSI STRUKTUR AL KISAH MARYAM DALAM AL-QUR’AN
B. Analisis Unsur-unsur Intrinsik Kisah Maryam 1. Tema
2. Plot atau Alur
a. Definisi dan Macam-macamnya
Salah-satu unsur intrinsik yang membangun karya sastra yaitu plot atau juga dikenal dengan istilah alur. Pada umumnya, plot didefinisikan sebagai rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.183 Demikian pula, plot adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logik dan kronologik saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami oleh pelaku.184
Tahapan plot terdapat lima bentuk. Pertama, tahap situation, yaitu pengarang mulai melukiskan suatu keadaan. Kedua, tahap generating circumstances, yaitu peristiwa yang bersangkut-paut mulai bergerak.
Ketiga, tahap rising action, yaitu keadaan mulai memuncak. Keempat, tahap climax, yaitu peristiwa telah mencapai puncaknya. Kelima, tahap denoument, yaitu pengarang memberikan pemecahan dari semua peristiwa.185
182 Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi (Yogyakarta: Gajah Mada Press, 1998), 68. Lihat juga;
Robert Stanton, Teori Fiksi, terj. Sugihastuti (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 61.
183 Aminuddin, Pengantar Apreseasi Karya Sastra (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010), 83.
184 Mardjoko Idris, Kiritik Sastra Arab: Pengertian, Sejarah dan Aplikasinya (Jogjakarta: Teras, 2009), 93.
BITREAD
Macam-macam plot adalah sebagai berikut.186 Pertama, kualitas dan kuantitas plot. Kualitas plot terbagi menjadi plot longgar (loose plot) dan plot erat (tight plot). Plot longgar karena peristiwa dijalin dengan jalan peranan hero dalam cerita itu peristiwa demi peristiwa, sebaliknya, plot erat disebabkan menjalinkan peristiwa-peritiwa di dalamnya sehingga merupakan satu kesatuan dalam cerita. Sementara kuantitas plot, ada plot tunggal dan plot ganda. Plot tunggal jika dalam cerita itu menampilkan satu masalah yang menjadi titik pusat pembicaraan, sedangkan plot ganda adalah jika cerita itu menampilkan dua masalah atau lebih yang dijadikan pusat pembicaraan.
Kedua, rentetan peristiwa. Pembagian plot bersasarkan rentetan peristiwanya meliputi plot lurus, sorot balik dan plot campuran. Plot lurus jika jalinan peristiwanya dimulai dari situation, generating circumstances, rising action, climax, sampai pada tahap denoument. Sedangkan plot sorot balik, pengarang memulia jalinan peristiwanya dari rising action terlebih dahulu, kemudian berlanjut pada situation, generating circumstances, climax, sampai berkahir pada tahap denoument. Sementara plot campuran adalah gabungan dari plot lurus dan sorot balik.
Ketiga, pemecahan masalah. Pembagian plot dari aspek pemecahan masalahnya terbagi menjadi dua, yaitu terbuka dan tertutup. Plot terbuka berarti jika pengarang menampilkan cerita yang berakhir dengan klimaks sehingga pembaca ditinggalkan begitu saja untuk menentukan sendiri apa yang diduga mungkin akan menjadi pemecahan dalam cerita. Sementara plot tertutup adalah jika pengarang mengambil dan memberikan kesimpulan sendiri bagi pembaca.
b. Analisis Plot dalam Kisah Maryam 1) Tahapan Plot Kisah Maryam
Kisah Maryam dalam al-Qur’an yang tersebar pada Q.S. Ali ‘Imran [03], Q.S. Maryam [19] dan Q.S. al-Tahrim [66] mempunyai beberapa tahapan plot. Pertama, tahap situation. Dalam konteks ini, al-Qur’an mendeskripsikan kisah Maryam sebagai keluarga ‘Imran yang terdapat dalam Q.S. Ali ‘Imran [03]: 33-34, yaitu ‘Imran bin Mathan yang
186 Idris, Kiritik Sastra Arab: Pengertian, Sejarah dan Aplikasinya, 93-94.
BITREAD
melahirkan anak perempuan bernama Maryam dan kakek Nabi ‘Isa, putra Maryam. Keluarga ‘Imran dipilih oleh Allah Swt. karena mereka satu nasab sampai kepada Nabi Ibrahim.187
Kedua, tahap generating circumstances. Pada tahap ini, peristiwa demi peristiwa mulai terus berjalan yang dimulai dari Q.S. Ali ‘Imran [03]: 35- 36. Kisah yang terdapat dalam ayat tersebut memaparkan nazar istri
‘Imran, Hannah Binta Faqudh, yang menginginkan anaknya berkhidmat di Bait al-Maqdis.188 Kemudian pada Q.S. Ali ‘Imran [03]:: 42 dan Q.S.
al-Tahrim [66]: 12, Allah Swt. mendeskripsikan superioritas Maryam dari wanita-wanita lain yang satu zaman dengannya.189
Ketiga, tahap rising action (keadaan mulai memuncak). Bentuk plot pada tahap ini ditunjukkan dalam Q.S. Maryam [19]: 16-22 dan Q.S. Ali
‘Imran [03]: 45-48. Kedua surat tersebut, menceritakan tentang proses kehamilan Maryam yang tanpa didahului proses alamiah hubungan seksualitas suami-istri. Kemudian disusul dengan proses persalinan Maryam yang terdapat dalam Q.S. Maryam [19]: 23-26 yang mengisahkan bahwa Maryam memilih menyendiri dan menjauhkan diri dari keluarganya.190
Keempat, tahap climax (peristiwa mencapai puncaknya). Pada fase ini, Allah Swt. menceritakan tentang kedatangan Maryam bersama bayinya di hadapan kaumnya. Namun kehadiran tersebut justru mendapat penolakan keras dari mereka karena Maryam diduga kuat telah melakukan perselingkuhan dan perzinaan. Semua ini diceritakan dalam Q.S. Maryam [19]: 27-29.
Kelima, tahap denoument (pengarang memberikan pemecahan dari semua peristiwa). Pada tahap ini, Allah Swt. menjelaskan tentang pembelaan putra Maryam yang bernama ‘Isa as. terhadap tuduhan perselingkuhan kepada ibunya. Semua pembelaan ini dijelaskan secara tegas dalam dalam Q.S. Maryam [19]: 30.191
187 Abu al-Fida’ Isma‘il Ibn ‘Umar Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-Azim, Vol. II (Beirut: Dar Tayyibah, 1420), 33.
188 ‘Ulama’ Azhar, Tafsir Wasit, Vol. I (Kairo: al-Hai’ah al-Amiriyyah), 558.
189 Wahbah Ibn Mustafa al-Zuhayli, al-Tafsir al-Wasit li al-Zuhayli, Vol. I (Damaskus: Dar al-Fikr, 1422), 193.
190 Abu Bakar Ibn Farah al-Qurtubi, al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an wa al-Mubin lima Tadammanah min al-Sunnah wa Ayi l-Furqan, Vol. XVIII (Riyad: Dar ’Alam al-Kutub, 1423), 90.
191 al-Baghawi, Ma‘alim al-Tanzil, Vol. V (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), 229.
BITREAD
2) Kualitas dan Kuantitas Plot Kisah Maryam
Dalam kisah Maryam ini, jika dilihat pada aspek kualitas plot, maka kisah ini menggunakan plot erat. Hal ini disebabkan jalinan peristiwanya tidak bisa dilepaskan dari peranan hero atau tokoh yang berada di dalamnya. Dalam konteks ini, terdapat tiga tokoh yang berperan, yaitu Hannah yang melahirkan Maryam dan tokoh Maryam yang melahirkan
‘Isa as., serta tokoh ‘Isa as. pula yang membela tuduhan kaumnya terhadap ibundanya.
Jika dilihat pada aspek kuantitasnya, maka kisah Maryam termasuk kisah yang mempunyai plot tunggal. Sebab dalam kisah ini hanya menampilkan satu tema kisah yang menjadi titik pusat pembicaraan, yaitu tentang kekuasaan Allah Swt. yang memberikan seorang anak laki- laki kepada Maryam tanpa proses hubungan seksualitas antara suami dan istri.
Rentetan Peristiwa dan Pemecahan Masalah Kisah Maryam
Kisah Maryam jika dilihat dari aspek rentetan peristiwanya, maka termasuk kisah yang berkategori plot lurus atau maju-mundur. Indikasi ke arah tersebut bisa dibuktikan dengan jalinan peristiwanya yang dimulai dari penjelasan keutamaan keluarga Imran yang terdapat dalam Q.S. Ali
‘Imran [03]: 33-34. Pola penceritaan yang demikian, dalam kajian sastra disebut situation. Kemudian dilanjutkan dengan bentuk generating circumstances terdapat pada Q.S. Ali ‘Imran [03]:: 35-36 yang menjelaskan nazar istri Imran yang bernama Hannah, Putri Faqudh bin Qubail.
Setelah generating circumstances, bentuk plot rising action terdapat dalam Q.S. Maryam [19]: 16-22 dan Q.S. Ali ‘Imran [03]: 45-48 yang menceritakan proses kehamilan Maryam. Kemudian disusul dengan proses persalinan Maryam yang terdapat dalam Q.S. Maryam [19]: 23-26.
Bentuk climax berisi tentang tuduhan perselingkuhan dan perzinaan terhadap Maryam yang dideskripsikan dalam Q.S. Maryam [19]: 27.
Kisah ini berakhir dengan bentuk denoument yang berisi pembelaan putranya, Isa as. yang diceritakan dalam Q.S. Maryam [19]: 28-30.
Kisah Maryam ini apabila ditelisik dari aspek pemecahan masalahnya (problem solving), maka termasuk kisah yang mempunyai plot tertutup.
BITREAD
Hal ini disebabkan pada akhir kisah, Allah menjelaskan bahwa kekuasaan Allah di atas segala-galanya, termasuk dalam hal menciptakan manusia.