BAB 12
melakukan hal serupa ketika menelepon beberapa menit setelah Noah menutup pembicaraan. Kepala Sebastian terasa ditusuki jutaan jarum beracun. Masalahnya sudah cukup pelik tanpa harus ditambah telepon dati kedua kakaknya. Namun, Sebastian benar-benar tidak berdaya karena harus mengakui bahwa Noah dan Adlai ada benarnya.
"Saranku, jangan pernah menikahi orang yang berani memukulmu. Jika dia sudah melakukan sekali, apa jaminannya dia takkan mengulangi hingga keseribu kali? Jenis kelamin tidak ada hubungannya dengan pelaku kekerasan fisik. Aku tidak ingin mencampuri urusan pribadimu, seharusnya begitu, Tapi, aku benar-benar tidak tahan setelah melihat foto kalian itu. Maaf."
Kata-kata Adlai itu mau tak mau membuat ingatan Sebastian menembus udara, berhenti pada Katya.
Lagi. Kepalanya terasa kian berat, nyaris pengar. "Itu insiden yang tak disengaja," Sebastian masih membela Bridget. "Aku tahu apa yang kulakukan. Sudah, aku tidak mau membahas soal ini lagi. Noah sudah mendahuluimu. Kalian cuma membuat pagiku makin buruk saja."
Adlai tidak tersentuh dengan kata-kata sang adik. Laki-laki yang lebih tua dua tahun dari Sebastian itu masih bicara bermenitmenit. Menjelaskan tentang hubungan yang sehat versi dirinya. Seakan-akan Sebastian buta akan hal itu.
Konsentrasi Sebastian benar-benar rusak. Setelah kedua kakaknya selesai mencampuri hidupnya, sekretarisnya berkali-kali masuk ke ruangan. Hanya untuk memberitahu ada banyak permintaan ••
vawancara secara mendadak.
"Tidak ada wawancara dengan media mana pun, Judy1 Pokoknya, abaikan saja permintaan semacam itu. Memangnya sejak kapan aku suka tampil di media? Apalagi sekarang, saat masalah pribadiku ingin diketahui mereka." Sebastian menumpahkan rasa kesalnya. Dia segera menyesal melihat wajah judy yang memucat.
"Maaf," balas Judy seraya buni-buru meninggalkan ruangan Sebastian.
Sebastian tergoda untuk pulang ke apartemennya saja dan menghabiskan sisa hari itu dengan tidur.
Tapi, tindakan seperti itu takkan menghasilkan sesuatu yang positif untuknya.
Hari ini Sebastian dijadwalkan bertemu dengan pengusaha dari Indonesia yang selama ini menjadi distributor tunggal Belle Femme untuk wilayah Asia Tenggara, Edward Bimantara. Pria itu berniat membawa serta penems yang akan menggantikannya karena dia berencana untuk pensiun. Mereka akan membahas tentang perpanjangan kontrak. Sebastian sendiri bermaksud akan melakukan
kunjungan balasan dalam waktu dekat. Mengingat janji temunya hari ini, Sebastian lagi-lagi terkenang Katya.
Perempuan itu memang sudah membagi kisahnya pada Sebastian, meski belum tuntas. Sebastian jadi didera rasa ingin tahu yang tiap saat menggurita, mencabik-cabik konsentrasinya, Dia tidak tahu kenapa Katya memutuskan menetap di Edinburgh, misalnya. Atau, apakah perempuan itu berencana untuk pulang ke Indonesia suatu ketika nanti. Bagaimana Katya menghadapi rraumanya setelah semua hal buruk yang tetjadi padanya?
Semakin memikirkan semua itu, semakin marah Sebastian pada para pelaku kekerasan. Situasi tak terduga yang dihadapinya dengan Bridget ini membuat Sebastian mulai memandang tunangannya
dengan sudut pandang berbeda. Kata-kata Noah dan Adlai seputar orang yang berani melakukan kekerasan fisik pada pasangannya, makin lama kian terdengar masuk akal.
Seakan masalahnya belum cukup pelik, Sebastian mendapat kunjungan tak terduga dari orang yang sama sekali tidak pernah diharapkannya. Dia melongo, bola matanya mungkin akan melompat keluar andai dia tidak buru-buru mengerjap. "Kau?"
Gary melangkah masuk dengan santai. Entah bagaimana dia bisa melewati Judy hingga diizinkan melenggang ke ruangan Sebastian. Sebastian menyipitkan mata melihat senyum Gary. Penampilan Gary tidak berbeda dengan pekerja kantoran lainnya. Dia mengenakan setelan gelap yang
menonjolkan kulit pucat dan mata hijaunya. Tidak ada yang secara khusus menunjukkan identitasnya sebagai Muslim, yang menurut Sebastian, lebih dari sekadar taat. Gary tidak memakai kopiah atau serban, misalnya. Gary berjangggut, tapi pendek dan rapi. Namanya pun tidak berbau Arab sama sekali.
"Sepertinya aku berhasil mengejutkanmu, ya?" Gary menarik kursi seraya tertawa pelan. Benar-benar tidak tahu malu, pikir Sebastian. Meski Sebastian kerap menunjukkan sikap menjaga jarak, Gary tak peduli. "Jangan marahi Judy. Kami bertetangga sampai remaja. Dan aku tahu caranya membuat judy membiarkanku masuk."
Informasi itu cukup mengejutkan Sebastian, tapi akhirnya dia memilih untuk tidak membahas soal itu.
"Ada perlu denganku?" Sebastian mengecek arlojinya. "Aku ada janji sekitar dua jam lagi."
"Aku tahu, Judy sudah bilang. Hei, walau kau tak suka melihatku, bersikap sopanlah," ujar Gary. Tidak ada nada tersinggung di suaranya. "Apa yang terjadi denganmu dan Bridget?"
Pertanyaan yang begitu biak-biakan membuat Sebastian menggeram pelan. Tapi, percuma saja
mengkritik Gary. "Ada sedikit masalah." Sebastian meragu, menimbang-nimbang sebelum bicara lagi.
"Apakah kau dan Megan sebelum menikah juga membuat perjanjian pranikah?"
"Tidak. Karena setahuku hal seperti itu tidak diajarkan dalam agamaku. Syarat suatu pernikahan itu sudah diatur dengan jelas, aku tidak ingin sok tahu dan menambahkan sesuatu." Gary menatap
Sebastian penuh pengertian. "Jadi, itu masalahnya? Kau ingin melindungi asetmu jika terjadi sesuatu?
Bridget tidak sepakat dan kalian bertengkar karenanya?"
Sebastian cemberut. "Tuduhanmu itu sangat jahat, tahu! Yang terjadi adalah sebaliknya."
Gary tampak kaget. "Oh, idenya berasal dari Bridget? Maaf, kukira itu kernauanmu. Berarti kau tidak setuju? Apa alasanmu, kalau aku boleh tahu."
Sebastian malah balik bertanya. "Andai Megan memintamu membuat perjanjian seperti itu, apa kau tetap menolak?"
"Tentu saja! Bagiku, perjanjian seperti itu menunjukkan bahwa orang yang mau menikah punya prasangka tertentu pada Tuhan, pada masa depan. Tidak yakin Tuhan akan menjaga dia dan
pasangannya." Desah napas Gary terdengar kemudian. "Buatku, harta itu tidak pantas dibicarakan.
Membahas soal harta sebelum menikah karena cemas kelak berpisah, itu memalukan. Oke, katakanlah memang terjadi perceraian setelah beberapa tahun menikah. Tapi, siapa yang menjamin harta itu tidak
berkurang karena suatu sebab, misalnya. Siapa tahu, pasangan yang bercerai itu sudah tidak lagi punya apa-apa? Mereka lupa, Tuhan yang mengatur segalanya. Dan mereka bersikap seakan-akan masa depan bisa diprediksi."
Sebastian kaget. Secara garis besar, mereka punya kesamaan opini. "Aku pun berpikir begitu.
Perjanjian pranikah menunjukkan seseorang tidak benar-benar percaya pada pasangannya, berpikir negatif akan sesuatu yang belum terjadi," akunya muram. "Kau datang ke sini untuk menasihatiku atau semacamnya? Atau sekadar tergoda ingin ikut campur urusan orang?"
Gary tersenyum. Dia menunjuk ke arah surat kabar yang terbuka. "Aku cuma mencemaskanmu karena foto itu. Tapi, sepertinya kau baik-baik saja. Aku tahu kalian akan menikah, jadi kurasa masalah kalian cukup serius. Aku dan Megan berbagi tugas. Aku ke sini, istriku menemui Bridget."
"Hnm1, pengertian sekali," sindir Sebastian, "Kalau kau berniat menghiburku, itu tak perlu.
Kerusakannya sudah tidak bisa diperbaiki. Bukan cuma soal perjanjian pranikah, tapi juga kesibukan Bridget, Kami mustahil bisa bersama. Aku sudah merasa ada yang tidak beres hanya sehari setelah melamar. Makin ke sini, situasi kian tak terkendali. Tapi, aku membohongi diri sendiri, mengabaikan semua tanda dan tetap yakin akan memperistri Bridget. Tapi, setelah apa yang terjadi tadi malam, aku tahu semuanya sudah berakhir. Pernikahannya batal."
"Kau serius? Kukira...."
"Bridget tidak benar-benar ingin menikah secepatnya. Tahun lalu dia menginginkan itu, tapi hanya karena kariernya sedang tidak bagus," Sebastian tertawa pahit. "Aku mirip ban serep, kan?"
Gary menggumamkar, beragam kalimat penghiburan yang tidak didengarkan Sebastian. Akhirnya, melihat Sebastian mengabaikannya, Gary memilih meninggalkannya sejenak. Dia mengeluarkan buku seukuran telapak tangan orang dewasa dan meletakkannya di atas meja. "Aku titip ini dulu sebentar, ya. Aku harus ke toilet. Nanti kita bicara lagi," Gary berdiri tanpa menunggu.
Sebastian segera mengenali Al-Qur'an yang selalu dibawa Gary ke mana pun dia pergi. Mereka sudah berkali-kali bertemu, jadi Sebastian cukup paham kebiasaan pria itu. Tiap kali hendak ke kamar
mandi, Gary akan menitipkan kitab sucinya. Al-Qur'an itu ditutupi sampul kulit berwarna hijau.
Sebastian tidak pernah tahu seperti apa isi benda itu. Tidak pernah tertarik ingin mencari tahu. Namun saat itu, Sebastian tidak mampu menahan dorongan untuk menyentuh Al-Qur'an tersebut.
Sebastian meraih buku suci itu dengan seberkas keraguan berayun di benaknya. Menguatkan tekad, laki-laki itu mulai membukanya. Sebastian mendapati sederet tulisan bahasa Arab yang bersisian dengan artinya dalam bahasa Inggris. Dia menutup kembali Al-Qur'an tersebut, memejamkan mata.
Tiba-tiba terpikir untuk membaca kalimat apa pun yang pertama tertangkap oleh matanya, Tangan Sebastian bergerak, membuka kembali benda itu. Sesuai tekadnya tadi, dia mulai membaca kalimat dalam bahasa Inggris yang pertama dilihatnya.
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan
(kebenaran) karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap satu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil.
Sebastian tidak sanggup melanjutkan membaca, meski masih ada dua kalimat setelahnya. Dia seakan
baru saja ditinju. Buruburu dia menutup Al-Qur'an itu dan mengembalikan ke tempatnya. Ya, dia yang selama ini sudah berprasangka. Kebencian pada para pemeluk agama Islam karena menilai mereka sudah bertanggung jawab untuk penderitaan panjang yang harus dipikulnya. Sebastian sangat
menyadari itu, meski tidak pernah mengakui terang-terangan.
Ketika Gary kembali duduk di depannya, Sebastian tak mampu menahan pertanyaan yang mendadak menggeliat, "Aku ingin tanya sesuatu, semoga kau tak keberatan. Kenapa kau memilih agama yang tidak populer di sini? Dan kenapa kau harus memaksa Megan mengikuti agamamu?"
Wajah Gary tidak menunjukkan ekspresi apa pun saat dia mulai bicara. "Aku dan kau tidak ada
bedanya. Kita cuma mengikuti agama yang sudah diwariskan oleh keluarga besar. Keluargaku sudah menjadi Muslim sejak puluhan tahun silam. Aku cuma menjalani apa yang sudah diajarkan padaku.
Tapi, bukan berarti mataku buta. Aku juga mencari tahu tentang agama lain, menilai perbedaan apa saja yang ada. Aku tidak menutup mata tentang pemberitaan tentang Islam di Eropa tidak
menggembirakan. Jadi, ini bukan pilihan asal-asalan. Aku merasa pada akhirnya agamaku yang paling tepat buatku, jadi aku pun menjalaninya sungguh-sungguh." Gary tersenyum. Kata-kata sederhana itu mengusik benak Sebastian tanpa terduga.
"Sementara untuk Megan, aku tidak pernah memaksanya mengikuti agamaku. Awalnya, dia cuma ikut mengantarku saat ada pengajian atau buka puasa bersama. Eh, kau tahu apa yang dimaksud dengan pengajian, kan?"
Sebastian mengangguk pelan. "Aku tidak terlalu buta terhadap ajaran aga,ua Islam, Gary. Dan rasanya kau sudah jutaan kali menyebut-nyebut soal itu."
Gary menyeringai. Untuk kali pertama, Sebastian memikirkan sikap Gary selama ini. Dia selalu menilai laki-laki itu adalah si mkang ikut campur yang gemar menasihati dan tidak tahu malu. Kali ini, Sebastian melihat dari sisi yang berbeda. Gary orang yang penyabar, ternyata. Itu penilaian yang bagi dirinya sendiri pun cukup mengejutkan. Meski Sebastian sering bicara ketus dan kemungkinan besar menyakiti hatinya, Gary tidak pernah marah.
"Sejak kami mulai dekat, aku sudah meni beritahu Megan bahwa kami takkan bisa menikah. Kami berbeda keyakinan, itu hal yang tidak bisa ditoleransi oleh agamaku. Kami menjalani hubungan
kasual dan aku tidak pernah berharap banyak. Megan terbiasa melihatku beribadah. Kadang, saat kami bersama dan sudah tiba waktu shalat, dia malah yang rajin mengingatkanku. Begitulah, semua
berjalan natural. Aku tidak pernah memaksa Megan untuk memilih. Lalu, suatu hari dia tiba-tiba mengejutkanku dengan pertanyaannya."
Sebastian tidak mengira dia rela mendengar Gary bicara sebanyak hari ini. Tapi, ketertarikannya pada tema yang sedang dibahas Gary, membuat autusiasmenya meningkat. Sesaat dia melupakan masalah yang mengadangnya. "Apa yang ditanyakan Megan padamu?"
Gary tertawa kecil. "Pertanyaan yang sederhana tapi tak terduga. Minimal buatku. Dia tanya, apa aku tidak capek banyak beribadah setiap hari? Bukankah itu cuma membuang-buang waktu?"
Sebastian mengangguk setuju. "Ya, kalian memang beribadah terlalu banyak."
"Menurutku sih tidak. Tuhan sudah menentukan waktu-waktu ibadah yang pas, sesuai dengan aktivitas
manusia. Sehingga seharusnya tidak mengganggu pekerjaan." Gary berhenti sejenak. Dia pun
mungkin merasa heran karena Sebastian mendengarkan dengan tekun. "Beribadah itu mengingatkan bahwa aku cuma manusia biasa yang punya banyak kelemahan. Aku tidak bisa melakukan apa pun tanpa izin-Nya. Kesuksesan itu tidak datang dari kerja keras belaka. Andil Tuhan jauh lebih besar, cuma manusia kadang mengabaikannya. Satu contoh sederhana, Sebastian, Aku menghirup oksigen yang luar biasa banyaknya per hari. Tuhan tidak minta dibayar. Untuk hal itu saja, aku pantas
berterima kasih pada-Nya, kan? Bersyukur. Belum lagi hal-hal lain. Jadi, aku menjaga hatiku agar selalu ingat pada Tuhan dengan menjalankan ibadah sesuai aturan agamaku."
Kalimat panjang itu memberi efek yang tidak terduga untuk Sebastian. Dia memikirkan perkataan Gary dengan sungguhsungguh. "Jadi, itu yang membuat Megan menjadi Muslim?"
"Tentu saja bukan! Tapi, sejak itu dia banyak bertanya. Aku sampai membawa Megan pada temanku yang lebih paham tentang agama sekaligus sains. Aturan agamaku itu bisa dibuktikan dengan sains.
Sepertinya, itulah yang akhirnya membuat Megan tertarik menjadi mualaf Omong-omong soal menikah...."
"Stop! Tidak ada yang akan menikah, Gary! Dan aku sedang tidak berminat membahas soal adik iparmu. Bisa kita membicarakan hal yang lain saja?"
Suara ponsel Sebastian menginterupsi perbincangan mereka. Ada banyak pertanyaan yang mendadak melompat-lompat di kepala Sebastian, namun dia harus menunda sejenak. Obrolan telepon kurang dari tiga menit itu membuat rencana yang sudah disusun Sebastian, berantakan. Dia membatalkan janji dengan Edward dan bergegas meminta Judy membeli tiket pesawat ke Edinburgh.